Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label Samuel Manik

Matematika Sederhana Untuk Kamu Yang Berbeban Berat

Tahun baru, semangat baru. Katanya…. Benar gak itu? Tentu benar dong. Karena kita butuh suatu pengingat untuk harapan, mimpi, dan komitmen pribadi kita. Lanjuuut… Tulisan ini dibuat untuk orang-orang yang “merasa” kewalahan dengan hidupnya. Ya, yang ngerasa aja. Kalau kagak ya silakan di- skip saja. Baik, pembukannya dulu ya kenapa penulis kepikiran tentang hal ini. Jadi begini ceritanya. Alkisah, penulis punya seorang teman yang karena satu dan lain hal datang ke penulis untuk meminta masukan dan saran atas masalah yang dia hadapi. Entah karena angin dari mana disediakanlah waktu dan tempat bagi teman tersebut bercerita tentang masalahnya untuk mendapatkan gambaran yang utuh tentang masalah apa yang dihadapi kawan tersebut, sehingga dia tidak napsu makan, sulit tidur, dan menghabiskan dua bungkus rokok perhari. Singkat cerita penulis setelah mendengarkan cerita dan mencernanya serta menganalisa menyampaikan poin-poin kesalahan yang mungkin terlewat dari sang kawan. Dia pun memb...

Sunday Pop Culture

Hari ini Minggu, 14 Juni 2024. Biasanya saya gereja pagi tapi karena satu dan banyak alasan lainnya maka hari ini diputuskan untuk gereja sore. Dikarenakan cuaca panas dan untuk mengurangi pengeluaran pada akun belanja listrik maka diputuskan untuk menunggu waktu ibadah dimulai sambil ngopi di sebuah mall dekat gereja, sudah adem ACnya kopinya juga gratis karena ditukar komik yang sudah lama nongkrong di lemari buku. Tadinya mau menghabiskan waktu dengan membaca buku. Sudah membawa buku lama "Filosofi Teras" untuk dibaca kembali. Tetapi yang terpegang pertama kali ketika merogoh ke dalam tas adalah kantong kacang bersalut merk Kacang Shanghai Zico produksi Tomohon, Sulawesi Utara yang sisa sepertiga. Alhasil, saya makan kacang sambil scroll HP dan menemukan pernyataan bahwa menulis online adalah salah satu hal yang ROI-nya paling tinggi dan kebanyakan orang lebih nyaman mengunggah poto liburannya dari pada menuliskan opininya di dunia maya karena takut menunjukkan jati diriny...

Cinta Tak Butuh Alasan

Katanya cinta hanyalah cinta Datang dan pergi sesuka hati Menyeruak di antara dua tiga insan Kadang menghubungkan dua buah hati Sambil meretakkan satu hati berkeping terarak Katanya cinta hanyalah cinta Datang dari terbiasa lalu kagum Hadir di hiruk pikuk kesibukan kantor Terhempas di tengah jadwal pekerjaan Menyimpan tanya apakah rasa itu nyata Katanya cinta hanyalah cinta Datang dari mata turun ke hati Bersemi di pagi dan sore hari Terhimpit dalam sesaknya gerbong kereta Memberi harap dalam tatap dan lirik Katanya cinta hanyalah cinta * Disebelahnya, 0503202016##

Jika Bukan Kita Siapa Lagi

Jika kebersamaan kita selama ini dalam kesenangan yang sama belum cukup mendekatkan kita, maka apa lagi yang kurang? Jika kesenang kita selama ini dalam menulis yang tak terucap belum cukup mempercayakan kita, maka apa lagi yang mampu? Jika tulisan kita selama ini dalam hal yang tak terucap belum cukup untuk saling percaya, maka apa lagi yang tinggal? Yang tinggal hanyalah rasa saling dukung dan menghargai. Di dalam kita boleh berdebat dan saling mengkritisi, di luar pantaskah kita berpaling wajah dan bersenda gurau ketika sang teman berdiri di depan? *Lantai M, 050620190900

Pejuang Kehidupan

Apakah yang kamu cari hai para pejuang kehidupan? Berangkat ketika sang Surya masih terlelap, Pulang ketika bintang-bintang bersenda gurau dengan sang bulan. Apakah yang kamu cari hai para pahlawan keluarga? Bertaruh nyawa menyeberangi lautan, Demi sang buah hati dan bundanya terkasih ujarmu. Apakah yang kamu cari hai pembela kekasih hati? Meninggalkan sang terkasih di kala sang surya bersinar tuk sesaat berjumpa di peraduan. Berbulan terpisah samudra tuk sepekan melepas rindu. Sepiring nasi dan segenggam berlian kah yang kau cari? Adakah suka kau jumpai dalam kilau gemerlap intan permata di telapak tanganmu? -satu jam menuju rumah di kala hujan- 222617012019

Tangga

Hai tangga, apa kabarmu? Kemarin kita bersua hari ini pun juga. Hai tangga, sepertinya, kita akan banyak berjumpa. Aku akan sering mengunjungimu di masa depan. Hai tangga, maafkan aku. Jika aku menyalahgunakanmu untuk sejenak, melepas penat pekerjaan. Hai tangga, temani aku. Menghisap satu-dua batang rokok, melemaskan otot-otot yang kaku. Hai tangga, terima kasih. Kamu telah setia menjalankan tugasmu, sebagai perlintasan antar lantai. Tempat kami para pencari nafkah bercengkrama melepas lelah dari jenuhnya ruang kerja yang dingin.

Kisah Tentang Hati (Cinta Monyet)

Hati manusia tak ada yang tahu Wajah tersenyum pisau tajam terhunus dibalik punggung. Hati manusia tak ada yang tahu Wajah tersenyum hati menangis tersedu-sedu menahan perih. Hati manusia tak ada tahu Wajah tersenyum tubuh penat luluh lantak menahan lelah. Aku tak pernah tahu apakah ini cinta atau nafsu sesaat. Apakah kasih atau sekedar ingin memiliki. Senyummu terbayang disaat aku lelah. Tawamu yg renyah sayup-sayup terngiang di lorong sekolah, menoleh lalu kecewa. Suara manjamu memanggil nama kecilku ketika berjalan keluar sekolah. Kali ini aku tak menoleh karena aku tahu kamu tidak masuk sekolah. Kamu sudah ada yang punya namun berulang kali kau bilang sayang pada ku. Kita berbincang berjam-jam di telepon berlempar canda dan membicarakan dunia entah untuk apa. Hari itu sebulan selepas kelulusan. Entah berapa kali ku telepon rumah mu. Berdering namun tak dijawab, dijawab namun kamu tak pernah ada. Mungkin adik mu sudah lelah menjawab telepon ku, berbohong bahwa kamu tida...

Menjadi Sama Dengan Dunia

“Jangan kamu melawan arus dik, nanti kamu mati”   -isi kepala saya baru saja-     Entah kenapa kalimat itu keluar dalam pikiran saya, setelah saya menuliskan judul dari tulisan ini. Belakangan ini menjadi sama dengan dunia adalah pilihan yang paling mudah bagi kebanyakan orang, memilih berbeda atau bahkan sekedar terlihat berbeda menjadi ketakutan tersendiri bagi banyak orang. Sepertinya hidup ini hanya ada dua pilihan ikut sini apa ikut sana padahal sebenarnya banyak sekali opsi-opsi yang tersedia bagi kita. Eh, ada sih yang memilih pilihan ketiga, yaitu berdiam diri, tersenyum dan mengangguk-angguk ketika dipojokkan dengan pilihan sini apa sana padahal di dalam hatinya dia memilih opsi keempat atau bahkan kelima.       Lalu ada yang bermimpi memiliki jalan hidup berbeda tetapi takut untuk melihat dunia, menghayal tentang indahnya dunia tetapi takut melangkah keluar rumah. “Jangan dik, di luar banyak orang jahat, nanti kamu mati", ingatnya. ...

Gladiator-gladiator “Tua”

Ini adalah kisah para gladiator “tua” di sebuah kerajaan yang namanya pernah terdengar sampai ujung-ujung dunia. Yang dahulu dikenal dengan negeri yang “Gemah Ripah Loh Jinawi Toto Tentrem Kerto Raharjo” yang artinya negeri yang kekayaan alamnya berlimpah dan keadaannya tenteram. Di ibukota kerajaan terdapat sebuah graha 1 megah tempat Patih Arta 2 dan segenap tanda 3 nya bekerja. Sang patih memiliki beberapa arya 4 sebagai pembantu utamanya. Setiap arya memiliki tugas masing-masing guna menyukseskan kerja sang patih. Arya-arya tersebut juga memiliki tandanya masing-masing. Sang patih mengharapkan sinergi di antara para arya dan tanda-tandanya. Prestasi dan kinerja yang baik akan dihargai tuturnya. Cerita ini terjadi ketika beberapa tanda kepercayaan dari salah seorang arya telah mencapai usia pensiun, guna mencari penggantinya diadakanlah sebuah pertandingan untuk menentukan siapa yang paling tepat untuk menggantikan para tanda yang pensiun tadi. Gelanggangpun digelar bak sebu...

ITU TABU

“ Lagian juga ngapain dibahas hal yg sensi disini??? Gk pada tptnya . Kalo mau jujur ya hrsnya si sam ngerti . Semua sdh ada yg ngurus . Lihatlah jujur lagi keadaan di Indonesia . Ahhh... sudahlah.... ” Tabu katanya membahas hal-hal yang sensitif. Hal sensitif bagi tiap orang, kelompok masyarakat, mulai dari kampung, kota, sampai bangsa-bangsa berbeda-beda. Bahkan antar generasipun berbeda-beda. Banyak norma dipakai dalam menentukan hal sensitif atau bukan. Mulai dari norma agama, adat istiadat, kebiasaan, sampai norma kepantasan atau bekennya etis- tidak etis. Sebenarnya norma-norma yang ada bukan hanya mengatur hal-hal sensitif norma mengatur hampir semua sisi kehidupan sesuai kebutuhannya masing-masing. Banyak yang seiring perkembangan jaman tidak sesuai lagi dan yang paling jelas perubahannya adalah norma hukum yang perubahannya jelas tercatat sejarahnya. Seperti halnya dulu pemberian gratifikasi atau uang ucapan terima kasih yang dulu “dianggap” sebagai bagian dari silaturahm...

Bijaksana-bijaksini

Rabu, 17 januari 2018 kemarin seorang kawan, abang, dan juga senior yang sedang menyelesaikan disertasi doktornya mengatakan kepada saya dan beberapa kawan lainnya,  “Sam, makanya kuliah doktor, kalau ilmunya ga banyak nambah tapi ada satu yang gue rasa gue dapet di situ. Wisdom, gw ngerasa betul gw berubah....” . Kurang-lebih begitu ujarnya, kali ini saya tidak bisa mengutip kata-perkata karena keterbatasan ingatan. Di hari Rabu seminggu sebelumnya seorang kawan, “pak dosen”, mas, dan juga senior yang pergi meninggalkan unit kerja kami untuk mengabdi menjadi Widyaiswara guna membagi ilmunya lebih luas lagi memberikan kata perpisahan di WAG bukannotadinas, begini katanya “Terimakasih semuanya, semangat tetap menulis untuk kebaikan hidup: minimal buat diri kita, atau yang paling minimalis, buat kewarasan pikiran kita. Karena dalam tulisan itu, kita bisa protes, ngedumel, bahkan 'misuh'. Ini pengalaman, bukan arahan, bukan pula pengajaran. Ojok 1 dikomentari.” Sedangkan tadi p...

Sang Pembunuh

“Loh dia juga begitu kok” kilah seorang teman ketika ditegur mengenai prilakunya yang kurang baik. Mencari contoh atau pembanding orang yang lebih buruk atau sama dengan kita sering kali saya temukan dalam berbagai pembelaan atau defence statement orang-orang disekitar saya. Entah apa yang salah dalam masyarakat ini mengapa mengungkit kelemahan atau prilaku buruk orang lain dapat menjadi justifikasi bahwa kita dapat melakukan hal yang sama dan mengurangi perasaan bersalah itu sendiri. Menurut saya melakukan hal tersebut sebenarnya adalah perbuatan “menipu” diri sendiri yang memberi ketenangan bathin sesaat. Kita tidak pernah memikirkan efek jangka panjangnya atau kemungkinan terburuknya. Bahaya terbesar dari “pembenaran” akan yang salah yang dilakukan berulang-ulang (lagi-lagi menurut saya) adalah membentuk hati dan pikiran yang bebal dan tidak sensitif. Dimulai dengan hal-hal kecil dan sederhana di satu titik akan lompat ke skala yang lebih besar. Saya pernah bercakap-cakap ...

KATA (KATAMU)

“ Words have energy and power with the ability to help, to heal, to hinder, to hurt, to harm, to humiliate and to humble .” - Yehuda Berg - Kegiatan menulis ini sudah direncanakan dari kemarin, bukan tulisannya ya hanya kegiatan menulisnya. Sampai sepuluh menit yang lalupun belum terpikir mau menulis apa, kebetulan saja seminggu terakhir ini mood lagi gak enak, bawaannya males, sehari-hari mengerutu (walau dalam hati), duduk di meja sama orang banyak tapi main Candy Crush atau malah baca komik di handphone. Beberapa kali pembicaraan dilempar ke saya tapi karena tidak mendengarkan ya gak tahu dari tadi sebenarnya dia ngomongin apa, untungnya sang kawan lebih fokus untuk melanjutkan ceritanya daripada mendengarkan tanggapanku. Nah, tadi sebelum buka ms word sambil nunggu laptop loading, kebetulan laptop tua jadi ngidupinnya agak lama, saya buka Facebook deh di handphone dan nonton video soal “Kata-kata” atau lebih tepatnya “Kekuatan Kata-kata” di mana sebuah kata/ kata-kata dapat...

PNS Jujur

Beberapa hari yang lalu diselenggarakan perhelatan besar di lingkungan kantor. Budget Day namanya, melibatkan tiga unit Eselon I di Kemenkeu dan dihadiri oleh Ibu menteri tercinta, Sri Mulyani Indrawati. Saya sendiri tidak hadir karena berada di Yogyakarta menuntut ilmu dalam diklat “ Evidence-Base Planning and Budgeting ” (ehem, pencitraan dulu) tapi di beberapa group WA kantor bersliweran berita bahwa acara “hampir dapat di katagorikan tidak sukses”. Ribet bukan penjelasan saya? Inginnya nulis singkat “GAGAL” tapi tidak sampai hati kepada teman-teman panitia yang sudah mencurahkan waktu, tenaga, dan pikirannya dalam mensukseskan acara ini. Di BnD sendiri sudah ada tiga tulisan yang terinspirasi dari acara tersebut. Satu membahas tentang sinergi dan yang dua lagi soal “hampir dapat di katagorikan tidak sukses” yang belum saya jelaskan tidak suksesnya di mana. “Hampir dapat di katagorikan tidak sukses” yang saya maksud lebih fokus kepada para peserta sudah lebih dulu bubar dan men...

Silaturahmi Offline

Tadi siang bertemu seorang penggiat BnD, tanyanya“gak nulis lagi?”. “Lagi gak tau mau nulis apa, gw masih berpegangan dengan judul Bukan Nota Dinas jadi pengennya nulis yg gak ada hubungannya dengan kantor tapi dari kemaren-kemaren apalagi abis diklat di Bekasi yang kepikiran malah tetek-bengek di kantor” jawabku. “Tulis yang ringan-ringan ajalah”, imbuhnya. “Blom tau mau nulis apa, yang ringan-ringan juga ujung-ujungnya kantor”, bantahku dengan suara pelan. Hening di antara kami, lalu entah pikiran dari mana aku berujar “pengen silaturahmi deh tapi bukan sama orang kantor, siapa tau membuka peluang baru”. Tanpa pikir panjang aku posting di WAG SMP ku “dah lama nih kayaknya kita gak silaturahmi” tadinya aku ingin menambahkan ajakan tapi ku pikir aku ingin melihat dulu respon dari teman-temanku. Kebetulan groupnya kecil hanya terdiri dari 51 orang, entah kenapa ini group gak nambah-nambah isinya padahal angkatan kami sepertinya sampai 200an orang. Yang menyahut hanya satu orang, yang r...

STANDAR (g)ANDA

“Wah parah lu, menghina agama gue lu, lu kan ga boleh bahas-bahas agama gue, penistaan itu namanya”, kata Jonny pada Dwi. “Lah, elu sendiri suka bahas-bahas agama gue”, jawab Dwi. “lah, itukan beda bro. Gw kan mau ngasih tahu yang bener ke elu”, tangkis Jonny. Standar ganda sendiri tidak ada penjelasannya dalam KBBI daring tapi saya menemukan dalam wikipedia dan berbagai website berbahasa Inggris. Kalau menurut wikipedia bahasa Indonesia begini kira-kira ” Standar ganda adalah ukuran standar penilaian yang dikenakan secara tidak sama kepada subjek yang berbeda dalam suatu kejadian serupa yang terkesan tidak adil. Konsep standar ganda telah diterapkan sejak tahun 1872 terhadap fakta struktur moral yang sering diterapkan dalam hubungan antara laki-laki dan perempuan di dalam kehidupan bermasyarakat.” Kurang lebih sumber-sumber lain berbahasa Inggris pun sependapat jika standar ganda awalnya adalah pembeda konsep moral antara laki-laki dan perempuan dalam hal hak, perlakuan, c...

CPNS oh CPNS

Beberapa bulan terakhir ini hingar-bingar berita penerimaan CPNS menjadi trending topic di mana-mana, setelah tiga tahun moratorium penerimaan PNS jutaan orang bersiap-siap menyambutnya (lagi) selayak mana sebuah pesta besar. Calon pesertanya heboh, orang tuanya lebih heboh lagi. Berbagai hal harus dipersiapkan, kantor polisi dan RSU penuh dengan pengantri yang mengurus SKCK dan surat keterangan sehat dan bebas narkoba yang menjadi salah satu prasyarat mendaftar ujian CPNS. Toko bukupun sepertinya turut mendulang rupiah dengan lakunya buku-buku soal persiapan CPNS, bahkan dengar-dengar para pemuka agama dan dukun juga kebanjiran pesanan untuk mendoakan. Kenapa ingin jadi PNS? Pertanyaan itu berulang kali saya tanyakan kepada ponakan, saudara, atau teman yang bercita-cita ingin jadi PNS. Berbagai jawaban terucap baik yang jujur maupun yang tidak (perasaan saya sih kalo doi ga jujur, moga-moga salah) . Ada yang dengan lantang bilang “kalau jadi PNS itu enak, kerjanya sedikit tua...

PERDANA

Hai, ini adalah tulisan “perdana” saya di www.bukannotadinas.com , perdana menurut KBBI daring artinya “pertama (kali)”. Selalu ada pertama (kali) dalam semua hal. Mengapa saya menulis? Entah apa yang pertama atau bagaimana urutannya tetapi yang pasti saya merasa bahwa dengan menulis saya dapat mengembangkan kemampuan saya dalam berpikir dan mencerna tulisan, dengan menulis saya dapat menyampaikan pemikiran saya kepada lebih banyak orang lebih dari percakapan di meja warung kopi Zafilia di kantin kantor saya, dengan menulis saya bisa mendapat masukan atas pemikiran saya dalam tulisan, dengan menulis saya dapat melepaskan “kegalauan” saya tentang hal-hal di sekitar saya yang tidak sesuai dengan nalar saya, dan tentu saja harapan bahwa suatu saat kemampuan menulis saya dapat berkembang dan memberi manfaat bagi orang banyak dan (tentu saja) pengembangan diri dan karier saya baik di kantor ataupun di tempat lain jikalau Tuhan menghendaki. Kembali ke soalan “perdana”, beberapa hari ini...