Postingan

Menampilkan postingan dari Oktober 3, 2021

Semprong

Puisi Ntah apa yang bisa kau janjikan untuk kami Ketenangan hati? Manifestasi nurani? Oh, ayolah Tak ada yang salah dari dunia modern ini Sedari dulu, bukankah kita sudah mengharapkan kedatangannya Segala upaya telah kita lakukan untuk mempersiapkan landasan dunia modern ini, lalu setelah dia sampai dengan barang bawaannya, kita sambut dia, kita tempatkan dia pada segala aspek yang melekat di diri kita. Input, proses, output diri kita harus MODERN!  Puisi Kau datang kembali,  Kau babak belur Barang bawaanmu dicuri Kau tak indah lagi Kau tak berarti apa-apa dibandingkan modernitas ini Puisi Apa lagi yang hendak kau sentuh di hidup kami Kau tak memiliki tempat di sini Enyahlah! Sedang modernitas ini begitu menggiurkan, kami ingin melesat dan menemui kehancuran yang disembunyikannya! Puisi Menyingkirlah! Semprong modernitas! Kami tak ingin terlambat! Kami ingin lumat dan tamat tanpa terlambat! 

Intrusi

Kau berkelana di dalam kepalaku Mencari-cari apa yang salah dari makna "bertanya" Kau katakan aku tak patut dan tak turut Menerka-menerka pikiran masa depanmu yang tertinggal di belakang Kita hendak berencana membuat perubahan, katamu Sebagai respons perubahan yang lebih dulu berubah, kataku Kau ajak aku ke dalam ceritamu Aku kesepian, ternyata sebagai pengarang, kau miskin fondasi dan substansi Semua benda mati yang ada di sekitar kita menjadi bermakna karena pemaknaan yang kita berikan sendiri, diri yang mengalami, diri yang bercerita, diri yang mengarang dan membual narasi dengan semaunya, ya, itulah kita, dengan pemaknaan itu juga kita saling menyakiti. Selamat merasakan sakit. Besok kita teruskan, terus kita rayakan dengan pemaknaan (re: bualan) baru yang lebih rapi dan bermutu

Belajar

"Mencipta adalah bentuk pemberontakan kita"      Begitu sebaris kalimat yang ditulis oleh Iwan Simatupang kepada sahabatnya Sularto dalam buku Surat-surat Politik Iwan Simatupang 1964-1966. Dari membaca kata pengantar yang ditulis oleh Frans M. Parera pada buku tersebut, aku benar-benar diantarkan kepada sosok intelektual Iwan Simatupang, yang moderat, yang sebisa mungkin berusaha tak ternodai oleh kubu mana pun yang sedang bertarung saat itu, yang mencoba mencari jalan dan pikiran alternatif sendiri. Buku yang belum habis kubaca itu berisi surat-suratnya dalam menanggapi situasi sosial, ekonomi dan budaya Jakarta, yang gundah, yang resah, yang tak sabar menunggu jawaban. Aku mencoba menulis keterangan tambahan atas dasar kemandirian pikirannya. Kurang lebih seperti ini:     " Dalam konteks belajar dari orang-orang yang lebih pandai, kita tak berniat menjadi epigon-epigon tanpa karya dan otentisitas yang nyata. Mungkin, kita mendongak kepada mereka pada kurun wa...