MENUNGGU AZAN PULANG

Butiran letih mulai menderas menyusuri larik-larik hijaiyah,
menyebab kering jalanan makan yang belum disiram lagi
semenjak fajar mengumandangkan ajakan surau
yang sudah bangun dari ujung sepertiga malam.

Saat mentari melongok di atas Rumah,

lelah masih sibuk membalik-balik lembaran Tuhan

yang dijanjikan makin tebal,

merangkai bunyi lirik-lirik langit dengan liukan indah irama rima-rimanya.


Surya pamit undur diri karena tidak boleh pulang terlalu malam,

mengetok pintu kamar yang berpesan: jangan ganggu orang di dalam,

membangunkan mukena putih dengan bawahan jarik lurik-lurik

yang belum sempat tidur dari pagi,

memandang jauh ke ruas-ruas di balik jendela: cemas.


"Engkau menunggu siapa? tergurat gelisah"

"Azan Magrib, kemarin dia datang sebentar, lalu pergi lagi"

"Aku takut dia lupa jalan pulang"


Surya akhirnya melangkah pulang ke garis benam,

naik kendaraan tua berwarna jingga,

knalpotnya nampak menyemburkan awan

yang nanti perlahan hilang disapu legam malam.


"Aku pulang!"


Azan Magrib sudah berdiri di halaman Rumah

diantar toa surau yang parau,

membawa tiga butir kurma,

menenteng segelas teh manis hangat,

dan kresek tipis bening membungkus kantong kertas lecek,

menyembunyikan kejutan yang tidak mengagetkan: seperangkat gorengan,

dibayar tunai.


LDR

Kalau kau tahu semua ketakutan yang kurasakan saat ini, aku yakin kau tak akan pergi dariku walau sedetik saja.


Lembaran akhir buku harian kedua miliknya yang kubaca. Buku harian yang masih sama dengan buku harian sebelumnya. Sebuah buku biru berukuran sedang dengan gembok kecil di sisi luarnya.

Belum usai perasaan syahdu yg menerpaku ketika kubaca buku harian pertama yg ditinggalkannya, ini bagai badai kedua yang hempasannya tak dapat ku tahan lagi. Air mataku tumpah bagai aliran sungai tanpa batas, memuntahkan semua emosi penyesalan dan rasa bersalah yang tercipta. Aku terkulai lemas di atas bekas meja kerjanya, bercengkrama bersama hayalan, mencoba meraih kenangan kembali bersamanya.

Hatiku lumpuh, badanku runtuh, tak ada tenaga yang tersisa lagi untuk membuka lembaran berikutnya, hanya isak tangis yg terdengar bagai rangkaian nada yang tak beraturan.
Aku ingin teriak memanggil namanya. Tapi apakah dia masih mendengarnya? Apakah sang waktu mau menyampaikan maaf dan kerinduanku padanya?

Kupeluk erat meja kerja yang membisu sedari tadi. Pelukan hangat penuh cinta yang lalai kuberikan padanya saat kami masih bersama. Air mataku menghiba pada Tuhan agar memberikan pelukan hangat pada kekasihku yang tersenyum di sisi Nya.

 

KOS di WBC

(Kumpulan Obrolan Santuy di Warung Bang Casman)


SEPANJANG MINGGU

anak-anak kecil riang berkecipak air,
siram-siraman hingga kuyup
membasahi tawa lepas,
yang sepanjang minggu kering

ayahnya keluar rumah dan ikut-ikutan,
mengguyur ke sekujur tubuh yang menenteng laptop,
senyum aslinya menyungging,
yang sepanjang minggu diinjak-injak oleh senyum akting

ibunya merangsek lari bergabung,
membiarkan air berpendar mengitari lenggok rambutnya,
dengan memeluk laptop
bahagia merona membuncah 
yang sepanjang minggu disumbat merana

anak-anak kecil kalang kabut 
"nanti laptopnya rusak!"
anak-anak besar malah girang sambil berpagut, 
"biarkan mereka sejenak mandi, setelah sepanjang minggu gerah kepanasan"

siangnya, anak-anak besar berpandangan,
gawat, laptopnya gak mau nyala,
"apa masuk angin?"
"mustahil, mereka ini tahan banting!"
"pasti mereka bisa tidur nyenyak sekarang"
"terus kita harus bagaimana?"
"nanti kalau sudah kering juga siuman"

Besoknya, laptop-laptop itu sudah kering, kembali menyala dipenuhi senyum banyak orang yang berjajar terpaksa,
ditemani deretan kata yang diketik mengikuti pola

bersamaan dengan tawa anak-anak kecil yang kerontang kering
dan bahagia anak-anak besar yang terang merana

selamat datang lagi, sepanjang minggu!



MASA SEKOLAH (1), GURU GEOGRAFI

Suasana kelas sangat lenng saat itu. Baru sekitar setengah penghuni kelas 3-11 sebuah SMA Negeri di Bandung yang telah berada di dalam kelas, padahal pelajaran Geografi akan segera dimulai. Guru mata pelajaran Geografi ini sebenarnya agak kuhindari karena aku belum membayar uang buku yang kubeli dari Pak Azimuth, begitu panggilan kami kepadanya (kami memanggilnya demikian karena ketika Pak Guru ini menjelaskan tentang sudut putar arah angin, gaya tangannya sangat atraktif sehingga kami menjulukinya Pak Azimuth). Agak riskan bagiku kalau hanya sedikit teman-teman yang berada di dalam kelas karena perhatian Pak Azimuth takkan terbagi dan tentu saja aku akan semakin terlihat olehnya.

Ketika terdengar suara tapak kaki mendekat ke pintu kelas, jantungku semakin kencang berdetak. Sementara tak ada sedikit pun tanda-tanda teman-teman sekelasku memasuki ruang kelas.
“Sebagian anak-anak ada kegiatan OSIS. Genk Boy Band seperti biasa nangkring di kantin.” Bisikan Siti semakin membuat suasana mencekam bagiku. Keringat dingin membasahi keningku. Ada-ada saja teman-temanku ini.
Puncaknya adalah ketika langkah kaki Pak Azimuth memasuki ruang kelas. Sepertinya wajahku pucat karena tanganku mulai dingin dan berkeringat. Berkali-kali kutatap jendela kelas, dengan harapan ada teman yang masuk ke dalam kelas. Harapanku tak terwujud bersamaan dengan pintu kelas yang ditutup Pak Azimuth. Selama satu setengah jam ke depan, sepertinya aku harus melakukan senam pernafasan agar aku bisa lebih rileks.
“Yang lain ke mana?” Selama beberapa saat suasana kelas hening. Aku menunduk pura-pura membaca buku pelajaran Geografi. Jantungku mulai berdebar tak karuan.
“Sedang ada kegiatan OSIS, Pak.” Dari bangku belakang terdengar suara murid yang menjawab pertanyaan Pak Azimuth.
”Memangnya semua murid di kelas ini jadi pengurus OSIS?” tanya Pak Azimuth dengan suara dibuat galak. Aku semakin menunduk menatap bukuku.
“Bukumu terbalik, tuh!” tegur Pak Azimuth yang tahu-tahu sudah berada di sampingku.
Secepat kilat kubalikkan buku yang sedang kupegang. Terdengar suara tawa kecil dari teman-teman yang masih tersisa di kelas. Walaupun sebenarnya masih mending aku dipermalukan karena pura-pura membaca daripada dipermalukan karena aku belum membayar buku Geografi.
“Saya nggak tahu kalian ini mau serius belajar Geografi nggak sih? Mau kalian semua saya beri nilai jelek biar nggak lulus sekalian ….” Panjang kali lebar kali tinggi sudah Pak Azimuth memarahi kami yang tersisa di dalam kelas. Menurutku ini tak adil karena seharusnya Pak Azimuth marah kepada teman-temanku yang tak berada di dalam kelas.
“Hey kamu yang pegang buku terbalik!”
“Saya?”Aku mengangkat kepala dan menatap takut kepada Pak Azimuth.
“Kamu tuliskan di papan tulis pelajaran hari ini. Nanti kalian yang berada di kelas mencatatnya dan teman-teman kalian yang di luar bisa fotocopy.”
Pak Azimuth menyerahkan sebuah buku tulis kepadaku dan menunjukkan bagian mana yang harus kutulis di papan tulis. Beberapa saat aku bengong karena aku tak bisa memahami tulisan tangannya. Tulisannya seperti tulisan dokter zaman dulu yang kalau menulis nama obat hanya berbentuk cacing meringkel.
“Kenapa nggak di-foto copy saja, Pak? Ini kan banyak sekali. Biar saya yang ke tempat fotocopy,” tawarku.
“Tulis saja! Biar kamu juga belajar.”
Akhirnya aku mengambil kursi dan mulai menulis di papan tulis. Saat itu aku merasa kena hukuman dua kali karena teman-teman yang berada di luar. Walau sebenarnya hukuman ini jauh lebih baik daripada ditagih uang buku.
Catatan: Uang Buku sudah dibayar, ya hehehe.

GADIS KECIL BERPONI


Denting di dinding berhitung sepuluh kali

Mengagetkan sepi dan gadis kecil berponi


sedang menabur bunga berbahan lego

sembari komat kamit merapal

membetulkan letak nisan dari bantal

bungkuk menuliskan: Nina Bobo


kemudian dua pelayat datang

dengan tawa ceria

laki-laki dan perempuan, dari balik meja

membawa kembang karangan

berhias penat keringat

tersemat ucapan:

"lagi main apa, Nak?"


gadis kecil berponi,

matanya sudah berpakaian serba hitam

meringkuk peluk

menyanyi sendiri.

Kesedihan Akan Membunuhnu

Kesedihan itu seperti psikopat.

Dalam kelembutan dia masuk menembus rongga dada, 

bermain  senyap diantara rusuk yang berjajar rapi bagaikan pasukan penjaga, 

tapi tak mampu menahannya 

dan akhirnya kesedihan menguasai hati, 

mencabik-cabiknya sampai kita lupa arti sebuah bahagia.


Saat aku tertawa, dia hadir dan aku hanya bisa tetiba terdiam. 

Desakannnya memaksaku menutup bibirku yang terbuka, 

tekanannya memaksaku mengeluarkan butiran air yang kusimpan lama dalam dua bola mata. 


Saat aku berdiri, dia hadir dan aku harus jatuh terduduk dan tertunduk.

Disana sesosok makhluk bertanduk tertawa dengan aroma yang sangat busuk.


Kesedihan.. 

mengapa kita harus berjumpa saat aku sedang mencoba menata istana bahagia, 

saat aku sedang belajar tertawa 

dan saat ku bertahan jauh dari dia. 


Kesedihan ijinkan aku membencimu.. 

Aku juga berhak bahagia.. Ya kaan.. ??


KOS di WBC
(Kumpulan Obrolan Santuy di Warung Bang Casman)

Udin dan Gelembung Sabun

Sengatan sinar matahari pada pukul dua belas siang terasa panas menyentuh kulit. Siapapun yang tidak mempunyai keperluan mendesak untuk keluar rumah, lebih memilih berdiam diri di dalam rumah sambil menikmati hembusan udara segar dari mesin pendingin udara/mesin kipas angin, kipas-kipas dengan kipas tradisional dari anyaman bambu, atau bahkan ada yang berteduh dibawah pepohonan yang berada di halaman rumah.

Bagi sebagian yang lain khususnya para Ibu, sinar matahari yang terang benderang menjadi kebahagiaan tersendiri, karena jemuran pakaian yang memenuhi seluruh tali jemuran bisa kering lebih cepat sehingga sebagian pekerjaan rumah bisa selesai lebih cepat dari biasanya. Di musim penghujan, pakaian yang dijemur lebih lama keringnya. Bahkan, jika telah selesai mencuci kemudian menjemur pakaian lebih pagi, menjelang sore atau malam bahkan esok harinya pakaian masih terasa lembab, sehingga apabila dipaksa untuk di angkat pakaian yang lembab tadi dan ditumpuk selama beberapa jam, pakaian-pakaian tersebut akan mengeluarkan aroma atau bau yang tidak menyenangkan.

Tidak hanya para ibu yang merasakan kebahagiaan, demikian juga dengan para penjual es keliling seperti es serut, es bon bon, es dawet ayu, es cincau dan aneka jajanan es lainnya, mereka berbahagia dengan cuaca saat itu, karena jualan es mereka laris manis diserbu para pembeli yang menginginkan kesejukan dan kesegaran didalam rongga mulutnya untuk melepaskan dahaga akibat udara panas.

Sementara itu, disebuah sekolah dasar negeri di kampung bulakan.

"Teeeeeeeetttttt" suara bel sekolah menggema diikuti oleh sorak sorai teriakan bahagia seluruh murid-murid yang telah menantikan bel pulang berbunyi.

Bagaikan air bah yang sulit dibendung, para murid berlarian keluar ruang kelas setelah mereka satu persatu menciuam tangan sang guru sambil mengucapkan salam perpisahan.

Sang guru membalas ucapan salam anak didiknya sambil tersenyum. Sesekali beliau berteriak mengingatkan anak didiknya untuk tidak saling dorong agar tidak ada yang terjatuh.

Udin terlihat berdiri di antrian paling belakang, ia selalu memilih masuk dalam barisan antrian paling belakang karena tidak ingin berdesakan apalagi terkena imbas ulah teman-temannya yang saling dorong. Bukan tanpa alasan Udin memilih antri paling belakang, itu karena  ia pernah mengalami nasib buruk saat memaksakan diri ikut berdiri antri dalam barisan depan. Saat itu, tubuhnya yang kecil terjerembab hampir menabrak meja belajar akibat terdorong oleh teman-temannya.

Alhasil, tubuh Udin yang terjatuh dilantai menjadi bahan tertawaan teman-temannya. Sang Guru pun hanya bisa membantu Udin untuk bangkit berdiri sambil memberi nasehat pada anak didiknya untuk tidak saling mendorong, karena hal tersebut dapat membahayakan diri sendiri dan juga orang lain.

Setelah berpamitan dengan gurunya, Udin melangkah keluar ruang kelas. Tempat tinggal Udin hanya berjarak puluhan meter dari Sekolah. Sesampainya di rumah, ia mengganti pakaian dengan pakaian sehari-hari. Kaos lengan pendek warna putih yang sudah mulai terlihat kecokelatan karena dimakan usia, serta celana pendek berbahan katun. 

Selepas shalat dzuhur, Udin melangkah menuju meja makan. Ia membuka tudung saji yang didalamnya sudah tersedia bakul nasi yang terbuat dari anyaman bambu, sepiring telor goreng mata sapi yang diberi bumbu kecap, irisan cabai, irisan bawang merah dan irisan bawang putih, serta sambal terasi yang diberi perasan jeruk limo.

Udin makan dengan lahap, karena makanan yang masuk kedalam lambungnya terakhir berupa ketupat sayur adalah diwaktu pagi hari ketika bel masuk kelas belum berbunyi. Sedangkan pada saat bel istirahat, ia lebih memilih bermain bola di halaman sekolah yang sering dipakai untuk upacara bendera setiap hari Senin pagi atau baris berbaris dan berkumpul dalam kelompok-kelompok dalam ekstra kurikuler Pramuka. Selesai bermain bola, ia dan teman-temannya membeli jajanan es teh manis untuk melepas dahaga di sebuah warung sederhana yang berada tidak jauh dari bangunan utama sekolah.

Sewaktu sisa makan siangnya masih satu suapan lagi, terdengar suara teman-temannya memanggil namanya, “Uuudiiin…. Uuudiiin….”. 

Emak Udin yang sedang menjahit bagian celana sekolah Udin yang robek, buru-buru buka pintu dan melangkah keluar, “Eeeh… Entong, Abdul, Soleh, sini masuk… tunggu sebentar ya… si Udin ngabisin makannya dulu. Eh iya… kalian udah pada makan?” tanya emak. “Udah Mak Udin. Iya dah…kita tungguin”. Jawab Entong, Abdul, dan Soleh hampir berbarengan. Ketiganya duduk di kursi bambu disudut halaman rumah berlantai keramik sederhana. 

Tidak butuh waktu lama, Udin muncul dari balik pintu. “Maaf ya, tadi tanggung tinggal sesuap lagi…hehe“, ujar udin sambil tertawa kecil.

“Mak, Udin maen dulu ya…” ujar Udin meminta izin ke emaknya. 

“diluar lagi panas, Din, jangan maen jauh-jauh ya, emak khawatir nanti Udin kesambet kalau tengari maen jauh-jauh”, ujar emak memberi peringatan ke Udin.

“Ya Mak, Udin udah janji ama temen-temen mau nyari daon kapuk”, jawab Udin.

“Emang buat apaan daon kapuknya?” tanya emak penasaran.

“Yaaah Emak kagak tau ya? Daon kapuk itu untuk bikin gelembung sabun dan air gelembung sabunnya bakal kita jual keliling kampung, kan lumayan buat duit jajan, gak minta ama emak..ha…ha…ha…” Jawab Udin sambil tertawa.

Sebelum Emak Udin bertanya lagi, Udin melanjutkan penjelasannya, “jadi gini Mak, cara bikinnya; beberapa lembar daon kapuk ditumbuk sampe halus, nah daon yang ditumbuk itu bakal ngeluarin semacam getah yang mirip minyak goreng tapi dia lebih kental, teruus…. daon kapuk yang udah ditumbuk tadi dimasukin kedalam air yang udah dituangin bubuk deterjen, terus daun kapuknya dibejek-bejek sampe kecampur sama air dan deterjen. Naaah….terakhir supaya hasilnya bersih… kagak ada ampas daon kapuknya, Udin dan temen-temen bakal saring pake bahan pakaian bekas. Setelah semua selesai disaring dan diperes, jadi dah gelembung sabun. Kalau gelembung sabunnya di celupin pake sedotan atau disedot sedikit dan ditiup perlahan, sedotannya bakal ngeluarin gelembung sabun yang buaaaaaanyaaaak banget, Mak”, ujar udin menjelaskan ke Emaknya dengan lengkap.

“Oo gitu, Din. Emang kagak beracun getah daon kapuk sama aer deterjennya kalau sampe ketelen?” tanya Emak lagi kerena khawatir anaknya bakal kena bahaya dari air gelembung sabun.

“hhmm…..yaa… jangan ampe ketelen dong Maaak. Udin pernah nyedot aer gelembung sabunnya kebanyakan, jadinya masuk ke mulut. Rasanya Paiiit, Mak… hahahaha” ujar udin sambil tertawa terbahak-bahak.

“Tuh kaaan…..baru aja emak kepikiran. Ya udah, ati-ati aja ya Din, Tong, Dul, Leh. Oh iya, Jangan ampe kesorean ya pulangnya…” pesan Mak Udin mengingatkan.

“Okey Mak…… Assalamu├ílaykum” ucap Udin pamit, disusul dengan ucapan dari Entong, Abdul, dan Soleh. Mereka pun bergegas menuju jalanan kampung yang mengarah ke sebuah lahan yang ditumbuhi oleh pohon singkong yang berbaris rapih, pohon pisang dipinggirnya dan sebuah pohon Kapuk yang menjulang tinggi namun sebagian batang pohonnya ada yang menjuntai pada posisi yang cukup pendek sehingga mudah untuk dipetik dengan menggunakan sebatang galah bambu.  Pohon kapuk tersebut adalah satu-satunya yang berada disekitaran tempat tinggal Udin dan teman-temannya. 

Udin dan teman-temannya tiba dibawah pohon kapuk. Dengan bermodalkan keberanian, salah satu dari mereka, yaitu Abdul, yang terkenal pemberani dalam urusan panjat memanjat pohon, mulai memanjat dan berhasil memetik sekantong kresek kecil daun kapuk.

Selesai mendapatkan daun kapuk yang diinginkan, merekapun bergegas menuju rumah Entong untuk mengolah daun kapuk menjadi air gelembung sabun. Ditengah perjalanan, mereka mampir sebentar di warung kelontong Mak Enoh. Dengan bermodalkan uang hasil patungan dari uang jajan masing-masing, mereka membeli sebungkus deterjen merk Rindu, sebungkus sedotan plastik, dan kantong plastik bening ukuran seperempat.

Sesampaikanya di rumah Entong, Udin dan teman-temannya mulai mengolah bahan-bahan yang telah mereka kumpulkan untuk membuat gelembung sabun. Mereka pun berbagi tugas, karena sebelumnya Abdul telah melakukan tugas memetik daun kapuk, maka tugas menumbuk daun jatuh kepada Udin, yang memeras daun kapuk yang telah ditumbuk adalah Entong, sedangkan yang memasukan deterjen dan mengaduk-aduk air gelembung serta melakukan penyaringan air gelembung sabun supaya tidak ada ampas daun yang tertinggal, jatuh pada Soleh.

Hanya butuh waktu kurang dari setengah jam, air gelembung sabun akhirnya jadi dan telah dilakukan uji coba dengan hasil memuaskan. Air gelembung sabun tersebut menghasilkan gelembung yang banyak ketika dicelup kedalam sedotan plastik dan ditiup perlahan. Udin dan teman-temannya terlihat kegirangan.

Selanjutnya, merekapun mengatur strategi penjualan. Hasil kesepakatan, Udin dan teman-temannya akan menjual gelembung sabun di beberapa lokasi yang telah ditentukan dengan pembagian tugas sebagai berikut; yang membawa kaleng biskuit berisi air gelembung sabun jatuh pada Entong karena memiliki ukuran tubuh yang lebih besar dari yang lain. Yang bertugas teriak-teriak seperti layaknya penjual kredit panci atau penggorengan jatuh pada Abdul dan Soleh, karena keduanya dikenal memiliki suara yang bagus ketika mengumandankan adzan, sedangkan Udin mendapat tugas meniup gelembung sabun agar bisa menarik perhatian anak-anak yang mereka temui sepanjang perjalanan menjual gelembung sabun serta mendapat kepercayaan untuk menyimpan uang hasil penjualan gelembung sabun kedalam kantong plastik yang telah disiapkan.

Udin dan teman-temannya siap melakukan perjalanan. Namun sebelumnya, Soleh mengingatkan teman-temannya untuk membaca doa terlebih dahulu dengan harapan gelembung sabunnya dapat habis terjual. Akhirnya, setelah mereka berdoa bersama, Udin, Abdul, Entong, dan Soleh memulai perjalanan untuk menjual gelembung sabun.

“Gelembung Saboooon….. Gelembung Sabooon….. lima ratus perak…”, teriak Abdul dan Soleh saling bersahutan. Beberapa anak yang sedang bermain kelereng tak ayal menghentikan permainannya karena perhatian mereka beralih pada teriakan Abdul dan Soleh. Salah seorang dari anak=anak tersebut memanggil Udin dan teman-teman untuk membeli gelembung sabun. Penjualan pertama gelembung sabun berhasil meraup pundi-pundi uang jajan sebesar dua ribu lima ratus rupiah. Anak-anak itupun terlihat sangat bahagia ketika mereka meniup air gelembung sabun dari sedotan plastik. Salah satu diantara merekapun sempat bertanya cara membuat gelembung sabun tersebut. Tentu saja Udin dan teman-temannya tidak bersedia memberitahu karena hal itu adalah rahasia “perusahaan”.

Selanjutnya, Udin dan teman-temannya melanjutkan perjalanan menuju lokasi-lokasi yang telah mereka sepakati. Dalam perjalanan, mereka menjumpai beberapa anak yang sedang asik bermain layang-layang, beberapa anak perempuan seusia Udin  yang sedang berkumpul bermain permainan congklak, yang kemudian tertarik untuk membeli air gelembung sabun.  

Sang waktupun beranjak sore. Suara kumandang adzan Ashar mulai terdengar bersahutan dari pengeras suara Masjid dan Mushola. Udin dan teman-temannya sepakat untuk menghentikan perjalanan dan bersepakat untuk beristirahat disebuah Pos Kamling yang lokasinya tidak jauh dari rumah mereka berempat. Sambil menyenderkan badan dan meluruskan kaki, Udin dan teman-temannya mulai menghitung hasil penjualan gelembung sabun. Dengan disaksikan Abdul, Entong, dan Soleh, Udin mulai mengeluarkan plastik kresek didalam kantong celananya, mengeluarkan uang dari kantong plastik dan mulai menghitung. “lima ratus, seribu……dua ribu…..lima ribu….sepuluh ribu….dua belas ribu, lima belas ribu lima ratus….”,  suara Udin dan teman-temannya kompak menghitung uang hasil penjualan gelembung sabun. Setelah dilakukan pengecekan didalam kantong plastik penyimpan uang dan tidak ditemukan lagi uang yang terselip, akhirnya Udin melipat kantong plastik tersebut dan menyimpannya kembali kedalam saku celananya.

“Alhamdulillaah…. Hasil penjualan hari ini sebesar lima belas ribu lima ratus rupiah, selanjutnya…uang ini mau dibagi rata jadi berapa-berapa untuk kita berempat?” Tanya Udin kepada Abdul, Entong, dan Soleh.

“gimana kalau masing-masing kita mendapat tiga ribu rupiah? Sisanya, kita simpan sebagai modal untuk bikin gelembung sabun lagi. Gimana, setuju gak?”, jawab Soleh yang disambut persetujuan dari Udin, Abdul dan Entong.

Akhirnya, setelah uang hasil penjualan gelembung sabun telah dibagi rata, Udin dan teman-temannya kembali ke rumah masing-masing dengan perasaan bahagia karena sore itu mereka mendapatkan uang jajan dari hasil keringat atau kerja keras mereka, bukan dari meminta uang jajan ke orang tua. Udin dan teman-temannya membuat jadwal rutin berjualan gelembung sabun, hingga pada suatu hari mereka tidak melakukannya karena pohon Kapuk yang menjadi bahan utama dalam pembuatan gelembung sabun rata dengan tanah dan berubah menjadi sebuah gerbang perumahan mewah.

Udin dan teman-temannya mempunyai kenangan masa kecil yang indah.

Lelayu

Pasti

Pada akhirnya 

Gemuruh ini akan 

menjadi senyap,

Musnah segala ada

Yang begitu kuat didekap,

Lenyap segala cahaya

Yang kini terang dalam tatap,


Mati

Yang mengintai dari tipisnya tingkap,

mengendap endap 

Di antara ingat dan lupa 

Di antara tidur dan tafakur

Di antara hikmat dan maksiat

Di antara tawa dan doa

suatu hari,

Akan tiba,tanpa duga, 

Merenggut dunia, tanpa tunda


(Bekasi, 23 Jan 2021 03.00 WIB)