LELAKI INI DAN PEREMPUAN ITU DAN HUNJAMAN RINDU

Hujan. Lelaki ini suka hujan. Tak peduli di bulan Juni, November atau Januari. Seperti sore ini. Beberapa hari menjelang pergantian musim. Langit menumpahkan triliunan tirta. Berbaris rapi menuju bumi. Mendarat dengan tertib di atap-atap rumah, pohon, daun, dan tanah. Meluruhkan debu bagai sang ibu memandikan bayinya. Tidak tergesa, tidak pula terlena. Titik-titiknya terorkestrasi dengan indah. Menghadirkan rindu. Hujan yang awet, ujar Perempuan itu di suatu waktu. Lelaki ini teringat kembali waktu itu. Hujan yang sama. Lelaki ini dan Perempuan itu duduk di teras rumah. Secangkir kopi sachet dan semangkok mie, cukup sudah. Perempuan itu juga suka hujan. Tapi di bulan Juni. Aku selalu ingat saat pertama kita jumpa, jawab Perempuan itu ketika Lelaki ini bertanya kenapa. Saat itu bulan Juni, hari hampir berganti. Tapi hujannya tidak seperti ini. Bagaimana kalau tidak ada hujan di bulan Juni? Apakah lalu kamu tak ingat aku? kejar Lelaki ini. Perempuan itu merajuk. Bahkan saat hujan tak turun sepanjang tahun, Perempuan itu tetap tak bisa lupa. Betapa indah dicinta Lelaki ini. Betapa sakitnya saatnya harus berpisah.  

Lelaki ini tergagap. Petrikor menyerang seluruh indra-nya. Hujan sudah berhenti. Lama. Sekujur tubuh Lelaki ini basah. Tak hirau tatap heran orang yang lalu lalang. Lelaki ini berlama-lama di tengah taman. Mematung layaknya arca penjaga. Entah apa yang mengganggu jiwanya. Benteng kokoh yang tegar mulai rapuh. Serangan rindu tak kenal waktu. Entah kenapa, alam pun seolah membantu.

Perempuan itu tergugu. Fragmen itu ternyata ilusi. Bunga tidur yang mekar mewangi. Menarik namun tak bisa dipetik. Sekarang bukan bulan Juni. Meski hujan turun sepanjang hari. Hujan tak pernah sadar, dirinya tidak hanya membasahi bumi. Menyuburkan tanah, merimbunkan ilalang. Perempuan itu tidak menyalahkan hujan. Karena, ingatan itu tak meranggas walau kemarau. Perempuan itu menyalahkan takdir yang tak juga berpihak. Alih-alih berlayar ke barat, angin bertiup kencang ke selatan. Perempuan itu tahu, dia hanya perlu membuang sauh. Menunggu suar memancarkan rindu. Suar yang tak kunjung ketemu.

Lelaki ini dan Perempuan itu terpisah waktu. Sama merindu. Sama menunggu. Jalan takdir membawa mereka bertemu. Lelaki ini beranjak lunglai. Hujan mengering di badan. Lelaki ini tak hirau. Hujan tadi menggenangi segenap arteri-nya. Memenuhi ruang hatinya. Terkunci.  

...

And you can't fight the tears that ain't coming

Or the moment of truth in your lies
When everything feels like the movies
Yeah, you bleed just to know, you're alive*

Jakarta, 9 Desember 2021


*Iris, Goo Goo Dolls

aku punya seorang kawan

 

aku punya seorang kawan

di dadanya tersemat

tugas mulia menjaga uang rakyat

agar terbagi secara cermat

mewujudkan besarnya manfaat

 

sekali saja dia  abai atau hianat,

membiarkan patgulipat atau bahkan terlibat

maka hancurlah seluruh martabat

tertanggung akibat sepanjang hayat

 

kawanku begitu teguh pada prinsip diri

sepanjang tugasnya sering dijumpai

keteguhannya akan diuji

dari depan belakang dan semua sisi

 

konon terkadang dia diuji iba dan empati

tema kemiskinan yang menjadi  komoditi,

seakan jika usulan  tak disetujui

dia dianggap telah kehilangan kesejatian insani

 

sesekali  dia perlihatkan usulan  program si miskin nan melarat

begitu gemerlap disusun dalam surat menyurat,

begitu indah dalam bual bual buku proposal

tapi menurutnya tak pernah menjawab yang jadi soal


bantuan si miskin dan anak terlantar

kadang tak sampai terhantar

yang sungguh miskin konon kerap luput

terganti tuan berperut gendut

 

hitungan usulannya juga  penuh sengakarut

entah data mana hendak diturut

semua pihak saling klaim berebut

merasa datanya paling yahuut

 

tapi aneh juga diskusi rame berkutat

hitung- hitungan alokasi rapat

mengira ngira menu konsumsi

memilih tujuan monev kan pergi

 

terkadang keteguhannya juga ditakar

oleh mereka yang berlagak tuan besar

gagah berani membawa aspirasi

katanya tak boleh ditolak atau diganti

 

usulannya kadang tak  masuk akal

seakan Anggaran adalah barang obral

kalau begitu dia akan berlagak orang bebal

yang tak soorangpun pernah dia kenal

 

aku punya seorang kawan,

Di dadanya tersemat

tugas mulia menjaga uang rakyat

di atas kepalanya, 

kibaran panji  nagara dana rakca mengangkasa


(Hari anti korupsi 2021)

 

Selamat Siang Tuan

Selamat siang tuan,


hari ini APBN tidak  sedang santai rebahan,

banyak sekali yang harus di kerjakan

coba kau lihat,

hari ini dia masih terengah engah

menghela nafas

sejak dua tahun lalu pandemi covid meretas

hari ini  kerjaannya belum lagi tuntas

 

dari seluruh negeri

masih terasa  isak sedih tangisan

mereka  mereka yang yang ditinggalkan

terduduk  memandangi

berangkatnya mobil  mobil ambulan,

bergantian membawa muatan

yang  bernafas tersengal

menuju perawatan

atau terbungkus tebal

menuju kuburan,

hingga raung sirena menghilang di kejauhan

 

Selamat siang tuan

hari ini APBN tidak  sedang santai rebahan,

dia hadir

mengupayakan tersedia vaksin dan obat obat vitamin penambah daya tahan,

menjaga agar  sakit dan mati tak banyak berulang,,

dan kasus covid semakin berkurang

mengupayakan  para tenaga medis,dokter perawat penggali kubur tentara polisi petugas petugas yang sedang bahu membahu berperang melawan pandemi

dapat lancar melanjutkan darma bakti

mengupayakan

tersedia biaya pulsa dan data,

buat para guru dan siswa,

serta perangkat pengolah data sewajarnya

hingga mereka yang sekolah atau kuliah

tetap bisa mendapatkan,ilmu dan hikmah

meskipun tetap tinggal di rumah

mengupayakan

ada subsidi  dan bantuan dana

makanan pokok dan lauknya

agar  mereka  yang tak bisa lagi bekerja,

tetap mendapatkan kebutuhan dasarnya,

mereka yang tak berdaya,

tak mati kelaparan dalam rumahnya

 

dia hadir,

mengupayakan

agar tetap bertambah jalan yang menembus belantara

dan wilayah terpenjara,

agar tetap terbangun pabrik pabrik yang menampung banyak pekerja

agar terlatih tentara dan tersedia  senjata untuk  menjaga negara

agar terbentuk polisi jaksa dan penegak hukum

yang memastikan hukum sebagai panglima

agar listrik listrik tetap menyala

hingga negeri semakin terlihat  warna indahnya

agar air tetap mengalir sebagai  pengobat dahaga

agar semua cita cita berdirinya negara terlaksana

agar dokter, guru, pegawai, lurah, camat tetap bekerja melayani rakyatnya

 

Dia hadir,

Mengupayakan ekonomi yang porak poranda

Terimbas corona pelahan  bergerak tumbuh tak semakin rubuh

 

selamat siang tuan,

Selamat siang tuan

hari ini APBN tidak  sedang santai rebahan,

jangan sampa kau terjebak sikap  tamak

membuatmu membelokan bantuan dari yang berhak,

merubah spek barang sehingga gampang rusak

merampok uang apbn sambil terbahak

 

jangan sampai gila hartamu menjadikan kalap

membuatmu lebih piawai dari tukang sulap

merubah kuitansi untuk menilap

menyamarkan bukti terlihat gelap

mencuri uang apbn ketika para penggawas hilap


Selamat Siang, Tuan

hari ini APBn tak sedang berdiam rebahan

jangan kau ganggu dengan keculasan

agar dia bisa jalankan apa yang telah dimandatkan



(Hari Anti Korupsi, 2021)

Pada suatu petang

Pada Suatu petang

ada yang hilang,

ketika kau pulang


Ruang riuh menjadi lengang dan hampa

sebenarnya apa yang tak sengaja,

tadi kau bawa serta?


(Stasiun Juanda, 3 Des 2021)




Punakawan, tak Sekedar Penghibur

     Dalam kisah perwayangan di Indonesia, kita sering mendengar adanya para punakawan yang biasa disebut juga dengan goro-goro. Kehadiran para punawakan ini, sangat dinantikan oleh penonton karena mereka menyuguhkan komentar, lelucon bahkan kritikan yang menghibur. 

    Punakawan yang terdiri dari Semar, bersama dengan ketiga anaknya, Bagong, Petruk, dan Gareng selalu tampil menyegarkan suasana pertunjukan. Gelak tawa selalu ditimbulkan oleh ketiga punakawan ini, baik melalui gerak-geriknya, maupun celotehannya. Mereka hadir sejenak di tengah konflik atau cerita inti dari kisah pewayangan sebagai abdi dari tokoh utama, namun sejatinya punakawan ini bukan hanya sekedar abdi, mereka juga berperan sebagai penasehat bagi tokoh utama. Mereka hadir ketika tokoh utama dalam kisahnya mengalami konflik/dilema dalam kehidupan, sosok punakawan inilah yang dapat memberikan panduan bagaimana jalan terbaik yang harus dipilih oleh tokoh tersebut, meskipun disampaikan dengan cara yang kocak dan jenaka.

    Punakawan berasal dari dua bahasa pana dan kawan. pana berarti tahu dan kawan maksudnya sahabat. Maksudnya kawan yang tahu mana yang baik dan mana yang benar, yang dapat memberikan nasehat/kata-kata bijak tentang hidup dan kehidupan kepada tokoh utama dan penonton. Ada pula yang mengkiaskan punakawan ini adalah ''hati nurani' yang dapat dijadikan pedoman dalam mengambil keputusan. Keputusan yang diambil haruslah yang didasari dengan kehati-hatian dan mempertimbangkan manfaatnya bagi kehidupan.

    Dengan filosofi seperti itu, maka tokoh punakawan yang selalu mendampingi para pandawa (disimbolkan sebagai tokoh kebaikan), dapat berarti pula bahwa setiap manusia yang masih mau mendengarkan hati nuraninya, ia senantiasa akan mendengarkan suara hatinya, sedangkan bagi orang yang tak mau mendengarkan hati nuraninya, ia tak mampu mendengar atau mengabaikan suara-suara kebaikan dalam dirinya sendiri (disimbolkan dengan para kurawa). 

    Jadi punakawan meskipun tidak menjadi tokoh sentral, dan dengan penampilan fisiknya yang tak sempurna pun, tetap mampu memberikan manfaat di tengah jalannya kehidupan sang tokoh utama yang selalu penuh rintangan dengan suka cita. Seyogiyanya dalam diri dan kehidupan, kita mampu menciptakan dan menemukan punakawan ini.

Blessed Silent Sunday

Enjoying my blessed silent Sunday morning,

 

Segelas teh hangat,

Semangkuk sup,

And, music!

 

These will be more than enough to recharge my soul,

refresh my mind, and re-energize my heart …

 

 

*** Remember when I told you,

No matter where I go,

I’ll never leave your side

You will never be alone,

 

Even when we go through changes,

Even when we’re old,

 

……

 

And I told you right from the start,

You just say the word and I’ll go,

No, it doesn’t matter how far,

‘Cause your love is all that I know,

 

…..

 

I’ll find my way back home

 

 

***

Way Back Home 

[Shaun feat. Conor Maynard]

Ketika Hujan Bermakna Sama

 

Hujan!

 

Tak ada yang berbeda setiap tahunnya,

Sama seperti anganku,

Berharap dipertemukan kembali walau cuma sejenak

 

Tidak untuk mengusik yang telah lalu,

Tidak juga untuk merajut ulang yang telah tebang,

Hanya ingin meminta tatap

 

Agar kau tau,

Sebesar apapun rasa sakitmu,

Takkan pernah mampu melampaui rasa rinduku

Semprong

Puisi
Ntah apa yang bisa kau janjikan untuk kami
Ketenangan hati?
Manifestasi nurani?

Oh, ayolah
Tak ada yang salah dari dunia modern ini

Sedari dulu, bukankah kita sudah mengharapkan kedatangannya

Segala upaya telah kita lakukan untuk mempersiapkan landasan dunia modern ini, lalu setelah dia sampai dengan barang bawaannya, kita sambut dia, kita tempatkan dia pada segala aspek yang melekat di diri kita. Input, proses, output diri kita harus MODERN! 

Puisi
Kau datang kembali, 
Kau babak belur
Barang bawaanmu dicuri
Kau tak indah lagi
Kau tak berarti apa-apa dibandingkan modernitas ini

Puisi
Apa lagi yang hendak kau sentuh di hidup kami
Kau tak memiliki tempat di sini
Enyahlah!

Sedang modernitas ini begitu menggiurkan, kami ingin melesat dan menemui kehancuran yang disembunyikannya!

Puisi
Menyingkirlah!

Semprong modernitas!
Kami tak ingin terlambat!
Kami ingin lumat dan tamat tanpa terlambat! 



Intrusi

Kau berkelana di dalam kepalaku
Mencari-cari apa yang salah dari makna "bertanya"
Kau katakan aku tak patut dan tak turut
Menerka-menerka pikiran masa depanmu yang tertinggal di belakang

Kita hendak berencana membuat perubahan, katamu
Sebagai respons perubahan yang lebih dulu berubah, kataku
Kau ajak aku ke dalam ceritamu
Aku kesepian, ternyata sebagai pengarang, kau miskin fondasi dan substansi

Semua benda mati yang ada di sekitar kita menjadi bermakna karena pemaknaan yang kita berikan sendiri, diri yang mengalami, diri yang bercerita, diri yang mengarang dan membual narasi dengan semaunya, ya, itulah kita, dengan pemaknaan itu juga kita saling menyakiti. Selamat merasakan sakit. Besok kita teruskan, terus kita rayakan dengan pemaknaan (re: bualan) baru yang lebih rapi dan bermutu

Belajar

"Mencipta adalah bentuk pemberontakan kita"

    Begitu sebaris kalimat yang ditulis oleh Iwan Simatupang kepada sahabatnya Sularto dalam buku Surat-surat Politik Iwan Simatupang 1964-1966. Dari membaca kata pengantar yang ditulis oleh Frans M. Parera pada buku tersebut, aku benar-benar diantarkan kepada sosok intelektual Iwan Simatupang, yang moderat, yang sebisa mungkin berusaha tak ternodai oleh kubu mana pun yang sedang bertarung saat itu, yang mencoba mencari jalan dan pikiran alternatif sendiri. Buku yang belum habis kubaca itu berisi surat-suratnya dalam menanggapi situasi sosial, ekonomi dan budaya Jakarta, yang gundah, yang resah, yang tak sabar menunggu jawaban.

Aku mencoba menulis keterangan tambahan atas dasar kemandirian pikirannya.

Kurang lebih seperti ini:

    "Dalam konteks belajar dari orang-orang yang lebih pandai, kita tak berniat menjadi epigon-epigon tanpa karya dan otentisitas yang nyata. Mungkin, kita mendongak kepada mereka pada kurun waktu tertentu untuk membangkitkan kesadaran kita akan indahnya pikiran dan pengetahuan yang dapat dihasilkan dari proses belajar yang sedang kita alami, setelah itu kita harus tetap kembali kepada diri kita sendiri, menyepi bersama berbagai pertanyaan alam semesta yang membutuhkan jawaban, seraya memberanikan diri untuk terus menyusuri lorong kehampaan sampai ke ujung ketidaktahuan yang baru."

Mari menyambut Senin dengan mimpi-mimpi yang lebih mandiri.


It's the mapping of my mind ...

‘Mind Map’ atau pemetaan pikiran, umumnya dibuat dengan berbagai cara kreatif (biasanya menggunakan cabang-cabang) sebagai deskripsi konsep kerja pikiran dan koneksinya di dalam otak. 

Karena saya tidak terlahir di era digital, sehingga tidak dapat dikategorikan sebagai ‘digital-native’, lalu mencoba bertanya kepada admin untuk bantu mengatasi ke-gaptek-an dalam hal unggah2 gambar, namun belum juga ada respon, maka pikiran yang sudah saya petakan sedemikian rupa, saya sederhanakan …

 

‘Past events’  >>> S + V2 + O

In fact,         >>> S + have/has + been + Ving + O

 

‘Present’       >>> S + V1 + O

In fact,         >>> I + wish + I could …


The examples of the sentences:

He grabbed my heart >>> He has been grabbing my heart

I let him go >>> I wish I could let him go 


HOW DO YOU MAP YOUR MIND?

 



 

Atasan dan Bawahan

Ntah

Aku bingung

Ntah

Ntah apa jarak yang merentangi kita


Dalam banyak kesempatan

Kau berjalan dengan pikiran yang tertumpuk lama

Rahim dari pengalaman

Sari dari peradaban


Sedang aku

Anak zaman yang lain pula

Rahim dari ketidaktahuan baru 

Sebab berkah dan masalah bagimu


Atasan

Apa kau sedang memperhatikan dari menaramu

Apa kau sedang mengamati dan menyusun strategi di sana

Untuk membangun jembatan ketidaktahuan ini


Bawahan

Apa yang sedang kau lihat

Kepalamu lelah mendongak ke atas sana

Menunggu cucuran kebijaksanaan?


Atasan dan bawahan

Mengapa kau masih bersarang di zaman modern ini

Mengapa kau tak ikut pergi bersama perkakas masa lalu

Mengapa kau masih ada sebagai jarak yang menghalangi kami


Sedang aku

Masih mencari padanan yang setara

Antar manusia dan manusia

Di zaman modern ini


Atasan dan bawahan

Jangan kau renggut keakraban kami

Pergilah jauh

Teriaki dan umumkan bahwa dirimu adalah residu waktu dulu


Kami, diri kami ini

Akan sudah punya pengganti

Istilah alternatif yang mendekatkan

Yang menyatukan


Walau istilah alternatif itu masih belum terjamah

Masih di dalam tanah

Masih sulit digali

Masih belum membumi


Tapi orang tua kami

Anak zaman yang hendak pergi

Akan mengambil peran untuk bisa mewariskan

Untuk diri kami juga, anak zaman baru yang akan melanjutkan perjalanan ini

LELAKI INI DAN PEREMPUAN ITU DAN DUA HATI YANG TAK LAGI SATU

Perempuan itu menuliskan hidupnya. Tintanya air mata, jeluangnya serpihan hati. Merangkai diksi dengan hati-hati. Penuh arti namun tetap tersembunyi. Perempuan itu tahu, tak mungkin bebas dari terungku. Tidak saat ini, disaat masih memperjuangkan buah hati. Entah nanti, meski dia tahu mungkin itu artinya mati. Perempuan itu lelah. Perjalanan melelahkan ini tak pernah terangan-angan olehnya. Namun semua  sudah tertulis, tiada daya kecuali berprasangka baik bahwa inilah yang terbaik. Perempuan itu juga sadar, dirinya tangguh, harus begitu. Tak boleh luluh. Tidak saat ini, saat cita-cita hampir diraih.

***

Di sudut lain kota, hanya berjarak sekian depa, lelaki ini terlucuti. Membaca cerita yang penuh drama. Seolah tak nyata namun penuh fakta. Ada tawa di sana, banyak juga air mata. Bagai piala, berpindah-pindah di tangan sang jawara. Lelaki ini terkadang bahagia, dirinya bukan satu-satunya. Tapi kisah-kisah itu memaksa untuk percaya bahwa dia-lah penyebab semua malapetaka.

***

"Kamu tahu gak?" rajuk perempuan itu. Lelaki ini hanya menunggu, sambil tetap menjaga kehangatan tubuh. Perempuan itu bercerita tentang sang ayah kebanggaannya. Ayahnya pernah berkata dia akan kaya dan bahagia. Lelaki ini hanya tertawa. Indeed, I always remember that your ambition is to be a shopisticated woman. Perempuan merengut dan membelalakkan mata. Dia bahkan sudah lupa, apakah dia pernah punya cita-cita.

***

Hidup memang tidak semakin mudah. Jiwa-jiwa dewasa yang menentukannya. Perempuan itu terus berkutat dengan air mata, yang mungkin hanya tinggal nama, karena telah mengering sekian lama. Cinta pertama ternyata tak menjanjikan bahagia, hanya cerca dan kata-kata hina. Apakah dia salah? Cinta tak pernah salah, hati manusia yang mudah berubah.

***

Lelaki ini sudah tak mau membuka kisah lama. Dulu, dia pernah bercerita tentang hari ini. Hari ini, dia bahkan tak ingin dulu itu ada. Sudah terlalu banyak babak. Tak mungkin mengulang roman lama. Lelaki ini tetap peduli, tapi tak mungkin untuk mengasihi. Hidup harus terus bergerak, entah di persimpangan ke berapa cinta kembali bersua, atau, mungkin tidak akan pernah. Menyerah bukanlah pilihan, tapi tak bijak memperjuangkan hati yang sudah lama merdeka.

Jakarta, 30S2021

Sorganya Sederhana

Suatu senja,,

Binar Cahaya anak nomor lima

tergopoh cerita,

tentang sorga,

yang didengar

dari ustadzah

di madrasah

samping rumah


sorga itu katanya

negeri di mana

terjawab damba

tanpa tunda

terkabul pinta 

tanpa jeda


maka katanya,

kelak di sana

dia minta  hape saja,

biar segala waktu bisa

nonton nastya dan ayahnya

tanpa tunda

tanpa jeda


#menjaga cahaya

#binar


[TUNA] RENJANA

 Aku bersiap menguatkan hati … 

 

Diantara berbagai tugas yang mau tidak mau harus dikuti serta setumpuk kegiatan yang aku cari-cari, lelah sekali rasanya membagi ruang untuk berpura-pura menyembunyikan perasaanku yang sesungguhnya … ‘rasa tidak nyaman’, tapi aku tidak punya pilihan selain harus tetap bersikap ‘manis’ agar semua terlihat wajar …

 

“Kamu berdo’a untuk aku ya, transaksi ini bukan main-main, do’a seorang istri itu sangat mustajab untuk kesuksesan suaminya …” 

 

Aku mengangguk, lalu bersegera menyambar gelas di depanku, menikmati air dingin yang mengalir di tenggorokanku, menghindar bertatap mata …

 

Laki-laki itu menghisap rokoknya dalam, 

Guratan usia sudah terlihat jelas di wajahnya yang tampan … 

Penampilannya kali ini terlihat sedikit berbeda, 

 

“Lawan bisnisku ini owner sebuah perusahaan di UAE, kamu tolong siapkan baju yang cocok, pertemuannya di hotel bukan di kantor, jadi jangan terlalu formal juga …” (permintaannya tadi pagi lebih ku anggap sebagai instruksi dari pimpinan ke Personal Assistant-nya)

 

“Oiya, nanti dari jam 2 aku jalan sampe malam, kamu rencananya ngapain aja?” 

(Akhirnya pertanyaan ini, seperti ‘Code of Conduct’ yang wajib dipersiapkan jawabannya dan tidak boleh salah agar tidak menimbulkan keributan)

 

“Hmmm … banyak deadline kerjaan, bakal stay depan laptop aja,” jawabku sekenanya.

 

“Good, inget ya gak usah chat-chat yang gak penting, gak usah buang-buang waktu telpon sana sini dan jangan pernah keluar rumah kalo aku lagi gak di rumah, kecuali atas izinku”, nada suaranya mulai memancing emosiku.

 

Ini bukan kali yang kesekian puluh, mungkin yang kesekian ratus, tapi entah kenapa ada saja saat dimana aku masih belum bisa menerima hal-hal yang menurutku diluar batas kewajaran.

 

Aku mulai merasakan sesak, lalu mengatur irama nafasku, sekuat tenaga menahan egoku, sebelum akhirnya menjawab: “Iya … aku gak bakal kemana-mana, kalo cape nanti aku tidur aja”.

 

Laki-laki itu berdiri, merapihkan pakaiannya sejenak … bau parfum yang menyeruak dari tubuhnya sedikit meringankan perasaanku … 

Aku mengikuti langkahnya hingga ke pintu, dia berhenti sejenak, menatap wajahku lekat, lalu berbisik: “Kamu itu wanita cantik dan sempurna, jangan pernah bermimpi aku bisa percaya ke kamu …” Dia tersenyum dingin lalu berlalu … aku menutup pintu seiring deru kendaraannya yang terdengar menjauh …

 

Aku tak peduli, aku tidak butuh kepercayaan dari siapapun … Yang kuserahkan bukan hanya tubuhku tapi seluruh hidupku … Kepatuhan, kesetiaan … Mungkin hanya cinta yang belum bisa atau mungkin tak akan pernah bisa aku berikan karena aku sendiripun sudah kehilangan rasa itu sejak lama … 

 

**So look me in the eyes,

Tell me what you see,

Perfect paradise,

Tearing at the seams,

I wish I could escape,

I don’t wanna fake it,

Wish I could erase it,

Make your heart believe …

 

But, I’m a bad liar … bad liar …

Now you know, now you know …

 

 

 

**Bad Liar, Anna Hamilton [cover version]

PowerPoint: How Powerful are You?

Senin, Pukul 10.30  

Dismissed!

 

Kelas dengan total kredit 3 sks di pertemuan kedua semester ini berakhir dengan pesan-pesan singkat, mengingatkan mahasiswa untuk membaca modul, memahami, membuat resume untuk didiskusikan di pertemuan selanjutnya.

 

‘English for Effective Presentation’ merupakan salah satu subjek yang saya ajarkan setiap tahun sejak 2013. 

 

Dan biasanya program presentasi yang dijadikan contoh pembahasan utama adalah ‘PowerPoint’ karena program ini terbilang lebih aplikatif dan banyak digunakan dibandingkan beberapa program serupa seperti Prezi, Google Slides, Keynote, Powtoon dan lain-lain.

 

Program yang dibuat oleh Gaskins & Austin dan dirilis pertama kali di tahun 1990-an ini sepertinya menjadi salah satu pilihan utama para praktisi ketika ingin menyajikan materi mereka dalam berbagai kegiatan.  

 

PowerPoint >>> … when the presenter has ‘the power’ to convey the message through ‘points’

 

Berbekal beberapa buku teks sebagai referensi untuk menggambarkan ‘presentasi yang efektif’, pembahasan awal yang saya berikan biasanya “Dos and Don’ts” bagi presenter ketika mendisain slides presentasi mereka, seperti:

 

§  Do not put one full sentence on the slides, moreover one full paragraph

§  Maximum 6 words in each point

§  Use relevant pictures/images

§  Graphs/charts talk more than texts

§  So on, so forth …

 

Dan penjelasan ini juga saya sertakan dengan tautan salah satu artikel yang pernah saya paparkan dalam satu kegiatan konferensi berjudul “Oral Presentation: Attract or Distract?” 

 

Ketika sesi diskusi, dari tahun ke tahun selalu ada saja pertanyaan yang dilontarkan mahasiswa: “Why do some lecturers present their topic discussion by putting more texts on the slides, like one paragraph?”

 

Dan biasanya saya menanggapi pertanyaan tersebut sambil bercanda: “Because they never join my class!”

 

Pengalaman yang sama juga saya alami ketika mengikuti beberapa tahapan ujian studi lanjut dimana draft PPT saya selalu diawali dengan ‘penolakan’ yang berujung ‘revisi’.

 

“I think you should put more information here, and here … and also here … “(dosen pembimbing saya berkomentar sambil asyik mencoret-coret lembaran slides yang sudah saya persiapkan ‘seefektif’ mungkin), lalu … “See? How could the examiners will get the idea of your content if you only put limited words here? They can’t read your thoughts, neither can I, you need to revise them before getting my approval.”

 

Again, penjelasan yang akan saya sampaikan hanya terhenti di kerongkongan, dan kata-kata yang keluar hanya: “Yes Prof, will do!”, lalu saya berlalu sambil bergumam dalam hati: “I don’t have any power to rebut you, Sir …”

 

Mohon Izin

Pada suatu rapat yang membahas berbagai macam persoalan

Aku berdiam diri di ruang virtual dengan rasa mual yang mulai tak tertahan

Peserta rapat sedang dengar pendapat

Solusi dari masalah ini belum kalian dapat? pimpinan rapat bertanya

Para peserta rapat diam saja

Melirik waktu, mengeluh, kapan ini kan berlalu? 

Pimpinan rapat sedikit mengumpat

“Kalian Generasi Milenial harusnya lebih kreatif, inovatif, inisiatif, proaktif, produktif, asertif, aktif, komunikatif, solutif, kolaboratif dong!"

Diriku ini Generasi Z, bukan aku yang dimaksud pimpinan rapat

Zzzzzzzz

Aku tertidur, sejenak kabur dalam nyenyak

Dalam mimpiku, pimpinan rapat melayangkan teguran tegas, "Si Kemput hadir?" Sontak kuterbangun dan siaga menyambut, "Mohon izin menyambungkan kembali Pak, tadi terputus"

LELAKI INI DAN PEREMPUAN ITU DAN ILUSI RASA

Lelaki ini sadar, mustahil melupakan masa lalu. Tidak yang satu ini. Yang dapat dilakukannya hanya mencoba untuk tidak mengingatnya. Tapi, lelaki ini juga tahu, tak mungkin dia mampu mengontrol ingatannya. Ingatan itu begitu membekas. Selalu datang, terang benderang bagai rekaman yang diputar ulang. Seberapa kuat lelaki ini bertahan, sekuat itu pula kenangan datang menyerang. Jelas dengan pernik rupa, kata dan rasa. Mewujud semudah pesulap mencipta bunga dari selampai. Dalam hati, mimpi bahkan deja vu. Lelaki ini merasa mungkin dia kurang berusaha, tapi mungkin juga karena sadar hal tersebut akan sia-sia.

***

Perempuan itu juga sama. Hatinya sudah terendam getirnya air mata. Berlumur cinta tanpa asa. Kalaulah ada pujangga menuliskan hati tersayat, terkoyak, luka atau apalah, mungkin harus terlahir kembali untuk mencari madah yang menggambarkan hati perempuan itu. Perempuan itu sadar, pertahanannya lemah. Hatinya tidak terjaga. Entah karena lelah, atau karena lelaki ini yang luar biasa. Perempuan itu juga sudah tak peduli, tak mau mencari tahu atau sekedar menyunting cerita. Semua tak sama lagi. Hidup harus dijalani  meski tak seindah mimpi dan semanis janji-janji, atau baiknya dia tak terjaga saja?. Perempuan menyimpan rasa dalam kotak pandora. Mengunci dan membuang anaknya, agar tidak merusak segalanya.

***

Hidup manusia layaknya 2 hari yang berbeda. Satu hari memihak kita, hari yang lainnya menentang kita. Di saat masa berpihak, semua terlihat baik-baik saja, indah bahkan luar biasa. Tidak ada yang salah, semua berjalan sesuai keinginan rasa. Tak terbayang akan ada hari lainnya, saat menyapa saja menjadi dosa apalagi bertatap muka. Merindu dalam hati tak ubah menitiki nadi dengan belati. Lelaki ini dan perempuan itu bukan tak tahu hal ini. Segala cara dicoba agar tak bertikas. Lelaki ini dan perempuan itu lupa, manusia bukanlah pembuat rencana yang sempurna. Lelaki ini dan perempuan itu lupa, semua sudah tertulis oleh-NYA. Alih-alih dilawan, bergeser satu mili pun hanya tinggal rencana.

***

Lelaki ini masih disini. Terlihat utuh dan bahagia. Petualang tangguh yang sangat pongah. Perempuan itu masih disana. Bahagia dalam sangkar emas sang raja. Seolah tak pernah luka, terhina. Anggun layaknya Tamina. Lelaki ini dan perempuan itu tak mungkin membalik waktu ataupun punabbhava. Lelaki ini dan perempuan itu mungkin hanya bisa saling mendoakan, doa yang pastinya melukai hati. Apakah bahagiamu menjadi bahagiaku? Apakah bahagiaku menjadi bahagiamu? 

***

Entahlah. Lelaki ini tetap percaya, dirinya saat ini adalah akibat dirinya di masa lalu. Masa depan tak terlihat namun pasti di depan mata. Masa lalu selalu mengusik, tak ubah iringan rebana. Terkadang lembut mengayun, seringnya berderak-derak di dinding jiwa. Perempuan itu juga percaya, sebait kata sepenggal cerita mampu jadi pengobat luka. Penat akan selalu terasa, namun mungkin tak terlalu menyiksa.


Jakarta, 17092021  


Mini Fiksi

Pemuda itu melangkah gontai meninggalkan  wanita yang telah dicintainya sejak duduk di bangku kuliah.

Beberapa jam kemudian sebuah pesan singkat masuk kedalam telepon genggam si wanita yang mengabarkan bahwa si pemuda ditemukan tewas bersimbah darah dengan luka menganga di pergelangan tangan kanannya.


****


Anak perempuan mungil berambut ikal tertawa geli ketika ayahnya yang berkumis tebal memeluk dan mencium tengkuknya berkali-kali sambil berkata bahwa ia amat mencintai puterinya. 

Ketika tersadar sosok ayahnya menghilang dihadapannya, anak perempuan itu mencari ayahnya dari satu ruang ke ruangan yang lain. Yang ia temukan hanya sebuah buku Yasin bergambar foto sang ayah dengan tulisan, "Mengenang 100 hari wafatnya Suami, Ayah kami tercinta...".

Telaga Air Mata

 Ia hadir disaat kegersangan hati melanda

Angin lelah berhembus menjadi pertanda

Gumpalan awan menjelaga

Rintik hujan mengubah kelopak mata menjadi telaga

Telaga air mata

Sepasang Kaos Kaki Usang

Sepasang kaos kaki usang

Teronggok di sudut kota metropolitan

Kusam, dekil, tak menarik

Ribuan mata enggan tuk melirik


Kaos kaki usang ingin menghangatkan

Melindungi kaki-kaki mulus terawat 

Disimpan rapih dan wangi di dalam laci lemari indah

Atau tergantung di etalase-etalase pusat perbelanjaan mewah berpendingin udara

dan kaki-kaki mulus terawat lalu lalang

Sekedar tuk cuci mata

Sebagaimana dahulu ia pernah merasakannya


Suatu hari, ia bertanya kepada langit

Tentang takdirnya menjadi usang

Namun langit tak menjawabnya

Langit hanya mengutus angin tuk menghibur dirinya


Sepasang Kaos kaki usang kini sadar

Takdir harus dijalani dengan sabar

Meski ia kini teronggok di dalam plastik butut

Ia masih mempunyai manfaat menghangatkan kaki yang juga dekil seperti dirinya

Ia pun bersyukur

Karena baginya syukur melapangkan hatinya










Bangkai Rasa

 

                Terkadang,

                kita sibuk menggali  bangkai rasa.

                Tak hirau,

                akan rasa baru yang meranggas layu. 



                 Jakarta, 08092021

                 

Dua Matahari

TOI 1338b  NASA 

 

Dilema bukan hanya 

soal perasaan manusia 

atau pikiran kita semata

Semesta pun ada galau juga


Bila 4,6 milyar warsa

Usia tata surya kita

Ada 8 planet mengitari 

Satu-satunya matahari 


Syahdan di konstelasi Pictor 

Tersebutlah Planet TOI 1338 b 

4,4 miliar tahun, katanya 

Selama itu ia selalu mengiringi 

Setia di antara 2 matahari


LELAKI YANG MALANG (2)

 

Setelah sebulan aku dan suamiku sembuh dari penyakit sejuta umat, kami berdua akhirnya memiliki kesempatan untuk mengunjungi Usman di kampung. Damar, suamiku, ingin memastikan kondisi Usman.

Aku hanya berdiri di depan pintu rumah sederhana milik ibunya Usman. Rupanya setelah keluar dari rumah sakit, Usman dibawa ke rumah ibunya yang tinggal sendiri. Ia seolah sudah tak punya lagi mempunyai keluarga setelah bercerai dengan isterinya beberapa tahun yang lalu.

Tercium olehku bau pesing dari dalam rumah itu. Kudengar juga dari saudaranya bahwa Usman sering membuka pampers-nya dan buang air kecil di atas kasur. Mungkin Usman juga tak sadar apa yang dilakukannya.

Usman duduk di atas kasur yang digelar di lantai. Tenggorokanku tercekat melihat kondisi Usman. Mukanya pucat bak mayat. Matanya cekung dan pandangannya kosong. Ia tak memiliki daya untuk sekedar menopang tubuhnya yang kurus kering. Berbeda dengan Usman yang kulihat beberapa bulan sebelumnya.

Kulihat Bulek Tansah, ibunya Usman, tertatih-tatih menyambut kami. Tak bisa kubayangkan bagaimana repotnya seorang ibu yang sudah renta harus mengurusi anaknya yang sakit. Penyakit Bulek Tansah pun sebenarnya tergolong berat tapi ia tetap bersemangat merawat anaknya. Untungnya saudara-saudara kandung Usman tinggal berdekatan dengannya, sehingga mereka bisa bergiliran menjaga Usman.

“Man, apa kabar?”

Damar duduk di depan pintu. Badannya membelakangi Usman. Sepertinya ia tak tega melihat kondisi Usman yang mengenaskan.

“Ya aku begini, Mas. Aku bingung sakit apa. Aku nggak bisa nelen makanan. Setiap mau makan aku selalu muntah. Makanku hanya susu kambing dan air tajin saja ….”

Kudengar suara Usman parau. Rupanya sakit juga merubah suaranya.

“Ya harus makan, Man. Satu-satunya cara untuk sembuh ya makan,”ujar Damar.

Kudengar Usman membalas dengan penjelasan panjang dan lebar. Rupanya kecerewetannya tidak berkurang walaupun ia sakit. Itu yang patut disyukuri. Satu kebiasaannya yang berkurang adalah tertawa. Usman selalu tertawa setiap kali menyelesaikan kalimatnya. Aku sangat tidak menyukai bunyi tertawanya. Aku sempat berpikir bahwa ada syaraf tertawa di otaknya yang bocor sehingga Usman tidak bisa menahan untuk tidak tertawa di setiap kalimat yang diucapkannya.

“Ini mending, Mas. Udah bisa duduk. Tadinya nggak bisa. Udah bisa ngobrol juga. Tadinya sering bengong dan berhalusinasi. Segala hal yang tidak mungkin diucapkannya. Sering bicara nggak jelas juga. Mending ini nyambung diajak ngobrol,” terang Ima, adik perempuan Usman.

Aku kembali mendengar kembali keluhan Usman tentang kondisinya. Sepertinya memorinya pun terganggu karena Usman bercerita hal yang sama berulang-ulang.

“Dia sering memanggil nama anaknya yang bungsu, tapi tak pernah datang menjenguk bapaknya. Anak sulungnya sih sesekali datang menjenguk, itu pun nggak lama. Usman ini sepertinya juga depresi menahan rindu kepada anak-anaknya. Dokter juga meresepkan obat penenang,”sambung Ima.

Aku tak tahu harus berkata apa lagi. Entahlah apa kesalahan Usman sehingga ia harus menjalani hidup di masa senjanya seperti ini. Tak memiliki apa pun selain penyakit dan kesulitan. Aku juga tak tahu apa yang terjadi selama sepuluh hari Usman terkurung sendiri di kamar kost-nya tanpa makan dan tak ada seorang pun yang bisa diajak berbicara  untuk sekedar mengeluhkan sakitnya.

 

Akhirnya kami pamit. Kutitipkan sedikit uang kepada Ima untuk membeli makanan yang layak untuk Usman.

“Untuk saat ini kamu harus fokus dulu buat sembuh, Man. Setelah itu, kita pikirkan nanti saja,”pinta Damar.

“Iya, Mas.” Air mata sepertinya menggenang di mata Usman. Matanya menerawang  jauh. Mungkin ada hal yang sedang dipikirkannya.

 Kami berdua berjalan menjauhi rumah Bulek Tansah dalam hening. Berbagai pikiran berkecamuk di kepalaku. Satu hal yang kuharapkan adalah Usman tidak putus asa dan tetap berusaha untuk pulih secara fisik dan mental. Semoga.

(Masih) Bersambung