Postingan

Menampilkan postingan dengan label Ekopandu

TETANGGAMU

Tetangga sebelah mendadak kaya, dapat hadiah, bertumpuk uang tunai dari undian minyak goreng rumahnya dibagusin,  beli segala barang mewah termasuk seperangkat gitar dan bas, plus sound system komplet, mahal. gonjrang-gonjreng, damdem-dandem, jingkrak-jingkrak, nyanyi-nyanyi, bikin single lagu, terus viral tiap hari. Berisik. bukannya tobat,  kemarin malah nambah beli drum, merek baru, kualitas super, bisa bikin album laris tiap hari. Berisik. Dasar tetangga berisik, atau tetangganya yang gak punya tutup kuping? - ekpan - puisi dan sepak bola - 11052022

MU

Benteng setan jebol, berkali-kali diumpat: setan!!! muka setan yang merah merona, memucat masam, berkali-kali setan tenan. - ekpan - puisi dan sepak bola - 10052022

MENCARI PUISI (di hari puisi)

kelopak mata belum juga terbuka lebar gelagapan mencari puisi ke sudut-sudut kamar ternyata sedang duduk-duduk santai di selasar asyik berkelakar dengan mentari yang baru saja keluar "Puisi yang satu lagi mana?" aku menanyakan pada puisi pertama di kejauhan tampak dia melambaikan tangan bersama dedaunan hijau berkilau setelah semalaman mendesau terdengar cicitcuit dari atap-atap rumah yang seperti saf salat menemani puisi yang bersiap rapat "Puisiku masih kurang satu, ada yang tahu?" coba kutanya pada dunia dan mereka "Dia masih lelap dalam gumpalan gelap  di bawah rongga dada" serempak jawaban terlontar kompak kunyalakan lampunya puisi terbangun dari gulita dan bergegas menyiapkan rasa. /ekp --- 26 Juli 2021

MENGEREK BENDERA

Aku mengerek bendera, Naik menggapai atap dunia, Di balik silau sang surya, Diiringi lamat-lamat berita durja, Aku mengerek bendera, Meraih temali menyusuri tiang tinggi, Tercekat nada rintih air mata, Berkibar setengah lalu terhenti, Aku terus mengerek bendera, Memaksa sekuat daya, Acuhkan peluh tak reda, Turun gemericik seirama Indonesia Raya, Dua orang datang membawa seka, Berhitung satu, dua, tiga, Bersama mengantarkan sang saka, Melihat merdeka dari atas sana. Kami mengerek bendera. (Ekpan, 17 Agustus 2020)

SUDAH JULI

Baskom hijau tengadah di bawah atap temaram, Setia mendoa hujan bulan Juni membasuhi, Meski sudah bulan Juli, Menadah air yang mencintai dengan sederhana, Basah sebelum sempat menyeka, Kering tanpa pernah mengusap, Menahan tumpah, dari deras awan yang mencair, Didera dingin yang tak membawakan jaket tebal, Hanya helai kain putih tiga lapisan, Hujanmu kini sudah terhenti, namun terus saja merinai, di sela-sela hujan kami, Melapisi dinding baskom dengan kerak sajak, Melekat abadi.

RINDU MAL

Suara kalian menggema penuhi telinga, Sayup terdengar dentingan musik menambah berisik, Sesekali toa menganga memanggil nama, atau sekedar menyemat serangkai maklumat sembari melontarkan persen harga potongan, Terus saja jejakku menjejak, Menyusuri mengkilat ubin berkotak-kotak, Menjadi pematang deretan kedai beranak pinak, Yang terkadang suaranya kompak berpaduan: “Silakan, Kakak!” “Nyari apa, Kakak!” “Mampir dulu, Kakak!” Sungguh sosok adik yang durhaka, Seolah-olah ramah, tapi minta uang di belakangnya, Aku hanya menggelengkan kepala, Memasang senyuman dari logika, Melangkah tanpa perlu petunjuk arah, Lalu memilih singgah pada segelas kopi gula merah, Duduk menyeruput dengan pandangan tak luput, Bergumam sendiri: “Wah, sungguh gadis yang imut!” Hingga tatapan beradu membuat beringsut, Dia menghampiri nyaliku yang mulai menciut, Perlahan mendekat dan makin dekat, Berdiri diam lima sentimer di seberangku, Lalu menuangkan segelas...

Prapatan: Prapto dan Prapti dalam Tulisan (Cerita Fiktif Belaka)

SALAH SASARAN Prapto dan Prapti memutuskan membangun biduk rumah tangga pada empat bulan silam. Terhitung masih pengantin baru, kedua insan ini senantiasa diselimuti perasaan rindu yang menggelora. Keduanya masih terbuai dalam pusaran kasmaran yang memang membuat ketagihan. Sayangnya tuntutan pekerjaan dan kerasnya ibu kota membuat intensitas pertemuan mereka menjadi tak total. Waktu mereka lebih banyak berkutat di jalan, kantor dan peraduan. Untung di zaman sekarang berbagai media sosial bisa memudahkan segala urusan, pun mengungkapkan perasaan. Prapto dan Prapti menjaga kualitas komunikasi dengan rutin berbalas pesan whatsapp tiga detik sekali. Hal yang serupa terjadi di akun media sosial mereka yang lain. Berbagai tulisan nyata menunjukkan yang dirasa. Mulai dari rindu, cinta, hingga sindir-sindiran berbau romansa. Semuanya demi menjaga manisnya berumah tangga. Siang ini Prapti sungguh merasa lelah. Berkas-berkas pekerjaan masih menumpuk di mejanya. Meskipun dari pagi hari ...

Mati

Gambar
Banyak manusia takut berdiri di atas tanggal berpulang Tak pernah ada kata siap Tak ada yang mau untuk jalan duluan Tangan menengadah senantiasa panjatkan doa Semua menggantungkan harap berumur panjang Gelapnya bawah tanah jadi momok imaji Belum lagi kotak bekal belum terisi Rentetan pertanyaan malaikat dihafal tiap hari Bisa-bisa hanya menguap dalam perut bumi Menangis bergidik saat terbersit dalam renungan Kelak surga atau neraka jadi teman keabadian Hitungan amal tampak tak sebanding dengan tingkah berandal Pertobatan seringnya berasa sambal Tapi heran, Kini banyak orang berlama-lama dalam mati Meskipun sempat dihidupkan kembali Suara azan lantang berkumandang Terdengar di telinga, meremangkan mata Seolah lenyap hingga tertutup fajar Tapi heran, Kini banyak anak muda berlama-lama dalam mati Meskipun sempat dihidupkan kembali Hardikan orang tua bak bisikan pelan Sampai-sampai mentari turut ikut membangunkan Mereka puas dengan surga sebatas kotak em...

Monolog

Hei nak, Meskipun kamu masih kecil, ayah akan senantiasa membiasakanmu berhijab Meskipun kamu masih sering enggan, ayah akan terus mengajarkan Meskipun kamu masih sering melepas dan melemparkan jilbabmu seenak hati, tak apa nak, kamu masih belum mengerti Bukan nak, bukan ayah memaksakan Bukan pula sekedar ingin ayahmu ini Tuhan kita, Allah Subhanahu wa Ta'ala yang punya perintah, perintah yang tak punya celah untuk dibantah Iya, ayah tahu perintah itu belum berlaku atasmu yang belum baligh Tapi ayah ingin kamu biasa, agar kelak ketika kewajiban itu melekat padamu, kau tak kaget, kau tak berat, kau tak mengelak dengan segala argumen kepintaranmu Dan kau tahu nak, kelak ketika kau dewasa, ayah tak bisa terus menjagamu Ayah akan melimpahkan mandat itu kepada suamimu Agar kau selamat, kau harus ada di tangan yang tepat, pria shalih yang taat Dan kau tahu nak, Rasulullah sudah memberikan petunjuk untuk pria shalih dalam memilih kekasih Jatu...

Ini Itu

Aku ingin ini karena butuh yang ini, Aku ingin itu karena sepertinya butuh yang itu, Aku ingin ini karena kelihatannya belum punya yang ini, Aku ingin itu karena nampaknya lebih bagus dari yang ini, Aku ingin ini karena belum cukup dengan yang itu, Aku ingin itu karena lebih baru dari yang ini, Aku ingin ini karena dia punya yang itu, Aku ingin itu karena sudah tak suka dengan yang ini,   Dunia berkutat dengan ini dan itu, Jika kita kejar terasa tiada akhirnya. Cobalah sapa sejenak Akhirat, Jika kita sudah kenal Akhirat, Dunia ternyata ada batasnya.

Pahlawan Kesiangan

Kala itu Suparman sedang makan siang di pusat berbelanjaan dekat kantornya. Dia pergi sendiri karena teman-temannya sudah punya agenda makan siang masing-masing. Alhasil dia menghabiskan waktu istirahat kantornya di warung ayam goreng franchise ternama. Sendiri tapi tak merasa sepi karena sudah ditemani wifi. Saat sedang asyik berselancar di dunia maia..eh..maya, Suparman dikagetkan dengang getaran berirama dari handphone yang dipegangnya. Tampak ada notifikasi singkat yang bertuliskan "kamu lagi dimana?". Seketika Suparman langsung melayangkan pikirannya, siapa gerangan di sana wanita yang begitu perhatian dengannya. Tapi setelah berpikir agak lama, Suparman tersadar bahwa tak pernah ada whatsapp dari cewek sepanjang hidupnya, kecuali dari emak, embah putri, dan emak lampir a.k.a bosnya. Gelagapan dia melihat jam tangan, ternyata sudah hampir jam satu. Secepat kilat matanya mengalihkan pandangan kembali ke handphone dan melihat notifikasi tadi. "Alamak, dari emak lam...

Debat Kusir: Seratus Hari

Alkisah,  pada hari minggu ku turut ayah ke kota. Naik delman istimewa ku duduk di muka. Ku duduk samping pak kusir yang sedang bekerja. Mengendarai kuda supaya baik jalannya. (boleh sambil nyanyi kok bacanya) Ayah saat itu memilih duduk di belakang dengan posisi diagonal dengan pak kusir. Mungkin, supaya bisa menjagaku dari belakang dan gampang jika ingin ngobrol dengan pak kusir. Maklum, ayahku sedikit cerewet atau halusnya, suka ngobrol. Di manapun dan bagaimanapun, biasanya ayah akan mulai mengajak ngobrol siapa saja orang yang ada di dekatnya dengan tema apapun yang melintas di benaknya. Terutama kalau sudah sampai terdengar bunyi-bunyian alam sekitar, bunyi jangkrik misalnya. Singkat cerita, setelah sorak sorai kegiranganku naik delman lenyap seiring "serak" nya tenggorokan, terdengar "tuk tik tak tik tuk tik tak tik tuk", suara sepatu kuda (yuk lanjut nyanyi lagi). Dengan sigap ayah menangkap pertanda, dan dengan cepat bertanya, "Gimana bang, kemari...

Bandara Pagi

Lorong lorong besar tampak terang menyala. Melawan langit yang masih gelap dengan hitamnya. Derap alas kaki sudah menggema besenandung bersama bunyi gesekan roda kecil di atas lantai yang memantulkan bayangan. Hiruk pikuk mulai berbisik perlahan berisik. Bertolak belakang dengan lirih dengkuran sosok-sosok tergeletak di bangku panjang berjajar. Lantunan suci panggilan subuh telah berkumandang. Langkah-langkah terpusat menuju arah tempat sembahyang. Suara kucuran air berdampingan mengalir dari "padasan". Wajah-wajah teduh berhias air wudhu tampak sudah bersiap menghadap Pencipta. Bergegas membentuk shaf demi meraih derajat yang berkali lipat. Perlahan atap dunia mulai berganti warna. Tanda sang surya beranjak dari tidurnya. Papan elektronik besar dengan tulisan bersusun kekuningan bergerak menampilkan informasi bagi beberapa orang yang mendongak perhatian. Tak lama suara empuk dari pengeras suara bersahutan bergantian membawa pengumuman. Di sudut kejauhan berdiri seoran...

Madu

Seekor kumbang melayang-layang mendengung terdengar hentakan sayapnya bunga warna warni berjajar dipandangi sejenak hinggap di satu bunga tak lama pindah ke bunga lainnya Sang kumbang tampak bingung Meski sebenarnya tak bingung Bungapun tampak senang Meski tak lama tak lagi senang Mereka semua indah dari warnanya Pun manis dari madunya Hinggap sang kumbang di satu bunga Tak biasa kini tampak agak lama menenggak manisnya madu dari jantung sang bunga Madu yang sama dengan lainnya Manis yang serupa dengan lainnya Tapi entah sang kumbang tak kembali terbang Pagi kembali keesokan hari Sang kumbang seperti biasa datang lagi Masih terdengar dengungan di antara jajaran bunga Namun beda dari yang sudah Sang kumbang mantap menuju sang bunga Bunga yang sama dengan kemarin Sepertinya dia sudah menemukan madunya..

GEMESS (Garing mak Kress): Salah Kaprah

Ada yang beda dengan Dimas akhir-akhir ini. Sebenarnya penampilannya masih sama, tapi kini dia selalu didampingi pria berpeci dan bersafari. Badannya tak gempal namun cukup besar. Posturnya lumayan tinggi dan sesekali berkacamata legam. Hampir di setiap langkah Dimas selalu ada jejak pria itu di belakangnya.  "Wah, jangan-jangan sekarang Dimas dijaga bodyguard", sekilas terbersit pertanyaan dalam hati.  Bersamaan dengan itu terbersit pula keraguan yang tak kalah gaduh, mengingat sesekali pria misterius itu terpergok berbekal tas jinjing semi koper yang dikempit, kadang di sebelah kanan, kadang di sebelah kiri.  "Ooh, mungkin dia semacam pengawal atau asisten pribadi si Dimas" coba menyimpulkan sendiri.  ***** Beberapa bulan yang lalu Dimas berhasil memenangkan pemilihan lurah di daerah kami. Dia menjadi lurah termuda sepanjang sejarah berdirinya kelurahan kami. Sebagai teman dari SD hingga SMA aku ikut merasa bangga. Sejak SMP, Dimas memang san...

Hujan Hari Ini

Berbulan-bulan kami menunggu kehadiranmu..  atau malah sudah hitungan tahun?  entah lah.. yang pasti lama...  sudah kami persiapkan segalanya menyambutmu..  berhias diri agar layak menemuimu...  coba kuselipkan ruang-ruang baru untuk peraduanmu...  Tiba-tiba hari ini dirimu hadir mendahului fajar...  atau mungkin sudah hadir saat mata kami masih terpejam?  sungguh kejutan yang tak terkirakan...  di kala harapan kami mulai tergerus kenyataan..  engkau tiba..dan masih sama.. menyejukkan...  Tapi semua ternyata tak berbeda...  meskipun kami sudah bersiap dan berusaha sigap...  suka cita akan datangmu tetap meluap-luap menutup jalanan..  ruang-ruang baru yang kami siapkan masih tak mampu membuatmu nyaman...  basah... tapi bisa menghapus gelisah... Bahagia dan syukur kami panjatkan...  tak lupa lantunan doa serta menyelipkan secercah keinginan...  Karena kehadiranm...

Khilafiyah Lampu Merah

Lampu merah bukanlah makhluk asing buat kita semua. Dengan mudah kita menemukannya berceceran di tiap sudut persimpangan jalan. Tugasnya sangat mulia: mengatur lalu lalang kendaraan dengan tiga kandungan warnanya yang penuh makna. Ada merah, kuning, dan hijau, tapi entah kenapa dia lebih dikenal dengan lampu merah, bukan lampu hijau atau lampu kuning. Yang pasti ga mungkin lampu merah kuning hijau, karena itu cuma ada di langit yang biru (maaf ngelantur). Di beberapa wilayah Jawa, dia juga dikenal dengan Bang Jo, singkatan dari lampu abang (merah) ijo (hijau). Lagi-lagi masih ada warna yang ketinggalan. Tapi biarlah, mungkin memang sudah nasibnya.  Saya masih ingat, sedari kecil sudah diajari makna dari tiga warna yang diusung lampu merah ini. Merah artinya berhenti, kuning artinya hati-hati, dan hijau artinya boleh jalan. Namun saya tak bisa ingat guru TK atau guru SD saya yang mengajari pertama kali. Jadilah mazhab itu yang saya anut dari kecil hingga tumbuh j...

Suka tapi Benci

Sunyi mulai hadir meskipun malam belum terlalu larut. Perut sudah mulai gelisah ditinggal logistik yang terakhir dipasok sebelum maghrib tadi. Mulut pun kompak ikut menyuarakan aspirasinya, ingin mengunyah sesuatu. Entah ini memang lapar karena belum makan atau sekedar lelah membayangkan Raisa bersanding di pelaminan. Yang pasti, seketika itu aku beranjak menuju dapur mengecek hidangan apa yang tersedia. Dan sudah kuduga, tersaji berbagai macam makanan yang bahan dasarnya sama, daging sapi. Masih kental aroma Idul Adha di hari tasyrik kedua ini. Namun berbagai olahan daging sapi qurban ini tak sedikitpun membuatku berselera. Bukan bosan karena sudah dua hari makan daging sapi, tapi dari dulu aku memang tak terlalu doyan hasil olahan daging qurban. Padahal biasanya aku doyan sekali daging sapi. Mungkin ini efek melihat proses penyembelihannya, jadi sedikit ga tega. Makin lama perut makin tak berkompromi, memaksa aku berpikir keras menentukan menu alternatif malam ini. Akhirnya, tak...

Motor, Solusi Kemacetan yang Dituduh Jadi Biang Kemacetan

Repost dari: www.ekopandu.blogspot.co.id Sudah bukan berita populer lagi jika kita membicarakan kemacetan di Jakarta. Macet seperti keberadaan kucing di pemukiman, sudah biasa dan pasti ada. Konon dulu hari libur dikecualikan dalam kategori hari macet di Jakarta. Tapi faktanya, kini hari libur juga tak mau kalah, macet di mana-mana. Kalau bicara penyebabnya, tentu kompleks dan rumit, bukan keahlian saya. Kalau bicara kebijakan mengatasinya, sudah banyak gubernur mengambil peran, semuanya orang hebat. Tapi bagi saya, secara kasat mata belum ada perubahan. Tiap pagi sore (maaf bukan rumah makan padang) selalu mampet di jalanan. Di tengah kondisi lalu lintas Jakarta yang ruwet itu, masyarakat dipaksa memikirkan solusi secara mandiri. Sepeda motor yang langsing dan lincah menjadi pilihan paling realistis memecah kebuntuan di jalan. Itu pula yang membuat ojek online kini laris manis diburu. Tak lain dan tak bukan karena sepeda motor dipandang lebih efektif untuk menempuh perjalanan d...

Pria Tenang itu Kini Istirahat dengan Tenang

Bisa dibilang saya tidak terlalu kenal dekat dengan beliau. Meskipun rekan sekantor, pertemuan kami terjadi tidak disangka-sangka. Perkenalan formal juga tak pernah diadakan sebelumnya. Saat itu kami pergi naik gunung dalam satu rombongan yang sama. Rombongan itu terdiri dari percampuran antara kawan DJA dan teman saya. Meski kawan DJA, tidak semua dari mereka saya benar-benar mengenalnya.  Ketika melihat sosok Mas Teba, saya merasa sama sekali belum pernah berjumpa (meski sekilas) sebelumnya. Perawakannya tinggi besar tetapi jauh dari kesan sangar. Senyumnya selalu tersungging saat berbicara. Raut muka dan volume suara juga menunjukkan bahwa beliau kalem dan bersahaja. Masih lekat dalam ingatan, penampilan beliau santai dengan kostum merah Liverpool, saingan MU - tim favorit saya. Semenjak itu, saya jadi tahu bahwa kami berseberangan dalam jagoan lapangan hijau. Karena belum kenal, saya cuma menyapa dengan "mas" dan melemparkan senyum saat berada di depanny...