Pergi Rapat ke Baturaden

Pergi rapat  kerja ke baturaden,

Lewati hamparan pinus dan nanas

Sinergi  DJA  DJAPK semakin keren

Wujudkan anggaran berkualitas


badan lungkrah  ingin istirahat

Menjadi terlupa  indahnya  lokasi

Belanja daerah dan belanja pusat

Dirancang harmoni tak duplikasi


Di bawah panglima nan perkasa

DJA DJPK berpadu seiring sejalan

Di sini Pak Prima di sana Pak Isa

Kami dipandu  mencapai tujuan


(12 Mei 2022)

Sistem Penganggaran (1)

Penganggaran Terpadu

orang orang pintar itu, bicara tentang menyatukan DIP dan DIK menjadi DIPA, menjadikan anggaran rutin dan pembangunan menjadi satu, menghindari anggaran mendua, di sini iya di sana iya,  

kata mereka melahirkan DIPA adalah prasasti pencapaian perjuangan panjang, kemenangan atas perang melawan gaung kemustahilan yang membahana pada awalnya

tak perlu heran, seperti pepatah menyebut, "keberhasilan mempunyai banyak saudara, dan kegagalan yatim piatu", banyak yang berebut mencatatkan namanya, mengulang ulang cerita tentang peran seolah paling pahlawan

Jangan kau tanya apa pendapatku? mungkin saja semua benar begitu,  di kepalaku justru tengah riuh menjalar perumpamaan, andai DIK itu seperti ku,  DIP itu seumpama kau, kalau  keduanya menjadi DIPA, kelak aku dan kau bisa saja menjadi kita,meski sekarang muskil adanya


(ujung harapan, 12062022) 

 

 

Munajat



Hujan menderas membasahi bumi

Langit gelap lelap terselimuti
Cahaya kilat bak lampu blitz kamera
Menyambut fajar singsing segera

Para perindu syurga
Membasuh air ke raga
Pakaian suci melekat sempurna
Berdiri sejajar tanda setia

Rintik hujan enggan mereda
Tertunduk sadar hati seorang Hamba
Terangkat tangan asa di pinta
Mata terpejam jiwa mengudara

Wahai Sang Penggenggam Semesta
Kasih sayangmu meluas samudera
Ke Maha AgunganMU tiada tandingannya
Ampuni atas segala dosa

Bintang dan Rembulan

Fajar bersiap menampakkan kilau

Netra menyaksikan terpukau

Kabut selimuti jiwa terlelap

Meski pejantan berkokok sigap 


Detak jantung memburu waktu

Spidometer bergerak maju

Embun tak ingin lepas mendekap perdu

Seakan sulit mengenyahkan rindu 


Teringat akan sepasang kekasih

Di sepertiga malam sunyi

Bintang memberanikan diri

Perlahan mendekati rembulan bak bidadari 


Ada hal yang hendak diutarakan

Kelu menjalar kata tak tersampaikan

Ah...betapa sulit mengungkapkan isi hati

Padahal kesempatan kedua takkan terulang lagi


Sesulit menuangkan maksud dan tujuan pada nota dinas

Sang bintang dalam menarik napas

Telah bulat tekad disiapkan

Namun luluh jua ketika menatap sang rembulan


Entah sampai kapan bintang terus berdiam




27052022

Melepas



Belum usai,

satu laras

tersenandung

tuntas,


senja 

menggilas,

pertanda 

tegas,


sampai,

batas,

temu-mu

tuntas


Kau

berkemas,

sepenuh

gegas.


Lalu ,


ruang Senyap 

meranggas,

Udara  rasa 

Beku mengeras


genggam tangan

pelahan lepas

Sesak dada,

Pilu terimbas

hutang Rindu

Belumlah lunas


ah

padamu

Rengkuhku getas,

Kau

Tetap lagi raga nan bebas


(24 mei 22)

Ini Pagiku, Bagaimana Pagimu?

Sang surya tampak malu menampakan diri

Di antara awan mengabu, sesekali di intipnya penduduk bumi

Yang sebagian telah sibuk menyambut pagi 


Di antara deru mesin kendaraan

Dan hilir mudik para pejalan

Gedung gedung pencakar langit 

Pongah menentang awan 


Seakan mereka berkata; keluarkan saja semua beban 


Sekawanan burung hilir mudik

Rimbunnya dedaunan di sebuah pohon besar menjadi tempat favorit untuk berkumpul

Setelah sekian waktu sibuk menjemput rezeki

Saatnya istirahat dan menikmati 


Di dalam rangkaian gerbong Commuter Line

Yang telah tiba di Stasiun tujuan

Bergegas orang-orang menuju tangga berjalan 


Tergesa gesa menaiki anak tangga

Tak sadar ada yang tersakiti karena sikapnya

Sementara yang lain sibuk membaca kabar berita

Atau terdiam memegang barang bawaan, waspada

Seekor cicak mengamati gerak gerik manusia 


Tiba di bawah naungan halte Jak Lingko

Berdiri menanti kehadiran Trans Jakarta

Detik berganti menit

Yang ditunggu menampakan wujud 


Pagiku penuh warna

Bagaimana dengan pagimu? 


25052022

Pulang


Anak kecil berlarian
Di tanah lapang dan rerumputan
Sorak sorai penjaja makanan
Mencari perhatian

Matahari bersiap undur diri
Udara tercemari asap dedaunan yang terbakar
Menyatu dengan asap dari knalpot
Kendaraan lalu lalang, perlahan

Seekor kuda mengerang, lelah
Entah berapa putaran telah dilalui
Hanya seember air
Dan rumput kering penambah energi

Segerombolan ikan berenang
Bebas berkejaran
Sesekali menunggu hidangan
Yang jatuh dari tangan tangan dermawan

Senja kali ini memenjarakan
Hati dan pikiran
Jika saja lantunan ayat suci tak bersahutan
Niscaya kaki ini enggan untuk pulang



24052022

Ah kau, Betapa lucunya kau kini

Disclaimer: 
(tulisan ini hanya rekaan, 
kalau ada kesamaan cerita, pasti kebetulan semata, mohon maaf sekiranya tidak berkenan)


Dulu,

ketika  kita dihadapkan urusan yang  menghadirkan bimbang

Kami siapkan beberapa  pilihan  untuk ditimbang, 

Kami tunggu darimu keluar petunjuk dan  arahan,

kau malah bicara   ngelantur sembarang,

Membuat kami  makin bingung tak kepalang


Dulu,

Setiap pekerjaan kita terdapat salah  

Kau selalu saja marah marah,

dari mulutmu tersembur sumpah serapah

Lalu denga begitu  mudah 

kau  tunjuk kambing hitam  di bawah,

Karena katamu, pemimpin tak pernah salah


Dulu,

Setiap kita dihadapkan pada halangan atau  masalah 

Kau tinggalkan kami di jalan, dan memilih  berbalik arah

Membiarkan kami semua berjuang melanjutkan langkah 

Itu semua bagian pengkaderan,  katamu berkilah


Dulu,

Setiap ada kerja besar yang kita hadapi

Kau hanya sibuk tunjuk sana,tunjuk sini tanpa arahan pasti 

Lalu kau lanjut berbaring atau menepi 

Menunggu  kerja tuntas dengan sendiri,

tak beda dengan patung kucing hoki di atas lemari

tiap kali ada yang mengajukan somasi,

jawabanmu demikian runtut dan rapi

katamu seorang manajer tak harus melakukan sendiri, 

bekerja melalui orang lain bukan semata definisi 

tapi bagaimana implementasi



Dulu,

Setiap  ada panggung dan kamera ,

Kami akui kau sangat piawai bemain kata dan mengemas rupa 

Pidato pidatomu penuh riuh  gelora,

Ekspresi dan citra yang indah untuk konten dunia maya


Dulu,

Setiap ada  penghargaan atas karya 

Kau  akan berada   di barisan muka,

Mengklaim ide dan pemikiran berasal darimu saja,

Karena tidak mungkin  ide berasal dari orang biasa 

Dan hanya kau yang mampu menggerakkan sumber daya 

untuk  mewujudkannya menjadi nyata 

 

Dan dulu,

jika dari pelaksanaan  kerja dan fungsi ,

Tak terhindarkan hadirnya gratifikasi 

Kau selalu anggap itu semua  rejeki,

dari sang Maha Pemberi 

Menolak katamu, selain menyakiti hati pemberi 

Juga bagian dari ingkar syukur pada Ilahi


Kini,

Saat kau harus pergi dari kami

pidato perpisahanmu bernas tersaji

Ungkap jasa dan tonggak legacy

Yang sekian waktu sudah  dijalani


Ah kau,

Betapa makin lucunya kau kini,

Membuat kami tak tahu lagi

Saat tatih langkahmu beranjak pergi

Haruskan kami berduka 

atau..... bersuka hati


(Ujung harapan, 21 Mei 2022)


Kota Rindu




Kuselipkan rindu pada remang senja jalan ini tempo itu

Sebagai ganti rindu yang kuambil dan kubawa darimu

Karena perjumpaan meneruskan kisahnya dalam kerinduan

Karena mereka yang saling merindu saling memanggil ingin bertemu


Tetaplah, jangan berubah meski jaman seringkali memaksa kita

Karena rindu adalah bentuk lain dari ungkapan 'masih seperti dulu'


Rindu adalah tentang masa lalu

Soal menjaga nostalgia yang sama


Jangan biarkan kemajuan merenggut apa yang pantas

untuk terus bertahan dan menjadi sumber kenangan


Tentang kesederhanaan, keakraban, kehangatan

Tentang suasanamu itu yang mendefinsikan rindu


Sampai jumpa Jogja


Bonjur,150522




Tentang Lebaran (2)

 

#3

Tadinya ku rasa kau,

Cenayang  yang akan mengerti,

Saat pesan dari ku 

Hanya menuliskan namamu saja,


maknanya,

Bahwa rindu telah menjelma menjadi lara,

Bahwa menuliskan  dan mengeja

Sekedar nama 

telah menghadirkan bahagia 


Kau mungkin  tak perlu menjawabnya,

kalau kau tak menginginkannya 


#4

aku kasihan padamu,

Musim liburan ini,

tak bisa pergi kemana mana,

karena sepanjangan waktu

hilir mudik,

di pikiranku,


kapan kau kasihan padaku?

Tentang Lebaran

#1

Kayuh langkah setapak setapak pelahan,

mengeja rambu jarak tempuh di tepian jalan,

Satu persatu batas kota terlewati

Seperti obrolan idul Fitri yang menghitung,

nama tersisa dari teman kerabat dan famili 

"Si A telah  tiga bulan lalu pergi 

bapak B mangkat selepas bulan haji

bude C sebulan lalu  mati"


mati akan selalu menjadi misteri,

Tahun depan,

Akankah kita masih bisa  berbincang,

Atau  tinggal sekedar bahan, 

Beberapa orang menyebut nama kita, 

" Dia telah pergi,  

padahal tahun lalu masih ngobrol seperti ini"


#2

Setelah salaman,

Maka ruang penuh bincang,

Hilir mudik bergantian nama, masa dan cerita

Hingga tak terasa dosa dosa  

menggumpal dalam obrolan,

Seperti lemak  rendang, opor ,gule , sate

menyusupi darah, 

Mengendap, 

di sepanjang pembuluh,


di akhir senja

Ada yang memberat di kepala,

Tak jelas sungguh

apakah sesal tentang kata-kata  tak guna,

Yang berlepasan  tanpa sengaja,

Atau muara kelezatan sajian hari raya

yang mengaliri lidah tanpa jeda,

tak tertampung lagi,

oleh raga yang makin renta


(Mei 2022)




TETANGGAMU

Tetangga sebelah mendadak kaya,
dapat hadiah, bertumpuk uang tunai
dari undian minyak goreng

rumahnya dibagusin, 

beli segala barang mewah

termasuk seperangkat gitar dan bas,

plus sound system komplet, mahal.


gonjrang-gonjreng, damdem-dandem,

jingkrak-jingkrak, nyanyi-nyanyi,

bikin single lagu, terus viral

tiap hari. Berisik.


bukannya tobat, 

kemarin malah nambah beli drum,

merek baru, kualitas super,

bisa bikin album laris

tiap hari. Berisik.


Dasar tetangga berisik,

atau tetangganya yang gak punya tutup kuping?



- ekpan - puisi dan sepak bola - 11052022


MU

Benteng setan jebol, berkali-kali
diumpat: setan!!!

muka setan yang merah merona,

memucat masam, berkali-kali


setan tenan.




- ekpan - puisi dan sepak bola - 10052022

Belajar dari Nama-nama Hari

Selain cara memanggil, hal pertama yang banyak diajarkan oleh orang tua kepada anaknya saat mulai mengerti adalah mengenalkan angka, berhitung lebih tepatnya. Orang tua akan terlihat sangat gembira ketika anak sudah mampu menghitung satu sampai sepuluh dengan lancar. Kapan mulai bisa berhitung tanpa meloncat-loncat mungkin menjadi salah satu moment perkembangan anak yang akan selalu diingat.

Soal adanya tahapan untuk dapat menghitung secara berurutan pada anak ini biasa terjadi. Dari pengalaman anak sendiri dan beberapa kenalan, ada fase dimana anak memerlukan waktu sebelum akhirnya mampu menyebut urutan angka-angka itu dengan benar. Umumnya angka 1 sampai dengan 3 bisa dengan mudah disebutkan namun setelah itu banyak variasi yang terjadi. Ada yang melupakan angka 4, langsung loncat ke 5, 6, 7 atau angka lainnya. Jika sudah begitu, orang tua biasanya akan menyampaikan kembali kepada anak urutan mana yang sesuai.

Tidak semua orang tua hanya merasa gemas ketika anak lupa mengurutkan angka, ada juga yang kesal karena kejadian sama yang terus berulang. Maka untuk lebih memudahkan anak mengingat, para pendidik usia dini telah menciptakan banyak lagu-lagu sederhana dengan nada yang riang sebagai alat bantu bagi anak untuk lebih mudah mengingat. Memang demikianlah salah satu tips dalam pengajaran pada anak usia dini, belajar dengan riang, berkembang dengan senang.

Ada banyak lagu anak populer yang dimaksudkan atau bernilai untuk pendidikan. Dari mulai mengenalkan warna dalam lagu balonku sampai lagu yang mengajarkan nama-nama hari. Nama-nama hari ini termasuk juga hal awal yang diajarkan kepada anak karena nama hari adalah sesuatu yang kita temui setiap hari. Lagunya begitu populer hingga saya rasa semua anak usia balita pernah menyanyikannya.

Senin, Selasa, Rabu, Kamis, Jumat, Sabtu, Minggu itu nama-nama hari. Sederhana dan langsung ke tujuan dengan nada yang terdengar menyenangkan. Cukup dengan bernyanyi seluruh nama hari sudah dapat dikuasai. Saya termasuk yang mengamalkan metode pengajaran nama-nama hari pada anak melalui lagu ini. Hasilnya cukup menggembirakan walaupun tidak langsung sesuai harapan. 

Kendalanya hampir sama dengan pengenalan angka. Meskipun di lagu Nama-nama Hari itu hari Senin sampai Minggu sudah diurutkan dan anak dengan mudah bernyanyi sesuai urutannya, ketika ditanya hari apa esok setelah hari ini selalu saja ada yang tertukar di awal-awal pengajaran. Contohnya adalah saat anak diberitahu bahwa kalau hari ini adalah hari Selasa, kemudian ditanya, ‘Besok jadinya hari apa?’ Kadang Ia menjawab Kamis, Sabtu atau hari lainnya. Jika sudah begitu, biasanya saya mengarahkan anak untuk kembali mengingat urutan hari dalam lagu Nama-nama Hari. Begitulah sampai akhirnya anak mulai lancar dan benar saat memberikan jawaban sesuai dengan hari yang ditanyakan.

Ada kejadian lucu soal nama-nama hari itu ketika anak yang sudah mulai bersekolah masih belum juga tidur saat malam sudah mulai larut. Kebetulan hari itu adalah hari Minggu. Usai pulang dari pergi jalan-jalan di sebuah pusat perbelanjaan, anak begitu antusias untuk membuka mainan yang baru dibelikan untuknya begitu tiba di rumah. Meskipun sudah dibujuk untuk besok saja membukanya karena sudah malam, tetapi namanya juga anak, ia tak kuasa menahan hasrat untuk melihat kembali mainan yang kini sudah resmi menjadi miliknya itu. 

Sebagai orang tua kami sudah mahfum, jika ini dibuka pasti bukan hanya sekadar melihat tetapi akan dilanjutkan dengan memainkannya. Maka sebelum dibuka, kami melakukan ‘negosiasi’ agar situasi ke depan tetap kondusif. Di satu sisi keinginan anak  terpenuhi namun dalam batas-batas yang tidak membuat malam menjadi lebih panjang. ‘Boleh dibuka tetapi sebentar saja memainkannya, ya. Lima belas menit, setelah itu kita persiapan untuk tidur.’ Tawaran yang langsung diiyakan anak tanpa pikir panjang karena begitu kebeletnya untuk membuka mainan yang ada di depannya.

Dan kejadian selanjutnya mungkin sudah bisa diduga. Menjelang durasi batas lima belas menit itu tiba, belum ada tanda-tanda anak akan mengakhiri permainannya. Asyik dan terhanyut di dalamnya. Maka disinilah peran kami selaku orang tua untuk mengingatkannya sesuai dengan perjanjian yang sudah disepakati tadi. Soal perjanjian di awal ini penting dalam mengatur anak-anak jaman sekarang. Dengan adanya pembicaraan awal soal batasan-batasan, kita sebagai orang tua akan lebih mudah sewaktu sudah tiba waktunya untuk mengambil tindakan. Biasanya respon anak hanya sedikit protes atau berusaha merayu meminta tambahan waktu.

Demikianlah yang terjadi saat kami mengingatkan pada anak bahwa masa bermainnya sudah selesai. ‘Sudah mainnya ya, Nak. Sudah lima belas menit, besok boleh main lagi. Sekarang kita siap-siap bobo dulu, besok kan Adek sekolah. Hayo, inget gak besok hari apa?’ Meskipun masih tersirat wajah kurang senang, ia menyerahkan mainan yang masih ada ditangannya, tetapi bukannya menjawab ia malah balik bertanya, ‘Hari apa memang besok, Yah?’

Disinilah kejadian lucu itu. Saat diberitahu bahwa hari ini adalah hari Minggu dan kemudian sambil mengingatkan lagu Nama-nama hari kami bertanya, ’Habis Minggu, apa?’ Ada jeda bagi kami untuk menunggu jawaban darinya tiba. Entah mungkin karena masih terganggu karena hasrat bermainnya yang belum tuntas atau mungkin tengah mencoba kembali mengingat urutan hari dari lagu Nama-nama Hari, jawaban yang keluar darinya adalah,’Habis Minggu, Itu nama-nama hari, Yah!’

Jawaban yang ‘benar’ sekaligus membuat kami terpana dan tertawa. Benar karena memang begitulah liriknya. ‘Tapi bukan itu jawaban yang diminta, Bambang!’, ujar kami. Tentu saja hanya dalam hati. Nama anak kami bukan Bambang. Itu adalah kalimat canda yang biasa diungkapkan orang-orang saat ada ketidaknyambungan antara pertanyaan dan jawaban yang diberikan. Karena sudah menjelang larut malam, kami hanya memberi jawaban singkat pada anak bahwa besok adalah hari Senin. Sambil mengantarkannya ke kamar mandi untuk bersih-bersih sebelum tidur, diam-diam kami merasa masih berhutang penjelasan pada anak bagaimana peralihan nama hari dari Minggu ke Senin itu. Sebelum tidur kami mengingatkan diri bahwa mengajarkan anak, bahkan untuk hal yang sederhana sekali pun memerlukan banyak perhatian tidak cukup hanya dengan lagu saja.

Kami akhiri malam itu dengan mengecup keningnya dan mengucapkan, ‘Selamat malam sayang, selamat bobo anak pintar.’

BK,190322

Entah

Seribu muka kupalingkan dari pantai itu
Menggelepar tanya dalam dada

Gerangan apa telah merapuhkan jiwa?

 

Malam merintih di atas buih

Saat kusentuh lembut jemari dan wajahmu

Telah kurobek tirai kesopanan

Dan andai kau tahu,

Kini aku terperangkap dalam jaring-jaring penyesalan

 

Perjumpaan kita baru sekejap saja

Tetapi kita sudah hendak kemana?

 

Bila lautan berdegup dengan hempasan-hempasan gelombang

Dan kehadiran malam ditandai dengan kerlip bintang-bintang

Lalu, pada apakah perjumpaan kita mencoba mengurai makna?

 

Disini, saat aku tenggelam dalam kesendirian

Merpati jiwaku terbang menembus awan

Tetapi jawaban, entah dimana masih tersimpan

 

Yang kudapati hanya

Sebuah jiwa yang teramat lelah

Dan ingin bersandar

ND453


 

Move On - Move Forward 


Ini sedikit opini bagi yang yang sedang patah hati.

Menurut beberapa kamus on-line, move on artinya meninggalkan sesuatu/seseorang yang kau miliki sekarang atau yang baru saja kau lepas/berpisah darinya. Kalau fisik, move on itu mau ke samping, kiri atau kanan, atau ke depan, terserah saja. Pokoknya jangan diam menetap di tempat yang sama (secara fisik) atau terjebak di masa lalu (psikis).  Kamu harus bergeser, beranjak dari posisi sebelumnya ke posisi yang baru. Stressing-nya lebih ke "tinggalkan masa lalu". 

Move forward, tentu maksudnya adalah bergerak maju (fisik) atau menuju ke sesuatu yang lebih baik (better off), dalam arti ekonomi-kesejahteraan atau posisi sosial-politik. Stressing-nya lebih ke "gapailah kemajuan". 

Apakah berarti, untuk bisa move forward kita harus bisa move on
Saya kira iya. Terutama bila "kemajuan" itu dimaknai sebagai sesuatu yang lebih "modern", atau lebih "beradab", maka nilai-nilai, kebiasaan, dan perilaku lama yang menghambat tercapainya kemajuan haruslah ditinggalkan. Harus move on.

Apakah semua yang move on secara pasti juga berarti move forward? Saya kira tidak juga, atau tidak selalu begitu. Kita bisa saja meninggalkan masa lalu, masuk ke sesuatu yang kita kira baru dan berbeda, tapi kemudian kita sadar ternyata sama saja dengan sebelumnya. "Keluar dari mulut singa, masuk ke mulut buaya" adalah peribahasa yang tepat menggambarkan hal itu.  

Jadi daripada sekedar move on, menurut saya lebih baik kita move forward. 

Bila ditinggal kekasih, segeralah move forward, bukan sekedar move on. Artinya, carilah yang lebih baik. Tentu dimulai dengan memperbaiki diri sendiri dulu, supaya bisa mendapatkan pengganti yang lebih baik. Perbaikan bisa dari sisi inner space (kematangan jiwa, spritualitas, ambil hikmah dari kegagalan sebelumnya). Lengkapi dengan perbaikan dari sisi "outer-space" (kelayakan penampilan, dari ujung rambut, wajah lebih ramah, gigi-kuku jari lebih bersih, lebih wangi). Terakhir, terutama untuk lelaki, kalau bisa juga dari sisi "in between-space", yaitu aspek kecukupan materi. Karena pedekate atau ngedate jaman sekarang, terutama di kota besar, perlu modal juga kan?

Selamat move forward!    

Pengakuan

Mungkin 

Melasti, 

Jimbaran,

Badung 

dan Bali 

Serta engkau 

Negeri yang teramat indah dikunjungi,


tapi tetap saja,

padaku telah ada dia, 

yang hadirnya seumpama rumah,

ruang  dimana aku, 

akan selalu merindukan pulang


(Ujung harapan, 220222 )

@tetehnumaketiung

Bali dan G20

 Catatan Perjalanan

BALI dan G20

 

Deru roda pesawat perlahan berhenti. “…para penumpang yang terhormat, saat ini kita telah mendarat di Bandara Ngurah Rai….suara renyah seorang petugas maskapai melalui microphone pesawat, terdengar berkumandang.

Alhamdulillah, syukurku dalam hati, sepanjang penerbangan tadi, cuma satu yang kuharapkan yaitu pesawat yang kami tumpangi cepat mendarat di bandara tujuan. “Udah sampe, De,” ujarku pada si bungsu yang menemani perjalananku kali ini.

Setelah mengikuti prosedur yang ada, langsung saja kami bergegas keluar menuju mobil yang sudah kami sewa. Sopirnya, orang Bali asli, Bli Wayan, dengan sigap memasukkan koper ke dalam bagasi dan siap mengantar kami ke penginapan. Aku sangat menikmati sepanjang perjalanan, terbersit perasaan senang dalam hatiku, mengingat sudah lama aku tak menginjak tanah ini. 

Tanah Bali yang cantik dan menyenangkan.

“Kesini dalam rangka apa, Bu?” tanya Bli Wayan membuka percakapan.

“Berlibur saja, Bli, sedang cuti beberapa hari, lumayan buat refreshing” jawabku,

Bli Wayan mengangguk, “Gimana Bli situasi disini, apakah sudah aman?” tanyaku melanjutkan percakapan,

“Yah, sekarang sudah mulai rame sedikit, Bu. Banyak rombongan dari kantor yang datang ke Bali. Ada juga rombongan pejabat atau delegasi yang datang,  tidak seperti sebelumnya, waktu masih PSBB, sepi.. Bu,” suara Bli Wayan terdengar berat.

“Oh iya Bli,” kataku sambil melihat sisi kanan kiri bandara dengan spanduk G20 yang berkibar-kibar, megah.

“Bagaimana ya Bu, Bali ini sangat tergantung sekali pada pariwisata, jadi kalau seperti ini terus, terasa sekali imbasnya pada kami, coba Ibu lihat sekarang ini di jalan sudah mulai ramai, kalau sebelumnya sepi sekali Bu, semoga saja Bali bisa kembali ramai dikunjungi wisatawan” ucapnya lagi.

Aku mengiyakan kata-kata Bli Wayan, dan mengingat kembali agenda Indonesia sebagai presidensi G20 periode ini. Delegasi dari 19 negara dan Uni Eropa hadir  untuk membahas berbagai masalah finansial dan yang lebih luas dari itu, dan mencari solusinya bersama-sama. Nuansa presidensi G20 ini sudah mulai terasa, sejak di bandara yang dipenuhi pernak-pernik publikasi sampai jalan-jalan di Bali. Dalam hati aku merasakan juga kebanggaan negeriku bisa terpilih menjadi tuan rumah perhelatan dunia, dengan 20.988 delegasinya akan mengunjungi beberapa kota di Indonesia termasuk Bali, dan tak lupa mengaminkan juga ucapan Bli Wayan yang mencerminkan harapan paling tidak sebagian masyarakat Bali.

Dan setelah beberapa hari… kami kembali lagi dalam kabin pesawat yang mengudara meninggalkan tanah Bali di kejauhan..

Aku teringat lagi pertemuan dengan mbok-mbok di pantai Kuta yang berebut menawarkan memijat bahu, kaki, dan mengoles kuku, trenyuh pada sinar mata yang mengiringi percakapan dan terngiang kalimat lugu mereka "kalo gak ada yang ke Bali lagi, bagaimana ya, padahal kami perlu ke dapur.. “

Dan... terasa agak melegakan hati untuk bisa sedikit saja membesarkan hati mereka dengan berkata bahwa dengan adanya program vaksinasi dan penurunan level PPKM, insyaAllah, Bali akan kembali meriah apalagi dengan terpilihnya Indonesia untuk presidensi G20 dan rencana penyelenggaraan KTT G20 yang akan dilaksanakan di Bali, semoga bisa menjadi sebuah oase yang menyejukkan di tengah gigihnya perjuangan melawan pandemi, dan berhasil menarik kembali para wisatawan kesana.

Dari sisi jendela pesawat, disamping awan putih yang melayang tanpa beban, terucap lirih “recover together, recover stronger, semoga dapat segera terwujud”. Go Bali, Go Indonesia.

 

 

CINTA RUBI

Malam itu, Pukul 20.30

 

“You want me to stay here this night?”

Rubi menatap laki-laki itu dalam, tersenyum, lalu menggeleng dan menjawab,”No, you gotta go home”. 

 

Laki-laki itu membelai wajahnya lembut, mengecup keningnya sebelum kemudian merengkuh tubuh mungilnya. Pelukan hangat itu tidak pernah bisa Rubi lupakan. 

 

Sisa hujan malam itu terasa amat dingin. Sosok laki-laki itu sudah menghilang ditelan tangga yang menuju lantai dasar kamar kost-nya. Namun Rubi masih mematung, berharap laki-laki itu menghentikan langkahnya dan kembali. Lalu, Rubi mendengar suara deru mesin kendaraan yang semakin menjauh dan menghilang. Dia menarik nafas dalam, beranjak membuka pintu kamar lalu bersandar pada dinding yang sejuk. 

 

Sepengingat Rubi, ini adalah bulan ke 5 dia menjalani hari-harinya bersama laki-laki itu. Semakin hari, Rubi merasakan rasa cinta yang semakin luar biasa. Namun Rubi sadar, dia tidak akan pernah bisa memiliki laki-laki itu seutuhnya. Rubi sudah berusaha berkali-kali menguatkan hatinya, meyakinkan perasaannya bahwa hubungan mereka tidak baik-baik saja. Namun mimpi yang laki-laki itu bagikan dan hayal yang dia angankan selalu jauh lebih besar dari rasa takut akan kehilangan laki-laki itu suatu saat nanti. 

 

Rubi gamang. Kebahagiaan yang baru saja dia rasakan bersama laki-laki itu berganti dengan rasa yang dia sendiri tidak dapat uraikan. Rubi bergegas membersihkan diri, tidur menjadi jalan keluar terbaik untuk melarikan apa yang ada dalam pikirannya saat ini. 

 

Rubi baru akan memejamkan mata ketika dia mendengar ketukan halus di pintu. Dia melirik ke jam dinding sejenak, pukul 21.20. “Mba Mini ya?”, dia bertanya sambil berjalan menuju pintu. Cuma mba Mini, penjaga kost yang suka mengetuk pintu malam-malam sekedar mengantarkan pakaian dari laundry atau menawarkannya makanan. 

 

“Hey, It’s too late to say good bye!”, laki-laki itu tersenyum. Rubi terpana sejenak lalu memeluknya erat. 

 

Azan shubuh baru saja terdengar, Rubi membangunkan laki-laki itu pelan, lalu berbisik: “It’s time to go home”. Sedikit tergesa laki-laki itu merapihkan pakaiannya, lalu menatap Rubi dalam. “I’m sorry. I can’t stay any longer. Kamu istirahat ya, kalo mau jalan, gak papa jalan aja, ntr kalo bisa, aku pasti telp.”

 

Rubi mengangguk, tersenyum. Kali ini, dia menguatkan dirinya bahwa laki-laki itu telah dinanti oleh orang-orang yang juga mencintainya. Dia mengecup pipi laki-laki itu lembut lalu berbisik, “Thank you, for being here, and for all”. Laki-laki itu memeluknya hangat lalu menatapnya dengan penuh rasa sayang, “I’m gonna miss you soon”. 

 

Rubi melepas laki-laki itu dalam kesejukan pagi yang masih menyisakan dingin, sedingin hatinya. 

 

**There were nights of endless pleasure,

It was more than any law allows,

 

Baby,

 

If I kiss you like this,

And if you whisper like that,

It was lost long ago,

But it’s all coming back to me now

 

If you touch me like this,

And if I kiss you like that,

It was gone with the wind,

But it’s all coming back to me now 

 

 

**It's all coming back to me now, Celine Dion

Kalau ....masih manusia biasa



kalau pemimpinmu,

masih manusia biasa,

mereka, 

bisa saja salah

bisa saja  lupa


kalau bawahanmu,

masih manusia biasa

mereka, 

bisa saja salah

bisa saja  lupa


kalau temanmu 

masih manusia biasa

mereka, 

bisa saja salah

bisa saja  lupa


kalau dirimu

masih manusia biasa


dirimu, 

bisa saja salah

bisa saja  lupa


kenapa kepada dirimu, sendiri

kau begitu maklum

kau begitu pemaaf

sedang kepada yang lain tidak?


(21012022)

mungkin kita telah lupa

 (kado perpisahan untuk sahabat yang berangkat

 Teh Ika, Mas Aran, Mas Idub, Mas Bagyo dan Mbok Merrin)


mungkin kita  telah lupa,

bagaimana cara  kita

pertama berjumpa


mungkin saja waktu itu, 

duhai Ika  teman perempuanku

aku  salah satu yang terpaku

melihatmu memasuki pintu 

dengan wajah  ayu dan tersipu malu

dan menghampiri pegawai satu persatu

sambil mengeja pelan namamu

Ika kartikawati  dari warung jambu


mungkin saja waktu itu

duhai kawan aran

aku orang yang penasaran

tentang siapa kah kau pemilik  

 wajah yang menebarkan  

aura persahabatan,

senyum dan wajah nan  tampan 

yang tak lekang oleh zaman,

hingga terjawab ketika kau mengulurkan tangan

sambil menyebut namamu Aran


mungkin saja waktu itu ,

wahai mas budi dan mas bagyo

lelaki rendah  hati dalam banyaknya ilmu

aku salah satu yang ragu

untuk memulai menyapa dulu,

takut membuatmu merasa terganggu

oleh semua tingkah lakuku

dan baru mulai bersapa setelah berminggu minggu,

dan menjadi tahu

mas bagyo dan Mas Idub namamu


mungkin saja waktu itu,

wahai Mpok Merrin kawan mainku

orang orang melihatmu cewek pemalu 

hingga akhirnya semua tahu

kau penari hebat saat diputarkan lagu melayu

dan semua sepakat dangdut adalah nama tengahmu


mungkin aku telah lupa,

bagaimana cara kita pertama berjumpa,

tapi kita pasti sepakat bahwa kita tak lupa 

waktu waktu selanjutnya memyatukan kita seumpama keluarga

bekerja bahu membahu bersama,

makan, minum, bercanda tawa bersama

atau terdiam menunggu senja 

saat dimana kita akan pulang ke keluarga sebenarnya


kita pasti sepakat,

masa telah mematangkan rasa

hingga seolah

sakit ku adalah sakit mu

sakit mu adalah sakit ku

senang mu, senamg ku

senang ku, senang mu

meski gajimu tetap gajimu

dan gajiku tetap gajiku


seperti keluarga lain,

kadang kita pun  menjalani hubungan yang lucu,

dekat berseteru,

tapi saat jauh merindu


kawan kawan,

kita akhirnya tiba pada kenyataan,

hidup tak selalu seperti yang kita inginkan, 

kerelaan atau ketidak relaan tidak pernah menganulir keputusan,

kita hanyalah bidak yang dimainkan menuju tujuan, 

tak tertolak, tak juga tertahan


selamat jalan, kawan

mungkin kita akan bertemu entah kapan,


kalau hidup memberi jeda,

kita akan berbincang untuk  mencoba mengingat 

apa yang hari ini telah kita lupa


(Sutikno Slamet, 14 Jan 2022)