Postingan

Menampilkan postingan dengan label Banjirkanal

Ramadhan

Wah, sebentar lagi Ramadhan tiba nih! Ada yang kangen? Rindu suasananya? Atau jatuh cinta dengannya? Yuk kita simak kisah kisah Ramadhan dari pegawai di lingkungan DJA. Bukan hanya bikin tambah kangen Ramadhan, tapi juga kangen ibadah tarawih dan keluarga di kampung halaman. Check these out  ! 😉😉😉 ***************************** Handojo, Direktorat PAPBN Terkenang aku pada Romadhon masa kecilku. Teh manis hangat dan kolak pisang buatan Ibu menjadi menu spesial buka puasa. Saat kurasa belum puas kadang kuminum milik kakakku dan dia hanya tersenyum melihat tingkahku. Setelah menyantap menu buka puasa, masjid menjadi lokasi favorit. Sholat berjamaah diiringi canda ria, dari maghrib hingga tarawih menjadi kegiatan rutin, diakhiri momen paling menyenangkan, pembagian 'jaburan'. Tak jarang aku dan kawan kawanku berebut sekedar mendapatkan jaburan. Saat sahur menjadi saat yang ditunggu tunggu bila Ibu menggoreng dendeng sapi, makanan favorit  yang hanya kutemui ...

hujan

aku masih bingung apakah aku yang beruntung disentuh rintikmu hujan, atau kau yang bahagia bisa membasahiku. entahlah

dendam rindu

lelaki kecil dalam padang bulan menerjang menembus hujan. malam ini dendam rindu harus segera terbalaskan meski hanya melalui mimpi

sebab kau

aku tak bisa pergi jauh lagi semenjak kusadari tepi fulan fehan yang tak terjangkau menutupi pandanganku aku tersuruk. dan savana liar di kepalaku, sudah cukup untuk sebuah pemberontakan.

a d a s e n j a

ada kalanya senja berdebu ada kalanya senja diam saja dalam kamar ada kalanya senja berkeringat sebab berlarian di sepanjang lorong ini ada kalanya juga ia bisu. namun senja, selalu saja terbelenggu mantra, yang bernama "rindu"

R i n d u R i s a u

di sebuah petang di sekitaran embong miring sebelah wetan kota kecil L. di kaki mahameru. dengan jingga yang semakin tua. aku masih terbang. ingin sekali aku membacakan sajak yang kubuat siang tadi kepadamu. sajak tentang rimbunan angin. tentang asmaradhana. kupicingkan mata. mencari-cari. sepertinya kau tak ada di sana. tapi, siapa tau kau segera lewat. berkerudung putih berumbai-rumbai sambil mengayun. bersepeda. di tangan kirimu membawa kembang-kembang. semoga kembang itu bertahan pada tangkainya. meski tiada apa (senyum) di antara kita. lalu tangan lembut daun-daun pohon angsana menyapa kita. sambil membawa cendera mata seharga lima rupiah. yang bernama setya. dan seketika pipiku merah muda. Dan pandanganmu terpapar di sepanjang garis sungai yang sedang berwarna keemasan. tak terputus. mengalir begitu saja. dan sebab kita tak perlu kata lagi. maka, tak ada yang bersisa. biarlah rindu menyulut risau. dan aku kembali terjaga. dikelilingi angin. dengan j...