Postingan

Menampilkan postingan dengan label Ekonomi

Kinerja Ekonomi Indonesia per September 2025

Gambar
27 Oktober 2025   Kinerja Ekonomi Indonesia Hingga 30 September 2025, kinerja Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Indonesia menunjukkan kondisi fiskal yang sehat dan terkendali . Pendapatan negara mencapai Rp1.863,3 Triliun , sebagian besar didukung oleh Penerimaan Pajak dan PNBP. Di sisi belanja, total realisasi mencapai Rp2.234,8 Triliun , dengan alokasi terbesar untuk Belanja Pemerintah Pusat dan Transfer ke Daerah. Keseimbangan antara pendapatan dan belanja menghasilkan Defisit APBN yang rendah , yaitu Rp371,5 Triliun ($1,56\%$ dari PDB), dan Keseimbangan Primer yang surplus sebesar Rp18,0 Triliun. Ini mencerminkan pengelolaan keuangan negara yang hati-hati dan menjadi fondasi kuat untuk menjaga stabilitas ekonomi di tengah ketidakpastian global. Kekuatan ekonomi domestik tercermin dari aktivitas masyarakat dan dunia usaha yang tetap ekspansif . Tren penjualan ritel dan Indeks Aktivitas Manufaktur Indonesia terus menunjukkan pertumbuhan positif, ditopang ole...

Konvensional Bin Syariah: Perbankan di UK

Konvensional Bin Syariah: Perbankan di UK Judul tulisannya sedikit provokatif, namun memang inilah yang saya alami saat ini pada saat kuliah di UK. Sebenarnya waktu dulu kuliah di Jepang, saya menggunakan akun bank lokal yang sama sistemnya dengan di UK yaitu konvensional bin syariah. Kenapa saya sebut konvensional bin syariah? Sebelum menjawab pertanyaan ini mari kita lihat dulu system perbankan di Indonesia terutama yang konvensional dan terus terang saya hanya punya akun bank yang bukan syariah. Di akun ini terdapat biaya administrasi bulanan untuk rekening dan administrasi kartu yang kalau di jumlah totalnya Rp13.000. Terdapat buku tabungan yang kalau kita ganti buku kena biaya Rp10.000. Terdapat biaya transfer antar bank sejumlah Rp6.500. Kalau mau menggunakan layanan SMS banking kena charge sebesar biaya SMS antar operator (biasanya Rp500) per SMS. Ngambil uang sendiri di ATM yang berbeda banknya kena biaya. Kalau mau layanan e-banking, kita selaku nasabah kudu dafta...

Industrialisasi Garam sebagai solusi krisis garam, Mungkinkah?

Baru-baru ini kita mendapati harga garam yang semakin melambung yang berimbas pada keluhan semua pihak yang merupakan konsumen garam, dari mulai kalangan industri sampai ibu-ibu rumah tangga. Sebenarnya permasalahan garam ini merupakan merupakan masalah klasik karena selalu terjadi dan pasti akan terus terjadi. Akhirnya banyak pihak yang mengeluh bagaimana mungkin negara maritime yang 2/3 wilayahnya lautan tapi mengalami krisis garam. Pemerintah pun menangani masalah ini dengan metode business as usual yaitu menggenjot produksi garam dalam negeri yang menurut saya sudah berada di tingkat jenuh. Usaha ini pun pada akhirnya kembali lagi pada masalah klasik yaitu tehnik produksi yang masih tradisional, kondisi cuaca yang terlalu basah dan luas lahan yang tidak pernah bertambah (bahkan berkurang). Memang benar teknologi yang digunakan untuk memproduksi garam adalah dengan menggeringkan air laut didalam tambak garam. Teknologi ini merupakan hal yang lumrah dilakukan di negara-negara ...

“Now, how do you think, Mr. Prime Minister”?

Matanya memandang lekat pada papan yang telah penuh dengan 2 jam penjelasan deskriptif dan mendetail dari si pembicara di muka ruangan, sesekali dia menarik nafas panjang dan melemparkan pandang ke sekeliling ruangan yang dipenuhi oleh nama-nama yang memiliki posisi penting di negara baru tersebut dan dia menyadari bahwa mereka melakukan hal serupa, hingga pada satu titik dimana si pembicara menyelesaikan penjelasannya dengan melemparkan satu pertanyaan pamungkas kepadanya : “Now, how do you think, Mr. Prime Minister”? Di satu pagi yang mendung September 1965, laki-laki yang bernama Lee Kwan Yew itu mengumpulkan jajaran pemerintahannya segera setelah pergelutan panjang yang melelahkan untuk menjadikan Singapura sebagai negara berdaulat. Lee paham betul bahwa mereka tidak punya waktu untuk perayaan, tidak kala kondisi negara itu masih dalam ketidakpastian baik secara politik maupun ekonomi dan harus ditangani secara bersamaan secara hati-hati. Salah langkah, maka negara baru ...