Postingan

Menampilkan postingan dari 2019

Karet Gelang Sang Adik

“Kara, ayo sini, jangan sampai tertinggal” ajak Kari untuk mengingatkan adiknya untuk segera bergegas dan beranjak dari tempat istirahatnya. Tak disangka, mereka termasuk anak-anak yang semangat dengan segala kekurangan dan kelebihannya. “Kak, memang mau kemana kita hari ini?” tanya balik Kari ke kakaknya dengan semangat tak pernah lelah. “Sudah jangan banyak tanya dulu, ikut aja dengan kakak ya, Kara yang penting aman dengan kakak dan hari ini kakak sudah memperoleh info dari koran bekas yang kakak ambil dari tempat sampah. Tak berapa lama mereka sampai di sebuah restoran di sekitar daerah pantai indah kapuk, yang banyak menjual menu  sea food  dan berbagai menu yang sedang  hits  juga. Sekitar pantai indah kapuk ini banyak  tempat yang  instagrammable  dan banyak muda mudi yang berkunjung di sekitarnya. Segala jenis menu masakan yang di jajakan di restoran ini beragam dari  sea food,  sate dan gulai,  junk food  dan tra...

Kisah Cinta Anak Manusia

Tanpa monyet dan tanpa pisang Kisah ini selalu menggoda hingga terngiang Kasmaran dua sejoli rindu terbalut Tidak ada genggaman dan dekapan dalam kalut Tapi itulah sejoli yang dirundung cinta Tanpa harus ada sebab kenapa saling suka Bel sekolah menjadi tanda pengingat berdua Tanpa ada Romeo dan Juliet sejoli tetap ada Tak mudah bermuram durja dan serampah Tanpa rasa dan gundah yang melimpah Siapapun tak berani mengundang dengan gegabah Pantang mundur sebelum merekah Hati senang dibalut rindu tanpa cela Berkorban jiwa dan raga tanpa bela Pasangan sejoli yang memiliki dunia Berikrar demi sebuah cinta yang fana Kubikel Jakarta, 31 Desember 2019 Puisi ini dapat dilihat pada laman :  https://rulyardiansyah.blogspot.com/2019/12/kisah-cinta-anak-manusia.html

Senja di akhir tahun

Hiruk pikuk sudut kota melupakan jejakmu Tak terasa rindu sudah membelenggu Sikap santai saja tak mampu menghapus pilu Karena rindu ingin bertemu dengan mu Ada harapan baru di bekasi Meski saya bukan orang yang selalu memberi Hinakah diri ini untuk dapat memelukmu kini Ada hasrat yang dalam untuk berlari dalam diri Senja di kota Jakarta ini membuncah rasa Ingin selalu berdua dengan nya Tapi suasana yang membentengi asa Tanpa sadar bahwa diri ini sudah tua Sekalipun senja tetap indah di akhir tahun Banyak impian dan senang yang akan berayun Siapa sangka adik yang kutunggu masih tabayun Tanpa harus menghilangkan rasa dan diri yang semakin manyun Senja masih tetap indah di kota tua Berasa diri dalam kubikel yang tak ternoda Sayangnya dikau tetap disana Tanpa harus bersua dan bertatap muka Doa saya untuk adinda yang aduhai Meski diri ini tak lagi bohai Namun semangat untuk bertemu dan berkata “hai” Pembatas fana tetap menjadi mahliga...

Renungan Senja di Bekasi

Tidak biasa jalanan sepi dari hiruk pikuk dan lalu lalang kuda besi dan mesin kaleng menuju Bekasi. Dalam lamunan, ku bergumam, apakah ini sudah waktunya ? Entah atau kah ini pertanda ? Tak ada yang bisa kujawab dengan sempurna lamunan itu sembari kutunggangi kuda besi ini menuju kota kedua dari hdupku, Bekasi. Banyak yg terlintas dalam kepalaku saat itu, pikiran pekerjaan, non pekerjaan, non keduanya, dunia fana, dunia antah berantah, entah saya berpikir apa saat itu sehingga lupa isinya pikiran saya apa saat itu. Sekelebat teringat wajah teduh almarhum ibuku. Apakah ini pertanda akau akan segera menyusul beliau jika tidak fokus di atas kuda besi ini? Entah. Lamunan ku semakin jauh kedalam sambil ku pelototkan mata ini agar tidak menabrak seseorang atau sesuatu. Kupacu si kuda besi dengan kecepatan bawah batas normal, jika seandainya saya terantuk dalam lamunan dampaknya tidak terlalu parah. Bayangan saya paling masuk ke selokan, dengan beberapa bagian mungkin memar dan biru....

365 hari kita

Seperti kanak kanak, mata terlelap seusai terompet terakhir berbunyi, dan nyala petasan terakhir berpendaran, Dalam lamat cahaya dan mata yang sepat, masih berusaha memahat "ini kutulis harapan dan cita cita untuk setahun mendatang" Lalu seperti kanak kanak, Tetiba  suatu sore kita terperanjat Tukang terompet,  petasan, jagung muda dan arang bakar berteriak sekelebat, Menawarkan dagangan yang mereka muat, " mari mari, tidakkah kita bersiap wahai penghuni bumi, nanti malam tahun akan lagi berganti" Tak seperti kanak kanak, Kita bertanya "kenapa sudah tahun baru lagi? Kenapa waktu melesat begitu cepat?untuk setahun waktu terlewat, "apa saja telah  ku buat?" semua seperti dejavu Bagai keledai pandir dan dungu, Terperosok berulang pada lubang satu Setiap akhir tahun mengutuki waktu Apa mungkin  kita  jauh tersesat, Oleh  muslihat dunia yang menjerat harapan dan cita di awal tahun di catat, Di pegang erat serupa amanat, tapi laku ...

Payungnya, Pak! Payungnya, Bu!

Wahai, kawan Sore ini awan mendung menghiasi langit Jakarta Sesekali kilat menyambar bersahutan Pepohonan melambai dihempas bayu Tahukah kau, kawan Seiring datangnya hujan, aku melihat keceriaan menghiasi wajah anak-anak yang berkerumun di halaman sebuah stasiun kereta Sambil membawa payung aneka warna, mereka menawarkan jasa Payungnya Pak, Payungnya Bu Aku ingin bercerita kepadamu, kawan Tentang masa kecilku yang mirip dengan mereka Ceria di kala hujan tiba Karena membayangkan uang jajan nampak di depan mata Singkat cerita, suatu sore aku dan kawan-kawan berdiri di trotoar sebuah jalan Menunggu angkutan kota berhenti di hadapan Sebuah payung erat dalam genggaman Sedangkan tubuh, basah oleh air hujan Betapa bahagianya aku, kawan Ketika ada seseorang yang memakai jasa ojek payungku Ku ikuti langkahnya hingga tiba di sebuah halaman rumah Kemudian menerima sejumlah uang yang diberikan Tentu saja saat itu aku menggigil kedinginan, Bibir membiru, kulit jari keripu...

Panggilan Dari Abah

“Belum pulang, Mbak?” tanyaku pada Mbak Sandra. “Belum,” jawab Mbak Sandra. Mbak Sandra adalah pegawai senior yang berada pada ruangan yang sama denganku. Sebagai pegawai yang belum terlalu lama bekerja, aku harus ramah kepada semua pegawai senior di kantor. Saat itu suasana kantor sudah sepi. Tersisa aku dan Mbak Sandra saja di ruangan. Waktu telah menunjukkan jam 19.50. Kebetulan aku mendapat tugas tambahan dari Pak Bayu, atasanku sehingga aku pulang agak malam. “Aku pulang duluan, Mbak Sandra. Pekerjaanku udah selesai.” Aku pamit kepada Mbak Sandra yang masih asyik memandangi monitor komputernya. Tubuh Mbak Sandra berbalik kepadaku yang berdiri di samping kursinya. Sekilas kulihat layar komputer Mbak Sandra. Wajah seorang artis yang kukenal terpampang di layar monitor. “Mbak Sandra nonton sinetron Terperangkap Cinta Tukang Siomay Yang Aneh?” tanyaku. “Iya, ngisi waktu pulang,” Mbak Sandra tersenyum kecil. “Kirain Mbak kerja.” “Enggaklah. Kerjaanku udah selesai t...

Pagi adalah...

Pagi adalah jembatan Menghubungkan harapan dengan kenyataan Meski tak selamanya kenyataan sesuai keinginan Namun pagi adalah sebuah jembatan yang harus dilewati Pagi adalah inspirasi Menjadi kekuatah imajinasi para pecinta seni Lukisan alam yang patut disyukuri Permulaan hari yang menyimpan sebuah misteri Pagi adalah anugerah Sesiapa yang bersyukur, ia kan bahagia Sesiapa yang tak bersyukur, sesaklah ia Karna pagi adalah jawaban dari setiap doa Selamat pagi Semoga keberkahan senantiasa menyertai 31122019

Kopi dan Kenangan

Kopi dan kenangan Melebur dalam angan tak berkesudahan Nikmati saja apa yang ada di hadapan Karena hidup tak melulu sesuai harapan! Kopi dan kenangan Ibarat aku dan kamu dalam persimpangan jalan Membisu dalam sendunya tatapan Merangkai rindu yang terlepas dalam genggaman Kopi dan kenangan Ibarat genangan yang hadir selepas hujan Maki yang terlontar oleh lisan sebagian Tak sedikit yang mengucap kesyukuran Kopi dan kenangan Pahit dan manisnya dapat dikendalikan Seperti hasrat yang berkelindan Hasrat mencintaimu........iya kamu!

MIMPI HUJANKU

Istirahatlah Tuan

Duhai tuan Hujan baru saja reda Sedang engkau sibuk mengeja yang fana Sadarkah kau jika cahayamu sirna Seiring usia yang tak lagi sama Istirahatlah tuan Simpanlah angan Helai demi helai rambutmu Terwarnai dunia semu

Tuhan, akankah kau tunda kematian Hamba-MU?

Dalam sekat lorong ruang ICU wajah pias menyatu Tatapan sayu hadirkan jemu seolah bahagia tercerabut dari tandusnya sang waktu Satu dua napas tersengal Mesin kehidupan berkoar bersahutan Kelopak mata terkatup Tak ada gairah Yang ada hanyalah pasrah Tuhan, akankah kau tunda kematian Hamba-MU?

Seporsi Mie Goreng Dingin, Pagi Itu

Jam tangan usang warna hitam yang melingkar di pergelangan tangan kananku menunjukkan waktu pukul 08.55 wib. Aku melangkahkan kaki menyusuri koridor ruang instalasi gawat darurat di sebuah rumah sakit pemerintah tipe A menuju pintu keluar. Ku sapu pandangan ke kanan, kiri, depan, mencari tempat nyaman untuk sekedar melepaskan penat. Tak perlu waktu lama, aku menemukan lokasi beristirahat, sebuah taman kecil yang berada tak jauh dari halaman gedung ICU. Aku duduk disebuah kursi besi warna warni pelangi, dibawah pohon rindang yang menaungi beberapa keluarga pasien yang sudah duduk sebelum aku tiba. Aku menarik napas dalam-dalam lalu mengeluarkannya perlahan. Kemudian, ku buka resleting tas dan mengeluarkan sebuah tempat makan plastik. Di dalam wadah makanan tersedia mie goreng bercampur nasi putih yang sudah mulai terasa dingin. Ku baca Basmallaah kemudian mulai memakannya sedikit demi sedikit meski pada suapan pertama, menu makanan yang sudah di lumat mulutku terasa sukar unt...

Kisah Tentang Hati (Cinta Monyet)

Gambar
Hati manusia tak ada yang tahu Wajah tersenyum pisau tajam terhunus dibalik punggung. Hati manusia tak ada yang tahu Wajah tersenyum hati menangis tersedu-sedu menahan perih. Hati manusia tak ada tahu Wajah tersenyum tubuh penat luluh lantak menahan lelah. Aku tak pernah tahu apakah ini cinta atau nafsu sesaat. Apakah kasih atau sekedar ingin memiliki. Senyummu terbayang disaat aku lelah. Tawamu yg renyah sayup-sayup terngiang di lorong sekolah, menoleh lalu kecewa. Suara manjamu memanggil nama kecilku ketika berjalan keluar sekolah. Kali ini aku tak menoleh karena aku tahu kamu tidak masuk sekolah. Kamu sudah ada yang punya namun berulang kali kau bilang sayang pada ku. Kita berbincang berjam-jam di telepon berlempar canda dan membicarakan dunia entah untuk apa. Hari itu sebulan selepas kelulusan. Entah berapa kali ku telepon rumah mu. Berdering namun tak dijawab, dijawab namun kamu tak pernah ada. Mungkin adik mu sudah lelah menjawab telepon ku, berbohong bahwa kamu tida...

Thai Tea

Dentingan kecil terdengar dari hp ku. Mas besok pesawat jam berapa? Tanyamu. Kala itu sore, menjelang setengah lima.  Beberapa laman kerja masih terbuka di layar monitorku. Setidaknya 2 nota harus naik sore ini. Ku ketuk ponsel ku. Menyingkirkan pesan. Mencari namamu. 5m. Sip, sudah saatnya ku membalas. Jam 2 take off, baiknya Mas ke damri Gambir jam berapa ya? Tanyaku. Ga tertarik nyoba kereta bandara Mas? Balik mu bertanya. Ku jeda lagi sesaat, menunggu beberapa menit, untuk kembali membuka pesan mu.  Kembali jemariku menari di atas papan ketik usang kelahiran 2010-an. Menyelesaikan kata demi nota. Ku ketuk lagi ponselku. Menyingkirkan pesan. Mencari namamu. 9m. Hm...tanggung, 1 menit lagi deh. Mas belum pernah, ntar nyasar . Disertai emoji tertawa. 1 menit, 3 menit, berlalu. Baru ku lihat typing-mu di menit ke 8. Ya ampuun, kayak anak tk aja Mas, nyasar. Diikuti emoji mencibir. Aku tersenyum. Membayangkan mu mencibir seperti itu. Ah, mungkin aku mulai gila....

Cerita Daun dan Cinta (cuma fiksi)

Gayung berwarna hijau menyala itu masih tergenggam erat olehku, saat tiba-tiba tubuh ini mematung memandang beberapa sentimeter di depan sana. Dedaunan yang sebelum berangkat kerja kemarin masih tampak malu-malu, kini sudah gagah membentangkan lembaran hijaunya. Mungkin saat itu orang-orang yang sedang lewat bisa melihat betapa mulutku menganga tak berdaya. Kulihat ada seekor semut yang ikut merayakan dengan berlari-lari kegirangan di atas permukaan daun-daun yang menjuntai. Aku memang baru pertama kali menanam pohon dari usia dini. Bibitnya pun diperoleh dari hasil kondangan salah satu rekan kantor istri. Aku benar-benar takjub melihat sebuah tumbuhan yang dari dulu kuanggap makhluk hidup paling tidak lucu, pagi ini membuktikan bahwa mereka benar-benar hidup. Mereka menampilkan suguhan pagi tentang cerita dedaunan dari kecil hingga benar-benar berbentuk daun. Air yang kusiramkan ke tanah tadi benar-benar jadi minuman segar untuk menopang pertumbuhan mereka. Ah, tak terasa kudengar ...

Pohon Pinus

Gambar
Pinus tak bosan dengan pertanyaan klise, seperti "mengapa daunnya tidak seperti daun?" atau "mengapa pohonnya tidak menghasilkan bunga dan buah?" atau "mengapa dahannya tidak bisa dipanjat?" atau "mengapa bentuknya aneh tidak bisa untuk berteduh?" Pohon pinus tahu ia tidak perlu menghiraukan pertanyaan-pertanyaan itu sebab takdirnya memang bukan begitu Sebab masanya bukan di situ Ketika tiba masanya di musim dingin Ketika s emua berubah putih dan membeku Pohon pinus hadir memberikan arah dengan warna gelap yang kontras , postur bagai safety cone tinggi menjulang ia jadi penanda jalan Dahan pinus tak membentang seperti beringin yang mampu menahan derasnya hujan Namun ia adalah seumpama benteng Menahan beku dan bisingnya angin dari utara Sejak lama pohon pinus memahami takdirnya untuk dapat dicintai dan dimengerti tak perlu ia berubah lembut dan ceria seperti pohon ceri atau dramatis...