Postingan

Menampilkan postingan dari Maret 1, 2020

Rindu

Ruang ini sunyi walaupun banyak orang berlalu lalang Hati ini sepi menantimu yang tak kunjung datang Detik berganti menit mengisi hari Menyiksaku dalam penantian tak bertepi Sebuah pertanyaan mendera kalbu Apakah dirimu baik selalu? Betapa hanya cemas yang kurasakan Menyimpan penyesalan tiada akhir kenapa rindu ini tak kusampaikan Kunanti dirimu di ruang yang sama Diantara rasa pedih dan lara Demi satu asa yang menggelora di dalam diriku Kau akan kembali padaku

Pergilah Cinta

Pergilah Cinta (dibacakan dengan saling berbalasan) Tertegun kumerana Kenangan indah yang sirna Raga dan jiwamu Masih kurindu Lima tahun kita bersama Tak kusangka kita harus berpisah Segala cita-cita kita bersama Terbang jauh meninggalkan luka Begitu jauh kau pergi Melebihi jarak yang kuketahui Andai kubisa memutar waktu Mengubah perkataanku Masih teringat ucapanmu Begitu kejam menusuk kalbu Kutuju engkau sebagai pelabuhan terakhir Tak kusangka semua berakhir Bukan maksud mulut berucap Memutuskan cinta yang tak bisa satu atap Tiada kata untuk mengalah Memang, hubungan kita yang salah Andai kutidak mengenal cinta ini Takkan pernah ku sesakit ini Bahagia dan kenangan Yang takkan bisa kulupakan Cinta yang nyata namun terlarang Dimana semua orang menentang Semua halangan kulawan Tapi kukalah dalam peperangan semua yang patah tak lagi tumbuh kau yang hilang pun tak lagi berganti Sekarang kita berdua berjalan, Berdampi...

Suara Sunyi

Detak jam pada malam Detak jantung pada keheningan Suara-suara tak sembunyi Mereka hanya butuh sunyi Diam.. Diamlah.. Semakin banyak kau diam Semakin banyak yg kau dengar Sunyi.. Sunyilah.. Semakin dalam kesunyian Semakin suara tak dibutuhkan Mengerti tanpa bunyi, Kesunyian yang agung  J0818

Tentang Kita Dan Mereka

Ini bukan tentang Aku, Kamu ataupun Dia. Ini tentang Kita dan Mereka. Yang setiap hari berpindah tempat, lewat jalan yang sama atau berbeda. Dengan alat yang sama atau berbeda. Dengan orang yang sama atau berbeda. Ini tentang Kita dan Mereka, yang setiap hari nyaris di waktu yang sama, harus mematikan rasa. Membuang jauh-jauh akal sehat, melupakan semua ajaran dan pelajaran. Ini tentang Kita dan Mereka yang selalu berasumsi dengan diri sendiri. Ini tentang Kita dan Mereka, yang lupa atau bahkan tak pernah ingat bahwa kita akan kembali di hari-jam-menit yang tepat: tidak akan lebih cepat atau lebih lambat. Tidak akan tertunda. Ini tentang Kita dan Mereka, yang selalu merasa diri paling berhak cepat sampai di rumah. Yang merasa paling ditunggu kehadirannya. Ini tentang Kita dan Mereka, yang tak pernah abai nyawa. Berbalas pesan saat berkendara. Salip di kiri lambat di kanan. Ini tentang Kita dan Mereka, yang hanya menunggu waktu saja hembuskan nafas di jalan...

Novi and her love

Pendoa dan Surganya

Alunan sunyi terdengar sayup-sayup di dalam hati Menggiring lirih sepi yang menepi Aku tak seorang diri meskipun mungkin sendiri Karena mereka berpindah ke alam tanpa jejak kaki Rembulan terang tak menembus temaram pelita Membiarkan hitam menguasai warna Membuat berkedip tiada beda Seolah merana padahal ku bahagia Sepuasnya tersenyum tanpa dianggap gila Semua bukan sekadar bicara bumi dan rotasi Bukan pula coretan-coretan imajinasi Aku hanya menyusuri kelok pematang sanubari Sembari menghirup segarnya cinta meskipun tak lagi pagi Benar, ini masih tentang cinta Yang tak pernah bosan mengambil peran utama Menjadi jiwa dari berbagai riak butiran rasa Asmara tak selalu tentang cumbu dan kata-kata mesra Terkadang cukup menatap diam wajah pendoa dan surganya

Aku Memang Sudah Gila

Aku mungkin memang sudah hilang akal sehat, bodoh atau mungkin sedikit gila. Ya, sedikit saja. Supaya tetap ada kontrol diri. Seperti orang yang menanti mentari pagi, berjemur lalu mandi. Aku tidak. Aku memang menanti, tapi lalu tidur lagi. Memainkan ilusi, berbicara pada alam. Dengan keyakinan, kamu berteleportasi, mengikuti inginku. Hadir di sini, muncul di situ. Menguatkan pikiran, ketika pintu terbuka yang keluar adalah kamu. Dengan baju kunyit capuccino. Berkali salah. Tetap kucoba. Sekalinya benar, aku gemetar. Sibuk mengejar kata yang berlarian kesana kemari. Hei, kalian sudah kususun sejak lama. Tak rumit bahkan terlalu sederhana. Sapa salam tak lebih. Sedikit senyum kalau bisa. Bubar, tak cukup hitungan sepuluh, terkadang cuma sampai tiga. Rumit sekali rasa ini. Mungkin tak cukup sekali reinkarnasi, untuk dapat tepat disisi. Entah kanan, entah kiri. Atau tak cukup rusuk hilang satu, supaya pasti menjelma jadi kamu. Ugh, kuproklamirkan saja nanti: aku lelah, menyimpanmu dalam ...

Kau Pikir Hanya Kau?

Kau pikir hembusan angin hanya menggoyangmu? Kau pikir guyuran hujan hanya membasahimu? Kau pikir deru petir hanya menyergapmu? Kau pikir sapuan ombak hanya menenggelamkanmu? Kau pikir dunia ini kejam hanya kepadamu? Aku, dia, dia, dia, dan dia dia yang lain pun sama Namun mengapa hanya kau yang panik Hanya kau yang gugup Hanya kau yang takut Hanya kau yang berlindung Hanya kau!

SANG PREMAN

Jalanan ini nyaris masih sama saat terakhir kali aku lewati puluhan tahun silam. Belum juga dilapis aspal, hanya paving block yang sudah rompal sana-sini. Menyisakan genangan air sisa hujan entah kapan. Pohon yang dulu juga masih ada, hanya lebih tua. Renta namun kokoh menjadi saksi bisu lalu lalang bibit-bibit petinggi negeri. Beberapa bangunan baru berdiri megah, menyesuaikan kebutuhan masa. Tanpa peduli tiap masa tetap butuh tanah lapang, rerumputan bahkan empang sebagai tempat resapan. Aku berjalan lambat-lambat. Berusaha menyesap rasa yang menyeruak di dada. Entah apa, namun yang jelas mataku sedikit berkaca. Kisah demi kisah berkelebat bagai film usang yang diputar ulang. *** 1994 “ Plaaak …” tiba-tiba preman itu melepaskan pukulan tangan kirinya ke mukaku. Aku kaget. Seketika dahiku terasa panas. Meskipun sudah bersiap, aku tak menyangka serangan pertama datang dari sisi kananku. Walau tak sempat kuhindari, pukulan itu tak cukup keras untuk merobohkanku. Sekejap kem...

Jika Bukan Kita Siapa Lagi

Jika kebersamaan kita selama ini dalam kesenangan yang sama belum cukup mendekatkan kita, maka apa lagi yang kurang? Jika kesenang kita selama ini dalam menulis yang tak terucap belum cukup mempercayakan kita, maka apa lagi yang mampu? Jika tulisan kita selama ini dalam hal yang tak terucap belum cukup untuk saling percaya, maka apa lagi yang tinggal? Yang tinggal hanyalah rasa saling dukung dan menghargai. Di dalam kita boleh berdebat dan saling mengkritisi, di luar pantaskah kita berpaling wajah dan bersenda gurau ketika sang teman berdiri di depan? *Lantai M, 050620190900

Anak Kucing Mati

Anak kucing mati terlindas Di sebuah jalan hampir di tengah Yg tersisa hanya mata yg melolong  Percik darah sudah tak terlihat Mungkin terbawa ban yg entah kenapa smua berwarna hitam Aku bergidik ngeri Membayangkan tarikan terakhir nafasnya Mungkin dia mencari ibunya Tak tahu bahaya Atau dia sedang bekejaran dgn saudaranya,tapi tak terlihat jejaknya Anak kucing mati Bagaimana kau menghadapi kematianmu? Apakah dengan keberanian atau kepasrahan atau ketakutan yg tak pernah kau rasakan sebelumnya Aku meyakini Takkan ada yg menguburkanmu Jasadmu akan hilang Tersapu hujan,memuai oleh panas Atau terbawa oleh ban yg entah kenapa semua berwarna hitam

Utang Bapak

 “Mas, kapan mau bayar utang? Udah setahun lho, jawabnya kok selalu besok-besok terus,” ujar seorang laki-laki kepada bapakku di ruang tamu. Malam itu aku sedang belajar untuk tes masuk sebuah perguruan tinggi yang semua biaya kuliahnya ditanggung pemerintah. Aku memang sengaja memilih sekolah seperti itu untuk meringankan beban Bapak. Aku mendengar dengan jelas percakapan Bapak dengan tamunya karena kamarku berada di depan dan pintunya berhadapan langsung dengan ruang tamu. Apalagi kamarku tak berpintu, hanya ditutupi gorden. Akhir-akhir ini kulihat Bapak sedang kesulitan dalam hal keuangan. Apalagi ditambah utang yang menumpuk karena dulu Bapak banyak meminjam uang untuk modal pemilihan lurah di kampung kami. Jumlahnya sangat banyak sampai bapak menggadaikan rumah yang kami tempati. Memang Bapak menang dan menjadi lurah, tapi utang yang terlanjur menumpuk sulit dibayar. Penghasilan Bapak sebagai lurah tak cukup banyak untuk menutupi utang. “Kalau Mas Tarjo nggak bayar...

Sendiri

Sunyi adalah teman setiaku Dia tak pernah memintaku 'tuk berbicara Sepi adalah darahku Dia tak pernah memaksaku 'tuk tertawa Hening adalah jiwaku Dia tak pernah menuntutku 'tuk jadi sempurna Sendiri adalah nafasku Karena ku tak sudi terluka

LELAKI INI DAN PEREMPUAN ITU DAN ALASAN CINTA

Lelaki ini terdiam. Setentang tanya perempuan itu; mengapa kamu cinta aku? . Mata perempuan itu membulat, hitam tajam menghunjam. Alis hitam lebatnya merapat siaga. Menanti kata. Lelaki ini masih merangkai kata, mencari celah, akankah rasa mengatasi gundah menggantikan kata. “Apa aku harus punya alasan untuk cinta kamu?” lelaki ini membalas tanya dengan tanya. Perempuan itu mulai gelisah. Dia tak ingin dicinta karena mata indah. Dia tak mau dirayu sebab jelita. Dia tak suka dirindu seolah dibutuh. “Iya, tak mungkin kamu cinta aku tanpa alasan” cecarnya. Sunyi. 2 cangkir hot cappucino belum tersentuh. Hati yang tergambar disitu bahkan masih utuh. Cinta karena cinta. Jangan tanyakan mengapa? Tak bisa jelaskan, karna hati ini telah bicara [1] . Lelaki ini tak pernah suka ditanya perihal cinta. Bukan tidak piawai bicara atau menyusun kata. Hanya tidak suka. Baginya, cinta pada perempuan itu adalah rahasia hatinya. Cuma dia dan Sang Empunya yang boleh tahu mengapanya. Hal dia suka ...

Berapakah Harga Dirimu?

Berpakaian necis seolah orang penting Bertindak heroik seakan ada hal yang genting Ketika ada yang penting kau menghilang Pada saat pembagian jatah, kau berteriak lantang Harga diri sudah kau injak di alas kaki Tak peduli lagi pada orang yang meneriaki Sampai kapan kau akan terus begini? Mungkin sampai kau merasa keinginanmu terpenuhi Tapi kapan? Ya kapan-kapan