Postingan

Menampilkan postingan dari 2020

Rahwana Jatuh Cinta

  (Rahwana berdiri di pintu peraduan Shinta. Bicara pada dirinya sendiri) Wahai Shinta, putri titisan Banowati, hatiku terus dilanda rindu aku ingin mendekatimu, untuk sekedar  mendengar suaramu saja  begitu pun aku sudah senang. karena itu setiap malam, aku datang ke tempat aku menyembunyikanmu, namun yang ku dengar adalah suaramu yang meninggi.... membentak dan mengusirku pergi. bagaimana pun, aku tak pernah jemu, sampai kau mau mengajakku bicara sampai kamu mau membuka hatimu untuk mengenalku, sekedar mengenalku. agar aku bisa menunjukkan isi hatiku padamu. walaupun terlihat dari sinar mata dan caraku menatapmu bagaimana kau bisa tahu? sementara untuk melihatku saja engkau tak mau apakah karena rupaku? atau karena orang sepertiku tak layak mendapatkan cinta? (Rahwana tertunduk, wajahnya murung... matanya yang buas, memudar sendu) aku Rahwana, Raja Negeri Alengka aku terbiasa mendapatkan keinginanku dengan sesuka hati aku memang bukan orang baik tapi aku tetap punya per...

Aku, Si Kutu Buku, Dan Sunyi

  Ku terduduk kaku di sudut ruangan sebuah rumah tua yang berada di tengah perkebunan di daerah Pangalengan. Suasana senyap membuatku semakin tak nyaman. Hanya terdengar suara jangkrik yang terus bernyanyi menemani sunyiku. Di sudut lain seorang remaja pria yang kutaksir seusiaku duduk bersila, asyik dengan buku yang sedang dibacanya. Sedikit demi sedikit kugeser badanku, mendekat ke arahnya. Kepalaku menunduk mengamati buku yang sedang dipegangnya, memastikan posisinya tidak terbalik. Siapa tahu dia cuma pura-pura membaca untuk memberi kesan pandai kepadaku. “Hey ….” Tak ada balasan kudengar. Remaja pria itu   tak bergeming. Masih duduk dengan posisi yang sama. Hanya matanya yang mondar mandir ke kiri dan kanan, seperti orang yang sedang senam pagi di lapangan. Kuberanikan diri menggerakkan jari tanganku untuk mencoleknya. “Hey, kita kan cuma berdua di sini. Di rumah yang luas ini, kita ngapain kek, ngobrol kek, main   gaple gitu, atau main congklak kek,   j...

Puisi untuk Mamak

 Kehidupan Mamak tidak begitu mudah sedari kecil Mamak perempuan tangguh dan tak mau bergantung Mamak sering bercerita kala kecil sering berusaha Demi sebuah cita-cita   Aku hanya satu dari sekian orang yang menyayangimu Aku hanya titipan Allah yang pernah tinggal di rahimmu Aku malu untuk memberitahukan ini kepadamu, Bahwa Aku merasa sangat berharga bila didekatmu   Mengandung, melahirkan, dan menyusui merupakan tugas muliamu Mengadu Aku kepada Rabbku atas tingkahku yang mungkin pernah melukai Melirikmu sibuk dengan aktivitas rumah dan sekolah,   adalah hal yang memotivasi diri ini untuk menjadi lebih baik   Kini bahtera kita hanya dua awak Sang Kapten telah kembali kepada pemilikNya Tertinggal dua pesan untukku, Salah satunya tentangmu.   Doaku untukmu, Semoga engkau diberikan kelapangan hati untuk menjalani segala ketetap Illahi dan setiap langkahmu dimudahkan Pemilik Alam Semesta ini.

Ibuku Tak Sempurna

Gambar
  Ibuku bukanlah ibu yang sempurna. Dia tidak mempelajari ilmu parenting. Tidak juga memakai tips bagaimana mendidik anak. Bukan pula ibu yang mengganti kata 'jangan' dengan 'sebaiknya'.  Seringkali ibuku juga bersikap keras pada anak-anaknya.Yang kadang tak bisa kunalar dengan pikiran kritisku. Ibuku juga sering membiarkan anaknya mencari penyelesaian atas masalahnya sendiri walau di satu sisi ingin juga ikut campur kehidupan anak-anaknya. Walaupun tak sempurna bukan berarti ibuku tak pernah melakukan sesuatu yang heroik bagi anak-anaknya. Ibuku tak pernah membelikan anak-anaknya baju baru tapi ia menjahitnya untuk kami dengan renda bertuliskan nama kami di baju.  Tak pernah juga memberi uang untuk pergi ke salon untuk sekedar memotong rambut tapi ia memotong sendiri rambut anak-anaknya. Tak juga sanggup memberikan uang jajan berlebih tapi ia selalu memasak dan membuatkan cemilan untuk kami. Ternyata aku mendapatkan masa kecil yang bahagia di tengah keterbatasan walau ...

Lepas

  Kau bilang ku tak cantik Beda dengan perempuan perempuan di televisi Kubuat alisku melengkung dan lebat Kau tetap bilang ku tak menarik Kau minta ku tampil cantik Agar membuatku sedikit indah dipandang mata Kupulas bibirku dengan gincu merah darah Kau bilang ku terlalu menor Kau bandingkan ku dengan Bae Suzy Yang kau tonton tiap saat Kupulas wajahku dengan kosmetik dari Seoul Kau bilang ku lupa usia Kau bilang ku gendut Kau minta ku mengurangi makan Kukurangi takaran MSG-ku Kau bilang ku terlalu kurus Ah enyahlah kau  Aku adalah aku Bukan brand ambassador kosmetik Kau tak cukup berharga buatku Depok, 19 Desember 2020

Gadis Kecil Dan Lelaki Berbaju Putih

 Gadis kecil Itu menutupi kuping dengan rambutnya ketika beberapa temannya menutup hidungnya. Ia meletakkan bola bekel yang sedang dipegangnya. Ia berdiri dari duduknya dan berpamitan kepada teman-temannya bermain. Mukanya bersemu merah menahan rasa malu di hatinya. Dalam beberapa langkah, ia mendengar teman-temannya berbicara satu sama lain. Pembicaraan yang membuat gadis kecil Itu merasa tersisih dari pergaulan anak-anak seusianya.  “Kenapa tadi baunya nggak enak sekali ya? Ampun deh, aku nggak sanggup berdekatan dengannya. Lain kali jangan diajak bermain lagi, bikin jijik aja.” “Bukan aku yang ajak, kok. Dia sendiri yang pengen gabung,” timpal yang lainnya. Gadis kecil Itu terus melangkah menjauhi tempatnya bergaul bersama teman-temannya. Rasanya tak ada harapan baginya untuk kembali bermain bersama. Sesampainya di rumah ia langsung masuk kamar. Perasaannya sungguh terluka. Ia ingin sekali bercerita tapi ia tak sanggup bercerita karena merasa tak ada gunanya. Ditatapnya cer...

Desember Yang Mencekam

Gambar
  Langit kali ini menghitam Seolah siap menerkam insan yang terkurung di padatnya jalanan Bersahutan bunyi klakson kendaraan roda empat Berebut tempat agar dapat secepatnya berada di depan   Saling sikut dan senggol hal yang biasa Tak ada perasaan bersalah Seringkali umpatan tak terhindarkan keluar dari mulut insan yang depresi Tak tahan menanggung kesal yang tak berujung   Aku hanya bisa terdiam tak berdaya terkurung di balik kaca Lengkingan klakson yang bersahutan seolah alunan nada yang sanggup memecahkan gendang telinga Aku hanya berdiam dalam gelisah Sesekali badanku bergerak ke kiri dan ke kanan   Semakin lama perasaan tak nyaman menggerogoti kewarasanku Ku mulai berteriak dan menangis Rasanya ku ingin terbang melintasi benda-benda berjendela itu Yang semrawut berdesakan di atas aspal basah     Akhirnya air deras mengucur dari langit Membuatku semakin panik Dingin seketika melanda sekujur tubuhku Desember ...

Jiwa dan Raga Yang Tak Selaras

  Bulan Desember tahun lalu, Ku pernah bersumpah Ku akan selalu mengungkapkan apa   yang sebenarnya ada di dalam hatiku Aku akan jujur   Desember kali ini, Aku berkata iya padahal kuingin berkata tidak Aku berkata tidak padahal kuingin berkata iya Aku berkata suka padahal aku benci   Desember kali ini, Ragaku tetap sama Tak sanggup ku keluar Dari belenggu rasa tak nyaman di jiwa

Yaa Rabbanaa

Code blue Code blue Ruang perawatan anak Seketika suara dari alat pengeras suara ruangan memecah kesunyian Para petugas medis berlarian menuju lokasi yang dituju Aku hanya terpaku menatap gerak langkah cepatnya Untaian doa melesat dari bibir, "semoga semua dalam keadaan baik-baik saja." Beberapa menit kemudian suasana kembali hening  Hingga terlihat kembali para petugas medis yang tadi berjalan bahkan berlari tergesa Aku memberanikan diri menanyakan apa yang terjadi kepada salah satu petugas medis Jawabnya, "satu pasien anak-anak yang sedang dalam perawatan tetiba berhenti detak jantungnya." Lemas kakiku Berdebar jantungku Tak kuasa ku menahan air mata Ya Rabbanaa....

Mimpi Buruk Karenina

  Fitra membuka sebuah amplop yang sedang dipegangnya. Matanya terpusat pada satu tulisan besar yang berada di tengah kertas. Kekesalan tergurat jelas di wajahnya. Kemudian kertas itu diremasnya. Tak ingin berlama-lama di bangunan sekolah bertingkat itu, Fitra melangkah keluar dari sekolah itu. Langkahnya cepat karena menahan kekesalan. Sesampainya di tempat parkir Fitra masuk ke dalam mobilnya. Ia tidak langsung menyalakan mesin mobilnya melainkan duduk di depan setir. Kemudian ia membuka tasnya dan mengambil ponsel. Dicarinya sekolah-sekolah dasar yang dipikirnya bisa mendaftarkan Karenina, anaknya. Sudah setengah jam lebih, Fitra berada di dalam mobilnya, namun belum ada satu pun sekolah yang menurutnya cocok untuk Karenina. Dari mulai waktu pendaftaran yang sudah selesai, lokasi yang jauh dari rumahnya sampai biaya yang terlalu mahal baginya. Perasaan stres mulai menyerang pikiran Fitra. Ia bingung harus ke mana lagi mencari sekolah untuk Karenina. Akhirnya Fitra memutu...

Lelaki Ini dan Perempuan Itu dan Kenangan Tersisa Abu

Perempuan itu berdiri, gelisah. Sejuknya pusat perbelanjaan mewah ini tak juga menenangkan hatinya. Terlihat sekali usaha kerasnya terlihat biasa. Mondar-mandir tak tentu arah. Membuang senyum menjawab sapa pramuniaga. Lelaki ini menatapinya dari jauh. Sudah 5 menit berlalu dari janji temu, tapi dia berusaha memastikan dulu. Pahatan memori bertahun lalu masih lengkap liku ukirnya. Perempuan itu dengan kuncir kuda dan ransel biru muda, kikuk menapaki dunia dewasa penuh serakah. Kasat mata tak banyak yang berubah. Tapi lelaki ini terlalu perasa untuk tak menduga. Perlahan didatanginya perempuan itu. "Assalamu'alaikum", salamnya lirih. Hanya sejengkal di belakang telinga. Perempuan itu terlonjak, menoleh untuk memastikan. "Wa'alaikumussalaam..." jawabnya setengah tercekat. Sedetik jeda sebelum lelaki ini memeluknya, diantara tatap praduga. Perempuan itu membalasnya. Sejenak tersengat karena ini kali pertama sepanjang persahabatan mereka. "Gaya bener lu ng...

Kangen Emak ...

 

Tuhan Mengambil Dengan CaraNya

Satu per satu diambilNya Apa yang masih lekat dalam dirimu Semata karena kasih sayangNya Untuk orang yang merindu Beratmu akan terasa ringan Bila kau ikhlas melepaskannya Sadar semua hanya titipan Suatu saat diambil pemilikNya Milikmu bukanlah sepenuhnya punyamu Itu hanya rasa yang membelenggu Fikirmu dipengaruhi perasaanmu Jangan sampai semua itu mengganggu Lepaskan dengan ikhlas Pintu-pintu akan terbuka Aliran cahaya akan memancar Aliran ilmu juga terpancar Lepaskan dengan ikhlas Agar nol selalu mizanmu Neraca seimbang, alat ukur yang pas Adil dan bijak tidaklah semu Lepaskan dengan ikhlas Nuranimu akan berkata Hadapi semua tanpa was was Yakin dengan tuntunanNya Lepaskan dengan ikhlas Berdengung dalam dada bertalu-talu Melepas rasa yang membelenggu Butuh kesadaran dan perjuangan Lepaskan dengan ikhlas Terus ditanam dalam tindakan Bukan ucapan di bibir saja Semua harus dalam kenyataan Lepaskan dengan ikhlas Menjadi pondasi hati yang tenang Menerima ketentuan dan ketetapan Tanpa gejola...

DESIR

Berdesir pagi Membelaiku tertegun Menatap angka Terus bertambah Naik mendaki hari Tak kenal henti Beralih pandang Pada jalanan lengang Di waktu lapang Berjalan tenang Kerumunan terlarang Masker menggantang Di pekuburan Tukang gali merintih Peluhnya habis Di pertokoan Tukang peti mengeluh Kayunya tandas Di rumah sakit Tukang suntik menjerit Tak bisa minum Dibalut baju Putih tertutup rapat Masker menutup Di rumah sakit Tukang rawat meringis Tak bisa pipis Dibalut baju Putih tertutup rapat Masker menutup Di mana-mana Tukang bantah membebal Tak bisa mikir Di mana-mana Tukang ngeyel membandel Tak juga sadar Larisnya kafan Buah banyaknya dosa Sikap mereka -Ekpan-

30

Dahulu, seringkali ku bertanya pada sejawat, tentang ukiran rasa, pada permulaan lembaran bahtera rumah tangga. Bagaimana pernikahanmu? Seru! Pungkasmu. Tanpa memahami sejatinya, ku hanya mengangguk, tersenyum mengikuti sumringahmu. Dahulu, seringkali ku bertanya, apakah "seru" kita masih dalam satu makna, atau sudah berbeda warna? Beberapa tahun silam, seorang sahabat berkata ingin menikah, bagaimana pendapatmu? Saat itu Ia bahkan belum menyelesaikan studi. Menikah di umur 21 tahun, berprofesi sebagai pekerja keras. Ya, pekerja keras. Semua hal Ia lakukan, mulai dari imam masjid, guru ngaji, tukang fotokopi, hingga menjaja ikan. Bagaimana pernikahanmu? Semenjak pindah, malam ku tak pernah panjang. Bukan karena begadang, melainkan pada nyanyian pria-pria kesepian yang tak jauh dari kontrakan. Di malam yang lain, pernah juga ada pasangan muda-mudi bertengkar di tengah malam. Lagi-lagi di depan kontrakan. Saling maki dan berteriak. Dari jendela lantai 2 ku amati, satu per satu...

Aku Harus Bahagia

            “Wah alhamdulillah anaknya sehat,” ujar seorang tetangga yang datang menemuiku ketika aku baru saja pulang dari rumah sakit selepas melahirkan Sakina. “Alhamdulillah,” balasku dengan tersenyum Sebenarnya kalau aku ditanya terlebih dahulu sebelum ada orang yang ingin menjengukku dan Sakina, aku lebih memilih tak ada seorang pun yang mendatangiku. Apalagi kalau aku baru saja kembali dari rumah sakit. Aku letih. Seluruh badanku terasa pegal dan tak bertenaga. Aku malas sekali menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan. Terlebih apabila mereka menceritakan pengalamannya ketika melahirkan kepadaku. “ASI-nya lancar, Mbak?” tanya tetanggaku yang satunya lagi. “Belum keluar dari pertama lahiran. Sampai beberapa hari ini masih sedikit sekali air susu yang keluar.” Tanpa diminta, ibuku menjelaskan jawaban yang membuatku kesal. “Banyak makan daun katuk, Mbak! Terus jangan banyak berpikir yang enggak-enggak, nanti jatuhnya stres lho. Coba...