Postingan

Menampilkan postingan dari Oktober 13, 2019

Kuburanku

Ini adalah kuburanku Yang ku gali sejak bertahun-tahun lalu Dengan riuh tawa dan derai air mata palsu Dalam episode kehidupan semu Kuburanku tampak kusam Tergilas pedihnya kemarau panjang Tertampar panasnya mentari dan hembusan bayu yang menghempas dedaunan kering Dari sebuah pohon sekarat di sisi kuburanku Tak ada yang sudi melihat kuburanku Selain aku Karena ia terus memanggilku Dengan suara paraunya yang sumbang di dengar Entah kapan hujan bertamu ke kuburanku Membasahi tanah merah di sekelilingnya Mengusir debu yang menyelimuti Yang dengannya kelak rerumputan dan pepohonan menghijau Akankah senyum kan mengembang Dari para peziarah yang datang Menatap kuburanku Yang didalamnya bersemayam jasadku Seraya berdoa; semoga RahmatNYA tercurah kepadamu

Pesona Separo Agama (2)

Kelam shubuh perlahan berganti terang, pertanda pagi kan menjelang. Jauh di ufuk timur, mentari tampak mendaki cakrawala, menebar kehangatan. Cahaya kuning keemasan perlahan menembus jendela kaca. Kerlap-kerlip terhalang dedaunan Mangga. Dari kejauhan, sayup-sayup terdengar deru motor dan mobil silih berganti. Sesekali diselingi suara penjual gorengan, berlalu lalang, menjajakan pisang memutari komplek Pandega Marta.  Bagi sebagian orang, melanjutkan tidur di pagi akhir pekan adalah kenikmatan yang tiada duanya. Apalagi kalau hujan, bersembunyi di balik selimut tebal sungguhlah nikmat Tuhan paling hakiki. Namun tidak bagi Izzam, Fattah, dan Ardi. Dua tahun mereka ditempa. Tak hanya diajari aqidah, fiqih, dan tafsir, melainkan juga shiroh . Saban hari ditausiahi bagaimana Nabi dan para sahabat memulai pagi, keutamaan berlama-lama di masjid sembari menunggu waktu syuruq , dan sebagainya. Tak heran ketika mata begitu berat, selalu saja terngiang di benak mereka QS. Al Jumu’ah...