Film Review: John Wick

John Wick (image: Wikipedia)

I don't like violence. So is the same with choices of movie. Unless there is Keanu Reeves in it. Or, Iko Uwais ... but let's save the latter name for another review. We cannot compare silat with kungfu (or gun-fu in this matter). Besides, that is not the violence which attracts me to watch John Wick. It is Keanu (and let's hope my husband does not read this writing). Pun intended, of course.

I am romantic at heart. So, for me everything has to has a cause. Letting things go by without a good cause is painful. Any good cause keeps the world go around. It keeps us alive ... to live in hope, despite all the darkness. To tell us, "Every cloud has as silver lining". So, what is the cause of John Wick? It is about a second chance ... to have a life, to feel love, and being loved too.

The film tells a story with economy on words. There are not much dialogues to remember. But once they happen, it is quotable quote worthy. Watching the film running is like reading a bedtime story for a toddler, where the book has beautiful and clear illustrations about what is going on. There is no need to describe or explain anything. Just sit and watch, then let the story unfolds.

... a man of focus, commitment, and sheer will ... 

Each scene unfolds like coming from different universes. The calm universe of John's house. The hyperrealism of assassins' underworld. The hype and vibe of colorful nightlife in an unnamed metropolitan city. The rustiness of an abandoned military field. The washed away helipad spot in a heavy rainfall at night. Let's not forget how awesome the Continental is. The only cozy spot in which killers can have a drink, eat, sleep, and mingle with each other without fear of being killed. It is all for a stash of gold coin, to be sure.

The scenes are always taken from 2 different points of views: the audiences perspective ... and John Wick's eyes. From our eyes, he is like living a world of wonders, where everybody nods at him while keeps citing the legend in hush-hush tones within private clubs. From John's eyes, we can feel his loneliness ... having everything and knowing everything while losing the only thing he cares about in his life. All because of the stupid son of his ex-boss.

John is the legend. But he is not like the ones "telling" all CV's in your face. In the contrary, we will never knew if the  thugs did not kill his puppy. Iosef and his gang thought it was a fair game for John refused giving in the Mustang. They just did not know it was not about money. The car and the puppy were the only remaining things that connect him to his late wife. By taking them away, surely Iosef has awaken the legend from his long sleep. It is almost like an inverted version of sleeping beauty, actually. The happiness ends when it is time to wake up. Thus, shall begins all of the unexpected mess.

... a semblance of hope ...
John slammed the hammer on his basement floor to dig everything he had buried in the past. His rifles, knives, pistols, machine guns, boxes of bullets, and hundreds coins of gold ... the only currency for assassins business. At this point, one begins to wonder ... who is this guy we are watching here. It only adds to the mystery as we watched him taking shower almost like a ritual ... like a part of holy action. With tattoo's in his back, "Fortis Fortuna Adiuvat," now we may suggest a connection with the Navy ... or John has understood that "fortune favors the bold."

Not long after that, suddenly the melancholic and serene life we had watched in the first 10 minutes has now turned into a nightmare. 12 men broke into his house ... in which John waited with a long list of strategy; welcoming unwelcome guests with endless blasts of gunshots, noises of broken bones, and splashes of blood on the walls. And all of these people are wearing three-piece suits, by the way.

As soon as he starts, there no turning back. That is why Viggo got really pissed off on his son ignorance for what he does. Viggo knows John. He made the legend. He created the ghost, the "Baba Yaga". Viggo was the one giving an impossible task, of which John accomplished in turn for leaving assassin life for a love of a woman. Now he returns, without wanting to be part of it ... no one expecting a hug. Only hoping to save their own lives from his coming. By the end of the film, we know there are 78 guys failed to do so. Losing their lives.

But, is it worth it?

We know John does not after these people. It is Iosef he is looking for. But as much as Viggo has been disappointed by his only heir, we also know that he has to protect Iosef in order to become a responsible father. I see this a bit sad since I have the impression that Viggo loves John more than he does to his son. So, the last fight between him and John is actually the moment when everyone puts his cards on the table. They have nothing to lose anymore. They have no more reason to continue. John has lost his wife. Viggo has lost his son. The puppy has died. All of 78 bodyguards have died too ... so we see John walking away in a cold rainy night ... and feel pity for him.

But, Hollywood has its tricks. Soon after that last scene, John met a pitbull dog. What!?

(I will save John Wick 2 for another review. All photos are screenshots from the original movie)


Pagi ini saya mendapatkan ucapan selamat berbahagia dari seorang teman. Pikiran saya langsung lari menjelajah kemana-mana memikirkan arti kata bahagia. Sampai sang kaki kehilangan konsentrasinya karena ikut memikirkan bahagia. Kenapa kaki ya? Iya, kakinya kesandung batu karena si bahagia.

Orang merasa bahagia ketika rekeningnya bertambah di awal bulan (terutama PNS). Ketika sedikit demi sedikit layar ATM menunjukan pengurangan angka yang signifikan, mulai deh ketar ketir. Akhirnya kebahagian luntur karena mesin ATM dirasa sudah memeras kita. Bahagiapun berganti duka mendalam.

Ketika masa sekolah kita bahagia ketika lulus dengan nilai yang baik. Lebih bahagia lagi ketika bisa betul-betul masuk universitas yang diisam-idamkan (bukan cuma di pintu gerbang ya). Bahagia lenyap ditelan gerutu ketika dosen melempar setumpuk tugas kuliah yang sulit (sesulit mengejar jodoh yang sinyalnya antara ada dan tiada).

Kebahagiaan memeluk erat ketika kita lulus kuliah. Bahkan kita mampu berbagi kebahagiaan dengan mbak-mbak salon, mas-mas fotocopy (maaf ya agak menyinggung gender) bahkan tetanggapun ikut berbahagia karena kebagian makanan gratisan.

Bahagia memasuki episode akhir ketika kesulitan mendapat pekerjaan. Orang yang mendapat pekerjaanpun, bahagianya hanya mampir sejenak saja. Pedihnya hidup terasa ketika atasan tidak sejalan dengan kita (yang merasa jadi atasan jangan tersinggung ya).

Bahagia juga mampir ketika kita mendapatkan jodoh. Bahkan kerabat dan temanpun kebagian repot membantu mewujudkan kebahagiaan kita. Stok bahagia menipis ketika ternyata pasangan kita berlaku tidak sesuai dengan keinginan kita.

Bahagia hati kita ketika memiliki momongan. Anak kita besarkan dengan penuh kasih sayang bahkan melebihi sayang terhdap diri sendiri. Bahagia mulai meninggalkan kita ketika anak yang kita sayangi memilih jalan berbeda dari kita.

Kalau selebritis yang sering muncul di layar kaca akan ketahuan kapan mereka berbahagia ataupun bersedih. Orang yang hobi memeluk televisi pasti tahu gaya selebritis mengumbar kebahagiaan dan bisa jadi beberapa bulan kemudian mereka tanpa sungkan menangis sedih di depan banyak orang.

Buat pemain sepakbola, mereka bahagia ketika mereka bisa mengalahkan lawan dalam sebuah pertandingan. Para pemain berjingkrak-jingkrak meluapkan kegembiraannya. Tawa berubah menjadi tangisan ketika lawan bisa mengalahkan tim mereka di pertandingan berikutnya.

Terkadang orang juga berbahagia kalau melihat orang lain sengsara. Rasa bahagia itu lenyap ditelan bumi ketika orang yang sengsara itu berbalik menjadi bahagia. Ada kan ungkapan "senyummu adalah tangisku".

Bahagia itu ternyata sangat singkat kalau kita menyandarkan rasa bahagia itu pada keadaan. Bahagia akan lebih abadi jika kita menjadikan kebahagiaan itu adalah sikap. Itu saja. (motivator wannabe tapi nggak usah dibawa terlalu serius.

Catatan : coretan ini pernah diupload di akun facebook Rini Ariviani tahun 2015 (tanggal dan bulan lupa)

Wir gehen zusammen ein Kaufen

“Ich mochte..”
“Meyr! Meyr...! whats’s happening??”
Lelaki paruh baya itu membopong tubuh Meyr yang terkulai di lantai. 

Bau obat semerbak di rumah sakit. Ayah Meyr nampak khawatir dan terus menatap gadis kecil berambut cokelat itu.

“She’s just fine, less than one hour she will be just awake. She just needs a rest”
“Meyr was learning when i found her drop suddenly”

“O...alright...what she’s taking? Math?”

Dokter Richard nyengir berusaha membuat ayah Meyr tersenyum. Yang dibecandai tetap serius dalam pikirannya yang rumit

“Sie brache die Glass in die Schule..two days ago”

“uh... that sweety girl? 

Dokter tidak percaya bahwa Meyr baru saja membuat onar, gurunya melapor bahwa ia memecahkan kaca sekolah. Ayah segera datang tapi Meyr hanya menangis dan memeluknya.


Dokter melirik ke arah tempat tidur, diikuti ayah yang terlihat cemas. Dengan segera Ayah Meyr mendekat ke tempat tidur. 

“Meine Tochter.. are you okay?”

Ich entschuldige mich ..Ich bin unartig..”

“Nope... nothing to forgive. I love you, Meyr..”

“I study hard, Dad..”

“I know...”

Meyr melihat sekeliling. Hanya ada ayah dan dokter yang keliatan baik di ujung ruangan.

“i want to buy a ticket...they say me crazy”

“Ticket what, Meyr?”

A ticket to ride a train..
To meet you in office, so we can play...”

Ayah menatap Meyr. Lekat lekat seperti tak mau kehilangan kejujuran itu.

I work...hard enough to buy you a good living..das ist fur dich”

Meyr merasakan rambut halusnya diusap halus oleh Ayah. Ia suka sekali.

“I miss you, Dad...”

“You broke the glass because your friend say youre crazy to buy a ticket?”


What’s for then?”

Meyr mulai terisak. Dokter Richard memandang dari mejanya. Sepertinya ia turut prihatin. 

“To make you come to school.. so we can meet..

I miss you, Dad..”

“Oh my..warum, Meyr?”

“Since Mom passed away.. i always feel lonely..
And the thing i remember is
The moment we go together. 

"Wir gehen zusammen ein Kaufen”

Ayah memeluk Meyr erat. Seakan-akan...ia tak mau melepasnya lagi. 

Kami sekarang tinggal di Charlottenburg, di dekat Schloss Charlottenburg (istana terbesar di Berlin), sebuah  wilayah pemukiman yang tenang. Sebenarnya ada banyak playground di Berlin, namun playground terbaik Meyr dan anak anak lain mungkin sebenarnya adalah ditengah tengah hangatnya keluarga.

Mengenal Laut

kenalilah sesuatu itu dengan utuh
seperti mengenal laut
yang bagiannya tak hanya pantai 
yang selalu tampil penuh pesona

kenalilah sesuatu itu dengan seluruhnya
seperti mengenal laut
yang bagiannya tak hanya desiran ombak
yang selalu menyisakan rindu

seperti mengenal laut
arungi lebih jauh ke tengah
akan ada ombak yang bergulung-gulung
yang akan menggairahkan ketakutan

seperti mengenal laut
arungi lebih jauh ke dalam
akan ada kegelapan bertubi-tubi
yang hanya menampakkan misteri

kenalilah sesuatu itu tanpa pengharapan
seperti mengenal laut
yang fatamorgana ombaknya
datang laksana melebarkan rangkulnya
sementara secepat di saat berikutnya
ombak akan segera pergi
laksana tak pernah mengenal sebelumnya

kenalilah sesuatu itu dengan kesadaran
seperti mengenal laut
yang datang dan perginya ombak
tak pernah dengan hati

jika yang mempesona dan yang menakutkan
sudah terasa datang bersamaan
dan tak membuat untuk kemana-kemana
itulah pengenal sejati
yang tak mudah tergiur
untuk menyerah

Diari Saya: Menjadi Istri Dosen

Bismillah..semoga menghibur, syukur-syukur mendapat inspirasi.. hoho

Another day has passed and it won't come back forever..
Spend today with an intention to do good thing..

Sebuah dinding di Budapest
Dipotret oleh Abi saat sedang pergi menghadiri 5th IEEE International Symposium on Computational Intelligence and Informatics, 2014


Ini adalah tahun ketiga suami saya pergi merantau ke negeri orang.
Untuk sekolah.

Ia pergi bukan karena bosan dengan saya, (yakin??), bukan pula mencari rupiah atau tabungan dolar. Ia pergi karena ia "harus" pergi. 


Menjadi dosen baru di kampus kuning, bukan hal yang mudah ternyata. Paling tidak itu impresi saya setelah mendengar banyak kisahnya. Lulusan master tidak menjamin segalanya mudah. Lulusan master seperti tidak begitu berarti di sana, sebab rekan-rekannya banyak yang  doktor dan bahkan profesor. Menjadi peneliti pada proyek riset pun, nampaknya tidak bisa menjadi kepala penelitinya. Intinya, berkarir menjadi dosen, berarti siap untuk berjuang meraih pendidikan setinggi mungkin, salah satunya demi karir yang lebih baik. Mungkin itu kenapa ia diminta pergi.

Omong-omong soal pendidikan, saya jadi ingat sesuatu nih, jadi setelah kami mencetak undangan pernikahan sekitar tiga setengah tahun lalu, ia cukup banyak mencetak nama-nama profesor di label nama untuk ditempel di undangan.
 “lha.. banyak profesor yang diundang..”
Saya pun pernah dengar teman saya berkata kira-kira begini,
”suami loe yang gelarnya panjang itu kan...”
Dan saya memang dengar macam macam komentar soal tiga gelar suami saya di undangan kami dulu.. #kenapa jadi bahas undangan?
Begitulah, kesannya saya nikah dengan nerd saja..

Setelah bergabung menjadi pengajar di kampus kuning, ia dan beberapa rekannya sesama dosen baru "diminta" melanjutkan sekolah. Akhirnya suami saya menerima pinangan profesornya saat S2 dulu di Taipei untuk melanjutkan kuliah di sana. Ia melamar beasiswa dari Pemerintah Taiwan dan memilih National Taiwan University of Science and Technology (NTUST) sebagai kampusnya. Abi, panggilan saya untuknya, ditawarin bisa lulus lebih cepat oleh Profnya di sana. Ia yang sebenarnya ingin selalu bersama kami pun berminat sekali setelah mendengar iming iming "cepat" yang ditawarkan. Selain itu, memang tema riset di bidangnya katanya bagus di kampus itu. Saya sih, buta soal itu. Yang saya tahu, ia akan pergi lama, meninggalkan saya. Namun keterpaksaan, kepasrahan keyakinan atas kekuatan motivasinya dan kelurusan niatnya, membuat saya sadar.. sia sia menahannya di sini. Abi pun kemudian pergi setelah setahun bekerja di UI, ketika bayi kami berusia satu bulan.

101  Tower, Taipei.

Gedung ini menjadi gedung pencakar langit tertinggi di dunia pada tahun 2004, sebelum digusur oleh Burj Khalifa di Dubai tahun 2009. Pada 2011, 101 Tower dianugerahi LEED sertifikasi platinum dan menjadi green building tertinggi dan terbesar di dunia. 101 juga dahulu memiliki elevator tercepat di dunia. Kecepatannya mencapai 60,6 km/ jam sebelum kemudian predikat tersebut digantikan oleh Shanghai Tower di tahun 2016 (sumber: wikipedia)

Suami saya memang bercita cita menjadi dosen di UI. Spesifik, mengajar, dan spesifik lagi, di UI. Rekan rekan seangkatannya di elektro dulu tidak ada, ya, hanya satu setau saya, yang bersamanya menjadi pasukan garda terdepan pendidikan tinggi di almamaternya.Maafkan bahasa saya yang lebai..hehe. Teman temannya sepengetahuan saya banyak bekerja di industri. Kalau tidak telekomunikasi, ya migas. Begitulah, tidak heran teman temannya nampak cepat sukses. Paling tidak, bekerja dengan gaji yang relatif bagus. Kalau tidak dengan keyakinannya yang besar atas profesi ini, bagaimana ia dapat bertahan dan menahan diri tidak bekerja di industri saja. Ia masih setia dalam cita cita ini. Allah-lah yang menguatkannya dengan keyakinan bahwa menjadi dosen adalah pekerjaan yang sangat mulia dan sangat besar investasinya di masa datang. Bayangkan, seorang dosen (bayangkan saja semua guru) mengajar murid-muridnya, yang dengan ilmu itu kemudian, muridnya menjadi lulus ujian dan bisa mengantongi ijazah dan ilmu. Ijazah dan ilmu ini, meskipun bukan secara materiilnya, dibawa kemana-mana untuk syarat mendapat pekerjaan atau untuk membuka usaha. Dari pekerjaan itu, ia menafkahi diri dan keluarganya, ia beramal, ia bersedekah, ia menyumbang masjid.. subhanallah...

IEEE International Conference on Communications (ICC), 2014

Namun ternyata, menjadi (istri) dosen tak semudah mencari gelar lalu mengajar. Sebagaimana kita tahu adanya tri dharma perguruan tinggi:
1.      Pendidikan
2.      Penelitian
3.      Pengabdian kepada Masyarakat
Artinya apa? Artinya... kerjaan suami saya ngga semata ngajar sekarang dan nanti, namun juga ada penelitian dan pengabdian kepada masyarakat.......... #jegerrrr
Nah, mungkin terkait dengan salah satu tri dharma perguruan tinggi itu pula, ketika di rumah, ia sering sekali duduk anteng di depan laptopnya. Ngapain? mengerjakan paper, riset, kerjaan kampus.. apa saja.. dan alhamdulillah semuanya positif dan hampir semuanya bau rumus dan kata-kata. Pernah saya tidur dan bangun di tengah malam, eh Abi masih di depan laptopnya..
Saat ini ia sudah menulis sekitar dua puluh paper, dan salah satunya diberikan apresiasi oleh Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) melalui program penghargaan atas karya ilmiah. Lumayan duitnya, cin.. bakal beli susu ama pempes..
Selain mengajar, memang ia bilang kalau mau jadi profesor harus mencapai angka kredit tertentu. Angka ini dipenuhi dari menulis buku, mengajar, membuat tulisan di proceeding, di jurnal, dan mungkin banyak lainnya yang kurang saya pahami. Oleh sebab itu, ia berusaha terus menulis.. menulis..dan menulis. Semangat Abi chan....karena ada bonus juga kalau papernya diterima jadi bisa jalan-jalan, walaupun jalannya ke tempat simposium atau konferensnya, :D

view from sydney bridge. susah banget mo motret long exposure, soalnya jembatannya bereaksi thd mobil yg lewat, alias geter”, kata Abi

Budapest, 2014


            Chinese traditional carved fence, Taipei

(mungkin bersambung...)

Semua foto oleh: Abi Yahya


Ini hanya sebuah puisi yang cukup ngasal, karena buatnya juga dalam keadaan ...Ngantuk

Datangnya tidak bisa diduga 
Datangnya kapan saja 
Datangnya bisa kepada siapa saja 

Biasanya dilakukan dengan minum secangkir kopi 
Biasanya dilawan dengan tidur 
Biasanya dilawan dengan kesibukan 

Akibat kurangnya oksigen dalam darah
Akibat kurang istirahat 
Akibat banyak pekerjaan 

Akhirnya harus memejamkan mata 
Akhirnya sebagai judul puisi 
Akhirnya ....

Jakarta bagian Selatan, 10 April 2017

Puisi ini dijuga dipublikasikan pada

Master, Tolong Ajari Aku Menulis dalam Semalam, Please....

Menulis itu bukan perkara mudah, tapi bukan pula perkara yang sulit-sulit banget. Banyak orang yang menikmati suatu bacaan, dan ingin menulis, hanya mereka bingung bagaimana untuk  memulai atau mengungkapkannya. Bener enggak? Kalo kejadiannya seperti itu, kita sama dong.

Cukup banyak ide yang "bersliweran" di kepalaku, tetapi mengungkapkannya dalam bentuk tulisan itu lho, yang setengah mati susahnya. Kadang untuk menulis satu kalimat pembuka pun, mesti bermenit-menit mikirnya. Kalo sudah begini, rasanya iri banget deh (iri dalam arti positif ya) sama penulis-penulis yang sudah berhasil membuat karya-karya yang telah diakui di "dunia penulisan".

Bagaimana sih mereka bisa seperti itu? Sambil browsing sana-sini mencari kiat atau teknik penulisan yang mumpuni, ibaratnya nih seperti pendekar yang sedang mencari guru, aku sedang mencari guru yang bisa dalam sehari mengajarkan teknik kungfu yang tak terkalahkan (seperti di film Taichi Master yang dibintangi oleh Jet Lee hehe...) Di film itu sang suhu yaitu Master Shaolin Temple mengajarkan satu jurus (Jurus Taichi) kepada jagoannya di detik-detik terakhir pertarungan melawan musuh yang luar biasa hebatnya, dan jurus ini merupakan jurus pamungkas, yang tak bisa terkalahkan oleh pendekar manapun di dunia persilatan. Jurus ini diajarkan hanya dengan melalui perintah-perintah lisan sang guru, yang langsung dipraktekkan si jagoan dalam pertarungan itu, dan ciiiiaaattt....musuh pun dibuat tak berdaya...

Apakah belajar menulis bisa seperti itu? kalo ada, aku pengen banget dalam semalam bisa mengalahkan imajinasi JK. Rowling yang super keren dengan novel Harry Potternya, atau Tere Liye yang ngetop dengan kalimat-kalimat indahnya. Soalnya ketika browsing internet, teorinya banyak sekali mengenai teknik-teknik penulisan itu seperti apa, menulis opini, berita, atau fiksi yang baik adalah mesti bla..bla...bla...
Baiklah...ayo dipraktekkan, tulis, giliran sudah kutulis, niatnya mau nulis fiksi, kok jadinya mirip-mirip nulis diary ya? mau nulis berita, eeh...kaya laporan rapat...hahaha....

Menulis itu katanya seperti meraut pensil, sedikit demi sedikit, lama-lama jadi tajam juga. Perlu latihan yang banyak, perlu kesabaran, ketekunan, kepekaan, dan yang terutama kemauan. Mau apa enggak menulis? kalo jawabannya sudah gak mau atau males, guru secanggih apapun tetap saja gak bisa ngajarin kita langsung jago menulis.

Kemauan ini nih yang harus ditumbuhkan dahulu, setelah itu baru mencari gurunya. Hari Kamis, tanggal 13 April 2017 ini gurunya sudah bersedia turun gunung lho....tak perlu susah payah ke "Shaolin Temple", Masternya sudah siap ngasih pencerahan di bidang penulisan. Tak perlu bakat, tak perlu harus pintar nulis lebih dulu, yang penting kemauan. Kemauan itu yang utama.

Aku mau belajar menulis, menulis yang banyak manfaatnya. Di workshop nanti, harapannya kita bisa mendapat pencerahan. Semoga.

Ada Apa Dengan Gandum? (AADG)

Pernah melihat pastry berlabel "gluten free"? Ada apa dengan gluten? 

Produk populer tepung terigu yang berasal dari bahasa portugis "trigo" (gandum), dibuat dari gandum. Tepung terigu dan gandum mengandung protein bernama gluten yg sulit dicerna. Gluten bersifat lengket dan elastis. Gluten terkandung terutama dalam gandum,barley, rye, dan sedikit dalam oats. Berbeda dengan nasi, beras, jagung (semuanya gluten free), bahan makanan yg terbuat dari terigu baru bisa diproses 3x24 jam dalam tubuh. Padahal normalnya paling lama dalam tempo 24 jam. Akibatnya, sampah terigu yg harusnya dibuang akan diserap lagi di usus, selain sampah glutennya akan menempel di dinding usus dan menghalangi penyerapan nutrisi (gluten melekat di dinding usus seperti lem). 

Kelebihan gluten juga diduga menjadi penyebab peningkatan risiko autis/ hiperaktif pada anak. Menu berterigu juga tidak memberi rasa penuh dan kenyang di perut karena kurang berampas, sehingga orang cenderung mengkonsumi makanan lebih dari kebutuhan. Konon 2 helai roti (whole wheat bread) bisa meningkatkan kadar gula dalam darah lebih dari 2 sendok makan gula pasir. 

Selain itu, konsumsi gluten dapat pula memicu alergi pada mereka yang alergi gluten serta dihindari oleh mereka yg menderita celiac disease (intolerasi gluten). 

Dr hyman dalam webnya menyebutkan bahwa jurnal kesehatan the new england journal of medicine telah mendaftar 55 penyakit yg dapat ditimbulkan oleh konsumsi gluten, termasuk diantaranya kanker, anemia, kelelahan, migrain, epilepsi, lupus, depresi, dll. "You might be at risk even if you don't have full blown celiac disease." 

Olahan gandum dan tepung terigu sendiri meliputi tepung gandum (termasuk muffin, bagel, croissant, burger, pizza), mie, sereal (malt, oat), pasta (spageti, fetucini, makaroni dll), kue dan biskuit (nastar, brownies, bolu dll). 

Beberapa makanan sudah berlabel "gluten free" dengan menghilangkan unsur gandum atau mengganti bahan yg berasal dari gandum dengan bahan lain, misalnya tepung beras, kentang, singkong, tepung tapioka, kedelai, tepung maizena, tepung ubi, tepung ganyong, tepung hunkue, dll. 

Sulit ya menghilangkan produk bergluten dari gandum sama sekali dalam menu sehari-hari. Namun konsumsinya ternyata sangat perlu dipertimbangkan untuk dibatasi. 


Feeling Lazy or Sad After Vacation? That is Post-Vacation Blues

Holiday is already passed, you’re enjoying every second of it. 
You don’t even mind getting stuck in long traffic jam, or paying an expensive ticket for mass transportation. You are totally out of your routines.

Now you’re back with your loved ones.
The passion from sharing your story to your friends at social media like Path or Instagram slowed down. The intensity of your adrenaline rush brought about by traveling is significantly reduced.
Home sweet home! You’re back with routines, like stuck in the city traffic or dealing with clients and pending works.

Suddenly, you feel something is not right, something feel weird.  
You feel sad that you’re back. 
That feeling is called post-travel blues. Yes, it is real and most people even professional travelers (travel journalist or blogger) can attest to this.

Is this normal?
Yes, this is normal. 
Many people who travel on vacation/holiday find themselves experiencing post-vacation blues, also known as post-vacation or post-travel depression. This condition is marked by an overall decrease in well-being and work productivity following a satisfying vacation. Having to get back into the routine of work, school, and daily life in general can be a source of distress, disorientation and discomfort. 
However unpleasant it may be, though, the post-vacation blues can be overcome with a little determination, some perspective, some insight on lessons learned from vacation, and a little self-care.

So is there a way to avoid it?
Maybe we don’t need to avoid it. After all, let’s think it is a good thing. Post vacation blues can open your eyes on what we need to change, so we “don’t sleep” thru our lives doing unimportant things. This symptom can teach us to be more aware of where we sacrifice ourselves unnecessary. This also reminds us to be mindful of where we compromise too much and help us to find our passions.

I need to go back to work but my mind is still in another place. How I can overcome this?
Your mind maybe is still in euphoria from traveling, but your body is now in the office. You tried to explain the best explanation to your friend, but words feel flat. Your friend could not understand what you were saying at that time.

Nah, there are three techniques or ways on how you coped with post-travel blues

1. Plan your next travel adventure.
When you suffer from post-travel sadness, try to plan your next travel in the future. Read some travel blogs to get tips & tricks. Search cheapest fare deals for your next target destination. Watch travel videos on YouTube to get inspiration and motivates you. Planning your next adventure provides yourself with just the right amount of fuel of excite adrenaline that just slowed down drastically.

In a way, it can motivates you to move forward, and slowly accept that your travel adventure has ended. But at the same time, it forces you to focus in your reality, which is work. In order to travel, you need money. And in order to have money, you need to work.

2. Allocate additional days to adjust your mind with reality
Three days ago you were in your hometown, laughing and talking with your parents and big family and now you are facing laptop, opening an excel sheet or word document that you need to review. Suddenly shifting to a normal working life can “shock” everyone.

So in your next travel, allocate additional two days after your return from travel so you can re-acclimate yourself from the usual things that you do. It also gave you time to rest, and absorb all the things that you just experienced during the trip.
      3. Document your travels
Another trick to help ease post-travel sadness is by documenting your vacation. Freeze the moment! Each photo you’ve take contains memory, emotion and story. Try to write all your vacation experiences on diary, blog/vlog. You can always go back to your diary/blog/vlog and remember all the travel adventures you’ve had! *wink* (sp2d)

Menu Ala Sarmili

Ini cerita tentang masak-memasak waktu tingkat pertama kuliah dulu. Setelah kita tahu teknik memasak yang baik, ternyata masalah masih selalu datang silih berganti. Benar kata orang tua dulu, tak ada jalan yang dilalui untuk menjadi orang besar, kecuali akan penuh dengan perjuangan. Dan sekarang sudah terbukti, berat badanku naik berkali-kali lipat dibanding jaman kuliah dulu #adaaqua?


Kebetulan saya dapat kontrakan di "jalan protokol" Sarmili, kawasan yang populer waktu itu. Kepopuleran jalan atau tepatnya gang Sarmili tidak bisa lepas dari sosok berwibawa pak Haji yang memiliki banyak kamar kos-kosan waktu itu. Ditambah hmmm... anaknya yang bisa jadi bahan pembicaraan dari masa ke masa. Itu menurut yang kos di sana lho ya, kebetulan saya kos di rumah lain beberapa jarak dari rumah pak Haji... #cariaman:P

Lokasinya agak ke dalam lumayan jauh, ditambah lagi kalau hujan, yaah biasalah, becek ! jadi bawaannya malas saja kalau mau makan di luar. Alasan ini juga yang memperkuat ‘kenekatan’ teman-teman untuk ambil keputusan yang paling berat sepanjang hidup selama ini : ‘masak sendiri’ ! Alasan utama adalah ‘tide money policy’ akibat kondisi eksternal (kiriman wesel, red) yang tidak menentu. Mau tahu apa itu wesel, bisa tanya orang tua atau kakek-neneknya (hadeeuh ketahuan di jaman apa ya saya kuliah waktu itu... baiklah)

Yang paling kelihatan siap untuk ‘proyek’ masak sendiri adalah teman baikku, mas Rony, karena dia satu-satunya yang pakai kaos ‘BANKOM’ yang waktu itu diplesetkan sebagai Bantuan Kompor :D.

Meskipun waktu itu kalau kita beli di warteg, selalu pilih menu termurah ‘sego sepalih kalih tempe setunggal bonus teh pait’ (nasi setengah tempe satu plus teh pahit) dengan harga 350 rupiah, tapi tetap saja harus cari cara yang lebih hemat lagi. Dan itu saya rasakan kalau kita masak sendiri. Salah satu trik hemat waktu itu adalah masak mie instan sendiri dan dengan membaginya menjadi dua untuk dua kali makan #betapangensnyaya:D. Kalau untuk membagi mie nya, gampang... tidak ada masalah. Yang sulit adalah membagi dua bumbu nya, kadang-kadang karena pembagian bumbunya tidak pas, separo yang pertama kepedesan dan separo yang kedua kasinan... #nasib.

Salah satu kendala yang kita alami waktu itu adalah kalau hujan deras, air sumur kontrakan keruh banget alias buthek. Tidak tahu persis kenapa bisa seperti itu, mungkin karena kurang dalam. Tapi kalau hujan gerimis aja sih tidak masalah. Sampai suatu ketika pas hujan deras banget dan pada malas keluar untuk makan, kami memutuskan untuk masak saja. Prosedur masak sudah dijalankan sesuai SOP (bukan masak soup ya :P) dan sambil menunggu nasinya masak kita ngobrol-ngobrol sambil terus ngecek jam, soalnya sudah pada laper, perut keroncongan, malahan ada yang ndangdutan... #ehhh.

Pas pada saat yakin sudah masak, saya lihat nasinya, ternyata benar-benar di luar dugaan, nasi jadi kuning ke coklat-coklatan…. Saya bilang ke teman-teman, ‘ini ngeliwet nasi kok jadinya nasi goreng’. Akhirnya teman-teman tidak ada yang berani makan menu baru itu: nasi goreng ala sarmili, hehe.