Postingan

Menampilkan postingan dari Juli 15, 2018

Rectroverso Seorang Ayah

Namaku Hana, dan ini adalah kisahku... Siang itu, bell pulang di sekolahku baru saja berbunyi ketika hpku berdering, s uara ayah disana terdengar cukup kencang, "Hana, kamu dimana?" "Ini baru saja mau pulang, Yah", jawabku "Cepat pulang ya, Mama menunggu kamu di rumah, katanya ia ingin minta temani kamu jalan-jalan" Aku mengeryitkan dahi, jalan-jalan? Pikirku. Di siang terik begini? kemana? "Iya sebentar Yah, Hana mampir ke perpus sekolah dulu ya" Ayah cepat menjawab, "besok saja ke perpusnya Han, kamu pulang sekarang ya, kasihan Mama sudah menunggu kamu di rumah" "Yaa tapi Yah..." "Hana dengar, kamu pulang sekarang juga ya, Nak" Suara ayah terdengar tegas, tumben biasanya ayah selalu lembut pada kami, dan aku memilih patuh. "Oke Yah" jawabku. Sampai di rumah, mama sudah menungguku dengan pakaian rapi. Ternyata siang itu, mama mengajakku pergi jalan-jalan di Dufan. Berdu...

Berkata Seorang Kawan

Seorang kawan berkata; ingin melanjutkan kuliah di perguruan tinggi ternama Merajut cita-cita yang sedari kecil sudah ia tulis di atas selembar kertas yang tersimpan di dalam diary lusuh Ia pun melanjutkan bicaranya; ingin mempersunting seorang wanita yang telah dipacarinya sejak lama Membina rumah tangga Menjadi pemimpin keluarga Di lain waktu, ia mengajakku berkunjung ke rumahnya Rumah yang baru dibeli dengan uang hasil kerja kerasnya Pergi pagi pulang larut malam Demi mengejar impian Kemudian, Waktu berlari tanpa peduli siapa yang dilewati Meninggalkan apa saja, termasuk aku yang berdiri didepan pusara Hari itu aku mengunjunginya Berdiri persis disamping gundukan tanah merah berhias aneka bunga Kuucapkan salam Kemudian terpanjatkan doa; semoga engkau bahagia di alam sana... #belajarpuisi

Pernah ada satu masa

Pernah ada satu masa dimana jarak tak lagi bermakna sapa tak lagi bernada tatapan tak mewakili cinta Pernah ada satu masa jarak begitu bermakna sapa menjadi indah bernada tatapan mewakili rasa cinta menggelora Pernah ada satu masa...

Cinta Pertama

Hari pertama masuk sekolah, selalu lebih sibuk dari biasanya. Setelah libur panjang, sulit sekali membiasakan diri bangun pagi, segera mandi, sarapan, dengan perlengkapan sekolah yang lengkap. Tapi, itu hari pertama di SMPN impiannya. Tak ada alasan buat Sasti bermalas-malas. Dia sudah siap berangkat jam 5.30 bersama Bunda yang menyempatkan diri mengantar dengan naik angkot. Seminggu ini dia harus masuk pagi karena MOPS dimulai. Kebetulan sekolah barunya harus ditempuh dengan 30 menit naik angkot, karena akan butuh waktu paling cepat 1,5 jam jika berjalan. Dan, kakinya bisa bengkak sebesar talas. “Ingat ya, Sasti belajar sungguh-sungguh,” Bunda masih di sampingnya saat sudah turun angkot, tapi dia sudah tidak ngeh Bunda bilang apa. Dia kagum dengan bangun bercat putih gading yang cerah di depannya dan gerbang yang begitu megah di antara rerumputan yang membentuk bukit seakan menyambutnya. Ahhh ... sayang, sekolah ini hanya satu lantai. Padahal, Sasti ingiiin sekali naik turun tangga...