Tampilkan postingan dengan label #SAUJANA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label #SAUJANA. Tampilkan semua postingan

Lelaki ini dan Topengnya

Sepi. Lelaki ini selalu suka sepi. Suasana yang membuatnya bebas melepaskan topeng. Topeng yang selama ini menjadi wajahnya. Topeng yang selalu dilihat teman-temannya. Menjadi puja-puji sanak saudara. Topeng yang menghadirkan keamanan dan kenyamanan keluarga. 

Saat sepi, saat sendiri, semua topeng itu ditanggalkannya. Mengistirahatkan kelelahan jiwa. Mengembalikan kesadaran yang hampir hilang entah kemana. Manusia hina, penuh aib dan dosa. Selalu penuh tipu daya dan pura-pura.

Sepi ini selalu dirindunya. Saat-saat dimana dia berteriak, menjerit, menangis, menyesali semua kebajingannya. Atau, dia malah tertawa terbahak, mengenang betapa panggung hidup mengelu-elukannya. Tertipu oleh ciamiknya topeng dan peran yang dibawakannya. 

Tidak, lelaki ini tidak merasa bersalah. Hanya lelah. Itupun tidak selalu mengganggu pikirannya. Bukankah menurut Ahmad Albar, hidup ini memang panggung sandiwara? Tiap manusia punya peran, entah wajar entah pura-pura.

Manusia selalu punya topeng. Minimal tiga. Satu topeng selalu dipakai saat di masyarakat, bertemu teman dan kolega. Satu topeng yang dilihat oleh handai taulan dan keluarga. Satu lagi yang mungkin hanya dia sendiri mampu melihat dan menyadarinya.

Lelaki ini terus menikmati kesepiannya. Tak hirau sesekali terdengar gonggong anjing tetangga atau teriakan paket yang diantarkan kurir ke tetangga ujung rumah. Lelaki ini diam, duduk memutar ingatan. Lalu sadar, "aku ini ternyata manusia yang punya lebih banyak masa lalu, daripada masa depan", atau, "bahkan aku tidak punya masa depan?"

Sayup azan berkumandang. Dari TOA Masjid yang sudah menyesuaikan himbauan pemerintah. Sudah saatnya, menunaikan kewajiban, lalu kembali memakai topeng yang lama.


Jakarta, 02062021

#saujana

#nulislagi

#tantangBnD

Marstrand: 1 Pulau 3 Negara


Aku menemukan keindahan di dalam ambiguitas. Ketika semua tergoda menjadi monokrom hitam dan putih, adalah kelegaan untuk menemukan ruang yang menunggu untuk diberi nama dan makna. Bagiku, Marstrand adalah fenomena yang dapat mewakili perasaan tersebut. Masa perang dan waktu damai, dunia maju dengan kondisi ndeso, zaman resesi dan kemakmuran bangsa. Apalah arti semua bualan manusia bila harus berhadapan dengan fananya kehidupan?

Norwegia. Denmark. Swedia. Ketiga negara ini pernah memiliki Marstrand. Memiliki. Pada masanya masing-masing, tentunya. Hal ini tergantung kepada batas ketiga negara tersebut, yaitu sewaktu garis batas negara-negara tersebut di atas peta sedang bergeser ke sebelah yang mana.


Pulau ini kecil saja. Tidak bombastis penuh atraksi, namun kaya dari berbagai segi. Wisata kuliner, keindahan alam, atau khasanah budayaadalah sebagian dari banyak rahasia yang bisa kita temukan di Marstrand. Alamnya asri, pantainya tenang, dan banyak bangunan bersejarah yang bisa menginspirasi imanjinasi kita. Di penjuru pulau ini, tersebar beberapa penjual makanan, kedai kopi, pedagang buah segar, dan tenda es krim untuk melepas dahaga di bawah terik mentari musim panas. Bila beruntung, mudah sekali untuk memdapatkan buah dan sayuran segar dengan harga murah dari petani. Kota tua yang apik dengan deretan bangunan bersejarah ini akan membawa angan dan hati para pengembara. Bagiku, Marstrand memberikan lebih dari yang kita harapkan.   

Kuno dan modern, ataukah klasik dan kontemporer, semuanya terpadu harmonis menjadi sesuatu yang indah. Seseorang bercerita kepadaku bahwa sebagian besar penduduk Marstrand adalah kaya raya, namun anehnya sulit sekali menemukan kendaraaan roda empat di sepanjang jalannyaSebab, memang hampir tidak ada jalan raya di sini, kecuali jalan setapak lebar dari susunan bebatuan alami. Untuk melestarikan pulau warisan sejarah ini, mobil dilarang beroperasi di Marstrand. Jika sesekali melihat ada mobil melintas (dan biasanya mobil klasik), percayalah bahwa mobil tersebut telah membayar pajak yang tinggi untuk bisa berkeliling di sini.

Perang dan perdamaian, transaksi politik dan transaksi bisnis, atau sekadar titik singgah, Marstrand telah mengalami itu semua. Salah satu tempat bersejarahnya, Benteng Carlstentelah menjadi saksi yang tabah atas pertempuran dan perselisihan berabad-abad antara leluhur bangsa Swedia, Norwegia, dan Denmark. Benteng ini tidak hanya menjadi saksi drama antar negara, namun juga drama manusia. Konon, seorang tahanan seumur hidup, Lars Larsson berhasil lolos dari penjara setelah menyamar menjadi koki wanita bernama Lasse-Maja di benteng ini.

Bagaimanakah Marstrand berubah dari masa ke masa?

Semula, pulau ini merupakan tempat favorit untuk kaum berada pergi berlibur atau sekadar istirahat. Mereka hendak menjauh sejenak dari polusi udara dan polusi air pada Era Industri di awal abad ke-19, beserta hingar-bingar kehidupan di pusat kota. Namun, hari ini kami sedang beruntung. Tidak banyak orang berlalu-lalang. Hanya ada sekelompok burung camar yang tampaknya juga suka bersantai di sekitar kami. Beberapa di antaranya berani mendekat, ikut menemani, dan mencoba mengambil potongan makan siang yang kami bahwa ke pantai. Lelah berbagi makanan dengan burung camar, kami yang masih lapar pun singgah sebentar di Bergs Konditori, suatu kafe antik  yang ternyata memiliki resep rahasia räksmörgås (sandwich udang) terlezat … dan sangat terjangkau sampai kami makan dua kali dalam satu hari. Jangankan sandwich udang, sehari-hari burger pun biasanya tak terbeli.

Melanjutkan perjalanan kaki, kami menemukan sebuah gereja berusia 900 tahun, Mastrand Kyrka, yang telah direnovasi setelah kebakaran besar pada Abad ke-17. Bangunannya berkapur putih, berdiri ditengah komunitas penduduk lokal, dikelilingi oleh rumah-rumah mungil yang cantik, jajaran taman bunga, dan trotoar dari batu sepanjang jalan naik dan turun.

Berjalan lebih jauh ke dalam pusat komunitas, kami menemukan bangunan sunyi di atas bukit, yang ternyata adalah museum yang terbuka dan gratis untuk umumAku memberanikan diri untuk masuk, dan disambut oleh seorang Ibu yang ramah dan sangat tenang. Ia bercerita tentang kisah-kisah yang menarik selama aku menyimak rangkaian foto tua hitam dan putih yang terpasang di dinding kayu. Kisah tentang Marstrand di masa lalu, sebelum ada jalan raya, sebelum ada jembatan. Terlihat di foto tua, ada pelabuhan kecil yang menghubungkan Pulau Marstrand dengan Kota Gothenburg. Berjajar barisan mobil Volvo tua dengan tangki bensin raksasa sebesar drum mirip toren air hujan, mengantri selama berjam-jam untuk dapat naik ke kapal ferry menyeberangi sungai dari pinggir kota ke Pulau Marstrand. 

Di foto, beberapa wanita bergaun hitam berkumpul di dekat dok kapal, dan sebagian ada juga yang bergaun putih. Semuanya mengenakan syal atau kerudung sederhana. Pemandu bercerita, gaun putih mencerminkan status sosial kelas atas, karena dibutuhkan biaya dan pekerja yang tidak sedikit untuk menjaga kebersihannyaSetelah itu aku pun beranjak ke ruang depan,  lalu menemukan peti harta karun tua yang kuncinya telah rusak. Sayang, isinya akan tetap menjadi misteri selamanya untuk siapapun yang datang ke museum ini. Namun, di ruang depan selalu tersedia kartu pos dan suvenir untuk dibawa pulang sebagai oleh-oleh.

Sampai di penghujung hari, kami kembali ke peradaban kota industri dengan menggunakan kapal ferry dan tram,. Seharian penuh kami berjalan kaki mengelilingi Marstrand, termasuk jalan setapak "lubang jarum", celah sempit di tengah bukit granit yang dipangkas oleh ledakan dinamit pada abad ke-19Syukurlah tidak ada manusia yang tersangkut di dalamnya. Ketika malam pun tiba dan bersiap tidur, baru terasa badanku lelah sekali. Namun, hari ini sangat membahagiakan.

 

Location             : Marstrandsön

Tram stop          : Marstrands färjeläge, Kungälvs

Entrance Fee    : 20 SEK (for ferry crossing the river, but already included in the bus ticket)

Website              : http://www.vastsverige.com/en/Marstrand/

 

DUNIA DARING

Panas sedang terik-teriknya
di dalam kepala, 
sejenak berteduh di bawah rindang 
pohon-pohon virtual, 
menghela nafas meregangkan 
sengkarut kerut-kerut masalah.

dari lini masa ke lini rasa, 
Berembus angin sepoi
kadang asoi, 
tak jarang amboi, 
seringnya koboi,

Woi!
Di hadapan mata, jalanan amburadul, 
mampet, lalu marah-marah
sepertinya harus belajar pada otakku,
amburadul, mampet, tapi ngampet.

Isi kepala malah jadi kalap
meskipun bulan datang 
berusaha menengahi
membawa lampu petromaks, 
agar bisa pulang menembus gelap.

Sial, malah bau spiritus, dan bau asap,
Sudah sumbunya pendek, 
memompanya terlalu kuat pula
Alamak, bukannya terang 
malah terbakar kepalaku.

Kusiramkan air 
dari sumber-sumber nasihat digital, 
suhunya dingin dan menyejukkan
supaya padam,
lumayan, 
rambutku belum semuanya botak, 
tapi masih bau sangit

Bukannya pulang, malah melanglang 
menyusuri jalanan ibu kota, 
yang anak-anaknya sudah dewasa, 
sibuk mencari uang dan kesenangan, 
larut dalam hiruk pikuk 
yang terus-terusan binal, 
menanggalkan akal, meninggalkan moral, 
lalu bertingkah di luar normal, 
kemudian menghamba pada viral.

Sambil harap-harap cemas,
esok hari masih ada tombol update
atau tinggal uninstal.