Postingan

Menampilkan postingan dari Oktober 28, 2018

Radiokopi

Ini bukan sejenis istilah kedokteran, hanya gabungan kata radio dan kopi. Teman menikmati hari di Sabtu pagi ini. Betapa ternyata, hanya dengan melalui dua indra, lidah dan telinga, sudah bisa membawa suasana yg berbeda. Pagi 2018 hari ini serasa menjadi pagi pertengahan 1990-an. Hanya secangkir kopi, radio dan aku yang menatap lepas ke jendela. 1990-an, era dimana TV belum menjadi kotak yg begitu menarik dan provokatif menyita waktu kita. Sementara gadget yg kini nyaris merampas kuasa TV bahkan mungkin baru hanya berupa purwarupa. Sebuah era yg jauh lebih tenang dibanding sekarang. Itulah yg aku rasakan pagi ini. Menyeruput kopi seraya membiarkan radio memutarkan lagu apa saja yg mereka mau. Mataku bebas dari belenggu apa yg harus kulihat atau kubaca. Sesuatu yg tak bisa dilakukan jika kita berteman TV atau gadget. Radio memberi kita kebebasan melakukan hal yg ingin kita lakukan tanpa saling mengganggu sedangkan TV dan gadget begitu menuntut banyak perhatian. Sebuah ketenanga...

Bohemian Rhapsody, Sisi Kelam Sang Legenda

       Siapa sih yang nggak kenal grup band Queen yang ngehits di tahun 80-90 an. Anak-anak 80-an kayak gue pasti kenal semua lagu-lagunya.        Makanya pas diajak nonton film Bohemian Rhapsody, tanpa pikir panjang gue langsung mengiyakan. Gue pikir pasti banyak lagu-lagu hits Queen yang bakal dinyanyiin. Rami Malek berperan sebagai Freddie Mercury. Si Rami ini bener-bener apik deh berperan sebagai Freddie Mercury. Walau awalnya gue masih mengingat-ngingat seperti apa gaya dan tampang Freddie Mercury dulu.        Awal pertemuan Freddie dengan Brian May dan Roger Taylor adalah ketika grup band Smile kehilangan vokalisnya. Disitulah dimulainya pertemanan mereka sampe mereka membentuk grup band Queen sampe akhirnya John Deacon gabung belakangan.        Menurut gue sih jalan awal mereka menapak karir sampe bikin album Bohemian Rhapsody nggak begitu rumit diceritakan, hanya sekali penolakan oleh label. ...

Jadi Majikan Itu Berat

Tiba-tiba handphone yang gue pegang bernyanyi lagu Indonesia Raya. Suaranya nyaring banget sampe semua orang di sekeliling gue langsung melirik gue. Gue cuma senyum kecil aja ke arah mereka. Jiwa nasionalisme gue emang nggak ada duanya. Kubaca di layar, Pak John. Biasanya Pak John bawa berita baik kalo nelpon. “Telpon penting buat masa depan gue,” ujar gue ke temen-temen gue di ruangan. “Siap, Pak!” Gue tutup telpon. Rasanya gue pengen lompat-lompat atau manjat pohon kalo perlu, tapi gue masih punya rasa malu walau sedikit. Pak John nelpon kalo ada proyek baru buat gue yang bayarannya gede. Hampir mendekati bayaran si Princess sekali manggung. Ada orang tajir minta perusahaan gue jadi WO anaknya. Gede-gedean banget pestanya. Kebayang kan pundi-pundi rupiah bakalan masuk rekening gue. Gue harus gerak cepat menemui orang yang dibilang Pak John. Gue pencet handphone, mau menelpon si Bewok sopir yang baru gue pekerjakan dua bulan. Nama aslinya Jarkasih, tapi gue lebih seneng m...