KRL Mania (1)



Sebagai orang yang hidup pada jaman milenial atau jaman “now”, saya sangat akrab dengan berbagai jenis transportasi publik. Mulai dari angkot, angkutan online baik roda dua maupun roda empat, segala jenis bis baik dalam maupun luar kota, dan kereta Jabodetabek maupun kereta luar kota. Kali ini saya akan menuliskan kisah mengenai pengalaman saya bersama kereta Jabodetabek atau lebih terkenal dengan nama KRL. KRL adalah kepanjangan dari kereta rel listrik.
Bukan soal teknis kelistrikannya yang ingin saya ceritakan disini, tapi pengalaman batin saya bertahun-tahun intim dengan KRL. Saya akan ajak pembaca berkelana dari mulai lobby stasiunnya. Kebetulan saya biasa naik dari stasiun Depok Baru. Stasiun Depok Baru berada diantara stasiun Depok Lama dan stasiun Pondok Cina. Dari arah Jakarta stasiun Depok Baru berada setelah stasiun Pondok Cina. Sedangkan dari arah Jakarta, berada setelah stasiun Depok.
Biasanya saya sudah berada di stasiun Depok adalah pukul 05.25 pagi (perjuangan yang lumayan keras ya). Saya biasa naik KRL jurusan Depok-Jakarta Kota dengan jadwal jam 05.30. Saya memilih jadwal perjalanan pagi karena biasanya KRL belum terlalu penuh sehingga saya masih bisa berdiri dengan nyaman tanpa bersentuhan bahu dengan penumpang lain.
Hal yang paling mudah diamati dalam perjalanan pergi pulang ke dan dari kantor adalah sikap-sikap manusia yang menggunakan moda transportasi KRL jabodetabek. Berbagai macam tingkah manusia yang kadang bisa bikin tersenyum manis, tertawa, tersenyum kecut atau pun cemberut dan kesal berkepanjangan. Saya paling senang memperhatikan tingkah laku para penumpang KRL (tapi saya tidak termasuk ya karena tidak etis juga menilai diri sendiri).
Biasanya di loket pembelian kartu yang berlaku sebagai tiket, banyak orang antri menunggu gilirannya dilayani petugas. Kebetulan di stasiun Depok Baru belum ada mesin tiket jadi masih manual. Disitulah bisa terlihat kalau sebagian penumpang KRL belum bisa mendisiplinkan diri sendiri. Struk pembelian kartu banyak berserakan di lantai padahal tempat sampah terdapat tidak jauh dari pandangan mata mereka. Mungkin mereka merasa bahwa toh nantinya ada petugas yang akan membersihkannya. Ah terlalu memang.
Beralih ke gerbang “pengetapan” (maafkan saya apabila kata yang dipakai tidak ada dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia. Orang biasanya bergegas ketika baru memasuki gerbang stasiun tapi announcer sudah mengumumkan bahwa kereta akan masuk stasiun. Tentu saja orang yang terburu-buru mengejar kereta  akan berlari sekuat tenaga bagaikan tokoh Forrest Gump yang diperankan aktor Tom Hanks dalam film berjudul sama. Saya pun pernah melakukan hal seperti itu. Saking takutnya ketinggalan kereta yang biasa dinaikin pada jadwal yang sama setiap harinya, kadang saya lupa kalau usia saya sudah menjelang senja dan lutut sulit berbohong bahwa saya masih sekuat dulu.
Saya bisa agak lebih santai apabila datang lebih pagi dari kereta yang biasa dinaikin. Jadi saya bisa menunggu di peron stasiun. Biasanya saya duduk dengan posisi punggung-punggungan romantis dengan penumpang lainnya pada kursi yang menurut saya lebih mirip jemuran.
Pada saat menunggu biasanya ada orang yang membaca koran (walau jaman “now” sudah jarang orang yang membaca koran karena kebanyakan jadi korban gadget), ngobrol dengan teman atau pasangannya, dan bengong sendirian kalau orang itu masih jomblo (mungkin juga sambil matanya jelatatan, siapa tahu ada cewek atau cowok yang bening).
Setelah melakukan pengamatan mendalam, bisa saya pastikan kalau 9 dari 10 orang sedang memegang ponsel (betapa kurang gaulnya manusia jaman “now” ini). Kalaupun mereka berkelompok, seringkali mereka lebih sering berkomunikasi dengan ponselnya masing-masing (tentu saja termasuk saya).
Ada kebiasaan orang kalau duduk di kursi “jemuran” yang menyulitkan orang lain yang sehingga mengurangi jatah orang lain yaitu menyimpan barang bawaannya di bangku. Menyulitkan karena otomatis ketika seseorang ingin duduk, orang tersebut harus mengeluarkan bunyi dari mulutnya untuk memohon agar bisa diberikan peluang untuk duduk juga. Mungkin seharusnya orang yang sedang duduk mengerti keinginan orang lain untuk duduk tanpa diminta.
Ketika kereta datang dan kemudian pintu terbuka, orang akan berebut masuk. Padahal sebenarnya kan bisa saja antri satu persatu. Bahkan bisa saja sikut mengenai tubuh orang lain. Apalagi kalau seseorang ngintip dari jendela kereta terlihat ada bangku yang kosong, jangan harap orang itu akan tertib masuk kedalam kereta, siap-siap saja ada yang jadi korban. Setelah kaki menginjak kereta langsung orang tersebut lari ke arah bangku kosong agar tidak keduluan orang lain untuk duduk tanpa peduli ada orang kesenggol atau jatuh karena ulahnya. Untuk yang satu ini saya akui, saya juga pernah berebutan tempat duduk walau seringnya saya kalah langkah dan akhirnya menunggu belas kasihan orang lain untuk duduk. Biasanya kalau lawannya banyak saya kalah atau mengalah. Kecuali kalau lawannya cuma satu dan bapak-bapak pula saya bisa menang.

Penjual Sapu Lidi


“Salim....,” suara cempreng Emak berteriak memekakkan telingaku. Kutarik kembali selimut menutupi seluruh tubuhku. Kebiasaan Emak yang kubenci adalah teriakan khas yang selalu menggema setiap pagi.
                “Salim, bangun. Jangan tidur melulu. Cari kerja sana!” cerocos Emak sambil menarik selimutku. Emak membuka gorden jendela kamarku. Cahaya matahari menerobos dan menyilaukan pandanganku.
                “Emak, aku masih ngantuk,” Aku menutupi lagi tubuhku dengan selimut.
                “Anak nggak tau malu. Anak-anak seumur kamu sudah pada kerja semua, bahkan ada yang sudah punya anak. Ini kamu masih terus begini. Pengang......”.
                “Stop, Mak!” tukasku. Aku sudah hapal isi ceramah Emak setiap hari di waktu dan tempat yang sama.
                “Mak, aku kan udah bilang belum ada lowongan pekerjaan yang cocok sama ilmuku,” jawabku sekenanya.  Kupasang muka cemberut. Rasanya bosan setiap hari mendengar kecerewetan Emak soal statusku yang masih pengangguran.
                “Gimana mau dapat pekerjaan kalau kerjanya tidur terus,” suara Emak kembali melengking.
Kuambil bantal untuk menutupi mukaku. Tiba-tiba kakiku serasa dingin dan basah. Rupanya Emak menyiramkan air ke kakiku.
                “Emak.......” aku berteriak meluapkan kekesalan. Kali ini Emak sudah keterlaluan mengusikku. Rasanya aku ingin balas dendam tapi apa daya kehidupanku masih sangat bergantung kepadanya.
                “Jaga warung. Emak mau ke rumah mpok Sarih, suaminya jatuh di kamar mandi dan nggak bisa bangun. Dia nggak punya uang buat bawa suaminya ke rumah sakit,”
                “Emak ini, selalu ngurusin orang lain. Anak sendiri lupa diurusin,” ujarku kesal.
                Mata Emak mendelik ke arahku. Diambilnya sapu ijuk seolah mau memukul diriku. Akupun berlari ke kamar mandi menghindari kebuasan Emak.
                “Makanya setiap hari bangun pagi. Jalan-jalanlah di kampung kita. Sapa tetanggamu, lihat keadaan sekeliling. Jangan cuma ngumpet di kamar!” suara ceramah Emak membuatku pusing.
                Secepatnya kusingkirkan selimutku. Tanpa mencuci muka, aku bergegas keluar kamar untuk menghindari omelan Emak yang seakan nggak mengenal titik dan koma.
                *****

Aku duduk di kursi belakang lemari kaca tempat memajang dagangan Emak. Kuambil laptopku dan kuletakkan di atas etalase. Sambil menunggui warung Emak, aku bisa mencari informasi lowongan pekerjaan yang cocok dengan jurusan yang kuambil waktu kuliah. Sejak aku kecil Emak sudah berjualan. Apalagi ketika Bapak meninggal, Emak semakin semangat berjualan di samping rumah untuk menyambung hidup kami, karena uang pensiun Bapak tak cukup untuk membiayaiku kuliah.
                Sempat kulontarkan ide untuk berhenti kuliah kepada Emak, tapi Emak marah-marah kepadaku. Tiga hari Emak mogok menyediakan makanan buatku sehingga setiap hari pula aku makan mie instan tiada henti. Sejak itu, aku tak pernah lagi meminta putus kuliah.
                Aku adalah anak satu-satunya Emak dan Bapak. Emak sangat berharap agar aku dapat menjadi anak yang mandiri. Emak juga yang mendorongku untuk bersekolah sampai lulus menjadi sarjana. Aku tahu Emak sangat berharap agar aku dapat segera bekerja, namun sampai sekarang aku belum mendapatkan panggilan dari surat lamaran yang kukirimkan kepada perusahaan-perusahaan swasta.
                “Permisi,” kudengar suara seorang ibu yang tahu-tahu sudah berdiri di depan etalase. Aku berdiri dari kursi yang kududuki.
                “Tumben nih, Mas Salim yang jaga warung. Ibu Masnah kemana?”
                “Ibu sedang ke rumah Bu Sarih,” jawabku.
                “Minta gula pasir setengah kilo dong!” aku celingukan mencari tempat Emak menyimpan gula pasir.
                “Itu Mas, di belakangnya. Ketahuan nggak pernah bantuin Bu Masnah di warung,”
                “Ah, cerewet banget sih,” aku menggerutu dalam hati sambil menyerahkan gula pasir dalam plastik.
                Ibu-ibu itu menyerahkan uang kepadaku. Aku kebingungan berapa uang kembaliannya. Kembali Ibu itu menggodaku.
                “Makanya sekali-kali bantuin ibunya di warung, Mas,” Mukaku merah mendengar celotehan Ibu itu.  Ibu tersebut menyebutkan berapa jumlah uang yang harus kukembalikan kepadanya. Kubuka kotak kayu yang sudah sangat lusuh, kuambil beberapa lembar uang sepuluh ribuan dan kuberikan kepada Ibu tersebut.
                Beda dengan Emak, yang selalu ringan tangan membantu kesulitan tetangga sekitar rumah, aku tak pernah sekalipun bersosialisasi dengan mereka. Aku bosan menjawab pertanyaan-pertanyaan yang sama setiap harinya. Menurutku itu hanya basa basi belaka yang sama sekali nggak penting.
*****

                “Sapu lidi....sapu lidi,” suara teriakan pedagang sapu lidi terdengar dari depan rumah. Aku masih terus mencari lowongan kerja di dunia maya melalui laptopku.
                “Numpang duduk ya, Nak,”
                “Iya,” ujarku kepada Bapak penjual sapu lidi itu. Kulihat sekilas, Bapak penjual sapu lidi itu meminggirkan gerobaknya ke tembok depan rumahku. Dengan gerakan perlahan Bapak yang kuperkirakan berumur sekitar tujuh puluh tahun mencoba duduk di tembok depan rumahku. Kebetulan rumahku tidak memiliki pagar dan hanya diberi tembok yang bisa diduduki untuk membatasi halaman rumah dengan jalan.
Dengan rasa penasaran kuhampiri Bapak itu. Kuperhatikan tubuhnya sudah renta dan sesekali kudengar suara batuk yang berat. Perasaan iba menjalari hatiku. Aku duduk di tembok depan rumahku
                “Setiap hari Bapak berkeliling berjualan sapu lidi?” tanyaku pelan.
                “Enggak sih. Bapak berjualan kalau lagi banyak janur saja. Anak Bapak berjualan kulit ketupat dari janur. Kalau ada sisa Bapak bikin sapu lidi,” terangnya.
                “Bapak nggak capek?”
                “Ya gimana lagi. Bapak nggak mau nyusahin anak Bapak. Udah mah Bapak tinggal sama anak dan keluarganya, masak masih mau menyusahkan juga. Walau sebenarnya anak Bapak udah nyuruh Bapak berhenti jualan tapi sepanjang Bapak masih kuat Bapak harus terus kerja,”
                Sejenak aku tertegun mendengar penjelasan bapak tua ini. Apalagi ketika aku berpikir apa yang sudah kulakukan selama ini untuk membantu Emak. Jangankan membantu, yang ada aku malah menyusahkan Emak. Selama ini Emak kerja sendiri. Emak selalu menyiapkan makananku dan mencuci semua bajuku, padahal Emak harus ke pasar buat beli stok warung dan berjualan sendiri. Selain itu, aku masih pula merepotkan dengan selalu minta uang kepada Emak. Betapa tak bergunanya hidupku selama ini.
                “Pak, saya beli sapu lidinya, satu saja,” tiba-tiba Emak muncul di depan rumah. Emak menyodorkan uang dua puluh ribu.
                “Ini kembaliannya, bu,” ujar Bapak penjual sapu lidi sambil menyerahkan uang sepuluh ribu kepada Emak.
                “Buat Bapak saja,” ujar Emak.
                “Kalau gitu, Ibu ambil satu lagi sapu lidinya,” ujar Bapak itu. Emak menggelengkan kepala.
                “Ambil saja , bu. Saya tidak bisa menerima uang begitu saja,” Akhirnya Emak mengalah dan mengambil sapu lidi.
                Aku masih tertegun sampai Bapak tua penjual sapu lidi itu berlalu dari hadapanku. Ternyata selama ini hidupku sia-sia.

*****

Jakarta, 30 Oktober 2017             

Beasiswa



Benarkah mencari beasiswa itu sulit?
Sebelum mendapat beasiswa, saya akan menjawab: Sulit.
Setelah mendapat beasiswa, saya akan menjawab: Tergantung.

Mendapatkan beasiswa, sama seperti mencari hal lainnya di dalam hidup ini adalah kombinasi dari beberapa faktor, seperti: preferensi pribadi, kenyataan di lapangan, dan faktor X.  Ibarat ingin mencapai suatu tujuan dari lokasi tertentu pada waktu tertentu, maka pertimbangannya pun relatif dengan keadaan kita pada masa itu.  Sebagai contoh, apabila kita merencanakan perjalanan ke kantor di suatu pagi, pertimbangannya bisa bermacam-macam. Apakah hari itu hujan, apakah saat itu kondisi tubuh sedang kurang fit, apakah pagi itu jalan tol macet, apakah di waktu tersebut ada gangguan sinyal kereta api, apakah hari itu tanggal tua atau tanggal muda, apakah hari itu ada ST, apakah jatah flexy time sudah habis atau masih banyak, dan seterusnya dan seterusnya.

Begitu pula halnya dengan mencari beasiswa, tidak bisa disamakan jalan seseorang dengan orang lainnya karena situasi mereka pun belum tentu sama. Apabila beberapa sponsor mempunyai persyaratan yang berbeda, begitu pula halnya dengan kemampuan kita sendiri di dalam memenuhi persyaratan-persyaratan itu. Situasi menjadi sulit ketika kita tidak mampu mencocokkan antara keinginan dengan kenyataan hidup.

Baiklah sekarang saya membandingkan antara beasiswa yang mempersyaratkan psikotes (SPIRIT) dengan yang tidak mempersyaratkan psikotes (ADS). Kebetulan pernah merasakan kedua prosesnya. Seorang teman pernah bercerita bahwa ia tidak ingin mendaftarkan diri ke SPIRIT dan lebih suka mendaftarkan diri ke ADS. Setelah saya tanyakan mengapa, ia lalu berkata bahwa dirinya tidak pernah lulus psikotes. Tapi bukankah interview di ADS juga sulit? Temanku menjawab bahwa karena interview di ADS banyak yang berkisar dengan pekerjaan dan ia cukup paham dengan apa yang dikerjakannya selama ini maka ia lebih percaya diri dengan interview ADS daripada psikotes SPIRIT.

OK, paragraf tersebut di atas melihat beasiswa dari sudut pandang sponsor atau lembaga penyedia beasiswa. Sekarang, marilah kita melihat beasiswa dari sudut  pandang pribadi masing-masing. Mengapa kita perlu mengambil beasiswa? Apa pentingnya beasiswa? Apakah semua orang perlu mencari beasiswa? Nah ini semua adalah pertanyaan-pertanyaan yang meskipun subjektif namun tidak kalah pentingnya untuk dipahami supaya tidak kecewa di kemudian hari.

Sebab bukan sekali atau dua kali saja saya mendengar problem yang dihadapi mahasiswa Indonesia yang mengadu nasib di luar negeri. Ada yang hilang di Amerika, ada yang menderita sakit mental di Jepang, ada yang bunuh diri di Jerman, yang tidak lulus kuliah juga tidak sedikit, apalagi kalau sponsornya pemerintah dalam negeri … bukan hanya sedih karena tidak membawa pulang ijazah namun juga sedih karena harus mencicil hutang beasiswa melalui potongan gaji.

Dengan serangkaian potensi permasalahan ini, sayangnya ketakutan yang paling sering saya dengar adalah soal uang. Dan ini membuat saya merasa gatal. Tanpa menafikan pentingnya uang, saya ingin mengajak pembaca untuk melihat potensi dan masalah yang lebih luas dari sekadar uang. Sebagai contoh, sudah menjadi rahasia umum bahwa tunjangan hidup dari LPDP termasuk tinggi bahkan apabila dibandingkan dengan yang diberikan oleh sponsor internasional. Tapi seperti kata orang, “high return equals to high risk” maka ini berlaku juga buat mahasiswa LPDP. Teman saya bercerita bahwa LPDP mensyaratkan tidak ada mata kuliah yang gagal. Padahal kebijakan beberapa negara tempat kuliah penerima LPDP juga tidak seragam mengenai gagal atau tidaknya seorang mahasiswa di dalam mata kuliah tertentu. Sebagai contoh, ada negara yang memperbolehkan untuk mengulang mata kuliah, ada juga yang tidak. Selain itu, ada juga negara yang mengatur bahwa apabila seseorang gagal di mata kuliah tertentu maka ia tidak diizinkan untuk mengambil mata kuliah tersebut di seluruh universitas di negara itu untuk selamanya. Masalahnya, tidak semua orang bisa mengetahui hal-hal ini sebelum ia pergi ke negara yang dituju.

(bersambung)

22 Years, still counting

Bulan Oktober 2017 ini ternyata tepat 22 tahun saya mengabdi sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) Kementerian Keuangan (Kemenkeu). Suatu perjalanan waktu yang cukup panjang. Di dunia swasta, waktu 22 tahun seharusnya sudah bisa menempatkan seseorang ke pucuk pimpinan tertinggi perusahaan atau mungkin malah menjadi pemilik perusahaan. 22 tahun itu sendiri sudah melebihi separuh umur saya, yang artinya separuh hidup saya sudah saya abdikan di Kemenkeu. Hebat ya? saya aja baru noticed ketika ada notifikasi di akun Linkedin. 

Pertanyaan yang coba saya renungkan adalah apakah pengalaman saya di Kemenkeu benar-benar 'bernilai' 22 tahun? jangan-jangan hanya 1 tahun tapi saya ulang-ulang selama 22 kali, LoL. Disinilah mungkin perbedaan nilai pengalaman kerja di dunia swasta dan di dunia birokrasi. Di birokrasi, start awal masuk kerja sangat menentukan. 22 tahun masa kerja berarti saya mendapat "jatah" minimal 5 kali naik pangkat, karena kenaikan pangkat reguler adalah setiap 4 tahun. Alhamdulillah, walaupun cuma sekali tetapi saya telah melebihi "jatah" minimal tersebut. Hal tersebut memang dimungkin apabila seorang PNS melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi dan mendapatkan penyesuaian ijazah ke pangkat/golongan sesuai tingkat pendidikannya.

Pola kenaikan pangkat reguler dan sistem karir tersebut tentunya belum cukup untuk membuat 22 tahun masa kerja menjadikan saya seorang Eselon I. Fakta tersebut tidak terlalu mengganggu saya karena meskipun sudah ada teman-teman seangkatan yang menduduki jabatan lebih tinggi, tapi lebih banyak lagi yang bahkan belum memiliki pangkat dan golongan yang sama dengan saya. Hal lain yang membuat saya masih 'sedikit tenang' adalah karena memang time-frame untuk menjadi Eselon I masih 7 tahun lagi (untuk bagian ini nanti akan saya tuliskan tersendiri, LoL).

Selain sistem kepangkatan, banyak faktor lain yang mempengaruhi karir birokrasi sehingga sebenarnya bisa jadi ini termasuk 'bagian yang menantang' dibandingkan dunia swasta selain take home pay tentunya. 

Waktu 22 tahun seharusnya memberikan saya pengalaman yang komprehensif di semua bidang tugas Kemenkeu, minimal di unit eselon I tempat saya bekerja. Faktanya tidak seperti itu, karena manajemen SDM belum membuat career path yang memungkinkan seorang PNS menduduki berbagai posisi dan membidangi berbagai tugas sebelum menduduki jabatan yang lebih tinggi. Hal ini tidak dialami oleh saya sendiri, tetapi hampir oleh semua pegawai.

Reformasi birokrasi Kemenkeu secara spesifik belum menyentuh masalah manajemen karir pegawainya. Hal yang sebenarnya sangat penting sehingga semua tools penilaian kinerja dapat secara lengkap memetakan kinerja pegawai di level penugasan yang berbeda-beda.

Minimnya variasi tugas dan penugasan tidak saja merugikan individu pegawai tetapi juga merugikan organisasi secara keseluruhan. Secara individu, si pegawai akan menjadi 'spesialis yang tanggung'. Mengapa tanggung? ya karena spesialisasi-nya sebenarnya tidak dibutuhkan oleh organisasi. Kondisi tersebut juga menimbulkan kejenuhan dan cenderung menciptakan sudut pandang yang sempit atas suatu permasalahan yang membutuhkan pemecahan komprehensif. Untuk organisasi, kondisinya hampir sama, pimpinan-pimpinan yang tidak banyak variasi tugas dan penugasan membuat kebijakan-kebijakan yang diambil kurang (tidak) komprehensif. Hal tersebut akan semakin parah ketika pimpinan-pimpinan tersebut kehilangan percaya diri karena tidak memiliki dasar yang cukup tentang tugas utama organisasinya. Hilangnya rasa percaya diri tersebut bisa mengakibatkan organisasi yang dipimpinnya kehilangan "marwah".

Nah, kembali ke 22 tahun-nya saya, yang insyaa Allah masih berlanjut, paling tidak saya harus berhitung dengan waktu yang tersisa; apakah time-frame saya dapat terpenuhi dengan kondisi sekarang atau saya harus melakukan terobosan-terobosan yang minimal dapat membuat saya "tepat waktu", kalau tidak mungkin "lebih cepat". Semua itu adalah pilihan-pilihan yang hanya waktu mampu menjawabnya. Sekali lagi, dengan konsep "semua orang berada di ruang waktu masing-masing", 22 tahun menjadi waktu yang relatif; tidak berarti terlalu lama atau terlalu lambat, karena saya sedang menjalani "ruang waktu" saya sendiri.





Silaturahmi Offline

Tadi siang bertemu seorang penggiat BnD, tanyanya“gak nulis lagi?”. “Lagi gak tau mau nulis apa, gw masih berpegangan dengan judul Bukan Nota Dinas jadi pengennya nulis yg gak ada hubungannya dengan kantor tapi dari kemaren-kemaren apalagi abis diklat di Bekasi yang kepikiran malah tetek-bengek di kantor” jawabku. “Tulis yang ringan-ringan ajalah”, imbuhnya. “Blom tau mau nulis apa, yang ringan-ringan juga ujung-ujungnya kantor”, bantahku dengan suara pelan. Hening di antara kami, lalu entah pikiran dari mana aku berujar “pengen silaturahmi deh tapi bukan sama orang kantor, siapa tau membuka peluang baru”. Tanpa pikir panjang aku posting di WAG SMP ku “dah lama nih kayaknya kita gak silaturahmi” tadinya aku ingin menambahkan ajakan tapi ku pikir aku ingin melihat dulu respon dari teman-temanku. Kebetulan groupnya kecil hanya terdiri dari 51 orang, entah kenapa ini group gak nambah-nambah isinya padahal angkatan kami sepertinya sampai 200an orang. Yang menyahut hanya satu orang, yang read separuhnya. “hahaha, sepertinya ajakan gw kagak laku” pikirku.

Silaturahmi, sepertinya sudah terjadi pergeseran dalam pilihan orang-orang dalam bersilaturahmi. Saling bertegur sapa, mengucapkan selamat ultah, menanyakan kabar, dan berbagai interaksi sosial sudah bergeser ke media sosial bahkan ketika ada postingan tentang kerabat yang sakit dilakukan melalui media sosial seperti halnya whatsapp, facebook, dan lain sebagainya. Saya sendiri sudah malas untuk mengucapkan selamat ultah di media sosial, untuk orang-orang terdekat saya memilih bertelpon jika tidak bisa bertemu muka, gak banyak sih cuman dua orang di luar saudara kandung saya yang saya masih telpon untuk tanya kabar dan mengucapkan selamat ultah.

Silaturahmi di Indonesia sendiri paling sering terjadi di hari-hari besar keagamaan, seperti halnya Idul fitri, Natal, Nyepi, Waisak, dan Imlek. Sebelumnya saya selalu membuat pesan dan ucapan selamat sendiri dan mengirimkannya melalui sms, menurut saya “sms lebih dekat dari pesan di whatsapp”.  Hus, jangan keras-keras ketawanya, mau bilang gw katrok? Ya suka-suka situ. Tapi sebenarnya saya lebih senang mengucapkan langsung sambil menyalam dan bertatap muka, rasanya kalau hanya di WA atau sms tuh kosong apalagi kalau di WAG pasti ujung-ujungnya “copas” dari teman yang duluan posting.

Tapi memang silaturahmi tatap muka membutuhkan banyak tenaga. Menembus kemacetan ibu kota, antrian mencari tempat duduk di cafe atau restoran, belum lagi uang yang harus dikeluarkan, dan tentu saja waktu yang harus disediakan mungkin saja membuat banyak orang berpikir dua kali untuk hangout apalagi untuk sekedar berbincang-bincang. Kesibukan di kantor atau di tempat usaha dari pagi sampai sore sudah menguras pikiran dan segala usaha yang harus dikeluarkan untuk bersilaturahmi offline menjadi beban bagi mereka. Belum lagi anak dan istri yang menanti di rumah, membuat sebagian orang tidak ingin lagi “membuang waktu” di luar dan ingin cepat-cepat sampai rumah.

“Do, kapan ke Jakarta kabarin aja. Kita ngopi-ngopi ya” Japri ku ke teman yang membalasku tadi. “Siapa tahu ada peluang baru” pikirku. Silaturahmi offline terakhirku memberiku tambahan beberapa rupiah di pemasukan bulananku padahal hanya modal waktu dan mendengarkan keluh kesah temanku, pergi dijemput, makan dibayarin. Hihihihi, siapa tahu bisa berulang, hayalku.

Alkisah, sebuah tempat bernama Tangerang Raya

Perjalanan dengan roda empat ternyata membawa pengalaman yang membekas buat saya. Karena cuma duduk manis, kali ya. Saya jadi sering membatin dan memikirkan pemandangan yang saya lihat sepanjang perjalanan, terutama dari sisi perkembangan pembangunan infrastruktur, kegiatan perdagangan, atau sekedar produk yang jadi komoditas khas. Kadang takjub, kadang miris.

Seperti perjalanan kali itu, ketika memenuhi undangan pernikahan di tiga tempat: Legok di Kabupaten Tangerang, Ciledug di kota Tangerang, dan di lingkungan rumah sendiri, Pondok Aren – Tangerang Selatan. Karena cuaca terlihat tidak menentu, kadang terang tapi tiba-tiba gelap, kami memutuskan mengendarai Fazan, kendaraan roda empat sejuta umat di zamannya, 2012.

Waww … kami melewati rute saya latihan stir mobil di bilangan perumahan elit Bintaro Jaya. Bak jalan protokol   pusat Jakarta tempo dulu, jalannya terbilang lebaaar untuk satu arah. Di kanan kiri jalan mulai bertumbuhan gedung-gedung bertingkat, semacam rumah sakit, tempat makan cepat saji, pom bensin, kantor bank swasta terkemuka, toko buku, penjual mobil,  daan lain-lain tempat memanjakan diri, mata, lidah, atau sekedar hobi. Tak jarang, perempatan jalan dibuat tidak sebidang. Ada jembatan layang yang menghubungkan salah satu sisinya. Jalannya sudah teramat sangat ramai oleh pengguna kendaraan baik roda empat maupun dua, dibandingkan saya belajar dulu. Sungguh, berbanding terbalik dengan kemampuan stir mobil saya yang justru mengalami kemunduruan (#gapenting).

Contoh tata kelola kawasan yang salah bisa dilihat di jalan Mandar Raya, tepat di depan PKN STAN. Di awal pembangunan real estat ini, wilayah tersebut oleh Pengembang diperuntukkan sebagai kawasan rumah tinggal. Setelah jalannya menjadi akses utama menuju Ibukota Negara dan begitu ramainya, penghuni aslinya ga betah kali ya, atau memanfaatkan peluang? Kawasan ini berubah fungsi menjadi wilayah komersil. Rumah-rumah tinggal berubah menjadi salon kecantikan, mini market, toko kue, butik, rumah makan. Dengan lahan parkir yang minim, jadilah banyak kendaraan roda empat ‘luber’ sampai ke badan jalan. Macet, tak terhindarkan. Mungkin, orang bisa seenaknya saja ya, merubah tempat tinggal menjadi tempat usaha? Kalau pun macet karena pelanggan tak punya lahan cukup untuk parkir, itu bukan masalah pengusaha. Siapa suruh ambil rute jalan itu, kan?

Bisa jadi pengembang menyadari dampak kekeliruan tata letak peruntukkan rumah tinggal itu. Pada proses pengembangan kawasan hunian elit selanjutnya, dibuat kluster-kluster yang letaknya tidak bertepatan dengan ruas jalan utama. Di sepanjang jalan utama, sudah disiapkan untuk kawasan usaha, sehingga bangunannya dilengkapi juga dengan lahan parkir yang lebih memadai.

Apa berhenti sampai Bintaro Jaya? Ternyata jalan lebar dan mulus itu teruuus membentang menghubungkan titik-titik yang bahkan saya fikir terlalu jauh kalau lihat di google maps. Setelah melewati Alam Sutera, BSD, ternyata ada yang namanya Gading Serpong, teruuus, sampai Cisauk. Lahan-lahan hunian yang masih kosong ditanami rumput hijau, atau bahkan ditumbuhi pohon-pohon yang teduh. Alat-alat berat terlihat sibuk keruk sana, timbun sini. Memamerkan harmonisasi proses pembangunan dan hasilnya.

Saya baru tahu, loh yang namanya ICE BSD, ternyata gedungnya lebih besar dan megah dibandingkan mal terkeren di Bintaro Jaya: Bxchange (#emot nyengir). Sampai di Lippo Karawaci, ada bangunan Puskesmas kokoh nan bersih, kelihatan sekali wibawanya walau gedungnya tak seberapa besar. Letaknya tepat sebelum sekolah elit berlogo elang. Di plang namanya, tertulis “sumbangan R.S Siloam” atau semacam itu lah. Nahh, rumah sakit itu, kata suami saya, bekerja sama dengan BPJS punya rakyat kebanyakan dengan pelayanan premium. Kagum saya mendengarnya.

Kluster-kluster yang sudah terisi, dibentengi dengan tembok dan pintu gerbang. Jangan coba-coba datang kalau belum janjian sama penghuni rumah. Pengalaman saya bertamu ke salah satu klusternya, satpam penjaga akan mengetes berkali-kali alamat yang kita tuju. Password nya harus tepat, atau Anda dicurigai. Bukan melas ya, perumahan ini jelas diperuntukkan buat pegawai yang penghasilannya, minimal satu setengah kali dari penghasilan PNS Kemenkeu macam saya (#perludisebutgitu?).

Saya jadi mikir, bagaimana pengembang itu mengelola uang ya? Darimana mereka mendapat uang untuk membangun fasilitas sehebat itu? Jalan yang mulus dan luas, fasilitas pengisi waktu luang yang kekinian, sekolah, rumah sakit. Dari hutang? Emisi saham di pasar modal? Cicilan pembeli rumah?

Jadi, buat anda-anda yang mampu membeli rumah di kawasan elit seperti itu, jangan heran kalau harga rumah yang dijual rasanya setinggi bintang di langit. Mahalll. Karena, Anda tidak hanya membeli hunian nyaman di lingkungan nyaman. Tapi, Anda sudah berpartisipasi membangunkan infrastruktur buat kami, rakyat biasa penghuni Tangerang melalui jalan-jalan luas yang menghubungkan satu Tangerang yang baru belajar mandiri di Selatan, kota Tangerang yang sudah mapan di tengah, dan kabupaten Tangerang senior dengan klimaks pembangunannya di Utara. Sebaliknya, kalau Anda cari rumah di kawasan masuk ‘kampung’ dengan harga menyerempet rumah di kawasan elit tersebut, harusnya difikir-fikir lagi. Apa kontribusi pengembang terhadap infrastruktur sampai harganya ikut-ikutan setinggi gunung? Hanya karena pembiayaan lewat bank, atau pengembang sekedar ingin marjin tinggi, atau pengembang tidak sanggup efisien saat membangun rumah?

Saya jadi mikir lagi, apa peran Pemerintah Kota dalam membangun infrastruktur dan tata kota? Menurut kesimpulan saya yang kemungkinan salah besar, pekerjaan Pemerintah Kota sangat berat. Yang harus ditata adalah kawasan hunian lama atau pinggir jalan rute lama, yang pemiliknya sudah kadung merasa sangat memiliki. Tidak tahan membiarkan lahan kosong yang tadinya berfungsi sebagai serapan air. Membuat bangunan tanpa memikirkan ruang parkir, mengabaikan pembuatan drainase, bahkan kadang mendirikan tembok pas di sisi jalan. Tiap tahun Pemkot harus menghabiskan anggaran membuat saluran air, yang kalau sudah selesai setelah menyebabkan kemacetan amit-amit, ditutup lagi dengan semen permanen oleh pemilik bangunan di sekitarnya. Jadilah, jalan yang kini sebagian besar dicor berubah fungsi menjadi sungai atau danau di musim penghujan.

Itulah cerita saya tentang sebuah kawasan yang namanya berbeda-beda, tapi sepertinya terhubung entah sengaja atau tidak oleh kegiatan pembangunan pengembang. Luasnya, entah sama atau lebih dari calon kawasan pemukiman baru yang sekarang sering jadi kontroversi. Kalau orang-orang begitu paranoid terhadap pembangunan kawasan pemukiman baru terintegrasi itu, saya justru terpaksa harus mengakui: pengembang telah sangat berperan menata kota saya jadi lebih rapih dengan konektivitas yang tinggi. Wahh ... tulisan ini semestinya berjudul "Entah" saja.🌾

GEMESS (Garing mak Kress): Salah Kaprah

Ada yang beda dengan Dimas akhir-akhir ini. Sebenarnya penampilannya masih sama, tapi kini dia selalu didampingi pria berpeci dan bersafari. Badannya tak gempal namun cukup besar. Posturnya lumayan tinggi dan sesekali berkacamata legam. Hampir di setiap langkah Dimas selalu ada jejak pria itu di belakangnya. 

"Wah, jangan-jangan sekarang Dimas dijaga bodyguard", sekilas terbersit pertanyaan dalam hati. 

Bersamaan dengan itu terbersit pula keraguan yang tak kalah gaduh, mengingat sesekali pria misterius itu terpergok berbekal tas jinjing semi koper yang dikempit, kadang di sebelah kanan, kadang di sebelah kiri. 

"Ooh, mungkin dia semacam pengawal atau asisten pribadi si Dimas" coba menyimpulkan sendiri. 

*****

Beberapa bulan yang lalu Dimas berhasil memenangkan pemilihan lurah di daerah kami. Dia menjadi lurah termuda sepanjang sejarah berdirinya kelurahan kami. Sebagai teman dari SD hingga SMA aku ikut merasa bangga. Sejak SMP, Dimas memang sangat aktif berorganisasi. Prestasi di bangku sekolah dan kuliahnya juga mentereng. Ranking satu tak pernah lepas dari genggamannya ketika sekolah. Pun begitu waktu kuliah, di saat aku dan teman-teman seangkatan masih berkutat menyelesaikan skripsi, Dimas sudah mulai mengerjakan tesisnya. Dia memang tampak menonjol diantara teman-teman sebayanya. Meski agak mengejutkan, namun dia memang layak mencalonkan diri menjadi lurah waktu itu. Terbukti, akhirnya dia berhasil terpilih. 

Namun sayang, torehan gemilangnya di bidang pendidikan dan karir tak berbanding lurus dengan prestasinya di bidang
percintaan. Hingga kini menginjak pertengahan kepala tiga, statusnya masih saja lajang. Setiap kali kami menanyakan perihal pasangan hidup, jawabannya selalu diplomatis, "Nanti ada waktunya, jodoh pasti ga kemana". Saat kami mencoba mendesakknya dengan pernyataan semacam, "jangan terlalu pemilih, pacaran aja dulu buat kenal lebih dekat". Dia selalu menimpali dengan pernyataan yang sama, "aku ga mau pacaran, kata pak ustadz dilarang agama...jadi nanti kalau uda nemu yang pas, langsung nikah aja". Tapi faktanya, sampai sekarang belum nikah juga. Entah belum nemu yang pas atau sudah terkuras dengan urusan sekolah dan karirnya. Tapi yang membuat aku salut, apapun kondisi dan statusnya, dia tetap memegang teguh prinsip "ga mau pacaran dan langsung nikah" yang memang sesuai dengan tuntunan agama. 

*****

Tiba juga akhirnya hari dimana kami sudah merencanakan untuk mengadakan reuni akbar SMA. Aku yang didapuk sebagai ketua panitia berusaha sekuat tenaga agar banyak teman seangkatan yang bisa datang. Mengingat beberapa dari kami juga sudah menyebar ke berbagai wilayah Indonesia. Dari jauh-jauh hari sudah kami informasikan jadwal hari ini agar teman-teman bisa mengosongkan waktunya. 

Ini juga berlaku buat Dimas yang sekarang sangat sibuk dengan aktifitasnya sebagai lurah. Maklum, meski rumahnya masih dekat dengan kami tapi tak bisa dipungkiri jadwalnya padat berisi. Bahkan untuk sekedar bertemu sehari-hari saja harus buat janji dan tak bisa berlama-lama. Oleh karena itu aku sangat bahagia saat kemarin Dimas memastikan akan hadir dalam reuni hari ini. Sekalian saja aku minta dia buat memberikan sambutan, sebagai pimpinan tertinggi di kelurahan kami juga. 

Singkat cerita, rangkaian acara reuni akbar pada hari ini telah berjalan lancar. Kini tinggal acara ramah tamah yang diisi makan-makan dan ngobrol-ngobrol bebas saja. Setelah dari awal acara sibuk mondar-mandir untuk mengecek kesiapan acara, sekarang aku bisa bernafas lega dan mulai mencari teman-teman akrab dulu untuk berbincang segala macam. Seketika langsung terlintas nama Dimas di kepala. Clingak clinguk kana kiri, akhirnya kutemukan juga Dimas sedang duduk makan bakso. Tak ada yang mengajaknya ngobrol, dia hanya khusyuk menguyah butiran butiran baso di mangkuknya. Aku sedikit mengernyit heran karena Dimas terkenal supel dan baik, kenapa tak ada yang menghampirinya. "Apa mungkin sungkan karena dia sekarang Pak Lurah? "Atau semenjak jadi lurah Dimas jadi berubah? " Pertanyaan pertanyaan itu terlontar dalam pikiran dan tak ada yang bisa dimintai jawabannya. 

Alamak, setelah sedikit teliti mengamati lagi, ternyata di belakang Dimas ada sosok pria yang selalu sama. Bersafari, berpeci, berkacamata legam, dan kali ini dia mengempit tas jinjingnya di sebelah kiri. Eh tunggu, sekarang wajah pria itu mulai dihiasi kumis yang mulai menebal. "Mungkin dia yang membuat teman-teman ga berani mendekati Dimas!" aku menebak sendiri. 

Karena sudah lama penasaran, sepertinya ini momen yang tepat dan langka untuk menanyakan ke Dimas, siapa sebenarnya pria itu. Bergegas aku berjalan menuju ke arah Dimas, takut keburu dia pergi meninggalkan lokasi. Saat sudah dekat, aku mencoba memberanikan diri menyapanya. 

"Halo Pak Lurah, apa kabar?"

"Ah elu, bisa aja, sini duduk sini... dari tadi ga ada temen gw"

"Hahaha.. pada takut kali sama Pak Lurah" saya masih berseloroh sambil duduk di samping kanan Dimas

"Apa kabar lu ndro? ah, uda lama ya kita ga ngobrol-ngobrol gini"

"Alhamdulillah baik, maklum lah gw sama Pak Lurah yang super sibuk ini"

"Alaah, uda ah ga usah Pak Lurah Pak Lurah an segala" 

"Siap pak lurah Dimas!" saya masih belum bosan menggodanya. 

"Hahaha... ssst.. mending kita ngomongin hal yang lebih penting Ndro"

"Weits... apa tuh... tunggu... hmmh... bukan tentang cewek kan? "

"Ah elu, sejak kapan jadi dukun, bisa nebak arah pemikiran gw, hehe..." Dimas sedikit terkekeh. 

"Yaa.. elu belum nikah kan Dim?" "Jadi hal penting apa lagi kalau bukan cewek..hehe"

"Jangan kenceng-kenceng.. nanti diomongin orang, masa Pak Lurah ga laku"

"Hahaha.. elu sih dari dulu gw suruh pacaran ga pernah mau.. sekarang susah sendiri kan"

"Bukan gw ga mau Indro, pacaran kata pak ustadz ga boleh, jadi gw maunya kalau uda ketemu yang mau, langsung nikah aja"

"Jawaban lu masih sama dari dulu, susah kali Dim ketemu yang mau terus langsung nikah, gimana caranya itu.. susah!" saya masih ngeyel dan berusaha meyakinkan Dimas untuk mulai merubah pemikirannya. 

"Kalau dulu mungkin susah Ndro, sekarang kan gw lurah, punya kuasa... jadi gampang lah itu"

"Maksudnya? lu mau maksa anak orang nikah, kalau ga mau rumahnya digusur gitu? "

"Haha.. gila lu.. ya ga gitu lah.. dzolim itu"

"Terus?"

"Terus..ya ini.. sekarang gw bisa bawa Bapak di belakang gw ini kemana-mana?" ucap dimas sambil mengarahkan jempol kanannya ke belakang. 

Aku yang semakin bingung dan bengong hanya terdiam dan tak menimpali.

"Ndro?"

Aku tersentak sejenak dari keterdiamanku. "Ah ini saat yang tepat untuk tanya siapa pria itu" batinku

"Kenapa lu Ndro?"

"Hehehe.. ga papa kok Dim" aku menjawab sambil sedikit membungkuk ke arah telinga Dimas. 

"Dim, jadi sebenarnya pria itu siapa? bodyguard?" bisikku hati-hati takut pria itu mendengarnya. 

"Hahahaha.. bukaan!" Dimas malah tertawa keras. 

"Ssst..! " cegahku. 

Dimas pun berdiri dan mengajakku berpindah posisi sedikit ke pojokan. 

"Bapak tunggu sini aja dulu ya.. saya mau ngobrol sama teman saya dulu" Dimas menoleh ke arah pria misterius tadi. 

"Siap, Pak! " jawab pria itu tegas. 

Setelah sampai di pojokan, sambil mengambil segelas air mineral, Dimas tampak akan memulai penjelasannya. 

"Jadi dia itu siapa?" tanyaku tak sabar. 

"Sabar...", Dimas duduk sebentar sambil menyeruput air beberapa tegukan. 

Kemudian dia kembali berdiri. 

"Jadi... dia itu bukan bodyguard... dia itu kepala KUA di sini, penghulu lah orang biasa bilang"

"Lah.. lalu.. kenapa kau bawa dia kemana-mana? " "Lalu apa hubungannya sama pernyataan lu tadi yang tentang kuasa dan nikah?" aku langsung memberondong pertanyaan.

"Gini... gw tadi bilang kan, gw ga mau pacaran, pengennya pas ketemu yang mau, langsung dinikahin aja"

"Ho oh, terus? "

"Lu bilang susah kan, nah gw kasih tau semenjak gw jadi lurah, itu ga sulit"

"hmmhh? "

"Iya, karena gw lurah, gw bisa suruh pak penghulu itu selalu ikut kemana gw pergi"

"haa? "

"Jadi...kalau gw ketemu cewek yang gw taksir, dan pas gw tanya mau nikah sama gw apa ga, dia mau" dia sedikit mengambil napas

"Gw kan bisa langsung nikah tu... uda ada penghulu yang siap sedia di dekat gw... gampang kan?" 

"makanya ke sini dia jg gw ajak, siapa tau ada temen SMA kita yang cantik dan belum nikah... kan bisa gw tanya, kalau mau langsung dah kita nikah di sini... penghulunya uda siap.. "

"baru gw mau nanya ke elu selaku ketua panitia"

"Oalah Pak Lur.. Pak Lur... " 

"KOPLAK lu! " sergahku. 

Sejak saat itu, aku tercatat dalam sejarah sebagai satu-satunya warga yang berani "ngatain" lurahnya. 

* Sekian *

Ujian

Tulisan SaungKemangi menggugah saya untuk melihat kembali kejadian demi kejadian saat masih anak-anak soal “Keberadaan Allah?” Saya, saat itu masih sekolah kelas VI SD ketika beberapa anak senang bermain dengan teman sebaya, saya juga termasuk yang “lebih” senang bermain daripada sholat. Karena saya masih anak-anak dan belum akil baliqh, jadi saya berpikir tidak ada kewajiban untuk melaksanakan perintah Allah. Makanya ketika ada pertanyaan itupun, saya santai dan tidak berpikir jauh. Dan perilaku sehari-haripun meski belajar mengaji, puasa dan sholat tarawih dengan membawa buku catatan agar bisa menyimpulkan khotbah nya mengenai apa dan mendapat paraf dari khotib saat itu, tetap aja masih gak mikir “Dimana Allah itu”. Hingga lulus SD, SMP hingga SMA, saya bahkan banyak mengikut kegiatan rohis dan dengan wejangan-wejangan khas anak rohis, saya tetap aja masih belum mikir soal “Dimana Allah itu?” Karena saat SMA, saya punya motivasi ikut kegiatan ekstra kurikuler agar bisa dekat dengan siswi itu dan ini. Tanpa ikut kegiatan pun, sebenarnya malas juga disamping rumah juga sudah jauh di Bekasi. Selesai ikut kegiatan ekstra kurikuler hingga sore dan lanjut ke  persiapan perang ala “Bharatayudha” di gang batu antara sekolah saya, SMA 4 dan SMA 7, dimana saya tetap ikut terlibat. Kegiatan perang ini dilakukan secara reguler seperti minum obat. Jika tidak dilakukan, semacam ada kecanduan. Makanya gak berpengaruh juga jika saya ikut rohis pun, tetap melakukan hal-hal yang tidak baik. Saat masa SMA ini, motivasinya cuma ada 1, bagaimana lulus SMA dalam keadaan sehat dan selamat dan tidak cedera, nilai tidak menjadi prioritas. Suatu saat, saya terkena lemparan batako dari trotoar, saya lepas dari kejaran anak SMA 7, lolos dari kejaran polisi saat lari mulai dari taman masjid cut mutia hingga ke pertigaan pasar rumput. Pada saat itu saya mulai berpikir soal keberadaan Allah “Oh ternyata Allah itu ada, saya diselamatkan oleh Nya” Pikiran ini datang bertubi-tubi saat saya mengambil nafas dalam – dalam setelah dikejar-kejar oleh pelajar SMA 7 dan polisi. Beberapa teman ada yang tertangkap oleh polisi namun tidak ada yang tertangkap pelajar dari SMA 7.
          Seiring dengan berjalannya waktu, saya ikut acara perpisahan SMA hingga kuliah. Semasa kuliah semester akhir pun, saya sempet mencoba lari dari kampus untuk mencari keberadaan Allah. Muncul pertanyaan “Apakah saya sudah menjalani Islam dengan sempurna dan khaffah?” Pertanyaan ini juga belum terjawab hingga saya melalaikan skripsi saya yang molor lebih dari ketentuan kampus. Dan akhirnya, hanya pertanyaan simpel almarhumah ibu yang meluluhkan hati saya untuk selesaikan skripsi. “Kamu mau selesaikan skripsi ini atau tidak?” Saya terdiam, sambil berpikir bagaimana pencarian soal Allah ini parallel dengan penyelesaian skripsi ini. Akhirnya setelah 2 atau 3 hari berpikir diam, barulah saya menjawab akan selesaikan skripsi ini. Banyak pergulatan soal pencarian keberadaan Allah ini. Skripsi selesai dan setelah 2 tahun, saya diterima bekerja di Kementerian Keuangan (Departemen Keuangan). Pertama kali bekerja, saya langsung di tempatkan di daerah Sulawesi Tenggara. Saat berangkat di pelabuhan Tanjung Priok April 1999, saya baru berpikir kembali kenangan tentang keberadaan Allah. Sholat di kapal motor Bukit Siguntang dengan banyak penumpang dari berbagai latar belakang pendidikan, status sosial, pekerjaan, suku, ras dan agama semakin membuat saya yakin bahwa Allah itu ada. Apalagi saat itu sedang mulai memuncaknya kerusuhan Ambon. Jadi banyak juga pasukan dari angkatan darat yang menaiki kapal motor itu dengan tujuan Ambon. 
       Sejak saat itu hingga saat ini, saya masih meyakini jika ingin lebih dekat dengan Allah atau Tuhan, tanyakan pada diri kita sendiri, apakah kita sudah diberikan ujian yang cukup oleh Allah? Gak perlu dijawab dan cukup kita renungi. Karena bentuknya ujian macam-macam. Ada yang dikasih ilmu tinggi dan diamalkan, dikasih kecukupan harta, dikasih keluarga yang sakinah, dikasih anak-anak yang sholeh dan sholehah, dikasih pasangan yang sholeh dan sholehah, dikasih orang tua yang lengkap sejak lahir, dikasih lengkap anggota tubuhnya, dikasih kemudahan di dunia, dikasih wajah yang ganteng dan cantik dan itu semua ujian atas hal-hal yang positif. Bagaimana jika kita dikasih yang kebalikan dari yang saya sebutkan tadi? Apakah kita akan tetap istiqomah? Apakah kita akan menyalahkan keadaan? Apakah kita akan tetap menjalankan sholat dan menanyakan keberadaan Allah? Apakah kita akan menanyakan soal keadilan? Jika memang sudah merasa banyak dikasih ujian, apakah kita sudah lulus ujian? Silahkan direnungkan oleh setiap diri kita. Jadi saya masih tetap meyakini bahwa jika sudah diberikan ujian yang sama atau paling tidak mendekati ujian Rasullah, maka barulah kita bisa meyakini Allah itu dekat dan pintu menuju surganya Allah semakin terbuka lebar. Jika mau analogi lain seperti naik gunung, jika ingin ke puncak, akan banyak ujian dan godaan untuk mencapai puncak gunung.  Semoga kita termasuk orang-orang yang lulus ujian hingga di akhir hayat.

Cerita dapat juga dibaca pada link berikut :