Ayat Tanpa Huruf, Tanpa Harakat
Dalam mimpi ku menyelingar Terlahir sebagai pelukis langit Yang menjadikan awan sebagai kanvas Menggambar rasa pada setangkai mawar Kuntum, mekar, kembang, harum, semerbak, menguning, dan layu Kau, pun juga aku saling asing Bak bisu menyenandung sunyi Memilih lantai sebagai teman Menanam rasa hingga berkecambah Menguntum, menjadi sekelopak bunga Siang itu, pada temanku kau titipkan tanya Tentang satu jari yang menanti puan Yang membuat malamku seketika panjang, menduga-duga Kau kah si penanya? Ah Tuhan, Kau senang bercanda Lama sekali kuntum menjadi mekar Hingga suatu senja di penghujung tahun Tatkala kudapati jawabmu di dermaga Saat ku tanya mengapa Aku sudah menantimu selama ini Hari berlalu berganti minggu Minggu perlahan bertukar bulan Mekarnya mawar indah mengembang Lamat-lamat kuamati cincin di jemari Inikah makhluk yang dicipta langit dari rusuk ku? Kini, perahu penantian perlahan menambat Pada sebuah dermaga suci bernama sakinah Berkata tetua, ru...