Glass and Wind

by Ash Beige Baby

(This thought has been haunting me these days
But It's okay now, Thanks to my friend too.)

Somewhere out there, I sense a soft smirk, a careless posture
The kind that finds pain entertaining, as long as
it belongs to someone else.
I receive the signal. They thought cracks meant collapse.
Never have they ever asked what pressure does to stone?
Nature never shapes gently. Even mountains are not born, they are forced.
I believe every hard path my body walks now recently
is not punishment. It is calibration.
And I am not sorry that I am not breaking.
I'll probably just let the wind laugh,
right before it turns sand into glass.

I remember when I was nineteen.
Back then, a cowardly crowd, loud, small, trash senior envious
kept shouting my sister’s name through school hallways
for one unforgivable crime: being visible, being pretty, being admired.
Then the awful came not long after, a severe car crash.
Bones fractured, weeks in intensive care
A body of little 15 years old girl forced to relearn stillness.

When she returned to school, still dealing with her ownself
they shouted again.
This time claiming the accident was God's divine punishment.
I could not bear it, their act and words might think were not harmless,
only worse eroded her safety and dragged her mental ground.
So I staged up to what people called an Open Challenge
Public. Deliberate. Unignorable.
I humiliated them where silence and power
over their coward shitty mouth had protected them for too long.
I even was summoned to the headmaster’s office. HAHA
They sought backup from seniors in my batch too
But none came. I was relentless.
And I was a brilliant student, too. Thanks my brain.
a combination they couldn’t dismantle.
The result?
A public apology, a formal retraction of slander to my sister's name.
And then I never heard from them again. poof bye 

If you believe in the butterfly effect,
That day was my diploma celebration.
My Sister was proud and radiant, but couldn’t attend.
So at dawn, she went to a florist. We took a brief cute sister photoshoot.
Wrapped in happiness, careless with time.
Perhaps her subconscious rushed the road. Perhaps joy blurred caution.
And the crash followed. It wasn't God's Divine Punishment
It was a lesson, to be careful, to be disciplined,
to build a mind strong enough body and soul
for the world she was entering.
Now look at her. A successful young woman.
Great alma mater in her hands. Materially secure. Highly skilled.
A fierce project manager in a major influencer agency.
Even running her own high-rated makeup business.
She is ready.

Then what happened to the wind?
It lost its innocence.
It even  became the reason sand turned into glass.
The wind is not punished, but not celebrated either.
It becomes irrelevant.

The glass remains
beautiful, sharp, permanent,
consuming oxygen with its presence.

And the wind?
Just air that keeps moving,
carrying pollution,
forgotten.

Secangkir Kopi dan Rindu

 

Uap kopi mengepul di udara,
Menemani pagi yang sedikit dingin,
Februari membawa sejuta suara,
Tentang kenangan yang aku ingin.
 
Pahit dan manis bercampur satu,
Seperti perjalanan hidup kita,
Terkadang terjebak dalam waktu,
Terkadang terbang tinggi ke angkasa.
 
Di luar sana hujan mulai turun,
Membasahi kaca jendela,
Aku duduk diam berayun-ayun,
Mengingat senyummu yang bermakna.
 
Februari adalah saksi bisu,
Tentang rasa yang tak pernah pudar,
Meski musim berganti melulu,
Cintaku padamu tetaplah segar.


Jakarta, 12 Februari 2026 

Senja Februari

 

Langit jingga di ufuk barat,
Menandai sore yang tenang,
Februari membawa pesan tersirat,
Tentang pulang dan kasih sayang.

Burung-burung kembali ke sarang,
Meninggalkan jejak di angkasa,
Hatiku kini merasa lapang,
Menikmati damai yang terasa.
 
Bayang-bayang mulai memanjang,
Menyentuh bumi yang mulai lelap,
Rindu ini tak lagi meradang,
Sebab kau hadir dalam dekap.
 
Selamat malam bulan yang pendek,
Esok pagi kita jumpa lagi,
Membawa mimpi yang takkan retak,
Di bawah cahaya mentari pagi

Jakarta, 12 Februari 2026 

Bunga Mekar di Februari

 

Kuncup bunga mulai merekah,
Menyambut mentari Februari,
Warna-warni mulai terlihat cerah,
Menghiasi taman sanubari.
 
Harum semerbak terbawa angin,
Menyentuh pipi dengan lembut,
Mengusir rasa dingin yang makin,
Mencairkan beku yang menyelimut.
 
Keindahan ini adalah anugerah,
Bagi mereka yang sabar menanti,
Meski jalan terkadang lelah,
Pasti ada bunga yang menanti.
 
Jangan biarkan layu sebelum waktunya,
Sirami dengan kasih dan sayang,
Sebab Februari dan pesonanya,
Adalah awal dari hidup yang terang.


Jakarta, 09 Februari 2026

Februari dalam Rindu


Waktu berlari begitu cepat,
Di bulan yang jumlahnya sedikit,
Namun maknanya terasa lekat,
Menyembuhkan hati yang sakit.
 
Februari bukan sekadar angka,
Ia adalah jembatan musim,
Tempat kita melepas luka,
Dan merangkai kembali kerajinan batin.
 
Ada hangat di balik dinginnya,
Ada terang di balik mendung,
Dunia berputar pada porosnya,
Membawa kita terus melambung.
  
Nikmati setiap detik yang ada,
Sebelum Maret datang mengetuk,
Sebab Februari penuh tanda,
Bagi jiwa yang mau memeluk.


Jakarta, 09 Februari 2026  

Basis Rasa

by Ash Beige Baby



Aku ngga benci kalian

Habis-habiskan energi aja

Seperti peduli tapi beda quadran

Cinta Benci garis tipis, kan

 

Sekarang aku di basis

Sampai Koordinat nol koma nol

Tingkah laku mereka bukan beban

Eksistensi mereka ngga memberatkan

Keabsenan mereka juga bukan syukuran


Ini bukan benci yang berisik

Cuma mati rasa yang tenang.

 

Melesat jatuh jungkir balik

dapat lotre tembak-tembakan
Selama ngga ngaruh ke hidupku 

kalian bukan siapa-siapa buatku

 

Jiwa yang Hancur

 Berkali-kali kucoba bangkit

Tak banyak yang percaya

Dari jiwa yang mengeryit

Namun tubuh yang seolah biasa saja.


Sulit menghadapi semua ini

Rasanya seperti tubuh ini remuk berkeping-keping

Namun semua tetap tak percaya lagi

Jika daku seperti rumput mengering

Kemanakah aku minta pertolongan?


Hanya kepada sang Pencipta diri ini

Tak henti aku meminta pertolongan dari-Nya

Meskipun tiap hari seperti mengais rumput di rawa

Tapi tetap ku berusaha demi menghidupkan jiwa

Jiwa yang hancur karena luka

Jiwa yang tenggelam karena lara

Hujan di Bulan Februari

 

Gerimis turun di awal bulan,

Membasahi jalan yang sepi,

Februari datang dengan perlahan,

Membawa rindu ke dalam hati.


Payung berwarna merah jambu,

Menghiasi sudut kota yang tua,

Ada cerita tentang aku dan kamu,

Yang tersimpan dalam doa.


Cinta bukan sekadar kata,

Namun hadir dalam perbuatan,

Menghapus air mata dan duka,

Menjadi pelita dalam kegelapan.


Biarkan hujan terus menari,

Di bawah langit yang kelabu,

Sebab kasih di bulan Februari,

Akan selalu terasa baru.


Jakarta, 02 Februari 2026