Postingan

Menampilkan postingan dari Mei 14, 2017

Morning

It all starts with a "Hello" Then comes a cup of coffee Then comes other cups of coffee Suddenly comes milk and tea Then a ride and a walk Then one goes to a barbershop Then one does house chores Then ones having breakfast Then ones exercising Then ones are talking Then ones are listening Then ones are thinking Then one says, "What?" Then one says, "This" Then one says, "Why?" Then one says, "Because" Then one says, "How?" Then one says, "Look" Then ones got confused Then ones are upset Then ones are interested Then ones are nodding Then ones are smiling Then ones are giggling It all starts with a "good morning" But usually it all ends in laughter NB: Tulisan ini terinspirasi percakapan di pagi hari

Sepi

Sepi tak berarti kosong Sepi tak bermakna sunyi Sepi adalah rehat Sepi adalah ruang Di antara makna Satu sama lain Sepi adalah indah Lihatlah bunga merekah Dalam sepi semalam Sepi adalah kasih Lihatlah nelayan menangkap ikan Kala kita masih terlelap Sepi adalah pertaruhan nasib Lihatlah siswa di ruang ujian Sepi adalah tanda keahlian Lihatlah dokter di kamar operasi Sepi adalah bahasa hati Ketika tak ada lagi yang dapat diungkapkan Biarlah sepi menunjukkan Siapa kawan kita dalam kesunyian NB: Tulisan ini terinspirasi komentar seorang rekan mengenai sepi

Penasihat Yang Bertebaran

"Bu, ke pasar dulu ya," pamit pak Hasan, penjual jus buah di sekitar kantorku yang nampak terburu-buru, khawatir perjalanannya dikalahkan cepat oleh semburat sinar pagi yang lebih dulu menyelimuti pasar, tempat sang bapak biasa membeli buah-buahan. "Hati-hati ya, pak," jawab istrinya singkat sampai-sampai menitipkan kalimat penyemangat pun tak sempat lagi. Tapi sang bapak tahu, pesan singkat itu membawa sirat sebagai penyemangat di setiap mengawali hari-hari nya. Ini dialog rutin yang sempat terbayang olehku, sepasang insan yang harus mengawali hari-hari menjemput rizqi-Nya dengan cara yang berbeda dari kebanyakan orang. Mereka adalah pejuang yang lebih dini harus mengalahkan rasa kantuk dan capeknya. Mereka harus berpeluh keringat lebih awal dari kebanyakan orang yang masih belum mau kehilangan kehangatan tidurnya. Tentu bukan hal yang ringan. Pak Hasan dan istrinya, sepasang sosok bersahaja, sudah beberapa tahun ini jualan jus di depan masjid belakang kantorku. M...

Kisah Iteung, Episode Cantik

"Ibu Cantik, nasinya cukup?" tanya Ibu Kantin sambil menyodorkan piring yang terisi penuh nasi. "Nggak salah nih, Iteung dipanggil cantik?" hati Iteung setengah percaya setengah nggak. Ah, sepertinya cuma ilusi aja deh, saking Iteung ngarep dibilang cantik sama orang lain. Selama ini bisa dihitung jari orang yang muji Iteung. Jari jempol aja yang keitung. Satu-satunya orang yang pernah bilang Iteung cantik cuma si Akang. Itupun setelah Iteung acungin palu ke mukanya Akang. "Ibu Cantik!" suara cempreng ibu Kantin mengagetkan Iteung. Berarti bener kan, Iteung dibilang cantik. Nambah satu jari deh orang yang bilang Iteung cantik. "Tuh Kang, bener kan Iteung cantik," hati Iteung langsung bersenandung lagunya Kahitna. Ngebayangin Mario Kahitna nyanyi lagu "Cantik" sambil ngasih bunga ke Iteung, bikin Iteung senyum-senyum sendiri. Iteungnya malu-malu sambil muterin badan ke kiri dan kanan. Serasa jadi ABG. "Bu Cantiiiiik!" ter...

GEMESS (Garing mak kress) : Menuliskan Ide

Supangat sedang giat-giatnya belajar menjadi seorang penulis. Impiannya sejak kecil memang ingin menjadi penulis hebat. Namun karena kesibukan mengejar karir sebagai birokrat, baru akhir-akhir ini dia bisa meluangkan waktunya untuk kembali menekuni dunia tulis menulis. Demi meningkatkan kualitas tulisannya, Supangat juga tak segan untuk mengikuti berbagai pelatihan menulis dari banyak narasumber. Hingga suatu hari, tanpa diduga di kantor Supangat diadakan pelatihan menulis untuk pegawai yang memang memiliki semangat tinggi untuk membuat karya dari goresan pena (meskipun kini sudah beralih ke keyboard komputer) Mendengar info tersebut Supangat begitu bersemangat. Tak berpikir dua kali dia langsung menghubungi panitia untuk mendaftar menjadi peserta. Apalagi pembicaranya kali ini adalah seorang penulis yang sudah cukup punya nama. Singkat cerita, hari itu tiba, Supangat yang sedari rumah sudah berbunga-bunga, segera mengambil bangku terdepan supaya lebih serius menyimak seluruh is...

CURCOL SI AKI (Episode II : Hari yang Melelahkan... )

Hari yang melelahkan..... Pukul 08.30 kami sampai di insitusi penegak hukum. Berarti masih ada waktu setengah jam untuk bersiap-siap karena dalam surat panggilan yang diterima, pemeriksaan akan dilakukan pada pukul 09.00.  Pak Arham melakukan koordinasi dengan petugas penerima tamu sementara kami menunggu di ruang tunggu. Aku melihat ke sekelilingku. Kulihat banyak juga orang-orang yang sering kulihat di televisi sedang duduk menunggu pemeriksaan.. Ada mantan menteri, ada pejabat publik aktif, ada juga pengusaha terkenal. Kelihatannya korupsi di negeri ini telah merambah ke segala penjuru. Semoga saja mereka hanya sebagai saksi yang tidak terlibat dalam kejahatan kerah putih ini.  Tiba saatnya giliran kami untuk diperiksa. Semua peralatan komunikasi diminta dimasukkan ke dalam locker yang telah disediakan dan selanjutnya kami menuju ruang pemeriksaan. Ruang pemeriksaan yang cukup kecil menjadi terasa semakin sempit ketika kami berempat  masuk ke dalamnya. Ruang itu h...

Gerimis Menangis

Bocah kurus yang beringus Melangkah terus menenteng kardus Wajah tirus menatap lurus Terberangus raga tak terurus Wanita menjelang senja Bergaya layaknya remaja Terlupa mahligai keluarga Terbawa pesona pemuda Lelaki berkumis yang tak lagi klimis Hati miris ucap tak digubris Kekasih manis beri luka mengiris Mimpi dikais di ujung gerimis Edisi bengong dalam bus jurusan Senen-Cimone yang ngetem

Tanpa Judul

Sore itu, disebuah taman yang berada ditengah-tengah gedung bercat putih, duduk 3 orang pria. Satu dari ketiga orang tersebut memulai percakapan. "Bagaimana soal rencana membangun sebuah hotel mewah bintang lima?Apa kalian sudah punya ide dimana lokasinya, dan berapa biaya yang diperlukan?" menatap kedua kawannya dengan raut wajah serius. Mendengar suara si Pria, kedua kawannya saling berpandangan dengan raut wajah heran.  Tidak ada satupun yang berani menjawab. Si Pria kembali berbicara. "Hey, apa kalian gak percaya sama saya?apa kalian pikir, cuma bangun satu hotel mewah saja saya gak sanggup?" matanya melotot seperti hendak keluar, "asal kalian tahu, uang saya banyak, membangun sepuluh hotel mewahpun saya sanggup, gak akan menghabiskan uang yang saya punya!" katanya kemudian berusaha meyakinkan. "Coba kamu yang bawa kalkulator, sekarang hitung semua biaya yang diperlukan!" menatap salah satu kawannya yang sedari tadi memainkan alat hit...

hujan

aku masih bingung apakah aku yang beruntung disentuh rintikmu hujan, atau kau yang bahagia bisa membasahiku. entahlah

Beban APBN Untuk Pemindahan Ibu Kota Negara

Gambar
Wacana pemindahan Ibu Kota Negara yaitu DKI Jakarta mulai didengungkan kembali, hal ini pertama kali didengungkan pada saat pemerintahan Presiden Soekarno yang ingin memindahkan ibu kota negara dari Jakarta ke Palangka Raya, tetapi sebelum hal ini terealisasi, Presiden Soekarno sudah lengser terlebih dahulu. Kemudian wacana pemindahan Ibu kota Negara kembali digulirkan pada masa pemerintahan Presiden Soeharto, diusulkan pemindahan ibu kota negara ke Jonggol, tetapi lagi-lagi hal ini tidak terealisasi kembali hingga berakhirnya masa pemerintahan Presiden Soeharto. Kemudian masa pemerintahan Presiden SBY juga mewacanakan isu pemindahan ibu kota negara hingga masa pemerintahan Presiden Jokowi saat ini. Wacana pemindahan ibu kota negara pada pemerintahan Presiden Jokowi saat ini, sedang dalam tahap kajian di Bappenas. Lokasi ibu kota masih belum ditetapkan, ada yang menyebutkan Jonggol hingga Palangka Raya atau kota lain di Kalimantan. Tulisan ini bukan merupakan kajian yang komprehensi...

Menjemput Cinta (Bagian Ketiga)

Senja menyapa dengan sentuhan warnanya yang menarik pandangan siapapun yang menatapnya. Udara semakin dingin menyelimuti desa, seiring perlahan menghilangnya sang surya menuju peraduannya. Pulang dari shalat Maghrib berjamaah di masjid, Bram bergabung dengan Ibu dan adiknya di ruang makan. Ia memimpin doa, lalu mempersilahkan Ibu untuk menyendok nasi dan lauk pauk terlebih dahulu. Disela-sela makan malam, Bram membuka percakapan. Ia menceritakan tentang pertemuannya dengan Kinasih di toko hingga ada perasaan aneh yang terus mengusiknya akhir-akhir ini. Bagi Bram, Ibu dan Ratih adalah dua makhluk Tuhan yang paling ia sayangi dan ia percayai untuk mencurahkan isi hati. Oleh karena itu, apapun yang Bram alami dan rasakan, ia tidak segan untuk bercerita dan meminta pendapat mereka. Ibu dan Ratih menyimak cerita Bram dengan seksama. Selesai bercerita, Bram meminta pendapat sang Ibu terlebih dahulu. Ibu yang sejak awal menyimak, mengetahui apa yang putera kesayangannya rasakan sa...

GEMESS (Garing mak Kress) : Cantik

Jam dinding telah menunjukkan pukul 21.30. Di luar rumah terdengar suara tetesan air masih cukup deras turun dari langit. Suasana malam yang dingin menyeruak ke segala penjuru rumah. Kenyataan bahwa malam itu adalah malam jumat menambah sakral aura yang terpancar di dalam kamar. Belum selesai angan melayang, terlihat daun pintu terbuka perlahan. Nampak sosok wanita pendamping hidup memasuki kamar dengan derap langkah yang nyaris tak terdengar. Kubayangkan dia berjalan melenggak-lenggok bak model kawakan. Bajunya tipis menerawang membuat settingan ruangan berubah menjadi peragaan busana musim panas. Bukan... yang dikenakannya bukan lingerie, hanya sisa kaos kampanye salah satu politisi. Dalam genggamannya sudah ada dua gelas teh manis hangat untuk kami berdua, meniru iklan di televisi. Di sampingku yang sedari tadi berbaring santai, sang istri duduk perlahan dan menjulurkan tangan kanannya ke arahku. "Pah, ini tehnya diminum dulu mumpung masih hangat" istriku berujar sa...

Nasi Goreng Buatan Ibu

Bawang merah dan bawang putih itu kini telah menjadi irisan kecil, kemudian tinggal kutambahkan beberapa buah cabai rawit dan cabai merah keriting ke dalam blender.  Trus apa lagi ya  pikirku, ponsel yang sedari tadi ada di meja dapur menjadi sasaran keingintahuanku. Melihat macam-macam resep nasi goreng yang ada di menu masakan milik "Mbah Google" sepertinya ini sama saja seperti bumbu-bumbu yang biasa kubuat ketika bikin nasi goreng. Kemiri, sedikit terasi...yah boleh juga buat variasi, supaya rasanya agak beda sedikit dari yang biasa kuracik. Bumbu sudah semua masuk, tinggal memasukkan blender ke dalam mesin pemutar. Seperti biasa, setiap Hari Sabtu dan Minggu pagi, menu ini seolah sudah menjadi menu wajib buat Raihan, anak bungsuku. Selepas dia bangun tidur, ketika kutawarkan, 'Raihan, mau makan apa? Nasi goreng mau enggak?" Dia pasti menjawab dengan cepatnya  "Mauuu..." Entah kenapa, padahal menurutku, rasa nasi goreng bikinanku biasa ...