Postingan

Menampilkan postingan dengan label Rini Afri

FILM NGERI-NGERI SEDAP, SEBUAH RENUNGAN

Sebenarnya udah agak lama aku nonton film ini ketika film ini baru release. Agak telat aku membahas film ini, tertunda beberapa hari. Disclaimer di awal, tak ada niatku untuk spoiler dan ini reviu dari sudut pandangku sendiri. Film ini menceritakan tentang sebuah keluarga dengan latar belakang Batak yang terdiri dari Bapak, Ibu, dan empat orang anak. Film ini dibuka dengan ibu yang menghubungi tiga orang anak laki-lakinya yang merantau di luar pulau agar segera pulang. Sayangnya ketiga anak laki-laki tersebut menolak dengan berbagai alasan. Sang Bapak memanfaatkan anak perempuannya yang penurut dan tinggal bersama mereka untuk membujuk kakak dan adik-adiknya pulang. Dari situlah kisah dirangkai sampai dengan film berakhir. Ada percakapan yang menarik bagiku dalam film ini. Percakapan antara Bapak dan Ibu ketika anak perempuannya berhasil membujuk kakak dan adik-adiknya pulang. Bapak: Apa kubilang! Kalau kau ikuti usahaku, pasti berhasil, kan? Ibu: Kau memang paling hebat di dunia. Dana...

LELAKI YANG MALANG (2)

  Setelah sebulan aku dan suamiku sembuh dari penyakit sejuta umat, kami berdua akhirnya memiliki kesempatan untuk mengunjungi Usman di kampung. Damar, suamiku, ingin memastikan kondisi Usman. Aku hanya berdiri di depan pintu rumah sederhana milik ibunya Usman. Rupanya setelah keluar dari rumah sakit, Usman dibawa ke rumah ibunya yang tinggal sendiri. Ia seolah sudah tak punya lagi mempunyai keluarga setelah bercerai dengan isterinya beberapa tahun yang lalu. Tercium olehku bau pesing dari dalam rumah itu. Kudengar juga dari saudaranya bahwa Usman sering membuka pampers-nya dan buang air kecil di atas kasur. Mungkin Usman juga tak sadar apa yang dilakukannya. Usman duduk di atas kasur yang digelar di lantai. Tenggorokanku tercekat melihat kondisi Usman. Mukanya pucat bak mayat. Matanya cekung dan pandangannya kosong. Ia tak memiliki daya untuk sekedar menopang tubuhnya yang kurus kering. Berbeda dengan Usman yang kulihat beberapa bulan sebelumnya. Kulihat Bulek Tansah, ibun...

LELAKI YANG KESEPIAN

  Adakah yang tahu rasanya bagaimana tidak makan sepuluh hari? Atau sakit tanpa ada seorang pun yang bisa dihubungi karena tak punya pulsa? Ataukah perih hati karena anak yang selama ini diusahakan tidak putus sekolah tapi tak peduli keberadaannya? Beri tahu aku bagaimana rasanya. Di saat kita sering berkeluh kesah karena makanan yang tak sesuai dengan selera kita, di tengah kota Jakarta ada orang yang kelaparan. Di saat kita mengeluhkan sakit tak tertahan tapi asupan obat dan suplemen tak pernah putus, ada orang lemah tak berdaya dan terkurung di ruang sempit tanpa seorang pun yang peduli. Di saat kita masih bisa menghabiskan kuota internet untuk menonton YouTube atau puluhan episode drama korea, ada orang yang tak sanggup berkirim kabar kepada kerabat karena tak ada pulsa. Di saat kita masih bisa bercengkrama dengan anak-anak, ada orang yang tak pernah diperhatikan anaknya. Sepuluh hari kehilangan jejak kerabat, sebut saja Usman, yang biasanya berkirim kabar dan sebulan sekali d...

KUSIA-SIAKAN WAKTUKU

Gambar
  Bertahun lamanya ku menunggu  Untuk sebuah jawaban atas beribu pertanyaan untukmu Pertanyaan yang selalu kuulang setiap waktu Namun kau tetap membisu Purnama demi purnama berlalu Musim pun tak kuasa menanti jawabanmu Ku terpuruk di masa paling kelam dalam hidupku Tetap jawabmu yang kuburu Tak terasa satu dasawarsa ku menantikanmu Kau tetap tak berpaling padaku Hanya satu kalimat pesan dan sebuah foto yang masuk di ponselku Aku akan mengikat janji di hari Rabu Kupandangi potretmu, senyum menghiasi bibirmu Disampingmu berdiri bidadari cantik yang menggenggam tanganmu Bidadarimu itu adalah orang yang paling dekat denganku Kau menautkan hatimu kepada sahabatku Kuambil gitar dan duduk terpaku Di rinai hujan yang seolah mengejekku Kupetik gitar yang senarnya putus satu Suara sumbangku melantunkan lagu dari Ungu , Hingga Akhir Waktu.... Depok, 1 Juni 2021

MASA SEKOLAH (1), GURU GEOGRAFI

Suasana kelas sangat lenng saat itu. Baru sekitar setengah penghuni kelas 3-11 sebuah SMA Negeri di Bandung yang telah berada di dalam kelas, padahal pelajaran Geografi akan segera dimulai. Guru mata pelajaran Geografi ini sebenarnya agak kuhindari karena aku belum membayar uang buku yang kubeli dari Pak Azimuth, begitu panggilan kami kepadanya (kami memanggilnya demikian karena ketika Pak Guru ini menjelaskan tentang sudut putar arah angin, gaya tangannya sangat atraktif sehingga kami menjulukinya Pak Azimuth). Agak riskan bagiku kalau hanya sedikit teman-teman yang berada di dalam kelas karena perhatian Pak Azimuth takkan terbagi dan tentu saja aku akan semakin terlihat olehnya. Ketika terdengar suara tapak kaki mendekat ke pintu kelas, jantungku semakin kencang berdetak. Sementara tak ada sedikit pun tanda-tanda teman-teman sekelasku memasuki ruang kelas. “Sebagian anak-anak ada kegiatan OSIS. Genk Boy Band seperti biasa nangkring di kantin.” Bisikan Siti semakin membuat suasana men...

Aku, Si Kutu Buku, Dan Sunyi

  Ku terduduk kaku di sudut ruangan sebuah rumah tua yang berada di tengah perkebunan di daerah Pangalengan. Suasana senyap membuatku semakin tak nyaman. Hanya terdengar suara jangkrik yang terus bernyanyi menemani sunyiku. Di sudut lain seorang remaja pria yang kutaksir seusiaku duduk bersila, asyik dengan buku yang sedang dibacanya. Sedikit demi sedikit kugeser badanku, mendekat ke arahnya. Kepalaku menunduk mengamati buku yang sedang dipegangnya, memastikan posisinya tidak terbalik. Siapa tahu dia cuma pura-pura membaca untuk memberi kesan pandai kepadaku. “Hey ….” Tak ada balasan kudengar. Remaja pria itu   tak bergeming. Masih duduk dengan posisi yang sama. Hanya matanya yang mondar mandir ke kiri dan kanan, seperti orang yang sedang senam pagi di lapangan. Kuberanikan diri menggerakkan jari tanganku untuk mencoleknya. “Hey, kita kan cuma berdua di sini. Di rumah yang luas ini, kita ngapain kek, ngobrol kek, main   gaple gitu, atau main congklak kek,   j...

Ibuku Tak Sempurna

Gambar
  Ibuku bukanlah ibu yang sempurna. Dia tidak mempelajari ilmu parenting. Tidak juga memakai tips bagaimana mendidik anak. Bukan pula ibu yang mengganti kata 'jangan' dengan 'sebaiknya'.  Seringkali ibuku juga bersikap keras pada anak-anaknya.Yang kadang tak bisa kunalar dengan pikiran kritisku. Ibuku juga sering membiarkan anaknya mencari penyelesaian atas masalahnya sendiri walau di satu sisi ingin juga ikut campur kehidupan anak-anaknya. Walaupun tak sempurna bukan berarti ibuku tak pernah melakukan sesuatu yang heroik bagi anak-anaknya. Ibuku tak pernah membelikan anak-anaknya baju baru tapi ia menjahitnya untuk kami dengan renda bertuliskan nama kami di baju.  Tak pernah juga memberi uang untuk pergi ke salon untuk sekedar memotong rambut tapi ia memotong sendiri rambut anak-anaknya. Tak juga sanggup memberikan uang jajan berlebih tapi ia selalu memasak dan membuatkan cemilan untuk kami. Ternyata aku mendapatkan masa kecil yang bahagia di tengah keterbatasan walau ...

Lepas

  Kau bilang ku tak cantik Beda dengan perempuan perempuan di televisi Kubuat alisku melengkung dan lebat Kau tetap bilang ku tak menarik Kau minta ku tampil cantik Agar membuatku sedikit indah dipandang mata Kupulas bibirku dengan gincu merah darah Kau bilang ku terlalu menor Kau bandingkan ku dengan Bae Suzy Yang kau tonton tiap saat Kupulas wajahku dengan kosmetik dari Seoul Kau bilang ku lupa usia Kau bilang ku gendut Kau minta ku mengurangi makan Kukurangi takaran MSG-ku Kau bilang ku terlalu kurus Ah enyahlah kau  Aku adalah aku Bukan brand ambassador kosmetik Kau tak cukup berharga buatku Depok, 19 Desember 2020

Desember Yang Mencekam

Gambar
  Langit kali ini menghitam Seolah siap menerkam insan yang terkurung di padatnya jalanan Bersahutan bunyi klakson kendaraan roda empat Berebut tempat agar dapat secepatnya berada di depan   Saling sikut dan senggol hal yang biasa Tak ada perasaan bersalah Seringkali umpatan tak terhindarkan keluar dari mulut insan yang depresi Tak tahan menanggung kesal yang tak berujung   Aku hanya bisa terdiam tak berdaya terkurung di balik kaca Lengkingan klakson yang bersahutan seolah alunan nada yang sanggup memecahkan gendang telinga Aku hanya berdiam dalam gelisah Sesekali badanku bergerak ke kiri dan ke kanan   Semakin lama perasaan tak nyaman menggerogoti kewarasanku Ku mulai berteriak dan menangis Rasanya ku ingin terbang melintasi benda-benda berjendela itu Yang semrawut berdesakan di atas aspal basah     Akhirnya air deras mengucur dari langit Membuatku semakin panik Dingin seketika melanda sekujur tubuhku Desember ...

Jiwa dan Raga Yang Tak Selaras

  Bulan Desember tahun lalu, Ku pernah bersumpah Ku akan selalu mengungkapkan apa   yang sebenarnya ada di dalam hatiku Aku akan jujur   Desember kali ini, Aku berkata iya padahal kuingin berkata tidak Aku berkata tidak padahal kuingin berkata iya Aku berkata suka padahal aku benci   Desember kali ini, Ragaku tetap sama Tak sanggup ku keluar Dari belenggu rasa tak nyaman di jiwa

Mimpi Buruk Karenina

  Fitra membuka sebuah amplop yang sedang dipegangnya. Matanya terpusat pada satu tulisan besar yang berada di tengah kertas. Kekesalan tergurat jelas di wajahnya. Kemudian kertas itu diremasnya. Tak ingin berlama-lama di bangunan sekolah bertingkat itu, Fitra melangkah keluar dari sekolah itu. Langkahnya cepat karena menahan kekesalan. Sesampainya di tempat parkir Fitra masuk ke dalam mobilnya. Ia tidak langsung menyalakan mesin mobilnya melainkan duduk di depan setir. Kemudian ia membuka tasnya dan mengambil ponsel. Dicarinya sekolah-sekolah dasar yang dipikirnya bisa mendaftarkan Karenina, anaknya. Sudah setengah jam lebih, Fitra berada di dalam mobilnya, namun belum ada satu pun sekolah yang menurutnya cocok untuk Karenina. Dari mulai waktu pendaftaran yang sudah selesai, lokasi yang jauh dari rumahnya sampai biaya yang terlalu mahal baginya. Perasaan stres mulai menyerang pikiran Fitra. Ia bingung harus ke mana lagi mencari sekolah untuk Karenina. Akhirnya Fitra memutu...

Aku Harus Bahagia

            “Wah alhamdulillah anaknya sehat,” ujar seorang tetangga yang datang menemuiku ketika aku baru saja pulang dari rumah sakit selepas melahirkan Sakina. “Alhamdulillah,” balasku dengan tersenyum Sebenarnya kalau aku ditanya terlebih dahulu sebelum ada orang yang ingin menjengukku dan Sakina, aku lebih memilih tak ada seorang pun yang mendatangiku. Apalagi kalau aku baru saja kembali dari rumah sakit. Aku letih. Seluruh badanku terasa pegal dan tak bertenaga. Aku malas sekali menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan. Terlebih apabila mereka menceritakan pengalamannya ketika melahirkan kepadaku. “ASI-nya lancar, Mbak?” tanya tetanggaku yang satunya lagi. “Belum keluar dari pertama lahiran. Sampai beberapa hari ini masih sedikit sekali air susu yang keluar.” Tanpa diminta, ibuku menjelaskan jawaban yang membuatku kesal. “Banyak makan daun katuk, Mbak! Terus jangan banyak berpikir yang enggak-enggak, nanti jatuhnya stres lho. Coba...