Postingan

Menampilkan postingan dengan label Zoen

Terungkap, Siapa Bang Bujet Sebenarnya

Gambar
"Bang Bujet ini siapa sih?" Jika muncul pertanyaan seperti ini, penulis selalu menghindar, paling banter tersenyum. "Alah...pasti kamu!" Tuduhan teman atau rekan ini tidak penulis iyakan atau tolak. Untuk diketahui, Bang Bujet merupakan tokoh utama dalam serial kartun strip berjudul Bang Bujet & Pren di majalah Warta Anggaran, terbitan Ditjen Anggaran, antara tahun 2009-2015. Kartun strip ini selalu menghiasi halaman paling belakang dari majalah tersebut. Keberadaan kartun strip pada dasarnya adalah untuk menertawakan diri sendiri. Menurut orang bijak, orang yang bisa menertawakan diri sendiri itu maqom -nya sangat tinggi dari sisi keluasan jiwanya. Dunia memang tidak sempurna. Kartun strip ini penulis buat berdasarkan pengalamana nyata maupun ide-ide liar yang tidak mungkin dibuatkan dalam bentuk tulis. Pengalaman tersebut tidak selamanya dari pengalaman pribadi tapi bisa juga berasal dari kejadian yang menimpa rekan atau teman. Tema yang diceritakan me...

Tulisan dengan Kekuatan Emosi Memang Bedampak ke Hati

Baru-baru ini saya meminjam dua buku dari perpustakaan DJA. Ke-dua buku ini memiliki judul yang memikat saya. Jadilah buku tersebut menjadi sasaran baca kegiatan harian. Pertama, buku Cahyo Satria Wijaya, terbitan tahun 2017, berjudul Kalo Sensi Jangan Baca Buku Ini. Buku kedua pasti sudah banyak yang membacanya: Chicken Soup for The Soul: Kekuatan Berpikir Positif, 101 Kisah Inspiratif tentang Mengubah Hidup dengan Berpikir Posisitif , terbitan Gramedia Pustaka Utama, cetakan sembilan tahun 2016.     Kedua buku tersebut mempunyai dampak ke hati yang berbeda. Buku serial Chicken Soup for The Soul , terasa lebih memikat dan kena di hati saya. Ada beberapa tulisan yang menyentuh emosi terharu dan membuka cakrawala berpikir yang berbeda. Terpikir dalam hati, “Orang ternyata bisa mengubah kehidupannya karena hal remeh-temeh begitu ....” Sementara, bukunya Cahyo Satria hanya terasa sebagai suatu informasi semata. Di sana, tidak terlibat emosi benci, emosi senang, atau emosi...

Anjrit Goyangannya

“Ayo Yah, kami udah siap,” ajak anak kedua saya beserta keponakan untuk segera pergi ke kolam renang. “Ok,” saya beranjak dari sofa sambil menutup buku dan mengeluarkan motor matic . Berangkatlah kami bertiga mengendarai motor matic ke kolam renang di dekat perumahan. Hari Minggu, pas libur, dan ada keponakan lagi ber main ke rumah, jadilah acara berenang bersama. Lebih tepatnya, yang berenang hanya anak saya dan keponakan saja. Saya tidak ikut berenang, hanya sebagai bendahara dan tukang jaga perlengkapan mereka. Tugas bendahara membelikan tiket masuk dan siap-siap memberi uang buat jajan mereka di area kolam renang. Sebagai tukang jaga, saya harus menjaga barang bawaan mulai dari: pakaian, sendal, baju ganti, handuk, sabun, dan barang kecil lainnya. Mungkin ada yang bertanya, “Mengapa   tidak ikut nyebur berenang?” Malas saudara-saudara, kayaknya begitu jawaban saya. Mendingan, saya meneruskan aktifitas yang sempat terpotong di rumah tadi: baca buku sambil m...

Cok Analisis

Mungkin Anda menebak-nebak, sejenis analisis apa ini. Tenang, tulisan ini bukan mencoba menerangkan cara melakukan analisis yang menggunakan perhitungan canggih dan rumit . Saya jamin tulisan ini   tidak membuat kepala Anda pusing , bahkan tidak bikin ndas pecah . Tulisan ini cuman cerita proses mengapa analisis tersebut dinamakan Cok Analisis.  Ceritanya, Mas To yang mempunyai jabatan kepala seksi diminta pimpinannya untuk membuat analisis mengenai kondisi belanja pada beberapa tahun terakhir. Arahannya, coba buat analisis kondisi belanja terkini dan alternatif kebijakan untuk dijadikan pegangan pimpinan dalam pembuatan keputusan.  “Baik,” dengan sigap Mas To menyanggupi tugas tersebut. Ini tipikal Mas To yang tertib untuk melaksanakan arahan pimpinan. Meskipun Mas To berasal dari Jawa Timur, orangnya kalem. Agak berbeda dengan tipikal orang Jawa Timur pada umumnya yang ekspresif. Mas To secara struktual didesain sebagai orang tertib. Mendapat arahan, ia deng...

Jangan Disatukan Si Pintar dan Si Bodoh

Saya baru memahami mengapa negara-negara maju semakin maju saja dan negari miskin semakin terpuruk. Itu kesimpulan dari pemahaman saya setelah membaca teori yang dikemukakan Maskin. Sebenarnya tulisan ini merupakan rangkuman dari tajuk tokoh di harian Kompas , Jumat, 20 Januari 2017. Judulnya sudah lupa tetapi berkisah mengenai Teori Desain Mekanisme yang dikemukakan Eric Stark Maskin, peraih Nobel bidang Ekonomi 2007. Dalam skala negara, perbedaan negara maju dan negara miskin adalah dari sisi produktivitasnya. Ukuran produktivitas dalam makroekonomi adalah pertumbuhan ekonomi. Mudah-mudahan masih ingat dengan rumus yang paling diingat oleh orang ekonomi   Y = I + C + G + (X-M). Teori maskin tidak menjelaskan soal ini tetapi ada kaitannya secara tidak langsung. Untuk menghasilkan ‘Y’ atau pendapatan nasional tersebut, faktor yang sangat menentukan adalah produktivitas orang atau masyarkatnya (logis). Maskin mengemukakan bahwa kesenjangan, baik secara ekonomi maupun sos...