Dosa Terselubung Mobil Listrik

Dosa Terselubung Mobil Listrik
Foto: GNFI
Pekan-pekan belakangan ini, langit Jakarta tampak berkabut. Bila kita melewati ruas jalan tol, kabut itu tampak kian pekat. Ada pula yang bilang kalau itu bukan kabut, melainkan polusi asap kendaraan yang tiap harinya memadati ruas-ruas jalan ibukota. Entah benar itu polusi atau bukan. Yang jelas, Jakarta memang butuh kendaraan ramah lingkungan untuk mengurangi polusi udara.

Pekan kemarin, pecinta otomotif ibukota dibikin geger dengan dipajangnya Tesla Model X di sebuah dealer otomotif. Siapa tak kenal Tesla, satu brand mobil listrik yang identik dengan Elon Musk, pendirinya. Selain menggunakan energi listrik sebagai tenaga penggeraknya, Tesla juga mumpuni dengan kemampuan auto-driving-nya. Tesla bisa melaju tanpa pengemudi. Beruntung, beberapa kali saya pernah mengemudikannya, di game Need for Speed.

Mobil listrik jamak dipercaya sebagai alternatif solusi untuk menekan emisi ga rumah kaca. Namun, benarkah Tesla dan mobil listrik lainnnya itu benar-benar bisa menjadi solusi?

Pasalnya, pada penghujung 2014 lalu, Dirjen Ketenagalistrikan Kementerian ESDM memprediksi jika hingga sepuluh tahun ke depan batubara akan tetap menjadi pemasok utama bahan bakar pembangkit listrik di Asia Tenggara. Sekitar 40 persen dari listrik yang dihasilkan di seluruh dunia masih berasal dari pembangkit listrik berbahan bakar batubara. Di Indonesia sendiri, penggunaan batubara menyumbang sekitar 50 persen dari bauran energi nasional untuk subsektor ketenagalistrikan. Pada 2020 angkanya diperkirakan akan meningkat hingga 63 persen.

Faktanya, penggunaan batubara merupakan sumber terbesar emisi gas GHG (Green House Gas), yang memicu perubahan iklim. Batubara yang dibakar di Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) memancarkan sejumlah polutan seperti NOx dan SO3, kontributor utama dalam pembentukan hujan asam dan polusi partikel halus (PM2.5). Masyarakat ilmiah dan medis telah mengungkap bahaya kesehatan akibat partikel halus dari emisi udara tersebut. PLTU Batubara juga memancarkan bahan kimia berbahaya dan mematikan seperti merkuri dan arsen. 

Partikel-partikel polutan yang sangat berbahaya tersebut, telah mengakibatkan kematian dini sekitar 6.500 jiwa per tahun di Indonesia, termasuk stroke (2.700), penyakit jantung iskemik (2.300), kanker paru-paru (300), penyakit paru obstruktif kronik (400), serta penyakit pernafasan dan kardiovaskular lainnya (800). Angka estimasi tersebut berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Universitas Harvard tentang dampak polusi udara PLTU Batubara di Indonesia terhadap kesehatan. 

Melihat fakta yang ada, saya jadi ragu kalau mobil listrik benar-benar bisa menjadi solusi untuk menekan emisi gas rumah kaca. Jelas mobil listrik menggunakan energi listrik. Jelas energi listrik di Indonesia separuhnya dihasilkan dari hasil pembakaran batubara. Yang belum jelas adalah seberapa besar pencemaran hasil pembakaran batubara yang dikonversi menjadi energi listrik yang kemudian digunakan untuk menggeber mobil listrik. Jika itu sudah dihitung, baru kita bisa membandingkan mana yang lebih ramah lingkungan, mobil listrik atau mobil konvensional.

2 komentar:

  1. Pertanyaan serupa pernah diajukan oleh Chris Anderson (TedTalk) kepada Elon Musk, "mengapa menggunakan mobil listrik kalau ia menggunakan listrik yang sumbernya juga dari energi fosil?" dan jawabannya kira-kira, "sebab ia lebih efisien."

    Sumber: https://www.ted.com/talks/elon_musk_the_mind_behind_tesla_spacex_solarcity/transcript

    0:51
    CA: Most of American electricity comes from burning fossil fuels. How can an electric car that plugs into that electricity help?
    1:01
    EM: Right. There's two elements to that answer. One is that, even if you take the same source fuel and produce power at the power plant and use it to charge electric cars, you're still better off. So if you take, say, natural gas, which is the most prevalent hydrocarbon source fuel, if you burn that in a modern General Electric natural gas turbine, you'll get about 60 percent efficiency. If you put that same fuel in an internal combustion engine car, you get about 20 percent efficiency. And the reason is, in the stationary power plant, you can afford to have something that weighs a lot more, is voluminous, and you can take the waste heat and run a steam turbine and generate a secondary power source. So in effect, even after you've taken transmission loss into account and everything, even using the same source fuel, you're at least twice as better off charging an electric car, then burning it at the power plant.


    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih informasinya, Mbak Embun. :)

      Hapus