Sistem Penganggaran (1)

Penganggaran Terpadu

orang orang pintar itu, bicara tentang menyatukan DIP dan DIK menjadi DIPA, menjadikan anggaran rutin dan pembangunan menjadi satu, menghindari anggaran mendua, di sini iya di sana iya,  

kata mereka melahirkan DIPA adalah prasasti pencapaian perjuangan panjang, kemenangan atas perang melawan gaung kemustahilan yang membahana pada awalnya

tak perlu heran, seperti pepatah menyebut, "keberhasilan mempunyai banyak saudara, dan kegagalan yatim piatu", banyak yang berebut mencatatkan namanya, mengulang ulang cerita tentang peran seolah paling pahlawan

Jangan kau tanya apa pendapatku? mungkin saja semua benar begitu,  di kepalaku justru tengah riuh menjalar perumpamaan, andai DIK itu seperti ku,  DIP itu seumpama kau, kalau  keduanya menjadi DIPA, kelak aku dan kau bisa saja menjadi kita,meski sekarang muskil adanya


(ujung harapan, 12062022) 

 

 

Munajat



Hujan menderas membasahi bumi

Langit gelap lelap terselimuti
Cahaya kilat bak lampu blitz kamera
Menyambut fajar singsing segera

Para perindu syurga
Membasuh air ke raga
Pakaian suci melekat sempurna
Berdiri sejajar tanda setia

Rintik hujan enggan mereda
Tertunduk sadar hati seorang Hamba
Terangkat tangan asa di pinta
Mata terpejam jiwa mengudara

Wahai Sang Penggenggam Semesta
Kasih sayangmu meluas samudera
Ke Maha AgunganMU tiada tandingannya
Ampuni atas segala dosa

Bintang dan Rembulan

Fajar bersiap menampakkan kilau

Netra menyaksikan terpukau

Kabut selimuti jiwa terlelap

Meski pejantan berkokok sigap 


Detak jantung memburu waktu

Spidometer bergerak maju

Embun tak ingin lepas mendekap perdu

Seakan sulit mengenyahkan rindu 


Teringat akan sepasang kekasih

Di sepertiga malam sunyi

Bintang memberanikan diri

Perlahan mendekati rembulan bak bidadari 


Ada hal yang hendak diutarakan

Kelu menjalar kata tak tersampaikan

Ah...betapa sulit mengungkapkan isi hati

Padahal kesempatan kedua takkan terulang lagi


Sesulit menuangkan maksud dan tujuan pada nota dinas

Sang bintang dalam menarik napas

Telah bulat tekad disiapkan

Namun luluh jua ketika menatap sang rembulan


Entah sampai kapan bintang terus berdiam




27052022

Melepas



Belum usai,

satu laras

tersenandung

tuntas,


senja 

menggilas,

pertanda 

tegas,


sampai,

batas,

temu-mu

tuntas


Kau

berkemas,

sepenuh

gegas.


Lalu ,


ruang Senyap 

meranggas,

Udara  rasa 

Beku mengeras


genggam tangan

pelahan lepas

Sesak dada,

Pilu terimbas

hutang Rindu

Belumlah lunas


ah

padamu

Rengkuhku getas,

Kau

Tetap lagi raga nan bebas


(24 mei 22)

Ini Pagiku, Bagaimana Pagimu?

Sang surya tampak malu menampakan diri

Di antara awan mengabu, sesekali di intipnya penduduk bumi

Yang sebagian telah sibuk menyambut pagi 


Di antara deru mesin kendaraan

Dan hilir mudik para pejalan

Gedung gedung pencakar langit 

Pongah menentang awan 


Seakan mereka berkata; keluarkan saja semua beban 


Sekawanan burung hilir mudik

Rimbunnya dedaunan di sebuah pohon besar menjadi tempat favorit untuk berkumpul

Setelah sekian waktu sibuk menjemput rezeki

Saatnya istirahat dan menikmati 


Di dalam rangkaian gerbong Commuter Line

Yang telah tiba di Stasiun tujuan

Bergegas orang-orang menuju tangga berjalan 


Tergesa gesa menaiki anak tangga

Tak sadar ada yang tersakiti karena sikapnya

Sementara yang lain sibuk membaca kabar berita

Atau terdiam memegang barang bawaan, waspada

Seekor cicak mengamati gerak gerik manusia 


Tiba di bawah naungan halte Jak Lingko

Berdiri menanti kehadiran Trans Jakarta

Detik berganti menit

Yang ditunggu menampakan wujud 


Pagiku penuh warna

Bagaimana dengan pagimu? 


25052022

Pulang


Anak kecil berlarian
Di tanah lapang dan rerumputan
Sorak sorai penjaja makanan
Mencari perhatian

Matahari bersiap undur diri
Udara tercemari asap dedaunan yang terbakar
Menyatu dengan asap dari knalpot
Kendaraan lalu lalang, perlahan

Seekor kuda mengerang, lelah
Entah berapa putaran telah dilalui
Hanya seember air
Dan rumput kering penambah energi

Segerombolan ikan berenang
Bebas berkejaran
Sesekali menunggu hidangan
Yang jatuh dari tangan tangan dermawan

Senja kali ini memenjarakan
Hati dan pikiran
Jika saja lantunan ayat suci tak bersahutan
Niscaya kaki ini enggan untuk pulang



24052022

Ah kau, Betapa lucunya kau kini

Disclaimer: 
(tulisan ini hanya rekaan, 
kalau ada kesamaan cerita, pasti kebetulan semata, mohon maaf sekiranya tidak berkenan)


Dulu,

ketika  kita dihadapkan urusan yang  menghadirkan bimbang

Kami siapkan beberapa  pilihan  untuk ditimbang, 

Kami tunggu darimu keluar petunjuk dan  arahan,

kau malah bicara   ngelantur sembarang,

Membuat kami  makin bingung tak kepalang


Dulu,

Setiap pekerjaan kita terdapat salah  

Kau selalu saja marah marah,

dari mulutmu tersembur sumpah serapah

Lalu denga begitu  mudah 

kau  tunjuk kambing hitam  di bawah,

Karena katamu, pemimpin tak pernah salah


Dulu,

Setiap kita dihadapkan pada halangan atau  masalah 

Kau tinggalkan kami di jalan, dan memilih  berbalik arah

Membiarkan kami semua berjuang melanjutkan langkah 

Itu semua bagian pengkaderan,  katamu berkilah


Dulu,

Setiap ada kerja besar yang kita hadapi

Kau hanya sibuk tunjuk sana,tunjuk sini tanpa arahan pasti 

Lalu kau lanjut berbaring atau menepi 

Menunggu  kerja tuntas dengan sendiri,

tak beda dengan patung kucing hoki di atas lemari

tiap kali ada yang mengajukan somasi,

jawabanmu demikian runtut dan rapi

katamu seorang manajer tak harus melakukan sendiri, 

bekerja melalui orang lain bukan semata definisi 

tapi bagaimana implementasi



Dulu,

Setiap  ada panggung dan kamera ,

Kami akui kau sangat piawai bemain kata dan mengemas rupa 

Pidato pidatomu penuh riuh  gelora,

Ekspresi dan citra yang indah untuk konten dunia maya


Dulu,

Setiap ada  penghargaan atas karya 

Kau  akan berada   di barisan muka,

Mengklaim ide dan pemikiran berasal darimu saja,

Karena tidak mungkin  ide berasal dari orang biasa 

Dan hanya kau yang mampu menggerakkan sumber daya 

untuk  mewujudkannya menjadi nyata 

 

Dan dulu,

jika dari pelaksanaan  kerja dan fungsi ,

Tak terhindarkan hadirnya gratifikasi 

Kau selalu anggap itu semua  rejeki,

dari sang Maha Pemberi 

Menolak katamu, selain menyakiti hati pemberi 

Juga bagian dari ingkar syukur pada Ilahi


Kini,

Saat kau harus pergi dari kami

pidato perpisahanmu bernas tersaji

Ungkap jasa dan tonggak legacy

Yang sekian waktu sudah  dijalani


Ah kau,

Betapa makin lucunya kau kini,

Membuat kami tak tahu lagi

Saat tatih langkahmu beranjak pergi

Haruskan kami berduka 

atau..... bersuka hati


(Ujung harapan, 21 Mei 2022)


Kota Rindu




Kuselipkan rindu pada remang senja jalan ini tempo itu

Sebagai ganti rindu yang kuambil dan kubawa darimu

Karena perjumpaan meneruskan kisahnya dalam kerinduan

Karena mereka yang saling merindu saling memanggil ingin bertemu


Tetaplah, jangan berubah meski jaman seringkali memaksa kita

Karena rindu adalah bentuk lain dari ungkapan 'masih seperti dulu'


Rindu adalah tentang masa lalu

Soal menjaga nostalgia yang sama


Jangan biarkan kemajuan merenggut apa yang pantas

untuk terus bertahan dan menjadi sumber kenangan


Tentang kesederhanaan, keakraban, kehangatan

Tentang suasanamu itu yang mendefinsikan rindu


Sampai jumpa Jogja


Bonjur,150522