Postingan

Menampilkan postingan dengan label #SAUJANA

Lelaki ini dan Topengnya

Sepi. Lelaki ini selalu suka sepi. Suasana yang membuatnya bebas melepaskan topeng. Topeng yang selama ini menjadi wajahnya. Topeng yang selalu dilihat teman-temannya. Menjadi puja-puji sanak saudara. Topeng yang menghadirkan keamanan dan kenyamanan keluarga.  Saat sepi, saat sendiri, semua topeng itu ditanggalkannya. Mengistirahatkan kelelahan jiwa. Mengembalikan kesadaran yang hampir hilang entah kemana. Manusia hina, penuh aib dan dosa. Selalu penuh tipu daya dan pura-pura. Sepi ini selalu dirindunya. Saat-saat dimana dia berteriak, menjerit, menangis, menyesali semua kebajingannya. Atau, dia malah tertawa terbahak, mengenang betapa panggung hidup mengelu-elukannya. Tertipu oleh ciamiknya topeng dan peran yang dibawakannya.  Tidak, lelaki ini tidak merasa bersalah. Hanya lelah. Itupun tidak selalu mengganggu pikirannya. Bukankah menurut Ahmad Albar, hidup ini memang panggung sandiwara? Tiap manusia punya peran, entah wajar entah pura-pura. Manusia selalu punya topeng. Minim...

Marstrand: 1 Pulau 3 Negara

Gambar
Aku menemukan keindahan di dalam ambiguitas. Ketika semua tergoda menjadi monokrom hitam dan putih, adalah kelegaan untuk menemukan ruang yang menunggu untuk diberi nama dan makna. Bagiku, Marstrand adalah fenomena yang dapat mewakili perasaan tersebut. Masa perang dan waktu damai, dunia maju dengan kondisi ndeso, zaman resesi dan kemakmuran bangsa. Apalah arti semua bualan manusia bila harus berhadapan dengan fananya kehidupan? Norwegia. Denmark. Swedia. Ketiga negara ini pernah memiliki Marstrand. Memiliki . Pada masanya masing-masing, tentunya. Hal ini tergantung kepada batas ketiga negara tersebut, yaitu sewaktu garis batas negara-negara tersebut di atas peta sedang bergeser ke sebelah yang mana. Pulau ini kecil saja. Tidak bombastis penuh atraksi, namun kaya dari berbagai segi. Wisata kuliner, keindahan alam, atau  khasanah budaya ,  adalah sebagian dari banyak rahasia yang bisa kita temukan di Marstrand.  Alamnya asri , pantai nya tenang, dan banyak b...

DUNIA DARING

Panas sedang terik-teriknya di dalam kepala,  sejenak berteduh di bawah rindang  pohon-pohon virtual,  menghela nafas meregangkan  sengkarut kerut-kerut masalah. dari lini masa ke lini rasa,  Berembus angin sepoi kadang asoi,  tak jarang amboi,  seringnya koboi, Woi! Di hadapan mata, jalanan amburadul,  mampet, lalu marah-marah sepertinya harus belajar pada otakku, amburadul, mampet, tapi ngampet . Isi kepala malah jadi kalap meskipun bulan datang  berusaha menengahi membawa lampu petromaks,  agar bisa pulang menembus gelap. Sial, malah bau spiritus, dan bau asap, Sudah sumbunya pendek,  memompanya terlalu kuat pula Alamak, bukannya terang  malah terbakar kepalaku. Kusiramkan air  dari sumber-sumber nasihat digital,  suhunya dingin dan menyejukkan supaya padam, lumayan,  rambutku belum semuanya botak,  tapi masih bau sangit Bukannya pulang, malah melanglang  menyusuri jalanan ibu kota,  yang anak-a...