Postingan

Menampilkan postingan dengan label Abdullah M.

Tenggara

Gambar
Tenggara (South-East) adalah irisan miris antara selatan dan timur. Dunia ini telah terkotak-kotak, baik sengaja atau tidak, sesuai dengan arah mata angin dan ada stereotip ngawur di balik penyebutan arah-arah itu. Ada Negeri Barat. Ada orang-orang Timur. Ada Negeri Timur Tengah; Negeri Timur Jauh. Perjalanan ke Barat Mencari Kita Suci. Dan lain sebagainya. Barat berasosiasi dengan kemajuan, kehebatan, bebas, kapitalis, sekaligus kebejatan moral. Sedang arti kias untuk timur adalah kemiskinan, demokratis, keramahtamahan, dan mistis. Utara, sebagaimana barat, dapat untuk mewakili kemajuan, kekayaan, kesetaraan, liberalis, dan juga sosialis. Sedangkan selatan adalah kemiskinan, hidup sederhana, kebodohan, padat penduduk, terbelakang, tetapi pongah. Jadi, tenggara adalah matriks mengenaskan dari keramahan, kebodohan, terbelakang, mistis, kemiskinan, dan bawah. Peta Dunia (sumber: Google Search - InfoIndonesiaKita.com) Belum lagi dalam koordinat GPS, selatan dan timur dinotasikan de...

Tanda

Tidak ada satu pun peristiwa fisika di alam semesta yang membedakan hari Senin, Kamis, atau Minggu. Maka, yang menandakan bahwa hari ini Jumat adalah al Kahfi, sholawat, dan khotbah. Oh, tapi kamu boleh juga sih menandainya dengan bike to work , senam, atau nongkrong lebih lama di kantin kantor. Rayakan saja Jumatmu, apapun pendapatmu tentangnya: hari raya umat Islam, hari terakhir bekerja pekan ini, sehari lagi malam minggu dan sepi, atau sekedar ya pokoknya besok bisa jalan-jalan bareng keluarga. Hari-hari adalah kesepakatan, sedang waktu adalah kesempatan. Pagi berulang, tapi waktu tak pernah pulang, walau sebenarnya tak juga hilang. Waktu adalah pita panjang dari awal yang tak kelihatan dan akhir yang tak dapat ditebak, tapi ia digulung sama panjang dengan ukuran satu putaran bumi terhadap dirinya sendiri bernama hari. Saya pikir ini sebuah keajaiban, bahwa semua agama-agama samawi (agama yang ‘diturunkan dari langit’) setuju kalau seminggu ada tujuh hari. Padahal tidak ada ref...

Untuk Perempuan yang Tinggal di Ingatan

Gambar
Sore di Pante (dokumen pribadi) cukukuplah Siti Nurbaya, gadis sempurna tempo Belanda yang mengalaminya menjadi tumbal engku datuk bermuka baja kepada engkau wahai Marah Rusli, bilakah aku sang Samsul Bahri? di antara malam-malam yang kalut, ia berdiri menundukkan warna-warni pelangi dalam dekapan hatinya sendiri itulah sebab aku mengantri pingitan menjadi tempatnya berkutat balutan tapih tetap berkelebat hingga waktu datang sekarat kini, wanita menjadi perempuan telah sepakat lelaki dan perempuan adalah sepangkat kodratnya bertanak nasi tapi ia mampu bertaji kalaupun ia lelaki malulah aku, pasti bayang hitamnya pun cantik ketika para muda berisik, berusaha mengejar tanpa titik, hanya agar menjadi milik aku turut panik dia, Siti Nurbaya millenium menjaga diri tetap ranum, berbaris bersama sebagai makmum, membalas dengki dengan semanis senyum dia, Sri Kandi sepanjang masa meski cantik serupa Cleopatra tak disangka dia juga perkasa "Aku yakin...