Postingan

Menampilkan postingan dari 2022

LELAKI INI DAN PEREMPUAN ITU, DAN JEDA YANG MENYIKSA

"Aku tidak suka sore ini!" rajuk Perempuan Itu.  "Hujan, senja, dan kita akan berjeda" lanjutnya dengan mata yang mulai basah.  Suaranya parau. Putus asa. Seketika hampa menerpa. Hanya jemari bertaut mengungkapkan rasa. "Hei, sayang....ini hanya jeda, bukan pisah" bujuk Lelaki Ini. Ada ragu yang coba dikuatkan disana.  " Lagian , kita kan bukan Agnes Monica", Lelaki Ini tiba-tiba bergaya menirukan Agnes Monica. Menyanyikan Tak Ada Logika. Perempuan Itu tertawa. Lelaki Ini selalu bisa mengubah lara jadi ceria. Mungkin itu yang membuatnya tergila-gila. Membuatnya gundah, meski hanya berjeda.  "Hanya berjeda ya?" yakin Perempuan Itu lagi. Lelaki Ini hanya mengangguk sambil membentuk mulut Badtz-Maru . Minta digigit banget gak sih?. Lucu tauk! .  *** Pagi masih muda. Perempuan Itu memarkir mobilnya di halaman kafe itu. A simple hidden favourite place .  Langkahnya terhenti ketika titik air menyentuh lengannya. Perempuan Itu menengadah. Hu...

Istana Pasir

Kanak kanak,  Jenak dalam keriuhan berulang  Membangun istana pasir luas membentang,  Megah meski tak menjulang,  Indah meski tak berumur panjang  Lekas tanggal disapu ,badai dan riak gelombang  Gegas ditinggal berlalu, seusai teriak pulang  kanak kanak itu juga,  Bermukim di tubuh kita yang dewasa  jenak bermain istana pasir hingga lupa  senja telah lama memberi tanda  waktu pulang mungkin akan segera tiba  Istana pasir akan terlupa  Istana pasir akan poranda (ujung harapan, 271122)

LELAKI INI DAN PEREMPUAN ITU, DAN LELAKI ITU

"Melasi Ndhuk"*  lirih Lelaki ini, dengan logat non Jawa-nya. Perempuan itu tidak peduli. Hangatnya pelukan Lelaki ini sudah cukup. Paling tidak, dia bisa berlabuh sesaat. Meluruhkan lelah, menumpahkan air mata. Perempuan itu juga tidak peduli, sudah berapa perempuan bersandar di sana. Baginya, saat ini Lelaki ini miliknya. Pemenang hatinya. Perempuan itu sadar, jalan hidupnya tidak sederhana. Apalagi cerita cintanya. Dia bukanlah puteri raja ataupun Cinderella. Tapi, apa tak pantas, sekali saja dalam hidupnya, menyerahkan hati kepada pemenangnya?.  *** Di sudut lain dunia. Lelaki itu gelisah. Perempuan itu mulai tidak biasa. Telpon tak dijawab, pesan singkat tak berbalas. Arogansinya terganggu. Apa kekangnya sudah tak mempan?. Tapi ego-nya segera berbisik "sudahlah, bagaimanapun kamu tetap penakluknya, kamu pemiliknya ". Bisikan yang menenangkannya. Menerbitkan sesungging senyum. Senyum kemenangan semu. *** Ibarat syair lagu. Cinta Lelaki ini dan Perempuan itu buka...

SERPIHAN 'HIBAT'

  “I miss you, so bad …”   Jemariku seketika begetar. Pesan teks yang telah kurangkai, seketika buyar. Aku bergeming. Aku tau kata-kata semacam ini gurauan yang biasa dia lontarkan kepada perempuan manapun jika dia suka. Tanpa tedeng aling-aling.    Wajah tengilnya berkelabat sesaat lalu aku merasakan semburat merah memenuhi parasku.    “Hey, kok diem? Kaget ya dikangenin? ”, kalimatnya kembali menyerangku diakhiri dengan emoji terbahak.    Alih-alih mengetikkan beberapa kata-kata balasan, aku hanya mampu mengirimkan emoji tertawa membalas gurauannya.   Aku mencaci dalam hati. “ Kemunafikan macam apa ini? Bukankah kata-kata itu yang selalu kau rindukan? Sejak 11, 10 atau 9 tahun yang lalu? Mengumpulkan potongan-potongan kenangan yang timbul tenggelam alurnya karena tergerus ingatan yang semakin lemah daya. Menikmati serpihan ‘hibat’ ketika membutuhkan kekuatan dan sandaran rasa. Mengunci rapat-rapat rongga hati dan berserah pada jalan takdir ...

LELAKI INI DAN PEREMPUAN ITU DAN BUNCAHAN RINDU

Lelaki ini rindu. Perempuan itu juga. Membuncah. Hujan mengalir tanpa spasi. Layaknya skripsi yang tak kunjung jadi. "Pakkkk....!", jengah Perempuan itu. Mata bulat indahnya melotot penuh. Alih-alih seram, malah menggemaskan. Lelaki ini tertawa. Jahil. "Whaaat...!?, balasnya. "Gak usah usaha deh", rajuk Perempuan itu. Lelaki ini tergelak lagi. Lelaki ini tau pasti. Dalam situasi yang berbeda, tatapannya tadi akan menciptakan medan magnet yang kuat. Perempuan itu akan menjadi seganas kobra memangsa korbannya. Tanpa dikomando Lelaki ini dan Perempuan itu terbahak. Mengundang tatap heran dari sekitar. Mereka tak peduli. Pipi Perempuan itu memerah. Bersungut-sungut menuntaskan gelato terakhirnya. Lelaki ini masih menahan tawa. Sungguh, rasanya sudah bukan ratusan purnama lagi mereka tak jumpa.  Senja sudah semakin tua. Udara dingin mulai menyergap. Sisa-sisa hujan masih menyisakan genangan. Satu dua jangkrik sudah menuju pos jaga. Lelaki ini dan Perempuan itu masih...

You Did it Your Way

Mentari terbit, mentari tenggelam Cakrawala merah jingga Batas itu sebentar lagi tiba Waktu akan segera menjadi figura Pintu pertama yang engkau masuki dulu Dan pintu yang akan kau tutup hari ini Jelas berbeda, namun semua akhirnya akan punya nama yang sama, kenangan Tiba  dimuka, pulang paling belakang Adalah salah satu yang akan kami kenang Sebagian kami menghilang Saat mendadak rapat menjelang pulang Mungkin akan kau ingat dengan senyuman Air tenang yang menyimpan banyak pusaran Tak bisa diam, terus bergerak mencapai tujuan Kerja, kejar, selesaikan... Secepatnya, engkau tak suka menunda Seringkali bagi kami, itu artinya adalah lembur Bahkan kadang sampai mengurangi jam hari libur Tentu ada yang menggerutu atau hadir dengan keterpaksaan Ada juga yang diam-diam menghilang Namun itulah dinamika kerja, yang siap kau terima Yang terpenting adalah menyelesaikan tugas, tuntas Usai sudah, tak ada penyesalan Terbaik atau bukan hanyalah perbandingan Totalitaslah yang seharusnya diutamakan...

Refleksi Merdeka

Kalau soal kapan merdeka, kita punya tanggal yang sama Tetapi soal jiwa-jiwa yang merdeka, Kita harus lihat dulu, satu-satu orang punya jiwa Bahwa penjajahan adalah kezaliman Kita semua sudah tahu itu Bentuk perbudakan  besar-besaran sebuah bangsa atas bangsa lainnya Penindasan dan eksploitasi Hak-hak asasi dikebiri kemanusiaan yang adil dan beradab terang-terangan diinjak-injak Yang jarang kita sadari adalah Jiwa-jiwa merdeka tak pernah bisa dijajah Para pendiri bangsa, pejuang kemerdekaan Mereka yang kini kita sebut pahlawan Adalah orang-orang yang tak pernah dijajah Mereka adalah para pemberani Orang-orang dengan jiwa merdeka Yang menjunjung tinggi kemanusiaan Yang mengedepankan keadilan Yang karenanya tak bisa menerima Segala bentuk penindasan Segala apapun yang namanya penjajahan Kemerdekaan bagi mereka Bukan ditandai dengan proklamasi Proklamasi hanyalah bentuk tanggungjawab dari jiwa-jiwa yang merdeka untuk juga memerdekakan jiwa-jiwa lainnya yang masih terjajah untuk membaw...

I Wish ...

Suatu sore, Awal bulan Mei 2022   “Ren, ih malah ngelamun, udah kerjaan kantor jangan dipikirin mulu ….”,  Nina mengibaskan tangannya di depan mukaku.    “Maklum pejabat negara, udah bagus bisa juga akhirnya meet-up, jadi harap maklum kalo Rendra gak fokus, Nin …”,  Siska berseloroh menimpali ucapan Nina.    Aku tergelak membalas ucapan mereka. Nina dan Yuli adalah temanku di SMP dan SMA yang juga sudah tinggal di ibu kota ini.    “Lu mau makan apa? Pesen dulu … ini ada ….. bla, bla, bla …”  Nina menyodorkan buku menu sambil sibuk menjelaskan pilihan makanan yang menurutnya enak di kafe itu.    Aku memandangnya sekilas. Nina, seorang istri, ibu pekerja yang masih terlihat cantik dan menarik di usianya yang menjelang angka 50. Cara bicaranya ceplas ceplos dan agak sedikit manja.  Dia pandai menjaga bentuk tubuhnya, sehingga masih terlihat seksi. Mungkin jika baru mengenalnya, aku akan termasuk salah satu laki-laki yang...

LUGU

Di pasar, berjajar pedagang menjajakan kebenaran dengan suara kencang Para langganan berbondong datang memborong kebenaran tanpa bertanya, langsung percaya sesuai selera Aku, orang baru coba menawar satu persatu berharap bertemu yang benar-benar benar,  Dasar lugu!

FILM NGERI-NGERI SEDAP, SEBUAH RENUNGAN

Sebenarnya udah agak lama aku nonton film ini ketika film ini baru release. Agak telat aku membahas film ini, tertunda beberapa hari. Disclaimer di awal, tak ada niatku untuk spoiler dan ini reviu dari sudut pandangku sendiri. Film ini menceritakan tentang sebuah keluarga dengan latar belakang Batak yang terdiri dari Bapak, Ibu, dan empat orang anak. Film ini dibuka dengan ibu yang menghubungi tiga orang anak laki-lakinya yang merantau di luar pulau agar segera pulang. Sayangnya ketiga anak laki-laki tersebut menolak dengan berbagai alasan. Sang Bapak memanfaatkan anak perempuannya yang penurut dan tinggal bersama mereka untuk membujuk kakak dan adik-adiknya pulang. Dari situlah kisah dirangkai sampai dengan film berakhir. Ada percakapan yang menarik bagiku dalam film ini. Percakapan antara Bapak dan Ibu ketika anak perempuannya berhasil membujuk kakak dan adik-adiknya pulang. Bapak: Apa kubilang! Kalau kau ikuti usahaku, pasti berhasil, kan? Ibu: Kau memang paling hebat di dunia. Dana...

Kepada yang terhormat

kepada yang terhormat, kalau pangkat dan kedudukan yang engkau jabat, menjadikanmu merasa paling hebat hingga semena mena mengikuti hasrat dan syahwat mungkin ada baiknya sesekali kau ingat bahwa kekuasaan mengenal kata tamat ada ujung dan  akhir   dari semua  riwayat Apakah kau pikir kelak kematian adalah sebuah istirahat? sedang beribu teka teki tersimpan di tangan malaikat menghitung tunai setiap lembar  amanat (kaki gunung slamet, 26 juni 2022)

ndablek

Cuacamu, tak tentu, benderang, menggelap, kerontang, melembab, tentangmu, tak jemu, menjelang terlelap menjerang harap (Kaki Gunung Slamet , 26 Juni 2022)

Pergi Rapat ke Baturaden

Pergi rapat  kerja ke baturaden, Lewati hamparan pinus dan nanas Sinergi  DJA  DJAPK semakin keren Wujudkan anggaran berkualitas badan lungkrah  ingin istirahat Menjadi terlupa  indahnya  lokasi Belanja daerah dan belanja pusat Dirancang harmoni tak duplikasi Di bawah panglima nan perkasa DJA DJPK berpadu seiring sejalan Di sini Pak Prima di sana Pak Isa Kami dipandu  mencapai tujuan (12 Mei 2022)

Sistem Penganggaran (1)

P enganggaran Terpadu orang orang pintar itu,  bicara tentang menyatukan DIP dan DIK menjadi DIPA, menjadikan anggaran rutin dan pembangunan menjadi satu, menghindari anggaran mendua, di sini iya di sana iya,   kata mereka melahirkan DIPA adalah prasasti pencapaian perjuangan panjang, kemenangan atas perang melawan gaung kemustahilan yang membahana pada awalnya tak perlu heran, seperti pepatah menyebut, "keberhasilan mempunyai banyak saudara, dan kegagalan yatim piatu", banyak yang berebut mencatatkan namanya, mengulang ulang cerita tentang peran seolah paling pahlawan Jangan kau tanya apa pendapatku? mungkin saja semua benar begitu,    di kepalaku justru tengah riuh menjalar perumpamaan, andai DIK itu seperti ku,  DIP itu seumpama kau, kalau  keduanya menjadi DIPA, kelak aku dan kau bisa saja menjadi kita,meski sekarang muskil adanya (ujung harapan, 12062022)     

Munajat

Hujan menderas membasahi bumi Langit gelap lelap terselimuti Cahaya kilat bak lampu blitz kamera Menyambut fajar singsing segera Para perindu syurga Membasuh air ke raga Pakaian suci melekat sempurna Berdiri sejajar tanda setia Rintik hujan enggan mereda Tertunduk sadar hati seorang Hamba Terangkat tangan asa di pinta Mata terpejam jiwa mengudara Wahai Sang Penggenggam Semesta Kasih sayangmu meluas samudera Ke Maha AgunganMU tiada tandingannya Ampuni atas segala dosa

Bintang dan Rembulan

Fajar bersiap menampakkan kilau Netra menyaksikan terpukau Kabut selimuti jiwa terlelap Meski pejantan berkokok sigap  Detak jantung memburu waktu Spidometer bergerak maju Embun tak ingin lepas mendekap perdu Seakan sulit mengenyahkan rindu  Teringat akan sepasang kekasih Di sepertiga malam sunyi Bintang memberanikan diri Perlahan mendekati rembulan bak bidadari  Ada hal yang hendak diutarakan Kelu menjalar kata tak tersampaikan Ah...betapa sulit mengungkapkan isi hati Padahal kesempatan kedua takkan terulang lagi Sesulit menuangkan maksud dan tujuan pada nota dinas Sang bintang dalam menarik napas Telah bulat tekad disiapkan Namun luluh jua ketika menatap sang rembulan Entah sampai kapan bintang terus berdiam 27052022

Melepas

Belum usai, satu laras tersenandung tuntas, senja  menggilas, pertanda  tegas, sampai, batas, temu-mu tuntas Kau berkemas, sepenuh gegas. Lalu , ruang Senyap  meranggas, Udara  rasa  Beku mengeras genggam tangan pelahan lepas Sesak dada, Pilu terimbas hutang Rindu Belumlah lunas ah padamu Rengkuhku getas, Kau Tetap lagi raga nan bebas (24 mei 22)

Ini Pagiku, Bagaimana Pagimu?

Sang surya tampak malu menampakan diri Di antara awan mengabu, sesekali di intipnya penduduk bumi Yang sebagian telah sibuk menyambut pagi  Di antara deru mesin kendaraan Dan hilir mudik para pejalan Gedung gedung pencakar langit  Pongah menentang awan  Seakan mereka berkata; keluarkan saja semua beban  Sekawanan burung hilir mudik Rimbunnya dedaunan di sebuah pohon besar menjadi tempat favorit untuk berkumpul Setelah sekian waktu sibuk menjemput rezeki Saatnya istirahat dan menikmati  Di dalam rangkaian gerbong Commuter Line Yang telah tiba di Stasiun tujuan Bergegas orang-orang menuju tangga berjalan  Tergesa gesa menaiki anak tangga Tak sadar ada yang tersakiti karena sikapnya Sementara yang lain sibuk membaca kabar berita Atau terdiam memegang barang bawaan, waspada Seekor cicak mengamati gerak gerik manusia  Tiba di bawah naungan halte Jak Lingko Berdiri menanti kehadiran Trans Jakarta Detik berganti menit Yang ditunggu menampakan wujud  Pagi...

Pulang

Anak kecil berlarian Di tanah lapang dan rerumputan Sorak sorai penjaja makanan Mencari perhatian Matahari bersiap undur diri Udara tercemari asap dedaunan yang terbakar Menyatu dengan asap dari knalpot Kendaraan lalu lalang, perlahan Seekor kuda mengerang, lelah Entah berapa putaran telah dilalui Hanya seember air Dan rumput kering penambah energi Segerombolan ikan berenang Bebas berkejaran Sesekali menunggu hidangan Yang jatuh dari tangan tangan dermawan Senja kali ini memenjarakan Hati dan pikiran Jika saja lantunan ayat suci tak bersahutan Niscaya kaki ini enggan untuk pulang 24052022

Ah kau, Betapa lucunya kau kini

Disclaimer:  (tulisan ini hanya rekaan,  kalau ada kesamaan cerita, pasti kebetulan semata, mohon maaf sekiranya tidak berkenan) Dulu, ketika  kita dihadapkan urusan yang  menghadirkan bimbang Kami siapkan beberapa  pilihan  untuk ditimbang,  Kami tunggu darimu keluar petunjuk dan  arahan, kau malah bicara   ngelantur sembarang, Membuat kami  makin bingung tak kepalang Dulu, Setiap pekerjaan kita terdapat salah   Kau selalu saja marah marah, dari mulutmu tersembur sumpah serapah Lalu denga begitu  mudah  kau  tunjuk kambing hitam  di bawah, Karena katamu, pemimpin tak pernah salah Dulu, Setiap kita dihadapkan pada halangan atau  masalah  Kau tinggalkan kami di jalan, dan memilih  berbalik arah Membiarkan kami semua berjuang melanjutkan langkah  Itu semua bagian pengkaderan,  katamu berkilah Dulu, Setiap ada kerja besar yang kita hadapi Kau hanya sibuk t unjuk sana,tunjuk sini ta...

Kota Rindu

Gambar
Kuselipkan rindu pada remang senja jalan ini tempo itu Sebagai ganti rindu yang kuambil dan kubawa darimu Karena perjumpaan meneruskan kisahnya dalam kerinduan Karena mereka yang saling merindu saling memanggil ingin bertemu Tetaplah, jangan berubah meski jaman seringkali memaksa kita Karena rindu adalah bentuk lain dari ungkapan 'masih seperti dulu' Rindu adalah tentang masa lalu Soal menjaga nostalgia yang sama Jangan biarkan kemajuan merenggut apa yang pantas untuk terus bertahan dan menjadi sumber kenangan Tentang kesederhanaan, keakraban, kehangatan Tentang suasanamu itu yang mendefinsikan rindu Sampai jumpa Jogja Bonjur,150522