Postingan

Menampilkan postingan dengan label Rahman Gunawan

Mini Fiksi

Pemuda itu melangkah gontai meninggalkan  wanita yang telah dicintainya sejak duduk di bangku kuliah. Beberapa jam kemudian sebuah pesan singkat masuk kedalam telepon genggam si wanita yang mengabarkan bahwa si pemuda ditemukan tewas bersimbah darah dengan luka menganga di pergelangan tangan kanannya. **** Anak perempuan mungil berambut ikal tertawa geli ketika ayahnya yang berkumis tebal memeluk dan mencium tengkuknya berkali-kali sambil berkata bahwa ia amat mencintai puterinya.  Ketika tersadar sosok ayahnya menghilang dihadapannya, anak perempuan itu mencari ayahnya dari satu ruang ke ruangan yang lain. Yang ia temukan hanya sebuah buku Yasin bergambar foto sang ayah dengan tulisan, "Mengenang 100 hari wafatnya Suami, Ayah kami tercinta...".

Telaga Air Mata

 Ia hadir disaat kegersangan hati melanda Angin lelah berhembus menjadi pertanda Gumpalan awan menjelaga Rintik hujan mengubah kelopak mata menjadi telaga Telaga air mata

Sepasang Kaos Kaki Usang

Sepasang kaos kaki usang Teronggok di sudut kota metropolitan Kusam, dekil, tak menarik Ribuan mata enggan tuk melirik Kaos kaki usang ingin menghangatkan Melindungi kaki-kaki mulus terawat  Disimpan rapih dan wangi di dalam laci lemari indah Atau tergantung di etalase-etalase pusat perbelanjaan mewah berpendingin udara dan kaki-kaki mulus terawat lalu lalang Sekedar tuk cuci mata Sebagaimana dahulu ia pernah merasakannya Suatu hari, ia bertanya kepada langit Tentang takdirnya menjadi usang Namun langit tak menjawabnya Langit hanya mengutus angin tuk menghibur dirinya Sepasang Kaos kaki usang kini sadar Takdir harus dijalani dengan sabar Meski ia kini teronggok di dalam plastik butut Ia masih mempunyai manfaat menghangatkan kaki yang juga dekil seperti dirinya Ia pun bersyukur Karena baginya syukur melapangkan hatinya

Kebahagiaan Merpati Putih

Seekor merpati putih melesat terbang sayap membentang Sang bayu menyambut riang dan membiarkan merpati menari dan berputar dipangkuan Langit pun turut senang dan menitipkan salam Pepohonan menatapnya penuh keharuan Merpati putih melepas segala beban  Menarilah... Menyanyilah..  Kau  berhak untuk berbahagia!

Nyawa seharga seratus ribu

Tuan Ada kabar bagus..baguuus sekali! Banyak warga kelas teri yang sedang sekarat Pagebluk laknat menggerogoti tubuh yang ringkih dan melarat Mungkin sebentar lagi nyawanya akan minggat pundi-pundi harta kita bakal melesat, tuan! Tiap nyawa, seharga seratus ribu! Mari kita berdoa tuan, semoga semakin banyak warga kelas teri yang mangkat!

Riak

Gambar
Keberadaan riak itu biasa Pada sampan yang berlayar di Samudera kehidupan Pabila riak berubah menjadi isak Pastilah ia menyimpan apa yang tak dihendak Oleh sebab manusia mudah lelah Segera tuk mendekat padaNYA Agar lelah DIA ubah menjadi Lillaah Dengan caraNYA Dengan keMaha AgunganNYA

Udin dan Gelembung Sabun

Sengatan sinar matahari pada pukul dua belas siang terasa panas menyentuh kulit. Siapapun yang tidak mempunyai keperluan mendesak untuk keluar rumah, lebih memilih berdiam diri di dalam rumah sambil menikmati hembusan udara segar dari mesin pendingin udara/mesin kipas angin, kipas-kipas dengan kipas tradisional dari anyaman bambu, atau bahkan ada yang berteduh dibawah pepohonan yang berada di halaman rumah. Bagi sebagian yang lain khususnya para Ibu, sinar matahari yang terang benderang menjadi kebahagiaan tersendiri, karena jemuran pakaian yang memenuhi seluruh tali jemuran bisa kering lebih cepat sehingga sebagian pekerjaan rumah bisa selesai lebih cepat dari biasanya. Di musim penghujan, pakaian yang dijemur lebih lama keringnya. Bahkan, jika telah selesai mencuci kemudian menjemur pakaian lebih pagi, menjelang sore atau malam bahkan esok harinya pakaian masih terasa lembab, sehingga apabila dipaksa untuk di angkat pakaian yang lembab tadi dan ditumpuk selama beberapa jam, pakaian-p...

Takbir Kemenangan

Gambar
Photo: @qbayyinah Tiada yang lebih indah Selain lantunan Takbir kemenangan Terucap dari lisan manusia beriman Yang hanya mengharap keridhoan Tuhan إِنَّا فَتَحْنَا لَكَ فَتْحًا مُّبِينًا "Sungguh, Kami telah memberikan kepadamu kemenangan yang nyata." Tiada  yang lebih indah Selain sebuah pemandangan Bershaf-shaf umat dalam lautan barisan Menggemakan Takbir kemudian sujud dalam kekhusyukan Tiada yang lebih indah Dari lelahnya para juru dakwah Dibalasnya ia dengan pahala berlimpah Dan syurga yang dijaminkanNYA Tiada yang lebih pedih Dari letihnya para penebar kebathilan Tersia-sia atas segala perbuatan Untuk memadamkan cahaya Islam وَٱلَّذِينَ كَذَّبُوا۟ بِـَٔايَٰتِنَا وَلِقَآءِ ٱلْءَاخِرَةِ حَبِطَتْ أَعْمَٰلُهُمْۚ هَلْ يُجْزَوْنَ إِلَّا مَا كَانُوا۟ يَعْمَلُونَ "Dan orang-orang yang mendustakan tanda-tanda (kekuasaan) Kami dan (mendustakan) adanya pertemuan akhirat, sia-sialah amal mereka. Mereka diberi balasan sesuai dengan apa yang telah m...

Pisah

Aku biarkan amarah bersemayam di dalam kedua bola matanya. Setelah apa yang telah kulakulan, melulunlantakan pondasi kepercayaan yang telah dibangun sekian lama. Di sebuah bangku taman usang, sekumpulan burung gereja berlompatan mencari makan. Aneka warna warni bunga menarik pandangan. Semua itu tak mampu menyuguhkan kebahagiaan, padaku yang terjebak dalam ruang kata. Setelah kata-kata itu melesat lepas dari sepasang bibir merahnya dan menghujam tepat di jantung pertahananku; kita...pisah! Seketika, langit menumpahkan air matanya.

ROHINGYA; Para Pencari Suaka

Sembilan puluh empat nyawa Terombang ambing di tengah samudera Di sebuah perahu kusam nan renta Tertiup angin ombak menggurita Lapar dahaga mendera Isak tangis para balita Kecemasan yang menyiksa Ajal mendekat jarak sedepa Mereka adalah anak manusia Terampas hak asasi kemanusiaannya Karena ulah penguasa durjana Demi nafsu dunia Entah berapa lama menahan asa Menanti takdir yang akan diterima Terpasrahkan semua kepala Penggenggam Jiwa Hingga pertolongan itu tiba Adalah nelayan Aceh menjadi perantara Menjemput rezeki dipertemukan dengan pengungsi Rohingya Terpanggil rasa peduli pada sesama Memberi pertolongan tanpa jeda Duhai, Aceh lon sayang Duhai, Rohingya malang Doaku, doa kami tak berbilang Kelak, keadilan kan terbentang Ahad, 28062020

Isra' Mi'raj

Isra Mi'raj Ya Rasulullaah, betapa berat beban amanah risalah kenabian yang di letakkan dipundakmu Dicaci engkau, di sakiti jua dalam dakwahmu Namun isteri tercinta nan sholehah senantiasa menyemangati dan melindungimu Tibalah masa kesedihan mengiris hati Paman tercinta, Abu Thalib wafat tanpa sempat mengucap syahadat Dalam hitungan hari, pendamping setia nan sholehah, Khadijah sang Ummul Mukminin pun pulang keharibaan Illaahi Belum cukup ujian menerpa Kepiluan kembali menguji kesabaran Dakwah kepada kaum Thaif mendapat pertentangan Di usirnya engkau bahkan dilempari batu hingga terluka Mengalir darah segar dari pelipis sosok mulia Terduduk engkau di bawah sebuah pohon Hingga malaikat datang menawarkan bantuan tuk menimpakan bukit ke atas mereka kaum kuffar Namun engkau menolak tawaran tersebut dengan halus, karena engkau yakin anak keturunan mereka kelak akan mengikuti risalahmu Sedih, pedih, hancur dan remuk redam Engkau terima takdir dengan lapang dada Terp...

Kabut dan Harapan

Gambar
Kabut yang hadir selepas hujan dini hari memenjarakan kata Rindu terbang bebas lalu lupa tuk kembali ke peraduan Masih ada secercah harapan di permulaan hari Pagi yang menyuguhkan mantra pelipur lara dan mentari yang kilaunya memanjakan netra #puisi #puisidanfotografi #pagi #kata #stasiun #stasiunjurangmangu #tangerangselatan #tangsel #tangsellife #aktivitas

Rindu Menanti

Gambar
Meski rinai hujan telah reda Namun detak rindu enggan tuk jeda Kemanakah merpati putih berkelana? Membawa kabar angin tak kunjung jua Lupakah ia? Ataukah aku yang tak sabar menanti kehadirannya? GNWN/01022020

Pujian dan Ujian

Pujian dan Ujian Pujian dapat menjerumuskan Pabila disikapi dengan jumawa Sedangkan ujian dapat menyelamatkan Pabila disikapi dengan keikhlasan atas ketetapan Tuhan Pujian dan Ujian Keduanya sama-sama di uji Sesiapa yang mampu menjalani Kan tampil sebagai Hamba-Hamba yang di Ridhoi Pujian dan Ujian Dua kata yang dibedakan hanya oleh konsonan P Sesiapa yang tidak mampu menjalani Ia kan menuai konsekuansi Semoga diri ini senantiasa selamat dalam menghadapi pujian maupun ujian GNWN/03012020

Payungnya, Pak! Payungnya, Bu!

Wahai, kawan Sore ini awan mendung menghiasi langit Jakarta Sesekali kilat menyambar bersahutan Pepohonan melambai dihempas bayu Tahukah kau, kawan Seiring datangnya hujan, aku melihat keceriaan menghiasi wajah anak-anak yang berkerumun di halaman sebuah stasiun kereta Sambil membawa payung aneka warna, mereka menawarkan jasa Payungnya Pak, Payungnya Bu Aku ingin bercerita kepadamu, kawan Tentang masa kecilku yang mirip dengan mereka Ceria di kala hujan tiba Karena membayangkan uang jajan nampak di depan mata Singkat cerita, suatu sore aku dan kawan-kawan berdiri di trotoar sebuah jalan Menunggu angkutan kota berhenti di hadapan Sebuah payung erat dalam genggaman Sedangkan tubuh, basah oleh air hujan Betapa bahagianya aku, kawan Ketika ada seseorang yang memakai jasa ojek payungku Ku ikuti langkahnya hingga tiba di sebuah halaman rumah Kemudian menerima sejumlah uang yang diberikan Tentu saja saat itu aku menggigil kedinginan, Bibir membiru, kulit jari keripu...

Pagi adalah...

Pagi adalah jembatan Menghubungkan harapan dengan kenyataan Meski tak selamanya kenyataan sesuai keinginan Namun pagi adalah sebuah jembatan yang harus dilewati Pagi adalah inspirasi Menjadi kekuatah imajinasi para pecinta seni Lukisan alam yang patut disyukuri Permulaan hari yang menyimpan sebuah misteri Pagi adalah anugerah Sesiapa yang bersyukur, ia kan bahagia Sesiapa yang tak bersyukur, sesaklah ia Karna pagi adalah jawaban dari setiap doa Selamat pagi Semoga keberkahan senantiasa menyertai 31122019

Kopi dan Kenangan

Kopi dan kenangan Melebur dalam angan tak berkesudahan Nikmati saja apa yang ada di hadapan Karena hidup tak melulu sesuai harapan! Kopi dan kenangan Ibarat aku dan kamu dalam persimpangan jalan Membisu dalam sendunya tatapan Merangkai rindu yang terlepas dalam genggaman Kopi dan kenangan Ibarat genangan yang hadir selepas hujan Maki yang terlontar oleh lisan sebagian Tak sedikit yang mengucap kesyukuran Kopi dan kenangan Pahit dan manisnya dapat dikendalikan Seperti hasrat yang berkelindan Hasrat mencintaimu........iya kamu!

Istirahatlah Tuan

Duhai tuan Hujan baru saja reda Sedang engkau sibuk mengeja yang fana Sadarkah kau jika cahayamu sirna Seiring usia yang tak lagi sama Istirahatlah tuan Simpanlah angan Helai demi helai rambutmu Terwarnai dunia semu

Tuhan, akankah kau tunda kematian Hamba-MU?

Dalam sekat lorong ruang ICU wajah pias menyatu Tatapan sayu hadirkan jemu seolah bahagia tercerabut dari tandusnya sang waktu Satu dua napas tersengal Mesin kehidupan berkoar bersahutan Kelopak mata terkatup Tak ada gairah Yang ada hanyalah pasrah Tuhan, akankah kau tunda kematian Hamba-MU?

Seporsi Mie Goreng Dingin, Pagi Itu

Jam tangan usang warna hitam yang melingkar di pergelangan tangan kananku menunjukkan waktu pukul 08.55 wib. Aku melangkahkan kaki menyusuri koridor ruang instalasi gawat darurat di sebuah rumah sakit pemerintah tipe A menuju pintu keluar. Ku sapu pandangan ke kanan, kiri, depan, mencari tempat nyaman untuk sekedar melepaskan penat. Tak perlu waktu lama, aku menemukan lokasi beristirahat, sebuah taman kecil yang berada tak jauh dari halaman gedung ICU. Aku duduk disebuah kursi besi warna warni pelangi, dibawah pohon rindang yang menaungi beberapa keluarga pasien yang sudah duduk sebelum aku tiba. Aku menarik napas dalam-dalam lalu mengeluarkannya perlahan. Kemudian, ku buka resleting tas dan mengeluarkan sebuah tempat makan plastik. Di dalam wadah makanan tersedia mie goreng bercampur nasi putih yang sudah mulai terasa dingin. Ku baca Basmallaah kemudian mulai memakannya sedikit demi sedikit meski pada suapan pertama, menu makanan yang sudah di lumat mulutku terasa sukar unt...