Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan

Nostalgia di Teras Tua

 

Radio tua memutar lagu lama,
Iramanya sendu menyayat kalbu.
Kita pernah duduk bersama,
Di teras ini saat waktu berdebu.
 
Kini kursi di sampingku kosong,
Hanya ada cangkir teh yang dingin.
Malam terasa begitu bohong,
Membawa rindu yang tak kuingin.
 
Kenangan lama berputar kembali,
Seperti film di layar yang hitam.
Waktu tak mungkin bisa dibeli,
Hanya tersisa rasa yang kelam.

Biarlah lagu ini berakhir,
Bersama redupnya lilin di meja.
Malam ini duka mengalir,
Menghapus semua tawa yang bersahaja.


Jakarta, 27 Januari 2026 

Menanti Cahaya Pagi

 

Gelap malam hampir berakhir,
Bintang-bintang mulai bersembunyi.
Udara pagi mulai mengalir,
Mengganti sunyi menjadi bunyi.
 
Terima kasih wahai kegelapan,
Telah memberi waktu untuk rehat.
Kini datanglah sebuah harapan,
Untuk hidup yang lebih sehat.
 
Matahari akan segera muncul,
Membawa sinar yang paling terang.
Semua rencana kini berkumpul,
Siap untuk kita bawa berperang.
 
Malam pergi membawa cerita,
Pagi datang membawa tenaga.
Mari hapus semua air mata,
Demi masa depan yang berharga.


Jakarta, 27 Januari 2026

Pamit pada Masa Lalu

 

Selamat tinggal kenangan lama,
Terima kasih atas segala pelajaran.
Januari membawaku bersama,
Menuju lembaran baru kehidupan.
 
Tak perlu menoleh ke belakang,
Jika itu hanya menambah luka.
Biarlah masa lalu hilang,
Digantikan bahagia yang terbuka.
 
Januari adalah titik nol,
Tempat memulai segalanya lagi.
Jangan biarkan dirimu konyol,
Terjebak dalam sesal yang rugi.

Teruslah melangkah dengan pasti,
Menuju cahaya di ujung jalan.
Januari adalah janji hati,
Untuk tidak lagi dalam kegagalan.


Jakarta, 20 Januari 2026 

Hangat di Tengah Dingin

 

Januari identik dengan hujan,
Membawa dingin hingga ke tulang.
Namun hati dipenuhi tujuan,
Agar sukses segera menjelang.
 
Gunakan jaket tebal semangatmu,
Lawan dinginnya rasa malas.
Biarkan dunia tahu namamu,
Melalui kerja keras yang tuntas.
 
Tak ada hasil yang mengkhianati,
Setiap tetes keringat yang jatuh.
Januari akan selalu menemani,
Jiwa-jiwa yang pantang rapuh.
 
Hangatkan diri dengan doa,
Serta kasih sayang keluarga.
Januari akan terasa mulia,
Jika hidup penuh dengan cinta.


Jakarta, 20 Januari 2026 


Filosofi Kalender Baru

 

Lembar pertama telah dibuka,
Angka satu mulai menyapa.
Januari bukan sekadar angka,
Tapi kesempatan yang tak terhingga.
 
Jangan takut untuk memulai,
Meski dari titik yang paling rendah.
Sebab gunung yang tinggi menjuntai,
Didaki dari langkah yang sederhana.
 
Buanglah beban yang tak perlu,
Maafkan mereka yang menyakiti.
Biarlah Januari berlalu,
Dengan hati yang bersih dan suci.

Fokuslah pada hari ini,
Serta masa depan yang membentang.
Januari adalah energi,
Untuk jiwa yang ingin menang.


Jakarta, 20 Januari 2026 

Melodi Januari

 

Dengar suara angin berbisik,
Membawa pesan dari masa depan.
Januari berlagu dengan apik,
Mengiringi langkah penuh harapan.
 
Setiap detik adalah nada,
Setiap menit adalah irama.
Jangan biarkan semangat berbeda,
Tetaplah fokus pada yang utama.
 
Dunia mungkin terasa berat,
Namun kamu punya kekuatan.
Januari memberi nasihat erat,
Bahwa sabar adalah kunci kemenangan.
 
Teruslah menari dalam hujan,
Teruslah berlari dalam panas.
Januari adalah sebuah ujian,
Untuk menjadi pribadi yang bernas.


Bekasi, 10 Januari 2026

Senja di Januari

 

Jingga merona di langit petang,
Menutup hari dengan ketenangan.
Januari membawa kabar datang,
Tentang damai dan keberuntungan.
 
Meski mendung terkadang menyapa,
Jangan biarkan redup cahaya hati.
Sebab setiap gelap pasti ada sapa,
Dari bintang yang setia menanti.
 
Duduk sejenak di beranda rumah,
Merenungi apa yang telah dijalani.
Biarlah hati merasa lebih ramah,
Menyambut takdir di bulan ini.

Esok pagi akan lebih indah,
Jika hari ini kita bersyukur.
Januari takkan menjadi lelah,
Bagi jiwa yang pantang mundur.


Bekasi, 10 Januari 2026

Jejak di Bulan Januari

 

Satu persatu hari berganti,
Di bulan pertama yang dinanti.
Tak ada lagi ruang untuk meratapi,
Masa lalu yang takkan kembali.
 
Januari mengajarkan keteguhan,
Berdiri tegak di tengah badai.
Melewati setiap rintangan,
Hingga mimpi tak lagi terandai.
 
Kumpulkan energi yang tersisa,
Gunakan untuk karya yang nyata.
Sebab waktu takkan pernah sisa,
Bagi mereka yang hanya bertahta.
 
Jadilah cahaya di kegelapan,
Jadilah kuat di tengah ujian.
Januari adalah titik harapan,
Menuju tangga keberhasilan


Bekasi, 10 Januari 2026 

Pagi di Bulan Januari

 

Mentari terbit di ufuk timur,
Menyapa dunia yang baru terbangun.
Januari datang dengan syukur,
Mengusir gundah yang sempat berhimpun.
 
Embun pagi terasa sejuk,
Menetes lembut di ujung daun.
Hati yang keras mulai membujuk,
Memaafkan khilaf di tahun-tahun.
 
Ada aroma tanah yang basah,
Ciri khas musim yang sedang bertahta.
Menghapus lelah dan rasa resah,
Berganti fokus pada cita-cita.

Mari mulai dengan senyuman,
Menyambut hari dengan berani.
Januari adalah medan perjuangan,
Untuk masa depan yang dinanti.


Jakarta, 7 Januari 2026 

Resolusi di Atas Kertas

 
Sederet kata tertulis rapi,
Tentang rencana dan mimpi-mimpi.
Januari menjadi saksi bisu janji,
Untuk menjadi lebih baik lagi.
 
Bukan sekadar hiasan kata,
Namun tekad di dalam jiwa.
Menghapus malas yang jadi kasta,
Membangun disiplin sebagai senjata.
 
Waktu berputar begitu cepat,
Jangan biarkan terbuang percuma.
Pegang erat setiap kesempatan,
Agar hidup lebih bermakna.
 
Terima kasih Januari yang hangat,
Memberi ruang untuk berubah.
Mari berjuang dengan semangat,
Hingga lelah menjadi lillah.


Jakarta, 7 Januari 2026 

Rintik Awal Tahun

Hujan turun di awal bulan,
Membasahi debu di jalanan.
Januari datang dalam ketenangan,
Membasuh luka dalam kenangan.
 
Dingin angin memeluk raga,
Menemani kopi di atas meja.
Ada syukur yang tak terhingga,
Masih diberi waktu untuk bekerja.
 
Jangan biarkan semangat luntur,
Meski langit sering mendung.
Hidup ini harus terus diatur,
Agar bahagia senantiasa bersenandung.
 
Rintik ini adalah berkah,
Menyirami jiwa yang sempat gersang.
Melangkah maju jangan menyerah,
Hari esok akan lebih terang.


Jakarta, 6 Januari 2026 

Bingkai Waktu


Lembar baru kini telah terbuka,
Putih bersih tanpa noda tinta.
Januari datang membawa sapa,
Membangunkan mimpi yang sempat jeda.
 
Langkah kaki mulai tertata,
Meninggalkan jejak tahun yang lama.
Ada semangat di dalam dada,
Mengejar asa yang kian nyata.
 
Langit pagi tampak berbeda,
Biru cerah penuh pesona.
Segala duka biarlah reda,
Ganti dengan tawa yang baka.
 
Januari adalah sebuah pintu,
Tempat berjanji pada diri sendiri.
Takkan menyerah pada waktu,
Hingga puncak sukses kan menghampiri.


Jakarta, 6 Januari 2026

Bingkai Cakrawala


Di balik kaca yang bening membeku,

Ada dunia yang luas menunggu,

Menyuguhkan jingga di penghujung waktu,

Menghapus sepi yang kian membelenggu.

 

Tatkala rintik mulai menyapa,

Jendela menjadi saksi yang setia,

Merekam jejak hujan di paras kota,

Dalam bisu ia bicara tanpa kata.

 

Ia adalah mata bagi sebuah rumah,

Tempat cahaya masuk dengan ramah,

Mengusir gelap yang sempat menjamah,

Memberi harapan di hati yang lelah.

 

Meski terkunci rapat oleh kayu,

Ia tawarkan mimpi yang takkan layu,

Memandang jauh melampaui rindu,

Menyentuh langit yang biru syahdu.

 

Jakarta, 5 Januari 2026

Kereta Malam

Rel besi bergetar di bawah roda,

Membawa penumpang melintasi gelap,

Menuju stasiun yang masih terlelap.

 

Di balik jendela, bayangan berlalu,

Hutan, sawah, dan rumah-rumah desa,

Semua nampak serupa dalam satu masa.


Malam adalah perjalanan panjang,

Menuju tempat yang disebut rumah,

Di mana rindu akan bermuara dengan indah.


Jakarta, 5 Desember 2026

Penulis Malam

Pena menari di atas kertas putih,

Menggoreskan tinta tentang rasa,

Yang tak sanggup diucap oleh suara.

 

Malam adalah sumber inspirasi,

Saat logika mulai sedikit melonggar,

Dan imajinasi mulai mekar melebar.

 

Setiap kata adalah detak jantung,

Yang tertuang dalam bait-bait sepi,

Menjadi abadi dalam lembar mimpi.


Jakarta, 05 Januari 2026 

Perayaan Hal-Hal Kecil

Terima kasih untuk segelas teh yang menenangkan pagi,

untuk sapaan kawan yang datang saat aku hampir mati suri.

Aku bersyukur untuk pintu yang tertutup rapat,

karena ia melindungiku dari jalan yang salah dan sesat.

 

Syukurku bukan hanya untuk kemenangan yang benderang,

tapi juga untuk luka yang kini mulai tenang dan jarang.

Terima kasih, diriku, sudah mau terus mencoba,

meski dunia berkali-kali memintamu untuk menyerah saja.


Jakarta, 30 Desember 2025

Akar yang Tak Terlihat

 

Tahun ini bukan tentang seberapa tinggi aku mendaki,

tapi tentang seberapa kuat aku berdiri saat bumi berguncang sepi.

Ada hari-hari di mana napas terasa seperti beban,

dan malam-malam panjang yang penuh dengan keraguan.

 

Namun lihatlah, aku masih di sini.

Menjahit kembali harapan yang sempat robek berkali-kali.

Ternyata aku lebih tangguh dari yang kukira,

lebih berani dari rasa takut yang sempat bertahta.

Aku adalah pemenang atas badai yang kupukul mundur sendiri.


Jakarta, 31 Desember 2025

Syukur Dalam Gelap

 


Terima kasih untuk hari yang telah usai,
Yang membuat hidup penuh dengan warna.
Untuk setiap tawa dan air mata,
 
Kini saatnya merebahkan kepala,
Menyerahkan sisa hari pada Sang Pencipta,
Dalam doa yang tulus tanpa ada dusta.
 
Malam ini aku tidur dengan tenang,
Yakin bahwa esok adalah berkah baru,
Yang menungguku di balik tirai biru.


Jakarta, 30 Desember 2025

Akhir Sebuah Malam


Langit hitam mulai berubah kelabu,
Bintang bintang satu per satu menghilang,
Tanda bahwa cahaya akan segera datang.
 
Embun pagi mulai membasahi daun,
Membawa kesegaran yang baru lahir,
Saat masa kekuasaan malam berakhir.
 
Selamat tinggal pada sunyi yang damai,
Sampai kita bertemu di senja nanti,
Saat dunia kembali ingin menepi. 


Jakarta, 30 Desember 2025

Jejak Yang Tertinggal

Lihatlah ke belakang, ke jalan panjang yang telah kita lalui,
Ada banyak jejak kaki yang membuktikan betapa kuat kita mendaki.
Melewati kerikil tajam hingga padang bunga yang harum mewangi.

 

Setiap jejak adalah kenangan tentang perjuangan dan tawa,

Tentang bagaimana kita saling menguatkan saat salah satu kecewa.

Membangun benteng asmara dari bata-bata sabar dan doa.

 

Jangan takut melangkah ke depan meski jalanan masih misteri,

Sebab jejak-jejak masa lalu telah mengajari kita cara berdiri.

Berdua kita akan terus berjalan menyongsong mentari pagi.



Jakarta, 29 Desember 2025