Tampilkan postingan dengan label Cerita Bersambung. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita Bersambung. Tampilkan semua postingan

Karet Gelang Sang Adik – Bagian Keempat (Terakhir)

Sepuluh Tahun Kemudian...

Di salah satu sudut premium Jakarta, sebuah restoran keluarga yang hangat dan modern sedang merayakan hari jadinya yang kelima. Restoran itu bernama "Garis Merapi". Nama itu diambil untuk menghormati asal-usul dan sejarah hidup pemiliknya.

Di dalam kantornya yang nyaman, seorang pria muda berpakaian rapi sedang memeriksa laporan keuangan. Ia adalah Kari. Berkat bimbingan Bu Arini dan kerja kerasnya yang tak kenal lelah, Kari berhasil menyelesaikan pendidikannya di bidang manajemen perhotelan sambil bekerja paruh waktu. Bu Arini, yang kini ia anggap sebagai ibu angkat, memberikan modal awal baginya untuk membangun usaha ini.

Tiba-tiba, pintu terbuka. Seorang gadis muda dengan wajah berseri-seri masuk membawa sebuah map desain.

"Kak, lihat! Rancangan untuk cabang kedua kita di Yogyakarta sudah selesai," seru Kara dengan penuh semangat.

Kara kini telah tumbuh menjadi seorang arsitek muda yang berbakat. Ia yang dulu hanya mencoret-coret di pojok kedai Bu Arini, kini benar-benar mewujudkan impiannya membangun ruang-ruang indah. Meski ia berjalan dengan sedikit bekas luka di kakinya—sebuah pengingat dari masa lalu—langkahnya kini sangat mantap.

"Bagus sekali, Kara. Ibu Arini pasti bangga melihat ini," jawab Kari sambil tersenyum bangga.

Namun, ada satu hal yang tidak pernah berubah. Di pergelangan tangan Kara, tersembunyi di balik jam tangan mewahnya, masih melingkar sebuah karet gelang yang sudah mulai mengeras dan memudar warnanya. Karet itu tidak pernah ia lepaskan.

"Kak, ingat hari itu? Saat aku menangis karena ingin makan enak tanpa takut basi?" tanya Kara sambil menatap ke luar jendela besar yang memperlihatkan pemandangan kota.

Kari berdiri dan menghampiri adiknya. "Bagaimana mungkin aku lupa? Itu adalah hari yang membuat kita belajar bahwa tidak ada doa yang tidak didengar."

Malam itu, restoran "Garis Merapi" tidak hanya melayani pelanggan kaya yang turun dari mobil-mobil mewah. Di bagian belakang restoran, Kari dan Kara memiliki program khusus bernama "Meja Berbagi". Setiap hari, mereka menyediakan puluhan porsi makanan bergizi secara gratis untuk anak-anak jalanan dan pemulung di sekitar sana.

Kari melihat seorang anak kecil yang sedang duduk di pinggir jalan bersama kakaknya, mirip sekali dengan kondisi mereka sepuluh tahun lalu. Kari menghampiri mereka, memberikan dua kotak nasi hangat, dan membisikkan sesuatu yang dulu selalu ia katakan pada Kara:

"Jangan menyerah ya. Hari ini mungkin sulit, tapi hari esok adalah milik mereka yang berani melangkah."

Kari dan Kara telah berhasil mengubah air mata menjadi kekuatan. Mereka membuktikan bahwa kemiskinan mungkin bisa merenggut banyak hal, tapi tidak bisa merenggut kasih sayang dan harapan. Mereka bukan lagi anak-anak yang menatap restoran dari kejauhan; mereka adalah cahaya yang kini menerangi jalan bagi orang lain


Karet Gelang Sang Adik – Bagian Ketiga

Beberapa hari berlalu sejak kejadian di rumah sakit itu. Kaki Kara sudah tidak lagi bengkak, meski ia masih harus berjalan agak pincang. Bu Arini tidak hanya membayar biaya rumah sakit, tapi ia juga mengantarkan mereka kembali ke tempat tinggal mereka yang sempit di dekat pabrik.

Melihat kondisi tempat tinggal Kari dan Kara yang hanya beralaskan kardus dan beratapkan seng berkarat, hati Bu Arini tergerak. Ia teringat akan janjinya pada diri sendiri untuk selalu berbuat baik sebagai rasa syukur atas hidupnya.

"Kari," panggil Bu Arini suatu sore saat ia berkunjung membawa beberapa potong pakaian layak pakai dan buku-buku pelajaran bekas. "Ibu punya sebuah kedai kecil di dekat taman kota. Ibu butuh seseorang untuk membantu merapikan meja dan mencuci piring di sore hari. Apa kamu mau?"

Mata Kari berbinar. Ini adalah jawaban dari doa-doa yang ia panjatkan di sela isak tangisnya saat menjaga Kara yang sakit. "Tentu, Bu! Saya mau. Tapi... bagaimana dengan Kara? Saya tidak bisa meninggalkannya sendirian."

Bu Arini tersenyum, lalu mengelus rambut Kara. "Kara bisa ikut ke kedai. Di sana ada pojok kecil yang bisa ia gunakan untuk belajar membaca atau menggambar. Ibu lihat dia anak yang cerdas."

Maka, dimulailah babak baru dalam petualangan mereka. Setiap siang setelah Kari pulang dari sekolah terbuka (tempat ia belajar secara mandiri dengan bantuan relawan), ia menjemput Kara dan mereka berjalan kaki menuju kedai Bu Arini.

Kari bekerja dengan sangat rajin. Ia tidak pernah mengeluh meski harus bolak-balik mengantar pesanan. Sementara itu, Kara duduk manis di pojok kedai, asyik dengan buku-buku gambar pemberian Bu Arini. Karet gelang pemberian Bu Arini masih setia melingkar di tangannya—bukan lagi sebagai simbol kemiskinan, melainkan sebagai pengingat akan keajaiban dari sebuah kepedulian.

Suatu malam, saat mereka berjalan pulang di bawah sinar rembulan Jakarta, Kara menggenggam tangan kakaknya erat-erat.

"Kak," panggil Kara pelan. "Iya, Dek?" "Dulu aku bilang orang kaya itu enak karena bisa makan enak tanpa khawatir basi. Tapi sekarang aku sadar..." "Sadar soal apa?" tanya Kari penasaran.

Kara berhenti sejenak, menatap kakaknya dengan mata yang berbinar jernih. "Bahwa kekayaan yang paling indah itu bukan makanan di restoran PIK itu, Kak. Tapi saat kita punya orang yang peduli, dan saat Kakak tetap memegang tanganku meski aku sedang sakit. Ternyata, kita juga 'kaya' ya, Kak?"

Kari terdiam. Tenggorokannya terasa tercekat oleh rasa haru. Ia merangkul bahu adiknya yang kecil itu. "Iya, Kara. Kita sangat kaya karena kita punya satu sama lain."

Di tengah bisingnya kota Jakarta dan kerasnya kehidupan jalanan, dua bersaudara itu tidak lagi merasa takut. Mereka memang kehilangan orang tua dalam bencana Merapi, namun mereka menemukan "keluarga" baru dalam diri orang-orang baik yang mereka temui, dan yang terpenting, mereka menemukan kekuatan besar di dalam diri mereka sendiri untuk terus melangkah maju.

Karet Gelang Sang Adik - Bagian Kedua

Kisah Kara dan Kari sebelumnya dapat dibaca pada tautan berikut :

Karet Gelang Sang Adik


Wajah Kara yang biasanya ceria kini pucat pasi. Panas tubuhnya meningkat drastis, dan kakinya yang mungil membengkak kemerahan di sekitar luka bekas besi berkarat itu. Kari, yang hanya seorang anak remaja, merasa dunianya seolah runtuh. Ia mencoba mengompres dahi adiknya dengan kain lusuh yang dibasahi air tawar, namun rintihan Kara tak kunjung reda.

"Sakit, Kak... dingin..." bisik Kara lirih, tangannya mencengkeram erat karet gelang pemberian ibu muda tempo hari. Karet itu kini melingkar di pergelangan tangannya yang kurus.

Kari tahu ia tidak bisa berdiam diri. Di saku celananya, hanya ada beberapa keping koin hasil mereka mengumpulkan botol plastik kemarin. Jumlahnya takkan cukup untuk membawa Kara ke klinik, apalagi rumah sakit besar. Namun, bayangan wajah orang tuanya yang hilang ditelan abu Merapi seolah memberinya kekuatan. Ia tidak boleh kehilangan satu-satunya keluarga yang ia miliki.

Dengan sisa tenaga yang ada, Kari menggendong Kara di punggungnya. Ia berlari kecil menuju jalan raya di kawasan Pantai Indah Kapuk, berharap menemukan keajaiban di antara gemerlap lampu restoran yang dulu pernah mereka pandangi dengan penuh harap.

Napas Kari tersengal-sengal. Keringat bercampur air mata membasahi pipinya. Di depan sebuah restoran seafood yang mewah, ia jatuh terduduk karena kelelahan. Orang-orang berpakaian rapi yang baru saja keluar dari restoran menatap mereka dengan tatapan iba, namun kebanyakan hanya berlalu begitu saja.

"Tolong... tolong adik saya..." isak Kari, suaranya parau.

Tiba-tiba, sebuah mobil putih berhenti tepat di depan mereka. Pintu terbuka, dan keluarlah sosok wanita yang tidak asing. Ia adalah ibu muda yang memberikan karet gelang kepada Kara tempo hari. Wajahnya tampak terkejut melihat kondisi kedua anak itu.

"Ya Tuhan, apa yang terjadi?" tanyanya panik sambil berlutut di samping Kari.

"Kaki Kara, Bu... terkena besi karatan. Dia demam tinggi," jawab Kari terbata-bata.

Tanpa banyak bicara, ibu muda itu membantu Kari menaikkan Kara ke kursi belakang mobilnya yang bersih dan harum. Sepanjang perjalanan ke rumah sakit, Kari terus memegang tangan adiknya, membisikkan doa-doa yang dulu diajarkan ibunya. 

Beberapa jam kemudian, di ruang IGD yang dingin, dokter memberikan penanganan cepat untuk mencegah infeksi menyebar lebih jauh. Kari terduduk lesu di koridor rumah sakit. Ibu muda itu, yang kemudian memperkenalkan diri sebagai Bu Arini, datang membawakannya segelas air dan sebungkus nasi hangat. 

"Istirahatlah, Kari. Adikmu sudah ditangani. Dokter bilang dia akan baik-baik saja setelah diberi suntikan tetanus dan antibiotik," kata Bu Arini lembut.

Kari menatap Bu Arini dengan mata berkaca-kaca. "Kenapa Ibu menolong kami? Kami bukan siapa-siapa."

Bu Arini tersenyum tipis, matanya menatap karet gelang yang masih melingkar di tangan Kara yang kini tertidur pulas. "Ibu juga punya seorang adik, tapi kami terpisah sejak kecil. Melihat kalian berdua saling menjaga, Ibu merasa diingatkan bahwa kekayaan yang sesungguhnya bukan apa yang ada di piring restoran mewah itu, tapi kasih sayang yang kalian miliki."

Malam itu, di bawah atap rumah sakit yang kokoh, untuk pertama kalinya Kari tidak perlu memikirkan bagaimana cara mencari sisa makanan untuk esok hari. Ia menyadari satu hal: meski hidup mereka penuh dengan luka dan kehilangan, Tuhan selalu menyisipkan tangan-tangan baik di tengah kerasnya kota Jakarta.

Kara perlahan membuka matanya dan tersenyum lemah melihat kakaknya ada di sampingnya. Petualangan mereka memang masih panjang dan penuh tantangan, namun malam itu, mereka tahu bahwa mereka tidak lagi benar-benar sendirian.

Bersambung ...



LELAKI YANG KESEPIAN

 

Adakah yang tahu rasanya bagaimana tidak makan sepuluh hari? Atau sakit tanpa ada seorang pun yang bisa dihubungi karena tak punya pulsa? Ataukah perih hati karena anak yang selama ini diusahakan tidak putus sekolah tapi tak peduli keberadaannya? Beri tahu aku bagaimana rasanya.
Di saat kita sering berkeluh kesah karena makanan yang tak sesuai dengan selera kita, di tengah kota Jakarta ada orang yang kelaparan. Di saat kita mengeluhkan sakit tak tertahan tapi asupan obat dan suplemen tak pernah putus, ada orang lemah tak berdaya dan terkurung di ruang sempit tanpa seorang pun yang peduli. Di saat kita masih bisa menghabiskan kuota internet untuk menonton YouTube atau puluhan episode drama korea, ada orang yang tak sanggup berkirim kabar kepada kerabat karena tak ada pulsa. Di saat kita masih bisa bercengkrama dengan anak-anak, ada orang yang tak pernah diperhatikan anaknya.
Sepuluh hari kehilangan jejak kerabat, sebut saja Usman, yang biasanya berkirim kabar dan sebulan sekali datang ke rumah untuk mengambil jatah bulanan atau sekadar ikut makan di rumah. Pesan tak terjawab dan kami pun tak pernah diberitahu dimana dia ngekos selama ini. Sayangnya juga kondisi kami sekeluarga sedang sakit sehingga tidak bisa melacak keberadaannya.
Akhirnya kami mendapat kabar dari orang lain karena si pemilik kos memberikan kabar kepada teman sekamarnya yang saat ini sedang berada di kampung. Mungkin pemilik kos takut Usman ini mati di kost-nya. Ketika dijemput, kondisinya mengenaskan, lemas tak berdaya dan sekarat. Katanya dia meriang dan sudah sepuluh hari tidak makan. Kami kehabisan kata-kata. Akhirnya kami meyewa ambulans untuk membawanya ke kampung agar bisa dirawat di sana, karena di sana banyak saudaranya sehingga bisa terawasi.
Satu hal yang tak terpikir oleh kami adalah memberinya pulsa karena kondisi kami juga sedang terbaring sakit. Kami juga tidak bisa mentransfer uang karena dia tak punya rekening bank. Dalam dunia yang serba digital, masih ada orang yang kesulitan dihubungi, ironis memang. Itu hal yang paling kusesali sampai saat ini.
Di kampung, tak ada satu pun rumah sakit yang sanggup menampungnya, semuanya penuh. Akhirnya hanya Puskesmas lah yang bisa memberikan perawatan. Minimal memulihkan maal nutrisinya dulu. Ironisnya, sampai keesokan harinya, tak ada satu pun dari anak-anaknya yang mengunjunginya. Padahal selama ini, dia selalu berusaha keras narik ojek hanya untuk menjaga agar kirimannya tak berkurang untuk mantan isteri dan anak-anaknya. Ah entahlah, bagaimana perasaannya.
(mungkin) Bersambung

Karet Gelang Sang Adik

“Kara, ayo sini, jangan sampai tertinggal” ajak Kari untuk mengingatkan adiknya untuk segera bergegas dan beranjak dari tempat istirahatnya.
Tak disangka, mereka termasuk anak-anak yang semangat dengan segala kekurangan dan kelebihannya.
“Kak, memang mau kemana kita hari ini?” tanya balik Kari ke kakaknya dengan semangat tak pernah lelah.
“Sudah jangan banyak tanya dulu, ikut aja dengan kakak ya, Kara yang penting aman dengan kakak dan hari ini kakak sudah memperoleh info dari koran bekas yang kakak ambil dari tempat sampah.

Tak berapa lama mereka sampai di sebuah restoran di sekitar daerah pantai indah kapuk, yang banyak menjual menu sea food dan berbagai menu yang sedang hits juga. Sekitar pantai indah kapuk ini banyak  tempat yang instagrammable dan banyak muda mudi yang berkunjung di sekitarnya. Segala jenis menu masakan yang di jajakan di restoran ini beragam dari sea food, sate dan gulai, junk food dan tradisional.

Beberapa jam setelah mereka menunggu hampir menjelang tengah malam, mereka akhirnya mendapatkan apa yang diharapkan.
“Kak asyik ya kalau kita bisa seperti mereka,” Kara berceloteh dengan berandai-andai menjadi orang kaya.
“Kenapa Kara beranggapan begitu ?” Kari bertanya dengan penasaran.
“Iya kak, mereka gak pusing untuk bepergian dan makan. Jika lapar mereka bisa langsung datang ke restoran yang mereka sukai. Jika makanan yang dipesan tidak habis, mereka bisa langsung membawa pulang makanannya tanpa khawatir menjadi bau”
“Hush Kara, belum tentu mereka juga tenang dengan kondisinya. Kita kan gak tau, bagaimana kondisi mereka saat ini. Makanya Kara, kita tetap harus bersyukur dengan kondisi apapun itu, seperti kondisi kita sekarang. Semoga suatu saat kondisi akan menjadi lebih baik.” Kara berharap dan berdoa dengan air mata menetes di pipi.

***

Kari dan Kara merupakan kakak beradik yang hidup berdua tanpa orang tua dan saudara yang menemani mereka. Orang tua mereka meninggal ketika terjadi erupsi gunung Merapi saat mereka sedang liburan bersama dengan temannya. Kari dan Kara akhirnya diajak tetangga dan kerabat orang tuanya ke Jakarta untuk merantau. Di Jakarta pun mereka masih menumpang di sebuah tempat tinggal yang sempit namun cukup layak, yang diberikan oleh kerabat tetangganya di sekitar gunung Merapi. Maka mulailah petualangan mereka berdua di Jakarta dan sekitarnya.

***

Keesokan hari, Kara memulai hari dengan karet gelang yang diberikan seorang ibu muda yang berempati kepada mereka berdua. Karet gelang ini memiliki arti yang spesial karena Kara mengingat kenangan bersama ibunya saat pergi berbelanja ke pasar.
Kari sangat menyayangi adiknya, karena hanya mereka berdua yang bisa saling jaga dan mengingatkan apabila salah satunya tidak lagi bersemangat. Kari sering membantu adiknya mengerjakan sesuatu yang sederhana seperti menggantikan pakaian adiknya, memandikan, menyisir rambutnya, dan menidurkannya. Kadang Kari merasa sedih jika teringat orang tuanya. Rasanya ingin marah dan berteriak, tetapi tidak bisa karena adiknya perlu bantuannya.
***

Hari berikutnya, Kara berjalan dengan riang dan lupa bahwa di sekitar lingkungan tempat tinggalnya masih banyak limbah besi dari pabrik di sebelahnya. Kari sudah sering mengingatkan Kara untuk selalu berhati-hati tetapi takdir berkata lain. Adiknya Kara, terkena besi yang sudah berkarat dan melukai kaki mungilnya. Lukanya tidak seberapa besar tetapi infeksi yang dideritanya cukup membuat adiknya merana dan kehilangan banyak darah

Bersambung ... 


Kisah ini dapat dilihat pada laman :