Tampilkan postingan dengan label Zoen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Zoen. Tampilkan semua postingan

Terungkap, Siapa Bang Bujet Sebenarnya

"Bang Bujet ini siapa sih?" Jika muncul pertanyaan seperti ini, penulis selalu menghindar, paling banter tersenyum. "Alah...pasti kamu!" Tuduhan teman atau rekan ini tidak penulis iyakan atau tolak.
Untuk diketahui, Bang Bujet merupakan tokoh utama dalam serial kartun strip berjudul Bang Bujet & Pren di majalah Warta Anggaran, terbitan Ditjen Anggaran, antara tahun 2009-2015. Kartun strip ini selalu menghiasi halaman paling belakang dari majalah tersebut. Keberadaan kartun strip pada dasarnya adalah untuk menertawakan diri sendiri. Menurut orang bijak, orang yang bisa menertawakan diri sendiri itu maqom-nya sangat tinggi dari sisi keluasan jiwanya. Dunia memang tidak sempurna.

Kartun strip ini penulis buat berdasarkan pengalamana nyata maupun ide-ide liar yang tidak mungkin dibuatkan dalam bentuk tulis. Pengalaman tersebut tidak selamanya dari pengalaman pribadi tapi bisa juga berasal dari kejadian yang menimpa rekan atau teman. Tema yang diceritakan mencakup kehidupan sehari-hari PNS yang bergelut di bidang penganggaran. Ada yang berkaitan dengan penerapan konsep penganggaran dan cara menyikapinya. Ada juga yang berkaitan dengan permasalahan sehari-hari seperti mengejar absensi. Bahkan ada juga yang menceritakan suka-duka hubungan atasan dan bawahan. Tentu saja, tulisan ini tidak akan mengulas mengenai apa saja yang telah diceritakan tetapi bercerita mengenai bagaimana awal mula serial kartun tersebut terbit.
Melongok lorong waktu kalau bisa, cerita Bang Bujet & Pren masih menyisakan pertanyaan: mewakili karakter siapa saja gambar kartun tersebut. Mungkin tidak banyak yang mengenal Bang Bujet apabila tidak membaca majalah Warta Anggaran. Namun sabar sebentar, sebelum membahas karakater kartun Bang Bujet, perlu saya menceritakan mengenai situasi-kondisi pada saat itu. Karakter ini (menurut saya) sangat pas muncul sesuai dengan masa DJA pada saat itu (2008).
Munculnya Bang Bujet anggaran tidak terlepas dari berdirinya Direktorat sistem penganggaran di penghujung tahun 2007. Direktorat ini mempunyai Tusi yang mengatur mengenai sistem penganggaran, mulai dari pendapatan Negara, belanja negara, dan pembiayaan anggaran (cita-citanya). Fakta yang ada sekarang, Direktorat sistem penganggaran hanya mengatur mengenai anggaran belanja pemerintah pusat saja: meliputi anggaran kementerian negara/lembaga dan bagian anggaran bendaharawan umum negara (BA BUN). Sedangkan mengenai pendapatan (khususnya PNBP) belum dijamah. Begitu juga mengenai pembiayaan anggaran.
Kebetulan penulis merupakan salah satu generasi pertama yang ikut mengisi Direktorat Sistem Penganggaran, khususnya Subdit Sistem Penganggaran di awal berdirinya. Karena direktorat baru, semuanya tugas dikerjakan secara keroyokan antarsubdirektorat. Semuanya pekerjaan selalu dikoordinasikan. Wajar, apa yang dilakukan oleh Subdit Sistem Penganggaran akan menjadi awal pekerjaan subdirektorat lainnya (Subdit Standar Biaya, Subdit Evaluasi Kinerja Penganggaran, dan Subdit Teknologi Informasi Penganggaran). Karena pada masa itu, isu-isu yang dikerjakan oleh Direktorat Sistem Penganggaran merupakan hal baru. Oleh karena itu, semua pegawai di dalamnya ikut terlibat dalam diskusi dan mengetahui isu-isu permasalahan penganggaran.
Begitu banyak permasalahan yang harus diatur oleh sistem penganggaran memicu ide untuk membuat persoalan serius tersebut menjadi lebih cair. Yang jelas tidak melalui tulisan karena bisa menimbulkan pro-kontra tetapi melalui media gambar kartun. Kebetulan penulis menyukai dunia gambar-menggambar, termasuk kartun. Sedikit info, bukan untuk sombong, tapi bolehlah  sedikit narsis, penulis pernah aktif ngartun dari tahun 1993 sampai dengan akhir 1995. Kartun paling fenomenal yang pernah dibuat penulis dimuat di Tabloid Bola.
Nah, ide ngartun sudah ada. Pertanyaan berikutnya adalah siapa tokoh dan bagaimana karakter kartun tersebut. Untuk diketahui, kartun strip yang biasa penulis kirim ke media massa tidak perlu nama maupun karakter. Asal ada ceritanya dan akhirnya lucu, itu sudah cukup. Dalam konteks Bang Bujet ini, penulis menemukan pada sosok karakter tidak jauh, lebih tepatnya di samping kanan dan kiri meja penulis.
Saya memperhatikan kawan di samping kanan-kiri mempunyai karakter unik dan menarik. Di samping kiri meja penulis, duduk seorang rekan yang mempunyai visi mengatur sistem penganggaran sangat jauh, ngedab-ngedabi. DJA merupakan institusi yang mengatur penganggaran pemerintah tidak hanya di pusat tetapi daerah, itulah visi dan pandangannya mengenai DJA. Sementara itu, rekan yang duduk di sebelah kanan mempunyai kemampuan tidak kalah saktinya. Beliau mempunyai kemampuan menjelaskan anggaran pemerintah secara makro dan ekonomi global. Dan kemampuannya ini diimbangi dengan humor joroknya. Pokoknya unik, pas mantab.
Nama rekan yang duduk di samping kiri tersebut adalah Walidi almarhum. Terakhir jabatannya adalah Kepala Seksi Riset Standar Biaya. Wajah dan penampilannya sederhana tetapi pemikirannya tidak sesederhana casing-nya. Pikirannya bisa melenting 2-3 tombak ke depan (meminjam kalimat pengarang Khopingho dalam cerita silatnya). Salah satu pemikiran yang masih dikenang penulis adalah sistem penganggaran utuh diatur oleh DJA (meliputi pendapatan negara, belanja Negara, dan pembiayaan anggaran) mencakup pusat dan daerah. Jadi, DJA c.q. Direktorat Sistem Penganggaran tidak hanya fokus mengatur anggaran belanja pemerintah pusat saja. Mungkin suatu saat akan terwujud ide ini.
Benar, Mas Walidi, panggilan akrab penulis, merupakan penggambaran karakter Bang Bujet sebenarnya. Dalam penggambaran sosok atau karakter Bang Bujet, mungkin saja ada ketidakcocokan atau malah bertentangan dengan gambaran bagi yang melihat dan membaca kartun strip tersebut dengan pribadi Mas Walidi yang aseli. Jadi dalam tulisan ini, saya meminta maaf karena ini adalah perspektif atau sudut pandang penulis dan menjadikannya sebagai karakter dalam kartun strip.
Dalan kartun strip tersebut, Bang Bujet merupakan tokoh utama. Sebagai tokoh utama, Bang Bujet selalu ditemani oleh sahabatnya yang dipanggil Pren (diambil dari kata friend tapi di-Indonesia-kan). Penulis tidak akan mengutarakan secara jelas, karakter Pren ini. Pembaca boleh menebak dari karakter maupun dari gambarnya. Biarlah itu menjadi rahasia penulis. Mungkin ada yang menuduh penulis, “Paling penulis khawatir dimintai royalty.” He..he..pikir sendiri.  
Tulisan ini adalah pertanggungjawaban moral pembuat karikatur Bang Bujet & Pren yang tiba-tiba menghilang bak ditelan bumi. Juga, tulisan ini merupakan kenangan kepada Mas Walidi almarhum, semoga dedikasinya untuk DJA mendapat tempat yang semestinya. Selamat jalan Mas Walidi. Tidak seperti film-film Hollywood atau novel thriller yang diakhir cerintanya ada tulisan to be continued alias bersambung, penulis pastikan bahwa Bang Bujet & Pren tidak akan muncul lagi.
Catatan:

  • Ngedab-ngedabi  (bahasa Jawa) = kemampuannya di atas rata-rata, sakti
  •  Maqom (bahasa Arab) = tempt kedudukan
  • Tulisan ini untuk mengenang Mas Walidi almarhum sebagai rekan yang asyik diajak berdiskusi.

Tulisan dengan Kekuatan Emosi Memang Bedampak ke Hati

Baru-baru ini saya meminjam dua buku dari perpustakaan DJA. Ke-dua buku ini memiliki judul yang memikat saya. Jadilah buku tersebut menjadi sasaran baca kegiatan harian. Pertama, buku Cahyo Satria Wijaya, terbitan tahun 2017, berjudul Kalo Sensi Jangan Baca Buku Ini. Buku kedua pasti sudah banyak yang membacanya: Chicken Soup for The Soul: Kekuatan Berpikir Positif, 101 Kisah Inspiratif tentang Mengubah Hidup dengan Berpikir Posisitif, terbitan Gramedia Pustaka Utama, cetakan sembilan tahun 2016.
  
Kedua buku tersebut mempunyai dampak ke hati yang berbeda. Buku serial Chicken Soup for The Soul, terasa lebih memikat dan kena di hati saya. Ada beberapa tulisan yang menyentuh emosi terharu dan membuka cakrawala berpikir yang berbeda. Terpikir dalam hati, “Orang ternyata bisa mengubah kehidupannya karena hal remeh-temeh begitu ....”

Sementara, bukunya Cahyo Satria hanya terasa sebagai suatu informasi semata. Di sana, tidak terlibat emosi benci, emosi senang, atau emosi tersentuh lainnya. Padahal yang disampaikan oleh Mas Cahyo ini tidak berbeda dengan serial Chicken Soup for The Soul di atas, yaitu pengalaman sehari-hari yang umum kita jumpai.

Saya menyadari bahwa tiap orang mempunyai pengalaman berbeda setelah membaca suatu buku. Nah, ini pengalaman saya setelah membaca kedua buku tersebut. Agar rekan-rekan bisa berimajinasi perbedaan keduanya, berikut ini saya kutipkan sebagian kecil tulisannya di bawah ini. Paragraf pertama berasal dari bukunya Mas Cahyo dan yang kedua berasal dari serial Chicken Soup for The Soul.

Ketika posisi di atas, ia bisa jadi lupa bahwa dulu orang-orang juga membantunya. Dan berada dalam posisi di atas akan mudah dilihat orang, dan tentunya segala tindak tanduk kita pasti diperhatikan orang. Perilaku orang yang melupakan ketika posisi di bawah sama seperti pepatah kacang lupa kulitanya (Cahyo Satria Wijaya, Kalo Sensi Jangan Baca Buku Ini, Subbagian Melihat ke Bawah Saat di Atas).

Susah sekali bagiku untuk menemukan hal-hal positif disekitarku. Namun, aku membulatkan tekadku , aku mulai melihat beberapa hal. Seorang anak yang teresenyum dalam gendongan ibunya. Ya, itu juga termasuk. Seseorang lelaki mengenakan setelan resmi membeli balon dari pedangan kali lima dan memberikannya kepada seorang pengemis. .... (Chicken Soup for The Soul: Dari Merana ke Penuh Makna, tulisan Rita Bosel).

Rekan-rekan boleh tidak sependapat soal ini. Namun, saya mempunyai kesimpulan sendiri setelah memilihnya dari sekian buku yang ada dan membaca tuntas buku-buku tersebut. Kesimpulannya, buku menjadi berdaya jual apabila memikat dari judulnya dan cara penyampaiannya. Jadi kepingin membuat buku sendiri (#cita-cita mode on). 

Anjrit Goyangannya


“Ayo Yah, kami udah siap,” ajak anak kedua saya beserta keponakan untuk segera pergi ke kolam renang.

“Ok,” saya beranjak dari sofa sambil menutup buku dan mengeluarkan motor matic.

Berangkatlah kami bertiga mengendarai motor matic ke kolam renang di dekat perumahan. Hari Minggu, pas libur, dan ada keponakan lagi bermain ke rumah, jadilah acara berenang bersama.

Lebih tepatnya, yang berenang hanya anak saya dan keponakan saja. Saya tidak ikut berenang, hanya sebagai bendahara dan tukang jaga perlengkapan mereka. Tugas bendahara membelikan tiket masuk dan siap-siap memberi uang buat jajan mereka di area kolam renang. Sebagai tukang jaga, saya harus menjaga barang bawaan mulai dari: pakaian, sendal, baju ganti, handuk, sabun, dan barang kecil lainnya.

Mungkin ada yang bertanya, “Mengapa  tidak ikut nyebur berenang?”
Malas saudara-saudara, kayaknya begitu jawaban saya. Mendingan, saya meneruskan aktifitas yang sempat terpotong di rumah tadi: baca buku sambil mengopi dan merokok. Cuman perbedaannya adalah suasanya: kolam renang.

Pas masuk area kolam renang, kami bertiga disambut oleh suara orang lagi mengetes suara, “Tes... satu... satu... satu”. Anggapan saya, mungkin petugas kolam renang bersiap mengumumkan sesuatu kepada para pengunjung.

Setelah anak dan keponakan saya mencebur ke kolam renang, saya mencari tempat semedi, suatu tempat yang nyaman buat baca buku, mengopi, dan merokok. Tepatnya, tempat semedi saya berada di seberang petugas yang sedang melakukan tes suara itu dan dibatasi kolam renang. Sebenarnya, semedi saya agak terganggu dengan suara-suara yang tidak jelas: “Cek-cek ... tes satu satu satu.” Dan itu dilakukannya berulang kali. Andai bukan kolam renang, mungkin sudah ada orang yang memarahi, misuhi, atau melempar sandal kepadanya. Berisik. Untungnya, orang-orang atau pengunjung lebih berkonsentrasi hanya untuk mereguk suasana kebersamaan dengan anak atau keluarganya sehingga tidak terganggu olehnya.

“Selamat pagi kepada para pengunjung kolam renang, kami akan menghibur Bapak-Ibu karyawan pabrik di seputaran Bekasi. Muda-mudahan  sajian kami berkenan dan menyemarakkan hari libur bapak-ibu sekalian.” Dan grup organ tunggal tadi beraksi.

Anjrit, ternyata perkiraan saya salah. Mas-mas yang mengetes suara tadi ternyata MC dari grup organ tunggal. Saya sedikit terkejut karena baru pertama kali melihat pertunjukan seperti ini. Mungkin saya kurang pergaulan, ternyata ada juga pertunjukan organ tunggal di kolam renang di daerah lain menurut Agung, teman saya. Dia pernah melihatnya di daerah Bogor. Bedanya di sana, ada panggung khusus untuk awak organ tunggal tersebut. Dan di depan panggung, ada cukup arena untuk joged. Tapi di kolam renang ini, tidak ada panggung spesial dan 3 meter di depannya sudah terhampar kolam renang.

Anjrit yang kedua kali aku nyatakan karena grup organ tunggal ini menyasar pengunjung dari golongan karyawan pabrik. Mungkin, perkiraannya daerah Bekasi ada banyak pabrik. Saya yang PNS pun dikelompokkannya sebagai karyawan pabrik.

Menurut saya, pilihan kata karyawan pabrik sebenarnya penghalusan dari buruh pabrik. Namun ini bukan pengertian sesungguhnya atau denotasi tapi sudah bergeser menjadi pengertian konotasi. Nilai rasa kata ‘buruh pabrik’ inilah yang sedikit bermasalah dengan harga diri saya sebagai PNS. Dulu pada masa Orba, kata buruh pabrik berkonotasi negatif, bernilai rasa agak rendah, sebagai penggambaran kelompok masyarakat yang bekerja di pabrik dengan gaji sebatas UMR dan hidup di rumah petakan. Meskipun zaman sudah berubah dan tingkat kemakmuran buruh pabrik tidak kalah dengan karyawan kantoran, nilai rasa ini masih tertinggal.

Anjrit yang ketiga kali aku nyatakan karena rasa salut atas strategi pengelola kolam renang untuk menyenangkan pengunjung setianya yang dibayangkan adalah karyawan pabrik. Saya menggunakan kata diperkirakan karena saya bukan karyawan pabrik tapi PNS. Namun jujur, saya terhibur oleh keprofesionalan mereka menyajikan nyanyian bermazhab dangdut tersebut.

Artisnya berpenampilan sopan, tidak seksi apalagi seronok, di pagi hari itu. Jauhlah dari gambaran artis orkes dangdut yang ada di youtube semacam Uut Selly, Lia Capucino, atau Rita Ratu Tawon.  Apalagi Mas MC tadi ternyata berfungsi juga sebagai penyanyi latar. Ia bergoyang dengan kesungguhan artistik seperti Doyok yang lagi bergoyang mengiringi Evie Tamala menyanyikan lagu Selamat Malam. Sungguh natural.

Anjrit berikutnya, saya ungkapkan untuk mengapresiasi pengelola kolam untuk mendapatkan keuntungan, hitung-hitungannya jelas. Apabila pengunjung senang dan menjadi pelanggan setia kolam renang akan berdampak langsung pada pemasukan kolam renang. Coba bayangkan, tiket satu orang Rp30 ribu. Bila pada hari Minggu ada 500 keluarga karyawan pabrik yang terdiri dari 3 orang berkunjung ke kolam renang tersebut. Artinya, omset pada hari itu adalah 500 x 3 x 30.000 = 45 juta. Belum lagi dari sisi keuntungan jualan cemilan dan minuman sebagai sampingannya. Perkiraan saya, omset hari itu sekitar Rp 50 juta-an. Kalaupun, pengelola kolam renang membayar grup organ tunggal Rp5 juta, sisanya masih Rp45 juta.

Anjrit terakhir benar-benar terucap dari mulut saya karena anak dan keponakan sudah meminta pulang dalam keadaan saya masih ‘on’ menyimak pertunjukan aksi organ tunggal ini. Saya juga belum menyelesaikan bacaan buku yang saya bawa. Padahal besok Seninnya, masa berlaku peminjaman buku sudah berakhir.

Cok Analisis


Mungkin Anda menebak-nebak, sejenis analisis apa ini. Tenang, tulisan ini bukan mencoba menerangkan cara melakukan analisis yang menggunakan perhitungan canggih dan rumit. Saya jamin tulisan ini  tidak membuat kepala Anda pusing, bahkan tidak bikin ndas pecah. Tulisan ini cuman cerita proses mengapa analisis tersebut dinamakan Cok Analisis. 

Ceritanya, Mas To yang mempunyai jabatan kepala seksi diminta pimpinannya untuk membuat analisis mengenai kondisi belanja pada beberapa tahun terakhir. Arahannya, coba buat analisis kondisi belanja terkini dan alternatif kebijakan untuk dijadikan pegangan pimpinan dalam pembuatan keputusan. 

“Baik,” dengan sigap Mas To menyanggupi tugas tersebut. Ini tipikal Mas To yang tertib untuk melaksanakan arahan pimpinan. Meskipun Mas To berasal dari Jawa Timur, orangnya kalem. Agak berbeda dengan tipikal orang Jawa Timur pada umumnya yang ekspresif. Mas To secara struktual didesain sebagai orang tertib. Mendapat arahan, ia dengar dan laksanakan. Catatan di buku agendanya rapi, begitu juga berkas-berkas pekerjaan di meja kerjanya. Jangan ditanya soal keberadannya di ruangan, ia datang ke kantor hampir bisa dipastikan jam 7 pagi. Saking tertibnya, ia akan berpamitan kepada anak buahnya hanya untuk ke toilet.

Dengan mengerahkan segala daya yang ada dan dibantu oleh anak buahnya, Mas To akhirnya menyelesaikan permintaan Pak Pimpinan. Yang bikin kagum adalah hasilnya. Analisisnya menghasilkan 10 alternatif kebijakan beserta narasi filosofisnya. Edan tenan, kemampuan Mas To untuk urusan yang satu ini tidak diragukan lagi.

Dengan segenap kebanggaan, ia menyampaikan hasil analisisnya kepada pimpinan yang memberi order. “Ini saya baca dulu,” kata Pak Pimpinan saat menerima hasil analisisnya.

Selang beberapa waktu, Mas To menerima kembali dokumen hasil analisisnya beserta komentar atau disposisi untuk arahan selanjutnya. Mas To memelototi satu per satu komentar yang ada. Hampir semua analisis dan alternatif kebijakan yang sebanyak 10 buah tersebut diberi catatan. Yang mengejutkan dirinya adalah catatan di halaman terakhir. ‘Tolong dibuat analisis dan alternatif lain yang hasilnya berbeda’ adalah isi catatan dari Pak Pimpinan.

Mata Mas To nanar, kepalanya cenat-cenut, dan tanpa kuasa mulutnya berucap,”Jancoookkk….”

Sebentar, jangan salah sangka atas apa yang Mas To ucapkan. Itu bukan misuhi atau mengumpat kepada pimpinannya atau pihak lain. Itu hanya metode pelepasan energi negatif semata. Bedakan antara misuh dan misuhi dalam konteks Jawa. 

Misuh bagi Mas To mempunyai arti berbeda-beda. Pertama, ia berarti tantangan pada dirinya sendiri, mengapa tidak bisa membuat seperti yang diharapkan Pak Pimpinan. Kedua, ungkapan ini bisa berperan sebagai pintu darurat bagi batinnya agar tetap seimbang dan waras dalam melihat lingkungan sekitarnya. Ketiga, misuh juga menunjukkan rasa keheranannya kepada Pak Pimpinan yang secara rinci bisa menuliskan catatan pada per hasil analisis tetapi tidak memberi arahan yang jelas soal analsis dan kebijakan yang dikehendakinya. Keempat, mungkin bisa juga, misuh sebagai doa atau permintaan kepada alam semesta untuk meminta bantuan agar ide analisisnya diterima Pak Pimpinan atau pikiran pimpinannya dibelokkan sehingga dapat menerima hasil analisis tersebut.

Lebih dahsyat lagi, Mas To tetap mengerjakan perintah bosnya dengan energi positif karena energi negatif (jengkel atau marah) sudah keluar dari dirinya. 

Oleh karena itu, Mas To tidak akan menghadap kepada Pak Pimpinan untuk mananyakan berbagai komentar atas analisis dan kebijakan yang pada dasarnya meragukan hasil kerjanya. Tidak, Mas To malah membuat analisis dengan alternatif kebijakannya kembali dan menyerahkan lagi kepada Pak Pimpinan.

Kejadian ini berulang-ulang sampai tiga kali. Namun yang sangat berbeda adalah reaksinya, ucapan yang keluar dari mulutnya pada saat menerima arahan atau disposisi yang ke tiga kalinya, cuman kata ‘cok’ yang semakin pendek. 

Saat ada temannya bertanya, “Lagi sibuk apa Mas To?”

“Biasa, membuat Cok Analisis.”

Menurut Kamus Daring Universitas Gadjah Mada , istilah “jancuk, jancok, diancuk, diancok, cuk, atau cok" memiliki makna “sialan, keparat, brengsek (ungkapan berupa perkataan umpatan untuk mengekspresikan kekecewaan atau bisa juga digunakan untuk mengungkapkan ekspresi keheranan atas suatu hal yang luar biasa)”

Jangan Disatukan Si Pintar dan Si Bodoh

Saya baru memahami mengapa negara-negara maju semakin maju saja dan negari miskin semakin terpuruk. Itu kesimpulan dari pemahaman saya setelah membaca teori yang dikemukakan Maskin.
Sebenarnya tulisan ini merupakan rangkuman dari tajuk tokoh di harian Kompas, Jumat, 20 Januari 2017. Judulnya sudah lupa tetapi berkisah mengenai Teori Desain Mekanisme yang dikemukakan Eric Stark Maskin, peraih Nobel bidang Ekonomi 2007.

Dalam skala negara, perbedaan negara maju dan negara miskin adalah dari sisi produktivitasnya. Ukuran produktivitas dalam makroekonomi adalah pertumbuhan ekonomi. Mudah-mudahan masih ingat dengan rumus yang paling diingat oleh orang ekonomi  Y = I + C + G + (X-M). Teori maskin tidak menjelaskan soal ini tetapi ada kaitannya secara tidak langsung. Untuk menghasilkan ‘Y’ atau pendapatan nasional tersebut, faktor yang sangat menentukan adalah produktivitas orang atau masyarkatnya (logis).

Maskin mengemukakan bahwa kesenjangan, baik secara ekonomi maupun sosial (keduanya saling terkait), hanya bisa mengandalkan pemerintah untuk menguranginya. Dalam konteks teori, Maskin menjelaskan bahwa manusia dibedakan berdasarkan kemampuannya: nilai kemampuan 4 (skala tertinggi), 3, 2,dan 1. 

Dalam konteks produktivitas orang yang bekerja dalam perushaan atau organisasi, Maskin menggambarkan produktifitas untuk mengurangi kesenjangan sebagai ‘O’ dengan rumus O = M2 x S. Rinciannya, M adalah kemampuan manajer dan S adalah kemampuan karyawannya. Gambaran untuk menjelaskan mengenai produktivitas tersebut ada pada 2 kondisi berikut.

Kondisi A, manajer dan karyawan beda tipis kemampuannya (kepintaran/kemampuannya). Untuk kondisi ini, lebih baik mereka bekerja sama. Janganlah mereka dikelompokkan dalam kualitas yang setara, Si Sangat Pintar dan Si Pintar dikelompok-kelompokkan tersendiri. Coba perhatikan hitungan di bawah ini.

Suatu perusahaan memiliki ada 2 unit dengan 2 pegawai (manajer dan staf). Manajer mempunyai nilai produktivitas 4 dan staf memiliki nili produktivitas 3. Hasil perhitungan yang didapat apabila kemampuan yang tinggi dan sedikit dibawahnya digabung adalah 96, sebagai berikut:
Unit 1: (42 x 3) = 48
Unit 2: (42 x 3) = 48
Total unit            96

Hasilnya akan berkurang menjadi 91 apabila manajer dan staf dikelompokkan tersendiri sesuai dengan kemampuannya. Perhitungannya menjadi:
Unit 1: (42 x 4) = 64
Unit 2: (32 x 3) = 27
Total unit            91

Yang menarik, Maskin memberi catatan bahwa negara-negara maju lebih suka bekerja sama dengan negara yang kemampuannya setara atau sedikit dibawahnya (tidak jauh-jauh amat). Itulah alasannya, mereka tidak mau produktivitasnya berkurang atau terganggu.

Kondisi B, manajer dan karyawan beda jauh kemampuannya. Untuk kondisi ini, lebih baik mereka dikelompokkan dalam kualitas yang setara; Yang tinggi kemampuannya disatukan dan yang rendah kemampuannya disatukan di kelompok lain. Hasil perhitungannya menghasilkan nilai 72, dengan perhitungan sebagai berikut:
Unit 1: (42 x 4) = 64
Unit 2: (22 x 2) = 8
Total unit            72

Bandingkan apabila mereka dicampur dalam satu kelompok antara pegawai dengan kemampuan tinggi dan yang rendah. Hasilnya atau produktifitasnya menjadi lebih kecil sebagaimana perhitungan berikut:
Unit 1: (42 x 2) = 32
Unit 2: (42 x 2) = 32
Total unit            64

Untuk kondisi B, beberapa catatan Maskin adalah:
1. Negara maju akan membiarkan negara yang mempunyai kemampuan 2, tetap sebagai 2 (selamanya);
2.  Kesenjangan terkadang dibiarkan tetap ada bagi kelompk tertentu karena menguntungkan bagi mereka, istilahnya kesenjangan ini sebenarnya bermuka dua;
3.   Pendidikan yang baik akan membawa pekerja dengan level 2 akan menjadi 3. Selain mengurangi kesenjangan, hal itu akan menjadikan dunia lebih baik.

Jadi, kepada rekan-rekan muda DJA dan sudah S1, bersekolahlah karena sekolah S2 sekarang 'gratis' (karena diberi beasiswa) dan sebelum sekolah itu dilarang (karena kebanyakan yang sekolah dari pada yang kerja).