Secangkir Kopi Pahit

Pagi cerah indah berseri
Siapkan sarapan pagi sendiri
Secangkir penuh kopi pahit
Ditemani tahu dan cabe rawit

Pedas terasa menambah gairah
Membuat pagi semakin cerah
Kopi pahit penawar rasa
Siap dihirup nikmat tak terkira

Mendadak badan menjadi lemas
Mulut semakin terasa panas
Kopi pahit tak dapat dirasa
Tersadar kini bulan puasa

Selamat tinggal kopi pahit tersayang...

Tanda

Tidak ada satu pun peristiwa fisika di alam semesta yang membedakan hari Senin, Kamis, atau Minggu. Maka, yang menandakan bahwa hari ini Jumat adalah al Kahfi, sholawat, dan khotbah. Oh, tapi kamu boleh juga sih menandainya dengan bike to work, senam, atau nongkrong lebih lama di kantin kantor. Rayakan saja Jumatmu, apapun pendapatmu tentangnya: hari raya umat Islam, hari terakhir bekerja pekan ini, sehari lagi malam minggu dan sepi, atau sekedar ya pokoknya besok bisa jalan-jalan bareng keluarga.

Hari-hari adalah kesepakatan, sedang waktu adalah kesempatan. Pagi berulang, tapi waktu tak pernah pulang, walau sebenarnya tak juga hilang. Waktu adalah pita panjang dari awal yang tak kelihatan dan akhir yang tak dapat ditebak, tapi ia digulung sama panjang dengan ukuran satu putaran bumi terhadap dirinya sendiri bernama hari.

Saya pikir ini sebuah keajaiban, bahwa semua agama-agama samawi (agama yang ‘diturunkan dari langit’) setuju kalau seminggu ada tujuh hari. Padahal tidak ada referensi ilmiahnya, atau peristiwa alamiah yang mendasarinya. Ini sebenarnya sebagai tanda, bahwa asal muasal manusia memang Satu. Hanya saja berselisih cara dan hari raya peribadatan. Tapi entahlah mengapa tidak ada yang menjadikan senin sebagai hari raya.

Hari ini bulan mati, sejak pagi. Dan ia lahir kembali malam ini. Alhamdulilah dapat dirukyat, karena secara hisab, sabit berada di ketinggian lebih dari 2 derajat di atas horizon ketika matahari tenggelam. Untungnya, baik melihat maupun menghitung, keduanya sepakat untuk menjatuhkan Ramadhan pada tanggal satu, pada hari Sabtu yang sama.

Sebenarnya soal bulan-bulan dalam kalender lunar (qomariyah), tidak ada beda pertanda fisika antara satu bulan dengan bulan lainnya. Lain dengan bulan-bulan dalam kalender solar (syamsiyah). Januari bisa dibilang hujan sehari-hari bagi sebagian besar negara di wilayah tropis. Desember adaalah musim dingin di utara. Tanggal 7 Juli hampir selalu ditandainya dengan terbitnya Vega dan tenggelamnya Sirrius, terutama pada tahun-tahun nonkabisat.

Namun, tidak ada peristiwa-fisikia rutin yang menandai malam ini adalah Bulan Ramadhan. Penandanya adalah dirimu sendiri, apa yang kamu lakukan terhadap waktu. Apa yang kamu kerjakan dari sabit yang terlihat malam ini sampai 29 atau 30 hari ke depan ketika Bulan mati dan hidup lagi dalam sehari. Jika kamu sahur, puasa, berbuka, tarawih, itikaf, memperbanyak qiraah dan sedekah, kamu boleh menandainya sebagai Ramadhan.

Jika dalam suatu bulan kamu banyak melakukan kondangan doang tanpa mengundang, bagi orang lain mungkin itu tanda bulan Syawal. Bagimu, mungkin itu perpanjangan Ramadhan. Kamu perlu berpuasa lagi. Itu tandanya kamu masih……..ah sudahlah.

Salam,
-ΛM-

Ramadhan

Wah, sebentar lagi Ramadhan tiba nih!

Ada yang kangen?

Rindu suasananya?

Atau jatuh cinta dengannya?


Yuk kita simak kisah kisah Ramadhan dari pegawai di lingkungan DJA. Bukan hanya bikin tambah kangen Ramadhan, tapi juga kangen ibadah tarawih dan keluarga di kampung halaman.


Check these out ! 😉😉😉


*****************************


Handojo, Direktorat PAPBN

Terkenang aku pada Romadhon masa kecilku. Teh manis hangat dan kolak pisang buatan Ibu menjadi menu spesial buka puasa. Saat kurasa belum puas kadang kuminum milik kakakku dan dia hanya tersenyum melihat tingkahku.
Setelah menyantap menu buka puasa, masjid menjadi lokasi favorit. Sholat berjamaah diiringi canda ria, dari maghrib hingga tarawih menjadi kegiatan rutin, diakhiri momen paling menyenangkan, pembagian 'jaburan'. Tak jarang aku dan kawan kawanku berebut sekedar mendapatkan jaburan. Saat sahur menjadi saat yang ditunggu tunggu bila Ibu menggoreng dendeng sapi, makanan favorit  yang hanya kutemui di kala bulan suci Romadhon. Siang hari kuhabiskan waktu untuk bermain sambil tak lupa menghitung detak jam menjelang maghrib.


Masa itu kini tlah berlalu, bahkan untuk bernostalgia menyeruput teh manis bikinan Ibu pun tak mungkin. Ibu tlah tak ada di sisiku. Kini ada wanita lain di sisiku, istriku. Dia bukan pengganti Ibu dan tak elok bila dibandingkan dengan Ibu. Dia adalah Ibu bagi anak-anakku, yang hari harinya disibukkan untuk menjadikan Romadhon menjadi momen terindah sepanjang tahun. Tentu bukan dengan teh manis dan kolak pisang tapi dengan menu kesukaan anak-anakku. Dijadikannya setoran hafalan Al Qur'an menjadi hal yang menyenangkan, sholat tarawih menjadi momen yang dinanti, shodaqoh menjadi gerakan hati dengan hadiah diakhir Romadhon menanti.

Aku memang tak bisa selalu menemani anak-anakku sebagaimana istriku. Buka puasaku tak jarang diperjalanan. Waktu sholat tarawih tiba aku pun baru tiba di  rumah. Tapi tak berarti komunikasiku dengan anak-anakku terhenti. Gadget menjadi penghubung kami, Kami saling bertanya apa yang menjadi menu buka puasa, sampai dimana hafalan Al Qur'an, seberapa banyak ayat suci yang tlah dibaca, atau apakah shodaqoh tlah dilakukan. Semua itu bukan untuk saling menyombongkan diri, tapi memotivasi ber-fastabiqul khoirot. Jarak dan kesibukan bukan menjadi alasan untuk tidak saling memotivasi diri agar khusyu' di Romadhon ini dan mengakhiri bulan suci ini dengan bertranformasi menjadi insan yang fitri.

Jaburan = makanan kecil yang dibagikan untuk anak-anak yang mengikuti sholat tarawih berjamaah sampai selesai.



****************************

Pujiastuti, Direktorat PNBP



Saat-saat pertama mengenalkan puasa Ramadhan selalu mendebarkan buat orang tua. Gimana ya, kalau anak ga kuat? Kalau dipaksa, takut trauma. Ditolerir, nanti terbiasa sampai besar. Kecemasan seperti itu selalu menghantui Ibu. “Najib ingin sepeda, jadi kusyaratkan dia puasa sebulan penuh kalau mau dapat,” Ibu menceritakan ikhtiarnya kepada oom Hasyim, saat adiknya yang selalu jadi rujukan agama itu silaturrahim ke rumah sebelum Ramadhan. “Wah, sebaiknya tidak perlu menjanjikan materi. Nanti dia terbiasa sampai besar, ibadah mengharap imbalan,” aku deg-degan mendengar saran Oom Hasyim. Wahh, gimana nasib sepeda ku ya??? “Kurasa tidak apa-apa, lah untuk anak kecil. Tohh, kita yang dewasa saja beribadah mengharap imbalan, yaa pahala, yaa surga. Manusiawi, toh?” Ahh … lega rasanya Ibu tidak berubah fikiran. Sepeda baru sudah terbayang di depan mata. Putar-putar lapangan badminton dikejar-kejar Fikri, Ardi, dan Pavel karena pasti mereka ingin bergantian. Ramadhaaaaaan, cepatlah datang.

Aduhh… aku masih mengantuk sekali saat ibu membangunkan sahur. Rasanya baru saja tidur, setelah sholat tarawih. Meski rakaatnya banyak, kalau tidak salah 23, dan pak ustaz lamaaa sekali ceramahnya, tapi aku senang-senang saja. Bahagia banget bisa sholat ramai-ramai. Kali ini Fikri menantang siapa yang ga bolong tarawihnya, dia menang. Tapi aku suka sebal kalau sahur, walau ibu menyuapi makan dengan paha ayam goreng kegemaranku. Setelah 6 suap, aku merengek minta sudahi saja menyuapiku. “Masya Allah, biasanya kamu makan sehari sampai 5 kali, lho Jib. Besok sudah ga boleh makan. Gimana kalau lapar?” Ibu kedengaran panik. Setelah tawar menawar, kami menyepakati 6 suap lagi. Tenaaanglah Ibu, sepeda akan meneguhkan tekadku, kata ku dalam hati.

Ya ampuuun… begini ya rasanya tidak makan. Jam 9 perutku rasanya periiiih sekali. Emak pengasuhku sabar banget membujuk.”Sabar, ya Jib. Masih jauh dari zuhur, ayo deh cuci muka biar sejuk”. Lalu, “ayo bobo yo, pasang ac, panggil temen2 nya ya tidur bareng,” atau “nanti mau buka makan apa deh biar sampe?” Nahhh kalo ditanya mau apa, aku lalu bilang: teh manis, es buah, es kelapa, ayam fretciken, bakwan, risol, pake sambel. Yahh minimal sebanyak itu. Sebenernya aku alergi es, pekan ketiga puasa sudah mulai terdengar aku batuk2 sesekali, dua kali. Ibu lalu menambah menu vitamin. Tapii, aduhh tenggorokanku rasanya tetap sakit, dadaku semakin lama terasa sesak dan gataal sekali. 3 hari menjelang lebaran badanku panas, dan Ibu panik membawaku ke dokter. Aku harus minum obat, badanku lemah, 3 hari lagi Ramadhan, dan aku terpaksa tidak berpuasa. Yahhh… sepeda kamu mungkin memang belum milikku. Setelah 3 x 2 hari minum obat, aku merasa baikan. Di hari terakhir ramadhan, aku minta puasa. “Kenapa, Jib? Kamu sudah kuat?” Ibu meyakinkan dengan menatap wajahku. “Iya, bu. Kalau puasa seru pas makan waktu buka. Rasanya nikmaaaaat sekali. Kalau kapan ajs bisa makan, jadinya biasa, bu”.

Seminggu setelah lebaran, ayah membawa sepeda kokoh di hadapanku. “Walau tidak penuh, ayah sama ibu senang banget kamu mau berjuang. Tahun-tahun depan, ayah dan ibu tidak bisa janji apa-apa. Puasa lah untuk melatih rasa syukur kita sama Allah. Seharian tidak bisa makan, tapi masih bisa berbuka. Bagaimana dengan orang yang tidak punya?” Alhamdulillah, terima kasih ayah, ibu. Sepeda ini in syaa Allah akan terus mengingatkan aku, puasa itu untuk berempati, melembutkan hati.



****************************


Eko Pandu, Direktorat PNBP



Beberapa tahun silam saat Gus Dur jadi pemimpin negeri ini, bulan Ramadhan jadi makin spesial untuk para pelajar. Kegiatan sekolah diliburkan sebulan penuh. Alhamdulillah saya masih sempat mencicipi masa-masa indah itu ketika duduk di bangku SMP. Libur belajar membuat saya dan teman-teman sebaya menjadwalkan kegiatan rutin selama ramadhan. Selepas sholat Subuh berjamaah di surau, kami berjalan pagi menyusuri jalan raya hingga ke sebuah stasiun kecil di sekitar perumahan. Tujuannya sederhana, hanya sekedar untuk membuat pedang-pedangan dari paku. Dengan sarung yang masih melintang di leher, kami secara kompak menaruh paku di rel kereta untuk kemudian menanti dilindas oleh kereta api yang melintas. Begitu senangnya kami waktu melihat paku menjadi gepeng dan membentuk pedang seperti di film Yoko yang populer ketika itu.

Kami kembali ke rumah biasanya setelah matahari mulai terasa hangat. Periode setelah itu, hingga adzan maghrib merupakan periode yang begitu menantang. Rasa haus karena jalan pagi sekitar tiga kilometer bolak balik memaksa saya menelan ludah sering-sering sambil melihat iklan sirup di televisi. Tapi begitu adzan maghrib berkumandang, rasa lega seketika mengemuka. Segelas sirup dingin yang tadinya hanya bisa dibayangkan, akhirnya benar-benar membasahi kerongkongan. Cacing-cacing di dalam perut pun bersorak ketika sepiring nasi lengkap dengan lauk dan sayur meluncur mulus ke dalam perut. Gizi mereka langsung tercukupi.

Kini saat-saat itu telah lama berlalu, meskipun kenangannya akan melekat selalu. Masa puasa sebelum akil baligh yang hanya memikirkan kapan waktu berbuka kini harus segera dirubah. Menahan lapar dan dahaga bukanlah yang utama, tetapi bertambahnya ketaqwaan dan keimanan lah tujuan yang sesungguhnya.


****************************

Ruly Ardiansyah, Direktorat PNBP



Jauh kembali ke masa lalu saat tahun 1985, saat itu masih kelas 4 SD, saya sebagai anak tertua menjalani puasa sama dengan anak-anak lain yang seusia. Banyak momen-momen konyol dan lucu. Setiap ramadhan tiba merupakan sebuah tantangan dan cobaan sekaligus kesenangan yang tiada tara.. Masa kecil saya dilalui di rumah nenek. Sejak TK hingga menuju tingkat SD besar di daerah rawamangun. Kelas 1 hingga kelas 1 SMP besar di daerah Kesehatan dekat RS Tarakan. Nah momen seru selama ramadhan terjadi di daerah ini.

Setiap ramadhan tiba, merupakan momen tantangan karena bagaimana mana cara agar selesai puasa hingga sore. Dari 30 hari puasa, hanya selesai dijalani sebanyak 25 kali. Karena setiap puasa, selalu ada momen di siang hari saya minum air secara diam-diam. Karena saat itu masih anak-anak belum mengetahui bahwa kecurangan pasti diketahui malaikat dan Allah. Itu soal puasanya.

Saat berbuka pun juga ada momen tantangan. Karena selama sekolah, ada teman sekolah yang saya suka. Biasalah namanya anak-anak, cuma suka- suka gak jelas. Karena rumah nya deket masjid yang jaraknya sekitar 2 km dari rumah saya, maka setiap shalat tarawih sejak kelas 3 SD, shalat tarawih saya jalankan until bisa melewati rumah sang idola. Padahal di sekolah juga lihat dan di rumah juga ada masjid. Maka berangkatlah shalat tarawih dengan motif melihat idola. Saat tarawih pun dilalui dengan becandaan. Karena sering ditegur jamaah masjid, maka kami yang beberapa anak-anak yang punya motif yang sama, kami selalu berdoa di barisan belakang. Saat ceramah pun, kami bermain di taman deket masjid hingga ceramah pun selesai.

Saat berangkat mengaji pun di ramadhan, mencari lokasi deket rumah sang idola. Karena SD kami berada di antara rumah sang idola, yang dekat masjid dan tempat ngaji, jadi merupakan jalan tengah yang menguntungkan. Di sekolah, di tempat mengaji dan di masjid selalu bertemu. Padahal ramadhan harus dijalani dengan kegiatan yang banyak unsur religinya saat itu.

Memang momen indah bagi saya saat itu. Tetapi setelah saya aqil baligh, saya mengingat kembali momen itu dan beberapa kekonyolan dan kenakalan telah membuat saya sadar untuk lebih baik di kemudian hari. Ingin rasanya momen indah itu kembali dengan ibadah yang lebih baik. Tapi hal itu tidak mungkin terjadi dan kejadian itu biarlah menjadi bagian dari buku perjalanan saya. Teringat juga bagaimana almarhum bunda yang selalu mengingatkan saya agar menjadi contoh yang baik bagi adik-adik saya. Ayah juga sering mengingatkan juga kepada saya bahwa saya akan menjadi kepala keluarga yang menjadi contoh bagi istri dan anak-anak.

Saya bersyukur bahwa saya bisa jalani kehidupan hingga di momen ini. Banyak yang harus dibenahi terutama dari dalam diri kita masing-masing. Momen ramadhan menjadi refleksi setiap diri until menjadi manusia yang sempurna. Alhamdulillah saya masih bisa bersyukur dan siap menghadapi momen ramadhan ini.



***************************

Gunawan, Direktorat Polhukhankam dan BA BUN


Bagi saya Ramadhan adalah bulan kebahagiaan. Banyak kenangan indah disetiap tahunnya, sehingga ketika ingin dituangkan dalam sebuah cerita yang utuh, saya harus membaginya menjadi tiga masa. Pertama ketika masa kanak-kanak, kenangan yang tidak terlupakan saat itu adalah adanya tugas rutin mengisi LKS (Lembar Kerja Siswa) kegiatan Ramadhan yang diberikan oleh pihak Sekolah, salah satunya adalah mengisi lembar tugas shalat Tarawih selama satu bulan. Setiap siswa di wajibkan meminta tanda tangan atau Paraf Imam shalat Tarawih di masjid yang berada dilingkungan masing-masing.

Kedua, adalah masa remaja. Dulu, saya dan kawan-kawan pengajian punya tradisi shalat Tarawih keliling yang di singkat dengan sebutan Tarling. Kegiatan tersebut memang tidak dilakukan setiap malam, hanya malam minggu saja. Dari kegiatan tersebut saya punya banyak kenalan dari berbagai komunitas remaja masjid.

Dan yang ketiga, adalah masa sekarang, dimana saya merupakan seorang suami dan juga ayah dari tiga orang anak. Sejak mereka hadir dalam kehidupan saya, Ramadhan menjadi lebih semarak. Ramadhan tahun lalu adalah momen spesial bagi saya, karena Malika dan Satrya mulai belajar berpuasa seharian. Meski puasa mereka belum satu bulan penuh ~ tercatat, Malika dan Satrya batal puasa sebanyak tiga hari ~ hal itu sudah sangat membahagiakan.

Semoga Allah Swt mengizinkan diri ini untuk berjumpa dengan bulan Ramadhan, serta dapat beribadah lebih baik lagi dari bulan Ramadhan tahun lalu, Amiin...

***************************


Embun, Direktorat PNBP


Setiap bulan puasa, selalu ada yang namanya buka puasa bersama. Tradisi ini tidak hanya ada di keluarga, namun juga berkembang ke  teman-teman semasa sekolah atau rekan-rekan kerja. Hal yang dilematis, mengingat hanya ada 4 akhir pekan dalam 1 bulan Ramadhan ... artinya tidak semua undangan buka puasa bersama bisa dipenuhi karena seringnya terjadi bersamaan.

Di dalam keluarga besar kami, buka puasa bersama diadakan paling sedikit 1 kali. Biasanya bertempat di rumah PakDe di bilangan selatan Jakarta. Mesk sebagian besar dari Sumatra, aku bangga karena berkerabat dari Aceh sampai Sulawesi, hingga panggilan uda, uni, pakde, abang, mas, teteh, om, tante, amai, tuo, puang dan sebagainya semua laku di di sini. Selain itu, karena acaranya bertempat di rumah dan terdiri dari kerabat dekat, aku selalu merasa bahagia bisa buka puasa bersama saudara-saudara.

Jarak usia pesertanya jauh sekali, bisa dari usia 80 tahun sampai usia 8 bulan, he he. Di sanalah waktu kita bertukar cerita tentang keadaan masing-masing. Ada yang sambil mengunyah sate padang, es duren, atau semangkuk bakso. Ada yang duduk di sofa, di lantai, atau di pinggir kolam. Dan selalu tarawih bersama, diikuti dengan tausiyah dari salah satu Om atau keponakan.

Acara akan ditutup dengan foto bersama, dan makin hari makin susah bagi kami untuk muat dalam satu frame ... karena selalu saja ada anggota keluarga yang baru, karena oernikahan atau kelahiran. Setelah itu, ibu-ibu dengan senang hati akan membungkus sisa lauk pauk untuk bekal santap sahur di rumah kami masing-masing. Di situlah aku melihat PakDe dan Tante selalu sedih mengantar kami ke pintu untuk pamitan.


***************************

Suhardono Kusuma Mulia, Direktorat Polhukhankam dan BA BUN



SURAT UNTUK RAMADHAN

tlah beberapa purnama kita tak bertemu. saat kurasakan hawa sejuk berlarian di sekelilingku. betapa melenakan. benar, matahari tlah semakin jauh di belahan bumi utara sana dan hangatnya semakin menguap. meninggalkanku disini hanya dengan riuhnya kemarau. dan retakan ranting ranting flamboyan yang semakin jelas di telinga. menambah kerinduanku akan dirimu.

tlah beberapa purnama kita tak bertemu. apa kabarmu umik. kuharap kau baik baik saja. ramadhan tlah mengetuk di depan pintu. seperti hendak mengajak kita berjalan jalan di sepanjang lorong malam ini. ah kembali romantisme antara kau dan aku tergambar jelas di langit langit kamar ini. sanggulmu yang sebesar kepalan tanganku hanya sekedar menutupi ubanmu, tapi tak menghilangkan kecantikanmu. kebayamu yang sudah setia beberapa windu masih saja enggan dilepas, tapi tak menghilangkan kecantikanmu. dan senyummu yang dari waktu ke waktu terasa menjemukan, tapi tetap saja tak menghilangkan kecantikanmu. ah sudahlah, suratku ini tak membahas tentang dirimu, mik. tapi tentang ramadhan, jadi jangan terlalu ge er ya.

aku tau kau sudah tak mungkin berpuasa lagi. karena kau tlah semakin tua. jalanmu pun tak muda. apalagi matamu, gigimu, bahkan telingamu pun juga tak muda. tongkat berkaki empat itulah yang jadi sahabatmu sekarang. dan tak kan kuingatkan kau tentang fidyah. karena kau lebih ahli tentang fidyah. sebab jika kuingatkan pasti jawabanmu tentu akan lebih panjang bahkan mengalahkan jawaban pak kyai. lengkap dengan dalil2nya. tapi, kemaren, ya.... kurang lebih tiga puluh tahun lalu. aku masih saja tak lupa ketika tangan kecilmu tlah siapkan menu buka puasaku. ketika suaramu dengan riangnya bangunkan tidurku untuk shaur. ketika kau ajak aku ke kuburan bapak di awal ramadhan. eh tidak, kau ajak aku hampir setiap hari, setiap ada kesempatan. sampai terasa linu kaki ini karena jarak rumah ke kuburan bapak beberapa kilo dan harus kita tempuh kaki telanjang. sebab sepeda aja kita tak punya. pernah kutanya mengapa kita ke kuburan bapak tiap hari mik. jawabmu dengan ringannya, "bapakmu suka sekali berbuka puasa dengan melihat senyum istrinya". ah romantisme lain di hatimu mik.

ramadhan sebentar lagi mik. tlah beberapa purnama kita tak bertemu. semoga kau baik baik saja. juga tongkat berkaki empat sahabatmu. sehingga ia bisa menopangmu kekuburan bapakku. sehat selalu ya mik. maafkan anakmu yang tak bisa selalu menemanimu.
nb: jangan lupa fidyah ya....


***************************


Triana Lestari, Direktorat PAPBN



Bismillah..

Tahun tahun berselang,
Jatah hari semakin berkurang..
Dosa ga keitung..
Amal belum keruan diterima
Tapi kok ya gini gini aja yak kelakuannya..

------

Kata “Ramadhan” merupakan bentuk mashdar (infinitive) yang terambil dari kata ramidhayarmadhu yang pada mulanya berarti membakar, menyengat karena terik, atau sangat panas. Dinamakan demikian karena saat ditetapkan sebagai bulan wajib berpuasa, udara atau cuaca di Jazirah Arab sangat panas sehingga bisa membakar sesuatu yang kering.

Selain itu, Ramadhan juga berarti ‘mengasah’ karena masyarakat Jahiliyah pada bulan itu mengasah alat-alat perang (pedang, golok, dan sebagainya) untuk menghadapi perang pada bulan berikutnya. Dengan demikian, Ramadhan dapat dimaknai sebagai bulan untuk ‘mengasah’ jiwa, ‘mengasah’ ketajaman pikiran dan kejernihan hati, sehingga dapat ‘membakar’ sifat-sifat tercela dan ‘lemak-lemak dosa’ yang ada dalam diri kita (Muhbib AW*)

-------

Sampai saat ini saya selalu merasa kurang dengan hasil Ramadhan saya. Impiannya adalah, Ramadhan menjadi bulan tempaan, pembakaran dosa (kok serem?) sehingga di akhirnya output yang didapat adalah jiwa yang bersih dan yaa..semakin baik dalam seluruh aspek hidup. Jadi orang bertaqwa, gitu..#cieile prikitiew #aamiin

Namun sayangnya, meskipun saya usahakan memiliki target ibadah, berusaha tidak melakukan dosa..tetap saja hasilnya terasa gini gini aja. Dosa lagi dosa lagi...ibadah kendor lagi kendor lagi..
 Ya Allah, padahal kan jin qorin yang mengikuti kita dikurung ya kalau Ramadhan? Jadi ini kelakuan nafsu saya sendiri begini banget yaa..

Itulah, misalnya aja nih ya.. kesiangan bangun sahur kesiangan tahajud, sering mbelain tidur yang banyak daripada tilawah atau ngapain kek' yang memproduksi pahala.. (pabrik kali ah memproduksi...)..dan masih suka nurutin nafsu nafsu lainnya, misal nafsu ngumpulin makanan atau sekadar niat buat makan segala rupa buat berbuka yang pada akhirnya pun ga terlaksana karena kekenyangan? Tauk deh agh..

Jadi kemudian, saya optimis plus pesimis mode dalam menjalani bulan Ramadhan ini. Akhirnya ikut asumsi moderat deh... ini saya belom berani lagi ngetarget ngaji berapa kali khatam..padahal dulu mah iya, (iya target, realisasi mah belon tentu..hehe)
Padahal itu ngga seharusnya gitu juga kan ya?

Fastabiqul khairat /berlomba lomba dalam kebaikan..
Itu saya sering lupa..dan sering nyuekin..😭😞
Kayaknya belom termotivasi melakukan ibadah maksimal..seoptimal yang saya mampu..

Kenapa?
Mungkin karena tauhid saya belom kuat..

Kalo orang udah yakin bener yakin sama Allah..
Bener yakin soal surga neraka, pahala dan dosa..akhirat, kiamat??
Apa iya ngentengin Ramadhan gini.. itu kan namanya ngga begitu yakin yak? Tapi apa iya hanya sekedar menuhin target juga?
Ya Allah, smg saya diberi keyakinan yang lebih kuat deh..lebih kokoh..lebih lurus..

Biar apa? Biar amalan saya bener niatnya dan semangat terus buat perbaikan diri di bulan suci ini (dan seterusnya..Aamiin). Mudah mudahan Allah kasih kita niat yang bener bener lurus, tulus dan ikhlas beribadah, niat perbaiki diri emang karena mengharap ridhoNya..semoga Allah tambah sayang jadinya ama kita..


udah nih gitu aja? Iyakk gitu aja..

Aminin ya? Aamiin..

😭😭





*https://www.google.co.id/amp/m.republika.co.id/amp_version/m7jp8n



***************************


M. Indra Haria Kurba, Direktorat HPP


Aku tak ingat di usia berapa mulai berpuasa, yang jelas masih belum bersekolah. Puasa saat itu bagiku tak lebih tradisi, bukan soal religi. Maklum masih anak-anak, puasanya puasa bedug kalo kata ibuku. Menginjak usia sekolah aku baru mengerti bahwa puasa itu tuntunan agama, sama seperti sholat, zakat dan naik haji. Puasaku pun tak lagi puasa bedug, setidaknya begitulah yang bapak ibuku tahu, karena sekali dua kali aku masih curi-curi makan dan minum. Duh nakalnya. Seandainya aku jujur mungkin bapak ibu tidak akan marah, maklum aku kan anak bungsu. Tapi aku tetap tidak mengaku. Hal lumrah mungkin untuk anak-anak sebaya.

Puasa di rumah selalu mengundang kenangan. Makanan dan minuman lezat terhidang. Buka puasa adalah ritual istimewa bagi kami yang 12 bersaudara. Hidangan panjang akan terbentang di lantai. Teh, kopi, es buah, dan berbagai makanan khas daerah pasti tersedia. Menu utama yang lezat seperti pindang patin, baung dan sesekali ayam, daging sapi selalu dinanti. Menjelang maghrib kami akan duduk melingkari hidangan. Si bungsu pasti di sebelah ibu yang selalu mengamankan hidangan dari serbuan kakak-kakakku. Tradisi "hidangan" tersebut perlahan hilang tatkala satu persatu kakak-kakak meninggalkan rumah.
Sholat maghrib selalu diimami bapak, biasanya di kamar bapak, karena biasanya tak banyak yang jadi makmum. Bapakpun maklum, karena ada yang masih berkutat dengan hidangan berbuka puasa. Saat ibu masih sehat, kami akan bersama-sama taraweh ke langgar dekat rumah. Berganti-ganti saja supaya semua langgar kebagian. Bapakpun kadang-kadang jadi imam dan selalu mendapat pesan "ayatnya pendek-pendek saja ya Pak". Layaknya anak sebaya, aku pun lebih banyak bermain-main di langgar, saat sholat maupun selesai sholat sambil menunggu bapak yang masih ngobrol dengan para tetua.

Sahur tak kalah dengan berbuka, tapi kami tidak memakai "hidangan". Cukup di meja makan, kan makannya bergantian. Sahur selalu dimulai jauh sebelum imsak. Setelah sahur masih ada teh, kopi, pempek, pisang goreng sebagai cemilan "anten-anten nunggu imsak". Biasanya bapak makan sambil mendengarkan ceramah agama dari radio. Seperti taraweh, subuh pun kami akan ke langgar dan aku baru pulang saat hari mulai terang setelah puas main dengan sebaya.

Puasa di rumah selalu membekas di hati. Saat ibu mulai sakit-sakitan, taraweh pun kami selenggarakan di rumah. Tetangga kiri kanan ikut sebagai jamaah. Rumah kami cukup menampung 20-30 jamaah. Taraweh di rumah selalu kunanti, karena saat itu si bungsu pasti jadi bilalnya. Membanggakan walaupun cadel hehehe.

Makin hari rumah makin sepi. Akupun sudah jauh dari rumah. Pulang puasa hanya sesekali saja, itupun tak bisa mengulang kenangan lama. Apalagi bapak ibu telah tiada, semakin tak ada yang tersisa, kecuali kenangan indah puasa bersama mereka.



***********************

Jauhar Rafid Yulianto, Direktorat Sistem Penganggaran


Ramadhan di Masa Kecilku


Bergembiralah menyambut bulan ramadhan. Ungkapan ini terasa tidak asing bagiku, karena seperti itu juga suasana yang aku rasakan setiap menjelang bulan ramadhan ketika aku masih kecil dulu, masih duduk di bangku sekolah dasar. Alasannya saja yang mungkin tidak sama. Ramadhan, bagi sebagian anak-anak seusiaku, berarti libur, tidak ada pekerjaan rumah, tidak harus belajar, dan bebas dari tugas-tugas sekolah lainnya selama waktu yang panjang, sepenuh selama bulan puasa ditambah beberapa hari setelah hari raya iedul fitri. Ramadhan betul-betul menjadi hiburan bagiku dan teman-temanku untuk sebuah kebebasan yang panjang.

Selama libur ramadhan, hampir sebagian besar waktuku,  aku habiskan beserta teman-teman bermain di masjid.  Masjid menjadi tempat yang ideal selama menahan rasa lapar dan haus yang waktu itu terasa sangat berat untuk anak seusiaku. Lantai dari keramik yang dingin menjadi tempat tidur favorit selepas shalat dhuhur. Tips berikutnya untuk mengatasi lapar dan haus yang berkepanjangan adalah “berwudhu” dengan seluruh rambut dan kepala dibasahi , yang kadang-kadang hampir membasahi seluruh bajuku. Jika ini masih belum memberi efek maksimal, pilihan selanjutnya adalah mandi. Hanya selama di bulan ramadhan lah, jadwal mandi menjadi berkali-kali lipat.  Kesemua ini dapat aku dan teman-temanku lakukan secara mudah selama di masjid.  Masjid membuat aku melewati beratnya puasa dengan lebih mudah.

Di minggu terakhir menjelang iedul fitri, ada tambahan kegiatanku selama ramadhan,  yaitu membantu ibu membuat kue lebaran. Selama membantu membuat kue lebaran, tentu bayangan-bayangan ramainya lebaran iedul fitri tidak bisa dihindari lagi. Baju baru, serunya pawai obor malam takbiran,  anjang sana-sini sehabis shalat ied, bisa mencicipi kue-kue lebaran di rumah-rumah tetangga kanan kiri, melengkapi keceriaan selama ramadhan dan iedul fitri. Aku jadi rindu ramadhan di masa kecilku.

Review Buku: Physics of The Impossible


Sejak awal peradaban, manusia diciptakan berbeda dengan makhluk hidup lainnya karena adanya impian atau cita-cita. Di dalam bukunya "The Evolving Self," Mihalyi Csikszentmihalyi memperlihatkan betapa manusia adalah satu-satunya makhluk hidup yang berpikir tentang hari esok. Adapun mamalia lainnya hanya mengolah informasi yang dijumpai seketika pada lingkungan di sekitarnya saja. Hanya manusia yang bisa mengangankan ingin punya pasangan hidup seperti apa, pekerjaan seperti apa, atau kegiatan apa saja yang ingin dilakukannya bila ia mempunyai keleluasaan dalam hal waktu atau kesempatan. 

Tengoklah anak-anak kecil, mereka adalah contoh paling tepat yang menggambarkan betapa kita semua pada mulanya (dan fitrahnya) adalah pemimpi. Anak-anak akan mengkhayalkan kehidupan yang paling menarik yang mungkin terbayangkan sejauh pengetahuan atau kosakata yang mereka miliki saat ini. Keponakan saya mengkhayalkan bila dewasa nanti ia akan mengelola dua toko cupcakes (kue mangkok dengan buttercream warna-warni) yang masing-masing akan mempunyai dua tema yang berbeda: tema romantis dan lembut seperti kartun "Frozen" dan juga tema misterius dan unik seperti kartun "Transylvania." Saya hanya bisa terkekeh-kekeh sambil mengangguk sepakat dengan cita-citanya ini ... terutama saat dengan seriusnya ia berkata, "Nanti kalau sudah jadi tokonya, aku akan gratiskan cupcakes-nya untuk Tante Embun dan Bunda ... selamanya." Tak perlu dikuatirkan kapan ia akan balik modal, atau apakah cupcakes gratis ini malah akan membuat rugi karena saya yang terlalu sering diundang berkunjung ke tokonya.

Uniknya, pengalaman saya memperlihatkan bahwa kapasitas manusia dewasa untuk bermimpi cenderung menurun seiring pertambahan usia. Uniknya lagi, kemampuan bermimpi secara masif malah lebih sering dikembangkan oleh mereka yang profesinya menuntut rasionalitas penuh, yaitu dunia sains dan teknologi. Contohnya antara lain bidang fisika, komputer, astronomi, kimia, atau kedokteran. Di sisi lain, sikap pragmatis atau bahkan pesimis terhadap angan-angan manusia malah lebih sering saya temukan pada mereka yang jenjang karir atau akademisnya lebih berkenaan dengan sisi manusiawi, seperti ahli ekonomi, psikologi, atau sosiologi.

Di dalam bukunya, "The Physics of The Impossible," Dr. Michio Kaku menggambarkan secara gamblang segala perkembangan riset terkini (khususnya yang terkait dengan bidang beliau, fisika teoritis) yang pada dasarnya semua bermula dari impian manusia. Menurut Dr. Kaku, pada awalnya semua hal adalah mustahil. Apakah yang dimaksud dengan mustahil itu? Menurutnya, mustahil itu ada level-levelnya ... dan ini mengingatkan saya dengan level-level kepedasan keripik Maicih. Menurut Professor Kaku, tingkat kemustahilan dalam dunia fisika sangat erat kaitannya dengan kemajuan peradaban manusia. Dengan kata lain, mustahil itu relatif dengan soal waktu. Apa yang dulu mustahil belum tentu sekarang mustahil, dan apa yang sekarang mustahil belum tentu mustahil di masa depan. 

Dr. Kaku membagi mustahil ke dalam 3 kelas, yaitu: Mustahil Level 1, Mustahil Level 2, dan Mustahil Level 3. Level pertama dari 'mustahil' adalah sesuatu yang secara teoritis adalah mungkin, namun belum pernah diimplementasikan dalam kenyataan. Biasanya hal-hal semacam ini telah diujicobakan di laboratorium namun masih dalam taraf 'rahasia' atau hanya diketahui oleh kalangan terbatas. Beberapa contoh Mustahil Level 1, antara lain terkait penelitian mengenai teleportasi, telepati, psikonesis, makhluk luar angkasa, teknologi tak kasat mata, dan sejenisnya. Lima tahun yang lalu, Mercedes Benz telah memperkenalkan teknologi tak kasat mata dengan prototipe sedan F-Cell, yang bukan hanya lolos dari pandangan mata semua pengguna jalan, namun juga ramah lingkungan karena sama sekali tidak menghasilkan polusi (zero emission) berkat bahan bakar hidrogen yang berlimpah pada air dan udara bersih. Mereka menggunakan teknik tipuan mata dengan bantuan cermin dan kamera mikro.

Adapun psikonesis adalah kemampuan menggerakkan atau memindahkan suatu benda tanpa menyentuhnya sama sekali dengan anggota tubuh kita. Sebenarnya psikonesis dapat memberikan manfaat yang jauh lebih penting dari sekadar gaya-gayaan atau pertunjukan sulap. Bila di kemudian hari teknologinya dapat diterapkan secara luas, psikokinesis akan sangat membantu pasien stroke dalam menjalani kehidupan mereka sehari-hari. Teknik dasarnya kira-kira seperti ini: Dengan bantuan sinyal listrik dari gelombang otaknya yang terhubung dengan semacam alat 'penerjemah' sinyal, pasien stroke akan dapat menyalakan mesin, menulis dengan komputer, dan mengoperasikan benda-benda lainnya yang bersumber daya listrik ... tanpa tergantung dengan bantuan suster atau anggota keluarga. Masih banyak lagi contoh dari Mustahil Level 1, dan bisa dikatakan bahwa contohnya jauh lebih banyak daripada Mustahil Level 2 ataupun Level 3 karena tingkat pemahaman yang dibutuhkannya kini sudah banyak tersedia di banyak laboratorium, perpustakaan, atau media secara umum. Untuk referensi Mustahil Level 1, menurut saya, mungkin kita bisa melihatnya dalam film-film action seperti Minority Report, Mission Impossible, Bourne Trilogy, dan sejenisnya.

Beranjak ke Mustahil Level 2, ia didefinisikan sebagai mustahil karena peluang penerapannya hanya bisa dikatakan mungkin dalam kurun waktu ribuan atau bahkan jutaan tahun ke depan, itu pun dengan asumsi bahwa masih ada manusia yang tersisa untuk menikmatinya. Beberapa contohnya antara lain mesin waktu, perjalanan antar galaksi, dan perjalanan lintas lorong antar dimensi yang lazim kita kenal dalam bidang astronomi sebagai "wormhole." Untuk referensi Mustahil Level 2, menurut saya, mungkin kita bisa menonton film science fiction seperti Back to The Future, Jurassic Park, Star Trek, dan Star Wars.

Terakhir, Mustahil Level 3 yang dikatakan mustahil karena bertentangan dengan hukum fisika yang kita kenal saat ini. Menurut hemat saya, inilah menariknya ilmu pasti apabila dibandingkan dengan ilmu sosial. Ilmuwan yang berkecimpung dalam ilmu pasti (matematika, fisika, kimia) selalu menerima kemungkinan bahwa pada suatu ketika di masa depan bisa jadi teori mereka tidak akan berlaku lagi karena ada teori baru yang lebih kuat dan lebih mampu menjelaskan fenomena alam secara konsisten. Menurut Dr. Kaku, contoh dari mustahil yang (saat ini) sangatlah mustahil adalah mesin yang bekerja terus-menerus selamanya tanpa kehabisan energi (perpetual motion machine). 

Sebagaimana kita ketahui, salahsatu prinsip fisika mengenai "energi" yaitu bahwa "energi tidak dapat diciptakan dan tidak dapat dihilangkan." Energi hanya berpindah-pindah atau berubah bentuk saja. Energi angin dapat menggerakkan turbin karena ia berubah menjadi energi gerak (kinetik) lalu turbin mengubah energi gerak itu menjadi energi listrik ... yang sampai ke rumah kita untuk digunakan menyalakan pesawat televisi yang mengubah energi itu menjadi energi suara dan cahaya. Tanpa adanya pasokan tersebut, televisi tidak akan menyala sehingga kita pun menggunakan energi kalori dari makanan yang kita santap untuk melakukan aktivitas lain, seperti berpikir, berbicara, menulis, menyapu rumah atau bahkan tidur. Tidur adalah aktivitas yang menggunakan energi, khususnya karena dalam kondisi itulah tubuh manusia 'mereparasi' dirinya dan mengganti sel-sel rusak dengan sel-sel baru yang bekerja secara optimal. Inilah sebabnya mengapa setiap bangun tidur biasanya kita merasa lapar. Sebagai suatu sistem yang bekerja secara otomatis pun, tubuh manusia selalu perlu suplai energi. Sebelum ada penemuan baru yang membuktikan bahwa ada mesin yang bisa bekerja tanpa suplai energi, maka perpetual motion machine (sampai dengan saat ini) adalah mustahil yang paling mustahil untuk diwujudkan dalam bidang fisika.

Suatu waktu saya pernah menonton film "2001: Space Odyssey"  produksi tahun 1968. Semula saya hanya menikmatinya sebagai film futuristik biasa. Bahkan saya bersiap-siap untuk tertawa apabila ada special effect yang terasa sangat jadul untuk ukuran teknologi sekarang. Di luar dugaan, saya menemukan suatu adegan yang tak terlupakan; yaitu ketika sang astronot mengutak-atik benda tipis berbentuk persegi panjang seperti buku .... sebab itu ternyata mirip dengan iPad! Setahu saya benda ini baru populer pada tahun 2011. Ternyata sutradara film itu sudah membayangkannya akan tersedia pada tahun 2001. Adegan lainnya yang tidak kalah mencengangkan adalah ketika sang astronot menyalakan layar untuk teleconference dengan anak dan istrinya di bumi. Saya benar-benar syok melihatnya ada di film tahun 1968! Sebab teknologi ini pun belum populer pada tahun 1990-an ... dimana pada masa itu telpon genggam masih berbentuk batako dan harganya lebih mahal dari motor. Demikianlah, jangan takut untuk bermimpi .... sebab mustahil hanya soal waktu.

Referensi:

Physics of The Impossible by Dr. Michio Kaku (2008) https://g.co/kgs/wULe8g
The Evolving Self by Mihalyi Csikszentmihalyi (1993) https://g.co/kgs/Ip8xK6
2001: Space Odyssey by Stanley Kubrick (1968) https://g.co/kgs/fiYMyI

Pagi Cerah di KRL

Mengangguk angguk sambil duduk
Wajahnya ditutupi buku
Tak kuasa menahan kantuk
Sampai badan jadi membungkuk

Tak peduli tatapan sinis seorang ibu
Berdiri pegal kaki membiru
Tak dinyana ada gadis imut
Membuat hati jadi terbelenggu

Hilanglah segala kantuk
Senyum manis menawarkan duduk
Berharap suatu saat kembali bertemu
Berangan angan kasih kan terpadu

Mendadak hati mengkerut
Terkesiap ketika tahu
Gadis imut anak si ibu
Tak mungkin jadi menantu

Diari Saya: Kelahiran Yahya

Sebenarnya setiap saat Allah memberi 2 pilihan ketika disana seakan tidak ada lagi pilihan untuk dipilih; Sabar dan Tawakal
U.NAI-



---------------------------



Saat itu suamiku mungkin panik. Seingatku hari itu ia  bekerja tidak membawa uang cash yang cukup, atm pun tidak. Bagaimana harus dibayar biaya RS nanti?

Ternyata ia membawa segepok uang. Baru saja dibayar salah satu proyeknya, secara cash. Allahuakbar. Ya.. tidak segepok juga sih, tetapi sangat cukup untuk membayar biaya RS waktu itu. Aku menangis di pelukannya. Dokter Caroline tidak hanya mempertanyakan apa aku benar-benar hamil (lalu keguguran), ia juga mengatakan adanya kemungkinan kehamilan di luar kandungan yang harus di operasi kemudian apabila benar terjadi. Tidak sakit badanku, tetapi hatiku yang hancur. Aku sampai di rumah dengan banyak noda darah di terusan merah jambuku dan tatapan sedih keluarga. 


Alhamdulillah, mendung segera berganti cerah. Aku menerima kabar bahwa aku diterima di Kementerian Keuangan. Saat kutelepon ibuku, ia terharu bahagia. 


---------------------------



Sebelumnya, Mamah selalu mendorong untuk cek apa rahim sudah bersih atau ada sisa sehingga perlu di kuret. Baiklah, kami pun pergi ke dokter kandungan. Alhamdulillah. Dokter Mutia di Hermina Depok bilang, rahimku sudah ada isinya. Wah, surprise.. empat minggu usianya.

 Sebenarnya saat itu aku tidak sedang program. Aku menyadari mungkin aku memang terlalu bernafsu untuk cepat hamil. Ketika ia diambil, aku pun kemudian memasrahkan kondisi ini kepada Allah. Dan inilah hadiah dariNya atas kepasrahan itu. 



-------------------------


Hari-hari berlalu dengan kehamilan yang relatif mudah. 

Alhamdulillah.



Hingga masa Diklat Prajabatan pun datang. Aku menjelang tujuh bulan dan paling buncit diantara semua peserta di asrama. Berjalan kesana-kemari. Mengikuti jadwal yang cukup padat bersama kopassus dan rekan2 lain. Hampir setiap malam kakiku sakit dan tawaren (bengkak). 





Aku tidak tahu suamiku mengunjungiku saat aku sedang di lapangan yang jauh dari asrama. Ternyata ia sempat datang membawakanku daster dan keperluan lain. Di hari yang sama keberangkatannya ke Australia. Jauh-jauh mengendarai motor ke Parung untuk mengantar daster? Kadang aku menangis diam-diam karena rindu ingin pulang.



Alhamdulillah .. Diklat pun berakhir. aku lulus dengan nilai yang cukup baik. dan yang paling penting, aku bisa bersama keluargaku lagi, di rumah lagi.

Di usia kandungan tujuh bulan,



Inilah pertama kalinya aku merasakan mudik lebaran ke kampung suamiku. Rasanya unik sekali ketika perut bergoyang-goyang di toilet kereta. Kok perut seperti mau lepas gini?
Di Kudus tempat suamiku banyak yang bertanya, "piro sasi?". Akhirnya.. aku dapat kosakata baru.  Ternyata itu artinya "berapa bulan?". Memang tidak banyak yang aku pahami saat orang orang bercakap di sana. Aku kan, ngga bisa ngomong Jawa! 

-----------------------------

 Hampir lahiran..sedikit lagi..


Akhirnya masa cuti datang. Lelah juga naik commuter juanda - ui. Kadang ada yang bersuara sinis pada ibu hamil berkereta sepertiku. Aku diam saja.

 Geli juga aku kalau ingat masa hamil dulu. Masih tetap rebutan masuk kereta dengan perut buncit. Kadang aku paling depan pintu dan nempel di jendela pintu kereta. Hehe.. gemas sekaligus miris. 

Kalau pulang kerja paling bingung solat di  mana. Kadang turun dulu di stasiun pasar Minggu untuk dapat magrib, kadang di UI..kadang di rumah..pokoknya lelah syekali..hohoho, Alhamdulillah Allah menguatkan.


------------------------------



Menjelang kelahiran

Gerah sekali rasanya ya. Dan ingin cepat-cepat berojol. Hehehe. Masa yang mendebarkan saat menunggu flek kelahiran datang.

Sampai kemudian flek datang dan bukaan pun sudah ada. aku kemudian menginap di klinik bidan. Aku memang ingin melahirkan di bidan saja. Di kamar klinik aku mondar mandir terus agar bukaan cepat bertambah.

Tetapi yang paling tidak terlupakan adalah suakit yang teramat semalaman sebelum anakku lahir. Pasalnya, setelah ada bukaan, mulasku tidak baik. hanya gini gini saja. bukaan pun lama nambahnya. jam sembilan malam hari kamis, bidan pun memberikan opsi induksi agar bukaannya cepat. kalau ini tidak berhasil, nampaknya akan diminta sesar! Baiklah, aku setuju saja. Tidak ada pilihan lain yang aku pahami..
Aku pun dipindah ke ruang bersalin. Infus induksi mulai dipasang. Seingatku saat itu bukaan lima. Haduh Gusti.. Rasanya saat induksi sudah jalan itu.. seperti perutku disayat-sayat saja, berjam jam pula ini terjadi. Lama lama gemes kesakitan...
"Allah Allah..sakit bi..sakit bi..." Berpegangan erat dengan suamiku. Ia hanya menatapku erat, berusaha menguatkan. Ia tidak banyak bicara namun ia seperti mengerti aku hanya ingin didengar. Bahwa ini begitu sakit. Kadang aku tertidur sejenak di antara mulas yang datang. Kelelahan.



-----------------------------
Yahya, nama yang kami dapat dari Qur’an yang mulia, dalam surah Maryam yang menggetarkan hati: 


#Hai Zakaria, sesungguhnya Kami memberi kabar 
gembira kepadamu akan (beroleh) seorang anak 
yang namanya Yahya, yang sebelumnya Kami belum 
pernah menciptakan orang yang serupa dengan dia. 
… 
#Hai Yahya, ambillah Al Kitab (Taurat) itu dengan 
sungguh-sungguh. Dan kami berikan kepadanya 
hikmah selagi ia masih kanak-kanak, 
dan rasa belas kasihan yang mendalam dari sisi 
Kami dan kesucian (dan dosa). Dan ia adalah 
seorang yang bertakwa, 
dan seorang yang berbakti kepada kedua orang 
tuanya, dan bukanlah ia orang yang sombong lagi 
durhaka. 
#Kesejahteraan atas dirinya pada hari ia dilahirkan 
dan pada hari ia meninggal dan pada hari ia 
dibangkitkan hidup kembali. 



Alhamdulillah ya Allah...bukaan sepuluh pun datang dan aku telah berusaha mengejan tapi anakku tidak keluar keluar. mengejan saja sampai satu setengah jam. masyaAllah...
Aku pun tidak mengerti. Semalaman tidak makan dan kesakitan, tenagaku masih ada juga. pukul enam pagi, keluar juga anakku lewat persalinan normal. September 19, Jumat pagi dengan berat 3,6 kilogram dan rambutnya itu..masyaAllah..hitam dan lebat. Tapi kemudian ibuku bilang, "ikhlasin aja ya.."

Yahya rupanya dalam bahaya. Tidak menangis, pun setelah dipukul-pukul bidan dan diberi oksigen. Nafasnya hanya sedikit sekali. Lama-lama ia membiru.


Suamiku segera pergi menuju RS bersama anakku dan seorang bidan. Aku dijahit dua jam kemudian, sepi sekali di tempat bidan.

 habis melahirkan, tapi anakku dibawa pergi dari sisiku. 


--------------------------------



RS pertama menolak anakku. Tidak ada fasilitas. Di RS kedua, anakku segera dibawa ke Neonatal ICU (NICU). 




--------------------------------



Lima puluhan jam setelah melahirkan, akhirnya aku melihat anakku di kotak kaca di NICU. Matanya ditutup, rambutnya banyak, dan badannya kelihatan gemuk dan sehat. Allah! sakit apa anakku...



--------------------------------



Leukosit yang terlampau tinggi, disusul kondisinya yang jaundice (kuning) membuat Yahya harus menginap di RS. Nampaknya ia keracunan ketuban karena terlalu lama di jalan lahir. Drama pemberian ASI pun terjadi. aku berusaha memompa seberapapun, ketika kolostrum masih ada aku wadahi sendok dan kuminta suster memberikannya. Masih kuingat hanya dua sendok yang bisa masuk ke Yahya. Setelah itu, dilarang. 

Alhamdulillah.. setelah sepuluh hari, anakku pun akhirnya  kembali ke rumah. 


--------------------------------




Saat ini sudah dua tahun delapan bulan umur anakku. 

Ia benar menjadi penyejuk mata kami, tidak hanya aku dan suamiku, namun keluarga besar kami. 



Alhamdulillah.




Jakarta, 23 Mei 2017

Aku Suka Sepi Ini

Aku suka sepi seperti ini
Ketika bintang-bintang mulai lelah berkedip
dan angin menanan hembus.
Saat dunia terlihat redup
bersama waktu yang seakan terhenti.

Karena dalam sepi begini
Kita bisa berbincang.
Tidak ... bukan kita yang nerbincang.
Tapi aku yang mengeluh, meminta, beberapa kali berterima kasih
dalam tunduk, dengan takzim. 🌾

RUMAH HARAPAN, Dia Yang Mengikuti Angin

“Tempat saya tinggal digusur, ndi!” Fadli berkata sambil menyeruput kopi yang disuguhkan untuknya.
“Sudah sewajarnya, bertahun-tahun lu menempati tempat itu tanpa biaya sewa,” jawabku tanpa perasaan.
Fadli adalah teman masa kecilku. Bertahun-tahun dia menempati bedeng di tanah milik Pemerintah Daerah. Fadli membangun bedeng seluas 2X2 meter di tanah yang bukan miliknya. Bedeng itu berdiri tepat didepan tempat pemakaman umum. Semua orang di kampung Dukuh sudah menganggap bahwa bedeng itu adalah rumahnya Fadli.
Setiap malam, lokasi di sekitar bedeng sering dijadikan tempat berkumpulnya para preman. Biasanya Fadli dan teman-temannya mabuk-mabukan sampai pagi. Fadli bertahan hidup dengan memalak setiap orang yang lewat di kuburan. Apa yang dilakukan Fadli dan teman-temannya sangat mengganggu ketentraman para penduduk kampung Dukuh. Namun tak ada seorangpun yang berani menegur Fadli dan kawan-kawannya.
“Rencana lu apa, dli?” Kuseruput teh yang menurutku kurang manis.
“Nggak tahu, ndi!”
Kupanggil istriku untuk menambahkan gula pada teh yang kuminum. Istriku muncul dari dalam rumah sambil membawa gula pasir. Sepintas kulihat, tatapan mata istriku agak tajam memandang Fadli.
“Mbak!” Fadli mengangguk kepada istriku.
Istriku membalasnya, walau kuanggap itu hanya basa basi untuk menjaga kesopanan saja. Istriku kembali masuk kedalam rumah. Dia tak lagi peduli dengan apa yang kami obrolkan.
Istriku sedang keranjingan drama Korea, kadang sampai lupa waktu. Sepertinya dia senang aja suaminya kedatangan tamu, jadi tak ada yang mengganggunya menonton berseri-seri drama Korea.
Sejak kecil aku berteman dengan Fadli.  Kondisi keluarga Fadli lumayan mapan. Bapaknya Fadli bekerja sebagai sopir di sebuah instansi Pemerintah kala itu. Penghasilannya lumayan untuk menghidupi keluarga Fadli. Fadli memiliki beberapa saudara yang sekarang tidak pernah ditemuinya lagi.
Satu hal yang juga kusesalkan dari Fadli adalah keengganannya untuk bersekolah. Fadli hanya bersekolah sampai kelas dua SMP. Mendengar kata sekolahpun sepertinya Fadli merasa alergi. Badannya langsung gatal-gatal kalau mendengar orang tuanya menyuruhnya masuk sekolah. Tak ada juga kuasa orang tuanya untuk memaksa Fadli bersekolah.
Pernah kudengar dia bekerja di sebuah restoran Jepang sebagai tukang cuci piring. Saat itu aku sangat gembira karena pada akhirnya Fadli bisa mencari uang untuk makan dengan cara yang benar. Selama ini dia menghidupi dirinya dengan memalak orang lain. Hasil palakannya pun biasanya dihabiskannya untuk mabuk-mabukan.
Tapi sayang, Fadli hanya bertahan tiga bulan bekerja di restoran Jepang itu. Fadli kembali lagi menjadi “kalong”. Dari pagi sampai sore Fadli menghabiskan waktu tidur. Malamnya berjudi dan mabuk-mabukan. Tak terhitung berapa kali Fadli diburu Polisi. Beberapa kali dia bisa lolos, namun juga pernah sekali tertangkap polisi.
“Hidup lu emang nggak ada harapan, Fadli!” aku bicara dalam hati.
Aku berpikir bagaimana mencarikan jalan keluar agar Fadli tidak menjadi gelandangan. Mencari pekerjaan buat Fadli sangat sulit. Apalagi di usianya yang hampir kepala lima. Siapa sih yang mau punya pekerja setengah tua tanpa keahlian dan track record seperti Fadli. Melihat penampilannya saja, orang sudah malas melihatnya. Badan dan mukanya dipenuhi tatto.
Teringat kembali kenapa Fadli memilih jalan hidup yang tidak lazim. Keluarganya tidak lagi memperdulikannya ketika Fadli mulai bergaul dengan preman pasar. Awalnya hanya karena takut dianggap kurang gaul, dia mulai senang mabuk. Setelah dianggap mahir bermabuk-mabukan, Fadli mulai naik level menjadi pemalak orang yang lewat.
Entah kenapa, jaman masih sekolah dulu aku selalu terbebas dari ulahnya Fadli. Dia dan keluarganya baik kepadaku. Walau Fadli sering berlaku jahat kepada orang lain, kepadaku dia tidak berani berbuat jahat. Makanya sampai setua ini kami aku dan Fadli masih berteman.
 “Oya, gua punya temen yang lagi butuh pegawai. Dia pemilik tempat pemotongan kambing. Kalo lu mau, lu bisa kerja di tempatnya. Kayaknya dia butuh orang buat bantuin bersihin kandang,” kuberi tawaran kepada Fadli.
Fadli terdiam. Matanya menerawang jauh. Dihembuskannya asap dari rokok yang dihisap dalam-dalam.
“Lumayan dli, makan minum nggak usah mikir lagi. Bisa dapat tiga kali sehari,” sambungku.
“Besok gua antar deh kesana,” ujarku lagi.
“Iya deh,” akhirnya terdengar juga jawaban dari mulutnya.
 ***

Setelah malam itu, Fadli sudah mulai bekerja di tempat pemotongan kambing. Tugasnya membersihkan kandang. Kadang juga membantu memotong-motong daging yang sudah dipotong. Sesekali kudatangi dan kulihat Fadli ketika sedang bekerja. Aku merasa lega karena setidaknya Fadli selama bekerja tak ada orang yang kena palak. Tidak pula dia mabuk-mabukan.
***

Sebulan kemudian Fadli meneleponku. Harapanku, lewat telpon Fadli memberitahukan bahwa dia akan menikah. Dia akan memulai hidup baru yang lebih baik. Sebelumnya kudengar temanku, pemilik tempat pemotongan kambing itu akan menjodohkan Fadli dengan orang sekitar rumahnya yang sedang mencari teman hidup.
“Lu mau minta gua jadi saksi kawinan lu ya?” ujarku sambil tertawa.
“Bukan, ndi!” suara Fadli pelan dari ujung telpon.
“Kalau gitu, lu perlu bantuan gua ya?” tanyaku lagi.
“Gua  mau pamit, ndi!”
“Emang mau kemana?” tanyaku agak bingung.
“Gua mau ikut berlayar ke Papua. Ada teman yang ngajakin,” jawab Fadli.
“Yakin lu? Kerja di kapal keras. Gua nggak yakin lu balik lagi kesini dalam kondisi baik. Hidup aja udah untung!” suaraku meninggi karena marah.
Pikirku, maunya Fadli ini apa sih. Sudah setua ini masih aja nggak punya arah hidup.
“Gua nggak bisa mundur lagi, ndi. Sekarang gua udah di Tegal,”
“Fadli…Fadli!” teriakku di telpon.
“Selamat tinggal, ndi! Mudah-mudahan gua bisa balik lagi”
Klik, suara telpon ditutup.
Aku hanya terdiam lemas. Tak tahu lagi apa yang harus kulakukan. Hidup adalah pilihan. Aku masih berharap suatu saat masih bisa bertemu Fadli dalam kondisi hidup.


Depok, 17 Mei 2017