Postingan

Menampilkan postingan dengan label Indra Koerba

Aku, Dia dan Hubungan Hemat Kuota Tanpa Rasa

 Senin,  06.30 A.M Dia      : "Pagi Mas.." Aku     : "Pagi Sayangku, dah dimana?" Dia      : "Sudah di tol" Aku     : "Ok, sarapan?" Dia      : "Aku puasa Mas" 07.16 A.M Dia      : "@ofis" Aku     : " same here , selamat beraktivitas 😘😘" Dia      : "😘😘" 12.01 P.M Dia     : "Mas udah makan?" Aku   : " udah, nitip OB tadi" 16.47 P.M Dia      : "Aku pulang ya Mas" Aku     : "Ok" 18.24 P.M Dia      : "@hom" Aku     : "Ok" 21.53 Dia      : " nite Mas" Aku     : " nite Sayang" Selasa....Rabu...Kamis... Jumat 06.24 A.M Dia      : "Pagi Mas" Aku     : "Pagi Sayang" 07.12 A.M Dia      : "@ofis" Aku     : "Ok, selamat beraktivitas Dia      : "😘" 11.49 A.M Dia      : "Aku maksi sama temen ya" Aku   ...

Si Pujangga Itu dan Mesin Ketiknya

Si Pujangga itu mengetik kisahnya dengan mesin ketiknya itu. Dengan pandai dia merangkai kata-kata yang dia dapat dari imajinasi dan angan-angannya. Selesai, rangkaian kata-katanya begitu indah. Namun si Pujangga merasa tulisannya tidak menyelesaikan angannya, maka disobek dan dilemparkannya di tong sampah dekat meja kerjanya yang sudah penuh dengan sobekan kertas. Kemudian si Pujangga pun tertidur.  Terbangun si Pujangga ini karena kicauan burung dekat jendelanya dan matahari sudah bersinar terang. Ditarik mesin ketiknya, dimasukkan kembali sehelai kertas kosong dan mulai menulisnya. Menulis kisah yang sama. Namun dengan rangkaian kata-kata yang berbeda. Selesai. menghela nafas lega, namun kembali disobeknya lagi. "Aku tak butuh kisah ini disimpan. aku hanya ingin mengosongkan hatiku saja" hari pun menjelang malam dan dia tertidur. Pagi itu, dia terbangun dengan kehilangan kesadarannya, apakah itu mimpi atau kenyataan. Akhirnya dia tersadar bahwa itu adalah mimpi.  Mimp...

LELAKI INI DAN PEREMPUAN ITU DAN TENTANG HUJAN

"Hujaaann...!", teriak serempak Lelaki Ini dan Perempuan Itu.  Sedetik, lalu mereka tertawa. Penuh arti. Mengeratkan jemari. Menikmati titik-titik air yang membasahi kaca depan Benzo, panggilan untuk mobil mereka. Hujan, bagi mereka bukan sekedar fenomena alam. Hujan itu sakral. Hujan itu kenangan, rasa. Hujan itu pesan rindu yang tertumpah. "Mas tau gak? ", Perempuan Itu merajuk. "Hujan itu kan pesan kangenku", lanjutnya.  "Hahaha... gombillll.. !!!", gelak Lelaki Ini. Sambil mencubiti gemas pipi gembil Perempuan Itu. Bibirnya manyun , menggemaskan. "Ya udah kalo Mas ga percaya", Perempuan Itu merajuk. "Biar rindu ini aku tahan sendiri". Alih-alih kesal, Lelaki Ini malah tambah gemas. Rindu mereka pun tumpah ruah. Bagai magnet yang saling menarik. Bergerak harmoni ditingkahi air hujan yang kian deras menjejaki bumi. * Hari ini, belum genap satu bulan dari hujan yang lalu. Lelaki Ini sendiri. Menyesap keheningan yang mulai men...

LELAKI INI DAN PEREMPUAN ITU DAN HUJAN HARI ITU

Hujan. Lelaki Ini selalu suka hujan. Baginya, titik pertama air hujan bagaikan satu ketukan metronome. Mengorkestrasi titik-titik berikutnya. Dua, tiga, lima, tujuh, seribu sampai tak hingga ketukan. Lelaki Ini memejamkan mata, menajamkan telinga. Mencoba menangkap ketukan demi ketukan yang mencipta kata. Ketukan yang menciptakan jeda, hingga terangkai kalimat indah. Lelaki ini tersenyum. Sedikit pongah, sebagai indu - ra , sang penguasa hujan.  Sampai akhirnya cambuk Zeus menyadarkannya. Dirinya tak lebih curahan awan yang lelah menahan gelisah. Menjadi genangan, lalu buyar oleh riak roda kereta besi. Hujan masih menyampaikan pesan. Satu satu lamat tersamar. Lelaki Ini mengumpulkan asa yang tersisa. Lalu kecewa. Ketika hujan tidak menyampaikan apa-apa. Hanya hening panjang penuh prasangka. Lelaki Ini terluka, laksana tanah dicecar pasukan tirta. *** Hari itu harusnya mudah. Tidak beda dengan hari-hari lainnya. Semua tugas bisa tuntas. Hanya beberapa rapat ini itu. Mudah saja. Kema...

Lebih Baik Aku

Lebih baik aku bungkus saja rindu ini,  dengan bekas bungkus nasi padang. Ku buang. Pemulung datang. Berharap dapat rendang.  Kecewa,  karena hanya bungkusan asa. Kucing mengendus, kaget.  Ada rindu di bungkus nasi padang. Mengeong.  Kembali ke pangkuan tuannya. Yang sedang sibuk menulis rindu: pada awan, berharap terkirim lewat hujan pada angin, agar menyelinap dari kisi-kisi yang tak rapat pada air, supaya menggenang di setiap cerukan dan pada sebungkus nasi padang, siapa tau kekasihnya lapar. Jakarta, 17012023

LELAKI INI DAN PEREMPUAN ITU, DAN JEDA YANG MENYIKSA

"Aku tidak suka sore ini!" rajuk Perempuan Itu.  "Hujan, senja, dan kita akan berjeda" lanjutnya dengan mata yang mulai basah.  Suaranya parau. Putus asa. Seketika hampa menerpa. Hanya jemari bertaut mengungkapkan rasa. "Hei, sayang....ini hanya jeda, bukan pisah" bujuk Lelaki Ini. Ada ragu yang coba dikuatkan disana.  " Lagian , kita kan bukan Agnes Monica", Lelaki Ini tiba-tiba bergaya menirukan Agnes Monica. Menyanyikan Tak Ada Logika. Perempuan Itu tertawa. Lelaki Ini selalu bisa mengubah lara jadi ceria. Mungkin itu yang membuatnya tergila-gila. Membuatnya gundah, meski hanya berjeda.  "Hanya berjeda ya?" yakin Perempuan Itu lagi. Lelaki Ini hanya mengangguk sambil membentuk mulut Badtz-Maru . Minta digigit banget gak sih?. Lucu tauk! .  *** Pagi masih muda. Perempuan Itu memarkir mobilnya di halaman kafe itu. A simple hidden favourite place .  Langkahnya terhenti ketika titik air menyentuh lengannya. Perempuan Itu menengadah. Hu...

LELAKI INI DAN PEREMPUAN ITU, DAN LELAKI ITU

"Melasi Ndhuk"*  lirih Lelaki ini, dengan logat non Jawa-nya. Perempuan itu tidak peduli. Hangatnya pelukan Lelaki ini sudah cukup. Paling tidak, dia bisa berlabuh sesaat. Meluruhkan lelah, menumpahkan air mata. Perempuan itu juga tidak peduli, sudah berapa perempuan bersandar di sana. Baginya, saat ini Lelaki ini miliknya. Pemenang hatinya. Perempuan itu sadar, jalan hidupnya tidak sederhana. Apalagi cerita cintanya. Dia bukanlah puteri raja ataupun Cinderella. Tapi, apa tak pantas, sekali saja dalam hidupnya, menyerahkan hati kepada pemenangnya?.  *** Di sudut lain dunia. Lelaki itu gelisah. Perempuan itu mulai tidak biasa. Telpon tak dijawab, pesan singkat tak berbalas. Arogansinya terganggu. Apa kekangnya sudah tak mempan?. Tapi ego-nya segera berbisik "sudahlah, bagaimanapun kamu tetap penakluknya, kamu pemiliknya ". Bisikan yang menenangkannya. Menerbitkan sesungging senyum. Senyum kemenangan semu. *** Ibarat syair lagu. Cinta Lelaki ini dan Perempuan itu buka...

LELAKI INI DAN PEREMPUAN ITU DAN BUNCAHAN RINDU

Lelaki ini rindu. Perempuan itu juga. Membuncah. Hujan mengalir tanpa spasi. Layaknya skripsi yang tak kunjung jadi. "Pakkkk....!", jengah Perempuan itu. Mata bulat indahnya melotot penuh. Alih-alih seram, malah menggemaskan. Lelaki ini tertawa. Jahil. "Whaaat...!?, balasnya. "Gak usah usaha deh", rajuk Perempuan itu. Lelaki ini tergelak lagi. Lelaki ini tau pasti. Dalam situasi yang berbeda, tatapannya tadi akan menciptakan medan magnet yang kuat. Perempuan itu akan menjadi seganas kobra memangsa korbannya. Tanpa dikomando Lelaki ini dan Perempuan itu terbahak. Mengundang tatap heran dari sekitar. Mereka tak peduli. Pipi Perempuan itu memerah. Bersungut-sungut menuntaskan gelato terakhirnya. Lelaki ini masih menahan tawa. Sungguh, rasanya sudah bukan ratusan purnama lagi mereka tak jumpa.  Senja sudah semakin tua. Udara dingin mulai menyergap. Sisa-sisa hujan masih menyisakan genangan. Satu dua jangkrik sudah menuju pos jaga. Lelaki ini dan Perempuan itu masih...

LELAKI INI DAN PEREMPUAN ITU DAN HUNJAMAN RINDU

Hujan. Lelaki ini suka hujan. Tak peduli di bulan Juni, November atau Januari. Seperti sore ini. Beberapa hari menjelang pergantian musim. Langit menumpahkan triliunan tirta. Berbaris rapi menuju bumi. Mendarat dengan tertib di atap-atap rumah, pohon, daun, dan tanah. Meluruhkan debu bagai sang ibu memandikan bayinya. Tidak tergesa, tidak pula terlena. Titik-titiknya terorkestrasi dengan indah. Menghadirkan rindu. Hujan yang awet, ujar Perempuan itu di suatu waktu. Lelaki ini teringat kembali waktu itu. Hujan yang sama. Lelaki ini dan Perempuan itu duduk di teras rumah. Secangkir kopi sachet dan semangkok mie, cukup sudah. Perempuan itu juga suka hujan. Tapi di bulan Juni. Aku selalu ingat saat pertama kita jumpa, jawab Perempuan itu ketika Lelaki ini bertanya kenapa. Saat itu bulan Juni, hari hampir berganti. Tapi hujannya tidak seperti ini. Bagaimana kalau tidak ada hujan di bulan Juni? Apakah lalu kamu tak ingat aku? kejar Lelaki ini. Perempuan itu merajuk. Bahkan saat hujan tak tur...

LELAKI INI DAN PEREMPUAN ITU DAN DUA HATI YANG TAK LAGI SATU

Perempuan itu menuliskan hidupnya. Tintanya air mata, jeluangnya serpihan hati. Merangkai diksi dengan hati-hati. Penuh arti namun tetap tersembunyi. Perempuan itu tahu, tak mungkin bebas dari terungku. Tidak saat ini, disaat masih memperjuangkan buah hati. Entah nanti, meski dia tahu mungkin itu artinya mati. Perempuan itu lelah. Perjalanan melelahkan ini tak pernah terangan-angan olehnya. Namun semua  sudah tertulis, tiada daya kecuali berprasangka baik bahwa inilah yang terbaik. Perempuan itu juga sadar, dirinya tangguh, harus begitu. Tak boleh luluh. Tidak saat ini, saat cita-cita hampir diraih. *** Di sudut lain kota, hanya berjarak sekian depa, lelaki ini terlucuti. Membaca cerita yang penuh drama. Seolah tak nyata namun penuh fakta. Ada tawa di sana, banyak juga air mata. Bagai piala, berpindah-pindah di tangan sang jawara. Lelaki ini terkadang bahagia, dirinya bukan satu-satunya. Tapi kisah-kisah itu memaksa untuk percaya bahwa dia-lah penyebab semua malapetaka. *** "Kamu ...

LELAKI INI DAN PEREMPUAN ITU DAN ILUSI RASA

Lelaki ini sadar, mustahil melupakan masa lalu. Tidak yang satu ini. Yang dapat dilakukannya hanya mencoba untuk tidak mengingatnya. Tapi, lelaki ini juga tahu, tak mungkin dia mampu mengontrol ingatannya. Ingatan itu begitu membekas. Selalu datang, terang benderang bagai rekaman yang diputar ulang. Seberapa kuat lelaki ini bertahan, sekuat itu pula kenangan datang menyerang. Jelas dengan pernik rupa, kata dan rasa. Mewujud semudah pesulap mencipta bunga dari selampai. Dalam hati, mimpi bahkan deja vu. Lelaki ini merasa mungkin dia kurang berusaha, tapi mungkin juga karena sadar hal tersebut akan sia-sia. *** Perempuan itu juga sama. Hatinya sudah terendam getirnya air mata. Berlumur cinta tanpa asa. Kalaulah ada pujangga menuliskan hati tersayat, terkoyak, luka atau apalah, mungkin harus terlahir kembali untuk mencari madah yang menggambarkan hati perempuan itu. Perempuan itu sadar, pertahanannya lemah. Hatinya tidak terjaga. Entah karena lelah, atau karena lelaki ini yang luar biasa....

Bangkai Rasa

                     Terkadang,                    kita sibuk menggali  bangkai rasa.                     Tak hirau,                 akan rasa baru yang meranggas layu.                   Jakarta, 08092021                  

DUA HURUF

Dua huruf saja, lalu semua beban berpindah dari atas ke bawah Dua huruf saja, lalu berkerut kening di hamparan tombol huruf dan angka Dua huruf saja, lalu berbalas berlembar kata dan data dari bawah ke atas Dua huruf saja, atau cukup centang kolom isian agar tak terlalu merepotkan dan buang tenaga Dua huruf saja, TP, atau "Teliti Pendapat " Jakarta, 31082021

CATUR

Kasus Dadang Subur alias Dewa Kipas versus Levy Rozman alias GothamChess serta dwi tarung Dewa Kipas melawan GM Irene di podcast Deddy Corbuzier, ternyata mengembalikan lagi kebiasaan saya bermain catur. Saya malas bermain catur daring, karena menurut saya salah satu seni permainan catur adalah permainan emosi pemain yang saling berhadapan. Ketika akhirnya saya mengunduh aplikasi catur, pertama lebih karena anak saya yang bungsu ternyata selama ini bermain catur daring; kedua, ya terdorong rasa penasaran, kok bisa Pak Dadang bisa dapat rating 2000+ dalam waktu 2 minggu?. Bermain catur daring ternyata menyenangkan. Pertama, kita bisa bermain 24 jam dan dengan lawan dari seluruh penjuru dunia. Kedua, ternyata unsur emosi juga tetap terlibat, baik secara pribadi maupun melalui chat room  yang difasilitasi aplikasi. Ketiga, fitur aplikasi yang saya gunakan ternyata cukup lengkap, sehingga saya bisa sekalian belajar dari permainan-permainan yang sudah saya lakukan. Yang terakhir, ada se...

Lelaki ini dan Topengnya

Sepi. Lelaki ini selalu suka sepi. Suasana yang membuatnya bebas melepaskan topeng. Topeng yang selama ini menjadi wajahnya. Topeng yang selalu dilihat teman-temannya. Menjadi puja-puji sanak saudara. Topeng yang menghadirkan keamanan dan kenyamanan keluarga.  Saat sepi, saat sendiri, semua topeng itu ditanggalkannya. Mengistirahatkan kelelahan jiwa. Mengembalikan kesadaran yang hampir hilang entah kemana. Manusia hina, penuh aib dan dosa. Selalu penuh tipu daya dan pura-pura. Sepi ini selalu dirindunya. Saat-saat dimana dia berteriak, menjerit, menangis, menyesali semua kebajingannya. Atau, dia malah tertawa terbahak, mengenang betapa panggung hidup mengelu-elukannya. Tertipu oleh ciamiknya topeng dan peran yang dibawakannya.  Tidak, lelaki ini tidak merasa bersalah. Hanya lelah. Itupun tidak selalu mengganggu pikirannya. Bukankah menurut Ahmad Albar, hidup ini memang panggung sandiwara? Tiap manusia punya peran, entah wajar entah pura-pura. Manusia selalu punya topeng. Minim...

Lelaki Ini dan Perempuan Itu dan Kenangan Tersisa Abu

Perempuan itu berdiri, gelisah. Sejuknya pusat perbelanjaan mewah ini tak juga menenangkan hatinya. Terlihat sekali usaha kerasnya terlihat biasa. Mondar-mandir tak tentu arah. Membuang senyum menjawab sapa pramuniaga. Lelaki ini menatapinya dari jauh. Sudah 5 menit berlalu dari janji temu, tapi dia berusaha memastikan dulu. Pahatan memori bertahun lalu masih lengkap liku ukirnya. Perempuan itu dengan kuncir kuda dan ransel biru muda, kikuk menapaki dunia dewasa penuh serakah. Kasat mata tak banyak yang berubah. Tapi lelaki ini terlalu perasa untuk tak menduga. Perlahan didatanginya perempuan itu. "Assalamu'alaikum", salamnya lirih. Hanya sejengkal di belakang telinga. Perempuan itu terlonjak, menoleh untuk memastikan. "Wa'alaikumussalaam..." jawabnya setengah tercekat. Sedetik jeda sebelum lelaki ini memeluknya, diantara tatap praduga. Perempuan itu membalasnya. Sejenak tersengat karena ini kali pertama sepanjang persahabatan mereka. "Gaya bener lu ng...

Rindu Yang Lelah Bertamu

Ini sudah kali ketiga,  tepat di akhir prahar kelima, rindu tak jua mengetuk pintu; Entah dia lelah  dengan kudapan  yang itu-itu saja: sepiring asa dan secangkir dusta; Entah dia lelah duduk menunggu tanpa kata, lalu berlalu tanpa cinta;  Entah dia lelah menyingkat waktu,  lalu kembali jadi rindu. Jakarta, 07072020

LELAKI INI DAN PEREMPUAN ITU DAN GUGATAN MASA LALU

Lelaki ini terperenyak. Sederet aksara bersungkup rahasia menggugat bayangannya. Menyeret paksa luka-luka lama, menggenangi diri dengan darah basi. Menggurati hati yang bahkan sudah tidak ada spasi. Lelaki ini tak tahu lagi. Harus tertawa geli atau menangis sedih. Cinta coba-coba, mencumbu nafsu di sudut-sudut kota adalah masa lalu yang sudah terbingkai rapi. Terpajang di bilik-bilik sunyi  patala [1] . Menggugahnya tak ubah memicu daiwi astra [2] , akan menghancurkan bahkan yang tak berdosa.  * "Ini kupat tahu paling enak se-Asia Tenggara" bual Perempuan itu lucu. Lelaki ini hanya tertawa. Mana ada kupat tahu diperingkat layaknya sekolah. Kupat tahu itu mungkin bukan yang terenak seperti bualannya, tapi menikmatinya akan selalu dirindui bertahun-tahun setelahnya. "Coba lihat tumpukan bunga-bunga ungu itu!" Perempuan itu sudah berpindah lagi. Cepat sekali layaknya gonta ganti kanal televisi. Dilihat sekilas, tak suka lalu ganti. Lelaki ini cuma geleng-gelen...

Untukmu dan Bagiku

Untukmu, ini biasa saja,        melepas sapa,         tersenyum renyah,        lalu berlalu begitu saja. Bagiku, ini artinya:        terjaga lebih dini,        mandi lebih bersih,        berkumur mouthwash  kering di gigi,        menata rambut bagai Om Rudy        mengacak-acak isi lemari,        memadu padan flanel dan warna khaki ,        memilih boot  atau sepatu sporty ,        menjaga sandar agar tak kusut lipatan,        menata kata sambil merapal doa,        agar tenang dan terlihat biasa,        menghitung langkah agar tepat bersua. Lalu kau lewat,         menyapa dengan senyum biasa,        aku cuma bisa menyeringai kuda, ...

Lelaki Ini Dan Perempuan Itu Dan Waktu Yang Tak Mau Berhenti

Hujan. Lagi. Namun tak seramai tadi. Pasukan tirta terjun lembut bagai prajurit berparasut. Mendarat lalu berebut mencari lubang semut. Lelaki ini memejamkan matanya. Menangkap hening, mencoba menyerap hembusan nafas-nafas yang mendengkur halus. Mendengarkan derap kaki kelabang yang tergopoh menghindar tenggelam. Layar monitor itu masih kosong. Hanya tertulis Document1-Word. Dan kursor yang tak lelah berkedip menggoda. Sesekali terlihat mencela “ayooo…mana tintamu? Hentakkan jemarimu…tidakkah kau lihat aku sudah menunggu lama?”. Lelaki ini tak acuh. Diraihnya cangkir kopi, sial tinggal tetesan terakhir. Cangkir ketiga dalam 3 jam 25 menit ini. Bercak coklat kehitaman membekas. Lelaki ini sedetik tergidik, membayangkan bercak yang sama di lambungnya. Lelaki ini masih terdiam di kelengangan. Tak ada angin, hujan pun sudah sudah lelah turun. Menyisakan gigil dan petrichor . Tadinya lelaki ini ingin membuat puisi. Menyamarkan rasa dalam kata-kata berima. Mengisyaratkan cinta di...