Postingan

Menampilkan postingan dari April 23, 2017

Makan Malam Bersama Ayah

Dinginnya suhu ruangan membuat jemariku terasa beku.  Sebagian rekan kantor sudah pulang sejak pukul lima sore tadi. Aku menatap jam tangan yang angkanya menunjukkan pukul  tujuh malam. Belum ada tanda-tanda kalau nota dinas yang beberapa menit lalu masuk ke ruangan Direktur disetujui atau mendapat koreksi. 15 menit berlalu, tiba-tiba suara seseorang membuyarkan lamunanku. "Mas, ada catatan dari Ibu!", katanya sambil menyerahkan berkas nota dinas. "Ok, terimakasih ya", jawabku sambil mengamati tulisan dari catatan tersebut. "Oh...hanya diminta menambahkan prosentase realisasi terhadap pagu pada lampiran nota dinas", kataku dalam hati. Beberapa menit kemudian lampiran nota dinas yang mendapat catatan Direktur selesai dikerjakan, dicetak kembali dan langsung aku serahkan kepada Sekretaris Direktur. Setelah memastikan tidak ada lagi pekerjaan yang harus diselesaikan segera, aku merapihkan meja kerja, memakai jaket, mengambil tas lalu izin kepada ...

Duhai Melati

Duhai Melati Tubuh mungilnya meringkuk di atas selembar karpet lantai halaman samping masjid. Dinginnya udara dikala subuh, menjadi selimut dalam tidurnya yang pulas. Perutnya kempis, seakan-akan tiada makanan yang masuk mengisi lambungnya semalam. Anak perempuan sekecil itu harus menanggung beban hidup yang demikian berat. Ibunya meninggal dikala ia masih berusia balita. Sedangkan sang ayah, beberapa tahun kemudian terkena stroke yang melumpuhkan seluruh persendiannya. Dia anak bungsu dari tiga bersaudara. Sebut saja namanya Melati. Melati mempunyai seorang kakak laki-laki dan seorang kakak perempuan. Sejak Ibunya wafat dan sang ayah terkena stroke, kehidupan Melati dan kedua kakaknya sangat memprihatinkan. Untuk makan sehari-hari, mereka mendapat bantuan dari para tetangga. Bahkan Melati dan kedua kakaknya terpaksa putus sekolah karena ketiadaan biaya. Para tetangga telah berusaha mencari sanak saudaranya yang tersisa, namun apa daya, karena minimnya informasi membuat merek...

Kisah Iteung, Episode Sad Story

Lokasi: Kantor Jam di dinding yang dipelototin cicak menunjukan pukul 21.00 malam. Dingin menusuk tulang Iteung. Iteung harus bergegas pulang nih. Si Akang pasti mencak-mencak kalau Iteung pulang malam. Bisa-bisa pintu depan dikunci. Tapi jangan takut, kunci jendela Iteung pegang. Maling sih kalah keterampilannya. Sebelum pulang,  gedebak gedebuk Iteung beresin meja yang berantakan nggak jelas. Segala berkas yang bercampur sama catatan kredit panci tercampur di meja. Bahkan catatan curhat dari mbak Suprihatin   bisa nyampur sama berkas kerja Iteung .  Mbak Atin (panggilan sayang mbak Suprihatin) lagi PDKT sama tetangganya tapi ditolak karena mbak Atin terlalu menor kalau dandan. Kadang ngalahin buah kesemek menornya. Malah kalau lagi kehabisan bedak suka diganti tepung beras punya ibunya kang Leman, laki-laki yang ditaksir mbak Atin. Coba gimana kang Leman nggak kesal. Aduh kenapa nyeritain kisah cinta mbak Atin dan kang Leman yaa. Setelah berkas beres, It...

Dalam Diam

dalam diam air yang tenang ada ombak yang bergejolak berebut ke permukaan dalam sepi malam yang tenang ada kelelawar yang bermain menikmati kegembiraan dibalik yang nampak diam ada gejolak yang teredam dibalik yang nampak sepi ada gairah yang tak pernah mati dalam diam ada do'a yang tak terlewat terlantunkan dalam sepi ada perasaan yang tak berani tuk sendiri

Weirdest Football

Gambar
Summer Football (koleksi pribadi)  Gothia Cup is a football championship for youths around the world held in Gothenburg annually. Today, I supported Indonesian club in its match with a Swedish club. Because it is a game for clubs and not for countries, thus I can find a teenager from Papua (eastern most part of Indonesia) plays for Sweden. The match ends with score 8-0 for Indonesia, so we can see another match tonight at 8 o’clock. When I was waiting for the bus alone, 12 team players approached and recognized me as their rival supporter. One of them said, “Indonesia?” and I said yes. To my surprise, he said, “Eid Mubarok!” then I did not know either to answer in English or Swedish since it is an Arabic phrase. I said spontaneously, “Makasih” which means thanks. The boys went away with puzzled look and I felt a little bit shame saying something they did’t understand. This is what happens when you have a football match on Lebaran Day in a faraway country. Add that...