Postingan

Menampilkan postingan dari Juni 16, 2019

Deed and Intention

Gambar
Catatan di blog tahun 2014.  Once talking about good deed which we believe leading to reward from God, no one shall be proud nor fully knows how much reward from good deed they do, thus no one knows how much she/he has "saved" for the hereafter. We, as a human being, lack of knowledge to count or to cheat what have been written by Rakib and Atid. Eventhough someone has given all her/his wealth in Allah way, she/he cannot make sure that the good thing done is counted as we thought it to be.Yes, positive thinking is great, yet at the other side we have to realize; we don't really know whether our deed is accepted or not. That is why we are warned about "keeping intention". A good moslem actually is required do good deeds for the sake of Allah; not only at the beginning but also in the further. We are banned to do good deeds for our pride, nor to show others that we are good moslem. Then why our intention becomes important to notice. Could we ...

Andai Mereka Tahu...

“Aku harus bayar kos, pak. Setahun langsung!” dengan wajah ketus dan suara tegas Tika menyodorkan pesan di ponselnya kepadaku. “Berapa?” aku bertanya sambil menahan batuk. Seminggu ini aku terserang batuk yang agak mengganggu aktivitasku. Mungkin karena sering sekali aku terpapar angin malam. “Empat juta.” Mendengar jumlah yang disebutkan Tika,   peluh membasahi sekujur tubuhku. Jumlah yang sangat banyak untukku. Agar bisa   mendapatkan uang sebanyak itu aku harus narik ojek selama empat puluh hari nonstop. Saat ini, belakangan ini order ojek yang masuk ke ponselku   minim karena aku agak sulit bersaing dengan para pengemudi ojek online yang masih muda dan lebih lincah. Aku juga sering terserang penyakit kalau kelamaan narik. Di sisi lain, rasanya tak mungkinlah aku   menolak keinginan anakku sendiri. Akulah yang meminta Tika untuk meneruskan kuliah. Aku tak ingin anak-anakku bernasib sepertiku yang tak pernah memegang uang lebih karena sebagian besar...

Pesona Separo Agama

Sore itu Yogya diguyur hujan deras. Langit begitu pekat dengan gelap, padahal baru setengah jam yang lalu adzan Ashar berkumandang. Sekalipun jalanan terendam hingga betis, pengendara yang melintas masih saja ramai. Mobil dan motor silih-berganti menepi, ada yang menurunkan penumpang, ada pula yang menunggu penumpang. Di kejauhan terlihat segerombolan anak kecil, mungkin sekitar 6 hingga 7 anak, berebut menjajakan payung di pintu masuk selatan Stasiun Tugu Yogyakarta. Tampaknya mereka acuh saja dengan suara gemuruh dan kilat yang membelah langit. Tertawa, menendang air, seakan dunia hanyalah tempat bermain. Di lobi penjemputan, Izzam duduk termenung menatap kosong ratusan rintik yang menghujani bumi. Pikirannya kalut, hatinya gundah. Seharusnya Ia bahagia, karena sekali lagi diberi kesempatan “pulang” ke Jogja. Namun sayang, tampaknya kejadian di Bogor beberapa hari lalu begitu membebani dirinya. Telepon pintarnya bergetar, terlihat whatsapp dari seseorang, “Zam, lagi senggang kah? M...