“Now, how do you think, Mr. Prime Minister”?
Matanya memandang lekat pada papan yang telah penuh dengan 2 jam penjelasan deskriptif dan mendetail dari si pembicara di muka ruangan, sesekali dia menarik nafas panjang dan melemparkan pandang ke sekeliling ruangan yang dipenuhi oleh nama-nama yang memiliki posisi penting di negara baru tersebut dan dia menyadari bahwa mereka melakukan hal serupa, hingga pada satu titik dimana si pembicara menyelesaikan penjelasannya dengan melemparkan satu pertanyaan pamungkas kepadanya : “Now, how do you think, Mr. Prime Minister”? Di satu pagi yang mendung September 1965, laki-laki yang bernama Lee Kwan Yew itu mengumpulkan jajaran pemerintahannya segera setelah pergelutan panjang yang melelahkan untuk menjadikan Singapura sebagai negara berdaulat. Lee paham betul bahwa mereka tidak punya waktu untuk perayaan, tidak kala kondisi negara itu masih dalam ketidakpastian baik secara politik maupun ekonomi dan harus ditangani secara bersamaan secara hati-hati. Salah langkah, maka negara baru ...