Postingan

Menampilkan postingan dari Januari 12, 2020

Pejuang Kehidupan

Apakah yang kamu cari hai para pejuang kehidupan? Berangkat ketika sang Surya masih terlelap, Pulang ketika bintang-bintang bersenda gurau dengan sang bulan. Apakah yang kamu cari hai para pahlawan keluarga? Bertaruh nyawa menyeberangi lautan, Demi sang buah hati dan bundanya terkasih ujarmu. Apakah yang kamu cari hai pembela kekasih hati? Meninggalkan sang terkasih di kala sang surya bersinar tuk sesaat berjumpa di peraduan. Berbulan terpisah samudra tuk sepekan melepas rindu. Sepiring nasi dan segenggam berlian kah yang kau cari? Adakah suka kau jumpai dalam kilau gemerlap intan permata di telapak tanganmu? -satu jam menuju rumah di kala hujan- 222617012019

Catatan Kecil 2019

I. Alam dan Waktu Senja Tidak seperti pagi yg datang dengan riang untuk kemudian menghamburkan terang lalu ditinggalkan orang, senja pergi menghilang dengan muram, berlalu menyisakan remang untuk kemudian dirindukan. Jumat Ketika senin sampai kamis seperti mengajak berlari, jumat menjadi semacam pertanda bahwa rest area sudah di depan mata. Mereka yg seperti itu, banyak mengucap terima kasih hari ini. Menunggunya Bagaimana pagi mengerti tentang malam sedang ia lahir dari benderang? Ah.. Biar senja saja nanti yg menjawabnya. Malam Gelap yg datang melucuti keramaian, menyusupkan sepi ke dahan-dahan dan jalan. Anehnya ketika sepi lalu mulai tumbuh dan merambat dimana-dimana, suara-suara lebih mudah menunjukkan dirinya. Sepi yg dibawanya hanya menjadi panggung dari keramaian yg semula hendak dilucutinya. Sabtu Kegembiraan akan kehadirannya ditelikung oleh jumat sore dan ketika ia berlalu rindu padanya tertutup oleh Minggu. Sunset Di kejauhan. Dalam remang namun indah dipa...

Tunggu pembalasan gue ya pak boss ...

Salimah & Halimah

Salimah, seorang wanita berusia lima puluh sedang mengaduk nasi yang baru tanak. Setiap mencuci beras dilantunkannya shalawat berharap berkah pada makanan untuk keluarganya. Sebelumnya, ia telah menyapu halaman bakda subuh, yang disusul dengan memasukkan air yang telah masak ke dalam termos.  Ia kini membuka tutup panci dan mulai mengupas telur ayam kampung yang telah direbusnya. Setelah telur terkupas tuntas, ia menumis sawi dan tahu. Dikerjakan semua dengan telaten dan ringan hati. Sampai sebuah suara dari ruang tamu menjeda kegiatannya. “ Kupi mana kupii...” “Iye Beh.. bentar ye” sahutnya Salimah. “Lama amat, dah sepet mulut!” Segera disiapkannya kopi untuk Babeh Rali, suaminya. Pintu ruang tamu terbuka tiba-tiba. Tanpa salam, Halimah datang sambil merengut.  “Kenape muke kusut bener?”  Tanya babeh kepadanya. “Mahal Beh apa-apa sekarang”  , ujarnya sambil diletakkannya plastik berisi belanjaan ke meja. Halimah, wanita kedua di rumah itu terl...

Rindu

Aku didiami rindu, rinduku...dia baru saja hadir, tetapi sudah sedemikian sombongnya berdiri dengan sedikit mengangkangkan kaki, melipat tangannya di dada seperti centeng di pasar pagi, modal gertak. kusiram air tak hanyut, kuberi api tak terbakar, kulumuri ikan asin biar dibawa kucing jalanan, kucing sial itu lebih tertarik bermain sapu ijuk, padahal kurus kering badannya akhirnya kuajak dia bicara baik-baik kubilang "kau terlarang", dia bergeming tersenyum sebelah bibirnya tertarik sedikit "terus kau mau apa?" katanya dengan suara berat dan mata setengah tertutup, sepertinya habis mabuk "aku mau kau pergi!" kataku keras, dihantamnya aku dengan belakang tangannya, aku langsung pingsan, yang kuingat terakhir ada beberapa batu akik besar di tangan kanannya, tapi sepertinya tadi tangan kiri...

Kemarin

kemarin itu.... mengapa tidak kita berbicara mata ke mata sehingga bahasa hati tidak tersamarkan atau adakah yg engkau sembunyikan sehingga aku tak (boleh) tahu? jika tidak ada yg disembunyikan tidak bisakah aku mendapat kehormatan untuk melihat matamu ketika berbicara

CaLisTung (Yang Tersisa Dari Pendidikan Kita)

“Pendidikan itu (seharusnya) memanusiakan manusia” – Tan Malaka Kemacetan lalu lintas sudah sangat akrab bagi sebagian besar orang-orang yang tinggal di Jakarta-Bogor-Depok-Tangerang-Bekasi (Jabodetabek). Pertukaran arus manusia terjadi setiap hari, dari mulai pagi buta sampai dengan tengah malam. Berbagai upaya telah dilakukan untuk mengurai masalah kemacetan ini tapi sepertinya belum menunjukkan hasil yang signifikan. Sebagai seorang pekerja yang tinggal di pinggiran Jakarta, saya pun terbiasa dengan situasi ini. Waktu tempuh 1 - 1.5 sampai dengan 2 jam untuk  jarak 25 km menjadi ukuran normal untuk mengatakan “lumayan lancar”. Lalu lintas macet adalah ketika waktu tempuh menjadi lebih dari 2 jam, lucu bukan?. Untuk menghindari kemacetan, saya lebih memilih untuk bersepeda (meskipun tidak setiap hari) ke kantor daripada menggunakan angkutan umum. Buat saya, menggunakan angkutan umum adalah tidak ekonomis dan mengharuskan saya untuk berangkat lebih pagi. Lokasi rumah yang lum...

Nak, saat itu ... [Puisi Kenangan 3]

Ketika Kau Mengerang Sebelum Mati [Puisi Kenangan 2]

Ratap Pongah di Ujung Usia [Puisi Kenangan 1]

Tangga

Hai tangga, apa kabarmu? Kemarin kita bersua hari ini pun juga. Hai tangga, sepertinya, kita akan banyak berjumpa. Aku akan sering mengunjungimu di masa depan. Hai tangga, maafkan aku. Jika aku menyalahgunakanmu untuk sejenak, melepas penat pekerjaan. Hai tangga, temani aku. Menghisap satu-dua batang rokok, melemaskan otot-otot yang kaku. Hai tangga, terima kasih. Kamu telah setia menjalankan tugasmu, sebagai perlintasan antar lantai. Tempat kami para pencari nafkah bercengkrama melepas lelah dari jenuhnya ruang kerja yang dingin.

Kirlian

Gambar
Energi tidak dapat diciptakan. Energi tidak dapat dimusnahkan.  (First Law of Thermodynamics)  Hukum Kekekalan Energi membawaku ke sini. Kuletakkan telapak tanganku di pelat metal berbentuk jemari manusia itu. Dingin. Sesungguhnya aku merasa sedang duduk di kursi listrik seperti di film-film misteri. Apabila saat itu aku tahu bahwa pelat di kedua telapak tanganku ini terhubung dengan kabel voltase tinggi, tentu aku akan ciut mengundurkan diri dari sesi foto ini. Tapi dorongan untuk mengetahui lebih tinggi daripada kecemasanku.   “What color is my aura?” That is the question.  Beberapa bulan yang lalu aku sudah “mengetahui” jawabannya dari sebuah sesi quiz online.  Tapi jelas ada bedanya antara bukti empiris dengan data intepretatif. Quiz tersebut menafsirkan warna aura dari beberapa pilihan yang kita ambil dari serangkaian pertanyaan mengenai preferensi pribadi di dalam beberapa simulasi situasi.  Foto aura tidak banyak b...

Seperti hati, antri ...

Ini Judulnya Lupa

Tak banyak yang kukenang, Itupun remang-remang, Tak lengkap, sepotong-sepotong, Aku lupa apa dulu kamu bilang iya, Tak ingat pula apa aku pernah meminta, Hanya sentuhan biasa, Lalu terbakar birahi membara, Lalu lagi, Terus lagi, Terkadang mau akhiri, tapi ingin lagi, Tak bisa berhenti. Ingat tapi tak lengkap, Kutemukan sepotong tercecer sepotong, Kurangkai ingatan, buyar terjaga, Aku cuma ingat memberimu mantera, Jangan minum dari cangkir yang sama, Nanti kamu tak bisa lupa, Kamu tak percaya, Lalu kuberi lagi mantera, Jangan cium aku pakai rasa, Nanti namaku tak bisa hilang dari darah, Kamu cuma tertawa, Aku lupa ada berapa mantera, Seingatku tiga, Kamu bilang lima, Ingin kutarik,  tak ingat caranya, Salahku tak menuliskannya, Salahmu juga tak mengingatkannya, Jadilah kita melayang-layang, Terjebak kenangan dimana-mana, Ingin lupa tapi tak bisa, Ingin ingat tapi harus lupa, Sebentar kucoba, Siapa tau ada mantera te...

"Jangan Mencuri, Nanti Kamu Terbiasa..!"

Menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) itu tak mudah. Kebutuhan hidup sama dengan profesi lainnya, tapi kekayaan tidak boleh sama. “Kalau mau kaya jangan jadi PNS!”, ujar seorang Menteri di Republik ini dahulu kala. Aku mungkin masih terlalu muda saat memutuskan untuk bersekolah di sekolah kedinasan yang menjadikanku berstatus PNS . Terlalu muda juga untuk memahami bahwa hidup ini butuh banyak biaya sedangkan PNS tak boleh kaya. Aku bukan berasal dari keluarga berada, meski ayahku seorang pedagang besar dulunya. Saat aku lahir sebagai bungsu dari dua belas bersaudara, ayahku mulai kehilangan masa kejayaannya. Tapi beliau yakin dan percaya bahwa banyak anak banyak rejeki, patah tumbuh hilang berganti. Kewajiban membiayai hidup pun beralih ke anak-anaknya. Tak banyak yang kuingat di masa kecil. Biasa saja, cukup makan cukup pakaian. Ketika mulai sekolah, hanya satu pesan ayah: dapat negeri atau tidak sekolah sama sekali. Aku merasa tidak ada masalah, tidak merasa kekurangan walau ser...

Manah yang mendua ...

“Kamu tau kenapa hati kita ada dua?,” tanyamu saat itu. Aku menggeleng.

Lelah Adalah Inspirasiku

Aku terkurung dalam bangunan yang penuh dengan selasar Segelintir orang berteriak depresi Terkurung dalam ketidakpastian ruang dan waktu Segelintir lainnya menangis meratapi kenyerian hebat melanda Raungan dan teriakan berbaur tanpa bisa dikendalikan Orang dengan baju putih mencoretkan pena sambil berbicara dengan orang-orang yang sedang gundah Petugas lainnya hilir mudik mengusahakan yang terbaik dalam lelah berkelanjutan Aku, yang harus lebih sabar dari semua orang, berdiri di samping ‘gravitasi hidupku' ‘Sang Gravitasi' sedang terkulai menunggu jawaban atas ketidakpastian ruang dan waktu Kuperhatikan orang-orang yang lalu lalang, kemudian kuciptakan kaveling di otak dan pikiranku Kucatat, suatu saat akan kutuangkan dalam kisah mendalam tentang perasaan mereka berada dalam kecemasan Tiga ratus enam puluh menit terkurung dalam ruangan itu, aku memahami betapa cemasnya orang menunggu kepastian apa yang akan terjadi selanjutnya pada hidupnya atau hidup ora...

Cinta Tak Pernah..

Cinta tak pernah menjanjikan akhir bahagia, Pun kecewa, Tak pernah. Sejatinya bahagia dan kecewa hanya berganti-ganti masa, Mencintai dan dicintai adalah kodrat, Mencintai yang tak mencintai adalah suratan, Dicintai yang tak dicintai juga tulisan takdir, Berbahagia untuk keduanya adalah keniscayaan, Memendam kecewa karenanya juga hal biasa, Apapun pilihannya, cinta tak pernah menjanjikan apa-apa, Jatuh cinta bukanlah keputusan dengan logika, Apa yang tampak di mata tak selalu sama dirasa, Apa yang dirasa di dada, tak melulu tertuang dalam aksara, Sesungguhnya, manusia bukanlah pemilik hati, Tak ada hak kecewa karena pilihan yang salah, Hati manusia sudah dipertautkan, berpasang-pasangan, Takkan luput dari pena-NYA, tinggal jalani saja. Cinta tak pernah menjanjikan apa-apa, Tapi DIA menjanjikan kekekalan jannah bagi yang mencinta karena-NYA Jakarta, 13012020 #saatwarasberkarya

STOP COMPARING

"Hidup ini baik-baik saja, sampai kita mulai membanding-bandingkan"  -unknown- "Kak, nanti kalo ada pertanyaan: kamu punya saudara nggak  yang pernah sekolah disini?, adik jawab apa?" tanya sang adik kepada sang kakak. Sang adik saat itu sedang persiapan tes masuk sekolah menengah pertama, sedangkan sang kakak adalah alumni sekolah tersebut, lulusan terbaik tahun kemarin. "Ya jawab aja punya" aku memotong jawab mendahului sang kakak yang masih bingung. "Adik takut nanti mereka expect me like kakak" lanjut sang adik. Sejenak aku terdiam. "Ya nggaklah dik, kan beda adik sama kakak" aku mencoba menenangkan. " ish adik mah... !!" sang kakak teriak. "nilai adik kan jelas-jelas lebih bagus dari kakak". Lalu mulailah perdebatan seru sang kakak dengan sang adik. Sang kakak merasa adiknya lebih pintar, sang adik bilang kakaknya yang terbaik. Dengan berbagai argumen kekanakan mereka. " girls...please" aku me...

Purnama Terakhir

“Tya, kamu lagi di mana?” “Udah makan belum? Jangan sampai telat makan, nanti kamu sakit. Ayah juga kan yang repot.” “Kalau keluar malam, jangan lupa pakai jaket!” Selalu dan selalu Ayah menelepon atau video call aku. Belum sempat aku berpindah dari kegiatan yang satu ke kegiatan yang lain di kampus, Ayah kembali menelepon. Biasanya ia akan bertanya dan bicara hal-hal yang menurutku tak penting bahkan bisa jadi itu nasihat yang diulang-ulang terus. Entah apa yang ada di pikiran Ayah, kenapa ia begitu protektif.   Sepertinya Ayah tidak mempercayaiku. Padahal aku selalu berusaha membanggakan Ayah. Aku selalu menjadi yang terbaik dari mulai duduk di bangku sekolah dasar sampai kuliah di universitas terbaik di negeri ini. Aku tinggal berdua saja dengan Ayah karena Ibu sudah meninggalkan kami berdua ketika aku masih berusia lima tahun. Ibu pergi entah ke mana. Sejak itu ayahlah yang mengurusi sampai saat ini. Tak pernah terpikir di benakku untuk mencari Ibu. Aku merasa s...

Dua Puntung Rokok

"orang kaya, mendaftar kerja"

. Badan besar, Hatinya  dekil, Wajah  sangar Mentalnya  kecil Harta yang dipunya Dipikir segalanya Semua temannya Ingin dikontrolnya Dalam diskusi Tegak berdiri Dalam posisi Menang sendiri Serius, bercanda Dia punya jadwal Yang asal tertawa Membuatnya kesal Dia ngomong ngelantur bilangnya  bercanda Yang lain bertutur Dia lempar kena dada Banyak orang Menjadi korban Watak pemberang Kepada teman Biarpun pernah satu sekolah Umurnya  tua  atau sebaya Hampir selalu pernah masalah Jika berdekat dengan dirinya Dari rumah mungkin awalnya, Tumbuh besar laksana raja Semua tunduk pada titahnya Apapun mau, bilanglah saja dia pikir  kekayaan besar Bekal selalu hidup gemerlap dirinya selalu merasa benar Emoh belajar meminta maap dipeliharanya seekor kucing teman berbincang kalau di rumah Memahami teman merasa asing Teman tak paham dikira marah Semua hukum di dalam rumah Ingin adopsi di semua tempat Berharap dimak...