Postingan

Menampilkan postingan dengan label Triana Lestari

CADONG DATANG

“siapa yang kamu maksud sih, Meyr? Brent apa Amri?” “Amri lah..” “bohong. Dulu kau juga tergila gila sama Brent kan.” “Iya, tapi tidak lagi sejak Amri datang. Haha, haduh bodohnya aku pernah menggilai Brent yang kasar itu.” “Apa kabar dia ya Meyr?” Kim menelisik ke dalam matanya. “Dasar kepo..” Meyr menimpuk Kim dengan bantal. Kim mengomel karena bantal itu merusak masker madunya. Meyr mencari seasalt yang dibelinya beberapa hari lalu. Sayangnya ia tidak mendapatkannya dan malah menemukan sesuatu di laci. “Kim...! kemarilah..” Yang dipanggil cuek dan sibuk dengan body scrubnya. “Seminggu hanya boleh tiga kali Meyr.. dan ini jadwalku..” “Kim... ini milik Brent..” “Eh, Eine Katastrophe?” Kim meledek Meyr yang memandang serius pada sesuatu di tangannya. “Aku ingin menjenguk Brent. Aku harus.” Meyr bersegera mandi dan bersiap pergi. Ia lupa dengan sakit lambungnya. Pemandangan di kantor polisi tidaklah menyenangkan. Beberapa polisi memandang seakan akan Me...

Baumu Paling Kusuka

Harumnya teh chamomile membuat Meyr menengok sejenak ke sumbernya. Aah... Kimberly memang baik sekali. Wajahnya yang cantik seumpama cantik hatinya. Kim selesai mengaduk teh dan membawanya mendekat kepada Meyr. Meyr mengubah posisi tidurnya menjadi duduk. Ia duduk di king koil empuk yang ternyata tetap tak membuat tidurnya semalam cukup nyenyak. “Meyr.. chamomile dengan satu sendok teh brown sugar untukmu” disodorkannya gelas cantik ke pangkuan Meyr. Meyr mulai menghirup aromanya dan segera menyeruput dengan senyum gembira. “Kim, ada dua bau yang paling aku suka saat ini, setelah bau yang ketiga hilang” “Apa? Bukan roll on mahalku kan?” Kim nyengir memperlihatkan gigi putih hasil perawatannya di klinik. Sedikit senyum mengembang di bibir Meyr. “Bukan, Kim.. tentu saja kau sangat menarik tapi mungkin bagi pacarmu” “hahahaha..” Kim geli sendiri membayangkan Roxy si lelaki bodoh yang selalu mengintilnya. “Pertama, aku suka bau chamomile. Karena sejak sakit lambung han...

PATUNGAN YATIM (LAGI)

Gambar
Seneng sekali alhamdulillah, masih bisa diberi kesempatan menuliskan ini. Maaf bagi yang bosen yaa. Sebenarnya, saya dulu sudah pernah menuliskan soal patungan yatim di blog ini. Memang sih, sudah agak lama. Ini link-nya bagi yang mau mampir. http://www.bukannotadinas.com/2017/04/patungan-yatim.html Kali ini, saya mencoba metode patungan yatim baru, khususnya buat teman-teman yang merasa “berat” kalau harus menyetor secara bulanan. Yaitu.. jeng jeng.. dengan melakukan donasi setiap Jum’at (atau hari lain juga bisa, sih), misal sebesar 10 rb rupiah saja. Mungkin, ada yang berpikir bahwa menyumbang sebesar 50 rb itu mahal dan banyak. Nah, kalau dibagi seminggu sekali 10 rb/12 rb, dalam satu bulan bisa dapat 40rb/48 rb. Wah.. lumayan kan. Jumlah 10 rb itu sebetulnya buat kita seperti cukup buat jajan saja, atau kalau makan.. dapatnya yg sederhana. Namun.. jumlah itu buat orang yang kesusahan lumayan banget pastinya, bisa buat beli beras 1 liter, bisa untuk beli buku tulis, buat...

SBN dan Utang Pemerintah

Indonesia memberikan batasan/ capping utangnya. Selain defisit yang tidak boleh di atas 3 persen dari PDB, rasio utang per PDB juga dijaga di bawah 30%. Selain batasan tersebut, berbagai indikator profil portofolio utang juga dimonitor, misalnya variable rate ratio (rasio utang yang tingkat bunganya tidak tetap terhadap total utang) dan refixing rate [1] , average time to maturity (waktu rata-rata tertimbang jatuh tempo utang), dan proporsi utang valas dibanding rupiah. Ini terkait dengan adanya risiko tingkat bunga, risiko membayar kembali ( refinancing ), dan risiko mata uang.  Porsi Surat Berharga Negara (SBN) dalam total utang Pemerintah sekitar 80%. Artinya, 20% lagi berupa pinjaman dalam dan luar negeri, dengan dominan pinjaman luar negeri (sekitar 18,9% dari total utang). Dari proporsi tersebut, porsi utang dalam valas ternyata lebih banyak dalam bentuk SBN (SBN valas) dibandingkan dalam bentuk instrumen pinjaman luar negeri. Per September 2017, porsi utang SBN vala...

Surat dari Amri

Apa yang kita pandang baik, belum tentu benar baik bagi kita. Apa yang saat ini kita puja puji dan sayangi, belum tentu sama di kemudian hari. duhai yang maha membolak balikkan hati, Tetapkanlah hatiku di atas agamaMu ------------ Meyr belum juga beranjak. Hatinya masih gamang, pikirannya masih ruwet, tak jua ia ingin bertemu orang. Masih terngiang suara merdu Amri. Suara yang jika wanita mendengarnya, sulit untuk tidak terpukau: intonasi yang jelas dengan nada sedang, pita suara yang terlalu sempurna, bicara tidak terlalu cepat maupun terlalu lambat, tidak pernah keluar dari bibirnya kata kata hinaan, sangat mengesankan pribadi yang bijaksana dan dewasa. Meyr tidak paham, ia tidak mengerti. Mengapa Amri memutuskan hubungan dengannya. Tanpa ia melakukan kesalahan. "Amri.." Meyr terkesiap saat suara di jendela memecah konsentrasinya. "Ah, hujan..", segera ditutupnya jendela yang separuh terbuka. Sial baginya, hujan menambah temaram hatinya. Meyr...

Ketika saya dapat memilih...

Ketika saya dapat memilih... Bismillah, Telah sering kita dengar atau baca, bagaimana sedekah itu perbuatan yang sangat baik dan bermanfaat. Namun..ternyata dalam bersedekah, kita bisa pilih-pilih. Misalnya, apakah kita punya uang 50.000 dan mau memberikan makanan kepada seseorang, yang bila makanan itu menjadi tenaganya, maka selama tenaga dari makanan itu masih di tubuhnya dan ia melakukan amal seperti sholat, dan lain-lain.. maka kita ikut mendapat pahalanya (tanpa pahala orang tersebut dikurangi sedikitpun).  Tapi kita juga bisa memilih, apakah kita akan menggunakan 50.000 itu misal untuk membeli qur’an, yang setiap kali dibaca maka pahalanya kita juga akan mendapatkannya, dimana kebaikan yang didapat dari membaca qur’an adalah per huruf (alif-lam-mim= bukan 1, tetapi 3 huruf).   Ditambah lagi, kalau yang membaca itu penghapal qur’an. Bagaimana orang menghapal qur’an? Jarang sekali... hanya dengan sekali baca langsung hapal. Diulang-ulang... diulang la...

What to notice: Pick up your skin care and cosmetics products

Not everybody is born and grew with the same skin; the color tone, the appearance, the moisture, and the problem they face. A person might be having good and glowing natural, perfect skin, while the others face acne and big pores, drying, and oily ones. Talking about skin and appearance is like talking about love: very personal. Thinking about our look is actually a form of selfishness. Yes, it’s a very normal for me (in the normal range) and even it’s in particular circumstance needed more than as an additional beautifer but as a way to be keeping “exist”, sometimes. It sounds too far to say that. Imagine you are an artist, your care of how your skin look will be expected higher than a nonpublic figure. The way we love our skin and look is different in one person to another. Since everybody has their own priority and perspective in looking upon life. A woman might be loving to take care of her kids and households only and a bit ignoring her looks, while the other is very care of ...