Postingan

Menampilkan postingan dengan label Pegawai Baru

30

Dahulu, seringkali ku bertanya pada sejawat, tentang ukiran rasa, pada permulaan lembaran bahtera rumah tangga. Bagaimana pernikahanmu? Seru! Pungkasmu. Tanpa memahami sejatinya, ku hanya mengangguk, tersenyum mengikuti sumringahmu. Dahulu, seringkali ku bertanya, apakah "seru" kita masih dalam satu makna, atau sudah berbeda warna? Beberapa tahun silam, seorang sahabat berkata ingin menikah, bagaimana pendapatmu? Saat itu Ia bahkan belum menyelesaikan studi. Menikah di umur 21 tahun, berprofesi sebagai pekerja keras. Ya, pekerja keras. Semua hal Ia lakukan, mulai dari imam masjid, guru ngaji, tukang fotokopi, hingga menjaja ikan. Bagaimana pernikahanmu? Semenjak pindah, malam ku tak pernah panjang. Bukan karena begadang, melainkan pada nyanyian pria-pria kesepian yang tak jauh dari kontrakan. Di malam yang lain, pernah juga ada pasangan muda-mudi bertengkar di tengah malam. Lagi-lagi di depan kontrakan. Saling maki dan berteriak. Dari jendela lantai 2 ku amati, satu per satu...

Ayat Tanpa Huruf, Tanpa Harakat

Dalam mimpi ku menyelingar Terlahir sebagai pelukis langit Yang menjadikan awan sebagai kanvas Menggambar rasa pada setangkai mawar Kuntum, mekar, kembang, harum, semerbak, menguning, dan layu Kau, pun juga aku saling asing Bak bisu menyenandung sunyi Memilih lantai sebagai teman Menanam rasa hingga berkecambah Menguntum, menjadi sekelopak bunga Siang itu, pada temanku kau titipkan tanya Tentang satu jari yang menanti puan Yang membuat malamku seketika panjang, menduga-duga Kau kah si penanya? Ah Tuhan, Kau senang bercanda Lama sekali kuntum menjadi mekar Hingga suatu senja di penghujung tahun Tatkala kudapati jawabmu di dermaga Saat ku tanya mengapa Aku sudah menantimu selama ini Hari berlalu berganti minggu Minggu perlahan bertukar bulan Mekarnya mawar indah mengembang Lamat-lamat kuamati cincin di jemari Inikah makhluk yang dicipta langit dari rusuk ku? Kini, perahu penantian perlahan menambat Pada sebuah dermaga suci bernama sakinah Berkata tetua, ru...

Thai Tea

Dentingan kecil terdengar dari hp ku. Mas besok pesawat jam berapa? Tanyamu. Kala itu sore, menjelang setengah lima.  Beberapa laman kerja masih terbuka di layar monitorku. Setidaknya 2 nota harus naik sore ini. Ku ketuk ponsel ku. Menyingkirkan pesan. Mencari namamu. 5m. Sip, sudah saatnya ku membalas. Jam 2 take off, baiknya Mas ke damri Gambir jam berapa ya? Tanyaku. Ga tertarik nyoba kereta bandara Mas? Balik mu bertanya. Ku jeda lagi sesaat, menunggu beberapa menit, untuk kembali membuka pesan mu.  Kembali jemariku menari di atas papan ketik usang kelahiran 2010-an. Menyelesaikan kata demi nota. Ku ketuk lagi ponselku. Menyingkirkan pesan. Mencari namamu. 9m. Hm...tanggung, 1 menit lagi deh. Mas belum pernah, ntar nyasar . Disertai emoji tertawa. 1 menit, 3 menit, berlalu. Baru ku lihat typing-mu di menit ke 8. Ya ampuun, kayak anak tk aja Mas, nyasar. Diikuti emoji mencibir. Aku tersenyum. Membayangkan mu mencibir seperti itu. Ah, mungkin aku mulai gila....

AKU (TAK) INGIN JADI PNS

ngiiing...ngiiing… Rasanya sudah belasan kali telepon pintar Izzam bergetar. Ia tahu itu panggilan masuk, namun begitu enggan untuk beranjak dari kasur kusam yang sudah Ia tiduri selama 4 tahun terakhir. Di lantai dasar asrama, samar-samar terdengar gelak tawa para santri. Berebut bermain tenis meja. Turnamen kecil-kecilan setiap akhir pekan. Siapa saja yang keluar sebagai pemenang, berhak tidak piket selama seminggu.  Kamar ukuran 3x3 meter itu perlahan sumuk. Kipas angin kecil yang sedari tadi tengok kanan-kiri tak kuasa melawan rambatan panas mentari yang kian meninggi. Izzam melirik dinding, jam setengah 10 pagi. Perlahan Ia duduk, bersender pada dinding, lantas merenggangkan kaki dan tangannya sembari menguap. Ah, sepertinya pemuda tanggung itu kelamaan tidur.  ngiing...ngiiing… Gawai Izzam kembali bergetar. Sekali, dua kali, tiga kali, lantas mati. Sejurus kemudian kembali bergetar. Huft. Enggan sekali rasanya berdiri. Entah kenapa, semakin lama tidur, ...

Pesona Separo Agama (2)

Kelam shubuh perlahan berganti terang, pertanda pagi kan menjelang. Jauh di ufuk timur, mentari tampak mendaki cakrawala, menebar kehangatan. Cahaya kuning keemasan perlahan menembus jendela kaca. Kerlap-kerlip terhalang dedaunan Mangga. Dari kejauhan, sayup-sayup terdengar deru motor dan mobil silih berganti. Sesekali diselingi suara penjual gorengan, berlalu lalang, menjajakan pisang memutari komplek Pandega Marta.  Bagi sebagian orang, melanjutkan tidur di pagi akhir pekan adalah kenikmatan yang tiada duanya. Apalagi kalau hujan, bersembunyi di balik selimut tebal sungguhlah nikmat Tuhan paling hakiki. Namun tidak bagi Izzam, Fattah, dan Ardi. Dua tahun mereka ditempa. Tak hanya diajari aqidah, fiqih, dan tafsir, melainkan juga shiroh . Saban hari ditausiahi bagaimana Nabi dan para sahabat memulai pagi, keutamaan berlama-lama di masjid sembari menunggu waktu syuruq , dan sebagainya. Tak heran ketika mata begitu berat, selalu saja terngiang di benak mereka QS. Al Jumu’ah...

Ruhiyah Gersang

Aku terdiam Mematung di bahu jalan Ditemani angin Dalam sunyinya malam Tak ku hiraukan Bajaj yang berlalu-lalang Pun lolongan anjing Sayup-sayup di kejauhan Aku mematung Menatap kosong lampu jalanan Jiwa ku? Melesat jauh menyusuri bukit barisan Membelah belantara hutan Berhenti Di halaman rumah warisan Dulu Rumah Gadang bagai oase pertama Yang ku temukan Di tengah gersangnya Gurun pasir kehidupan Kemana langkah Selalu saja kutemukan Di setiap pemberhentian Padang Panjang, Hingga Tanah Sultan Mata air itu selalu ada Seberapapun besar futur menggoda Menjadi pengingat dikala lupa Penegur disaat terlena Namun Mata air itu Kini perlahan surut Boleh jadi kering Seringkali hatiku meronta Mencari "ada" yang kini tiada Malam ku nelangsa Dihantui pagi penuh nestapa Tuan, tolong Ada yang hilang Pada diriku.. Jakarta-Kosan 3x5

Pesona Separo Agama

Sore itu Yogya diguyur hujan deras. Langit begitu pekat dengan gelap, padahal baru setengah jam yang lalu adzan Ashar berkumandang. Sekalipun jalanan terendam hingga betis, pengendara yang melintas masih saja ramai. Mobil dan motor silih-berganti menepi, ada yang menurunkan penumpang, ada pula yang menunggu penumpang. Di kejauhan terlihat segerombolan anak kecil, mungkin sekitar 6 hingga 7 anak, berebut menjajakan payung di pintu masuk selatan Stasiun Tugu Yogyakarta. Tampaknya mereka acuh saja dengan suara gemuruh dan kilat yang membelah langit. Tertawa, menendang air, seakan dunia hanyalah tempat bermain. Di lobi penjemputan, Izzam duduk termenung menatap kosong ratusan rintik yang menghujani bumi. Pikirannya kalut, hatinya gundah. Seharusnya Ia bahagia, karena sekali lagi diberi kesempatan “pulang” ke Jogja. Namun sayang, tampaknya kejadian di Bogor beberapa hari lalu begitu membebani dirinya. Telepon pintarnya bergetar, terlihat whatsapp dari seseorang, “Zam, lagi senggang kah? M...