Langsung ke konten utama

Postingan

What Remains on The Mirror Sides

Too smart you're tricky, too kind I'm blind. Too honest you misread, too tactful I'm cruel. Too logical you're cold, too sensitive I'm dull. Too great you impair, too bad I failed. Too generous you're unvalued, too tightfisted I'm frugal. Too smug you rest on laurels, too busy I trade youth for gold. Too attractive you’re a threat, too plain I’ m dismissed. Too deft you’re exploited, too blunt I'm maladroit. Too patient you’re doormat, too guarded I’m aloof. Too forgiving you’re weak, too ruthless, I’m uncouth. Too certain you’re arrogant, too doubtful, I’m coward. Too loving you’re desperate, too proud I'm impossible. Too young you know nothing, too old, I've lost my soul. Too alive you’re reckless, too dead I'm finally at peace. So tell me what virtue survives when every mirror has two sides? Because when someone dies, all the little judgments the too this, too that fade into the past. What remains is not the measure, not the fault, nor the...
Postingan terbaru

Seni Perempuan

Kain sutera putih melilit tubuh halus, kedinginan Dikulaknya helaian demi helaian Tergesa tanpa sempat melihat surat itu, terlipat Amplop abu dari Semesta atas nama Pencipta Ada saja kurangnya kepala hingga kaki. Yang dijanjikan tertulis dalam sebuah petunjuk Kitab tebal penuh tinta warna putih Kapan dia hafal cara menjadi pantas Terlihat indah tanpa terlihat berusaha. Kuat dengan kelembutan, bebas dengan batasan. Merawat manusia dan mimpi orang lain tanpa kehilangan sedetikpun waktu tumbuh Satu per satu dia jahit ke kulit Benang air, luka tak kasat mata. Ditanya, barang kali tertulis di kitab. Tidak harus sempurna untuk layak menjadi perempuan. Namun halaman itu bersih, tintanya putih, atau memang tidak pernah dituliskan? Maka dia memutuskan kembali ke paripurna. Semuanya tepat. Semuanya sepadan.  Semua seperti yang diminta oleh Pentas. Tapi satu bagian yang tertinggal, dirinya sendiri. Barulah dia teringat apa yang tak sempat terbalas Surat itu,  tak menyebut lebih dan kuran...

Enam Tujuh Dua

kebetulan, apanya bertalu-talu  semesta usil merayu. agenda sua ibarat sensasi, tubuh diseret bersaksi, enam tujuh kali. sudahlah, pasrahnya . biarkan  tatapan bersentuhan, jarak dirampas alasan biar bekerja si penasaran. ah , malam sepi berisik, logika di mana cuti. nikmati saja lah apa yang tak dipunya. “ngaco,” sadar nyamuk. kalau tiba sentuhan bisu, salahkan saja si gerik pengundang. jadinya, semesta atau penghuni yang lebih pandai menggoda? sampai sisa secuil  bagaimana jika , mengutak-atik rasa menyuruh  bulan menerka karena kalau hingga ini bernama tamat sudah senyata-nyatanya tapi terlanjur, pikirnya sungguh bahaya obsesi dua arah yang terus dipelihara

Serigala Berbulu Damba

Aku tidak rindu, mungkin . Dasar ingatan licik, malah menyamar menjadi damba. Sensasi gila reseptor Pacini meromantisasi kelenyapan. Endorfin, dopamin, atau cuma kebiasaan? Hatiku paham, otakku belum. Afeksinya masih mengorbit. Kamu minta kembali. Aku tidak. Lucu juga.. Tubuhku dengan sadar mengkhianati keputusan. Mengabadikan yang telah usai. Tapi bukan kamu, mungkin . Karena ini pilihan.

Akal Imitasi: Teman Baru Kita

Harus diakui, bahwa akal imitasi atau artificial intelligence (AI) sekarang telah menjadi teman favorit bagi beberapa orang. AI adalah adalah sosok yang jujur meski sesekali suka "halusinasi". Meski disebut "salahsatu teman", bukan berarti ia hanya satu, karena mereknya ada banyak : Copilot, Gemini, ChatGPT, Claude dsb. Ia bisa ditanya tentang kelebihan dan kekurangan kita, ikut membantu membangun aplikasi bersama, memproduksi video, film, musik, dan paper riset, membuka wawasan tentang potensi-potensi pribadi yang belum tergali, serta memberi saran situasi karir dan kehidupan kita saat ini. Bila mentok, akal imitasi akan bilang bila tidak tahu, atau belum tahu. Selanjutnya ia akan menyampaikan kebutuhan akan informasi relevan untuk dapat mengutarakan pendapat atau masukannya. Bila keliru ia akan mengakui, memperbaiki dan meng-update datanya, dan berterimakasih kepada kita. Tak jarang AI lebih sopan daripada kenalan-kenalan kita sesama manusia.  Hal lain yang mengag...

ENGGAK SADAR

Di tengah-tengah membaca buku "Seorang Pria yang Melalui Duka dengan Mencuci Piring" hasil penulisan Andreas Kurniawan, aku terjebak pada pembahasan tentang "Mindfulness". Suatu cara menjaga kewarasan yang lamat-lamat pernah kudengar sebelumnya. Brilian sekali Andreas Kurniawan menggambarkan mindfulness dalam menangani rasa duka dengan analogi mencuci piring. Ringkasnya, cuci piring yang merupakan kegiatan rutin biasa sebenarnya ada SOP rinci dengan banyak hal yang harus dilalui dan dirasakan. Sayangnya, seringkali kebanyakan orang hanya berfokus membersihkan piring kotor dengan mengandalkan insting dan kebiasaan. Tahapan dilalui seperti otomatis saja, tidak dengan kesadaran penuh. Begitupun berduka. Padahal dengan kesadaran penuh, fase-fase melalui duka dapat terasa lebih bermakna. Bukan-bukan, ini bukan mau menulis resensi buku. Hanya tentang pikiran yang langsung mereka-reka mindfulness pada kejadianku sendiri. Bukan tentang duka, bukan juga cuci piring. Seperti...

Before Counting Eyes

No one fits the role of villain. Perhaps that is why this story has never found a title. and I have never doubted that I am loved. There is someone who would become a wall before the rain could ever reach me. Only sometimes, I forget what it feels like to walk when every step is feared for before I have even taken it. And I truly want to understand. Perhaps loving someone the world keeps noticing is its own kind of exhaustion. Perhaps fear, when it has nowhere else to go, learns to disguise itself as care. There are days when I'm in certain look not so the world will glare at me, just so I can still recognize the woman  that quietly growing behind the mirror. There are days when I tell a story, and what is noticed first is not what I have said, but who listened instead who lingered, who cared. I'm begging Look at me before you look at the shadows around me. Notice me before you begin counting the eyes that follow me. I have never longed to be desired. Something far rarer to be ...