Rahwana Jatuh Cinta

 (Rahwana berdiri di pintu peraduan Shinta. Bicara pada dirinya sendiri)


Wahai Shinta, putri titisan Banowati,
hatiku terus dilanda rindu
aku ingin mendekatimu, untuk sekedar  mendengar suaramu saja 
begitu pun aku sudah senang.
karena itu setiap malam, aku datang ke tempat aku menyembunyikanmu,
namun yang ku dengar adalah suaramu yang meninggi.... membentak dan mengusirku pergi.

bagaimana pun, aku tak pernah jemu,

sampai kau mau mengajakku bicara
sampai kamu mau membuka hatimu untuk mengenalku, sekedar mengenalku.
agar aku bisa menunjukkan isi hatiku padamu.
walaupun terlihat dari sinar mata dan caraku menatapmu

bagaimana kau bisa tahu?
sementara untuk melihatku saja engkau tak mau
apakah karena rupaku?
atau karena orang sepertiku tak layak mendapatkan cinta?

(Rahwana tertunduk, wajahnya murung... matanya yang buas, memudar sendu)

aku Rahwana, Raja Negeri Alengka
aku terbiasa mendapatkan keinginanku dengan sesuka hati
aku memang bukan orang baik
tapi aku tetap punya perasaan, punya rasa cinta.

aku tak tahan melihatmu, seringkali ditinggal Rama untuk bertapa.
sementara engkau selalu menangis diam-diam
namun, tak sedikitpun engkau mengeluh
beri aku kesempatan sekali saja untuk menunjukkan sisi baikku padamu

andai aku bisa malam ini pula, aku akan mengatakan kalau aku mencintaimu
tapi aku harus bergegas mempertanggungjawabkan perbuatanku yang telah membawamu pergi
aku harus mempertahankan harga diri dan negaraku,. kalau aku berbuat ini karena cinta.
hanya karena cinta.

(Air mata mengalir deras di pipi Rahwana, raksasa perkasa yang ditakuti seluruh mayapada, sebelum kakinya tergesa melangkah masuk peraduan Shinta, tercekat oleh banyaknya kata yang ingin diucapkannya, namun yang sempat diucapkannya lirih pada Shinta yang memunggunginya adalah...   )

selamat tinggal Shinta, mungkin ini malam terakhirku untuk menemuimu. Mengganggumu. kuharap engkau akan bahagia di hidupmu selanjutnya.

(Rahwana menatap wajah Shinta. sekali lagi. seakan enggan melepaskan pandangannya, mengambil nafas panjang dan membalikkan tubuhnya menjauhi Shinta. Ia mengira Shinta akan mengusirnya kembali namun...  ia merasakan tangan lembut Shinta pada bahunya, dan suara isak tangis pilu Shinta...)

Rahwana....  jangan pergi.

apakah engkau akan meninggalkan aku, yang selama tujuh belas tahun ini terbiasa mendengar suaramu setiap malam?
yang terbiasa dengan rayuanmu yang sebelumnya kuanggap gangguan? 
yang terbiasa dengan tingkahmu yang menjengkelkan namun tak pernah menodai kehormatanku?
baru kusadari sekarang bahwa...
yang kau lakukan selama ini adalah berusaha membahagiakanku.

(Shinta menangis sesenggukan... menatap punggung Rahwana yang harus pergi...)

Sayup suara kidung terdengar, ''loro ning loro ora koyo wong kang nandang wuyung....''

Aku, Si Kutu Buku, Dan Sunyi

 

Ku terduduk kaku di sudut ruangan sebuah rumah tua yang berada di tengah perkebunan di daerah Pangalengan. Suasana senyap membuatku semakin tak nyaman. Hanya terdengar suara jangkrik yang terus bernyanyi menemani sunyiku. Di sudut lain seorang remaja pria yang kutaksir seusiaku duduk bersila, asyik dengan buku yang sedang dibacanya.

Sedikit demi sedikit kugeser badanku, mendekat ke arahnya. Kepalaku menunduk mengamati buku yang sedang dipegangnya, memastikan posisinya tidak terbalik. Siapa tahu dia cuma pura-pura membaca untuk memberi kesan pandai kepadaku.

“Hey ….”

Tak ada balasan kudengar. Remaja pria itu  tak bergeming. Masih duduk dengan posisi yang sama. Hanya matanya yang mondar mandir ke kiri dan kanan, seperti orang yang sedang senam pagi di lapangan. Kuberanikan diri menggerakkan jari tanganku untuk mencoleknya.

“Hey, kita kan cuma berdua di sini. Di rumah yang luas ini, kita ngapain kek, ngobrol kek, main  gaple gitu, atau main congklak kek,  jangan saling diam gini. Aku takut.”

“Nggak ada yang perlu ditakutkan. Cari kesibukan sendiri. Nih baca!” balas pria Itu sambil menyerahkan sebuah buku tebal kepadaku.

Seketika dahiku mengernyit membaca judul buku itu. Rasanya ingin sekali kupukulkan buku Itu ke kepala remaja pria Itu.

“Kau pikir kita datang ke sini mau try out UMPTN?Gila aja, orang lagi piknik bawanya buku kumpulkan soal UMPTN,” ujarku dengan suara cempreng dan membuat jangkrik yang sedang bernyanyi langsung terdiam.

“Lha, daripada bengong nggak ngapa-ngapain, mending belajar. Biar bisa masuk PTN,” ujarnya dan kembali asyik dengan bukunya. Aku hanya bisa mengepalkan tangan tanda kesal kepadanya walaupun percuma juga sih karena dia tak berniat melirikku walau cuma seujung sudut maya. Sejak itu kunobatkan dia dengan julukan Si Kutu Kupret eh Kutu Buku.

Berkali kali kutengok pintu rumah, siapa tahu orang-orang yang ikut kegiatan gathering muncul. Sudah dua setengah jam berlalu sejak waktu yang dijanjikan Kang Alif, Ketua Karang Taruna Kompleks Mawar Duri Lunak untuk memulai acara kebersamaan. Sayangnya tak nampak tanda remaja-remaja Kompleks Mawar Duri Lunak muncul dari pintu. Begitu juga Kang Alif, aku tak melihat keberadaannya.

“Kita berkumpul di tempat sejuk hari ini adalah untuk mempererat silaturahmi diantara anggota Karang Taruna Kompleks Mawar Duri Lunak. Tak ada lagi istilah “aku” tapi adanya “kita” ….” Terngiang kembali di telingaku pidato Kang Alif tadi sore ketika kami para para peserta gathering tiba di tempat ini. Tempat dimana saat ini aku terjebak diantara Si Kutu Buku dan jangkrik yang bernyanyi dengan suara fals.

Tiba-tiba aku merasakan panggilan alam yang untuk saat ini sangat sulit kuhindari. Aku mulai gelisah. Bingung karena kamar mandi berada di luar rumah. Di dalam rumah saja aku sudah merasakan kengerian apalagi di luar rumah.

“Hey ….”

Kusenggol tangan Si Kutu Buku agak keras hingga buku yang sedang dipegangnya terjatuh. Ia melotot ke arahku. Mungkin merasa terganggu oleh sikapku. Tapi menurutku tak pantas ia melotot karena matanya tetap spit.

“Antar aku ke luar!”

“Ngapain?”

“Aku perlu ke kamar mandi. Takut sendiri. Di luar gelap.”

Dengan enggan, Si Kutu Buku bangkit dari duduknya. Ia mengikutiku dari belakang, kalau dari depan berarti mendahuluiku. Tak penting juga sih mau mendahului atau mengikuti, aku hanya butuh teman untuk melawan ketakutanku yang tak jelas takut apa.

“Awas ya, jangan ngintip!”

Si Kutu Buku hanya memandangku heran. Tak kata pun keluar dari mulutnya. Mungkin ia mempunyai niat mengintip tapi ketahuan olehku atau mungkin juga dia jijik mendengar celotehanku.

 

Ketika aku keluar dari kamar mandi, Si Kutu Buku masih berdiri dengan setia di depan pintu. Ia berjalan mendahuluiku menuju ke dalam rumah tapi kucegah.

“Daripada kita balik ke rumah dan cuma bengong, mending kita cari Kang Alif. Biar dia tanggung jawab sama kegiatan ini,” ajakku.

Entah dia terpesona olehku atau biar aku tak mengoceh terus, Si Kutu Buku menuruti kemauanku. Entah kenapa dia kembali mengambil posisi di belakangku. Dasar pengekor!

Belum jauh kami berjalan terdengar olehku suara mendesah dari balik tanaman teh di sekitar kebun . Aku menutup mulut Si Kutu Buku yang hampir saja mengeluarkan bunyi. Aku mendekati asal suara. Semakin dekat semakin aku hapal  dengan suara-suara Itu.

“Kang Alif … Teh Mimin, lagi ngapain di sini? Mojok ya?” tanpa basa basi kuinterogasi mereka berdua hingga tanganku disikut Si Kutu Buku.

“Eh Dinda, ngapain di sini?”

“Harusnya sih saya yang nanya, Akang sedang apa, berbuat apa di sini, dua duaan, gelap gelapan dengan seseorang yang bukan muhrimnya dan nama saya bukan Dinda!” bentakku lantang.

Menyebut namaku saja salah, berarti dia tak mengenal anggotanya. Bagaimana mungkin dia bisa berpidato akan menyatukan remaja-remaja dalam ikatan silaturahmi kalau dia sendiri saja tak mengenal anggotanya dan tidak disiplin menjalankan kegiatan yang dirancangnya.

Karena malam gulita aku tak bisa melihat muka Kang Alif dan Teh Yuni. Apakah dia malu atau bahagia kepergok olehku dan Si Kutu Buku, aku tidak tahu. Biarlah bulan yang jadi saksi atas kejadian malam ini.

Aku meninggalkan Kang Alif dan Teh Yuni dengan perasaan kesal. Menyesal sekali ikut acara ini karena menuruti keinginan Ibu agar aku berbaur dengan remaja-remaja Kompleks Mawar Duri Lunak. Waktuku terbuang sia-sia. Rasa sesal memang datangnya terlambat karena kalau lebih dulu namanya pendaftaran.

Si Kutu Buku kembali berjalan di belakangku. Setelah lima langkah kudengar suara-suara berbisik dan mendesah lainnya. Rupanya acara gathering ini hanyalah formalitas belaka agar izin orang tua bisa keluar dan mereka bisa berpacaran di alam terbuka. Sebagai jomblo sejati aku merasa acara seperti ini tak pantas buatku. Rasa marah membuatku mempercepat langkahku menuju rumah. Tidur adalah jalan terbaik bagiku.

*****

Pagi-pagi buta aku bangun dan berkemas. Bergegas keluar rumah besar Itu. Kulihat Si Kutu Buku mengikutiku dari belakang. Kami berdua naik bis umum mendahului para remaja yang masih lelap karena semalam mereka begadang.

Setelah sampai di Kompleks Mawar Duri Lunak, aku dan Si Kutu Buku berpisah. Aku tak tahu siapa nama sebenarnya nama Si Kutu Buku begitu juga sebaliknya. Kami berdua tak berniat mengetahui lebih dalam tentang diri masing-masing.

Depok, 21 Desember 2020

Puisi untuk Mamak

 Kehidupan Mamak tidak begitu mudah sedari kecil

Mamak perempuan tangguh dan tak mau bergantung

Mamak sering bercerita kala kecil sering berusaha

Demi sebuah cita-cita

 

Aku hanya satu dari sekian orang yang menyayangimu

Aku hanya titipan Allah yang pernah tinggal di rahimmu

Aku malu untuk memberitahukan ini kepadamu,

Bahwa Aku merasa sangat berharga bila didekatmu

 

Mengandung, melahirkan, dan menyusui merupakan tugas muliamu

Mengadu Aku kepada Rabbku atas tingkahku yang mungkin pernah melukai

Melirikmu sibuk dengan aktivitas rumah dan sekolah,

 adalah hal yang memotivasi diri ini untuk menjadi lebih baik

 

Kini bahtera kita hanya dua awak

Sang Kapten telah kembali kepada pemilikNya

Tertinggal dua pesan untukku,

Salah satunya tentangmu.

 

Doaku untukmu,

Semoga engkau diberikan kelapangan hati untuk menjalani segala ketetap Illahi

dan setiap langkahmu dimudahkan Pemilik Alam Semesta ini.

Ibuku Tak Sempurna


 


Ibuku bukanlah ibu yang sempurna. Dia tidak mempelajari ilmu parenting. Tidak juga memakai tips bagaimana mendidik anak. Bukan pula ibu yang mengganti kata 'jangan' dengan 'sebaiknya'.


 Seringkali ibuku juga bersikap keras pada anak-anaknya.Yang kadang tak bisa kunalar dengan pikiran kritisku. Ibuku juga sering membiarkan anaknya mencari penyelesaian atas masalahnya sendiri walau di satu sisi ingin juga ikut campur kehidupan anak-anaknya.


Walaupun tak sempurna bukan berarti ibuku tak pernah melakukan sesuatu yang heroik bagi anak-anaknya. Ibuku tak pernah membelikan anak-anaknya baju baru tapi ia menjahitnya untuk kami dengan renda bertuliskan nama kami di baju.  Tak pernah juga memberi uang untuk pergi ke salon untuk sekedar memotong rambut tapi ia memotong sendiri rambut anak-anaknya. Tak juga sanggup memberikan uang jajan berlebih tapi ia selalu memasak dan membuatkan cemilan untuk kami.


Ternyata aku mendapatkan masa kecil yang bahagia di tengah keterbatasan walau dulu tak pernah kusadari. Aku sering membandingkan dengan kehidupan anak lain yang lebih hebat menurutku, yang bisa menyombongkan diri ketika membeli baju baru, atau pergi ke salon atau juga makan di restoran mewah. Andai aku bisa kembali ke masa itu, tentu aku akan lebih mensyukuri apa yang kupunya saat itu.


Setiap anak pasti memiliki kenangan tersendiri tentang ibunya masing-masing. Bersyukur adalah cara terbaik ketika kita masih memiliki ibu. Saat ini hanya doa yang bisa kulafalkan dalam setiap helaan nafasku, agar ibuku, ibu mertuaku dan juga ibu-ibu lainnya selalu sehat dan bahagia. Selamat Hari Ibu untuk semua Ibu....❤️❤️


Depok,  22 Desember 2020

Lepas

 


Kau bilang ku tak cantik

Beda dengan perempuan perempuan di televisi

Kubuat alisku melengkung dan lebat

Kau tetap bilang ku tak menarik


Kau minta ku tampil cantik

Agar membuatku sedikit indah dipandang mata

Kupulas bibirku dengan gincu merah darah

Kau bilang ku terlalu menor


Kau bandingkan ku dengan Bae Suzy

Yang kau tonton tiap saat

Kupulas wajahku dengan kosmetik dari Seoul

Kau bilang ku lupa usia


Kau bilang ku gendut

Kau minta ku mengurangi makan

Kukurangi takaran MSG-ku

Kau bilang ku terlalu kurus


Ah enyahlah kau 

Aku adalah aku

Bukan brand ambassador kosmetik

Kau tak cukup berharga buatku


Depok, 19 Desember 2020

Gadis Kecil Dan Lelaki Berbaju Putih



 Gadis kecil Itu menutupi kuping dengan rambutnya ketika beberapa temannya menutup hidungnya. Ia meletakkan bola bekel yang sedang dipegangnya. Ia berdiri dari duduknya dan berpamitan kepada teman-temannya bermain. Mukanya bersemu merah menahan rasa malu di hatinya.


Dalam beberapa langkah, ia mendengar teman-temannya berbicara satu sama lain. Pembicaraan yang membuat gadis kecil Itu merasa tersisih dari pergaulan anak-anak seusianya.


 “Kenapa tadi baunya nggak enak sekali ya? Ampun deh, aku nggak sanggup berdekatan dengannya. Lain kali jangan diajak bermain lagi, bikin jijik aja.”


“Bukan aku yang ajak, kok. Dia sendiri yang pengen gabung,” timpal yang lainnya.


Gadis kecil Itu terus melangkah menjauhi tempatnya bergaul bersama teman-temannya. Rasanya tak ada harapan baginya untuk kembali bermain bersama.

Sesampainya di rumah ia langsung masuk kamar. Perasaannya sungguh terluka. Ia ingin sekali bercerita tapi ia tak sanggup bercerita karena merasa tak ada gunanya.


Ditatapnya cermin dengan pandangan nanar. Ia memegang rambut di sebelah telinganya. Rambutnya lengket dan mengering. Tercium olehnya bau yang menyengat. Pantas saja teman-temannya tak mau ia berada di dekat mereka.

Gadis kecil itu semakin murung. Tak terbayangkan bagaimana kalau ia pergi ke sekolah dengan keadaan seperti itu. Tiba-tiba telinganya terasa hangat, ada cairan yang keluar dari telinganya. Diambilnya lap dapur untuk mengusap telinganya. Setelah itu, diam-diam ia mencuci lap Itu.


Kejadian hari itu bagaikan mimpi buruk bagi seorang gadis kecil yang baru berusia delapan tahun. Pikirannya bekerja keras untuk menyelesaikan masalahnya sendiri agar ia bisa menjaga harga dirinya di harapan teman-temannya.

***

Keesokan harinya


Gadis kecil itu membuka lemari pakaian orang tuanya di saat ayahnya sedang bekerja dan ibunya sedang ke pasar. Saat itu ia kebagian masuk sekolah pada siang hari. Diambilnya sebuah kartu dari laci lemari.


Dengan perasaan deg degan gadis kecil Itu naik angkot menuju suatu tempat yang sebenarnya asing baginya. Tubuhnya yang mungil memasuki sebuah bangunan yang sering dikunjungi banyak orang. Kebanyakan orang dewasa yang datang ke sana. Kalau pun ada anak kecil, pasti ada orang dewasa yang mendampinginya.


Gadis kecil itu sempat ditolak di bagian pendaftaran. Orang dewasa yang berada di situ, memintanya datang dengan orang dewasa. Tak habis akal, ia menampakkan mimik kesakitan sambil memegangi kupingnya. Akhirnya, karena kasihan melihat gadis kecil itu, ia diperbolehkan mendaftar. 


Tak lama namanya dipanggil. Ia disuruh menimbang badan dan menunggu dipanggil kembali. Setelah menunggu sekitar sepuluh menit ia dipanggil masuk. Seorang laki-laki dewasa berbaju putih menyambutku dengan senyum yang ramah.


“ Mana orang tuamu, Nak?” tanya laki-laki Itu dengan ramah.


“Aku datang sendiri, orang tuaku sedang sibuk.” Lelaki berbaju putih Itu mengeryitkan kening heran. Mana mungkin tubuh mungil itu bisa datang sendiri ke tempat orang biasa menyembuhkan penyakitnya.


“Kamu kenapa?” Akhirnya lelaki Itu menyerang.


“Teman-teman meninggalkanku karena kupingku bau,” jawab gadis Itu dengan sedih.


Laki-laki berbaju putih Itu berdiri. Ia memeriksa kuping gadis kecil itu. 

“Apa yang kamu lakukan terhadap kupingmu?”


“Aku tidak melakukan apa-apa, paling kalau kupingku gatal, kukorek pakai peniti atau kertas, atau jepit rambut  hitam,” jawab si gadis kecil.


Di wajah laki-laki itu tergambar senyum yang ditahan ketika mendengar jawaban si gadis kecil. Setelah itu ia mengambil alat dan memasukkannya ke telinga si gadis kecil tanpa perasaan jijik seperti teman-teman si gadis kecil.


“Tahan sebentar, ya! Kotoran di kupingmu akan dibersihkan agar kamu bisa bermain kembali dengan teman-temanmu.” Si gadis kecil mengangguk dan mencoba menahan rasa sakit.


“Setelah ini jangan sekali kali pakai alat alat yang kamu sebutkan tadi untuk mengorek kupingmu. Kan bisa jadi jepit atau penitimu karatan. Kertasmu juga kan kotor. Minta tolong ibumu untuk membersihkan kuping. Jangan masuk terlalu dalam kalau membersihkan kuping, ya!” Gadis kecil Itu mengangguk.


“ Ambil obat di apotek, di sebelah tempatmu mendaftar tadi. Lain  kali datang ke sini bersama orang tuamu, ya.” Lelaki itu menyodorkan kertas yang telah ditulisinya. Si gadis kecil mengambil kertas itu dan keluar dari ruangan.


“Jangan lupa minta ibumu memotong rambutmu, ya.”

Gadis kecil itu mengangguk dan berkata lirih, “Terima kasih, Dok.”


Laki-laki yang ramah itu selalu memiliki tempat di hati si gadis kecil itu karena dialah orang dewasa  pertama yang mempercayai dan tidak menertawakan kesedihan yang dialaminya.


PS:


Gadis kecil yang ‘conge’-an Itu adalah aku. Tempat yang kudatangi adalah Puskesmas Pasundan yang ada di Jl. Pungkur Bandung....


Depok, 4 Desember 2020

Desember Yang Mencekam

 


Langit kali ini menghitam

Seolah siap menerkam insan yang terkurung di padatnya jalanan

Bersahutan bunyi klakson kendaraan roda empat

Berebut tempat agar dapat secepatnya berada di depan

 

Saling sikut dan senggol hal yang biasa

Tak ada perasaan bersalah

Seringkali umpatan tak terhindarkan keluar dari mulut insan yang depresi

Tak tahan menanggung kesal yang tak berujung

 

Aku hanya bisa terdiam tak berdaya terkurung di balik kaca

Lengkingan klakson yang bersahutan seolah alunan nada yang sanggup memecahkan gendang telinga

Aku hanya berdiam dalam gelisah

Sesekali badanku bergerak ke kiri dan ke kanan

 

Semakin lama perasaan tak nyaman menggerogoti kewarasanku

Ku mulai berteriak dan menangis

Rasanya ku ingin terbang melintasi benda-benda berjendela itu

Yang semrawut berdesakan di atas aspal basah 

 

Akhirnya air deras mengucur dari langit

Membuatku semakin panik

Dingin seketika melanda sekujur tubuhku

Desember kali ini sungguh kejam melumatku dalam beku

 

Keringat dingin mengucur di dahi

Keresahan semakin melanda

Suasana mencekam semakin nyata

Inilah yang selalu kutakutkan ketika Desember menghampiriku

 

Entahlah kepada siapa ku harus meminta pertolongan

Kegelisahan semakin mendera

Tak hentinya kuusap peluh yang terus bercucuran

Bagaikan air terjun yang turun dalam tubuhku yang membeku

 

Tanpa kusadari pahaku terasa hangat dijalari air

Rok yang kupakai seketika basah

 Bau pesing menyengat di dalam kotak tertutup yang dingin itu

Aku pun bisa bernafas lega

 

Jakarta, 16 November 2020

Jiwa dan Raga Yang Tak Selaras

 

Bulan Desember tahun lalu,

Ku pernah bersumpah

Ku akan selalu mengungkapkan apa  yang sebenarnya ada di dalam hatiku

Aku akan jujur

 

Desember kali ini,

Aku berkata iya padahal kuingin berkata tidak

Aku berkata tidak padahal kuingin berkata iya

Aku berkata suka padahal aku benci

 

Desember kali ini,

Ragaku tetap sama

Tak sanggup ku keluar

Dari belenggu rasa tak nyaman di jiwa

Yaa Rabbanaa

Code blue

Code blue

Ruang perawatan anak


Seketika suara dari alat pengeras suara ruangan memecah kesunyian


Para petugas medis berlarian menuju lokasi yang dituju

Aku hanya terpaku menatap gerak langkah cepatnya

Untaian doa melesat dari bibir, "semoga semua dalam keadaan baik-baik saja."


Beberapa menit kemudian suasana kembali hening 


Hingga terlihat kembali para petugas medis yang tadi berjalan bahkan berlari tergesa


Aku memberanikan diri menanyakan apa yang terjadi kepada salah satu petugas medis

Jawabnya, "satu pasien anak-anak yang sedang dalam perawatan tetiba berhenti detak jantungnya."


Lemas kakiku

Berdebar jantungku

Tak kuasa ku menahan air mata


Ya Rabbanaa....

Mimpi Buruk Karenina

 

Fitra membuka sebuah amplop yang sedang dipegangnya. Matanya terpusat pada satu tulisan besar yang berada di tengah kertas. Kekesalan tergurat jelas di wajahnya. Kemudian kertas itu diremasnya.

Tak ingin berlama-lama di bangunan sekolah bertingkat itu, Fitra melangkah keluar dari sekolah itu. Langkahnya cepat karena menahan kekesalan.

Sesampainya di tempat parkir Fitra masuk ke dalam mobilnya. Ia tidak langsung menyalakan mesin mobilnya melainkan duduk di depan setir. Kemudian ia membuka tasnya dan mengambil ponsel. Dicarinya sekolah-sekolah dasar yang dipikirnya bisa mendaftarkan Karenina, anaknya.

Sudah setengah jam lebih, Fitra berada di dalam mobilnya, namun belum ada satu pun sekolah yang menurutnya cocok untuk Karenina. Dari mulai waktu pendaftaran yang sudah selesai, lokasi yang jauh dari rumahnya sampai biaya yang terlalu mahal baginya.

Perasaan stres mulai menyerang pikiran Fitra. Ia bingung harus ke mana lagi mencari sekolah untuk Karenina. Akhirnya Fitra memutuskan akan mendatangi sebuah sekolah swasta yang letaknya agak jauh dari rumahnya. Ia menjalankan mobilnya meninggalkan gedung megah sekolah itu.

“Selamat pagi, Bu!”  Fitra menyapa seorang perempuan setengah baya yang sedang duduk di sebuah ruangan.

“Selamat pagi. Ada yang bisa saya bantu?” jawab perempuan itu dengan ramah.

“Saya ingin mencari informasi pendaftaran masuk ke sekolah ini, Bu,” ujar Fitra.

“Silakan duduk, Bu!”

Fitra duduk di depan perempuan itu. Ia mulai berbicara tentang kemungkinan anaknya bersekolah di sekolah yang menurut banyak orang adalah sekolah yang paling bagus di daerah tempat tinggalnya. Sayangnya semakin lama ia mendengarkan perkataan perempuan dihadapannya, ia semakin pusing.

“Biaya masuknya sekitar empat puluh juta dan SPP-nya adalah dua juta per bulan. Ibu bisa mendaftarkan anaknya sekarang kemudian lusa bisa ikut tes masuk.”

Fitra tak tahan lagi berada di situ. Ia tak membayangkan mengeluarkan uang segitu banyak untuk pendidikan di sekolah dasar. Belum lagi biaya bulanannya. Gaji Fitra dan Tommy, suaminya akan habis untuk biaya sekolah, transportasi dan cicilan-cicilan saja. Tak akan tersisa untuk makan sehari-hari. Belum lagi tanggungan keluarga mereka berdua. Fitra bergidik membayangkannya.

“Saya pikirkan dulu ya, Bu,” ujar Fitra dengan lemas.

“Ini kesempatan terakhir, lho. Besok pendaftaran sudah kami tutup,” jawab perempuan itu.

“Iya, Bu. Saya permisi!” Fitra pamit setelah bersalaman dengan perempuan itu.

Sampai ia mendatangi sekolah yang keempat, barulah Fitra merasa telah menemukan sekolah yang cocok bagi Karenina. Sayangnya, ia tak dapat memutuskan sendiri. Fitra harus melibatkan Tommy untuk mengambil keputusan. Baginya yang penting adalah ia sudah menemukan calon sekolah bagi Karenina.Itu sudah membuatnya sedikit lega.

                                      ***

“Tom, masak sih Karenina bisa nggak lolos masuk sekolah negeri favorit,” ujar Fitra kesal.

“Ya nggak apa-apa dong. Emang harus ya lolos masuk SD favorit?” tanya Tommy dengan tenang.

“Bukan begitu, Tom. Aku nggak terima aja. Karenina itu cerdas lho. Bahkan waktu di TK, gurunya sering memuji Karenina. Dia juga udah pinter baca,” timpal Fitra.

“Nggak boleh lho masuk SD pake tes. Di TK juga seharusnya nggak perlu diajarin baca tulis,” ujar Tommy.

“Iya sih, tapi kan kita harus mempersiapkan pendidikan Karenina sejak dini, Tom. Biar nanti dia bisa masuk sekolah lanjutan yang bagus.”

“Kali aku nggak sependapat, Fit. Kupikir sih nggak perlu lah Karenina belajar di sekolah favorit dulu. Aku malah pengen masukin Karenina ke sekolah negeri yang di sekitar sini aja,” ujar Tommy.

“Maksudmu SD Melati gitu? Ya ampun Tom, tega banget sih mau sekolahin Karenina di situ. Bangunannya aja jelek gitu mana tempatnya kumuh pula,” tukas Fitra.

Fitra merasa kaget mendengar usul Tommy untuk menyekolahkan anaknya di SDN Melati. Tak ada seorang pun penduduk kompleks perumahan yang mereka tinggali bersekolah di SDN Melati. Kebanyakan anak yang bersekolah di situ adalah penduduk perkampungan yang berada di sekitar tempat tinggal mereka.

“Lho memangnya kenapa?” tanya Tommy masih dengan suara yang datar dan tenang.

“Karenina, Tom. Anak kita satu-satunya sekolah di tempat yang jorok. Kasihan dong,” jawab Fitra dengan kesal.

“Ah menurutku semua sekolah sama aja. Apalagi masih tingkat dasar, pelajarannya pasti sama.”

“Tom, aku nggak setuju! Kasihan Karenina.”

“Kasihan Karenina atau kasihan kamu sendiri?”

“Maksudmu apa, Tom?”

“Sebenarnya yang kamu kasihani itu adalah dirimu sendiri, bukan Karenina. Menurutku sih Karenina akan senang sekolah di mana pun. Yang penting baginya adalah memiliki teman bermain ….”

“Kamu kok menentang aku memberikan yang terbaik bagi anak kita sih!”

Suara Fitra terdengar parau bercampur dengan tangisan yang tertahan di matanya. Ia merasa Tommy tak menghargai upayanya untuk mencari sekolah yang bagus bagi Karenina. Ia merasa telah mengorbankan waktu dan tenaganya demi mencari sekolah. Ia rela mengambil cuti dari kantor padahal ia sebenarnya ditugaskan ke luar kota oleh atasannya. Ia tolak semua itu demi Karenina.

“Gini deh, untuk sekolah dasar, beri aku kesempatan untuk memilihkan sekolah untuk Karenina. Kalau misalnya Karenina tidak senang dengan sekolahnya, maka bolehlah kamu memindahkan Karenina ke sekolah yang bagus menurutmu,” ujar Tommy.

“Tom, kamu kok ngotot sih?” tanya Fitra.

“Lha bukannya kamu juga ngotot?” Tommy balik bertanya.

“Bukan gitu, apa kamu nggak kepengen Karenina tumbuh cerdas dan pintar sehingga nanti dia nggak kesulitan masuk ke jenjang sekolah yang lebih tinggi,” terang Karenina. Ia mencoba mempertahankan keinginannya.

“Pengen banget, Fit. Pengen. Satu hal yang perlu kamu ketahui, aku punya alasan kuat menyekolahkan Karenina di SDN Melati adalah biar Karenina punya pengalaman hidup yang berwarna. Ia bisa melihat kehidupan lain. Bukan hanya kehidupan yang didapatnya sekarang. Aku ingin Karenina jadi anak yang tangguh dan juga anak yang peduli dengan sesamanya,” jelas Tommy.

Fitra terdiam sejenak mendengar penjelasan Tommy. Ia tahu maksud Tommy baik tapi ia berpikir apakah sekolah seperti itu tepat untuk Karenina.

“Kalau Karenina di-bully gimana?”

“Di sekolah bagus pun sering ada bullying juga, kok.”

“Tom, please!

“Kali ini aku akan bertahan, Fit,” ujar Tommy ngotot.

“Mama, Papa, kok bertengkar sih?”

Tiba-tiba Karenina muncul di depan mereka berdua. Karenina mengucek-ngucek matanya. Kemudian ia duduk diantara Fitra dan Tommy.

“Karenina kok bangun, sih?” tanya Fitra.

“Karenina mimpi buruk, Ma.”

“Mimpi apa?” tanya Fitra sambil mengusap kepala Karenina.

“Mama dan Papa bertengkar,” jawab Karenina polos.

“Karenina, Mama dan Papa nggak bertengkar kok. Mama dan Papa sedang membicarakan tentang sekolah Karenina setelah dari TK,” ujar Fitra lembut.

Tommy memberi isyarat kepada Fitra agar tidak membicarakan masalah sekolah kepada Karenina. Fitra merasa inilah kesempatan yang bagus untuk mengungkapkannya kepada Karenina.

“Karenina suka kan sekolah yang gedungnya bagus, ruangannya bersih dan temannya yang baik-baik?” tanya Fitra.

“Suka, Ma,” jawab Karenina.

“Kalau sekolah dekat, temannya lebih banyak suka ngga, Nak?” tanya Tommy.

“Karenina juga suka, Pa.”

“Tommy!” bentak Fitra.

“Biar Karenina yang memilih, Fit. Dia pasti tahu lah yang baik untuknya,” balas Tommy.

“Karenina masih kecil, Tom!” balas Fitra.

“Ma … Pa, kok jadi ribut gara-gara Karenina sih?” tanya Karenina polos.

“Nggak kok. Mama sama Papa nggak ribut,” ujar Fitra dengan lembut.

“Gini deh, Papa mau tanya. Karenina mau sekolah di pilihannya Mama atau Papa?”

“Tom, masak Karenina dibawa-bawa ke masalah ini sih. Harusnya kita yang menentukan untuk kebaikan Karenina,” tukas Fitra.

“Ya nggak apa-apa dong biar Karenina udah dibiasakan ngambil keputusan sejak dini,” balas Tommy.

“Karenina, bagaimana jawabannya?” tanya Tommy lagi.

“Karenina bingung, Pa.”

“Tuh kan anaknya bingung. Kamu sih. Udah masuk sekolah yang kucari tadi siang aja!” pinta Fitra.

“Enggak dong! SDN Melati dekat. Kita jadi nggak khawatir,” balas Tommy.

“Nggak bisa, aku nggak mau anakku masuk sekolah negeri!” balas Fitra.

“Lha kamu juga kan produk sekolah negeri, Fit.”

“Tapi aku nggak mau anakku masuk sekolah negeri!”

“ … “

“ … “

Karenina hanya bengong melihat perdebatan kedua orang tuanya. Ia juga tak mengerti apa masalah perdebatannya. Ia pun tak tahu apa yang harus dilakukannya. Akhirnya ia meninggalkan kedua orang tuanya yang terus berdebat dengan suara yang sama-sama kerasnya. Karenina berpikir kalau mimpi buruknya itu ternyata menjadi kenyataan malam ini.

Lelaki Ini dan Perempuan Itu dan Kenangan Tersisa Abu

Perempuan itu berdiri, gelisah. Sejuknya pusat perbelanjaan mewah ini tak juga menenangkan hatinya. Terlihat sekali usaha kerasnya terlihat biasa. Mondar-mandir tak tentu arah. Membuang senyum menjawab sapa pramuniaga. Lelaki ini menatapinya dari jauh. Sudah 5 menit berlalu dari janji temu, tapi dia berusaha memastikan dulu. Pahatan memori bertahun lalu masih lengkap liku ukirnya. Perempuan itu dengan kuncir kuda dan ransel biru muda, kikuk menapaki dunia dewasa penuh serakah. Kasat mata tak banyak yang berubah. Tapi lelaki ini terlalu perasa untuk tak menduga. Perlahan didatanginya perempuan itu. "Assalamu'alaikum", salamnya lirih. Hanya sejengkal di belakang telinga. Perempuan itu terlonjak, menoleh untuk memastikan. "Wa'alaikumussalaam..." jawabnya setengah tercekat. Sedetik jeda sebelum lelaki ini memeluknya, diantara tatap praduga. Perempuan itu membalasnya. Sejenak tersengat karena ini kali pertama sepanjang persahabatan mereka. "Gaya bener lu ngajak ketemuan disini" seloroh perempuan itu menutupi jengah. Lelaki ini terbahak. "Kan elu masih jetlag kebanyakan keju, kalo gue ajak di warung indomie ntar mules lagi" balas lelaki ini tangkas. Lalu mereka tergelak. Ingat masa-masa dimana warung indomie adalah kemewahan yang hakiki. "Cari makan  yuk" lelaki ini memecah suasana. "Masakan itali doyan kan lu? gue punya resto itali favorit disini" lanjut lelaki ini sambil sedikit menarik tangan perempuan itu. Perempuan itu menatap aneh lelaki ini. Sekilat cemburu membersit di matanya. "Gue cewek ke berapa yang lu ajak kesini?" selidiknya. Gelak lelaki ini kembali pecah. Memalingkan beberapa kepala yang ingin tahu kenapa.

***

"Hidup gue hancur" perempuan itu memulai ceritanya. Sisa-sisa salad di piringnya diaduk tak tentu arah. Lelaki ini terkesiap. Tak tahu bagaimana meresponnya. Perlahan disodorkannya tisu untuk menahan titik-titik yang mulai tumpah. Perempuan itu dan lelaki ini sudah bersahabat lama. Persahabatan yang hampir sama tuanya dengan separoh hidup mereka. Tidak ada rahasia di antara mereka, kecuali mungkin rahasia hati yang tak jua mau jujur dibuka. Masih terbayang acara pernikahan yang mewah di gedung yang megah. Wajah-wajah sumringah, penuh cinta dan suka cita. Tak dinyana, bahkan sebelum hari H, sang suami sudah mendua. Lelaki ini bahkan sudah merasa, ada yang tak biasa di pemandangan mata. Tapi suka cita dan bahagia perempuan itu lebih bermakna dibanding rasa yang disangka cemburu semata.

***

Hentakan irama musik menghanyutkan segala lara. Melupakan sejenak duka dan luka. Perempuan itu meluapkan segalanya. Menikmati menit-menit terbebas dari segala nestapa. Merayakan rasa yang dulu dianggap salah. Pun, lelaki ini. Semua tertumpah. Lupa sudah masa-masa yang terjaga. Yang ada hanya sir panas membakar semua etika.


***

"I miss you", lelaki ini mengadu khilaf. Lama. "I don't", balas perempuan itu. Lelaki ini tersenyum. November ini hujan lagi. Setahun? dua tahun? entah sudah berapa lama. Tidak ada tanda-tanda dimana perempuan itu berada. Lelaki ini pun tak memaksa. Ikatan itu sudah cerai berai, tak mungkin dipintal ulang atau sekedar direntang. Benar adanya, semua datang dan pergi, memberi arti yang mungkin sulit untuk dipahami. Tidak ada yang menetap pasti, kecuali takdir yang berjanji.


Jakarta, 06112020


Kangen Emak ...

 

Tuhan Mengambil Dengan CaraNya


Satu per satu diambilNya

Apa yang masih lekat dalam dirimu

Semata karena kasih sayangNya

Untuk orang yang merindu


Beratmu akan terasa ringan
Bila kau ikhlas melepaskannya
Sadar semua hanya titipan
Suatu saat diambil pemilikNya

Milikmu bukanlah sepenuhnya punyamu
Itu hanya rasa yang membelenggu
Fikirmu dipengaruhi perasaanmu
Jangan sampai semua itu mengganggu

Lepaskan dengan ikhlas
Pintu-pintu akan terbuka
Aliran cahaya akan memancar
Aliran ilmu juga terpancar

Lepaskan dengan ikhlas
Agar nol selalu mizanmu
Neraca seimbang, alat ukur yang pas
Adil dan bijak tidaklah semu

Lepaskan dengan ikhlas
Nuranimu akan berkata
Hadapi semua tanpa was was
Yakin dengan tuntunanNya

Lepaskan dengan ikhlas
Berdengung dalam dada bertalu-talu
Melepas rasa yang membelenggu
Butuh kesadaran dan perjuangan

Lepaskan dengan ikhlas
Terus ditanam dalam tindakan
Bukan ucapan di bibir saja
Semua harus dalam kenyataan

Lepaskan dengan ikhlas
Menjadi pondasi hati yang tenang
Menerima ketentuan dan ketetapan
Tanpa gejolak yang tak karuan

Lepaskan dengan ikhlas
Adalah kemenangan
Berperang dalam diri
Untuk meraih sukses hakiki.

Yogyakarta, 29 Oktober 2020




DESIR

Berdesir pagi

Membelaiku tertegun

Menatap angka


Terus bertambah

Naik mendaki hari

Tak kenal henti


Beralih pandang

Pada jalanan lengang

Di waktu lapang


Berjalan tenang

Kerumunan terlarang

Masker menggantang


Di pekuburan

Tukang gali merintih

Peluhnya habis


Di pertokoan

Tukang peti mengeluh

Kayunya tandas


Di rumah sakit

Tukang suntik menjerit

Tak bisa minum


Dibalut baju

Putih tertutup rapat

Masker menutup


Di rumah sakit

Tukang rawat meringis

Tak bisa pipis


Dibalut baju

Putih tertutup rapat

Masker menutup


Di mana-mana

Tukang bantah membebal

Tak bisa mikir


Di mana-mana

Tukang ngeyel membandel

Tak juga sadar


Larisnya kafan

Buah banyaknya dosa

Sikap mereka


-Ekpan-

30

Dahulu, seringkali ku bertanya pada sejawat, tentang ukiran rasa, pada permulaan lembaran bahtera rumah tangga. Bagaimana pernikahanmu? Seru! Pungkasmu. Tanpa memahami sejatinya, ku hanya mengangguk, tersenyum mengikuti sumringahmu.


Dahulu, seringkali ku bertanya, apakah "seru" kita masih dalam satu makna, atau sudah berbeda warna? Beberapa tahun silam, seorang sahabat berkata ingin menikah, bagaimana pendapatmu? Saat itu Ia bahkan belum menyelesaikan studi. Menikah di umur 21 tahun, berprofesi sebagai pekerja keras. Ya, pekerja keras. Semua hal Ia lakukan, mulai dari imam masjid, guru ngaji, tukang fotokopi, hingga menjaja ikan.


Bagaimana pernikahanmu?


Semenjak pindah, malam ku tak pernah panjang. Bukan karena begadang, melainkan pada nyanyian pria-pria kesepian yang tak jauh dari kontrakan. Di malam yang lain, pernah juga ada pasangan muda-mudi bertengkar di tengah malam. Lagi-lagi di depan kontrakan. Saling maki dan berteriak. Dari jendela lantai 2 ku amati, satu per satu warga keluar, bukannya melerai, mereka justru menjadikan muda-mudi tadi sebagai tontonan. Di lain hari, seorang tetangga sepuh bertanya, apakah kalian terganggu? Kami hanya tersenyum. Sejauh ini tidak masalah, Nek.


Di hari-hari pertama pernikahan, ku bertanya padanya, suami seperti apa yang kau inginkan? Ku lihat dia sejenak diam, sepasang bola matanya balas menatapku. Tak banyak yang ku inginkan, banyak hal yang ku suka darimu, tentu juga ada yang tak ku suka, jika kau berkenan mendengarkan.


Bagaimana pernikahanmu?


Ah, iya, pernikahan. Rasanya terlalu banyak kebetulan yang menuntunku pada takdirnya. Kebetulan diklat DTSD bareng. Kebetulan teman kuliah menikah di kota kelahirannya. Kebetulan sama-sama suka. Eh.. Hmm, sepertinya hal ini perlu saya tanyakan kembali padanya.


Proses yang kami jalani tidaklah lama. Januari 2020, kali pertama ku bertemu orang tuanya. Sebulan berselang, entah angin musim apa, tiba-tiba saja Ayah ku bilang ingin ke Jakarta. Akhirnya, sebelum pulang ke Dharmasraya, kami putuskan untuk mampir sejenak di Bandar Lampung.


Masih jelas dalam ingatanku. Siang itu, saat ku utarakan niatku di hadapan kedua orang tuanya, terlihat sedikit gurat keberatan dari sang Ayah. Bukan terhadap pribadiku, melainkan… Tidak kah terlalu cepat? Bagaimana jika tahun depan? Ruang tamu mendadak sunyi, menyisakan suara detik jam dinding yang tak peduli dan masih saja berbunyi. Tik.Tok.Tik.Tok. Sesaat ku lirik gadis yang ku pinang. Ku kira Ia tertunduk diam seperti di film dan novel cinta. Nyatanya, Ia balas melirik ku, seakan berkata, hayoo, wani ora?


Aku tak mendekati putri Om dan Tante hanya untuk bermain semata. Keseriusanku, dibuktikan dengan melabuhkan perasaan ini ke tempat yang seharusnya. Berlama-lama dalam hubungan yang tidak pasti selain mudharatnya, aku tak menginginkannya. Dan aku yakin, putri Om dan Tante juga berpendapat demikian.


SE 22 bisa dikatakan sebagai tiket pinanganku. Pertunangan yang direncanakan dilaksanakan pada minggu terakhir bulan Mei, usai lebaran Idul Fitri, terpaksa mundur sebab pandemi. Kehadiran SE 22 saat itu bagaikan cupid perjodohanku dengannya. Bermodal WFHb 10 hari kerja, terlaksanalah pertunangan di Tanjung Karang Pusat, Bandar Lampung, pada 26 Juni 2020.


Bagaimana pernikahanmu?


Ah, iya, pernikahan. Malam ini adalah malam ke-30 terhitung saat para saksi bersaksi SAH atas pernikahan kami. Masih terngiang dalam benak saat ku bertanya, bagaimana perasaanmu? Sembari menyudahi tilawah, Ia tersenyum, saat ini hatiku bagai kebun bunga, dengan lebah-lebah yang memanen sari, dan seorang petani yang berlalu lalang sembari bernyanyi, kau tahu siapa itu si petani? 


Suatu waktu, sekembali dari masjid, Ia antusias menyambutku, terburu-buru mencium tangan. Dengan masih menggunakan mukenah, Ia sumringah, memamerkan gigi kecil putih yang berjejer rapi, aku buat takoyaki. Di lain hari, masih sekembali dari masjid, ku temui Ia tertidur dalam keadaan memeluk mushaf coklat hadiah pernikahan. Memang benarlah kata para alim, istrimu adalah hadiah yang diturunkan surga untukmu. Padahal Ia juga bekerja. Tapi, selalu saja kudapati makanku tersedia, pakaianku rapi, serta rumah yang selalu bersih. 


Belakangan, sesekali ku temui, selepas dari masjid, kulihat Ia khusyuk berdoa. Tak ingin mengganggu, ku duduk tak jauh dari tempat sujudnya. Sejenak kemudian, sedu perlahan terdengar menjadi tangis. Segera ku beranjak ke hadapannya. Melepas tangan yang menutupi wajahnya, menatap, lantas bertanya, apa ada hal yang ingin kau ceritakan padaku? Ia masih saja menangis, terisak, dekapku pun semakin erat. Adakah yang tidak kau suka dariku? Lama ku menunggu, hingga suara lirih keluar dari mulutnya, kau tau kenapa bayi yang lahir selalu menangis? Tidak, jawabku. Saat ini aku adalah bayi, yang tak satupun tahu kenapa Ia menangis, bahkan diriku sendiri


Jadi, bagaimana pernikahanmu? Tanyaku pada sosok di seberang cermin. Ku lihat kau sejenak diam, mungkin bingung, atau menggali rasa, entah lah. Sesaat kemudian, kau sumringah. Seru!




Jakarta, 7 September 2020

Aku Harus Bahagia

 

        “Wah alhamdulillah anaknya sehat,” ujar seorang tetangga yang datang menemuiku ketika aku baru saja pulang dari rumah sakit selepas melahirkan Sakina.

“Alhamdulillah,” balasku dengan tersenyum

Sebenarnya kalau aku ditanya terlebih dahulu sebelum ada orang yang ingin menjengukku dan Sakina, aku lebih memilih tak ada seorang pun yang mendatangiku. Apalagi kalau aku baru saja kembali dari rumah sakit.

Aku letih. Seluruh badanku terasa pegal dan tak bertenaga. Aku malas sekali menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan. Terlebih apabila mereka menceritakan pengalamannya ketika melahirkan kepadaku.

“ASI-nya lancar, Mbak?” tanya tetanggaku yang satunya lagi.

“Belum keluar dari pertama lahiran. Sampai beberapa hari ini masih sedikit sekali air susu yang keluar.” Tanpa diminta, ibuku menjelaskan jawaban yang membuatku kesal.

“Banyak makan daun katuk, Mbak! Terus jangan banyak berpikir yang enggak-enggak, nanti jatuhnya stres lho. Coba tenangin pikiran biar air susunya lancar.”

Aku hanya bisa tersenyum tipis mendengar nasihat seperti ini. Memangnya gampang selepas lahiran, seorang ibu yang baru mempunyai anak tak berpikir apa pun.

“Setiap hari saya buatkan sayur daun katuk, kok. Nggak tahu juga kenapa air susunya sulit keluar,” ujar Ibu.

“Terus bayinya minum apa selama beberapa hari ini?” tanya yang lain membuatku semakin pusing.

Ibu diam tak menjawab. Pikirku, tumben kali ini Ibu tak bersuara. Sepertinya Ibu malu mendapati anaknya belum berhasil mengeluarkan air susunya.

“Anak saya udah minum susu formula, ibu-ibu.” Akhirnya terpaksa aku menjawab pertanyaan yang disampaikan tetanggaku itu.

“Aduh Mbak Feni, jangan dikasih susu formula dong! Nanti anaknya jadi bodoh. ASI itu adalah makanan terbaik bagi bayi. Selain itu juga akan menciptakan bonding yang kuat antara anak dengan ibunya. Nanti imunnya nggak bagus lho kalau minum susu formula.”

Duh Gusti, rasanya aku tak sanggup menghadapi ibu-ibu ini. Bukannya aku jadi tenang dapat nasihat-nasihat ini tapi malah membuatku jadi seperti seorang ibu yang jahat kepada anaknya sendiri.

Saat itu, perasaanku hancur sekali mendengar kalimat-kalimat yang pedas seperti itu. Ingin rasanya kuusir semua orang itu dari hadapanku. Tangis Sakina menyelamatkanku dari penghakiman para ibu-ibu super di hadapanku ini.

Aku berpamitan dan masuk ke dalam kamar. Entah apa lagi yang dibisikkan para penjenguk itu kepada ibuku karena kudengar masih ada percakapan yang terjadi tapi dengan suara yang lebih pelan. Aku tak ingin mendengar apa yang mereka ucapkan.

                                ***

Setelah seminggu berlalu, aku tetap tak sanggup memproduksi ASI. Pikiranku semakin kalut apalagi kalau mendengar kalimat miring dari orang tentang anak yang minum susu formula.

“Dicoba lagi, Fen,” bujuk Ibu.

“Aku nggak bisa, Bu. Aku sudah berusaha keras tapi tetap tak bisa.”

Rasanya aku ingin menjerit mendapati kenyataan ini. Upaya apa lagi yang harus kulakukan agar aku bisa mendapatkan pengakuan kalau aku adalah ibu yang sejati.

“Mungkin Ibu harus terus membuatkanmu sayur daun katuk setiap hari,” ujar Ibu.

“Cukup, Bu. Aku sudah capek tiap hari makananku itu-itu saja. Aku bosan.” Suaraku mulai berat menahan tangis yang tertahan di tenggorokan.

“Sabar, Fen!”

“Maafkan aku, Bu. Sepertinya usaha kita ini harus kita hentikan. Aku nggak mau konsentrasi jadi terbelah karena aku sibuk mengupayakan agar ASI keluar tapi aku lupa memperhatikan Sakina. Aku ingin ceria merawat Sakina, Bu. Bukan seperti sekarang ini, aku sering merasa kecewa dengan diriku sendiri.”

Aku tak sanggup lagi menahan tangis yang terpendam di dada. Kutumpahkan semuanya pada saat itu. Andai saja Mas Dito ada di sampingku saat ini, pastilah aku akan lebih tegar menghadapi masalah ini.

“Assalamualaikum.”

“Waalaikum salam,” jawab Ibu.

Aku menghapus air mata yang bercucuran di pipi dengan ujung kemeja. Aku tak ingin orang lain melihatku rapuh seperti ini.

“Masuk, Bu Danang!” ujar Ibu.

“Eh Mbak Feni, mana dede bayinya?” ujar Bu Danang sambil menyerahkan sebuah kotak yang dibungkus dengan kertas warna-warni.

“Ayo lihat!” ajak Ibu sambil berjalan menuju kamar.

“Sakina sedang tidur, Bu,” ujarku.

“Sakina cantik. Mirip mamanya,” puji Bu Danang.

“Terima kasih,” balasku berbasa-basi.

“Bagaimana Mbak Feni, apa ASI-nya lancar?”

Hal seperti inilah yang aku tidak sukai ketika ada orang yang melihat Sakina. Pasti ujung-ujungnya menanyakan soal ASI kepadaku.

“Nggak keluar, Bu.”

Ibu selalu mewakiliku untuk memberikan jawaban kepada siapa pun yang bertanya tentang ASI. Aku sama sekali tidak meminta Ibu untuk menjawab pertanyaan yang sama dari beberapa orang yang niat awalnya adalah melihat anak bayiku.

“Terus minumnya gimana?” tanya Bu Danang lagi.

“Minum susu formula,” jawab Bu Danang.

“Aduh sayang sekali ya, anaknya tidak menyusu kepada mamanya. Biasanya sih kalau anak yang tidak minum air susu ibunya, gampang sakit, Mbak.”

Entah apa yang harus kuperbuat mendengar ucapan Bu Danang. Aku bisa depresi kalau setiap hari mendengar kata-kata ASI ditanyakan kepadaku.

“Emang ada yang salah ya dengan susu formula?” tanyaku ketus.

“Enggak sih, Mbak. Bagus-bagus aja. Susunya merek apa? Kalau keponakan saya minumnya susu  merek ST 13. Mahal itu,” ujar Bu Danang lagi.

“Kalau Sakina sih saya kasih susu yang murah aja, Bu. Sama saja, yang penting anaknya mau dan nggak alergi.”

“Ah masak sih Mbak Feni nggak sanggup beli susu yang mahal.”

Aku semakin kesal mendengar ucapan Bu Danang yang semakin melantur. Aku melirik ke arah Ibu dan memberikan kode agar aku ditinggal sendiri.

“Ayo, Bu. Kita ngobrol di luar aja. Feni ini kurang istirahat. Tadi malam begadang. Sakina nggak mau tidur,” ajak Ibu.

“Mungkin dede bayi pengen mimi air susu ibunya,” ujar Bu Danang dengan suara tanpa dosa. Ia tak sadar kalau perkataannya sungguh menyakiti perasaanku.

Setelah Ibu dan Bu Danang keluar dari kamar, aku membaringkan badan di samping Sakina yang terlelap. Kupandangi wajah Sakina dalam-dalam. Betapa damainya Sakina. Kuelus tangannya yang berlipat dengan lembut.

Tiba-tiba ponselku berdering. Rupanya Mas Dito mengajakku mengobrol melalui videocall.

“Mas, aku kangen,” rajukku setengah menangis.

“Sabar, ya. Seminggu lagi kita akan ketemu.”

“Lama sekali, Mas. Lain kali jangan ambil dinas yang kelamaan, ya!” pintaku manja.

“Iya. Mana bidadari kecilku yang cantik?” tanya Mas Dito.

Aku mendekatkan ponsel ke arah Sakina sehingga wajah Sakina terlihat di layar. Kulihat Mas Dito mengusap air mata yang menetes di pipinya. Aku ikut terharu menyaksikan pertemuan antara ayah dengan anak perempuannya.

“Sakina, ini Papa.”

“Sakina tidur, Mas.”

“Aku nggak sabar deh nunggu seminggu lagi. Kangen kamu juga,” goda Mas Dito membuatku tersipu malu.

“Tapi, Mas ….”

Aku ragu ketika hendak menceritakan masalahku kepada Mas Dito. Aku tak ingin membebani pikirannya dengan masalahku yang belum tentu dapat dipahaminya.

“Tapi apa? Mau minta oleh-oleh?”

“Enggak kok, Mas. Kamu pulang dengan selamat aja udah lebih dari sekedar oleh-oleh,” ujarku.

“Kamu tuh, ya. Bakalan nggak bisa tidur nih aku kalau kamu gombalin begini.” Melihat wajah Mas Dito yang ceria membuatku bahagia.

“Mas, jangan marah, ya?”

“Feni, dari tadi kamu tuh bikin kode-kode terus. Cerita aja, nggak apa-apa kok,” ujar Mas Dito menenangkanku.

“Umm … air susuku nggak keluar, jadinya Sakina kukasih susu formula. Seminggu ini aku udah berusaha tapi gagal, Mas.” Akhirnya kuceritakan juga masalah yang kuhadapi.

“Ya ampun, Feni. Kenapa kamu takut cerita soal itu? Bagiku nggak masalah, kok. Kamu fokus aja mengurus Sakina dengan baik. Jangan sedih terus, nanti kamu sakit. Kasihan kan Sakina … juga aku. Aku nggak mau mengurus Sakina sendirian, maunya berdua sama kamu.”

Rasanya tenang hatiku mendengar perkataan Mas Dito. Aku semakin yakin kalau anakku akan tumbuh baik dengan kasih sayangku walaupun tanpa ASI.

“Fen, udah dulu ya. Aku mau baca-baca materi seminar besok,” pamit Mas Dito.

“Iya, Mas. Daah.”

Aku membelai tangan Sakina yang masih tidur. Aku berjanji kepada diriku sendiri bahwa aku akan selalu bahagia tanpa harus selalu memikirkan apa pendapat orang lain.

“Assalamualaikum.”

“Waalaikum salam. Silakan masuk, Bu Anna ….”

Aku tak ingin terbebani dengan kewajiban untuk menemui orang saat aku lelah, makanya aku memilih menutup pintu kamar. Aku tak tahu sejak kapan aku tertidur. Aku terbangun ketika Ibu mengetuk-ngetuk kamarku mengingatkanku untuk makan sayur daun katuk.

“Apa, Bu?”

“Makan sayur daun katuk dulu, sebelum Sakina bangun!” perintah Ibu.

Aku bangun dan duduk di pinggir tempat tidur. Aku melirik Sakina, ternyata dia masih tidur dengan pulas.

“Boleh nggak aku minta menu yang lain? Sayur yang lain. Aku bosan makan daun katuk melulu, Bu. Sehari bisa sampai tiga kali.”

“Kamu nggak mau berusaha lagi, Fen?” tanya ibu. Wajahnya terlihat sedih.

“Aku mau berusaha menyayangi Sakina dengan caraku, Bu. Boleh ya? Ini hari terakhir ya menuku cuma sayur daun katuk. Aku mau makanan yang bervariasi biar aku sehat, jadi aku bisa merawat Sakina dengan baik. Maaf ya, Bu.”

“Feni ….”

Ibu memelukku. Ia mengelus kepalaku. Sepertinya Ibu mulai menangis.

“Maafkan Ibu, Nak. Selama ini Ibu nggak peka.”

Ada rasa hangat menjalari hatiku ketika berada dalam pelukan Ibu. Aku semakin yakin, Sakina akan tumbuh dalam lingkungan yang baik dengan orang-orang dewasa yang saling memahami.

                                            ***