Bukan Puisi atau Misteri

Assalamualaikum wr. wb.

Saya ingin membagi pengamalan saya, yang hampir tertipu, semoga dengan membaca cerita ini pembaca tidak tertipu dengan orang yang menggunakan modus ini.

Pada hari Rabu pagi tanggal 15/08/2018, saya di telpon orang yang mengaku bernama Joko Susilo (selanjutnya akan disebut Jolo), -kalau nelpon pakai nomor HP 081294085309- yang berencana akan menyewa mobil berikut supir untuk keperluan liburan di Puncak Bogor selama 5 hari, terhitung tanggal 20 s/d 24 Agustus 2018. Singkat cerita setelah tawar menawar, tercapai kesepatan harga, dan lewat telpon Jolo mengatakan akan memberikan uang muka/DP, padahal saya tidak meminta. Jujur saya sempat kagum plus sedikit heran, saya gak minta DP tapi dia yang duluan bilang akan memberi DP.

Siang sekitar jam 11.40, lewat whatsapp (wa), -kalau wa pakai nomor HP 085697161168- Jolo memberikan foto KTP, hal ini juga membuat saya heran, toh saya nggak minta foto KTP. Ini KTP yang dia berikan, tapi sudah pasti bukan KTP dia sendiri.. KTP nya juga sudah expired.

Lewat wa, si Jolo juga meminta info ke rekening mana dia bisa transfer untuk pembayaran DP. Lalu saya berikan rekening atas nama saya sendiri. Sekitar jam 14.49, Jolo mengatakan sudah transfer dan memberikan bukti transfernya seperti ini :

Sekitar satu jam kemudian si Jolo menelpon dan menanyakan apakah sudah masuk transferannya, saya jawab belum dengan memberikan foto historis transaksi terakhir pada rekening saya. Jolo kemudian mengatakan akan menelpon layanan BRI Call Center 24 jam untuk mengurus hal ini, meskipun sempat saya katakan, sudah Pak, nggak perlu repot-repot, toh nanti akan masuk juga, tapi Jolo tetap ngotot untuk menyelesaikan saat itu juga.

Sepuluh menit kemudian Jolo menelpon saya dan mengatakan akan menyambungkan saya dengan BRI Call Center 24 jam untuk menjelaskan kondisinya, dan meminta saya untuk tidak menutup telpon, meskipun dalam hati saya masih bertanya, ngapain sampai repot amat menyambungkan telpon antar Jolo dengan BRI - dengan- antara Jolo dengan saya, tapi saya masih tetap ikuti saja... karena memang saya kan jual jasa, jadi tetap harus bersikap baik dengan costumer.

Lewat suara speaker HP saya, terdengar dari sebarang sana suara pria lainnya yang berbeda suaranya dengan Jolo, "Selamat malam, saya Alvian dari BRI Call Center, ini saya lihat di sitem kami, memang benar ada transfer dari BRI ke BNI, dari Bapak Jolo ke Bapak Muhammad Iqbal sebesar 1 jta rupiah, tapi memang belum masuk ke BNI nya, karena ada kendala sistem di BRI. Ini mungkin butuh waktu 2-3 hari, tapi Pak Jolo keberatan, karena ada bisnis yang harus diselesaikan. Ini boleh saya bantu untuk transfer manual saja, Bapak ada rekening lain..?"
"Ada" jawab saya. Dalam hati saya bertanya-tanya, emang ada ya istilah transfer manual, apalagi dari petugas BRI nya langsung..
Dia kemudian nyerocos lagi, "Tapi karena ini transfer manual jadi berbeda dengan transfer normal, kalau transfer normal saldo nol rupiah pun di rekening tujuan itu bisa, tapi karena ini transfer manual minimal saldo pada rekening tujuan adalah 1 juta rupiah"
Wow, early warning system dalam otak saya langsung bekerja, ada kejanggalan yang sangat tidak biasa.. (emang ada ya janggal yang biasa).. ini harus ekstra hati-hati, dan suspect modus penipuan.
Dia bertanya lagi, "Bapak ada rekening lainnya dengan saldo minimal 1 juta?"
"Ada Mandiri"
"Saldonya lebih dari 1 juta..?"
"Iya", jawab saya.
Kemudian dia minta saya mengirimkan nomor rekening tujuan yang baru untuk transfer manualnya. Meski sudah semakin bertambah besar kecurigaan saya, namun tetap saya kirimkan rekening Mandiri atas nama saya.
"Baik, Bapak tunggu sebentar, ini saya akan langsung transfer manual, beberapa saat lagi Bapak bisa cek", kata dia dan telpon pun dimatikan.

Sepuluh menit kemudian, Jolo menelpon lagi, memberiitahu kalau sudah dilakukan transfer ulang ke rekening Mandiri, dan meminta saya untuk segera mengecek di ATM Mandiri. Saya jawab, kalau saya punya sms banking, yang bisa melaporkan jika ada transaksi, namun sampai saat itu belum ada sms masuk. Kemudian Jolo dengan sedikit memaksa menyarankan saya untuk ke ATM Mandiri, saya menurut juga meskipun sudah merasa curiga dan meraakan banyak kejanggalan. Saya juga menanyakan booking tiket pesawat SUB-CGK yang Jolo janji akan menginformasikan sore atau malam, namun jawaban dia, istrinya masih di luar kota, sehingga menunggu istrinya pulang baru akan booking, mungkin besok pagi katanya.

Sampai di ATM Mandiri, saya langsung cek dan ternyata tidak ada transfer dana masuk. Saya konfirmasi ke Jolo via wa bahwa tidak ada dana masuk. Seketika itu juga Jolo langsung menelpon saya, dan mengatakan akan kembali menyambungkan saya dengan petugas BRI Call Center, beberapa jenak kemudian sudah terdengar kembali suara dari seberang sana, suara yang vokalnya terkesan diatur supaya mirip dengan CS sesungguhnya.

"Halo Bapak Iqbal, ini Alvian kembali Pak, dari BRI Call Center, Bapak sudah cek belum masuk..?"
"Iya, belum masuk sampai sekarang.."
"Oke, sekarang coba Bapak masukkan kembali ATM nya, dan masukkan PIN nya, hati-hati Pak, ketika masukin PIN tolong ditutup pakai tangan kiri, jangan sampai PIN terlihat oleh orang lain.."
Behh... sok care banget nih orang, dia kira ketika dia ngasih nasehat gitu menjadikan saya yakin itu dari petugas asli Bank apa.. bahkan sebaliknya, itu membuat saya lebih yakin bahwa yang menelpon ini adalah petugas palsu, dan oknum yang bermaksud melakukan penipuan yang akan menguras isi saldo saya. Saya masukin atm ke mesin atm, tanpa mendengarkan ocehan dia di HP, karena HP saya jauhkan dari telinga, bahkan dengan sengaja saya mengajak ngobrol dengan teman yang kebetulan melintas dekat saya, saya lakukan itu supaya saya tidak terlalu fokus dengan instruksi atau ucapan dia lewat hp. Saya masukkan 2 nomor pertama dari pin atam saya, lalu saya jeda 15 detik, kemudian 2 nomor pin berikutnya dan jeda lagi. Saya lakukan itu untuk pengamanan saja, entah mengapa feeling saya bilang gitu.. hehe..
Setelah saya cek saldo, dan tidak ada dana masuk, saya langsung katakan belum ada dana masuk. Lalu dia mengatakan akan melakukan transfer ulang, mungkin 15 menit lagi bisa cek kembali. Telpon diputus.

Karena saya sudah curiga, untuk langkah pengamanan, segera saya pindahkan saldo yang ada di rekening Mandiri ke rekening saya yang lain, saya hanya menyisakan 100 ribu.

Jam 20.00, Jolo menelpon kembali dan mengatakan bahwa sudah dilakukan transfer ulang secara manual, dan meminta saya mengecek kembali ke ATM Mandiri. Saya katakan saya sudah di kereta kommuter dalam perjalanan pulang ke rumah dari kantor, lalu dia bilang nanti di cek saja ke ATM terdekat sesampainya tujuan. Saya masih saja meng-ok-kan anjuran Jolo.

Sesampainya di Alfamidi dekat Stasiun tujuan saya, saya langsung mengecek ke ATM Mandiri, dan tidak ada penambahan dana, saya wa Jolo mengatakan belum masuk. Kembali lagi, seketika itu dia menelpon, baik Pak, ini saya sambungkan lagi dengan petugas BRI nya.. Saya sudah mulai kesal dan berniat mengakhiri saja usaha penipuan mereka..
"Halo Pak Iqbal... coba sekarang Bapak masukkan kembali ATM Mandirinya Pak.." kata orang yang mengaku bernama Alvian.
"Pak, saya ini pakai mobile banking, jadi kapanpun saya bisa mengecek saldo rekening saya lewat HP, saya tidak harus ke ATM untuk mengecek saldo saya.. kalau..." nada bicara saya sedikit mulai meninggi dan bicara saya belum lagi putus, tiba-tiba..
tutss..... telpon diputus secara sepihak dari seberang sana... Nah lho.. ketahuan.. penipuan..

Saya yakin seyakin-yakinnya mereka kesal karena sudah merasa mendapatkan korban yang sudah beberapa kali mau dituntun menuju ATM.. haha.. 

Nomor telpon HP yang dipakai buat nelpon sudah tidak bisa dihubungi lagi, profil wa juga sudah langsung diganti, dan saya wa tidak dibalas lagi.. padahal wa saya cuma nanya.. "Sudah jadi booking tiketnya Pak..? Penerbangan jam berapa dan naik apa..?"
tidak ada balasan..

Berawal dari Yang Terkecil


"Klontaang!" suara mainan plastik tak sengaja terkena langkah kakiku hingga terpelanting cukup jauh.


"Tuh kan, rumah sudah berantakan banget Mas, sudah waktunya beberes," ujar istriku beberapa detik setelahnya.


"Aduh, capek ini mau ngapa-ngapain, besok-besok aja lah kalau udah gak males," jawabku sembari menyembunyikan mainan plastik tadi ke kardus di atas meja.


"Ah, kamu sih tiap hari juga males," sergah istriku.


"Hehe, lagian kita masih bisa tidur kan, jadi belum berantakan-berantakan banget lah," timpalku sambil nyengir.


Istriku hanya bisa mengakhiri percakapan saat itu dengan menghela nafas dan sedikit bersungut.


*** seminggu kemudian ***



"Mas, si Tyas nanti mau ke sini, dia mau minta diantar lihat kontrakan di sekitar sini," istriku membuka minggu pagi dengan breaking news yang cukup mengagetkan.


Tyas adalah teman kantor istriku yang berstatus calon pengantin yang sedang mencari-cari kontrakan. Sebelumnya, istriku menginfokan padanya bahwa ada kontrakan kosong di dekat tempat tinggal kami.


Bukan rencana kehadiran Tyas sebenarnya yang mebuatku terkejut, tetapi kesemrawutan rumah yang menjadi kekhawatiran.


"Waduh, rumah kita berantakan banget ini, gimana dong?" tanyaku singkat sambil garuk-garuk kepala.


Pertanyaan retoris sebenarnya, karena aku tak butuh jawabannya. Yang aku butuhkan adalah gerak cepat membereskan rumah. Maklum, sebagai orang Indonesia, pepatah 'tamu adalah raja' masih membayangiku. Akan jadi aib jika menerima tamu dalam kondisi rumah yang amburadul.


"Ya salahmu sendiri, aku kan sudah bilang untuk membereskan rumah dari minggu lalu," timpal istriku


"Kamu sih ngeyel kalau dibilangin," tambah istriku melanjutkan.


Alhasil, dengan bergegas aku bersih-bersih rumah. Langkah strategis perlu diambil agar tak memakan waktu lama. Diawali dengan memasukkan segala perintilan yang tergeletak di lantai ke dalam kardus. Prinsipnya, yang penting disembunyikan dulu dan ruangan terlihat rapi.


Setelah itu prosedur yang harus dilalui adalah menyapu, mengepel, hingga mencabuti rumput liar yang sudah gondrong di halaman depan.


Tak lupa mengatur tata letak barang di ruang tamu yang sebelumnya sungguh layaknya kapal pecah. Sekali lagi, prinsipnya yang penting terlihat tidak berantakan dan layak huni.


Setelah mencurahkan keringat dan membanting tulang selama kurang lebih dua jam, akhirnya rumah kami sudah berhasil tampak rapi dan siap menerima tamu. Lantainya sudah mengilap lengkap dengan aroma wewangian cairan pembersih lantai. Halaman rumah juga sudah plontos, bebas dari rumput-rumput liar yang mengganggu pandangan. 


Tak lupa karpet kami gelar untuk menyambut tamu. Meskipun alasan utamanya karena kami memang tak punya kursi tamu.


"Wuih, bersih amat mas giliran mau ada tamu," istriku mengomentari hasil jerih payahku.


"Kalau diminta istri sendiri aja gak mau beres-beres, giliran mau ada tamu langsung pontang-panting," sindir istriku melanjutkan komentarnya.


"Yah, namanya juga mau ada tamu, kan malu kalau rumahnya kelihatan berantakan," ujarku penuh kepasrahan.


*****


Kejadian serupa dengan cerita di atas, seringkali terjadi dalam keseharian keluarga-keluarga Indonesia. Banyak orang yang tiba-tiba rajin bersih-bersih rumah karena mau ada tamu berkunjung, mau ada arisan, atau mau ada selametan. Padahal sebelumnya mereka sadar bahwa rumahnya perlu dibersihkan. Anggota keluarganya pun mungkin sudah sering mengeluhkan. Tapi baru ada pergerakan justru ketika ada orang lain yang mau datang.


Tujuannya memang terpuji, semata-mata ingin memuliakan tamu. Namun, bukankah alangkah baiknya jika beberes bukan hanya ketika hanya ada tamu saja. Toh penghuni rumah juga butuh kenyamanan.


Parahnya, kebiasaan itu juga terbawa dalam urusan mengelola apapun di negara ini. Tengok saja penyelenggaraan Asian Games sebagai contoh terkini. Menjadi tuan rumah, Indonesia bersolek menyambut tamu se-Asia. Jakarta sebagai tempat penyelenggaraan bersama Palembang, tampak habis-habisan menghias diri.


Trotoar-trotoar diperluas dan disterilkan, jalan-jalan diaspal sampai mulus, sungai ditutupi dan ditaburi agar tak bau, wilayah ganjil-genap diperluas untuk mengurangi kemacetan, bahkan anak sekolah akan diliburkan agar lalu-lintas Jakarta terlihat lancar di mata para tamu. Itu belum termasuk hal-hal lain yang dikerjakan untuk memperindah penampilan Jakarta. 


Tidak salah dan memang sudah seharusnya demikian. Namun, bukankah trotoar yang tak layak, jalan yang berlubang, sungai yang bau, dan kemacetan adalah masalah akut yang selalu dikeluhkan oleh warga Jakarta sejak lama. Kenapa langkah-langkah tadi tidak dijalankan sebelumnya dan baru dilakukan setelah mau ada tamu?


Fenomena ini kembali mengingatkan saya bahwa komponen negara yang paling kecil adalah keluarga. Dari komponen terkecil itu lah karakter negara dibentuk. Kebiasaan negara ini tak jauh-jauh dari kebiasaan para keluarga yang menjadi penghuninya.


Oleh karena itu marilah kita mulai sadar bahwa membuat baik dan membereskan negara ini bukan melulu tentang setiap hari lembur hingga malam menyelesaikan yang katanya 'urusan negara'. Bergegas lah pulang pada waktunya untuk membuat baik dan memperhatikan keluargamu. Jika keluarga kita sudah bisa baik, tak usah capek-capek kau urus, negara ini juga akan jadi baik. (epp)

Dua Pria Dalam Group WA

Dua pria dalam group wa, 
Piawai bermain drama 
Mengaduk benak para anggota
Satu berujar,
Satu mengejar 
Seakan takkan pernah irama sejajar,

Bagai penonton misbar, 
Semua tersihir mengelar tikar, 
Menunggu cerita kelar 

Di dunia nyata mereka berdua geli sendiri, 
Seiring sejalan dalam group lari, 
Yang terbaca membully, 
Sebenarnya memuji 

Di dunia nyata mereka berdua tertawa 
Beradu kayuh dalam group sepeda 
Yang terbaca mencela, 
Sebenarnya puji dan puja 

Didunia nyata mereka berdua terbahak, 
Tahunan bersama dalam kerja satu tapak, 
Saling mengenal bahkan aroma ketiak, 
Serius nampak bercanda, 
Becanda nampak serius, 
Takkan terelak



             Sutikno Slamet, 1 Agustus 2018

Menjaga Kewarasan




Mari kawan, 
kalau kepala sudah terasa berat,
Ide ide terasa mampat, 
ambil kursi sebelah sini 


kita perlu berbincang
atau berdendang, 
Menyeduh kopi
atau berpuisi 
siasat kita menjaga kewarasan 


Tubuh tubuh kita telah seharian demi seharian,
melangkah pergi pagi dalam lintasan mampat minim celah,
berdiam terperangkap dalam kubikel ruang dan aturan,
disergap kebosanan dan rasa resah,
beranjak pulang dalam raga yang lelah 

hilang arah sudah
Antara pilihan atau keterpaksaan,
Antara pengabdian atau pemenuhan kebutuhan
 

Atau semuanya

Lupakan sejenak tentang berkas dan surat,
disposisi atau rapat,
karena bisa jadi smua tak berhenti
bahkan saat organisasi sekarat

Mari kawan,
Kalau kepala sudah terasa berat, 
Ide ide terasa mampat

Kita harus tetap Waras 

Sutikno Slamet, 31 Juli 2018

Hari ini, Kita Telah sampai

Dik, Hari ini kita telah Sampai
Pada zaman Dimana Feodalisme beralih rupa
Dari warna darah menjadi ijazah
Kasta tertinggi adalah mereka yang sekolah di negeri antah berantah
Seolah semua persoalan bisa diselesaikan dengan perbendaharaan kata kata yang susah,
Terus belajarlah, sebelum usia membuat kamu harus menyerah...

Dik, kita sampai juga pada zaman Dimana emansipasi beralih rupa,
Dari kesetaraan menjadi sama,
Ada yang menjatah kursi birokrasi sepertiga untuk wanita,
Sebagian mereka bersorak gembira,
Sebagian terhina, seolah tanpa itu mereka tak bisa setara pria
Maka teruslah berkarya, tak perlu jadi lucinta luna kedua

Dik, kita sampai juga pada zaman dimana kepahlawanan beralih rupa,
Bukan yang ikhlas menebar jasa tetapi yang banyak membangun citra
Akan banyak duryudana nampak yudistira,
Dorna nampak krisna,
Bahkan penjahat nampak ulama
Bersabarlah...
Karena pada setiap zaman akan ada pahlawannya,
setiap pahlawan ada zamannya

 Cakung, Juli 2018

Diman 2018,

Perbincangan kita karena iba saja
kata kata berhamburan di udara 
Buatmu sarat makna,
Buatku tiada 

Sekian waktu, 
Aku sabar menahan jemu, 
Kita dua orang yang sama sama berlari, 
Kau menujuku,
Aku menjauhimu 

Entah,

Bagaimana lagi aku memberimu jawaban,
Kusamarkan isyarat tak terlihat 
Keterusterangan kau anggap banyolan 


Cakung, Juli 2018

Mileak 2018

Tak habis pikirku,
Bagaimana rasa bermula dan karena apa,
tetiba aroma harum rambutmu menebarkan pesona,
sebab bertahun sebelumnya,
bersamamu,
smua tentangmu
berasa biasa

Dan hari hari berikutnya semarak akan gelora  pencarian menuju mu,
Tersembur mantra dan kata memuja,

Terbangun sedepa demi sedepa dunia  tentangmu
Yang tak merapuh oleh
isyarat dan bahasa penolakan,
Yang kadang kumaknai ambigu
sungguh  sungguhmu  atau menguji  kesungguhan,
terapal berulang doa 

"masa  depanmu adalah  aku,
masa depanku sebagian kamu"

Tapi,
saat langkah lelah terayun,
Aku mudah saja membujuk hatiku,
merelakan lelarian menujumu
diakhiri,

Tak habis pikirku
Kenapa  aku sanggup melakukannya
Setelah berlaksa langkah menjalaninya,
Menganggapmu  biasa, itu tak biasa


Cakung,  Juli 2018

Rectroverso Seorang Ayah

Namaku Hana, dan ini adalah kisahku...

Siang itu, bell pulang di sekolahku baru saja berbunyi ketika hpku berdering, suara ayah disana terdengar cukup kencang,

"Hana, kamu dimana?"
"Ini baru saja mau pulang, Yah", jawabku
"Cepat pulang ya, Mama menunggu kamu di rumah, katanya ia ingin minta temani kamu jalan-jalan"
Aku mengeryitkan dahi, jalan-jalan? Pikirku. Di siang terik begini? kemana?

"Iya sebentar Yah, Hana mampir ke perpus sekolah dulu ya"

Ayah cepat menjawab, "besok saja ke perpusnya Han, kamu pulang sekarang ya, kasihan Mama sudah menunggu kamu di rumah"

"Yaa tapi Yah..."
"Hana dengar, kamu pulang sekarang juga ya, Nak"
Suara ayah terdengar tegas, tumben biasanya ayah selalu lembut pada kami, dan aku memilih patuh.
"Oke Yah" jawabku.

Sampai di rumah, mama sudah menungguku dengan pakaian rapi. Ternyata siang itu, mama mengajakku pergi jalan-jalan di Dufan. Berdua saja.
Kami menyelusuri Dufan dengan gembira. Aku suka melihat keceriaan di wajah mama. Hampir separuh wahana kami nikmati, ketika mama mengajakku ke salah satu restoran disana.

Kami menikmati makanan sambil saling bercerita hal-hal yang lucu. Sesekali mama mengusap kepalaku,

Sampai akhirnya, mama bertanya,
"Han, apa pendapatmu tentang Ayah?"
"Ayah kenapa Mah? Ayah baik-baik saja kok" Aku bingung tak mengerti arah pertanyaan mama.
Mama memandangku, ada selaput bening di mata mama, membuat mata mama tampak seperti kaca,

"Ya Han, Ayahmu sangat baik, ia tak pernah membeda-bedakan kalian meskipun kamu bukanlah anak kandungnya"

Keterkejutan memenuhi hatiku, ribuan kenangan tergambar bagai film yang sedang diputar ulang di kepalaku, ayah yang selalu menggendongku ketika aku kecil, ayah yang selalu menemaniku kemana aku ingin pergi, ayah yang selalu mengkuatirkan aku di saat aku sakit, ayah yang ada di sisiku...selalu...
ternyata tak ada darahnya mengalir di tubuhku.

Mama mengenggam tanganku, sambil berkata,

"Mama harap sikapmu tak berubah ke Ayah, Han"

Aku tak mampu bicara apa-apa, hanya airmata dan hatiku yang berkata tentu saja aku tak akan berubah, ma sambil memeluk mama. 
Erat.

Rasa penasaran menemukanku pada satu nama,
Zulfikar.
Asal Muara Rimba.

Ya, itulah nama ayah kandungku.

Bermalam-malam aku tak bisa tidur, bayang-bayang ayah kandungku selalu menganggu pikiran, aku tak bisa menepis rasa keingintahuanku terhadap sosoknya, bagaimana wajahnya, cara berbicara dan berjalannya, serupa siapakah dia? Apakah ia mirip denganku? Bertanya pada mama seperti mengorek luka lama, mama enggan bercerita mengenang masa lalunya. Akhirnya aku hanya tahu bahwa nama ayahku adalah Zulfikar dan ia bekerja sebagai dosen di sebuah universitas ternama di Jakarta.

Suatu sore, aku memberanikan diri untuk mendatangi universitas itu, dan bertanya pada salah seorang satpam disana. Di ruang tunggu jantungku berdegup kencang, aku membayangkan akan seperti apa pertemuanku dengannya, apakah akan terjadi drama seperti di film-film Bollywood yang berurai airmata atau malah jangan-jangan di hadapannya aku malah akan kehilangan kata-kata.

Tak berapa lama lewat di hadapanku seorang laki-laki berusia separuh baya, langkahnya cepat menuju ke mobilnya. Aku menghampiri dan bertanya padanya,

"Maaf Pak, apakah Bapak yang bernama Zulfikar?

Dia menoleh padaku, dan berkata,

"Iya saya, ada apa ya?" suaranya tenang, tanpa emosi.

Lidahku kelu, ingin aku mencium tangannya dan memeluk laki-laki paruh baya ini, berperawakan sedang dengan kaca mata tebal, oh..inikah ayah kandungku?

Rasa haru menuntunku untuk berkata,

"Saya anak kandung Bapak.." suaraku hampir tak terdengar,

Laki-laki itu terkejut sejenak, kemudian berkata, " Maaf saya gak mengerti..."

"Saya anak Bapak dengan Ibu Farida", kuulangi lagi pernyataan itu.

Langkah laki-laki itu terhenti, ia memandangku, "Ooh..saya ingat sekarang, yang menikah dengan Ibu Farida asal Jakarta kan? Kemudian melahirkan di RS Harum, kalo enggak salah Bu Farida yang punya saudara laki-laki yang bernama Anto, ya kan?

"Iya...iya..." kataku cepat, Aku agak kaget, ia cepat sekali mengingat kehidupan masa lalunya, tanpa disergap perasaan apapun,

"Tapi saya bukan Zulfikar yang Adik maksud, memang di kampus ini ada dua orang dosen yang bernama Zulfikar, yang satu lagi benar Zulfikar asal Muara Rimba, kalau saya Zulfikar asal Damiri, maaf saya harus pergi sekarang, Dik..."

"Oh..maaf Pak" kataku, malu.

Laki-laki itu bergegas menuju mobilnya, dan segera melaju meninggalkan aku.

Aku kembali lagi ke kampus, dan kini aku bertanya pada seorang petugas TU di kampus itu, dan katanya,

"Tidak ada dua nama Zulfikar di kampus kami dari dulu, Dik. Dosen yang bernama Zulfikar cuma ada satu dan ia berasal dari Muara Rimba. Orangnya yang baru saja Adik temui tadi."

Aku termenung di halaman kampus. Sosok ayah berkelap-kelip di kepalaku, dan tiba-tiba saja aku ingin pulang memeluk ayah di rumah.


Seperti dituturkan kepada penulis.
Duren Sawit, Juli 2018