Postingan

Menampilkan postingan dengan label Cerpens (Cerita pendek sekali)

Permata

Saya mengenal Kartini DJA ini pertama kali saat kami bergabung dalam satu komunitas penulisan di DJA. Seorang teman yang menurut saya mempunyai hasrat belajar dan berprestasi yang begitu kuat dimanapun Beliau berada dan ditempatkan. Mungkin ini adalah buah dari doa yang disematkan oleh orang tua Beliau pada namanya ” Permata ”, sosok yang diharapkan akan sealau berkilau dimanapun dan kapanpun berada. Saat bertugas di Sekretariat Ditjen Anggaran, Beliau adalah salah satu dari inisiator dan pengelola media sosial DJA, sebuah corong media terkini untuk mengamplifikasi kebijakan pemerintah khususnya berkaitan dengan pengelolaan anggaran. Melalui tangan dinginnya, media sosial DJA semakin dikenal dan memperoleh banyak perhatian dan subscriber dari masyarakat. Dari dunia kepenulisan, Beliau juga pernah menjadi juara pada satu kompetisi menulis yang diselenggarakan oleh Bagian Pengembangan SDM DJA. Dalam dunia komunikasi Beliau menjadi langganan penugasan sebagai Master Of Ceremony untu...

Surat Cinta Untuk DJA

  DJA-kami tercinta, Ibu Menteri Keuangan Kita, Ibu Sri Mulyani Indrawati, dalam banyak kesempatan selalu mengingatkan kita untuk tak pernah lelah mencintai negeri ini.   Beliau pasti sangat paham bahwa ketika cinta yang bukan semata ungkap manis kata,   cinta yang   lebih banyak memberi ketimbang menerima, cinta yang dijelmakan karya akan   menguras emosi, pikiran dan tenaga mereka yang menyandangnya. Sebagai manusia biasa,   mungkin karena beratnya uji dan coba, terkadang muncul keinginan   menyerah dan menanggalkannya atau mungkin sekedar sejenak memberi   jeda pada rasa cinta itu.   Aku yakin, dalam masa pengabdianmu kau kerap mengalami juga, ketika karya- terbaikmu tak selalu menghadirkan apresiasi, namun justru caci maki, upayamu yang paripurna, terkadang justru menghadirkan cela.   Ibu pasti tak menginginkan kau berhenti atau menyerah, karena tugas dan pekerjaanmu demikian bermakna bagi negara, engkau bagian dari penjaga pun...

"'Sang Pejabat""

 Prolog Reformasi birokrasi yang   sudah beberapa saat dicanangkan pemerintah dan secara bertahap diterapkan telah menjadikan proses perekrutan, pengembangan,   mutasi dan promosi SDM dilakukan dengan pendekatan meritokrasi. Melalui pendekatan ini pengelolaan SDM didasarkan pada kompetensi dan kemampuan pegawai. Menurut hikayat, konsep meritrokrasi ini pada awalnya diperkenalkan oleh filsuf Aristoteles dan Plato (gak tahu bener atau gak)   yang menyatakan bahwasanya sebuah negara seharusnya dipimpin oleh orang-orang yang paling pandai, paling baik dan paling berprestasi. Dalam pendekatan meritokrasi, semua orang dalam organisasi mempunyai kesempatan yang sama untuk berkembang, mendapatkan promosi dan mutasi (tentu saja dengan catatan sesuai kebijakan organisasi). Tak ada lagi (semoga) pengembangan dan promosi yang dilakukan semata karena urut kacang, senioritas, gender dan/atau kedekatan kandidat dengan pejabat (dalam bahasa debat kandidat beberapa saat lalu, ini ...

LDR

Kalau kau tahu semua ketakutan yang kurasakan saat ini, aku yakin kau tak akan pergi dariku walau sedetik saja . Lembaran akhir buku harian kedua miliknya yang kubaca. Buku harian yang masih sama dengan buku harian sebelumnya. Sebuah buku biru berukuran sedang dengan gembok kecil di sisi luarnya. Belum usai perasaan syahdu yg menerpaku ketika kubaca buku harian pertama yg ditinggalkannya, ini bagai badai kedua yang hempasannya tak dapat ku tahan lagi. Air mataku tumpah bagai aliran sungai tanpa batas, memuntahkan semua emosi  penyesalan  dan rasa bersalah yang tercipta. Aku terkulai lemas di atas bekas meja kerjanya, bercengkrama bersama hayalan, mencoba meraih kenangan kembali bersamanya. Hatiku lumpuh, badanku runtuh, tak ada tenaga yang tersisa lagi untuk membuka lembaran berikutnya, hanya isak tangis yg terdengar bagai rangkaian nada yang tak beraturan. Aku ingin teriak memanggil namanya. Tapi apakah dia masih mendengarnya? Apakah sang waktu mau menyampaikan maaf d...

Ibuku Tak Sempurna

Gambar
  Ibuku bukanlah ibu yang sempurna. Dia tidak mempelajari ilmu parenting. Tidak juga memakai tips bagaimana mendidik anak. Bukan pula ibu yang mengganti kata 'jangan' dengan 'sebaiknya'.  Seringkali ibuku juga bersikap keras pada anak-anaknya.Yang kadang tak bisa kunalar dengan pikiran kritisku. Ibuku juga sering membiarkan anaknya mencari penyelesaian atas masalahnya sendiri walau di satu sisi ingin juga ikut campur kehidupan anak-anaknya. Walaupun tak sempurna bukan berarti ibuku tak pernah melakukan sesuatu yang heroik bagi anak-anaknya. Ibuku tak pernah membelikan anak-anaknya baju baru tapi ia menjahitnya untuk kami dengan renda bertuliskan nama kami di baju.  Tak pernah juga memberi uang untuk pergi ke salon untuk sekedar memotong rambut tapi ia memotong sendiri rambut anak-anaknya. Tak juga sanggup memberikan uang jajan berlebih tapi ia selalu memasak dan membuatkan cemilan untuk kami. Ternyata aku mendapatkan masa kecil yang bahagia di tengah keterbatasan walau ...

LELAKI INI DAN PEREMPUAN ITU DAN GUGATAN MASA LALU

Lelaki ini terperenyak. Sederet aksara bersungkup rahasia menggugat bayangannya. Menyeret paksa luka-luka lama, menggenangi diri dengan darah basi. Menggurati hati yang bahkan sudah tidak ada spasi. Lelaki ini tak tahu lagi. Harus tertawa geli atau menangis sedih. Cinta coba-coba, mencumbu nafsu di sudut-sudut kota adalah masa lalu yang sudah terbingkai rapi. Terpajang di bilik-bilik sunyi  patala [1] . Menggugahnya tak ubah memicu daiwi astra [2] , akan menghancurkan bahkan yang tak berdosa.  * "Ini kupat tahu paling enak se-Asia Tenggara" bual Perempuan itu lucu. Lelaki ini hanya tertawa. Mana ada kupat tahu diperingkat layaknya sekolah. Kupat tahu itu mungkin bukan yang terenak seperti bualannya, tapi menikmatinya akan selalu dirindui bertahun-tahun setelahnya. "Coba lihat tumpukan bunga-bunga ungu itu!" Perempuan itu sudah berpindah lagi. Cepat sekali layaknya gonta ganti kanal televisi. Dilihat sekilas, tak suka lalu ganti. Lelaki ini cuma geleng-gelen...

Lelaki Ini Dan Perempuan Itu Dan Waktu Yang Tak Mau Berhenti

Hujan. Lagi. Namun tak seramai tadi. Pasukan tirta terjun lembut bagai prajurit berparasut. Mendarat lalu berebut mencari lubang semut. Lelaki ini memejamkan matanya. Menangkap hening, mencoba menyerap hembusan nafas-nafas yang mendengkur halus. Mendengarkan derap kaki kelabang yang tergopoh menghindar tenggelam. Layar monitor itu masih kosong. Hanya tertulis Document1-Word. Dan kursor yang tak lelah berkedip menggoda. Sesekali terlihat mencela “ayooo…mana tintamu? Hentakkan jemarimu…tidakkah kau lihat aku sudah menunggu lama?”. Lelaki ini tak acuh. Diraihnya cangkir kopi, sial tinggal tetesan terakhir. Cangkir ketiga dalam 3 jam 25 menit ini. Bercak coklat kehitaman membekas. Lelaki ini sedetik tergidik, membayangkan bercak yang sama di lambungnya. Lelaki ini masih terdiam di kelengangan. Tak ada angin, hujan pun sudah sudah lelah turun. Menyisakan gigil dan petrichor . Tadinya lelaki ini ingin membuat puisi. Menyamarkan rasa dalam kata-kata berima. Mengisyaratkan cinta di...

Trauma

Ketika matahari baru menampakkan diri, ia berjalan menuju pantai seraya mengukur batas cakrawala. Hari ini cerah, batinnya. Sedikit sisa angin malam melewatinya lalu pergi terusir matahari yg kian tinggi. Ombak datang dan pergi mengiringi langkah laki-laki itu. Setiap kali ia menjejakkan kaki, ombak datang menghampiri, menghapusnya. Sesekali ia menoleh ke belakang menyaksikan jejak-jejaknya yg hilang. Dalam diam pikirannya berkata, 'Ah, seandainya semudah itu menghapus semua kenangan ini' Pantai itu indah, juga tenang. Sedikit sepi karena tempatnya yg tersembunyi. Tempat yg cocok untuk menentramkan diri atau mencari inspirasi. Namun laki-laki itu sepertinya bukan berada diantara keduanya karena ia hanya berjalan tak lama lalu pergi entah kemana. Sorenya ia kembali. Tak lagi berjalan, ia hanya duduk di pinggir pantai. Hanyut dalam lamunan. Terkadang bibirnya terlihat bergerak mengucap kata yg entah apa. Tampaknya ia tengah membiarkan berbagai kenangan muncul bergantian di layar ...