Sekolah Tanpa Sekolah

tampilan iBooks (foto pribadi)


Sewaktu memutuskan untuk membeli iPad pertama tahun 2011 lalu, pikiranku sederhana. Aku hanya ingin bisa melakukan banyak hal seperti yang diiklankan: menulis, menggambar, menyelesaikan pekerjaan kantor, mengirim pesan, mendengarkan musik, melihat film, dan terutama … belajar tanpa mengenal batas ruang dan waktu. Ketika sistem operasi iOS masih merupakan sesuatu yang ‘eksotis’ bila dibandingkan dengan Windows, maka beberapa fitur yang diperkenalkan Apple hanya bisa dimengerti dengan menggunakannya sendiri. Itulah satu-satunya alasanku membuka aplikasi kartu kredit, dan menutupnya kembali sewaktu cicilan iPad-ku lunas. Beberapa istilah yang membuatku penasaran itu antara lain: podcast, iTunes, iBooks, dan … iTunes U.

Ironisnya, istilah podcast pertama kali kutemukan karena menggunakan ponsel Nokia, bukan iPhone. Sampai sekarang pun, aku adalah penggemar setia Nokia … bahkan meski ia sudah bangkrut. Aku benar-benar percaya dengan kata-kata perpisahan yang diucapkan CEO Nokia sebelum menutup perusahaan ini dengan berlinang air mata, “We did not do anything wrong, but somehow, we lost.” I really believe what he said, because I really experience how good Nokia is. But sometimes, and more often than not, business is where dog eats dog. Plagiarisme, atau bentuk pelanggaran hak cipta lainnya … kadang bedanya sangat tipis dengan inovasi. Nokia tergilas pesaing-pesaing yang lebih cepat belajar darinya. 

Sebelum kita mengenal istilah Google Earth atau Siri, Nokia telah memberikan pengalaman untukku ‘menjelajah’ dunia dengan ponsel yang hanya berkapasitas 2G. Aku masih ingat nama aplikasi yang kugunakan saat itu: Here. Dengannya aku berjalan-jalan ke Finlandia (atau negara lainnya), dan menemukan nama beberapa restoran atau tempat wisata yang berjarak beberapa ratus meter satu sama lain, seolah-olah kita benar-benar berada di sana. Unfortunately, “Here” is not here anymore.

Dengan Here dan podcast itulah, aku mulai belajar secara mandiri dengan bantuan teknologi informasi. Aku mulai mengerti, bahwa banyak orang ‘di luar sana’ yang rajin membuat semacam ‘siaran radio gratis’ dengan topik-topik yang spesifik. Ada yang mengajarkan cara memasak, mengulas resensi film, mengajarkan bahasa asing, dan banyak lagi. Di podcast itulah aku pertama kali belajar Bahasa Prancis secara aktif, sebelum akhirnya mendaftarkan diri secara serius ke CCF (Centre Culturel Francais) di Salemba (yang kini hanya tinggal bangunan kosong; katanya sih pindah ke Thamrin). Lumayan, aku lulus level A2 … meski sertifikatnya tidak sempat kuambil karena sudah terlanjur berangkat ke Swedia.

Tergila-gila dengan podcast bahasa, dan merasa capek juga bolak-balik mengunduh MP3-nya dari ponsel 2G ku yang lemot ke ke laptop mini-ku yang tidak kalah lemot … aku memutuskan untuk mencari tahu asal mula dari demam podcasting ini. Sebab aku percaya, semua yang terbaik biasanya ditemukan dari sumber asli atau yang pertama. Dalam hal podcast, pionirnya adalah iTunes. Aku memutuskan untuk mencari tahu lebih banyak mengenai dia dan teman-temannya. Pertama, tentunya dengan berkenalan dengan perangkat Apple.

Apabila podcast bekerja seperti channel televisi atau siaran radio dengan bantuan internet, maka iTunes bekerja seperti toko kaset atau video virtual. Demi menghemat kuota internet, fitur iTunes jarang kugunakan selain untuk mengunduh film secara legal demi kelangsungan hidup pekerja seni.  Tapi aku mulai jatuh cinta kepada 2 teman lainnya, yaitu iBooks dan iTunes U. Mereka membuka wawasanku mengenai sesuatu yang dikenal dengan nama ‘pendidikan gratis.’

Layanan standar iBooks memberikan akses gratis ke berbagai literatur klasik, seperti novel “The Great Gatsby” karya F. Scott Fitzgerald atau kumpulan dongeng anak-anak karya Hans Christian Andersen. Teori filsafat klasik karya Plato, Socrates, dan kawan-kawan juga termasuk ke dalam rangkaian buku gratis yang disediakan iBooks dengan bantuan Project Gutenberg. Selama lebih dari 2 tahun, aku tidak tahu bahwa iBooks yang berbayar tidak tersedia di Indonesia. Hatiku senang sekaligus sedih ketika pertama kali mengetahui banyak buku berkualitas dan best seller bisa diunduh di ITunes dari luar perbatasan negara ini. Apakah ini karena kita terkenal dengan ‘pembajakan’? Mungkin ini saat yang tepat untuk introspeksi.

Adapun iTunes U (singkatan dari iTunes University) memperlihatkan ambisi yang jauh lebih besar lagi. Pada intinya, ia adalah semacam portal yang membuka akses ke beberapa materi kuliah yang disediakan secara gratis oleh universitas-universitas ternama. Sebut saja Yale, Harvard, Cambridge, Oxford, MIT, dan tentu saja Open University. Semakin banyak kampus yang memberikan akses bahan kuliahnya secara gratis (dan legal) ke masyarakat umum. Format iTunes U lebih kompleks dan lebih menarik daripada iBooks, sebab ia menggabungkan antara literatur, audio, dan kuliah ‘tatap muka’ (dengan bantuan arsip video). Satu-satunya hal yang tidak tersedia di sini adalah ijazah. Jadi, inilah kesempatan bagi mereka yang ingin mencari ilmu dan bukan ijazah.

tampilan iUniversity (foto pribadi)


Beberapa institusi resmi yang mengelola data kuantitatif juga mulai mengembangkan aplikasi seluler untuk bisa digunakan oleh masyarakat umum, contoh: NASA dengan aplikasi SkyView yang memonitor pergerakan seluruh satelit (militer maupun komersil) beserta benda-benda langit lainnya; WorldBank dengan aplikasi Spatial Agent yang memberikan data mengenai polusi, kependudukan, dan ekonomi; atau Red Cross (US) dengan aplikasi Earthquake untuk deteksi dini mengenai gempa bumi dan tsunami.

Sebelum pembaca mulai berpikir tulisan ini lebih mirip iklan daripada artikel, marilah kita beranjak ke platform pendidikan gratis lainnya. Di sini kita bisa berkenalan dengan Khan Academy, Coursera, dan Memrise. Semua situs yang bertebaran di dunia maya ini mengelola kontennya secara mandiri dan terbuka. Analoginya mungkin bisa diserupakan dengan sistem open source. Semua bisa belajar dan semua bisa berkontribusi. Demi menjaga mutunya, mereka juga mempunyai pekerja tetap atau tim khusus yang berfungsi sebagai kurator dan teknisi.

Dengan segala fenomena ini, mungkin kita tengah beralih dari era kompetisi ketat (Red Ocean) menuju era kolaborasi dan kerja sama (Blue Ocean). Meski kalimat terakhir tadi lebih sering diterapkan dalam dunia bisnis daripada dunia pendidikan, perlu diakui juga bahwa mahalnya biaya sekolah saat ini membuka mata kita untuk mempertimbangkan alternatif pendidikan lainnya yang lebih bersahabat dan termutakhir.

Jadi, tunggu apa lagi? Temukan minatmu dan mari kita mulai belajar … tentang apa saja. Di mana saja.

Tautan:

Sebuah Sesi

A Session


---------------
Cerita ini adalah sambungan dari kisah Meyr sebelumnya di blog bukannotadinas.com berjudul "Wir gehen zusammen ein Kaufen"

----------------


"Tentukan dulu berapa yield yang kamu mau, lalu cut off all bids over that limit. So you manage your own estimate. Thats why we call it owners estimate.

After that, check your spread. Spread is the difference between highest yield and the average yield. You could say, its the gap between the outlier with the common yield. We usually cut off any bids point that offers too much spread."

"How much is too much?"

"Its about two digits."

But dont forget that you also have another limit. One is regulation. For example, you want a tranche hanya dimenangkan 3 trillion. So even though you have a great quality bid offer, still you have to take only on that amount.

"Ya.. "

Meyr nampak anggun sekali dalam keseriusannya. Ia masih seperti meyr yang dulu, cantik dan cerdas. Dua padanan yang memikat.

"After that..."

"Wait miss..im sorry.. i am having a call.."

"Oh yeah..thats all fine..take your time"

Meyr melihat sekeliling. Kubikal yang mirip dengan kantor lama tempatnya bekerja. Separuh dindingnya adalah kaca, dengan bagian depan ada dinding yang sengaja tidak dipenuhi karena digunakan untuk orang keluar masuk.

Ia membuka handphonenya. Mencari cari  nama ayah di whatssapnya


"Der Hahn ist tot,
der Hahn ist tot,
Der Hahn ist tot,
der Hahn ist tot,
Er kann nicht mehr kräh'n, kokodi, kokoda,
Er kann nicht mehr kräh'n, kokodi, kokoda.
Kokokokokokokokodi, kokoda"


Ayah meledeknya di pesan terakhir.
Lagu itu lagu soal ayam mati.
"oh may goodness".
Ayah biasa menyanyikannya dulu sekali ketika ia bahkan belum sekolah. Hatinya tiba tiba menghangat, penuh rasa cinta. Rasa yang tidak ingin ia lepas..sampai suara Ray mengagetkannya.


"Miss...saya disuruh wakilin rapat..mendadak..."

"Ouch.."

"Gimana ya miss?"

"Ok..no problem Ray. Saya akan dtg lusa sesuai jadwal. Tapi hari ini berarti jatah belajarmu hangus sekitar 40 menit", ujar meyr sambil melihat Rado ditangannya.

"Eh..iya miss..maaf ya soalnya tiba tiba.."

"Keine Probleme, Ray..ok then..see ya"
Meyr membereskan tasnya dan beranjak pergi.

"Miss, sy boleh minta nomer hape?"

"Uhm, should you?"


...




Kisah Iteung, Episode Candle Light Dinner

Persiapan

Si Akang ngajakin Iteung dinner nih. Ih, serasa melayang perasaan Iteung seperti layang-layang menari di angkasa.
"Sekali-kali kita adain candle light dinner, biar romantis." kata si Akang sambil senyam senyum penuh makna.

Sepertinya si Akang kesamber gledek deh. Nggak ada hujan atau angin ribut tiba-tiba ngajakin Iteung candle light dinner. Atau lagi dapat undian berhadiah panci. Apapun alasannya nggak penting. Yang penting Iteung bisa makan enak. Jarang-jarang Iteung dapat jackpot.

Kebayang steak wagyu saus barbeque dan minuman segar. Pokoknya Iteung mau pesan makanan paling mahal. Jarang-jarang si Akang mau ngemodal, apalagi ngajakin candle light dinner.

Karena istimewa, sebelum pergi dinner, Iteung dandan dulu biar bisa nyaingin Jenifer Aniston, idola si Akang. Iteung harus nunjukin juga kelas Iteung sebagai sosialita papan gilesan.

Iteung aduk-aduk isi lemari nyari baju paling pas buat candle light dinner. Akhirnya Iteung nemu baju yang pas. Baju yang penuh dengan manik-manik biar kelihatannya bercahaya. Pokoknya dandanan Iteung harus cemerlang bak langit penuh bintang. Sekalian juga mempraktekan kursus kecantikan di salon Ceu Euis.

Lihat kaca, Iteung pangling sama muka sendiri. Kok kayak dandanan pengantin. Terang benderang kayak lampu jalanan ibukota. Iteung berlenggak lenggok sambil maju mundur kejedot.

Iteung memilih sepatu high heels yang senada dengan tas herman Iteung. Tinggi sepatu Iteung selebar penggaris anak sekolahan. Tak lupa plester sebagai pertolongan pertama pada kelecetan atau P3K. Hmmm perfecto deliciouso....
"Akang, ayo kita let's go."
Cuma kenapa si Akang cuma pake kaos oblong. Gambar slankers pula. Perasaan Iteung nggak enak. Kenapa si Akang nggak pake tuxedo ya biar kayak mafioso Itali.
"Akang tuh mau makan bukan mau dilantik jadi pejabat." ujar Akang sambil menahan tawa.

Perjalanan
"Emang mau dinner dimana sih?" Iteung masih penasaran.
"Surprise lah."
Oke deh kang, Iteung nggak akan nanya lagi. Iteung bakalan ngikutin Akang.

Keluar rumah si Akang nyodorin helm. Iteung agak mikir kok dinner pake helm.
"Ayo." si Akang duduk di motor.
Iteung duduk sambil bengong. Mulai curiga nih.

Di tengah jalan, motor agak oleng. Ternyata ban depan kempes. Ya ampun....saat itu yang kebayang adalah keinginan untuk mencekik si Akang.

Iteung ngikutin si Akang dorong motor nyari tukang tambal ban. Sekilo, dua kilo belum tercium juga baunya bengkel tambal ban. Iteung mulai lelah jiwa raga, lahir batin. Iteung jinjing sepatu soalnya kaki Iteung keseleo.  Harus manggil mpok Ipah nih, tukang urut langganan.

Sampai tukang tambal ban, kaki Iteung bengkak segede bola basket. Si Akang mencoba menghibur Iteung.
"Sabar ya." katanya sambil mengusap pipi Iteung. Ceritanya sih pengen menimbulkan efek romantis.
"Akaaang, itu jarinya item banget."
Tega banget sih ngerusak make up Iteung.

Akang cuma cengengesan lihat muka Iteung belepotan oli.
"Ayo!" ujar Akang setelah petugas bengkel selesai menambal ban.
Mulut Iteung maju 20 cm.

Ketika motor baru jalan, byuuur langit numpahin air ke bumi. Rasanya Iteung pengen guling-guling di kasur empuk. Pengen juga nanya sama pak hakim atau pak jaksa berapa lama hukuman buat orang yang jedotin orang ke tembok terus ditimpuk pake batu.

Akhir Kisah
"Kang, terus terang aja deh. Mau ngajakin Iteung makan dimana sih? Kok rasanya Iteung seperti lagi berjuang merebut kemerdekaan." tanya Iteung sambil mengusap pipi yang dipenuhi maskara luntur dicampur oli.
"Tuh." tunjuk si Akang ke arah gerobak sego kucing Bejo.
Ya ampuuun....Iteung dandan seharian cuma buat makan disini.
"Penipu..pu..pu." teriak Iteung bergema.
"Lha ini kan memang candle light dinner.  Kita makan malam di temaram cahaya lilin." Si Akang menampilkan muka innocent.
Iteung cuma bisa cemberut sambil mengusap kaki yang bengkak.
Sosialita terluka........kakinya...
...................................................................





Untuk Perempuan yang Tinggal di Ingatan

Sore di Pante (dokumen pribadi)
cukukuplah Siti Nurbaya,
gadis sempurna tempo Belanda yang mengalaminya
menjadi tumbal engku datuk bermuka baja
kepada engkau wahai Marah Rusli,
bilakah aku sang Samsul Bahri?

di antara malam-malam yang kalut, ia berdiri
menundukkan warna-warni pelangi
dalam dekapan hatinya sendiri
itulah sebab aku mengantri

pingitan menjadi tempatnya berkutat
balutan tapih tetap berkelebat
hingga waktu datang sekarat
kini, wanita menjadi perempuan telah sepakat
lelaki dan perempuan adalah sepangkat

kodratnya bertanak nasi
tapi ia mampu bertaji
kalaupun ia lelaki
malulah aku, pasti

bayang hitamnya pun cantik
ketika para muda berisik,
berusaha mengejar tanpa titik,
hanya agar menjadi milik
aku turut panik

dia, Siti Nurbaya millenium
menjaga diri tetap ranum,
berbaris bersama sebagai makmum,
membalas dengki dengan semanis senyum

dia, Sri Kandi sepanjang masa
meski cantik serupa Cleopatra
tak disangka dia juga perkasa

"Aku yakin dia lebih anggun dari Anna Althafunnisa"*

-M-

Abah

"Bah, mogok lagi?" Tanyaku agak kesal
Abah hanya mengangguk sambil meniupi busi seperti sedang meniup balon untuk ulang tahun.
"Bah, nanti telat nih." Aku cemberut sambil merajuk.
"Sabar ya." Abah mencoba menyalakan motor vespa tuanya sambil berpeluh keringat. Motor Vespa Abah itu bagaikan anjing dalmatian karena seluruh bodinya dipenuhi dempul putih. Kondisi itu dibiarkan bertahun-tahun tanpa pernah bisa dicat karena nggak ada biaya.
"Namanya juga motor antik." kata Abah suatu saat ketika kami anak-anaknya menanyakan kenapa motornya belum dicat juga.

Akhirnya motor bisa nyala. Aku dan tiga adikku langsung menempati posisi masing-masing. Dua anak paling kecil berdiri di belakang. Adikku langsung duduk di   tengah dan aku duduk paling belakang. Bayangkan kalau polisi menemukan kami berlima menaiki motor. Pasti kami akan menghabiskan waktu di kantor polisi.

Begitulah setiap hari Abah mengantarkan kami ke sekolah dengan motor Vespa Dalmatiannya. Biasanya tiga adik kecilku turun terlebih dahulu. Biasanya sih aku turun dari motor sambil celingak celinguk jangan sampai teman sekolahku melihatku datang ke sekolah bersama Abah.

Abah mengajar mata pelajaran Ilmu Pasti (Matematika, Fisika, Kimia) juga mengajar keterampilan elektro di sekolahku masa SMP. Saat itu perasaan malu selalu membebaniku ketika aku masuk sekolah maupun pulang sekolah. (Maaf ya bah).

Abah orang yang sangat peduli dengan minat baca anak-anaknya. Namun saat itu sepertinya tidak memungkinkan membeli buku buat kami. Gaji guru saat itu sangat minim dan tidak mengenal sertifikasi seperti saat ini. Dalam keterbatasan Abah selalu membeli koran buat anak-anaknya hanya agar anak-anaknya mau membaca.

Abah adalah orang yang sangat sederhana dan sepenuhnya mengabdi untuk dunia pendidikan. Sepanjang aku hidup bersama Abah, tak pernah sekalipun Abah mengeluh tentang kondisinya. Tak pernah pula aku mendengar Abah membicarakan kejelekan orang lain.

Aku merasakan bahwa Abah selalu bersyukur walaupun aku tahu bagaimana sulitnya saat itu membiayai kami empat orang anaknya. Kami sering bandel dan mungkin mengecewakan Abah. Ketika aku menonton film Laskar Pelangi, aku merasa penggambaran sosok abahnya Ikal yang dibintangi oleh Mathias Muchus  tepat menggambarkan Abah.

Abah selalu memperhatikan pendidikan anak-anaknya. Sebenarnya dahulu Abah selalu menyediakan waktu untuk mengajariku Matematika dan Fisika. Namun aku selalu menolak dengan berbagai alasan. Sampai akhirnya ketika masuk SMA, kulihat Abah agak kecewa karena aku memilih jurusan Sosial dibanding IPA.

Ketika masuk ke bangku perguruan tinggi, aku baru sadar kalau seharusnya aku bangga punya Abah yang sangat perhatian kepada anak-anaknya. Mulai saatt itu aku selalu bergembira ketika Abah yang masih setia dengan Vespa Dalmatian mengantarkanku pergi ke kampus.

Satu hal yang juga menyebalkanku saat itu adalah ketika Abah selalu menyelinap tiap malam ke kamar anak-anaknya. Abah hanya ingin memastikan kalau tidak ada seekor nyamukpun yang menggigit anak-anaknya. Caranya menepuk nyamuk dengan kedua tangannya.
"Abaaah!!! Berisik." Aku selalu berteriak tapi Abah selalu mengulanginya lagi dan lagi setiap malam.
Sekali  lagi maaf ya bah.

Abah juga senang sekali melihat anak-anaknya makan enak. Kalau punya uang lebih, biasanya Abah memasak makanan istimewa buat kami atau membuatkan es kacang hijau, es tapi atau es yoghurt.. Makanan yang biasanya dimasak sendiri adalah pisang goreng dan sop kaki sapi. Masih terbayang kelezatan masakan Abah di lidah.

Buatku Abah mirip McGyver, tokoh hero di serial televisi yang tayang pada akhir tahun 80 an dan awal tahun 90 an. McGyver adalah hero yang bisa memperbaiki segala sesuatu untuk memudahkan orang lain. Di mataku  abahpun demikian. Mulai dari memperbaiki barang elektronik sampai sekedar menambal pakaian yang robek.

Jaman dahulu, kami hanya punya televisi hitam putih. Suatu ketika waktu kami sedang menonton televisi, gambarnya goyang-goyang padahal tidak ada gempa bumi. Kami tunggu, siapa tahu karena hembusan angin kencang. Ternyata tetap saja si gambar bergoyang-goyang. Saat itu kami menyimpulkan bahwa televisi ini rusak.

Dengan penuh percaya diri Abah membongkar televisi. Dengan gaya meyakinkan Abah bertindak sebagai tukang service. Seharian Abah menghabiskan waktu mengutak atik televisi. Kata Abah televisinya harus ditepuk-tepuk atasnya biar gambarnya bagus. Cuman, tepuk sih tepuk sampai kapalan tapi kan capek setiap sepuluh menit harus menepuk-nepuk televisi. Harusnya sih memang dilem biru bah...(dilempar beli baru)....

Banyak barang elektronik yang diperbaiki Abah. Cerita suksesnya hanya lima puluh persen. Sisanya nestapa hahaha.

(Diusahakan Bersambung)





Chiang Kai Sek Tanggal Delapan


"Kita menikah tanggal delapan saja bagaimana?"
Yang ditanya menjawab dengan semi melotot. Bagaimana tidak, tanggal delapan kan tiga hari lagi.
"Buru buru sekali, a’? gajadi minggu depan?

“lebih cepat kan lebih baik, neng..”
“Aa nanti gimana kuliahnya?”
“gak apa apa aa mah...neng siap siap ya..”

Dedeh, TKW asal bumi pasundan itu bengong. Ia baru kenal A’ Rudi sebulan lalu. A Rudi bilang, ia sedang kuliah di sini.
Teringat lagi percakapan dengan abah semalam.
“Neng, si Aa teh single?”
“iya bah...istrinya kasian bah, udah meninggal”
“Bener neng?”
“iya Bah...”
“Neng kenal dimana?”
“di deket rumah majikan neng, Bah...”
“Kenapa ga cari perjaka aja atuh, neng?”

Yang diajak bicara diam saja.
A Rudi ga begitu ganteng, ga kaya juga. Tapi nyaman banget kalo ngobrol sama a' Rudi...
“Neng jadi bingung bah..”
“A rudi nanti beliin neng tiket bah buat naek pesawat ke indonesia, buat nikah di rumah..”
“Ngga ada resepsi neng?”
“Kata a' Rudi sih, nanti saja menyusul..”

Siang itu pemandangan di Chiang Kai Sek begitu indah.Banyak orang berlalu lalang. Nampaknya hanya Neng yang galau di sana..
“Baru juga semalam menelepon abah mau nikah minggu depan.. masa nelepon lagi bilang mau nikah tanggal delapan?”
“Neng, neng tau ga kenapa aa ajak neng kesini?
“engga tau, a'... neng mah selama kerja setahun di sini blm pernah jalan jalan.. males a'..”
“ya.. sekali kali mah jalan neng biar pikiran lebih enteng habis kerja kan penat ..”
“Iya a...”
“Ini monumen dibangun taun 1976 neng...udah tua kan.. buat memperingati presiden CKS ..keren bentuk dan sejarahnya neng..luasnya tuh gede banget loh neng, sekitar 240.000 meter persegi ni areanya”
“CKS teh naon?”
“Chiang Kai Sek..
"udah gitu, ini perlambang Taiwan menuju era demokrasi modern gitu lho neng.."
"ooh..iya a'.."





"Liat neng, atapnya..tuh..”
Atapnya bentuk oktagonal,alias segidelapan.. neng tau ga kenapa?”
“Aduh a'.. neng mah gatau apa apa...”
“karena itu simbol kepercayaan neng... angka keberuntungan!”
“Ih...pantesan aa milih tanggal delapan yak?”

“hehe... engga juga sih, neng.. aa ga percaya gituan... aa percayanya sama neng..”
“Gombaal iih....” neng manja mencubit punggung tangan a' Rudi.
Hati neng seneng banget. 
Emang enak sih, ngobrol sama a' Rudi... 


----------------------------------------------------------------------------------

Trit trit...trit trit...
Neng mengucek matanya
Tengah malam siapa yang kirim pesan ya..pikirnya

“lusa ke CKS lagi ya.. jam sepuluh pagi”
“Hah? A rudi ngapain ngajak kesana lagi sih...”


Kan kemaren udah atuh a'..
Dipencetnya tombol kirim
Trit trit...
“Ada hal penting yang harus dibicarakan..”
“Iya a'...”
Neng masih ngantuk jadi ia segera menutup matanya kembali. A Rudi ada ada aja ah... pikirnya



---------------------------------------------------------

Tanggal Delapan @CKS Memorial Hall

“Neng udah di sini A.. neng udh packing juga jadi nanti dari sini kita langsung ke bandara kan?"whatssapnya kepada A Rudi

trit trit...

"Sebentar lagi sampai..."
Neng bosan menunggu. Ia memainkan kukunya yang dikutek merah. Khusus hari itu karena nanti sore di indonesia neng akan menikah.  
“Anehhh.. a rudi mah... udah mau nikah masih aja ketemuan dulu...”
Neng merasa ada yang mencolek bahunya

“PLAAKKKK”

“Aduh.....sakiitt....” dielusnya pipinya sendiri

Neng mau melotot aja rasanya. Siapa sih orang ini? Pikir Neng.

Belum sempat ia memaki, ia sudah lebih dulu disemprot.

“Mau nikah diem diem sama suami saya ya?”

Mulut neng menganga.

Neng rasanya seperti kejepret karet gelang aja, a'.
Pedih.

Pepes

Pepes ? Ini soal makanan ? Jika kita browse di paman gugel, pepes itu adalah suatu cara khas dari Jawa Barat untuk mengolah makanan (biasanya dengan ikan) dengan bantuan daun pisang untuk membungkus ikan beserta bumbunya. Artinya ikan dan berbagai jenis bumbu dan rempah yang dihaluskan dan ditambah daun kemangi, tomat, dan cabai dibalur/dibalut bersama ikan yang sudah dibersihkan. Semua gabungan itu dibakar (dipepes) diatas api atau bara api dari arang hingga mongering.

Itulah perasaan yang saya alami, seorang commuter  yang sering naik KRL jurusan stasiun Bekasi – Jakarta Kota setelah tanggal 1 April 2017. Agak lebay ? gak juga sih. Karena sebelum jadwal itu ditetapkan, biar masih berdesakan, saya tidak berkeringat saat berangkat kerja. Berdesakan di gerbong kereta itu telah membuat saya banyak mengambil hal-hal positif. Misalnya kita bisa sambil berolah raga dengan alat, berpegangan dengan besi (pull up), bersauna ria jika AC dalam gerbong tidak berfungsi, meski harus bawa kostum cadangan, bisa berkenalan dengan perempuan (jika punya nyali tapi jangan gender yang sama ya), bisa sekalian olah vokal jika kita tidak tahan terhadap goncangan kereta saat berhenti dan berjalan dari stasiun ke stasiun “Woii, tahan dong, jangan cuma bisa main hape tapi gak pegangan!!” atau sambil baca buku atau Al Qur’an kecil hingga kereta sampai di tujuan. Terkadang juga bisa timbul perasaan kasihan terhadap seorang ibu membawa anak, orang tua jompo, penyandang disabilitas dan ibu hamil yang tidak memperoleh tempat duduk. Setelah tanggal 1 April 2017, semuanya bercampur menjadi satu, dan untungnya berangkat naik kereta itu saat masih dibawah jam 09.00 pagi ke tempat tujuan. Makanya sejak tanggal itu, perasaan seperti panganan yang dipepes kerap muncul, meski bukan dibakar di atas kompor atau bara yang panas.

Hal ini terjadi berawal di April 2017, pihak  Kereta Commuter Jakarta (PT.KCJ) jadwal baru KRL jurusan stasiun Jatinegara lewat Pasar Senen, Duri hingga Depok atau Bogor. Pihak PT.KCJ juga menyatakan bahwa ada jadwal penambahan jalur baru pada rute tersebut. Tapi faktanya bukan menambah tetapi malah berkurang. Jadwal semula jurusan stasiun Jatinegara lewat Pasar Senen hingga Depok atau Bogor terjadwal setiap 15 menit sekali ada kereta yang jalan menuju stasiun Pasar Senen, Duri hingga Depok atau Bogor, berubah menjadi setiap 1 jam sekali. Jumlah penumpang yang turun sebelum jadwal baru cukup membuat isi gerbong agak lenggang. Meski ada penumpang juga yang turun di stasiun Jatinegara, tapi bukan transit, melainkan memang bekerja di sekitar stasiun Jatinegara. Animo masyarakat urban untuk naik kereta cukup tinggi karena naik kereta merupakan akses termurah (karena masih di subsidi oleh pemerintah sebesar Rp3.000 dari harga Rp6.000) dan cukup cepat (sepanjang tidak ada antrian masuk stasiun - khusus Jatinegara, Manggarai dan Gambir dan gangguan persinyalan – banyak negara sudah investasi di persinyalan ini). Memang kondisi KRL sekarang sudah lebih baik dan bagus. Beberapa stasin sedang mengalami renovasi menjadi stasiun modern seperti stasiun Palmerah yang sudah terlebih dahulu di renovasi. Saya ingat pepatah Pak Jonan saat memberikan ceramah di kantor kami, “Bayar murah kok mau nyaman, tapi kami utamakan keselamatan penumpang”. Saat itu saya berpikir, bener juga ya, bayar murah kok menuntut nyaman. Salut untuk Pak Jonan yang telah merubah mindset naik kereta yang semula tidak tertib menjadi lebih baik.

Berikut ada tips dan trik saat naik kereta jurusan Bekasi – Jakarta Kota agar tidak seperti pepes dalam kulit pisang (meski tetap seperti pepes karena cukup berdesakan juga), yaitu :
1.    Berdirilah di dekat pintu yang deket tiang tempat duduk (bukan diantara dua pintu otomatis ya, bisa terjepit), hal ini sudah saya lakukan dan cukup efektif dan efisien dalam mengendalikan suasana seperti pepes tadi;
2.    Berdirilah agak di tengah tempat duduk yang panjang, hal ini juga saya lakukan dan berhasil;
3.    Jangan naik kereta dari stasiun Bekasi, naiklah kereta dari stasiun sebelum stasiun Bekasi yaitu stasiun Kranji, jika ingin duduk. Tapi jika ingin tidak berdesakan, naiklah kereta jurusan Bekasi – Jakarta Kota diatas jam 22.00 WIB, saya jamin, anda bisa main karambol dan gaplek di setiap gerbong, jika tidak dilarang.
4.    Last but not least, jangan naik kereta, naiklah kendaraan pribadi atau taksi yang lebih nyaman. Ini juga saya jamin, anda akan lebih nyaman daripada naik kereta.  

Itulah sekilas cerita naik KRL yang saya alami dan rasakan, karena memang seperti itulah kondisinya dan perasaannya. Saya akan sering bercerita seputar KRL karena itulah yang saya alami dalam 2 kali sehari selama seminggu sebulan dan setahun. Semoga kisah ini dapat membuat yang baca sedikit tersenyum dan mengambil hikmah yang positif.

Salam
R. Ardyansyah

Opini ini juga di tuliskan pada https://rulyardiansyah.blogspot.co.id

Negeri Atas Uang

Wahai kawan…pernahkah kau dengar negeri atas uang ?
Negeri nun jauh di sana yang didirikan di atas uang
Yang pemimpinnya bisa dibeli dengan uang meski tak suka uang
Politisi, jaksa, hakim, pendidik, tokoh agama, dan masyarakat pun bisa dibeli dengan uang
Bahkan para pesakitan bisa jadi pahlawan kalau disukai para pemilik uang
Sebaliknya para pahlawan bisa jadi penjahat kalau tidak disukai pemilik uang
Mayatpun bisa hidup kembali kalau diminta para  pemilik  uang
Uang menjadi panutan di negeri itu meski tak terdaftar sebagai agama di kementerian manapun
Karena itu jangan macam-macam dengan para pemilik uang..

Enyah kau tikus tikus kotor....kau masih bisa hidup di sini bukan karena kau layak hidup di sini
Kau masih bisa tidur nyenyak di sini karena kami pemilik uang masih senang bermain denganmu
Kami masih senang melihatmu menari kegirangan ketika sekeping uang kami lemparkan padamu
Kami masih senang melihatmu menderita karena tak punya uang
Kami masih senang melihatmu mengemis ngemis dan berebut atas nama uang

Negeri ini memang negeri atas uang
Kami bangun hanya untuk kami para pemilik uang
Kali-kali kami bersihkan, gedung megah kami bangun... semua untuk kesenangan kami
Bukan untuk kalian para tikus kotor.. jadi kalian jangan senang dulu
Tapi tak apalah kalau kalian ikut senang
Supaya kalian tak lari dan masih bisa kami suruh- suruh
Masih bisa kami maki-maki.. masih bisa kami jadikan kambing hitam
Kalau tak ada kalian siapa lagi yang harus kam persalahkan

Negeri ini negeri atas uang.. yang didirikan atas nama uang
Untung aku tak tinggal di negeri itu..karena aku hanyalah tikus kotor yang tak punya uang


Edisi menunggu jemputan yang tak kunjung tiba