Postingan

Menampilkan postingan dari Juli 4, 2021

LINDAP

Dalam lelah Kau resapi tanpa kesah Dalam letih Kau tuntaskan darma bakti Dia laksana cahaya senantiasa berpendar menghalau gulita Dia laksana embun Menyerap dingin malam Meneteskan kesejukan Cahaya itu Telah lindap Embun itu Telah meng-uap Meski rindu Tak dapat lagi berpadu Lepaskan rasa itu Biar ia tenang di sana Tak ada lagi luka Tak ada lagi nestapa

Halte

Siapa yang sebenarnya menunggu? Karena jiwa jiwa yang merdeka Membebaskan pikirannya untuk selalu melaju Tanpa pola,   tanpa lintasan, Tanpa tepi,  tanpa batasan meski raganya tergeletak di ruang tunggu (wahidin , 3 januari 2020)

Genting

( 1) wabah yang bermula di negeri asing belum ada tanda  berpaling, menghadirkan rona genting pada wajah  kota yang compang camping (2) orang orang berkerumun di pintu samping, pintu keluar masuk ditutup jaring resiko terpapar yang mengiring tak lebih menyeramkan dari periuk nasi yang terguling (3) air mata-air mata tak kunjung mengering sahabat kerabat bergiliran diam terbaring  tersengal sengal nafas di ujung laring di teras depan, bunga duka cita kemarin belum lagi kering (4) sirene ambulance melengking suara toa musala tak kalah nyaring memecah malam  yang hening atau menyobek siang yang bising Kabari, tangan maut datang teramat sering

Lelayu (2)

Seorang teman  membagikan kabar, telah pergi dengan tenang  hari sabtu dan minggu, dari kalender mejanya, kamipun bersyukur, masih punya, meski sabtu dan minggu-kami   mengajak selalu berdiam di rumah saja (4 Juli 2021)