Lelaki Ini percaya, sebuah hubungan tidak seharusnya menggunakan konsep perkalian nol. Dalam konsep perkalian nol, seberapa besar bilangan di satu sisi akan tetap menghasilkan angka nol jika sisi sebelahnya nol. Dalam konteks sebuah hubungan, usaha yang hanya dilakukan sepihak tidak akan menghasilkan apa-apa jika pihak lain tidak melakukan apa-apa. Nol.
Sebagai mantan juara olimpiade matematika, Perempuan Itu sangat memahami konsep perkalian ini. Tidak ada yang perlu diperdebatkan. Namun, ketika Lelaki Ini membawa konsep perkalian nol ke hubungan mereka, Perempuan Itu merasa dihakimi. Dia tidak sudi menjadi bilangan nol. "Apa kamu tidak pernah merasakan upaya ku?" desak Perempuan Itu. Lelaki Ini tersenyum. Narasi yang sudah sangat akrab di telinganya. Perempuan Itu, seperti biasa, tidak pernah peduli hal-hal kecil. Gak penting. Sementara, Lelaki Ini memahami cinta sebagai pengorbanan waktu dan perhatian. Apakah bisa kita mencintai seseorang tapi tidak mau berkorban waktu dan memberi perhatian untuk orang itu?.
Perempuan Itu kesal. Seperti biasa. Meradang. Lelaki Ini putus asa. Dia bukan penyabar. Menjelaskan hal yang sama berulang-ulang sungguh melelahkan. Dia bosan dengan janji manis. Kata iya tanpa aksi nyata. Lelaki Ini bertanya, "Seberapa penting aku dalam hidupmu?". Ketika aku adalah hal yang sangat penting dalam hidupmu, apakah layak aku minta waktu dan perhatianmu?. Iya hanya pemanis kata. Tak lama hilang tanpa rasa bersalah.
"Aku akan pergi", tegas Lelaki Ini. Seolah tanpa rasa, meski hatinya luka. Dalam. Hancur tanpa rupa. Dia harus memilih. Tidak ada alasan untuk bertahan ketika kepercayaannya disia-siakan. Pengikut ke-111 telah membuktikannya. Lelaki Ini tidak sepenting itu. Tidak lebih berharga dari yang datang kemudian. Perempuan Itu hanya tersenyum. Tanpa rasa bersalah, pun penyesalan.
Lelaki Ini pergi. Bukan karena ingin, tapi karena kehadirannya sudah tidak diinginkan.


