Postingan

Menampilkan postingan dari September 22, 2019

Perjalanan adalah Tujuan

Gambar
Catatan Perjalanan Menuju Jamselinas Palembang Bulan September adalah bulannya Jambore Sepeda Lipat Nasional atau dikenal sebagai Jamselinas. Tahun 2019 adalah Jamselinas ke-9. Ide gowes menuju Jamselinas 9 awalnya dimulai oleh Om Diki Rahman sang kompor api biru dari Cilegon. "Ayolah Om In, sekalian pulang kampung," ajaknya saat itu. Saya sih iya-iyain aja, secara sudah terbayang betapa jauhnya jarak Lampung ke Palembang. Makin mendekati hari H, om Di ki pun mulai aktif japri-japri rute dan ‘teaser’ penggoda 😃 . Iman saya pun mulai goyah, apalagi ada pilihan start dari Tanjung Karang. Istri mulai dilobi agar visa gowes keluar. "Malu lah Mi, masak wong Palembang gak hadir acara di Palembang," begitu alasan saya waktu mohon ijin gowes Jamselinas 9 ini. Singkat cerita, ijin pun diberikan. Peserta yang awalnya saya sendiri yang berencana ‘nebeng’ rombongan SCAM om Diki akhirnya bertambah. Para senior turing ID Dahon yaitu Mang Dewa , Koh Handoko Candra , dan ...

Monyet penari, ular penjaga dan tuannya

Ada hikayat, Tentang monyet penari dan ular penjaga, Oleh tuannya mereka dibawa berkeliling kota,dari pasar ke pasar, dari kerumunan ke kerumunan, sang monyet terus menari dan sang ular mengawasi, Begitu seterusnya hampir tanpa henti Senja hari, Saatnya tuan berbagi rejeki, Di hitung tuang isi pundi pundi, Sejumput buat penari, bagi penjaga  saku bernas terisi Wahai tuan, Tak salahkah kau buat kini Aku lah yang lelah menari Kenapa pada ular , Hadiah pundi penuh isi Wahai monyet penari, Tak menari tak berarti berdiam diri, Pada kata kata dan bisa sang penjaga Ku pastikan langkah gemulaimu tanpa terhenti, maka wajar saja, jika padanya jatah lebih harus ku bagi Wahai tuan, Tidakkah dia tak bisa menari, Tak kan mungkin dia mengerti Kapan langkah gemulai meniti, Kapan langkah harus berhenti Wahai penari, Tak perlu menari untuk menjadi ular, Dia telah dilahirkan dengan bisa dan kata, kalau sesekali dia juga bisa menari, mungkin hanya kebetulan, Tuhan ta...

Aku Menyukai Senyummu di Hari Senin

Aku menyukai senyummu di hari senin; Magis-menghipnotis tenang-menhanyutkan, sekalipun mungkin saja senyum itu bukan untukku Aku menyukai senyummu di hari senin; Juga tentang betapa deras cerita-cerita mengalir dari bibirmu, meliuk-liuk seperti pemotor di negeri +62, bahkan di celah terkecil sekalipun Aku menyukai senyummu di hari senin; Atau hari-hari dimana kita tidak pernah bertemu sebelumnya. Ketenanganmu, kekuatanmu, keteguhanmu adalah akumulasi kecerdasan buah karya Beliau yang mengagumkan Aku menyukai senyummu di hari senin; Bahkan lebih lama kunanti daripada hujan yang tak kunjung hadir di Ibukota Aku menyukai senyummu di hari senin; Apapun alasannya -udah lama, 2019-

Ruhiyah Gersang

Aku terdiam Mematung di bahu jalan Ditemani angin Dalam sunyinya malam Tak ku hiraukan Bajaj yang berlalu-lalang Pun lolongan anjing Sayup-sayup di kejauhan Aku mematung Menatap kosong lampu jalanan Jiwa ku? Melesat jauh menyusuri bukit barisan Membelah belantara hutan Berhenti Di halaman rumah warisan Dulu Rumah Gadang bagai oase pertama Yang ku temukan Di tengah gersangnya Gurun pasir kehidupan Kemana langkah Selalu saja kutemukan Di setiap pemberhentian Padang Panjang, Hingga Tanah Sultan Mata air itu selalu ada Seberapapun besar futur menggoda Menjadi pengingat dikala lupa Penegur disaat terlena Namun Mata air itu Kini perlahan surut Boleh jadi kering Seringkali hatiku meronta Mencari "ada" yang kini tiada Malam ku nelangsa Dihantui pagi penuh nestapa Tuan, tolong Ada yang hilang Pada diriku.. Jakarta-Kosan 3x5