Kain sutera putih melilit tubuh halus, kedinginan Dikulaknya helaian demi helaian Tergesa tanpa sempat melihat surat itu, terlipat Amplop abu dari Semesta atas nama Pencipta Ada saja kurangnya kepala hingga kaki. Yang dijanjikan tertulis dalam sebuah petunjuk Kitab tebal penuh tinta warna putih Kapan dia hafal cara menjadi pantas Terlihat indah tanpa terlihat berusaha. Kuat dengan kelembutan, bebas dengan batasan. Merawat manusia dan mimpi orang lain tanpa kehilangan sedetikpun waktu tumbuh Satu per satu dia jahit ke kulit Benang air, luka tak kasat mata. Ditanya, barang kali tertulis di kitab. Tidak harus sempurna untuk layak menjadi perempuan. Namun halaman itu bersih, tintanya putih, atau memang tidak pernah dituliskan? Maka dia memutuskan kembali ke paripurna. Semuanya tepat. Semuanya sepadan. Semua seperti yang diminta oleh Pentas. Tapi satu bagian yang tertinggal, dirinya sendiri. Barulah dia teringat apa yang tak sempat terbalas Surat itu, tak menyebut lebih dan kuran...
kebetulan, apanya bertalu-talu semesta usil merayu. agenda sua ibarat sensasi, tubuh diseret bersaksi, enam tujuh kali. sudahlah, pasrahnya . biarkan tatapan bersentuhan, jarak dirampas alasan biar bekerja si penasaran. ah , malam sepi berisik, logika di mana cuti. nikmati saja lah apa yang tak dipunya. “ngaco,” sadar nyamuk. kalau tiba sentuhan bisu, salahkan saja si gerik pengundang. jadinya, semesta atau penghuni yang lebih pandai menggoda? sampai sisa secuil bagaimana jika , mengutak-atik rasa menyuruh bulan menerka karena kalau hingga ini bernama tamat sudah senyata-nyatanya tapi terlanjur, pikirnya sungguh bahaya obsesi dua arah yang terus dipelihara