Anandy Wati: Pegawai Bukan Barang Dagangan

Duta Transformasi Kementerian Keuangan

Bagi Direktur Anggaran Bidang Perekonomian dan Kemaritiman, Direktorat Jenderal Anggaran, Anandy Wati, semasa menjabat sebagai Kepala Bagian SDM di Direktorat Jenderal Perbendaharaan (DJPB) menjadi salah satu pengalaman yang paling berkesan. Sempat diragukan saat mulai menjabat, Anandy menjawab keraguan tersebut dengan berbagai transformasi pengelolaan SDM.

“Hal pertama yang saya benahi adalah merapikan data administrasi pegawai, dibuat sedetil mungkin mulai dari kondisi keluarga, kondisi kesehatan, pendidikan, pengalaman mengajar dan ikut seminar, serta penyesuaian angka kredit,” tuturnya kepada Duta Transformasi Kementerian Keuangan di ruang kerja beliau (5/4). Data administrasi tersebut kelak menjadi tahap awal assessment promosi pegawai.

Pada tahun 2005, DJPB menjadi institusi pemerintah pertama yang melakukan assessment reformasi birokrasi terhadap para pejabatnya. Assessment tersebut diikuti dengan penyusunan standar kompetensi jabatan dan peluncuran KPPN Percontohan.

Duta Transformasi Kementerian Keuangan

Anandy juga melakukan perampingan jumlah pegawai, dari tiga belas ribu menjadi sebelas ribu, dengan sistem minus growth recruitment untuk mencapai jumlah pegawai yang fit in dengan kebutuhan. “Dengan begitu, career path-nya jelas,” jelasnya.

Ada juga isu lain yang menjadi concern-nya ialah persoalan mutasi pegawai. “Semasa menjadi Kabag SDM, saya sampaikan kepada Kanwil bahwa saya bukan pengelola pegawai, yang mengelola pegawai dan yang punya pegawai ya para pejabat Kanwil tersebut. Saya hanya konsultan Anda,” tegasnya.

Ini terkait permintaan kanwil terhadap pegawai yang dianggap jelek, “Bu Anandi tolong pindahin, minta pegawai yang bagus”.

“Enak aja, emang pegawai itu dagangan,” jawab Bu Anandi, “Bagus tidaknya pegawai Anda yang harus membina.”

Anandy menekankan bahwa peningkatan kapasitas dan mengedukasi staf merupakan bagian tanggung jawab dari para atasan. “Tidak bisa hanya menuntut yang bagus saja, emangnya ready stock pegawai begitu,” terangnya.

Duta Transformasi Kementerian Keuangan

Saat disinggung soal pengalamannya sebagai pemimpin, Anandy menyatakan bahwa dirinya termasuk pemimpin yang sangat demanding agar stafnya harus lebih pintar. “Karena meringankan tugas saya kok. Gimana, kan kalau lebih pintar, kita men-deliver message gampang, sehingga anak-anak langsung nangkap. Ya anak-anak sekarang udah pinter-pinter. Saya tuh dengan senang hati saat minta tolong dengan disposisi kecil aja sudah jadi kok. Makanya saya ndak bosan-bosan sharing pengalaman apa yang sudah dilakukan sehingga menjadi referensi anak-anak,” tambahnya.

“Nah kalau kita takut dikalah pinter, itu sangat naif, berarti memang leadership-nya belum cukup. Artinya soul-nya belum cukup matang. Kalau matang, kita harus lebih pinter, tapi kita harus lebih mampu me-manage. Karena semakin tinggi itu lebih kepada managerial, ga bersaing dalam teknis.” Anandy juga menambahkan bahwa aktivitas seperti Focus Group Discussion, gugus kendali mutu, dilaksanakan agar pegawai dapat saling asah, saling asuh, kebersamaan, dan saling sharing. Sebab, karakteristik pekerjaan kita adalah workgroup, bukan pekerjaan individu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar