Munajat



Hujan menderas membasahi bumi

Langit gelap lelap terselimuti
Cahaya kilat bak lampu blitz kamera
Menyambut fajar singsing segera

Para perindu syurga
Membasuh air ke raga
Pakaian suci melekat sempurna
Berdiri sejajar tanda setia

Rintik hujan enggan mereda
Tertunduk sadar hati seorang Hamba
Terangkat tangan asa di pinta
Mata terpejam jiwa mengudara

Wahai Sang Penggenggam Semesta
Kasih sayangmu meluas samudera
Ke Maha AgunganMU tiada tandingannya
Ampuni atas segala dosa

Bintang dan Rembulan

Fajar bersiap menampakkan kilau

Netra menyaksikan terpukau

Kabut selimuti jiwa terlelap

Meski pejantan berkokok sigap 


Detak jantung memburu waktu

Spidometer bergerak maju

Embun tak ingin lepas mendekap perdu

Seakan sulit mengenyahkan rindu 


Teringat akan sepasang kekasih

Di sepertiga malam sunyi

Bintang memberanikan diri

Perlahan mendekati rembulan bak bidadari 


Ada hal yang hendak diutarakan

Kelu menjalar kata tak tersampaikan

Ah...betapa sulit mengungkapkan isi hati

Padahal kesempatan kedua takkan terulang lagi


Sesulit menuangkan maksud dan tujuan pada nota dinas

Sang bintang dalam menarik napas

Telah bulat tekad disiapkan

Namun luluh jua ketika menatap sang rembulan


Entah sampai kapan bintang terus berdiam




27052022

Melepas



Belum usai,

satu laras

tersenandung

tuntas,


senja 

menggilas,

pertanda 

tegas,


sampai,

batas,

temu-mu

tuntas


Kau

berkemas,

sepenuh

gegas.


Lalu ,


ruang Senyap 

meranggas,

Udara  rasa 

Beku mengeras


genggam tangan

pelahan lepas

Sesak dada,

Pilu terimbas

hutang Rindu

Belumlah lunas


ah

padamu

Rengkuhku getas,

Kau

Tetap lagi raga nan bebas


(24 mei 22)

Ini Pagiku, Bagaimana Pagimu?

Sang surya tampak malu menampakan diri

Di antara awan mengabu, sesekali di intipnya penduduk bumi

Yang sebagian telah sibuk menyambut pagi 


Di antara deru mesin kendaraan

Dan hilir mudik para pejalan

Gedung gedung pencakar langit 

Pongah menentang awan 


Seakan mereka berkata; keluarkan saja semua beban 


Sekawanan burung hilir mudik

Rimbunnya dedaunan di sebuah pohon besar menjadi tempat favorit untuk berkumpul

Setelah sekian waktu sibuk menjemput rezeki

Saatnya istirahat dan menikmati 


Di dalam rangkaian gerbong Commuter Line

Yang telah tiba di Stasiun tujuan

Bergegas orang-orang menuju tangga berjalan 


Tergesa gesa menaiki anak tangga

Tak sadar ada yang tersakiti karena sikapnya

Sementara yang lain sibuk membaca kabar berita

Atau terdiam memegang barang bawaan, waspada

Seekor cicak mengamati gerak gerik manusia 


Tiba di bawah naungan halte Jak Lingko

Berdiri menanti kehadiran Trans Jakarta

Detik berganti menit

Yang ditunggu menampakan wujud 


Pagiku penuh warna

Bagaimana dengan pagimu? 


25052022

Pulang


Anak kecil berlarian
Di tanah lapang dan rerumputan
Sorak sorai penjaja makanan
Mencari perhatian

Matahari bersiap undur diri
Udara tercemari asap dedaunan yang terbakar
Menyatu dengan asap dari knalpot
Kendaraan lalu lalang, perlahan

Seekor kuda mengerang, lelah
Entah berapa putaran telah dilalui
Hanya seember air
Dan rumput kering penambah energi

Segerombolan ikan berenang
Bebas berkejaran
Sesekali menunggu hidangan
Yang jatuh dari tangan tangan dermawan

Senja kali ini memenjarakan
Hati dan pikiran
Jika saja lantunan ayat suci tak bersahutan
Niscaya kaki ini enggan untuk pulang



24052022