Tragedi Negeri Basa Basi (II)

stok sopan santun di pasar sudah kosong

konon katanya hari ini semua ludes di borong

orang orang tanpa minta harga dipotong

membawa pulang berkantong kantong


semua bermula dari cerita 

entah salah atau benar adanya

sopan santun bisa sangat meringankan

hukuman yang dijatuhkan untuk pesakitan


Beginilah jadinya sekarang di tengah kita

para pesohor dan pembesar kota

rame  korupsi atau melanggar pranata

dan melakukannya dengan sangat sopannya 


mengambil hak orang atau mencuri

seperti  mengambil milik sendiri

mengangkangi hukum atau regulasi

seperti tanpa malu atau rasa risi 


sesekali mungkin ada yang ditangkap polisi

mereka akan berlaku sangat rendah hati

menebar senyum mengabarkan alibi

yang terjadi sekedar ujian diri

mohon doa dan dukungan untuk kuatnya hati


Ah mereka sungguh sangat sopan sekali!


di depan majelis pengadil yang dihornati

mereka tampil  sangat  rapi dan wangi

tutur katanya runtut teratur rapi 

gesturnya tertata menarik simpati


siapa  coba yang tak suka orang sopan?

bahkan pengadil yang katanya wakil tuhan

hingga vonis dijatuhkan begitu ringan 

hanya karena semata pertimbangan sikap sopan


ah mungkin bisa saja pak hakim lagi menebar guyonan

penawar rasa letih atas beratnya kehidupan

yang sebenarnya, keadilan telah ditegakkan

sangat sangat tegak sepertu terjadi di negeri impian


 (131221)

Kaleidoskop (1)

Januari,

aku mengejar

kau menjauh.


Februari,

aku mengejar

kau menjauh 


Maret,

April

Mei

Juni

Juli

Agustus

...

Desember,

Masih begitu alur kisah

Aku tak menyerah

Kau tak juga lelah


(entah nulis apa ini, 121221)

Tragedi Negeri Basa Basi

 

Di hari anti korupsi

Para koruptor pun cuti sehari

Rehat sejenak untuk berkontribusi

Ikut teriak " katakan tidak pada korupsi"

Besok harinya  mulai lagi


(Sutikno Slamet, 091221)

LELAKI INI DAN PEREMPUAN ITU DAN HUNJAMAN RINDU

Hujan. Lelaki ini suka hujan. Tak peduli di bulan Juni, November atau Januari. Seperti sore ini. Beberapa hari menjelang pergantian musim. Langit menumpahkan triliunan tirta. Berbaris rapi menuju bumi. Mendarat dengan tertib di atap-atap rumah, pohon, daun, dan tanah. Meluruhkan debu bagai sang ibu memandikan bayinya. Tidak tergesa, tidak pula terlena. Titik-titiknya terorkestrasi dengan indah. Menghadirkan rindu. Hujan yang awet, ujar Perempuan itu di suatu waktu. Lelaki ini teringat kembali waktu itu. Hujan yang sama. Lelaki ini dan Perempuan itu duduk di teras rumah. Secangkir kopi sachet dan semangkok mie, cukup sudah. Perempuan itu juga suka hujan. Tapi di bulan Juni. Aku selalu ingat saat pertama kita jumpa, jawab Perempuan itu ketika Lelaki ini bertanya kenapa. Saat itu bulan Juni, hari hampir berganti. Tapi hujannya tidak seperti ini. Bagaimana kalau tidak ada hujan di bulan Juni? Apakah lalu kamu tak ingat aku? kejar Lelaki ini. Perempuan itu merajuk. Bahkan saat hujan tak turun sepanjang tahun, Perempuan itu tetap tak bisa lupa. Betapa indah dicinta Lelaki ini. Betapa sakitnya saatnya harus berpisah.  

Lelaki ini tergagap. Petrikor menyerang seluruh indra-nya. Hujan sudah berhenti. Lama. Sekujur tubuh Lelaki ini basah. Tak hirau tatap heran orang yang lalu lalang. Lelaki ini berlama-lama di tengah taman. Mematung layaknya arca penjaga. Entah apa yang mengganggu jiwanya. Benteng kokoh yang tegar mulai rapuh. Serangan rindu tak kenal waktu. Entah kenapa, alam pun seolah membantu.

Perempuan itu tergugu. Fragmen itu ternyata ilusi. Bunga tidur yang mekar mewangi. Menarik namun tak bisa dipetik. Sekarang bukan bulan Juni. Meski hujan turun sepanjang hari. Hujan tak pernah sadar, dirinya tidak hanya membasahi bumi. Menyuburkan tanah, merimbunkan ilalang. Perempuan itu tidak menyalahkan hujan. Karena, ingatan itu tak meranggas walau kemarau. Perempuan itu menyalahkan takdir yang tak juga berpihak. Alih-alih berlayar ke barat, angin bertiup kencang ke selatan. Perempuan itu tahu, dia hanya perlu membuang sauh. Menunggu suar memancarkan rindu. Suar yang tak kunjung ketemu.

Lelaki ini dan Perempuan itu terpisah waktu. Sama merindu. Sama menunggu. Jalan takdir membawa mereka bertemu. Lelaki ini beranjak lunglai. Hujan mengering di badan. Lelaki ini tak hirau. Hujan tadi menggenangi segenap arteri-nya. Memenuhi ruang hatinya. Terkunci.  

...

And you can't fight the tears that ain't coming

Or the moment of truth in your lies
When everything feels like the movies
Yeah, you bleed just to know, you're alive*

Jakarta, 9 Desember 2021


*Iris, Goo Goo Dolls

aku punya seorang kawan

 

aku punya seorang kawan

di dadanya tersemat

tugas mulia menjaga uang rakyat

agar terbagi secara cermat

mewujudkan besarnya manfaat

 

sekali saja dia  abai atau hianat,

membiarkan patgulipat atau bahkan terlibat

maka hancurlah seluruh martabat

tertanggung akibat sepanjang hayat

 

kawanku begitu teguh pada prinsip diri

sepanjang tugasnya sering dijumpai

keteguhannya akan diuji

dari depan belakang dan semua sisi

 

konon terkadang dia diuji iba dan empati

tema kemiskinan yang menjadi  komoditi,

seakan jika usulan  tak disetujui

dia dianggap telah kehilangan kesejatian insani

 

sesekali  dia perlihatkan usulan  program si miskin nan melarat

begitu gemerlap disusun dalam surat menyurat,

begitu indah dalam bual bual buku proposal

tapi menurutnya tak pernah menjawab yang jadi soal


bantuan si miskin dan anak terlantar

kadang tak sampai terhantar

yang sungguh miskin konon kerap luput

terganti tuan berperut gendut

 

hitungan usulannya juga  penuh sengakarut

entah data mana hendak diturut

semua pihak saling klaim berebut

merasa datanya paling yahuut

 

tapi aneh juga diskusi rame berkutat

hitung- hitungan alokasi rapat

mengira ngira menu konsumsi

memilih tujuan monev kan pergi

 

terkadang keteguhannya juga ditakar

oleh mereka yang berlagak tuan besar

gagah berani membawa aspirasi

katanya tak boleh ditolak atau diganti

 

usulannya kadang tak  masuk akal

seakan Anggaran adalah barang obral

kalau begitu dia akan berlagak orang bebal

yang tak soorangpun pernah dia kenal

 

aku punya seorang kawan,

Di dadanya tersemat

tugas mulia menjaga uang rakyat

di atas kepalanya, 

kibaran panji  nagara dana rakca mengangkasa


(Hari anti korupsi 2021)

 

Selamat Siang Tuan

Selamat siang tuan,


hari ini APBN tidak  sedang santai rebahan,

banyak sekali yang harus di kerjakan

coba kau lihat,

hari ini dia masih terengah engah

menghela nafas

sejak dua tahun lalu pandemi covid meretas

hari ini  kerjaannya belum lagi tuntas

 

dari seluruh negeri

masih terasa  isak sedih tangisan

mereka  mereka yang yang ditinggalkan

terduduk  memandangi

berangkatnya mobil  mobil ambulan,

bergantian membawa muatan

yang  bernafas tersengal

menuju perawatan

atau terbungkus tebal

menuju kuburan,

hingga raung sirena menghilang di kejauhan

 

Selamat siang tuan

hari ini APBN tidak  sedang santai rebahan,

dia hadir

mengupayakan tersedia vaksin dan obat obat vitamin penambah daya tahan,

menjaga agar  sakit dan mati tak banyak berulang,,

dan kasus covid semakin berkurang

mengupayakan  para tenaga medis,dokter perawat penggali kubur tentara polisi petugas petugas yang sedang bahu membahu berperang melawan pandemi

dapat lancar melanjutkan darma bakti

mengupayakan

tersedia biaya pulsa dan data,

buat para guru dan siswa,

serta perangkat pengolah data sewajarnya

hingga mereka yang sekolah atau kuliah

tetap bisa mendapatkan,ilmu dan hikmah

meskipun tetap tinggal di rumah

mengupayakan

ada subsidi  dan bantuan dana

makanan pokok dan lauknya

agar  mereka  yang tak bisa lagi bekerja,

tetap mendapatkan kebutuhan dasarnya,

mereka yang tak berdaya,

tak mati kelaparan dalam rumahnya

 

dia hadir,

mengupayakan

agar tetap bertambah jalan yang menembus belantara

dan wilayah terpenjara,

agar tetap terbangun pabrik pabrik yang menampung banyak pekerja

agar terlatih tentara dan tersedia  senjata untuk  menjaga negara

agar terbentuk polisi jaksa dan penegak hukum

yang memastikan hukum sebagai panglima

agar listrik listrik tetap menyala

hingga negeri semakin terlihat  warna indahnya

agar air tetap mengalir sebagai  pengobat dahaga

agar semua cita cita berdirinya negara terlaksana

agar dokter, guru, pegawai, lurah, camat tetap bekerja melayani rakyatnya

 

Dia hadir,

Mengupayakan ekonomi yang porak poranda

Terimbas corona pelahan  bergerak tumbuh tak semakin rubuh

 

selamat siang tuan,

Selamat siang tuan

hari ini APBN tidak  sedang santai rebahan,

jangan sampa kau terjebak sikap  tamak

membuatmu membelokan bantuan dari yang berhak,

merubah spek barang sehingga gampang rusak

merampok uang apbn sambil terbahak

 

jangan sampai gila hartamu menjadikan kalap

membuatmu lebih piawai dari tukang sulap

merubah kuitansi untuk menilap

menyamarkan bukti terlihat gelap

mencuri uang apbn ketika para penggawas hilap


Selamat Siang, Tuan

hari ini APBn tak sedang berdiam rebahan

jangan kau ganggu dengan keculasan

agar dia bisa jalankan apa yang telah dimandatkan



(Hari Anti Korupsi, 2021)

Pada suatu petang

Pada Suatu petang

ada yang hilang,

ketika kau pulang


Ruang riuh menjadi lengang dan hampa

sebenarnya apa yang tak sengaja,

tadi kau bawa serta?


(Stasiun Juanda, 3 Des 2021)




Punakawan, tak Sekedar Penghibur

     Dalam kisah perwayangan di Indonesia, kita sering mendengar adanya para punakawan yang biasa disebut juga dengan goro-goro. Kehadiran para punawakan ini, sangat dinantikan oleh penonton karena mereka menyuguhkan komentar, lelucon bahkan kritikan yang menghibur. 

    Punakawan yang terdiri dari Semar, bersama dengan ketiga anaknya, Bagong, Petruk, dan Gareng selalu tampil menyegarkan suasana pertunjukan. Gelak tawa selalu ditimbulkan oleh ketiga punakawan ini, baik melalui gerak-geriknya, maupun celotehannya. Mereka hadir sejenak di tengah konflik atau cerita inti dari kisah pewayangan sebagai abdi dari tokoh utama, namun sejatinya punakawan ini bukan hanya sekedar abdi, mereka juga berperan sebagai penasehat bagi tokoh utama. Mereka hadir ketika tokoh utama dalam kisahnya mengalami konflik/dilema dalam kehidupan, sosok punakawan inilah yang dapat memberikan panduan bagaimana jalan terbaik yang harus dipilih oleh tokoh tersebut, meskipun disampaikan dengan cara yang kocak dan jenaka.

    Punakawan berasal dari dua bahasa pana dan kawan. pana berarti tahu dan kawan maksudnya sahabat. Maksudnya kawan yang tahu mana yang baik dan mana yang benar, yang dapat memberikan nasehat/kata-kata bijak tentang hidup dan kehidupan kepada tokoh utama dan penonton. Ada pula yang mengkiaskan punakawan ini adalah ''hati nurani' yang dapat dijadikan pedoman dalam mengambil keputusan. Keputusan yang diambil haruslah yang didasari dengan kehati-hatian dan mempertimbangkan manfaatnya bagi kehidupan.

    Dengan filosofi seperti itu, maka tokoh punakawan yang selalu mendampingi para pandawa (disimbolkan sebagai tokoh kebaikan), dapat berarti pula bahwa setiap manusia yang masih mau mendengarkan hati nuraninya, ia senantiasa akan mendengarkan suara hatinya, sedangkan bagi orang yang tak mau mendengarkan hati nuraninya, ia tak mampu mendengar atau mengabaikan suara-suara kebaikan dalam dirinya sendiri (disimbolkan dengan para kurawa). 

    Jadi punakawan meskipun tidak menjadi tokoh sentral, dan dengan penampilan fisiknya yang tak sempurna pun, tetap mampu memberikan manfaat di tengah jalannya kehidupan sang tokoh utama yang selalu penuh rintangan dengan suka cita. Seyogiyanya dalam diri dan kehidupan, kita mampu menciptakan dan menemukan punakawan ini.