Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan

Opini : FOMO Padel vs Tenis Lapangan

 

Perkembangan antara Padel dan Tenis Lapangan saat ini menunjukkan dinamika yang sangat menarik. Jika Tenis adalah sosok "bangsawan" yang mapan dan penuh tradisi, maka Padel adalah "bintang muda" yang sangat ramah dan cepat meraih popularitas.
 
Berikut adalah opini dan uraian mengenai perbandingan perkembangan keduanya:

1. Padel: "The Social Connector" (Pertumbuhan Eksponensial)
Padel sedang mengalami booming luar biasa di Indonesia, terutama di kota-kota besar seperti Jakarta dan Bali.
·  Aksesibilitas Tinggi: Berbeda dengan tenis yang membutuhkan waktu berbulan-bulan untuk bisa melakukan rally yang konsisten, pemula bisa langsung menikmati permainan Padel dalam waktu 30 menit.
·  Faktor Sosial: Lapangannya yang lebih kecil (1/3 ukuran lapangan tenis) dan keharusan bermain ganda membuat interaksi sosial jauh lebih intens. Ini sangat cocok dengan budaya masyarakat Indonesia yang senang berolahraga sambil bersosialisasi.
· Daya Tarik "Gampang": Servis bawah (underhand) dan penggunaan dinding kaca membuat bola lebih mudah dikembalikan, sehingga durasi rally lebih panjang dan membakar lebih banyak kalori tanpa merasa terlalu tertekan secara teknis.
 
2. Tenis Lapangan: "The Prestigious Classic" (Pertumbuhan Stabil)
Tenis tidak kehilangan panggungnya, ia justru mengalami regenerasi.
·   Status dan Tradisi: Tenis tetap dipandang sebagai olahraga yang lebih bergengsi dengan sejarah turnamen besar (Grand Slam) yang kuat.
·   Tingkat Kesulitan sebagai Tantangan: Bagi banyak orang, kesulitan teknis dalam tenis justru menjadi daya tarik tersendiri. Menguasai backhand satu tangan atau serve yang keras memberikan kepuasan yang tidak bisa digantikan oleh padel.
·  Infrastruktur: Lapangan tenis jauh lebih mudah ditemukan di perumahan tua atau klub olahraga lama, meskipun banyak dari lapangan ini sekarang mulai dikonversi menjadi lapangan padel karena alasan bisnis.

Perbandingan Strategis: Padel vs Tenis

Fitur

Padel

Tenis Lapangan

Kurva Belajar

Sangat cepat (cocok untuk pemula)

Lambat (butuh teknik tinggi)

Kebutuhan Fisik

Kelincahan dan reaksi

Stamina dan kekuatan ledak

Aspek Bisnis

ROI lebih cepat (lahan kecil, 4 pemain)

ROI lebih lambat (lahan luas)

Durasi Main

60–90 menit (ritme cepat)

90–150 menit (ritme panjang)

 
Pendapat
Padel tidak akan "membunuh" tenis, melainkan memperluas pasar olahraga raket. Padel menarik orang-orang yang sebelumnya tidak berolahraga atau merasa tenis terlalu sulit, sementara tenis tetap menjadi pilihan utama bagi mereka yang mencari kedalaman teknik dan atletisitas murni.
 
Secara investasi, Padel saat ini jauh lebih menguntungkan bagi pemilik lahan karena efisiensi ruang. Namun, secara kultur olahraga, keduanya akan berdampingan: Padel sebagai gaya hidup perkotaan yang cepat, dan Tenis sebagai standar emas olahraga raket global.
 
Jika Anda mencari olahraga untuk networking dan seru-seruan di akhir pekan, Padel adalah jawabannya. Namun, jika Anda ingin tantangan disiplin teknis jangka panjang, Tenis tetap tak terkalahkan. Bagaimana menurut anda ? 


Jakarta, 27 Januari 2026 

Budaya Antri


Ada pertanyaan yang sering muncul di pikiran saya saat berkendara dengan motor atau mobil, kenapa budaya antri masih terjadi di beberapa tempat saja. Misal pintu tol, beli karcis atau tiket, isi BBM, pesan makanan dan minuman (baik take away ataupun dine in),  

 
Budaya antri yang kuat bukan sekadar tentang barisan yang rapi, melainkan memiliki dampak mendalam bagi tatanan sosial dan mentalitas sebuah bangsa. Berikut adalah beberapa dampak utama dari budaya antri dapat memberikan dampak psikologis yang baik bagi seseorang yaitu :

§ Memberikan kepuasan ketika tiba sudah gilirannyaSelain menguji tingkat kesabaran diri, budaya antri akan memberikan kepuasan ketika tiba gilirannya dipanggil. Hal ini bisa menumbuhkan semangat positivisme

§  Menciptakan Keadilan Sosial (Social Justice)Dampak paling mendasar adalah adanya rasa adil. Antri memastikan bahwa orang yang datang lebih dulu dilayani lebih dulu (first come, first served). Tanpa budaya antri, pelayanan akan didasarkan pada kekuatan fisik, status sosial, atau "siapa yang paling vokal", yang tentu saja merugikan kelompok yang lebih lemah seperti lansia atau anak-anak.

§  Melatih Pengendalian Diri dan KesabaranSecara psikologis, antri adalah latihan untuk mengelola ego. Seseorang dipaksa untuk menunda kepuasan (delayed gratification) dan mengendalikan ketidaksabarannya. Masyarakat yang terbiasa antri cenderung memiliki emosi yang lebih stabil dan tidak mudah terprovokasi di ruang publik.

§  Meningkatkan Efisiensi dan KetertibanMeskipun terlihat lambat, antri sebenarnya jauh lebih efisien daripada berebut. Ketika semua orang berebut, terjadi kemacetan alur (bottleneck) yang justru menghambat petugas pelayanan. Dengan antri yang teratur, proses pelayanan menjadi lebih sistematis, terukur, dan cepat selesai.

§  Membangun Kepercayaan terhadap SistemKetika budaya antri berjalan baik, masyarakat akan memiliki kepercayaan (trust) bahwa mereka pasti akan mendapatkan haknya tanpa perlu menyogok atau mencari "jalan pintas". Rasa percaya ini sangat penting untuk stabilitas sosial dan efektivitas birokrasi.

§  Menumbuhkan Rasa Empati dan Menghargai Orang LainBudaya antri mengajarkan kita bahwa waktu orang lain sama berharganya dengan waktu kita sendiri. Menyerobot antrian bukan hanya soal posisi, tapi soal "mencuri" waktu orang lain. Dengan mengantri, kita belajar menghormati ruang pribadi dan hak orang lain.

§  Membentuk Citra Bangsa yang BeradabDi mata dunia internasional, budaya antri sering menjadi indikator kemajuan peradaban suatu negara. Bangsa yang disiplin mengantri akan dipandang sebagai masyarakat yang terdidik, menghargai aturan, dan memiliki etika yang tinggi. Hal ini dapat meningkatkan daya tarik investasi dan pariwisata.

§  Mengurangi Stres di Ruang PublikKekacauan saat berebut layanan seringkali memicu konflik fisik, adu mulut, dan stres bagi semua orang yang terlibat. Sebaliknya, barisan yang teratur menciptakan suasana yang tenang dan aman, sehingga interaksi sosial di ruang publik menjadi lebih menyenangkan.
 
Berdasarkan informasi diatas bahwa dampak budaya antri jauh melampaui urusan baris-berbaris; ia adalah fondasi karakter bangsa. Jika sebuah masyarakat gagal dalam hal kecil seperti antri, mereka akan cenderung kesulitan dalam mematuhi hukum yang lebih besar. Sebaliknya, ketertiban dalam antri adalah langkah awal menuju masyarakat yang madani dan disiplin.
 
Pertanyaannya adalah kenapa budaya antri hanya ada di tempat tempat tertentu, tidak berlaku di jalan raya ?

Budaya antri di Indonesia merupakan topik yang menarik karena mencerminkan transisi sosiologis yang sedang berlangsung. Antri bukan sekadar masalah barisan fisik, melainkan cerminan dari kedewasaan sosial, penghargaan terhadap hak orang lain, dan tingkat kepercayaan terhadap sistem.

Berikut adalah opini saya mengenai dinamika budaya antri di tanah air:

1.   Kemajuan yang Signifikan di Sektor PublikKita harus mengakui, budaya antri kita telah mengalami kemajuan pesat dalam satu dekade terakhir. Transformasi ini sangat terlihat di tempat-tempat dengan sistem yang ketat, seperti:

  • Transportasi Umum: Penumpang KRL dan MRT kini jauh lebih tertib dalam mengantri di belakang garis aman.
  • Layanan Perbankan & Administrasi: Penggunaan nomor antrian digital telah memaksa masyarakat untuk patuh pada urutan kronologis.
  • Event Besar: Konser atau pameran besar kini jarang diwarnai kericuhan karena manajemen alur yang lebih profesional.

2.  Tertib karena Sistem, Bukan KesadaranSalah satu tantangan terbesar adalah fakta bahwa banyak orang Indonesia tertib hanya jika ada sistem yang mengaturnya secara paksa (seperti pagar pembatas atau nomor urut). Masalah muncul ketika sistem tersebut absen—misalnya di jalan raya saat macet atau saat pembagian bantuan sosial. Di sini, mentalitas "siapa cepat dia dapat" sering kali mengalahkan etika mengantri.


3.  Fenomena "Titip Sandal" dan Budaya Ewuh PakewuhAda keunikan sosiologis di Indonesia di mana antri sering kali dipandang secara fleksibel. Contohnya:

  • Menyerobot halus: Meminta teman untuk "menjaga tempat" atau menyelip masuk dengan alasan "cuma tanya sebentar".
  • Ewuh Pakewuh: Rasa sungkan untuk menegur penyerobot karena takut dianggap tidak sopan atau memicu keributan. Hal ini justru menyuburkan perilaku tidak tertib karena tidak adanya sanksi sosial yang tegas.

4.   Pendidikan Karakter sejak DiniBudaya antri sebenarnya adalah latihan dasar dalam pengendalian diri dan empati. Di negara maju, antri diajarkan di taman kanak-kanak bukan sebagai aturan, melainkan sebagai cara menghargai waktu orang lain. Di Indonesia, tantangannya adalah menggeser mindset dari "saya harus lebih dulu" menjadi "semua akan dapat giliran pada waktunya."

 Kesimpulan

Budaya antri di Indonesia saat ini berada pada fase adaptasi teknologi. Kita sudah bisa tertib jika dibantu oleh aplikasi dan mesin antrian, namun kita masih punya pekerjaan rumah besar dalam membangun kesadaran internal. Kesadaran bahwa dengan mengantri, kita sebenarnya sedang membangun peradaban yang lebih efisien dan adil bagi semua orang.

Bagaimana menurut Anda, apakah Anda punya pengalaman unik terkait budaya antri ?

 

Jakarta, 7 Januari 2026


Budaya Antri

 

Ada pertanyaan yang sering muncul di pikiran saya saat berkendara dengan motor atau mobil, kenapa budaya antri masih terjadi di beberapa tempat saja. Misal pintu tol, beli karcis, isi BBM, pesan makanan dan minuman (baik take away ataupun dine in),  

 
Budaya antri yang kuat bukan sekadar tentang barisan yang rapi, melainkan memiliki dampak mendalam bagi tatanan sosial dan mentalitas sebuah bangsa. Berikut adalah beberapa dampak utama dari budaya antri dapat memberikan dampak psikologis[1] yang baik bagi seseorang yaitu :
§  Memberikan kepuasan ketika tiba sudah gilirannyaSelain menguji tingkat kesabaran diri, budaya antri akan memberikan kepuasan ketika tiba gilirannya dipanggil. Hal ini bisa menumbuhkan semangat positivisme
§  Menciptakan Keadilan Sosial (Social Justice)Dampak paling mendasar adalah adanya rasa adil. Antri memastikan bahwa orang yang datang lebih dulu dilayani lebih dulu (first come, first served). Tanpa budaya antri, pelayanan akan didasarkan pada kekuatan fisik, status sosial, atau "siapa yang paling vokal", yang tentu saja merugikan kelompok yang lebih lemah seperti lansia atau anak-anak.
§  Melatih Pengendalian Diri dan KesabaranSecara psikologis, antri adalah latihan untuk mengelola ego. Seseorang dipaksa untuk menunda kepuasan (delayed gratification) dan mengendalikan ketidaksabarannya. Masyarakat yang terbiasa antri cenderung memiliki emosi yang lebih stabil dan tidak mudah terprovokasi di ruang publik.
§  Meningkatkan Efisiensi dan KetertibanMeskipun terlihat lambat, antri sebenarnya jauh lebih efisien daripada berebut. Ketika semua orang berebut, terjadi kemacetan alur (bottleneck) yang justru menghambat petugas pelayanan. Dengan antri yang teratur, proses pelayanan menjadi lebih sistematis, terukur, dan cepat selesai.
§  Membangun Kepercayaan terhadap SistemKetika budaya antri berjalan baik, masyarakat akan memiliki kepercayaan (trust) bahwa mereka pasti akan mendapatkan haknya tanpa perlu menyogok atau mencari "jalan pintas". Rasa percaya ini sangat penting untuk stabilitas sosial dan efektivitas birokrasi.
§  Menumbuhkan Rasa Empati dan Menghargai Orang LainBudaya antri mengajarkan kita bahwa waktu orang lain sama berharganya dengan waktu kita sendiri. Menyerobot antrian bukan hanya soal posisi, tapi soal "mencuri" waktu orang lain. Dengan mengantri, kita belajar menghormati ruang pribadi dan hak orang lain.
§  Membentuk Citra Bangsa yang BeradabDi mata dunia internasional, budaya antri sering menjadi indikator kemajuan peradaban suatu negara. Bangsa yang disiplin mengantri akan dipandang sebagai masyarakat yang terdidik, menghargai aturan, dan memiliki etika yang tinggi. Hal ini dapat meningkatkan daya tarik investasi dan pariwisata.
§  Mengurangi Stres di Ruang PublikKekacauan saat berebut layanan seringkali memicu konflik fisik, adu mulut, dan stres bagi semua orang yang terlibat. Sebaliknya, barisan yang teratur menciptakan suasana yang tenang dan aman, sehingga interaksi sosial di ruang publik menjadi lebih menyenangkan.
 
Kesimpulannya:
Dampak budaya antri jauh melampaui urusan baris-berbaris; ia adalah fondasi karakter bangsa. Jika sebuah masyarakat gagal dalam hal kecil seperti antri, mereka akan cenderung kesulitan dalam mematuhi hukum yang lebih besar. Sebaliknya, ketertiban dalam antri adalah langkah awal menuju masyarakat yang madani dan disiplin.
 
Pertanyaannya adalah kenapa budaya antri hanya ada di tempat tempat tertentu, tidak berlaku di jalan raya ?
 
Budaya antri di Indonesia merupakan topik yang menarik karena mencerminkan transisi sosiologis yang sedang berlangsung. Antri bukan sekadar masalah barisan fisik, melainkan cerminan dari kedewasaan sosial, penghargaan terhadap hak orang lain, dan tingkat kepercayaan terhadap sistem.
 
Berikut adalah opini saya mengenai dinamika budaya antri di tanah air:
1.       Kemajuan yang Signifikan di Sektor PublikKita harus mengakui, budaya antri kita telah mengalami kemajuan pesat dalam satu dekade terakhir. Transformasi ini sangat terlihat di tempat-tempat dengan sistem yang ketat, seperti:

  • Transportasi Umum: Penumpang KRL dan MRT kini jauh lebih tertib dalam mengantri di belakang garis aman.
  • Layanan Perbankan & Administrasi: Penggunaan nomor antrian digital telah memaksa masyarakat untuk patuh pada urutan kronologis.
  • Event Besar: Konser atau pameran besar kini jarang diwarnai kericuhan karena manajemen alur yang lebih profesional.

2.      Tertib karena Sistem, Bukan KesadaranSalah satu tantangan terbesar adalah fakta bahwa banyak orang Indonesia tertib hanya jika ada sistem yang mengaturnya secara paksa (seperti pagar pembatas atau nomor urut). Masalah muncul ketika sistem tersebut absen—misalnya di jalan raya saat macet atau saat pembagian bantuan sosial. Di sini, mentalitas "siapa cepat dia dapat" sering kali mengalahkan etika mengantri.
3.      Fenomena "Titip Sandal" dan Budaya Ewuh PakewuhAda keunikan sosiologis di Indonesia di mana antri sering kali dipandang secara fleksibel. Contohnya:

  • Menyerobot halus: Meminta teman untuk "menjaga tempat" atau menyelip masuk dengan alasan "cuma tanya sebentar".
  • Ewuh Pakewuh: Rasa sungkan untuk menegur penyerobot karena takut dianggap tidak sopan atau memicu keributan. Hal ini justru menyuburkan perilaku tidak tertib karena tidak adanya sanksi sosial yang tegas.

4.      Pendidikan Karakter sejak DiniBudaya antri sebenarnya adalah latihan dasar dalam pengendalian diri dan empati. Di negara maju, antri diajarkan di taman kanak-kanak bukan sebagai aturan, melainkan sebagai cara menghargai waktu orang lain. Di Indonesia, tantangannya adalah menggeser mindset dari "saya harus lebih dulu" menjadi "semua akan dapat giliran pada waktunya."
 
Kesimpulan
Budaya antri di Indonesia saat ini berada pada fase adaptasi teknologi. Kita sudah bisa tertib jika dibantu oleh aplikasi dan mesin antrian, namun kita masih punya pekerjaan rumah besar dalam membangun kesadaran internal. Kesadaran bahwa dengan mengantri, kita sebenarnya sedang membangun peradaban yang lebih efisien dan adil bagi semua orang.

Bagaimana menurut Anda, apakah Anda punya pengalaman unik terkait budaya antri ?
 
Jakarta, 7 Januari 2026

Celoteh Angan Semu

Celoteh  menurut KBBI (kata benda) artinya obrolan atau percakapan yang tidak keruan (seperti percakapan anak kecil). Sedangkan bentuk tidak baku dari celoteh itu keloceh. Angan juga menurut KBBI (kata benda) artinya pikiran, ingatan, maksud, niat. Jadi celoteh angan dengan terjemahan bebas versi diri sendiri merupakan obrolan atau percakapan yang tidak keruan atas sebuah pikiran, ingatan, maksud atau niat. Dalam konteks ini hanya obrolan yang tidak memerlukan pihak lain, jadi saya asumsikan seperti monolog, tanpa harus lawan diskusi dengan orang kedua. Sedangkan kata semu, sesuatu yang bisa maupun tidak bisa di rengkuh, bisa menjadi angan jika tidak terwujud.

    Kenapa hal ini perlu saya angkat sebagai sebuah pemikiran (tidak serius, tapi bisa juga serius) mungkin juga tidak terlalu penting. Awalnya ketika berangkat bekerja, baik dengan kuda besi atau KRL atau kendaraan lain, saya banyak melihat hal – hal yang tidak seharusnya terjadi, tapi sejauh ini saya belum melihat langsung kecelakaan lalu lintas terhadap orang lain yang tidak berkendara atau berkendara atau pejalan kaki. Mari kita celoteh satu per satu sebagai sebuah renungan jika seandainya kita melakukan itu dan pihak yang menjadi korban adalah keluarga kita.

    Moda KRL. Penggunaan moda ini relatif sudah lebih baik dan teratur sejak dipimpin oleh Ignasius Jonan selaku Direktur Utama PT KAI tahun 2009 s.d. 2014. Banyak perubahan fundamental yang dirubah, SDM, Proses Bisnis, Kelengkapan Kereta serta Teknologi Informasi serta menghilangkan adanya per-calo-an. Para penumpang kereta baik kereta jarak jauh dan KRL sekarang sudah bisa merasakan kenyamanan dalam menggunakan moda transportasi ini. Atas perubahan ini saya mensyukuri dan semoga tetap berlangsung lama atas legasi nya pak Jonan.

    Moda Mobil. Moda ini relatif nyaman dan berbeda dengan kereta jarak jauh dan KRL. Jika seseorang memiliki mobil ini, “biasanya” menjadi indikator bahwa kebutuhan lainnya sudah terpenuhi, meskipun ada juga yang memenuhi mobil dulu dibanding kebutuhan pokok lainnya. Teori nya Abraham Maslow tidak terlalu belaku untuk orang yang masuk dalam kategori ini. Tapi bukan teorinya yang ingin saya jadikan celoteh atau ungkapkan, namun ada beberapa pertanyaan yaitu :  

§ kenapa ada beberapa kendaraan berjalan pelan tetapi di lajur kanan? Padahal lajur itu untuk kendaraan lebih cepat

§ kenapa marka jalan hanya berlaku di jalan tol (kadang berlaku) tetapi tidak di jalan bukan tol?

§  kenapa kebanyakan pemilik kendaraan pribadi parkir di jalan umum?

§ kenapa banyak mobil bagus tetapi berkendara tidak sesuai aturan? Misal dalam hal belok kanan, kiri dan berhenti bahkan melewati kendaraan lain di jalan tol dari bahu jalan

§  kenapa perilaku pengendara kendaraan lebih besar cenderung arogan dalam berkendara?

§ kenapa juga banyak sering sekali menggunakan klakson? Padahal penggunaan klakson itu dibatasi dalam kondisi tertentu.

§ kenapa juga banyak pengendara “merasa penting” hingga menggunakan “lampu strobo” sehingga mengabaikan kendaraan lain? Padahal kendaraan lain juga memiliki kepentingan yang sama. Padahal presiden ketika dikawal tidak menggunakan “sirene dan strobo”, bukankah jika presiden bersikap demikian, jajaran dibawahnya harus sama bukan melampaui?

    Biarlah pertanyaan ini tetap ada dan mungkin memang tidak perlu ada jawaban, karena hanya pengendara yang pernah melakukan hal hal di atas lebih mengetahui kenapa bisa demikian. Mungkin penerapan aturan dan pengenaan sanksi nya masih belum terlalu nyata dan berdampak langsung. Perlu di reviu kembali penerapan dan pengenaan sanksi nya oleh aparat terkait sehingga semua akan berjalan dengan tertib dan tidak ada kecelakaan bagi pihak yang di rugikan.

 Moda motor. Kalau bahas ini juga tidak akan selesai pembahasannya. Saya selaku pengendara kuda besi juga tidak sempurna dalam berkendara, tetapi saya selalu berusaha dengan sebaik - baiknya dan tertib. Jadi beberapa pertanyaan dengan celoteh saya yaitu

§  kenapa banyak pengguna motor terbiasa melawan arah?

§ kenapa banyak pengguna motor sering berjalan di atas trotoar, dengan mengambil hak pejalan kaki dan merasa tidak bersalah? Hal ini juga menjadi keheranan saya apakah Ojol juga memang diperbolehkan menggunakan trotoar? Banyak penentang larangan penggunaan trotoar juga dari para pelaku ojol.

§ kenapa banyak pengendara motor berhenti di atas garis zebra cross? (peruntukan pejalan kaki yang akan menyeberang)  

§ kenapa banyak pengendara juga masih belum tau jika tanda belok kiri langsung tidak ada artinya harus mengikuti rambu lalu lintas yang ada?

§ kenapa banyak pengendara motor tidak menggunakan helm? Padahal kalau pengendara tidak menggunakan helm berarti dia tidak peduli dengan orang lain, karena keselamatan dirinya aja sudah tidak peduli, bagaimana dengan orang lain.

§ kenapa pengendara motor jika di sore hari banyak mengajak berkendara motor bersama keluarganya (namun berkendara tidak menggunakan perlengkapan keselamatan seperti helm dan lainnya)?   

    Sama dengan pertanyaan diatas, biarlah pertanyaan ini menjadi pertanyaan yang mungkin hanya bisa di jawab oleh para pengendara yang melakukan hal hal diatas.

    Mungkin bisa jadi solusi untuk mengamankan pengguna jalan di trotoar, bisa dipasang paku jalan yang tidak bersahabat untuk roda motor tapi bersahabat dengan kaki pejalan kaki, sehingga pengguna motor tidak berani menggunakan trotoar sebagai jalan pintasnya. Selain itu juga penerapan aturan juga harus tegas dan tidak pilih pilih, sehingga berlaku setara.

Semoga kita semua selalu berkendara sesuai dengan ketentuan yang berlaku yaitu UU Nomor 22 Tahun 2019 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan


Tulisan ini bisa juga di lihat pad tautan berikut : 
https://rulyardiansyah.blogspot.com/ 

CaLisTung (Yang Tersisa Dari Pendidikan Kita)

“Pendidikan itu (seharusnya) memanusiakan manusia” – Tan Malaka
Kemacetan lalu lintas sudah sangat akrab bagi sebagian besar orang-orang yang tinggal di Jakarta-Bogor-Depok-Tangerang-Bekasi (Jabodetabek). Pertukaran arus manusia terjadi setiap hari, dari mulai pagi buta sampai dengan tengah malam. Berbagai upaya telah dilakukan untuk mengurai masalah kemacetan ini tapi sepertinya belum menunjukkan hasil yang signifikan.
Sebagai seorang pekerja yang tinggal di pinggiran Jakarta, saya pun terbiasa dengan situasi ini. Waktu tempuh 1 - 1.5 sampai dengan 2 jam untuk  jarak 25 km menjadi ukuran normal untuk mengatakan “lumayan lancar”. Lalu lintas macet adalah ketika waktu tempuh menjadi lebih dari 2 jam, lucu bukan?. Untuk menghindari kemacetan, saya lebih memilih untuk bersepeda (meskipun tidak setiap hari) ke kantor daripada menggunakan angkutan umum. Buat saya, menggunakan angkutan umum adalah tidak ekonomis dan mengharuskan saya untuk berangkat lebih pagi. Lokasi rumah yang lumayan jauh dari stasiun kereta api juga membuat saya tidak menggunakan moda kereta api sebagai pilihan alat transportasi.
Kembali ke soal kemacetan. Saat terjebak macet, saya berusaha untuk selalu berfikir positif dan tidak ‘terpancing’ dengan kondisi yang ada. Salah satu ‘kegiatan’ yang saya lakukan adalah mengamati perilaku pengemudi kendaraan bermotor, baik motor ataupun mobil. Seringkali saya menemukan bahwa kemacetan lebih banyak disebabkan oleh tidak disiplinnya pengemudi selain memang debit kendaraan yang melebihi daya tampung jalan raya.
Sudah bukan pemandangan aneh apabila ada motor/mobil yang menyerobot lampu/rambu lalu lintas, mengemudi melawan arus, berhenti/parkir di tempat yang dilarang, menyalip dari kiri, berjalan pelan di jalur paling kanan, dan yang lebih mengerikan lagi belakangan ini adalah sering terlihat pengemudi motor yang menggunakan handphone pada saat mengemudi.
Ada suatu ungkapan yang menyatakan bahwa perilaku berlalu lintas di suatu negara mencerminkan tingkat pendidikan di negara tersebut. Apabila merujuk ke ungkapan tersebut maka akan timbul pertanyaan: “apakah tingkat pendidikan di Jabodetabek sedemikian rendah sehingga kondisi dan perilaku berlalu lintas sangat semrawut?”
Walaupun belum melakukan survei, tapi saya berani bertaruh bahwa sebagian besar pengemudi kendaraan bermotor adalah orang-orang berpendidikan, minimal berlatar belakang pendidikan menengah. Data dari Korps Lalu Lintas juga menunjukkan bahwa 57% korban kecelakaan lalu lintas berlatar belakang pendidikan SLA. Lalu apakah tertib lalu lintas tidak pernah diajarkan di sekolah-sekolah? Bukankah sejak TK anak-anak sudah diajak field-trip ke taman lalu lintas? Kegiatan-kegiatan polisi cilik juga sudah banyak. Meskipun tertib lalu lintas tidak masuk secara resmi dalam kurikulum, tapi selalu ada muatan untuk menghargai hak orang lain, patuh pada peraturan dan saling menghormati sesama manusia.
Lalu mengapa semua muatan, nilai-nilai dan kegiatan-kegiatan tersebut tidak “berbekas” di jalan raya? Semua menjadi boleh sepanjang tidak menabrak atau ditabrak. Semua bebas asal tidak tertangkap petugas. Jangankan peduli keselamatan orang, keselamatan diri pribadi pun diabaikan. Alih-alih memikirkan emisi karbon, membuang tiket tol di tempat sampah saja tidak pernah dilakukan.
Sesuai dengan aliran Behaviorisme, seluruh perilaku manusia selain insting merupakan hasil belajar (Syam, M.Noor dkk. 2003. Pengantar Dasar-dasar Pendidikan). Teori Belajar atau Behaviorisme hanya ingin mengetahui bagaimana perilaku manusia dikendalikan oleh faktor-faktor lingkungan (Rakhmat, Jalaluddin. 2007. Psikologi Komunikasi).
Berdasarkan teori di atas, dapat disimpulkan bahwa secara sadar atau tidak sadar, formal maupun informal, perilaku manusia merupakan hasil belajar dan pengaruh lingkungan yang membentuk sikap dan cara pandang yang berbeda terhadap sesuatu.
Lalu darimana para pengemudi tersebut belajar? Dari sekolah? Dari lingkungan? Bukankah lingkungan mereka juga terpelajar? Pertanyaan yang sangat sulit terjawab, namun perlu kita lihat kembali seluruh sistem pendidikan dan lingkungan belajar kita. Tentunya kita tidak ingin pendidikan hanya menyisakan kemampuan baca-tulis-hitung (Ca-Lis-Tung) dalam arti harfiah; membaca tapi tidak paham apa yang dibaca; menulis tapi tidak tahu apa yang ditulis; berhitung tapi tidak mengerti apa yang dihitung. Pendidikan (seharusnya) memanusiakan manusia, bukan malah menciptakan 'monster pembunuh' di jalan raya.

Kirlian


Energi tidak dapat diciptakan. Energi tidak dapat dimusnahkan. 
(First Law of Thermodynamics) 

Hukum Kekekalan Energi membawaku ke sini. Kuletakkan telapak tanganku di pelat metal berbentuk jemari manusia itu. Dingin. Sesungguhnya aku merasa sedang duduk di kursi listrik seperti di film-film misteri. Apabila saat itu aku tahu bahwa pelat di kedua telapak tanganku ini terhubung dengan kabel voltase tinggi, tentu aku akan ciut mengundurkan diri dari sesi foto ini. Tapi dorongan untuk mengetahui lebih tinggi daripada kecemasanku.  

“What color is my aura?” That is the question. 

Beberapa bulan yang lalu aku sudah “mengetahui” jawabannya dari sebuah sesi quiz online. 

Tapi jelas ada bedanya antara bukti empiris dengan data intepretatif. Quiz tersebut menafsirkan warna aura dari beberapa pilihan yang kita ambil dari serangkaian pertanyaan mengenai preferensi pribadi di dalam beberapa simulasi situasi. 

Foto aura tidak banyak bertanya. Ia hanya memberikan hasil. Hanya kita sendiri yang mengambil kesimpulan dari serangkaian pantulan gelombang warna yang tercetak pada kertas film itu. Dalam 10 detik, semua hal tentang diriku akan tercetak di selembar kertas berukuran 8 x 10 cm. 

Pelat metal berfungsi menghantarkan listrik dari tangan melalui kabel ke arah kamera Kirlian di hadapanku ini. Sejenak petugas bergeming melihatku seperti orang bingung setelah mengecek kameranya. 

“Tolong bersandar ke dinding, ” katanya. Aku baru mengerti bahwa grounding atau melekatkan anggota tubuh ke dinding atau lantai membantu kualitas gelombang warna yang dihasilkan oleh tubuh kita. 

Aura. Bagi yang skeptis, fenomena ini hanya isapan jempol belaka. Bak fenomena paranormal seperti rasi bintang, bola kristal, fengshui dan lain-lain, untuk beberapa orang aura hanyalah satu topik pengisi waktu luang sambil minum kopi atau mengusir kejenuhan. 

Tapi, seperti orang lain, aku pernah belajar fisika, dan sedikit banyak mengetahui mengenai sifat-sifat dasar dari energi, cahaya, optik, dan spektrum warna. Satu topik saja yaitu “energi” dapat dibagi lagi ke dalam beberapa sub topik misalnya energi cahaya, energi bunyi, energi listrik, energi panas, energi terbarukan, energi tak terbarukan, dan banyak lagi. Apapun bentuk energi, satu hal sudah jelas, yaitu energi tidak dapat diciptakan dan tidak dapat dimusnahkan. Energi hanya berubah bentuk. Setidaknya begitulah Hukum Kekekalan Energi yang sering kita pelajari di sekolah-sekolah dasar dan menengah. 

Aura hanyalah salahsatu bentuk energi dihasilkan manusia. Seorang manusia dapat menghasilkan energi suara, energi gerak, energi listrik, energi panas, energi cahaya, dan banyak lagi. Seperti halnya panas tubuh manusia dapat dengan mudah terdeteksi dengan kamera inframerah di tempat yang tergelap sekalipun, begitu juga aura semua makhluk (hidup dan mati) dapat terdeteksi dengan kamera Kirlian. Satu koin uang Rp500 mempunyai aura. Satu lembar daun di pohon mempunyai aura. Bahkan untuk beberapa mata yang terlatih, aura dapat terlihat tanpa bantuan kamera. Seorang kenalan pernah bercerita bahwa ia menikmati lalu-lalang manusia di tempat keramaian karena ia dapat melihat indahnya warna-warni aura seiring pergerakan mereka. 

Warna-warna aura tercipta karena adanya karakteristik dasar dari “cahaya”. Dahulu, terdapat anggapan bahwa cahaya merupakan gelombang yang dapat diukur frekuensi dan kecepatannya. Cahaya mempunyai kecepatan yang sangat tinggi, yaitu 299.792.458 m/detik. Begitu tingginya kecepatan cahaya sehingga jarak objek antariksa seringkali diukur bukan lagi dengan satuan kilometer melainkan tahun cahaya, 9.4605284e15 m atau hampir mencapai 10 triliun kilometer. Warna yang terlihat merupakan gelombang cahaya yang dipantulkan oleh permukaan benda yang sedang kita amati. Dengan kata lain, sebuah apel berwarna merah bukan karena ia berwarna merah tapi karena permukaan apel telah memantulkan gelombang cahaya berwarna merah. 

Belakangan, juga diketahui bahwa cahaya merupakan partikel bermuatan energi yang dinamakan “photon”, dimana sifatnya sangat unik yaitu tidak mempunyai massa (berat) namun mempunyai energi. Photon pada setiap warna berbeda-beda, sehingga energi satu warna akan berbeda juga dengan energi pada warna lainnya. Apabila cahaya dapat didefiniskan sebagai gelombang sekaligus juga sebagai partikel … bayangkan seberapa banyak informasi yang dapat diperoleh dari satu lembar foto. Kita dapat mengetahui energi yang ada pada saat itu. Kita juga dapat mengetahui frekuensi yang terjadi pada saat itu. 

Dengan pengetahuan dasar mengenai warna, cahaya, optik, listrik, dan energi inilah kemudian kita dapat memahami fenomena aura.