Cinta Dalam Semangkuk Sup Kaki Sapi


Kuperhatikan dengan segenap konsentrasi langkah demi langkah Syarif, orang yang telah mendampingiku mengarungi kerasnya kehidupan selama puluhan tahun. Aku mencoba menahan perasaan sedih karena melihatnya berjuang mencapai tempat yang telah ditentukan oleh terapis yang biasa dipanggil ke rumah.
Masih lekat dalam ingatanku betapa gagahnya Syarif berjalan dari satu tempat ke tempat lainnya untuk mendorong roda yang penuh dengan sayuran dari satu rumah ke rumah yang lain tanpa lelah. Impiannya hanya ingin membuat anak-anak kami mengenyam pendidikan yang tinggi. Bukan untuk kebaikannya sendiri tapi untuk kebaikan anak-anak kami sendiri.
Tak pernah ada kata lelah dalam kamusnya saat itu. Ia hanya ingin yang terbaik untuk keluarganya.
Saat ini ia sedang berjuang meraih kembali apa yang dulu dimilikinya, yaitu pijakan kakinya agar kuat kembali menjelajah dunianya tanpa merepotkan orang lain.
Kuusap air mata di pipi agar Syarif bisa melihatku semangat mendampinginya melewati hari-hari yang sangat berat baginya. Aku ingin ia kembali ceria seperti dulu walaupun langkahnya semakin terbatas.
                                        ***
“Kang, jangan terlalu capek gitu dong. Biar saja aku yang masak,” ujarku melihat Syarif sibuk meracik bumbu untuk memasak sup kaki kegemaran anak-anak kami yang berjumlah tiga orang.
“Nggak apa-apa. Aku bahagia melihat keceriaan mereka menyedot tulang sumsum sapi yang kumasak. Itulah masa yang membahagiakan bagiku. Ketika mereka makan lahap, itu bagaikan sebuah persembahan istimewa sebagai ucapan terima kasih atas jerih payahku menyediakan makanan bergizi bagi mereka,” terang Syarif sambil terus meracik bumbu.
Sesekali aku membuka panci, memastikan apakah kulit kaki sapi yang menempel di kaki sapi itu sudah empuk. Sambil menunggu kulit sapinya matang, kucuci beras dan kutanak nasi di kompor.
“Mudah-mudahan, ketika anak-anak pulang sekolah, sup kita sudah jadi ya, Bu.” Aku hanya mengangguk. Syarif selalu bersemangat ketika memasak untuk anak-anak.
Betapa aku beruntung memiliki suami yang sayang kepada keluarganya. Walaupun hidup kami pas-pasan tapi Syarif selalu berusaha menyisihkan uang untuk menyajikan makanan penuh gizi bagi keluarganya.
                                                        ***
“Assalamualaikum.”
“Waalaikum salam.”
Aku menjawab salam ketika kudengar suara ketiga anakku serempak memasuki rumah. Mereka bertiga berlarian dan berebut memelukku.
“Ayah di mana, Bu?” tanya Nina sulungku yang duduk di bangku kelas enam SD.
“Di dapur.”
“Pasti lagi masak sup kaki sapi, wanginya enak banget,” ujar Dita ceria. Ia adalah anakku yang kedua dan masih duduk di kelas lima SD.
“Hore, makan enak lagi!” teriak Amir, si bungsu terlihat gembira mendengar ucapan kakaknya.
“Ayo ganti baju dan salat Dzuhur dulu, abis itu kita makan siang bareng!”
Mendengar perintah ayahnya, mereka bertiga berlari ke kamar. Setelah itu mereka melakukan salat Dzuhur bersama-sama. Aku tersenyum bahagia melihat perkembangan mereka bertiga yang tak pernah menyusahkanku dan Syarif. Sekali lagi peran Syarif sangat besar menjadikan anak-anak seperti sekarang ini.
“Nah supnya sudah siap!”
Syarif muncul dari dapur membawa semangkuk besar sup kaki sapi yang dimasaknya tadi. Aku menuangkan nasi dari dandang ke tempatnya. Asap masih mengepul dari nasi dan sup kaki sapi yang dimasak Syarif. Baunya sangat sedap di hidung sehingga membuat perut meronta-ronta ingin segera mencicipi makanan favorit keluarga.
Tiba-tiba Amir tersedak. Syarif menyodorkan gelas berisi minuman kepada Amir.
“Makannya pelan-pelan. Tunggu sampai dingin dulu!” tegur Syarif lembut.
“Iya, Ayah,” jawab Amir.
“Ayah, supnya enak pake banget lho,” puji Nina.
“Iya, Yah,” timpal Dita sambil menyendok kembali sup ke dalam mangkuknya.
“Alhamdulillah kalau kalian suka. Cuma maaf, ya. Ayah tak bisa sering-sering memasak sup kaki sapi, soalnya harus kumpulin uang dulu. Kaki sapi mahal.”
“Nggak apa-apa kok, Yah. Nina ngerti kok. Makan dengan tempe goreng juga enak kok, asal kita barengan begini.”
Syarif tersenyum mendengar ucapan Nina. Aku memandangi suami dan anak-anakku dengan perasaan yang sulit dilukiskan. Tak ada lagi yang kuminta selain Syarif dan anak-anak selalu sehat agar kami bisa selalu membagi cinta kepada anggota keluarga.
                                        ***
Aku ingat, betapa bahagianya Syarif ketika menyaksikan wisuda ketiga anak kami. Walau berusaha menahan keharuan, aku menyaksikan Syarif selalu mengusap air mata yang menetes ketika Nina, Dita, dan Amir maju ke depan memakai toga untuk menerima ucapan selamat dari rektor.
Begitu juga ketika satu per satu anak-anak kami menikah, Syarif selalu berusaha tegar walau aku tahu ia sedih melepas anak-anak yang sangat dicintainya meninggalkan rumah. Akulah saksinya ketika malam-malam Syarif mengusap-usap foto ketiganya.
Cintanya yang dalam, membuat Syarif tak ingin merepotkan anak-anak. Ia tak pernah meminta apapun dari mereka walau berulang kali ketiga anak kami menanyakan apa yang diinginkan ayahnya. Jawabannya selalu sama, “Kebahagiaan Ayah itu adalah ketika melihat kalian bahagia.”
Bahkan Syarif tetap berjualan sayur, walau anak-anak sudah memintanya istirahat. Segala biaya hidup kami akan ditanggung mereka tapi Syarif bersikukuh dengan alasan, “ Ayah bosan kalau nggak melakukan apa-apa.”
Akhirnya sebagai jalan tengah karena kekhawatiran anak-anak, Syarif membuka warung sayuran di rumah. Itu pun setelah melalui bujuk rayu yang tak sebentar sampai Syarif luluh. Aku tak bisa memaksanya untuk berhenti berjualan karena itu adalah hiburannya apalagi anak-anak sudah tidak ada lagi yang tinggal serumah dengan kami.
Sampai suatu ketika, Haji Darmin, pemilik kios daging di pasar mendatangi rumah. Dengan nafas terengah-engah ia memanggil namaku. Saat itu, aku sedang membereskan warung sambil menunggu Syarif datang dari pasar membawa belanjaan sayur untuk dijual.
“Aisyah … Aisyah!”
“Ada apa Pak Haji?” tanyaku kaget. Tak biasanya Haji Darmin mendatangi rumahku ketika Syarif tidak berada di rumah.
“Syarif … Syarif ….”
“Ada apa dengan Kang Syarif?” tanyaku mulai risau.
“Syarif jatuh di pasar ….”
“Jatuh gimana?” tanyaku panik.
“Ya jatuh ke bawah, pingsan! Dibawa orang pasar ke RSUD ….”
Belum selesai Haji Darmin menjelaskan, aku masuk ke dalam rumah. Kuambil tas yang tergantung di tembok. Setelah itu aku memesan ojek online. Rasanya waktu berjalan lambat sampai akhirnya ojek datang.
                       ***
Anak-anak memindahkan Syarif ke rumah sakit yang lebih besar dengan alasan agar ayahnya bisa mendapatkan penanganan yang lebih baik. Saat itulah Syarif tak berdaya menolak keputusan anak-anak.
Siang malam, aku mendampingi Syarif yang terbaring tak berdaya karena terkena stroke. Sering kali kulihat Syarif memandangi wajahku, kemudian ia akan meneteskan air mata.
“Maafkan aku, ya! Aku merepotkanmu.”
“Kang, jangan bicara gitu. Aku ikhlas kok. Bertahun-tahun Akang menyayangiku dengan tulus, masak karena ini Akang harus minta maaf. Aku yang harus minta maaf, nggak bisa jaga Akang dengan baik.” Aku berusaha tegar agar Syarif tenang. Kuusap tangan keriput Syarif. Dalam hati aku berjanji akan selalu menjaganya.
Janji itu kutunaikan dengan mendampinginya melalui hari-hari yang sungguh berat dan melelahkan bagi Syarif. Seringkali aku tak sanggup menahan tangis ketika melihatnya tertatih-tatih mencoba berjalan selangkah demi selangkah seperti yang kulihat hari ini.
Seperti hari ini ketika terapis datang ke rumah untuk melatih gerak Syarif, aku menemaninya untuk memberi semangat padanya. Walau kutahu Syarif harus berjuang keras untuk kembali bisa berjalan.
Tak ingin kuperlihatkan kesedihan melihatnya berjuang mengikuti petunjuk terapis. Walaupun langkah Syarif berat tapi yang kulihat saat ini adalah semangat yang sama dengan  puluhan tahun yang lalu ketika Syarif berkeliling kompleks perumahan menjajakan sayur.
         ***
Hari demi hari, Syarif semakin pulih. Aku berusaha ceria mendampinginya menjalani terapi demi terapi agar ia tetap bersemangat. Sampai akhirnya Syarif dapat berjalan kembali setelah satu tahun menjalani terapi walau masih harus menggunakan tongkat.
“Aki … Aki!” suara cucu-cucu kami menciptakan senyum indah di wajah Syarif. Satu per satu cucu kami yang berjumlah lima orang dipeluknya dengan cara yang sama ketika ia memeluk anak-anak.
“Kalian main dulu, ya! Aki sama Nini mau masak dulu sup yang enak buat kalian. Mau kan?”
“Mau, Aki!” serempak anak-anak dan cucu-cucu kami menjawab
Aku membantu Syarif melakukan sesuatu yang sudah lama tak dilakukannya. Saat itu kulihat semangat Syarif memberikan yang terbaik untuk orang-orang yang dicintainya. Aku melihat Syarif yang sama dengan yang kulihat puluhan tahun yang lalu.
Kebahagiaan semakin bertambah ketika anak, menantu, dan cucu berebutan mengambil sup kaki sapi dari mangkuk besar. Kutatap wajah Syarif yang ceria. Hatiku tergetar oleh cinta yang kembali timbul di usia senja kepada seorang laki-laki yang pandai memasak sup kaki sapi.

                                        SELESAI

Taat Maklumat

Pedang terhunus, pistol terendus
Sigap mengintai, tak kenal lalai
Serentak beranjak, membentangkan tegak
Perang tak kunjung usang, kian luas mengembang

Pasukan bersorak maju, berharap hapuskan pilu
Nahas mereka kembali tersedu, kenyataan memilih tetap sendu
Bukan tidak gigih dalam berjuang, memang lawan di luar jarak pandang
Menyerang gesit jasad yang sakit, berpindah tempat jejak tak sempit

Berdiam dalam sangkar jadi pusaka, senjata mujarab agar tak mengganda
Sayangnya banyak tak percaya, berlagak anti putus asa
Ada merasa belum rela, abai demi lapar dan dahaga
Tak sepenuhnya mereka salah, tapi banyak tabib mulai lelah

Peluh menyentuh sekujur tubuh, terenyuhnya perantara sembuh
Ingin rasanya sekadar menyeka, apalah daya tak menyentuh muka
Tawa canda mengalirkan lega, masker rapat membuat tak bisa
Bersandar sejenak hilangkan penat, apa lacur harus berganti hazmat

Baiknya kita ulurkan tangan, maksimal meski tak bersentuhan
Memaku laku di balik tembok, selepas ayam jantan berkokok
Tatap kaca mengganti tatap muka, menghemat langkah menghentikan masa
Bersama merapal seragam damba, tengadah dua tangan dalam esa

Ini serius bukan sebuah gurau, agar sandal-sandal kembali ke surau
Biar puing celengan pecah, kembali dihuni rupiah
Menghibur gedung-gedung memandang lengang, pulihkan garang menatap lalu lalang
Mendinginkan cemas yang lama memanas, terangi senyuman menyunggingkan ikhlas

Kini memang terasa berat, suratan nasib tak bersekat
Tergeraklah sedikit berkhidmat, sebelum hujan lekatkan karat
Mungkin telah melanda kebosanan, merindukan lekuk tubuh jalanan
Bisa jadi justru bumi sedang jemu, lama terjamah ingin dan ego semu

Coba tangkupkan kedua tangan, wujud sesal dalam pertobatan
Tak jua merasa paling benar, cukup ketakwaan jadi ikrar
Mari berpelukan dalam ikhtiar, semoga dunia sudi berbinar
Enyahkan walau setitik kikir, hapuskan sombong agar tak mampir

Mudah-mudahan Sang Raja mengabulkan pinta, menurunkan bahagia dan tawa menggema

Lelaki Tersayang

Nak, mendekatlah
Tawarkan ibumu yang renta ini secangkir teh hangat
Nak, duduklah di sebelah ibumu
Berbicaralah apapun yang kau ingin ceritakan

Nak, Ibu tahu kau sangat takut bulan April datang
Kita hadapi bersama-sama
Walaupun ayahmu tak bersama kita
Jalanilah April ini dengan berani

Nak, tak ada luka yang tak perih
Ibu mengerti perihmu itu kau tahan cukup lama
Sejak April pertama ayahmu meninggalkan kita
Kau tahan luka itu dengan berani

Nak, Ibu tahu kau tak mau terlihat lemah
Kau selalu ingin jadi penjaga ibumu
Kau tak pernah menangis di depan Ibu
Namun Ibu tahu kau sering menangis diam-diam di kegelapan

Keluarkanlah sedihmu, anakku
Jangan kau tahan sendiri
Tak mengapa pundak rapuh Ibu ini jadi tempatmu bersandar
Walaupun ibumu sering terjatuh tapi ibu lebih kuat daripada yang terlihat

Tak selamanya menangis itu milik anak perempuan, anakku
Tak mengapa terlihat lemah di hadapan ibumu ini
Kau pun perlu menghibur diri
Untuk sejenak melupakan April kelabu-mu

Nak, April yang ceria akan datang menghampirimu
Pulihkan hatimu, bergembiralah
Ada saatnya kau menjauh dari Ibu untuk sementara
Ibu akan baik-baik saja

Nak, kau tahu Ibu hanya memilikimu
Hanya kau satu-satunya
Tak ada dua, tiga, apalagi empat
Tak pula ada cadangan untuk menggantikanmu

Rehatlah sejenak, anakku
Hirup udara segar
Kambali lagi April mendatang
Dengan raga dan jiwa yang baru

Ibu takkan letih menunggumu kembali
Doa selalu Ibu panjatkan dalam setiap hembusan nafas
Untukmu lelaki tersayangku yang tersisa
Anak tumpuan harapanku.


Jakarta, 12 Maret 2020

Nak, tetaplah berdiam di rumah

Nak, tetaplah berdiam di rumah..
Di luaran  sana itu wabah,
telah jauh  merambah,
hampir semua wilayah,
Satu persatu kota dan desa kita
Telah disebut sebagai zona merah

Syahdan para ahli berkisah
Berdiam di rumah
Adalah satu ikhtiar untuk mencegah
Agar Virus tak menyebar laksana bah
menyusupi tubuh yang mungkin lemah
Atau menjadikan tubuh tubuh kuat,
sebagai media  berpindah,
menjangkiti ribuan lagi orang berimun rendah,

Nak...kalau penyebaran virus tak tercegah,
Kata mereka bulan bulan depan
Keadaan kita akan kian susah
tak akan banyak yang bisa dilakukan rakyat dan pemerintah
Sebab Pasien rumah sakit tertumpah ruah,
Obat-obatan, pelindung diri dan paramedis tak cukup jumlah.

Prosedur penanganan  bisa jadi terpaksa diubah,
Pasien ditangani dengan dipilah
Mana yang mungkin tertolong,  mana yang keadaannya teramat parah,
Sisanya pulang perawatan mandiri di rumah,
sembuh atau parah hanya bisa  pasrah,

Para Dokter dan Paramedis yang telah terikat sumpah,
Melayani sesama sebagai marwah,
Punya batas atas kemampuan akan rasa lelah,
Sedangkan tugas layanan mungkin bisa jadi, tak memberi jeda bahkan untuk makan dan/atau ibadah

Aku tahu,
Menyiasati  jemu dan resah
Buatmu bukanlah hal yang mudah
Berhari hari belajar dan bermain dalam terbatasnya wadah,
Sementara tak ada lagi kisah,
Tentang Canda tawa  teman sekolah
dan kawan sepermainan di sekitar rumah,

Setiap sudut sempitnya rumah,
Telah habis tuntas kau jelajah
Kamar tidur hingga teras depan telah tergubah
Menjadi serpihan serpihan kapal pecah
Sisa dari  lelarian melempar gundah
Dan petak umpet siasati resah

Belum lagi sering kali kadang aku mengingatkanmu dengan nada marah
Sebab tugas yang dikirim guru sekolah
dan  jatah hafalan dari ustad madrasah,
Belum tuntas hingga hari usai sudah
Tapi percayalah...
seusai itu aku kerap disergap rasa bersalah

Nak, tetaplah  berdiam di rumah...
Hidup kita memang mungkin tak selalu indah
Tapi teramat banyak sudah
kita diberi Tuhan nikmat dan anugerah
Kini  ketika  bencana membuncah
dan mengharuskan kita di rumah,
meski kecil kita masih  punya rumah
Saat lapar ada makanan yang bisa kita kunyah
dan yang paling mewah
Aku bisa membersamai kalian
Dari bangun tidur sampai kembali rebah,
Tak semua orang bisa selalu berada di rumah,
Meskipun ancaman di luar membuat jengah

Nak,
Tetaplah berdiam di rumah,
Sebab sesal besar kadang tiba karena secuil salah

(ujung harapan, 3 April 2019)























Kala Senja Kini




Lama sudah tak bersua senja
Sejak diseru di rumah saja
Aku tahu kau selalu hadir
Meski ku seringnya mangkir

Semua sebab corona datang
Mengalir deras bak banjir bandang
Memaksa orang jaga kandang
Demi upaya keras menghadang

Maaf senja,
Kini ku hanya dari balik kaca
Biasanya menemanimu menyambut gulita

Mari berdoa bersama,
Semoga segera kita kembali jalan berdua

Isra' Mi'raj

Isra Mi'raj

Ya Rasulullaah, betapa berat beban amanah risalah kenabian yang di letakkan dipundakmu
Dicaci engkau, di sakiti jua dalam dakwahmu
Namun isteri tercinta nan sholehah senantiasa menyemangati dan melindungimu

Tibalah masa kesedihan mengiris hati
Paman tercinta, Abu Thalib wafat tanpa sempat mengucap syahadat
Dalam hitungan hari, pendamping setia nan sholehah, Khadijah sang Ummul Mukminin pun pulang keharibaan Illaahi

Belum cukup ujian menerpa
Kepiluan kembali menguji kesabaran
Dakwah kepada kaum Thaif mendapat pertentangan
Di usirnya engkau bahkan dilempari batu hingga terluka

Mengalir darah segar dari pelipis sosok mulia
Terduduk engkau di bawah sebuah pohon
Hingga malaikat datang menawarkan bantuan tuk menimpakan bukit ke atas mereka kaum kuffar
Namun engkau menolak tawaran tersebut dengan halus, karena engkau yakin anak keturunan mereka kelak akan mengikuti risalahmu

Sedih, pedih, hancur dan remuk redam
Engkau terima takdir dengan lapang dada
Terpanjat sebuah doa; "Jika Engkau tidak murka kepadaku, maka semua (musibah) itu tidak aku hiraukan".

Di puncak ketidakberdayaan
Hadirlah sebuah undangan dari Tuhan Semesta Alam
Sebagai hadiah atas kesabaran
Dan penghibur dikala kesedihan

Di utusNYA seekor Buraaq menjadi tunggangan
Membawa kekasih mulia Dari Masjidil Haraam menuju Masjidil Aqsha
Terpilih menjadi imam shalat berjamaah
Melintasi tujuh lapis langit hingga Sidratul Muntaha
Perintah shalat lima waktu menjadi tiang agama
Media komunikasi antara Hamba dengan TuhanNYA

Yaa Rasulullaah, Yaa Nabiyullaah, Yaa Habiballaah
Shalawat dan salam senantiasa tercurah kepadamu
Ummatmu yang berlumur dosa ini merinduimu
Berikanlah syafaatmu di yaumil akhir nanti

Alloohummaa Shalli 'Alaa Sayyidina Muhammad

GNWN/22032020

Bagimu Aku Hanyalah Angka


Sebaran Covid-19 di Korea Selatan terbesar 
berasal dari perjalanan Pasien No. 31

Di pegunungan utara Italia, wabah ini 
mengelinding meraksasa bagai bola salju 
setelah migrasi turis Pasien No. 2

Sementara negeri-negeri lain yang lebih siap menghadapi bencana 
telah menutup perbatasannya
Di sini yang riuh hanyalah kebingungan
soal absen digital dan manual … 
Tak peduli mana yang lebih produktif
Tak peduli mana yang lebih aman 

Tak usah repot-repot berpikir 
puluhan kilometer yang harus dilalui 
setiap hari dengan motor, kereta api, 
bus, taksi, atau angkot

Tak usah pusing memikirkan 
bagaimana menjaga social distance … 
bila ternyata untuk sampai ke tempat kerja pun 
tetap berjibaku dengan jutaan manusia di kota ini 
yang sama sama ketakutan, dan ragu apabila dirinya bersih 
dari virus seukuran nanometer tak kasat mata

Masker? Benda ini sangatlah langka … 
hingga yang bisa kau minta padaku kini hanyalah 
masker bengkoang pemutih wajah 
… sungguh berfaedah

Pasien bukan penjahat
Kelambanan kitalah yang mustinya jadi pelajaran
Sampai kapankah engkau terus melihatku sebagai angka? 

Rupiah? Celcius? Kilometer? Dollar? NIP? NIK? NPWP? 

Bagaimana kalau 1 x 2 meter saja?
Mungkin saat itu engkau berhenti
melihatku sebagai angka
dan melihatku sebagai manusia,

ketika aku bukan lagi manusia.

Pendamping Hidup




“Sen, bagus ya model sepatu ini?”
Aku memperlihatkan gambar sepatu di ponsel kepada Sena, suamiku.  Saat itu kami berdua sedang duduk di teras rumah sambil menikmati secangkir kopi yang dibuat oleh Bi Upik. Sena melihat sekilas pada gambar yang kuperlihatkan kepadanya.
“Kayaknya bukan tipe kamu deh model sepatu seperti itu,” ujar Sena.
“Bagus Sen. Udah lama aku ngincer lho. Ke kantor pake ini kan bagus. Kelihatan kalau aku wanita karier. Trus buat kondangan juga bagus. Jadi aku kan bisa ngehits, namanya juga isteri manajer bank besar.”
“Emang sepatu yang biasa dipake selama ini nggak menunjukkan kalau kamu wanita karier? Bukankah yang penting adalah karya bukan aksesoris yang kita pakai? Kalau kondangan sih, nggak perlu juga sepatu runcing dengan hak tinggi gitu juga. Nggak usahlah terlalu memperlihatkan siapa kita juga!” Sepertinya Sena tidak terlalu senang mendengar alasanku kenapa harus membeli sepatu itu.
“Penampilan penting juga, Sen. Biar aku nggak dipandang sebelah mata,” ujarku bersikukuh.
“Masih mending lah sebelah mata, jadi masih dipandang. Kelihatan juga kan?”
“Ah kamu itu nggak pengen isterinya kelihatan cantik,” ucapku kesal.
“Bukan gitu, tanpa sepatu itu pun kamu itu udah cantik banget buatku.”
Perkataan Sena malah membuatku kesal. Apalagi melihat wajahnya yang tanpa ekspresi seakan tak peduli dengan keinginanku. Aku cemberut dan membalikkan badan darinya karena kesal.
Sena masih anteng duduk pada posisi semula sambil terus membaca buku. Bagiku, sikapnya itu sangat mengesalkan padahal  aku tidak memintanya membelikanku sepatu. Aku hanya menunjukkan bahwa aku menyukai sepatu yang ada di aplikasi belanja online.
“Jangan ngambekan! Nanti kubelikan sepatu yang cocok buat kamu biar bebas bergerak. Kamu kan sering pergi-pergi ke luar kota, beli sneaker aja,” ujar Sena.
“Kamu tahu, berapa banyak sneaker yang sudah kupunya?. Masih juga kamu mau nambahin sneaker di rak sepatu aku?” tanyaku semakin kesal.
“Ya kurangin lah penghuni rak sepatumu, Jeng. Jangan biarkan sampai numpuk-numpuk gitu!”
“Dibuang gitu? Masih bagus-bagus semua!” bentakku dengan volume suara yang meninggi.
“Siapa sih yang nyuruh kamu membuang sepatu, sayangku? Kemarin kulihat anaknya Bi Upik pergi ke sekolah dengan sepatu yang robek di bagian depan, sol bawahnya juga kulihat sudah lepas. Kayaknya ukuran kakinya sama dengan kamu, jadi alangkah baiknya kalau kamu kasih salah satu sepatumu ke dia. Pasti bakalan lebih bermanfaat,” pinta Sena.
“Ya sudahlah, Sen! Kamu memang keberatan aku beli high heel. Apapun, aku tetap akan beli sepatunya. Pake uang bonusku aja. Terserahlah kalau kamu mau ngasih sepatuku ke anaknya Bi Upik.”
Aku bangkit dari duduk. Tanpa melihat lagi ke arahnya, aku meninggalkan Sena sendirian di teras depan. Aku benar-benar tak peduli lagi pertimbangan Sena. Aku benar-benar menginginkan sepatu berhak tinggi yang dijual secara online.
                                  ***
Hatiku terasa lega ketika petugas ekspedisi sudah mengantarkan sepatu impian dengan selamat ke ke rumahku. Sudah terbayang olehku betapa anggunnya diriku ketika sepatu impian itu kupakai. Teman-teman kantor akan memuji ketika sepatu itu kukenakan untuk pertama kalinya.
Tak rugi rasanya aku menghabiskan lebih dari setengah bonus tahunanku untuk membeli sepatu bermerek yang banyak dipakai oleh banyak selebritis tanah air. Kupandangi sepatu cantik berwarna merah cabe berhak dua belas centimeter dengan perasaan puas dan bangga.
Aku berlenggak lenggok ke sana ke mari menggunakan sepatu baru. Mulai dari kamar tidur ke ruang tamu. Begitu terus berulang-ulang. Bahagia tak terkira di hati.
“Sepatunya bagus sekali, Bu,” puji Bi Upik melihatku berlenggak lenggok.
“Iya, Bi. Harganya aja mahal banget. Lima kali lipat gajinya Bi Upik,” terangku tanpa diminta.
Bi Upik berdecak kagum mendengarnya. Aku hanya tersenyum melihat wajah Bi Upik yang takjub mendengar betapa mahalnya harga sepatu yang sedang pakai.
“Bibi hati-hati ya! Jangan dilap sembarangan!”
“Iya, Bu. Saya nggak berani juga nyentuh, takut rusak. Tangan saya yang kasar ini kayaknya nggak cocok megang sepatu ibu,” ujar Bi Upik.
“Ya enggak gitu juga, Bi. Hati-hati saja!” balasku.
“Kalau di kampung saya uang segitu bisa buat beli tanah, Bu,” sambung Bi Upik.
“Hahaha, Bi Upik bisa aja.”
“Saya ke warung dulu ya, Bu. Mau beli telur, sudah habis. Bapak minta dibuatkan dadar,” pamit Bi Upik.
Aku mengangguk. Bi Upik meninggalkan diriku yang masih sibuk dengan sepatu baruku.
Tiba-tiba Sena muncul di depanku. Matanya tertuju ke bawah memperhatikan sepatu baruku.
“Akhirnya kamu beli juga, Jeng. Bagus memang sepatunya tapi hati-hati, ya! Tinggi banget dan runcing. Pegang tanganku aja, boleh kok.”
Sikap seperti inilah yang membuatku selalu jatuh cinta dengan Sena. Walaupun sebelumnya ia tidak menyetujui keinginanku membeli sepatu tapi tak pernah sekalipun ia menyalahkanku ketika aku berkeras memenuhi keinginanku.
“Sneaker mana yang boleh diberikan ke anaknya Bi Upik?” tanya Sena.
“Yang hitam aja, Sen. Kalau buat sekolah kan cocok,” jawabku. Sena tersenyum. Ia mencium pipiku.
“Terima kasih, Sayang! Mudah-mudahan kamu sering membagikan barang yang nggak sering kamu pakai ke orang yang lebih membutuhkan, ya.”
Aku tersenyum mendengar permintaannya. Sering sekali Sena memintaku untuk memberikan baju, sepatu atau tas yang jarang kupakai untuk orang lain. Sayangnya aku sering beralasan belum ada waktu untuk mengumpulkannya. Sena tak pernah bosan mengingatkanku walau sering kuabaikan.
Hari ini aku berjanji akan mulai mengumpulkannya karena Sena tak marah mengetahui isterinya tetap membeli sepatu walau sudah dicegahnya. Aku menghargai kesabarannya menghadapiku.
                                             ***
Sena menggenggam tanganku ketika kami berdua berjalan dari tempat parkir mobil menuju ke gedung tempat dilaksanakannya resepsi pernikahan salah satu teman kami. Aku berdandan maksimal untuk datang ke resepsi ini karena aku tahu teman-temanku pasti akan datang dengan penampilan yang wah dengan barang-barang bermerek.
Langkah kakiku agak tersendat-sendat karena sebenarnya selama ini aku tak terbiasa menggunakan sepatu berhak tinggi dan runcing. Makanya bantuan tangan Sena sangat kubutuhkan untuk menuntunku agar aku tak terpeleset.
“Hei Ajeng, Sena, apa kabar?”
Tissa, teman kuliahku yang juga mantan pacarnya Sena menyapa kami berdua. Otakku langsung bekerja menghitung berapa jumlah uang yang melekat di badan Tissa. Aku hanya bisa berdecak kagum dalam hati karena semua barang yang melekat di badannya kutaksir seharga satu mobil kelas menengah di tanah air.
“Sena, kamu semakin mature. Tambah ganteng pula,” puji Tissa.
“Ajeng pandai merawatku,” ujar Sena.
Aku tersenyum kesal mendengar pujian Tissa kepada suamiku. Aku merasa Tissa selalu genit kalau bertemu Sena.
“Kami permisi, ya. Mau salaman dulu dengan mempelai,” pamit Sena sambil menarikku.
Aku tersenyum setengah mengejek. Kudekatkan badanku ke badan Sena dengan maksud membuat Tissa kesal. Rasanya aku puas melihat Tissa memandangku dengan iri. Terlebih penampilanku tak kalah dengan penampilannya.
Setelah menyalami kedua mempelai, aku berjalan di belakang Sena menuju ke bawah panggung. Entah karena aku sedang melamun atau karena konsentrasiku buyar karena sibuk memikirkan Tissa, kaki kanankku terpeleset ketika menuruni anak tangga panggung. Aku lupa bahwa aku mengenakan sepatu berhak tinggi.
Pada saat itu Sena berada di belakangku sehingga tak sempat menahan tubuhku. Seketika badanku terjatuh ke bawah tangga. Sepatu mahalku terlepas dari kaki.
Sena bergegas turun dari panggung. Ia berjongkok dan memegang tanganku. Pada saat itu, hanya rasa malu yang mendera. Aku lupa kalau kakiku sakit.
Sena membantuku berdiri. Kupungut sepatu yang terlepas. Dengan terpincang-pincang aku berjalan perlahan dipapah Sena.
“Sudah jangan nangis, Jeng! Kita ke dokter, ya! Biar kakinya dirontgen.”
“Aku nggak mau dirontgen, Sen. Aku nggak apa-apa kok. Cuma keseleo sedikit aja,” ujarku.
“Aku takut tulang kakimu ada yang patah, Jeng!” ujar Sena sambil terus menyetir.
“Aku nggak apa-apa!” bentakku. Akhirnya Sena menyerah. Ia membelokkan mobil menuju ke rumah.
                                    ***
Sena membukakan pintu mobil untukku. Dengan susah payah aku mencoba keluar mobil. Setelah berdiri di samping pintu, aku mulai merasakan kalau kaki kananku sakit dan tak bisa kugerakkan.
“Sena, kakiku lumpuh. Aku nggak bisa jalan. Sakit banget ini!” ujarku dengan panik. Air mata bercucuran di pipiku. Apalagi ketika kulihat telapak kaki kananku membengkak, tangisku semakin kencang.
Tanpa berkata-kata lagi, Sena memasukkan aku ke dalam mobil kembali. Ia menjalankan mobilnya menuju ke rumah sakit.
Kupandangi wajah Sena dengan perasaan menyesal. Andai kata aku menuruti kata-katanya, kejadian seperti ini takkan pernah terjadi.
“Sabar ya, Sayang!”
Sena mengusap kepalaku lembut. Tak ada satu kata pun yang keluar dari bibirnya yang menyalahkanku karena tidak mendengar sarannya untuk membeli sepatu berhak tinggi. Ia terus menenangkanku. Betapa malu hatiku melihatnya terus bersikap baik.
“Sena, kenapa kamu baik kepadaku padahal aku selalu menyusahkanmu?” tanyaku terisak.
“Karena kamu juga memberiku banyak kebahagiaan,” jawab Sena.
Mendengar jawaban Sena, aku semakin terisak. Di luar sepatu, aku tak salah memilih pendamping hidup.