Postingan

Menampilkan postingan dari Maret 11, 2018

PATUNGAN YATIM (LAGI)

Gambar
Seneng sekali alhamdulillah, masih bisa diberi kesempatan menuliskan ini. Maaf bagi yang bosen yaa. Sebenarnya, saya dulu sudah pernah menuliskan soal patungan yatim di blog ini. Memang sih, sudah agak lama. Ini link-nya bagi yang mau mampir. http://www.bukannotadinas.com/2017/04/patungan-yatim.html Kali ini, saya mencoba metode patungan yatim baru, khususnya buat teman-teman yang merasa “berat” kalau harus menyetor secara bulanan. Yaitu.. jeng jeng.. dengan melakukan donasi setiap Jum’at (atau hari lain juga bisa, sih), misal sebesar 10 rb rupiah saja. Mungkin, ada yang berpikir bahwa menyumbang sebesar 50 rb itu mahal dan banyak. Nah, kalau dibagi seminggu sekali 10 rb/12 rb, dalam satu bulan bisa dapat 40rb/48 rb. Wah.. lumayan kan. Jumlah 10 rb itu sebetulnya buat kita seperti cukup buat jajan saja, atau kalau makan.. dapatnya yg sederhana. Namun.. jumlah itu buat orang yang kesusahan lumayan banget pastinya, bisa buat beli beras 1 liter, bisa untuk beli buku tulis, buat...

Raker DSP 2018

Awal bulan Maret lalu, kami menyelenggarakan Rapat Kerja Direktorat Sistem Penganggaran. Ada yang menarik dari penyelenggaraan raker tersebut yang rasanya berbeda dari raker-raker sebelumnya. Acara yang diselenggarakan selama 3 hari 2 malam tersebut melibatkan sebanyak mungkin staff DSP yang bahkan beberapa diantaranya merupakan ‘pemain’ baru. Biasanya dalam suatu event, panitia enggan untuk menempatkan para pemain baru karena tidak mau atau tidak berani mengambil resiko, takut acaranya tidak sukses, namun kali ini saya melihat panitia berani mengambil resiko menempatkan beberapa pemain baru. Dengan semakin banyaknya pegawai yang dilibatkan terasa keakraban yang tercipta, seolah semua yang ditugaskan berupaya mempersembahkan yang terbaik dari yang mereka punya, setidaknya itulah yang saya rasakan. Pun ketika terjadi kesalahan karena adanya human error , panitia tidak serta merta menyalahkan si pembuat kesalahan, namun bisa segera memahaminya dan acara berlanjut seolah tak ...

Kenangan di Pangkalpinang (2)

Penempatan pertama saya adalah di Kantor Pusat Direktorat Jenderal Anggaran (lama) yang sekarang dikenal sebagai Direktorat Jenderal Perbendaharaan, tepatnya di Direktorat Pinjaman dan Hibah Luar Negeri (sekarang menjadi salah satu Direktorat di DJPU). Cukup lama saya berkantor di situ, sementara banyak rekan-rekan saya sudah mutasi berulang kali baik itu mutasi dalam kota, luar kota, maupun antar pulau, maklum DJPB memiliki kantor vertikal yang tersebar dari Sabang  sampai Merauke. Sementara saya sejak single, menikah sampai dengan dikaruniai 3 orang putra/i masih tetap berkantor di Kantor Pusat.  Setiap kali mendengar ada isu mutasi rasanya selalu tidak tenang, takut kalau-kalau kami dimutasi. Lama kelamaan perasaan itu semakin mengganggu, sampai akhirnya kami berdua sepakat bahwa kemanapun kami dimutasi, kami akan berangkat bersama-sama dan menghadapi apapun bersama-sama.  Setelah bertekad dengan keputusan tersebut, kami merasa lebih tenang, maka ketika SK tur...

Kenangan di Pangkalpinang

Suatu masa dalam kehidupan saya, saya pernah tinggal di Kota Pangkalpinang selama 11 bulan. Itulah pengalaman pertama saya tinggal di luar Pulau Jawa. Banyak hal yang harus saya sesuaikan dengan kondisi-kondisi yang selama ini saya alami, misalnya saja masalah air dan ketersediaan listrik. Pangkalpinang adalah salah satu pulau penghasil timah. Demikian banyaknya kandungan timah tersebut, sampai-sampai kami sulit menemukan air tanah yang tidak mengandung timah. Dampaknya, kami harus membeli bergalon-galon air untuk keperluan minum dan memasak. Selain itu, air tanah yang kami pergunakan untuk mandi dan mencuci baju serta peralatan makan minum pun tidak mudah didapat. Semuanya serba terbatas. Demikian pula halnya dengan ketersediaan listrik, kami tidak pernah merasakan supply listrik full selama 24 jam sehari, selalu ada saja waktu tanpa aliran listrik. Kalau hari ini siang tersedia listrik, maka keesokan harinya malam hari yang mendapat giliran listrik padam. Setiap kali menan...