Aku Bukan Lelaki Sempurna


Pagi itu rasanya enggan sekali untuk bangun dari tempat tidurku. Kepala terasa berat seperti ditindih berkarung-karung pasir. Cakrawala terlihat kelam bergelayut awan yang semakin hitam, sementara sisa rintik hujan dari semalam seperti tak pernah bosan membasahi bumi. Aku tertelungkup dengan guling di atas kepala ku. Sementara itu, istriku sudah berdandan rapi menungguku untuk pergi ke suatu pengadilan.
Pikiranku menerawang jauh ke masa lalu, teringat saat awal perjumpaan dengan istriku,  sama-sama menjadi calon mahasiswa di suatu perguruan tinggi di Jawa Barat. Kala itu mukanya tampak polos tanpa make up, dengan pakaian sederhana namun serasi dengan postur tubuhnya, tak salah jika ku sematkan, kamu adalah bunga desa.   
Sama-sama berangkat dari sebuah kota kecil di Jawa Tengah. Perjumpaanku dengannya seperti sebuah takdir yang tak bisa ku tolak. Dari saling memandang, bertegur sapa, jalan bersama, lalu merajut asmara, semua seolah berjalan begitu sempurna. Hingga pada suatu waktu, kuberanikan diri untuk meminangmu, karena kurasa setelah dua tahun bekerja, tabunganku cukup sebagai modal awal untuk memulai membina rumah tangga.
Tiga tahu berlalu setelah pernikahan, aku dikaruniai dua orang anak laki-laki yang lucu. Rumah tanggaku berjalan normal nyaris tanpa kendala. Aku bekerja di sebuah perusahaan multinasional di bidang pertambangan. Sementara itu,  istriku bekerja sebagai tenaga pemasaran di sebuah perusahaan property milik salah satu konglomerat dengan julukan Sembilan Naga. Singkatnya, untuk ukuran keluarga muda, aku dapat dikatakan keluarga yang  mapan. Rumah yang cukup luas di kawasan elit, kendaraan dengan merk ternama dan segala kebutuhan rumah tangga komplit tersedia.
Aku sendiri berasal dari keluarga ningrat alias berdarah biru. Namun, Ayahku tidak ingin menampakkan keningratan keluarga kepada masyarakat, agar kelak anak-anaknya dapat tumbuh normal,  bersosialisasi dengan masyarakat. Didikan yang keras dari kedua orang tuaku, membuat aku dan adikku terbiasa hidup disiplin, bekerja keras dan serba teratur, dan kini aku dapat dikatakan sebagai seorang lelaki yang sukses.
Ayahku bekerja di sebuah perusahaan perkebunan, dengan jabatan setingkat manajer. Setelah pensiun, kesehatan ayahku mulai menurun,  dua kali terserang stroke dan itu cukup menguras tabungan yang semula disisihkan untuk biaya pendidikan anak-anaknya. Tepat satu minggu setelah perayaan Idul Fitri tahun lalu, beliau meninggal dunia.  Sepeninggal Ayahku, dengan persetujuan istri, aku meminta Ibu dan adikku untuk tinggal bersama,  karenanya pada saat libur panjang aku boyong Ibu dan adik bontotku yang baru lulus SMA ke Jakarta. Sebagai anak sulung, kini aku menggantikan peran Ayah untuk Ibu dan Adiku.
 Istriku kini sudah menjelma menjadi wanita karier dengan penampilan yang sangat berbeda 180 derajat, dengan saat sangat awal aku bertemu. Sosok yang dulu begitu polos, bermetamorfosa menjadi wanita masa kini dengan pernak-pernik assesoris melekat ditubuhnya. Aku merasa bangga memiliki istri secantik dia. Namun, setelah satu tahun Ibu dan Adikku tinggal bersama ku,  istriku mulai tidak nyaman dengan kondisi rumah. Sikap Ibuku yang perfeksionis dan cenderung banyak membuat aturan baru di rumah, ditambah perilaku adik ku yang terkadang ugal-ugalan menggunakan barang-barang tanpa izin, membuat istriku sering mengeluh dan bad mood.
Kerikil-kerikil perselisihan keluarga mulai nampak dipermukaan, terutama antara istri dan Ibu ku. Hal-hal kecil bisa bisa menyulut api kemarahan. Aku kini menjadi orang yang sensitif dan  temparemental, akibat hubungan buruk istri dan Ibuku membuat pikiran dan konsentrasi kerjaku semakin kacau. Anak-anak sering menjadi saksi perselisihan aku dan istriku. Rumah yang mewah seolah tidak bisa mengobati kegusaranku. Istri dan Ibu kadang tidak bertegur sapa untuk sekian lama. Kalo sudah begini, aku menjadi orang yang serba salah, orang yang tidak punya prinsip dan lemah. Aku bingung, di satu sisi aku harus menuruti kemauan orang tua, tapi di sisi lain aku juga harus mengakomodir keinginan istriku.
Puncak kemarahan istriku terjadi saat adikku menggunakan mobil kesayangannya, menabrak kendaraan lain sampai ringsek. Untungnya jiwa adikku masih dapat tertolong.  Aku harus wara-wiri ke kantor polisi dan rumah sakit untuk menyelesaikan perkara dan mengurus pengobatan adikku. Sementara, istriku  menampakkan muka murung, memendam bara amarah di dalam dadanya. Aku tahu Istriku kecewa karena aku tidak tegas dalam mengambil sikap dan menyelesaikan permasalahan rumah tangga, sehingga berlarut-larut menjadi seperti api dalam sekam.
“Mas, aku sudah gak tahan menghadapi ini semua, aku ingin hidup tenang,  tolong ceraikan aku.” Suara pelan istriku  seperti petir yang menyambar separuh jiwaku. Aku tercenung, tak percaya apakah itu benar suara itu keluar dari mulut istriku.
“Mah, apa aku tak salah dengar?, apa sudah kamu pikirkan masak-masak?, kok semudah itu kamu meminta cerai”. Suaraku lirih setengah mengiba. Air mataku perlahan mulai membasahi pipiku. Kulihat istriku pun sama, air matanya deras mengucur di kedua pipinya yang cubby.
“Aku tidak punya pilihan lain Mas, aku sudah berkonsultasi dengan seorang pengacara untuk menyelesaikan ini semua.” Jawab istriku dengan pasti.
Dengan berat hati, perlahan aku beranjak dari tempat tidur. Kupinggirkan selimut yang semalam tak mampu menenangkan tidurku. Ku lihat istriku di ruang tengah sudah siap berangkat membawa berkas-berkas untuk bahan persidangan di pengadilan agama. Rupanya istriku sudah bulat dengan tekadnya untuk minta cerai dariku. Sementara aku tidak begitu siap menghadapi ini semua. Ya Allah berat rasanya harus menghadapi perceraian ini. “Tidak adakah jalan lain, selain perceraian untuk menyelamatkan keluargaku?”, gumamku lirih. Terbayang anak-anakku akan tumbuh dengan keluarga yang tidak sempurna, karena kedua orang tuanya akan tinggal terpisah satu sama lain.
Harta yang kumiliki ternyata tidak membuat keluargaku menjadi tentram. Aku merasa ini semua buah dari kesalahanku, yang tidak tegas dalam mengambil sikap. Permasalahan kubiarkan berlarut-larut. Aku seolah membiarkan kanker ganas perlahan menggerogoti keluargaku. Hingga akhirnya aku terlambat untuk menyadarinya, dan kanker itu kini sudah di stadium empat. Ya Allah,  Aku memang bukan lelaki sempurna.

R i n d u R i s a u

di sebuah petang di sekitaran embong miring sebelah wetan kota kecil L. di kaki mahameru. dengan jingga yang semakin tua.
aku masih terbang.

ingin sekali aku membacakan sajak yang kubuat siang tadi kepadamu. sajak tentang rimbunan angin. tentang asmaradhana.

kupicingkan mata. mencari-cari. sepertinya kau tak ada di sana.
tapi, siapa tau kau segera lewat. berkerudung putih berumbai-rumbai sambil mengayun. bersepeda.
di tangan kirimu membawa kembang-kembang. semoga kembang itu bertahan pada tangkainya. meski tiada apa (senyum) di antara kita.

lalu tangan lembut daun-daun pohon angsana menyapa kita. sambil membawa cendera mata seharga lima rupiah. yang bernama setya.

dan seketika pipiku merah muda. Dan pandanganmu terpapar di sepanjang garis sungai yang sedang berwarna keemasan. tak terputus. mengalir begitu saja.

dan sebab kita tak perlu kata lagi. maka, tak ada yang bersisa. biarlah rindu menyulut risau.

dan aku kembali terjaga. dikelilingi angin. dengan jingga yang semakin beku. aku masih di sini. masih saja terbang.


dan hei...., tiba tiba saja kau lewat.... dan tersenyum padaku.... Amboi.....

Gemetar!

Bukan karena baru melihat hantu
Bukan pula karena hembusan AC yang membeku
Aku gemetar

Karena lupa sarapan pagi
Yang disantap hanya secangkir kopi
Aku gemetar

Mau makan tapi tanggung
Karena adzan dzuhur sudah berkumandang
Aku gemetar

Sate yang dipesan tak kunjung tiba
Entah antrian keberapa, aku tak bertanya
Aku gemetar

Ya Tuhan...
Hilangkan rasa gemetar di badan
Hingga sate yang ku pesan tersaji
Lalu menyantapnya sepenuh hati

(Ditulis ketika sedang menunggu pesanan sate yang tak kunjung tiba)

Pram Yang Terbuang


Arus balik, adalah buku pertama yang aku baca dari sekian banyak karyanya yang gemilang. Waktu itu aku masih di semester-semester awal menjelang pertengahan kuliah. Sungguh disayangkan baru mengenal penulis sekaliber dia di usia yang bisa dibilang sangat telat untuk melek buku-buku bagus. Jika tidak bergabung dengan unit kegiatan pers mahasiswa (UKPM) Unhas, mungkin akan lebih telat lagi aku mengenalnya. Sebelumnya aku hanya terbuai dengan novel-novel remaja atau detektif, dan buku inovasi, belakangan buku inovasi selfhelp atau apapun namanya tidak kusentuh lagi.

Selanjutnya aku berkelana dengan tetralogi Pulau Buru dan semakin terkesima dibuatnya. Keempat buku itu sangat kaya dengan informasi dan dibangun dengan kekaguman dan kecintaan pada ilmu pengetahuan.

Setelah sekian lama tak membaca buku-bukunya Pram lagi, beberapa bulan lalu aku membeli Panggil Aku Kartini, tapi tak habis aku baca, entah kenapa aku tidak mendapatkan energi seperti di arus balik atau di Tetralogi Pulau Buru. Terakhir, aku ke toko buku loak senen dan seperti biasa langsung menuju tokonya bang Mora si Batak ganteng dan slengean, mataku langsung tertuju pada Nyanyian Sunyi Seorang Bisu (NSSB), tanpa babibu langsung kubawa pulang dengan harga yang lumayan murah 30 rb. Sebenarnya ada dua bagian, tapi aku hanya membeli bagian pertamanya saja dulu.

Mungkin terlalu prematur untuk membagi apa yang aku baca di NSSB ini, tapi sudah terlalu banyak yang aku dapat dan tak kuasa  lagi untuk kusimpan sendiri. Selain itu, aku tidak bisa mengandalkan ingatanku saja, makanya harus aku tulis.

======


Nenek Penjual Kantong Kresek

Oleh : Bang Midoen

Hari Jum’at itu Matahari bersinar cukup menyengat. Ahmad bergegas menyelesaikan sisa pekerjaan menjelang waktu suara Adzan berkumandang memanggil  untuk menunaikan sholat Jum’at.  Setengah berlari, dengan sigap Ahmad mengganti sepatu dengan sandal jepitnya, yang setia menemani menapaki jalan ketaqwaan menuju arah Masjid Raya, yang biasa jadi pilihan  untuk sholat Jum’at, jika waktu dan pekerjaan di kantor agak sedikit longgar. Maklum antara Kantor tempatnya bekerja dengan Mesjid Raya kurang lebih berjarak satu setengah KM, cukup jauh jika ditempuh dengan berjalan kaki .
Mesjid untuk sholat jum’at memang tersedia di lingkungan kantor, tapi hari itu Ahmad terasa rindu untuk Sholat Jum’at di Mesjid Raya, sudah satu bulan lebih sibuk dengan pekerjaan, sehingga baru kali ini sempat untuk sholat Jum’at di Masjid Raya. Jarak yang harus ditempuh menuju Masjid Raya kurang lebih 20 menit dengan berjalan kaki, melewati taman kota yang siang itu ramai karena ada pameran kuliner nusantara, yang menyajikan aneka masakan yang menggugah selera. “Kayaknya enak nih, kalo pulang sholat mampir di sini”. Ahmad bergumam sendiri, sambil menyusuri jalan setapak di taman kota.
Memasuki pintu gerbang Masjid, dilihatnya  seorang nenek tua penjual kantong kresek untuk bungkus sandal atau sepatu saat di mesjid, yang menjadi langganannya. Ada banyak anak-anak dan ibu-ibu sambil menggendong anaknya menjajakan kantong kresek, tapi Ahmad selalu membeli kantong kresek dari seorang nenek langganannya. Wajah nenek itu tampak berbinar saat bertatap mata dengan Ahmad. “Apa khabar Nek, maaf ya saya sudah lama tidak sholat disini”, sapa Ahmad sambil mencium tangan si Nenek, tidak lupa tangan Ahmad menggenggam erat tangan Si Nenek sambil menyelipkan selembar uang sepertinya pecahan seratus ribuan, sebagai ganti kantong kresek, yang biasanya diharganya tidak lebih dari 2000 rupiah.  “Alhamdulillah Nak, sehat, kemana saja sudah lama gak kelihatan?”, Si Nenek balas menyapa.  Badannya yang mulai sedikit bungkuk ditelan usia, dengan raut muka yang teduh, namun sayup matanya menampakkan bahwa dia sedang menyembunyikan beban hidup yang berat. Ingin rasanya Ahmad berbincang lama dengan si Nenek, untuk sekedar ingin tahu bagaimana kondisi cucunya saat ini, apakah masih bersekolah atau tidak. Karena setahu Ahmad, sekolah di Jakarta memang tidak dipungut biaya, namun  tetap saja ada biaya lain yang harus dikeluarkan untuk kebutuhan alat tulis, sepatu seragam, dan  tas sekolah, dan itu terasa berat untuk si Nenek yang tidak punya penghasilan tetap.
Ahmad tahu betul kondisi si Nenek dari cerita pada pertemuan sebelumnya. Anak dan menantunya  telah  tiada, dengan meninggalkan tiga orang anak yatim yang kini menjadi tanggungannya. Berjualan kantong kresek setiap Jumat, sedikit membantu beban ekonomi karena   umumnya jamaah masjid menyelipkan uang ganti kantong kresek, lebih dari harga kantong tersebut. Jadi kalo dihitung-hitung si nenek bisa membawa uang setiap jumat kurang lebih seratus sampai dua ratus ribuan, lumayan untuk sekedar menyambung hidup beserta cucunya. Ahmad tidak tahu, apa penghasilan lain si Nenek. Nyatanya Allah Maha penyayang, tetap memberikan rizki kepada siapapun tanpa pandang bulu. Allah  Sang Pencipta telah menggerakkan hati Ahmad untuk sholat Jum’at di Mesjid Raya, karena disana ada skenario Allah menurunkan rizki kepada seorang nenek melalui perantaraan tangan Ahmad.
Hingar-bingar kesibukan pekerjaan terkadang melalaikan kita untuk dapat berbuat lebih, membantu kaum yang kurang beruntung. Mereka yang membutuhkan uluran tangan kita,  ada di mana-mana. Namun, sayangnya mata hati kita tidak cukup tajam untuk melihatnya. Terasa ringan untuk mengeluarkan ratusan ribu untuk sekedar memesan makanan melalui ojek online yang enaknya mungkin hanya selewatan lidah. Namun, terasa berat buat bagi sebagian orang untuk menyisihkan seribu-dua ribu rupiah setiap hari untuk mereka yang kurang beruntung. Ahmad mungkin hanya pegawai biasa di instansinya. Penghasilannya terbilang pas-pasan untuk ukuran hidup di kota metropolitan. Tapi Ahmad boleh jadi memiliki kecerdasan sosial di atas rata-rata pegawai lainnya.Kecerdasan itulah yang mengasah kepekaan Ahmad terhadap lingkungan sosial di sekitarnya.
 “Nek, adik-adik, ayo kita makan bersama”. Panggil Ahmad sambil membantu istrinya menyiapkan makan malam. Nenek tua dan tiga cucunya segera membalas panggilan Ahmad, sambil tidak lupa berucap syukur kepada Allah. Rupanya hari itu adalah hari pertama Nenek penjual kantong kresek dan ketiga cucunya tinggal bersama keluarga Ahmad. Awalnya si nenek bersikeras menolak ajakan Ahmad untuk tinggal bersamanya. Maklum, si Nenek merasa rikuh, karena Ahmad bukanlah siapa-siapanya si Nenek, tapi melihat ketulusan Ahmad untuk membantu, demi masa depan ketiga cucunya, maka Si Nenek tidak punya alasan lain, kecuali menuruti bujukan Ahmad.
Tinggal di rumah sederhana tidak membuat Ahmad lantas berkecil hati, untuk membantu keluarga Si Nenek. Ahmad yakin Allah meridloi tindakannya, buktinya setelah beberapa bulan berselang, suasana rumah Ahmad jadi lebih semarak. Rizkinya juga tidak berkurang, karena nyatanya Ahmad sekarang justru bisa merenovasi rumahnya untuk menambah kamar bagi adik-adik barunya, karena rizki adalah rahasia Allah Yang Maha Kaya, karena bersedekah dan membantu orang miskin, tidak akan membuat kita jatuh miskin.  
 Ahmad dan istrinya seperti  menemukan orang tua baru pengganti Almarhumah Ibunya. Sungguh indah dunia ini, jika banyak Ahmad-Ahmad lain yang bertebaran di muka bumi.  Tidak akan ada lagi gelandangan tinggal di bantaran sungai, di kolong-kolong jembatan dan dipinggir rel kereta api. Semoga akan banyak lagi Ahmad-Ahmad lain yang menyemarakan dunia ini, termasuk anda yang baca cerita ini, semoga.   

Ojeg Payung

Awan mendung menggelayut di langit. Angin berhembus kencang, berputar-putar membawa serpihan sampah daun dan plastik yang terserak dipinggir jalan raya. Sesekali terlihat kilatan cahaya petir disertai suara gemuruh.

Beberapa Ibu Rumah Tangga terlihat keluar rumah untuk mengangkat jemuran pakaian yang sudah kering.

Sore itu, Udin kecil baru saja tiba di rumah. Pulang dari sekolah yang jaraknya hanya beberapa ratus meter, Udin kecil berjalan kaki bersama kawan-kawannya.

Seragam sekolah yang dikenakan hari itu diletakkan di ember penampungan pakaian kotor. Setelah berganti pakaian, Udin kecil menuju meja makan, membuka tudung saji, mengambil piring, lalu menyendok nasi dan lauk pauk yang tersedia.

Ketika sedang makan, Emak Udin kecil keluar dari kamar lalu duduk di sebelahnya.

"Eh... anak Emak udeh pulang, kok kagak kedengeran suaranye?kagak ngucap salam ye?" tanya Emak sambil bercanda.

"Udin udeh ngucapin salam, Mak. Emak ketiduran kali, jadinye kagak denger!" jawab Udin kecil sambil sibuk melahap makanan dipiring bermotif bunga.

"Oh iye ye..., Emak tadi ngelayap sebentar. Makan dah yang kenyang, ye! Emak mau ngelipetin pakean. Diluar mendung banget, enti kalau ujan turun Udin jangan mandi ujan ye, Din, Emak khawatir enti Udin pilek!".

"Yaah Emaak, Udin udeh janji mau ngojek payung ame Entong, Jaya, dan Rusli?boleh ye, Mak?!" protes Udin kecil.

"Pan kalau Udin dapet duit, bisa buat jajan sekolah, gak perlu minta duit ame Emak… he… he… “berusaha membujuk.

“Ya udeh, tapi janji ye, sebelom magrib pulang, pan Udin musti ke Masjid trus ngaji”, kata Emak mengingatkan.

“Siiip, Udin janji, Mak!” jawab Udin penuh semangat.

Beberapa menit kemudian hujan turun dengan deras.

Udin kecil mengambil payung yang disimpan disamping lemari, keluar rumah ditengah hujan sambil lari-lari kecil menuju pinggir jalan raya. Ketiga teman Udin kecil, Entong, Jaya, dan Rusli, sudah menunggu dipinggir jalan. Pakaian mereka sudah basah kuyup oleh air hujan.

“Din, ente lama amat, sih?” tanya entong dengan muka masam.

“Maap ye, aye tadi makan dulu, laper” jawab udin sambil tertawa.

“Eh… kalian udah dapet orderan?” Tanya udin kecil.

“Boro-boro, udeh beberapa mikrolet ame metromini yang berenti, tapi penumpang yang turun pade bawa payung sendiri!” jawab Jaya menimpali.

“Oh gitu, ya udeh sabar aje, rejeki kagak bakal ketuker, enti juge dapet orderan” kata Udin kecil memberi semangat.

Beberapa menit berlalu, hujan semakin deras. Udara mulai terasa dingin. Udin kecil dan kawan-kawannya menggigil kedinginan.

Sewaktu mereka asik ngobrol, tiba-tiba satu mikrolet berhenti persis di depan mereka.

Udin kecil dan kawan-kawan harap-harap cemas, menanti penumpang keluar dari dalam mikrolet. Mereka berharap ada satu dua penumpang yang turun tidak membawa payung, lalu memakai jasa ojek payung mereka.

Lima penumpang terlihat antri keluar dari dalam mikrolet jurusan Kebayoran – Ciputat. Udin kecil dan kawan-kawan sibuk menawarkan jasa ojek payung.

“Ojek payung, Pak. Ojek payung, Bu” kata mereka sambil menjulurkan payung ke arah penumpang yang turun.

“Tong, sini!” kata salah satu penumpang wanita yang turun.

“Aye juga mau ojek payung, sini cepet” kata penumpang yang lain.

Demikian juga dengan dua penumpang lain yang baru turun. Mereka memakai jasa ojek payung Udin dan kawan-kawan. Sedangkan satu penumpang yang turun belakangan membawa payung sendiri.

Akhirnya, Udin kecil dan kawan-kawannya sore itu mendapatkan pelanggan setelah hampir setengah jam mereka tunggu-tunggu. Dan merekapun berpisah menuju arah yang berbeda.

Udin kecil mendapat pelanggan laki-laki paruh baya dengan pakaian ala kantoran. Berkemeja putih rapih, celana hitam dan sepatu hitam.

“Anter Bapak ke kampung sebelah ye” kata si Bapak.

“Iye, Pak” jawab Udin kecil sambil bersedekap karena kedinginan.

Selama di perjalanan, Udin kecil terdiam, mengikuti langkah si Bapak yang lokasi rumahnya cukup jauh dari jalan raya.

Lima menit berlalu, tibalah mereka disebuah jalan dimana beberapa meter dari posisi mereka berjalan terdapat sebuah pemakaman umum. Udin kecil menatap gapura pemakaman sambil menelan ludah, berkata dalam hati semoga rumah si Bapak tidak melewati jalan setapak ditengah pemakaman itu. Namun apa yang dikhawatirkan Udin kecil terjadi. Jalan satu-satunya yang menuju rumah si Bapak tiada lain adalah melewati jalan setapak yang ada di tengah makam.

Udin kecil sebetulnya adalah anak yang pemberani. Hanya saja rasa takutnya muncul setelah beberapa malam yang lalu dia menonton film horor berjudul Malam Satu Suro yang ditayangkan di salah satu stasiun televisi, dimana pemeran utama dalam film tersebut adalah sesosok hantu wanita yang dikenal dengan sebutan Sundel Bolong.

Selama perjalanan, Udin kecil sesekali berusaha mendekatkan tubuhnya disisi si Bapak, berusaha mengimbangi langkah si Bapak yang berjalan cepat. Kala itu bayangan hantu Sundel Bolong terus melekat erat di dalam pikiran Udin kecil.

Setelah beberapa puluh meter keluar dari area pemakaman, sampailah Udin di rumah si Bapak.
"Terimakasih ya, Tong, berape biayanye?" Tanya si Bapak.

"Terserah Bapak aje mau kasih berape!" Jawab si Udin.

"Nih Bapak kasih sepuluh ribu ye, pan jalannye lumayan jauh" kata si Bapak kemudian sambil memberikan uang pecahan lima ribu dua lembar.

"Alhamdulillaah, terimakasih Pak!" kata Udin kecil dengan gembira.

Uang pemberian si Bapak dimasukkan kedalam kantong plastik bening yang telah disiapkan Udin agar tidak basah, lalu kantong plastik tersebut dilipat dan diselipkan kedalam kantong celana.

Udin kecil melanjutkan perjalanannya, balik dari rumah si Bapak menuju jalan raya tempat dia dan kawan-kawannya menunggu pelanggan ojek payung.

Beberapa meter dari gapura pemakaman langkahnya terhenti. Udin kecil baru tersadar, ternyata saat itu tiada seorangpun yang nampak dipelupuk matanya. Hujan masih turun dengan deras, kilatan cahaya dari petir yang menyambar di langit yang disusul gemuruh menambah suasana semakin mencekam. Udin kecil berdiri terpaku. Tidak berani melintasi makam sendirian, Udin kecil menunggu orang yang lewat area pemakaman.

Beberapa menit kemudian terlihat seorang wanita berpayung hitam muncul dari tikungan jalan kecil Rasa takut yang mendera Udin kecil perlahan sirna. Si wanita berpayung hitam menoleh ke Udin kecil dan berlalu tanpa rasa curiga.

Dengan langkah yang dipercepat, Udin kecil berjalan mengikuti langkah si wanita berpayung hitam.

Beberapa menit kemudian, ketika perjalanan Udin kecil dan si wanita berpayung hitam sampai ditengah jalan setapak pemakaman, bayangan sosok hantu Sundel Bolong kembali muncul di kepala. Udin kecil gemetar tangannya, langkahnya terasa berat, seperti ada rantai besi yang melilit di kakinya. Tetiba Udin kecil membayangkan  kalau si wanita berpayung hitam tersebut bukanlah sesosok manusia.

Dan tiba-tiba...

"Allaaaaahu Akbar! Aaaaaaaaaaa......A'udzubillaaahiminasysyaithoonirrojiiim...." Udin kecil teriak sekencang-kencangnya. Terasa olehnya pundak kanan ada yang mencengkeram. Ditengah rasa takut yang mendera, aliran air yang hangat bercampur dengan air hujan mengalir didalam celananya. Udin kecil pipis di celana.

Si wanita berpayung hitam yang kaget mendengar teriakan Udin kecil lalu balik badan hendak melihat kejadian apa yang sesungguhnya terjadi.

Sebelum si wanita berpayung hitam bertanya ke si Udin kecil, saat itu juga terdengar riuh suara anak-anak tertawa terpingkal-pingkal yang ternyata kawan-kawannya Udin kecil.

Ternyata yang mencengkeram pundak kanan si Udin kecil adalah Entong yang sengaja ingin membuat kaget Udin.

"Hahahahaha.......maap ye, Din, aye sengaja bikin ente kaget, abisnye, Aye, Jaya dan Rusli, dari tadi merhatiin gerak-gerik ente, kayaknye ente lagi ketakutan lewat kuburan" kata Entong sambil sesekali tertawa.

Suasana kembali riuh oleh tawa Entong, Jaya, dan Rusli. Demikian juga si wanita berpayung hitam yang sedari tadi ikutan tertawa. Sedangkan Udin kecil masih terpaku menatap kawan-kawannya.

"Aye, Jaya, ame Rusli tadi emang udah bikin kesepakatan, Din. Sewaktu kite tau ente dapet pelanggan si Bapak yang rumahnye di seberang pemakaman, kite sepakat untuk nyusul ente diem-diem, nah... kebetulan pelanggan kite rumahnye kagak jauh dari jalan raye" kata Entong yang masih belum bisa meredam tawa.

"Huh, dasar muke gile, udah tau aye lagi ketakutan, eeeh....malah dikagetin. Untung aye kagak pingsan ditengah kuburan" jawab udin yang masih syok berat.

"Udeh...udeh, hayuk lanjut jalan, kite pulang dah, bentar lagi maghrib. Pan ba'da maghrib pengajian rutin Ustad Sarwi" kata Rusli menengahi yang ditimpali suara ketawa Entong dan Jaya.

Kemudian Udin kecil, Entong, Jaya, dan Rusli, berjalan beriringan, pulang.

Beberapa waktu kemudian, adzan maghrib berkumandang. Udin Kecil dan kawan-kawan sudah berkumpul di halaman masjid, berwudhu, dan shalat berjama'ah, lalu mengikuti pengajian.

Selesai pengajian, mereka keluar masjid. Di simpang jalan mereka berpisah untuk kembali ke rumah masing-masing.

Mie Aceh

Seperti biasanya, kami sekeluarga mengisi acara akhir pekan dengan jalan-jalan, sekedar melepas penat dan silaturahim pada masyarakat sekitar, atau untuk wisata kuliner.

Malam itu karena situasi dan kondisi perekonomian kelihatan memungkinkan, ditambah kurs dollar berada pada nilai tukar yang ideal (wih... ada hubungannya gak ?), akhirnya jalan-jalan akhir pekan itu kami isi dengan wisata kuliner.

Kami berangkat dari rumah, hanya dengan modal niat mau makan-makan, belum tahu mau makan apa dan di mana. Sampai pada saat kami lewat depan ruko yang jual mie aceh, anak-anak bilang, "Kita ke mie aceh yuk.

Tapi entah kenapa, mungkin karena aku lagi gak selera sama mie aceh, aku jawab, "Gak lah, kita makan mie yang biasa saja... kalau malam-malam seperti ini cocoknya mie rebus biasa," aku coba paksain alasanku.

Kami jalan terus sambil tengok kanan kiri, sampai akhirnya pandangan tertuju pada warung tenda sebelah kanan yang dari tulisan di tendanya, adalah penjual mie. Ya sudah, di putaran terdekat aku putar balik terus aku parkir di depan persis warung itu. Mungkin karena sudah lapar, kami berlima langsung masuk ke warung dan pesan, "Pak, mie rebus 5 ya..."

Satu persatu pesanan dihidangkan... tapi... ada sedikit keanehan... aku langsung tanya ke penjualnya, "Ini mie apa pak ?" Pertanyaanku dijawab ringan, "Mie Aceh..."

Kami berlima saling berpandangan,"Hah... ???" sambil tak kuasa menahan tawa...



Bengkel Motor versus Bengkel Hati


Siang itu, matahari bersinar terang. Udara yang panas dan berdebu tidak menjadi penghalang orang untuk beraktifitas.

Disebuah bengkel motor yang super sibuk dan padatnya antrian, aku duduk di atas kursi plastik yang disediakan pihak bengkel untuk para pelanggan yang setia menunggu.

Beraneka ragam maksud kedatangan para pelanggan jasa service motor di bengkel ini. Dari mulai service motor rutin setiap bulan, mengganti sparepart motor yang rusak, atau hanya mengganti oli mesin. Intinya semua ingin agar kendaraan mereka dalam kondisi baik dan layak pakai. Jika ada kerusakan diperbaiki, jika ada yang usang diganti.

Jam di tanganku menunjukkan angka 11.50 wib, itu artinya beberapa menit lagi adzan dzuhur akan berkumandang. Tidak lama kemudian terdengar adzan.

Aku menghampiri pemilik bengkel yang sedang melayani pelanggan, hendak bermaksud menitipkan kunci motor.

"Maaf mas, boleh saya titip kunci motor?saya mau pulang dulu untuk shalat dzuhur" kataku.

"Shalat disini aja, Mas, di atas ada tempat shalat. Masuk aja lewat samping, wudhu di belakang, saya gelar sajadahnya dulu", kata Mas pemilik bengkel.

"Alhamdulillaah, terimakasih Mas" jawabku kemudian.

Aku segera menuju pintu masuk disamping kanan halaman bengkel, mengambil wudhu, kemudian naik tangga menuju lantai dua bangunan bengkel. Si pemilik bengkel menemani sejak aku masuk ruang utama sampai menuju ruangan untuk shalat.

 Terhampar selembar sajadah beserta kain sarung di atas nya.

Aku memulai shalat.

Selesai melaksanakan shalat dzuhur, aku kembali duduk di atas kursi plastik yang tersedia dihalaman bengkel.

Sesekali aku mengamati para mekanik yang sedang bekerja.

Ketika sedang melihat para mekanik bekerja, tiba-tiba terlintas dalam hati tentang satu nasehat guru yang aku terima dalam sebuah majelis 'ilmu.

Salah satu isi nasehatnya adalah pentingnya kita menjaga hati. Apabila kita memiliki hati yang bersih dan sehat, maka keselamatan akan diraih. Namun jika hati kita sakit bahkan mati, maka bisa dipastikan kecelakaan akan didapati.

Aku berusaha mengambil korelasi atau hubungan antara aktifitas dibengkel saat ini dengan kondisi hati. Pabila kendaraan sakit, orang sibuk mencari jalan untuk memperbaiki, salah satunya adalah mengunjungi bangkel. Lalu, bagaimana dengan kondisi hati yang sakit, maka salah satu jalannya adalah dengan lebih mendekatkan diri kepada Tuhan YME, memperbanyak 'ilmu agama yang bisa kita dapati di berbagai buku, atau menghadiri majelis 'ilmu untuk mendapat nasehat.

Alhamdulillaah, tiba giliran motorku mendapat penanganan. Menunggu antrian service motor kadang menjemukan. Tapi hal itu tidak akan terjadi jika kita sebelumnya sudah mempersiapkan sebotol air minum, cemilan kesukaan, atau buku bacaan favorit. Handphone juga bisa jadi teman menunggu sih! ~ tertawa.

Selamat beraktifitas. Semoga tulisan ini bisa membawaa manfaat bagi para pembaca.


Pamulang, 1 Mei 2017.