Langsung ke konten utama

Taat Maklumat

Pedang terhunus, pistol terendus
Sigap mengintai, tak kenal lalai
Serentak beranjak, membentangkan tegak
Perang tak kunjung usang, kian luas mengembang

Pasukan bersorak maju, berharap hapuskan pilu
Nahas mereka kembali tersedu, kenyataan memilih tetap sendu
Bukan tidak gigih dalam berjuang, memang lawan di luar jarak pandang
Menyerang gesit jasad yang sakit, berpindah tempat jejak tak sempit

Berdiam dalam sangkar jadi pusaka, senjata mujarab agar tak mengganda
Sayangnya banyak tak percaya, berlagak anti putus asa
Ada merasa belum rela, abai demi lapar dan dahaga
Tak sepenuhnya mereka salah, tapi banyak tabib mulai lelah

Peluh menyentuh sekujur tubuh, terenyuhnya perantara sembuh
Ingin rasanya sekadar menyeka, apalah daya tak menyentuh muka
Tawa canda mengalirkan lega, masker rapat membuat tak bisa
Bersandar sejenak hilangkan penat, apa lacur harus berganti hazmat

Baiknya kita ulurkan tangan, maksimal meski tak bersentuhan
Memaku laku di balik tembok, selepas ayam jantan berkokok
Tatap kaca mengganti tatap muka, menghemat langkah menghentikan masa
Bersama merapal seragam damba, tengadah dua tangan dalam esa

Ini serius bukan sebuah gurau, agar sandal-sandal kembali ke surau
Biar puing celengan pecah, kembali dihuni rupiah
Menghibur gedung-gedung memandang lengang, pulihkan garang menatap lalu lalang
Mendinginkan cemas yang lama memanas, terangi senyuman menyunggingkan ikhlas

Kini memang terasa berat, suratan nasib tak bersekat
Tergeraklah sedikit berkhidmat, sebelum hujan lekatkan karat
Mungkin telah melanda kebosanan, merindukan lekuk tubuh jalanan
Bisa jadi justru bumi sedang jemu, lama terjamah ingin dan ego semu

Coba tangkupkan kedua tangan, wujud sesal dalam pertobatan
Tak jua merasa paling benar, cukup ketakwaan jadi ikrar
Mari berpelukan dalam ikhtiar, semoga dunia sudi berbinar
Enyahkan walau setitik kikir, hapuskan sombong agar tak mampir

Mudah-mudahan Sang Raja mengabulkan pinta, menurunkan bahagia dan tawa menggema

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Nasi Goreng Buatan Ibu

Bawang merah dan bawang putih itu kini telah menjadi irisan kecil, kemudian tinggal kutambahkan beberapa buah cabai rawit dan cabai merah keriting ke dalam blender.  Trus apa lagi ya  pikirku, ponsel yang sedari tadi ada di meja dapur menjadi sasaran keingintahuanku. Melihat macam-macam resep nasi goreng yang ada di menu masakan milik "Mbah Google" sepertinya ini sama saja seperti bumbu-bumbu yang biasa kubuat ketika bikin nasi goreng. Kemiri, sedikit terasi...yah boleh juga buat variasi, supaya rasanya agak beda sedikit dari yang biasa kuracik. Bumbu sudah semua masuk, tinggal memasukkan blender ke dalam mesin pemutar. Seperti biasa, setiap Hari Sabtu dan Minggu pagi, menu ini seolah sudah menjadi menu wajib buat Raihan, anak bungsuku. Selepas dia bangun tidur, ketika kutawarkan, 'Raihan, mau makan apa? Nasi goreng mau enggak?" Dia pasti menjawab dengan cepatnya  "Mauuu..." Entah kenapa, padahal menurutku, rasa nasi goreng bikinanku biasa ...

SUDUT PANDANG

You never really understand a person until you consider things from his point of view... until you climb inside of his skin and walk around in it (Harper Lee, to kill a mockingbird)  Ketika berat badan saya menyentuh angka 74kg, hasil cek kesehatan merekomendasikan bahwa saya kelebihan berat badan dan harus menguranginya minimal sebanyak 4kg. Ketika hasil tersebut saya mintakan pendapat ke seorang dokter, dokter tersebut sambil tertawa berkomentar "ah kalau cuma kelebihan 4kg diubah jadi otot aja Pak, gak perlu panik." Ketika akhirnya saya mencoba olahraga lari dan mendapati bahwa saya berhasil mengurangi berat badan bahkan sampai 7kg, teman-teman ada yang berpendapat saya terlalu kurus dan menanyakan kalau-kalau saya sedang sakit, padahal saya merasa sangat sehat dengan kondisi tersebut. Ketika ada sebagian teman yang bertanya tentang badan saya yang terlihat kurus, terus terang saya agak kepikiran dan mulai introspeksi dengan aktivitas yang sedang saya geluti....

Serigala Berbulu Damba

Aku tidak rindu, mungkin . Dasar ingatan licik, malah menyamar menjadi damba. Sensasi gila reseptor Pacini meromantisasi kelenyapan. Endorfin, dopamin, atau cuma kebiasaan? Hatiku paham, otakku belum. Afeksinya masih mengorbit. Kamu minta kembali. Aku tidak. Lucu juga.. Tubuhku dengan sadar mengkhianati keputusan. Mengabadikan yang telah usai. Tapi bukan kamu, mungkin . Karena ini pilihan.