MASA SEKOLAH (1), GURU GEOGRAFI

Suasana kelas sangat lenng saat itu. Baru sekitar setengah penghuni kelas 3-11 sebuah SMA Negeri di Bandung yang telah berada di dalam kelas, padahal pelajaran Geografi akan segera dimulai. Guru mata pelajaran Geografi ini sebenarnya agak kuhindari karena aku belum membayar uang buku yang kubeli dari Pak Azimuth, begitu panggilan kami kepadanya (kami memanggilnya demikian karena ketika Pak Guru ini menjelaskan tentang sudut putar arah angin, gaya tangannya sangat atraktif sehingga kami menjulukinya Pak Azimuth). Agak riskan bagiku kalau hanya sedikit teman-teman yang berada di dalam kelas karena perhatian Pak Azimuth takkan terbagi dan tentu saja aku akan semakin terlihat olehnya.

Ketika terdengar suara tapak kaki mendekat ke pintu kelas, jantungku semakin kencang berdetak. Sementara tak ada sedikit pun tanda-tanda teman-teman sekelasku memasuki ruang kelas.
“Sebagian anak-anak ada kegiatan OSIS. Genk Boy Band seperti biasa nangkring di kantin.” Bisikan Siti semakin membuat suasana mencekam bagiku. Keringat dingin membasahi keningku. Ada-ada saja teman-temanku ini.
Puncaknya adalah ketika langkah kaki Pak Azimuth memasuki ruang kelas. Sepertinya wajahku pucat karena tanganku mulai dingin dan berkeringat. Berkali-kali kutatap jendela kelas, dengan harapan ada teman yang masuk ke dalam kelas. Harapanku tak terwujud bersamaan dengan pintu kelas yang ditutup Pak Azimuth. Selama satu setengah jam ke depan, sepertinya aku harus melakukan senam pernafasan agar aku bisa lebih rileks.
“Yang lain ke mana?” Selama beberapa saat suasana kelas hening. Aku menunduk pura-pura membaca buku pelajaran Geografi. Jantungku mulai berdebar tak karuan.
“Sedang ada kegiatan OSIS, Pak.” Dari bangku belakang terdengar suara murid yang menjawab pertanyaan Pak Azimuth.
”Memangnya semua murid di kelas ini jadi pengurus OSIS?” tanya Pak Azimuth dengan suara dibuat galak. Aku semakin menunduk menatap bukuku.
“Bukumu terbalik, tuh!” tegur Pak Azimuth yang tahu-tahu sudah berada di sampingku.
Secepat kilat kubalikkan buku yang sedang kupegang. Terdengar suara tawa kecil dari teman-teman yang masih tersisa di kelas. Walaupun sebenarnya masih mending aku dipermalukan karena pura-pura membaca daripada dipermalukan karena aku belum membayar buku Geografi.
“Saya nggak tahu kalian ini mau serius belajar Geografi nggak sih? Mau kalian semua saya beri nilai jelek biar nggak lulus sekalian ….” Panjang kali lebar kali tinggi sudah Pak Azimuth memarahi kami yang tersisa di dalam kelas. Menurutku ini tak adil karena seharusnya Pak Azimuth marah kepada teman-temanku yang tak berada di dalam kelas.
“Hey kamu yang pegang buku terbalik!”
“Saya?”Aku mengangkat kepala dan menatap takut kepada Pak Azimuth.
“Kamu tuliskan di papan tulis pelajaran hari ini. Nanti kalian yang berada di kelas mencatatnya dan teman-teman kalian yang di luar bisa fotocopy.”
Pak Azimuth menyerahkan sebuah buku tulis kepadaku dan menunjukkan bagian mana yang harus kutulis di papan tulis. Beberapa saat aku bengong karena aku tak bisa memahami tulisan tangannya. Tulisannya seperti tulisan dokter zaman dulu yang kalau menulis nama obat hanya berbentuk cacing meringkel.
“Kenapa nggak di-foto copy saja, Pak? Ini kan banyak sekali. Biar saya yang ke tempat fotocopy,” tawarku.
“Tulis saja! Biar kamu juga belajar.”
Akhirnya aku mengambil kursi dan mulai menulis di papan tulis. Saat itu aku merasa kena hukuman dua kali karena teman-teman yang berada di luar. Walau sebenarnya hukuman ini jauh lebih baik daripada ditagih uang buku.
Catatan: Uang Buku sudah dibayar, ya hehehe.

GADIS KECIL BERPONI


Denting di dinding berhitung sepuluh kali

Mengagetkan sepi dan gadis kecil berponi


sedang menabur bunga berbahan lego

sembari komat kamit merapal

membetulkan letak nisan dari bantal

bungkuk menuliskan: Nina Bobo


kemudian dua pelayat datang

dengan tawa ceria

laki-laki dan perempuan, dari balik meja

membawa kembang karangan

berhias penat keringat

tersemat ucapan:

"lagi main apa, Nak?"


gadis kecil berponi,

matanya sudah berpakaian serba hitam

meringkuk peluk

menyanyi sendiri.

Kesedihan Akan Membunuhnu

Kesedihan itu seperti psikopat.

Dalam kelembutan dia masuk menembus rongga dada, 

bermain  senyap diantara rusuk yang berjajar rapi bagaikan pasukan penjaga, 

tapi tak mampu menahannya 

dan akhirnya kesedihan menguasai hati, 

mencabik-cabiknya sampai kita lupa arti sebuah bahagia.


Saat aku tertawa, dia hadir dan aku hanya bisa tetiba terdiam. 

Desakannnya memaksaku menutup bibirku yang terbuka, 

tekanannya memaksaku mengeluarkan butiran air yang kusimpan lama dalam dua bola mata. 


Saat aku berdiri, dia hadir dan aku harus jatuh terduduk dan tertunduk.

Disana sesosok makhluk bertanduk tertawa dengan aroma yang sangat busuk.


Kesedihan.. 

mengapa kita harus berjumpa saat aku sedang mencoba menata istana bahagia, 

saat aku sedang belajar tertawa 

dan saat ku bertahan jauh dari dia. 


Kesedihan ijinkan aku membencimu.. 

Aku juga berhak bahagia.. Ya kaan.. ??


KOS di WBC
(Kumpulan Obrolan Santuy di Warung Bang Casman)

Udin dan Gelembung Sabun

Sengatan sinar matahari pada pukul dua belas siang terasa panas menyentuh kulit. Siapapun yang tidak mempunyai keperluan mendesak untuk keluar rumah, lebih memilih berdiam diri di dalam rumah sambil menikmati hembusan udara segar dari mesin pendingin udara/mesin kipas angin, kipas-kipas dengan kipas tradisional dari anyaman bambu, atau bahkan ada yang berteduh dibawah pepohonan yang berada di halaman rumah.

Bagi sebagian yang lain khususnya para Ibu, sinar matahari yang terang benderang menjadi kebahagiaan tersendiri, karena jemuran pakaian yang memenuhi seluruh tali jemuran bisa kering lebih cepat sehingga sebagian pekerjaan rumah bisa selesai lebih cepat dari biasanya. Di musim penghujan, pakaian yang dijemur lebih lama keringnya. Bahkan, jika telah selesai mencuci kemudian menjemur pakaian lebih pagi, menjelang sore atau malam bahkan esok harinya pakaian masih terasa lembab, sehingga apabila dipaksa untuk di angkat pakaian yang lembab tadi dan ditumpuk selama beberapa jam, pakaian-pakaian tersebut akan mengeluarkan aroma atau bau yang tidak menyenangkan.

Tidak hanya para ibu yang merasakan kebahagiaan, demikian juga dengan para penjual es keliling seperti es serut, es bon bon, es dawet ayu, es cincau dan aneka jajanan es lainnya, mereka berbahagia dengan cuaca saat itu, karena jualan es mereka laris manis diserbu para pembeli yang menginginkan kesejukan dan kesegaran didalam rongga mulutnya untuk melepaskan dahaga akibat udara panas.

Sementara itu, disebuah sekolah dasar negeri di kampung bulakan.

"Teeeeeeeetttttt" suara bel sekolah menggema diikuti oleh sorak sorai teriakan bahagia seluruh murid-murid yang telah menantikan bel pulang berbunyi.

Bagaikan air bah yang sulit dibendung, para murid berlarian keluar ruang kelas setelah mereka satu persatu menciuam tangan sang guru sambil mengucapkan salam perpisahan.

Sang guru membalas ucapan salam anak didiknya sambil tersenyum. Sesekali beliau berteriak mengingatkan anak didiknya untuk tidak saling dorong agar tidak ada yang terjatuh.

Udin terlihat berdiri di antrian paling belakang, ia selalu memilih masuk dalam barisan antrian paling belakang karena tidak ingin berdesakan apalagi terkena imbas ulah teman-temannya yang saling dorong. Bukan tanpa alasan Udin memilih antri paling belakang, itu karena  ia pernah mengalami nasib buruk saat memaksakan diri ikut berdiri antri dalam barisan depan. Saat itu, tubuhnya yang kecil terjerembab hampir menabrak meja belajar akibat terdorong oleh teman-temannya.

Alhasil, tubuh Udin yang terjatuh dilantai menjadi bahan tertawaan teman-temannya. Sang Guru pun hanya bisa membantu Udin untuk bangkit berdiri sambil memberi nasehat pada anak didiknya untuk tidak saling mendorong, karena hal tersebut dapat membahayakan diri sendiri dan juga orang lain.

Setelah berpamitan dengan gurunya, Udin melangkah keluar ruang kelas. Tempat tinggal Udin hanya berjarak puluhan meter dari Sekolah. Sesampainya di rumah, ia mengganti pakaian dengan pakaian sehari-hari. Kaos lengan pendek warna putih yang sudah mulai terlihat kecokelatan karena dimakan usia, serta celana pendek berbahan katun. 

Selepas shalat dzuhur, Udin melangkah menuju meja makan. Ia membuka tudung saji yang didalamnya sudah tersedia bakul nasi yang terbuat dari anyaman bambu, sepiring telor goreng mata sapi yang diberi bumbu kecap, irisan cabai, irisan bawang merah dan irisan bawang putih, serta sambal terasi yang diberi perasan jeruk limo.

Udin makan dengan lahap, karena makanan yang masuk kedalam lambungnya terakhir berupa ketupat sayur adalah diwaktu pagi hari ketika bel masuk kelas belum berbunyi. Sedangkan pada saat bel istirahat, ia lebih memilih bermain bola di halaman sekolah yang sering dipakai untuk upacara bendera setiap hari Senin pagi atau baris berbaris dan berkumpul dalam kelompok-kelompok dalam ekstra kurikuler Pramuka. Selesai bermain bola, ia dan teman-temannya membeli jajanan es teh manis untuk melepas dahaga di sebuah warung sederhana yang berada tidak jauh dari bangunan utama sekolah.

Sewaktu sisa makan siangnya masih satu suapan lagi, terdengar suara teman-temannya memanggil namanya, “Uuudiiin…. Uuudiiin….”. 

Emak Udin yang sedang menjahit bagian celana sekolah Udin yang robek, buru-buru buka pintu dan melangkah keluar, “Eeeh… Entong, Abdul, Soleh, sini masuk… tunggu sebentar ya… si Udin ngabisin makannya dulu. Eh iya… kalian udah pada makan?” tanya emak. “Udah Mak Udin. Iya dah…kita tungguin”. Jawab Entong, Abdul, dan Soleh hampir berbarengan. Ketiganya duduk di kursi bambu disudut halaman rumah berlantai keramik sederhana. 

Tidak butuh waktu lama, Udin muncul dari balik pintu. “Maaf ya, tadi tanggung tinggal sesuap lagi…hehe“, ujar udin sambil tertawa kecil.

“Mak, Udin maen dulu ya…” ujar Udin meminta izin ke emaknya. 

“diluar lagi panas, Din, jangan maen jauh-jauh ya, emak khawatir nanti Udin kesambet kalau tengari maen jauh-jauh”, ujar emak memberi peringatan ke Udin.

“Ya Mak, Udin udah janji ama temen-temen mau nyari daon kapuk”, jawab Udin.

“Emang buat apaan daon kapuknya?” tanya emak penasaran.

“Yaaah Emak kagak tau ya? Daon kapuk itu untuk bikin gelembung sabun dan air gelembung sabunnya bakal kita jual keliling kampung, kan lumayan buat duit jajan, gak minta ama emak..ha…ha…ha…” Jawab Udin sambil tertawa.

Sebelum Emak Udin bertanya lagi, Udin melanjutkan penjelasannya, “jadi gini Mak, cara bikinnya; beberapa lembar daon kapuk ditumbuk sampe halus, nah daon yang ditumbuk itu bakal ngeluarin semacam getah yang mirip minyak goreng tapi dia lebih kental, teruus…. daon kapuk yang udah ditumbuk tadi dimasukin kedalam air yang udah dituangin bubuk deterjen, terus daun kapuknya dibejek-bejek sampe kecampur sama air dan deterjen. Naaah….terakhir supaya hasilnya bersih… kagak ada ampas daon kapuknya, Udin dan temen-temen bakal saring pake bahan pakaian bekas. Setelah semua selesai disaring dan diperes, jadi dah gelembung sabun. Kalau gelembung sabunnya di celupin pake sedotan atau disedot sedikit dan ditiup perlahan, sedotannya bakal ngeluarin gelembung sabun yang buaaaaaanyaaaak banget, Mak”, ujar udin menjelaskan ke Emaknya dengan lengkap.

“Oo gitu, Din. Emang kagak beracun getah daon kapuk sama aer deterjennya kalau sampe ketelen?” tanya Emak lagi kerena khawatir anaknya bakal kena bahaya dari air gelembung sabun.

“hhmm…..yaa… jangan ampe ketelen dong Maaak. Udin pernah nyedot aer gelembung sabunnya kebanyakan, jadinya masuk ke mulut. Rasanya Paiiit, Mak… hahahaha” ujar udin sambil tertawa terbahak-bahak.

“Tuh kaaan…..baru aja emak kepikiran. Ya udah, ati-ati aja ya Din, Tong, Dul, Leh. Oh iya, Jangan ampe kesorean ya pulangnya…” pesan Mak Udin mengingatkan.

“Okey Mak…… Assalamu├ílaykum” ucap Udin pamit, disusul dengan ucapan dari Entong, Abdul, dan Soleh. Mereka pun bergegas menuju jalanan kampung yang mengarah ke sebuah lahan yang ditumbuhi oleh pohon singkong yang berbaris rapih, pohon pisang dipinggirnya dan sebuah pohon Kapuk yang menjulang tinggi namun sebagian batang pohonnya ada yang menjuntai pada posisi yang cukup pendek sehingga mudah untuk dipetik dengan menggunakan sebatang galah bambu.  Pohon kapuk tersebut adalah satu-satunya yang berada disekitaran tempat tinggal Udin dan teman-temannya. 

Udin dan teman-temannya tiba dibawah pohon kapuk. Dengan bermodalkan keberanian, salah satu dari mereka, yaitu Abdul, yang terkenal pemberani dalam urusan panjat memanjat pohon, mulai memanjat dan berhasil memetik sekantong kresek kecil daun kapuk.

Selesai mendapatkan daun kapuk yang diinginkan, merekapun bergegas menuju rumah Entong untuk mengolah daun kapuk menjadi air gelembung sabun. Ditengah perjalanan, mereka mampir sebentar di warung kelontong Mak Enoh. Dengan bermodalkan uang hasil patungan dari uang jajan masing-masing, mereka membeli sebungkus deterjen merk Rindu, sebungkus sedotan plastik, dan kantong plastik bening ukuran seperempat.

Sesampaikanya di rumah Entong, Udin dan teman-temannya mulai mengolah bahan-bahan yang telah mereka kumpulkan untuk membuat gelembung sabun. Mereka pun berbagi tugas, karena sebelumnya Abdul telah melakukan tugas memetik daun kapuk, maka tugas menumbuk daun jatuh kepada Udin, yang memeras daun kapuk yang telah ditumbuk adalah Entong, sedangkan yang memasukan deterjen dan mengaduk-aduk air gelembung serta melakukan penyaringan air gelembung sabun supaya tidak ada ampas daun yang tertinggal, jatuh pada Soleh.

Hanya butuh waktu kurang dari setengah jam, air gelembung sabun akhirnya jadi dan telah dilakukan uji coba dengan hasil memuaskan. Air gelembung sabun tersebut menghasilkan gelembung yang banyak ketika dicelup kedalam sedotan plastik dan ditiup perlahan. Udin dan teman-temannya terlihat kegirangan.

Selanjutnya, merekapun mengatur strategi penjualan. Hasil kesepakatan, Udin dan teman-temannya akan menjual gelembung sabun di beberapa lokasi yang telah ditentukan dengan pembagian tugas sebagai berikut; yang membawa kaleng biskuit berisi air gelembung sabun jatuh pada Entong karena memiliki ukuran tubuh yang lebih besar dari yang lain. Yang bertugas teriak-teriak seperti layaknya penjual kredit panci atau penggorengan jatuh pada Abdul dan Soleh, karena keduanya dikenal memiliki suara yang bagus ketika mengumandankan adzan, sedangkan Udin mendapat tugas meniup gelembung sabun agar bisa menarik perhatian anak-anak yang mereka temui sepanjang perjalanan menjual gelembung sabun serta mendapat kepercayaan untuk menyimpan uang hasil penjualan gelembung sabun kedalam kantong plastik yang telah disiapkan.

Udin dan teman-temannya siap melakukan perjalanan. Namun sebelumnya, Soleh mengingatkan teman-temannya untuk membaca doa terlebih dahulu dengan harapan gelembung sabunnya dapat habis terjual. Akhirnya, setelah mereka berdoa bersama, Udin, Abdul, Entong, dan Soleh memulai perjalanan untuk menjual gelembung sabun.

“Gelembung Saboooon….. Gelembung Sabooon….. lima ratus perak…”, teriak Abdul dan Soleh saling bersahutan. Beberapa anak yang sedang bermain kelereng tak ayal menghentikan permainannya karena perhatian mereka beralih pada teriakan Abdul dan Soleh. Salah seorang dari anak=anak tersebut memanggil Udin dan teman-teman untuk membeli gelembung sabun. Penjualan pertama gelembung sabun berhasil meraup pundi-pundi uang jajan sebesar dua ribu lima ratus rupiah. Anak-anak itupun terlihat sangat bahagia ketika mereka meniup air gelembung sabun dari sedotan plastik. Salah satu diantara merekapun sempat bertanya cara membuat gelembung sabun tersebut. Tentu saja Udin dan teman-temannya tidak bersedia memberitahu karena hal itu adalah rahasia “perusahaan”.

Selanjutnya, Udin dan teman-temannya melanjutkan perjalanan menuju lokasi-lokasi yang telah mereka sepakati. Dalam perjalanan, mereka menjumpai beberapa anak yang sedang asik bermain layang-layang, beberapa anak perempuan seusia Udin  yang sedang berkumpul bermain permainan congklak, yang kemudian tertarik untuk membeli air gelembung sabun.  

Sang waktupun beranjak sore. Suara kumandang adzan Ashar mulai terdengar bersahutan dari pengeras suara Masjid dan Mushola. Udin dan teman-temannya sepakat untuk menghentikan perjalanan dan bersepakat untuk beristirahat disebuah Pos Kamling yang lokasinya tidak jauh dari rumah mereka berempat. Sambil menyenderkan badan dan meluruskan kaki, Udin dan teman-temannya mulai menghitung hasil penjualan gelembung sabun. Dengan disaksikan Abdul, Entong, dan Soleh, Udin mulai mengeluarkan plastik kresek didalam kantong celananya, mengeluarkan uang dari kantong plastik dan mulai menghitung. “lima ratus, seribu……dua ribu…..lima ribu….sepuluh ribu….dua belas ribu, lima belas ribu lima ratus….”,  suara Udin dan teman-temannya kompak menghitung uang hasil penjualan gelembung sabun. Setelah dilakukan pengecekan didalam kantong plastik penyimpan uang dan tidak ditemukan lagi uang yang terselip, akhirnya Udin melipat kantong plastik tersebut dan menyimpannya kembali kedalam saku celananya.

“Alhamdulillaah…. Hasil penjualan hari ini sebesar lima belas ribu lima ratus rupiah, selanjutnya…uang ini mau dibagi rata jadi berapa-berapa untuk kita berempat?” Tanya Udin kepada Abdul, Entong, dan Soleh.

“gimana kalau masing-masing kita mendapat tiga ribu rupiah? Sisanya, kita simpan sebagai modal untuk bikin gelembung sabun lagi. Gimana, setuju gak?”, jawab Soleh yang disambut persetujuan dari Udin, Abdul dan Entong.

Akhirnya, setelah uang hasil penjualan gelembung sabun telah dibagi rata, Udin dan teman-temannya kembali ke rumah masing-masing dengan perasaan bahagia karena sore itu mereka mendapatkan uang jajan dari hasil keringat atau kerja keras mereka, bukan dari meminta uang jajan ke orang tua. Udin dan teman-temannya membuat jadwal rutin berjualan gelembung sabun, hingga pada suatu hari mereka tidak melakukannya karena pohon Kapuk yang menjadi bahan utama dalam pembuatan gelembung sabun rata dengan tanah dan berubah menjadi sebuah gerbang perumahan mewah.

Udin dan teman-temannya mempunyai kenangan masa kecil yang indah.

Lelayu

Pasti

Pada akhirnya 

Gemuruh ini akan 

menjadi senyap,

Musnah segala ada

Yang begitu kuat didekap,

Lenyap segala cahaya

Yang kini terang dalam tatap,


Mati

Yang mengintai dari tipisnya tingkap,

mengendap endap 

Di antara ingat dan lupa 

Di antara tidur dan tafakur

Di antara hikmat dan maksiat

Di antara tawa dan doa

suatu hari,

Akan tiba,tanpa duga, 

Merenggut dunia, tanpa tunda


(Bekasi, 23 Jan 2021 03.00 WIB)

Rahwana Jatuh Cinta

 (Rahwana berdiri di pintu peraduan Shinta. Bicara pada dirinya sendiri)


Wahai Shinta, putri titisan Banowati,
hatiku terus dilanda rindu
aku ingin mendekatimu, untuk sekedar  mendengar suaramu saja 
begitu pun aku sudah senang.
karena itu setiap malam, aku datang ke tempat aku menyembunyikanmu,
namun yang ku dengar adalah suaramu yang meninggi.... membentak dan mengusirku pergi.

bagaimana pun, aku tak pernah jemu,

sampai kau mau mengajakku bicara
sampai kamu mau membuka hatimu untuk mengenalku, sekedar mengenalku.
agar aku bisa menunjukkan isi hatiku padamu.
walaupun terlihat dari sinar mata dan caraku menatapmu

bagaimana kau bisa tahu?
sementara untuk melihatku saja engkau tak mau
apakah karena rupaku?
atau karena orang sepertiku tak layak mendapatkan cinta?

(Rahwana tertunduk, wajahnya murung... matanya yang buas, memudar sendu)

aku Rahwana, Raja Negeri Alengka
aku terbiasa mendapatkan keinginanku dengan sesuka hati
aku memang bukan orang baik
tapi aku tetap punya perasaan, punya rasa cinta.

aku tak tahan melihatmu, seringkali ditinggal Rama untuk bertapa.
sementara engkau selalu menangis diam-diam
namun, tak sedikitpun engkau mengeluh
beri aku kesempatan sekali saja untuk menunjukkan sisi baikku padamu

andai aku bisa malam ini pula, aku akan mengatakan kalau aku mencintaimu
tapi aku harus bergegas mempertanggungjawabkan perbuatanku yang telah membawamu pergi
aku harus mempertahankan harga diri dan negaraku,. kalau aku berbuat ini karena cinta.
hanya karena cinta.

(Air mata mengalir deras di pipi Rahwana, raksasa perkasa yang ditakuti seluruh mayapada, sebelum kakinya tergesa melangkah masuk peraduan Shinta, tercekat oleh banyaknya kata yang ingin diucapkannya, namun yang sempat diucapkannya lirih pada Shinta yang memunggunginya adalah...   )

selamat tinggal Shinta, mungkin ini malam terakhirku untuk menemuimu. Mengganggumu. kuharap engkau akan bahagia di hidupmu selanjutnya.

(Rahwana menatap wajah Shinta. sekali lagi. seakan enggan melepaskan pandangannya, mengambil nafas panjang dan membalikkan tubuhnya menjauhi Shinta. Ia mengira Shinta akan mengusirnya kembali namun...  ia merasakan tangan lembut Shinta pada bahunya, dan suara isak tangis pilu Shinta...)

Rahwana....  jangan pergi.

apakah engkau akan meninggalkan aku, yang selama tujuh belas tahun ini terbiasa mendengar suaramu setiap malam?
yang terbiasa dengan rayuanmu yang sebelumnya kuanggap gangguan? 
yang terbiasa dengan tingkahmu yang menjengkelkan namun tak pernah menodai kehormatanku?
baru kusadari sekarang bahwa...
yang kau lakukan selama ini adalah berusaha membahagiakanku.

(Shinta menangis sesenggukan... menatap punggung Rahwana yang harus pergi...)

Sayup suara kidung terdengar, ''loro ning loro ora koyo wong kang nandang wuyung....''

Aku, Si Kutu Buku, Dan Sunyi

 

Ku terduduk kaku di sudut ruangan sebuah rumah tua yang berada di tengah perkebunan di daerah Pangalengan. Suasana senyap membuatku semakin tak nyaman. Hanya terdengar suara jangkrik yang terus bernyanyi menemani sunyiku. Di sudut lain seorang remaja pria yang kutaksir seusiaku duduk bersila, asyik dengan buku yang sedang dibacanya.

Sedikit demi sedikit kugeser badanku, mendekat ke arahnya. Kepalaku menunduk mengamati buku yang sedang dipegangnya, memastikan posisinya tidak terbalik. Siapa tahu dia cuma pura-pura membaca untuk memberi kesan pandai kepadaku.

“Hey ….”

Tak ada balasan kudengar. Remaja pria itu  tak bergeming. Masih duduk dengan posisi yang sama. Hanya matanya yang mondar mandir ke kiri dan kanan, seperti orang yang sedang senam pagi di lapangan. Kuberanikan diri menggerakkan jari tanganku untuk mencoleknya.

“Hey, kita kan cuma berdua di sini. Di rumah yang luas ini, kita ngapain kek, ngobrol kek, main  gaple gitu, atau main congklak kek,  jangan saling diam gini. Aku takut.”

“Nggak ada yang perlu ditakutkan. Cari kesibukan sendiri. Nih baca!” balas pria Itu sambil menyerahkan sebuah buku tebal kepadaku.

Seketika dahiku mengernyit membaca judul buku itu. Rasanya ingin sekali kupukulkan buku Itu ke kepala remaja pria Itu.

“Kau pikir kita datang ke sini mau try out UMPTN?Gila aja, orang lagi piknik bawanya buku kumpulkan soal UMPTN,” ujarku dengan suara cempreng dan membuat jangkrik yang sedang bernyanyi langsung terdiam.

“Lha, daripada bengong nggak ngapa-ngapain, mending belajar. Biar bisa masuk PTN,” ujarnya dan kembali asyik dengan bukunya. Aku hanya bisa mengepalkan tangan tanda kesal kepadanya walaupun percuma juga sih karena dia tak berniat melirikku walau cuma seujung sudut maya. Sejak itu kunobatkan dia dengan julukan Si Kutu Kupret eh Kutu Buku.

Berkali kali kutengok pintu rumah, siapa tahu orang-orang yang ikut kegiatan gathering muncul. Sudah dua setengah jam berlalu sejak waktu yang dijanjikan Kang Alif, Ketua Karang Taruna Kompleks Mawar Duri Lunak untuk memulai acara kebersamaan. Sayangnya tak nampak tanda remaja-remaja Kompleks Mawar Duri Lunak muncul dari pintu. Begitu juga Kang Alif, aku tak melihat keberadaannya.

“Kita berkumpul di tempat sejuk hari ini adalah untuk mempererat silaturahmi diantara anggota Karang Taruna Kompleks Mawar Duri Lunak. Tak ada lagi istilah “aku” tapi adanya “kita” ….” Terngiang kembali di telingaku pidato Kang Alif tadi sore ketika kami para para peserta gathering tiba di tempat ini. Tempat dimana saat ini aku terjebak diantara Si Kutu Buku dan jangkrik yang bernyanyi dengan suara fals.

Tiba-tiba aku merasakan panggilan alam yang untuk saat ini sangat sulit kuhindari. Aku mulai gelisah. Bingung karena kamar mandi berada di luar rumah. Di dalam rumah saja aku sudah merasakan kengerian apalagi di luar rumah.

“Hey ….”

Kusenggol tangan Si Kutu Buku agak keras hingga buku yang sedang dipegangnya terjatuh. Ia melotot ke arahku. Mungkin merasa terganggu oleh sikapku. Tapi menurutku tak pantas ia melotot karena matanya tetap spit.

“Antar aku ke luar!”

“Ngapain?”

“Aku perlu ke kamar mandi. Takut sendiri. Di luar gelap.”

Dengan enggan, Si Kutu Buku bangkit dari duduknya. Ia mengikutiku dari belakang, kalau dari depan berarti mendahuluiku. Tak penting juga sih mau mendahului atau mengikuti, aku hanya butuh teman untuk melawan ketakutanku yang tak jelas takut apa.

“Awas ya, jangan ngintip!”

Si Kutu Buku hanya memandangku heran. Tak kata pun keluar dari mulutnya. Mungkin ia mempunyai niat mengintip tapi ketahuan olehku atau mungkin juga dia jijik mendengar celotehanku.

 

Ketika aku keluar dari kamar mandi, Si Kutu Buku masih berdiri dengan setia di depan pintu. Ia berjalan mendahuluiku menuju ke dalam rumah tapi kucegah.

“Daripada kita balik ke rumah dan cuma bengong, mending kita cari Kang Alif. Biar dia tanggung jawab sama kegiatan ini,” ajakku.

Entah dia terpesona olehku atau biar aku tak mengoceh terus, Si Kutu Buku menuruti kemauanku. Entah kenapa dia kembali mengambil posisi di belakangku. Dasar pengekor!

Belum jauh kami berjalan terdengar olehku suara mendesah dari balik tanaman teh di sekitar kebun . Aku menutup mulut Si Kutu Buku yang hampir saja mengeluarkan bunyi. Aku mendekati asal suara. Semakin dekat semakin aku hapal  dengan suara-suara Itu.

“Kang Alif … Teh Mimin, lagi ngapain di sini? Mojok ya?” tanpa basa basi kuinterogasi mereka berdua hingga tanganku disikut Si Kutu Buku.

“Eh Dinda, ngapain di sini?”

“Harusnya sih saya yang nanya, Akang sedang apa, berbuat apa di sini, dua duaan, gelap gelapan dengan seseorang yang bukan muhrimnya dan nama saya bukan Dinda!” bentakku lantang.

Menyebut namaku saja salah, berarti dia tak mengenal anggotanya. Bagaimana mungkin dia bisa berpidato akan menyatukan remaja-remaja dalam ikatan silaturahmi kalau dia sendiri saja tak mengenal anggotanya dan tidak disiplin menjalankan kegiatan yang dirancangnya.

Karena malam gulita aku tak bisa melihat muka Kang Alif dan Teh Yuni. Apakah dia malu atau bahagia kepergok olehku dan Si Kutu Buku, aku tidak tahu. Biarlah bulan yang jadi saksi atas kejadian malam ini.

Aku meninggalkan Kang Alif dan Teh Yuni dengan perasaan kesal. Menyesal sekali ikut acara ini karena menuruti keinginan Ibu agar aku berbaur dengan remaja-remaja Kompleks Mawar Duri Lunak. Waktuku terbuang sia-sia. Rasa sesal memang datangnya terlambat karena kalau lebih dulu namanya pendaftaran.

Si Kutu Buku kembali berjalan di belakangku. Setelah lima langkah kudengar suara-suara berbisik dan mendesah lainnya. Rupanya acara gathering ini hanyalah formalitas belaka agar izin orang tua bisa keluar dan mereka bisa berpacaran di alam terbuka. Sebagai jomblo sejati aku merasa acara seperti ini tak pantas buatku. Rasa marah membuatku mempercepat langkahku menuju rumah. Tidur adalah jalan terbaik bagiku.

*****

Pagi-pagi buta aku bangun dan berkemas. Bergegas keluar rumah besar Itu. Kulihat Si Kutu Buku mengikutiku dari belakang. Kami berdua naik bis umum mendahului para remaja yang masih lelap karena semalam mereka begadang.

Setelah sampai di Kompleks Mawar Duri Lunak, aku dan Si Kutu Buku berpisah. Aku tak tahu siapa nama sebenarnya nama Si Kutu Buku begitu juga sebaliknya. Kami berdua tak berniat mengetahui lebih dalam tentang diri masing-masing.

Depok, 21 Desember 2020

Puisi untuk Mamak

 Kehidupan Mamak tidak begitu mudah sedari kecil

Mamak perempuan tangguh dan tak mau bergantung

Mamak sering bercerita kala kecil sering berusaha

Demi sebuah cita-cita

 

Aku hanya satu dari sekian orang yang menyayangimu

Aku hanya titipan Allah yang pernah tinggal di rahimmu

Aku malu untuk memberitahukan ini kepadamu,

Bahwa Aku merasa sangat berharga bila didekatmu

 

Mengandung, melahirkan, dan menyusui merupakan tugas muliamu

Mengadu Aku kepada Rabbku atas tingkahku yang mungkin pernah melukai

Melirikmu sibuk dengan aktivitas rumah dan sekolah,

 adalah hal yang memotivasi diri ini untuk menjadi lebih baik

 

Kini bahtera kita hanya dua awak

Sang Kapten telah kembali kepada pemilikNya

Tertinggal dua pesan untukku,

Salah satunya tentangmu.

 

Doaku untukmu,

Semoga engkau diberikan kelapangan hati untuk menjalani segala ketetap Illahi

dan setiap langkahmu dimudahkan Pemilik Alam Semesta ini.