Langsung ke konten utama

Isra' Mi'raj

Isra Mi'raj

Ya Rasulullaah, betapa berat beban amanah risalah kenabian yang di letakkan dipundakmu
Dicaci engkau, di sakiti jua dalam dakwahmu
Namun isteri tercinta nan sholehah senantiasa menyemangati dan melindungimu

Tibalah masa kesedihan mengiris hati
Paman tercinta, Abu Thalib wafat tanpa sempat mengucap syahadat
Dalam hitungan hari, pendamping setia nan sholehah, Khadijah sang Ummul Mukminin pun pulang keharibaan Illaahi

Belum cukup ujian menerpa
Kepiluan kembali menguji kesabaran
Dakwah kepada kaum Thaif mendapat pertentangan
Di usirnya engkau bahkan dilempari batu hingga terluka

Mengalir darah segar dari pelipis sosok mulia
Terduduk engkau di bawah sebuah pohon
Hingga malaikat datang menawarkan bantuan tuk menimpakan bukit ke atas mereka kaum kuffar
Namun engkau menolak tawaran tersebut dengan halus, karena engkau yakin anak keturunan mereka kelak akan mengikuti risalahmu

Sedih, pedih, hancur dan remuk redam
Engkau terima takdir dengan lapang dada
Terpanjat sebuah doa; "Jika Engkau tidak murka kepadaku, maka semua (musibah) itu tidak aku hiraukan".

Di puncak ketidakberdayaan
Hadirlah sebuah undangan dari Tuhan Semesta Alam
Sebagai hadiah atas kesabaran
Dan penghibur dikala kesedihan

Di utusNYA seekor Buraaq menjadi tunggangan
Membawa kekasih mulia Dari Masjidil Haraam menuju Masjidil Aqsha
Terpilih menjadi imam shalat berjamaah
Melintasi tujuh lapis langit hingga Sidratul Muntaha
Perintah shalat lima waktu menjadi tiang agama
Media komunikasi antara Hamba dengan TuhanNYA

Yaa Rasulullaah, Yaa Nabiyullaah, Yaa Habiballaah
Shalawat dan salam senantiasa tercurah kepadamu
Ummatmu yang berlumur dosa ini merinduimu
Berikanlah syafaatmu di yaumil akhir nanti

Alloohummaa Shalli 'Alaa Sayyidina Muhammad

GNWN/22032020

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Nasi Goreng Buatan Ibu

Bawang merah dan bawang putih itu kini telah menjadi irisan kecil, kemudian tinggal kutambahkan beberapa buah cabai rawit dan cabai merah keriting ke dalam blender.  Trus apa lagi ya  pikirku, ponsel yang sedari tadi ada di meja dapur menjadi sasaran keingintahuanku. Melihat macam-macam resep nasi goreng yang ada di menu masakan milik "Mbah Google" sepertinya ini sama saja seperti bumbu-bumbu yang biasa kubuat ketika bikin nasi goreng. Kemiri, sedikit terasi...yah boleh juga buat variasi, supaya rasanya agak beda sedikit dari yang biasa kuracik. Bumbu sudah semua masuk, tinggal memasukkan blender ke dalam mesin pemutar. Seperti biasa, setiap Hari Sabtu dan Minggu pagi, menu ini seolah sudah menjadi menu wajib buat Raihan, anak bungsuku. Selepas dia bangun tidur, ketika kutawarkan, 'Raihan, mau makan apa? Nasi goreng mau enggak?" Dia pasti menjawab dengan cepatnya  "Mauuu..." Entah kenapa, padahal menurutku, rasa nasi goreng bikinanku biasa ...

SUDUT PANDANG

You never really understand a person until you consider things from his point of view... until you climb inside of his skin and walk around in it (Harper Lee, to kill a mockingbird)  Ketika berat badan saya menyentuh angka 74kg, hasil cek kesehatan merekomendasikan bahwa saya kelebihan berat badan dan harus menguranginya minimal sebanyak 4kg. Ketika hasil tersebut saya mintakan pendapat ke seorang dokter, dokter tersebut sambil tertawa berkomentar "ah kalau cuma kelebihan 4kg diubah jadi otot aja Pak, gak perlu panik." Ketika akhirnya saya mencoba olahraga lari dan mendapati bahwa saya berhasil mengurangi berat badan bahkan sampai 7kg, teman-teman ada yang berpendapat saya terlalu kurus dan menanyakan kalau-kalau saya sedang sakit, padahal saya merasa sangat sehat dengan kondisi tersebut. Ketika ada sebagian teman yang bertanya tentang badan saya yang terlihat kurus, terus terang saya agak kepikiran dan mulai introspeksi dengan aktivitas yang sedang saya geluti....

Siapa Sih Ini

  by Ash Beige Baby Lo pernah ngga sih, ngerasa lo jadi orang yang beda di setiap tempat? Kayak… di satu circle lo jadi versi yang ini, di tempat lain lo jadi versi yang lain lagi, dan anehnya… semuanya terasa “lo” tapi, bukan juga Gue ngalamin itu setahun terakhir. Dan jujur, capek banget. Karena setiap hari gue harus “jadi sesuatu”, Sampai di satu titik gue mulai nanya ke diri gue sendiri: Gue ini sebenarnya apa? ..atau siapa, sih? Am I even… real? Rasanya kaya gue terlalu bisa menyesuaikan diri  sampai akhirnya kehilangan bentuk asli  Terus di tengah kekacauan itu, gue ketemu satu “tempat”. Atau mungkin… satu orang  Yang bikin gue ngerasa, “oh… ini gue.” Ngga perlu adjust  dan mikir harus jadi siapa. Ngga perlu takut di judge juga Dan jujur  rasanya kayak nemu pulau yang nyaman ditengah badai lautan Padahal tujuan gue dermaga dan daratan pulau Jawa Sementara itu pulau berkeliaran serial killer  Tahu bagian paling bahayanya? Waktu lo lagi lost banget...